SMART LIBRARY: ANTARA KONTESTASI ATAU KOLABORASI DENGAN GOOGLE DALAM MENGHADAPI DIGITAL NATIVE
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Google telah berhasil di dalam memenuhi beragam kebutuhan generasi Digital Native maka diperlukan sebuah perubahan yang dilakukan oleh perpustakaan. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan perpustakaan gaya baru, yakni perpustakaan pintar (Smart library). Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bagaiamana Smart library dapat memenuhi dan melayani generasi digital native dan mampu berkontestasi dengan Google. Metode yang dipakai dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yang dilakukan dengan menganalisis data melalui kegiatan mengumpukan berbagai macam sumber yang relevan dengan topik yang sedang diteliti, seperti buku, jurnal ilmiah, prosiding, maupun artikel ilmiah lainnya. Hasil dari penelitian ini adalah Smart Google yang mengusung sebuah konsep baru perpustakaan, memberikan gambaran yang menarik kepada pemustaka. Smart library mengusung konsep dasar dengan berorientasi kepada kenyamanan pengguna, dengan open data repository, yang didukung oleh technological playground, serta berlokasi di lingkungan yang sustainable, akan mampu berkembang dan melayani pemustaka yang tidak hanya berasal dari generasi sekarang (digital native), akan tetapi juga generasi-generasi yang akan datang. Selain itu, smart library juga mempunyai dimensi dengan smart services, smart people, smart governance, dan smart place. Dimensi yang dimiliki smart library, akan mampu bersaing dengan Google sebagai pusat sumber daya informasi kontemporer.
Abstract
Google has succeeded in meeting the diverse needs of the Digital Native generation, so a change is needed by the library. These changes can be made by developing a new style library, namely the smart library. This research aims to show how Smart libraries can meet and serve the digital native generation and are able to compete with Google. The method used in this research is a literature study conducted by analyzing data through collecting various sources relevant to the topic being studied, such as books, scientific journals, proceedings, and other scientific articles. The result of this research is Smart Google which carries a new concept library, providing an interesting picture to users. Smart library carries the basic concept with an orientation to user convenience, with an open data repository, supported by a technological playground, and located in a sustainable environment, will be able to develop and serve users who not only come from the current generation (digital native), but also future generations. In addition, smart libraries also have dimensions with smart services, smart people, smart governance, and smart place. The dimensions of smart libraries will be able to compete with Google as a contemporary information resource center.
Keywords:
Perpustakaan
· Smart library
· Google
Introduction
Perpustakaan sebagaimana yang disebutkan oleh Ranganathan dalam (Anderson et al., 2019) sebagai “growing organism” merupakan suatu institusi yang bergerak dan bertumbuh di dalam layanan penyedia informasi kepada masyarakat, yang tidak hanya jalan di tempat, melainkan mengikuti perkembangan zaman. Perpustakaan, jika diartikan sebagai ruang fisik, maka dapat diartikan dalam pemahaman bahwa ruang yang dimaksud adalah tempat berkegiatan orang banyak, yang tentu saja tidak dapat terus-menerus bertahan jika tidak bergerak. Pergerakan yang dimaksud bukan bergerak secara irrasional sebagaimana manusia, tetapi bergerak dengan gedoran yang luar biasa, mulai dari meninggalkan kekhasan ala perpustakaan dengan mode konvensionalnya, dan bertransformasi ke arah yang lebih cerah dengan sentuhan teknologi. Perpustakaan bergerak dan berkembang layaknya sebuah pikiran. Rene Descartes pernah mengatakan bahwa “Cogito Ergo Sum”, atau “I Think therefore I am”. Descartes mengaggap bahwa eksistensi dari seorang manusia itu didasari oleh berkembangnya sebuah pikiran, begitu juga dengan perpustakaan. Perpustakaan akan terus ada dengan eksistensinya jika bergerak layaknya sebuah pikiran (Fatmawati, 2014). Hal yang sama, juga terjadi di dunia, di mana perkembangan zaman sudah sangat maju sampai ke tahap revolusi industri yang telah berada di 4.0, bahkan mulai menyentuh 5.0. Jauh sebelum itu, sejak awal kemunculannya, revolusi industri muncul dengan era 1.0 nya yang terkenal dengan perubahan secara radikal pada sektor industri tekstil, besi dan baja, serta transportasi. Di revolusi industri 2.0, kembali terjadi perubahan dan perkembangan seperti pada sumber daya energi, teknologi listrik mulai ditemukan, terdapat inovasi pada besi dan baja, dan produksi mobil dan pesawat sebagai alat transportasi massal. Selanjutnya pada revolusi industri 3.0, perubahan terjadi dengan mulai ditemukannya teknologi komputer, internet, alat elektrionik smartphone, perangkat lunak, dan pengembangan sumber energi baru. Sementara itu, di revolusi industri 4.0, terkenal dengan kecepatan yang luar biasa dari teknologi-teknologi, dan sekaligus menandai terciptanya era disrupsi (Kusnandar, 2018). Kemajuan yang telah dirasakan oleh masyarakat di dalam teknologi informasi dan komunikasi turut melahirkan generasi yang sering dikenal dengan “Digital Native”. Dalam sebutan lain, masyarakat saat ini juga akrab dengan panggilan “Netgen” atau “Internet Generation”, dikarenakan keakraban yang sudah terjadi antara masyarakat dan internet. Maka dari itu, perpustakaan yang merupakan sebuah tempat berkegiatan masyarakat, harus mengembangkan dirinya ke arah yang lebih terencana. Arah yang sesuai dengan tuntutan masyarakat, yang mana perpustakaan harus membuang jauh-jauh sistem layanan dengan mode lawas, dan menggantinnya dengan layanan terbaru dan tentunya up to date, yang selaras dengan kebutuhan generasi digital native, yakni kebutuhan yang erat kaitannya dengan teknologi dan internet. Perpustakaan boleh saja berbangga karena kesuksesannya di dalam melayani generasi Digital immigrants, yang mana fokusnya masih sangat sederhana, jika dibandingkan dengan sekarang. Era sekarang dimulai dengan kebutuhan manusia, yang semenjak bayi, langsung bertemu dan disuguhkan dengan teknologi yang canggih. Maka, akan sangat malu besar, jika perpustakaan tidak bisa menyesuaikan dan menyediakan akses teknologi bagi mereka. Akibat besar yang akan dihadapi jika terjadi ketidakmampuan perpustakaan di dalam melayani generasi ini adalah tersingkirnya perpustakaan sebagai pusat sumber daya informasi yang superior bagi masyarakat. Hal ini dikarenakan masyarakat saat ini lebih mengenal/mendapatkan informasi dari Google ketimbang perpustakaan. anak-anak kecil lebih mengenal arti laut dari Google, dan bukan dari perpustakaan. Penggunaan search engine seperti Google telah menjamuri serangkaian kegiatan pencarian informasi yang dilakukan manusia pada saat ini. Bagaimana tidak, berdasarkan laporan dari “Statista”, Google masih memimpin sebagai search engine terpopuler saat ini, dan meninggalkan search engine lain seperti Bing dan Yahoo! di belakangnya. Selanjutnya juga berdasarkan data yang dihimpun oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI), disebutkan bahwa dari 276,4 juta masyarakat Indonesia saat ini, 132, 7 nya adalah pengguna internet (Wulandari et al., 2021). Hal ini, tentu saja merupakan sebuah peringatan bagi perpustakaan untuk bersiap-siap dan berbenah ke arah yang lebih terencana, jika tidak mau tersingkir bahkan tereliminasi oleh Google. Google memberikan gambaran bahwa sebuah dunia dapat dijangkau dengan cara yang lebih cepat, atau dengan kata lain dapat diartikan dengan pemahaman bahwa saat ini dunia sudah dalam genggaman. Artinya, informasi dari belahan dunia bagian manapun dapat diketahui hanya dengan memasukkan kata kunci saja. Hal yang tentu saja tidak bisa dilakukan oleh perpustakaan konvensional. Maka dari itu, peran teknologi informasi dan komunikasi harus dimanfaatkan dengan sebaikbaiknya oleh perpustakaan, agar dapat berkontestasi dengan Google, yang mana perpustakaan dapat mengadopsi bagian-bagian terbaik dari Google, guna menunjang kebutuhan pemustaka. Dengan melihat bagaimana Google telah berhasil di dalam memenuhi beragam kebutuhan generasi Digital native, maka diperlukan sebuah perubahan yang dilakukan oleh perpustakaan. Perubahan tersebut dapat dilakukan dengan mengembangkan perpustakaan gaya baru, yakni perpustakaan pintar (Smart library). Smart library akan dirasa mampu dalam menghadirkan segala hal yang dibutuhkan oleh generasi digital native saat ini. Selain itu, Pemafaatan secara besar oleh masyarakat terhadap Google yang juga mampu mengalahkan peran perpustakaan, merupakan sebuah fakta yang tidak dapat dihindari, melainkan harus ditanggapi dengan kemajuan-kemajuan yang serupa. Berdasarkan permasalahan di atas, penulis berusaha untuk melakukan sebuah penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran bagaiamana Smart library mampu di dalam memenuhi dan melayani generasi digital native yang sesuai dengan keinginan dan kebiasaan mereka terhadap penggunaan teknologi, dan juga mampu berkontestasi dengan Google, agar dapat mengembalikan perpustakaan kepada peran sentralnya dalam memenuhi kebutuhan informasi yang eksklusif dan dapat dipertanggungjawabkan. B. KAJIAN TERDAHULU Berdasarkan tujuan penelitian, maka penulis berusaha untuk menguraikan beberapa penelitian terdahulu mengenai smart library, dan juga ingin memberikan sebuah kebaruan (novelty) pada penelitian ini. Penelitian yang pertama dilakukan oleh Ngesti Gandini pada tahun 2019, dengan judul “Implementasi Smart Library Dalam Menghadapi Generasi Digital Native Di Perpustakaan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada”. Tujuan dari penulisan ini adalah untuk memberikan sebuah gambaran mengenai implementasi smart library bagi sivitas akademika yang berasal dari digital native. Hasilnya adalah bahwa pengimplementasian smart library di perpustakaan FKKMK dalam menghadapi pemustaka dari digital native, tidak secara menyeluruh sesuai dengan kebutuhan atau keinginan pemustaka. Hanya saja, sedikit membantu, dengan dibantu pengembangan lebih lanjut (Gandini, 2019). Penelitian kedua dilakukan oleh Arifah Nur Syahida, dkk. Pada tahun 2021, dengan judul “Elemen Smart Library Pada Interior Perpustakaan Perguruan Tinggi”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab membandingkan kelengkapan fasilitas smart library yang dimiliki oleh empat perpustakaan. hasilnya ditemukan bahwa konsep smart library yang diterapkan oleh empat perpustakaan, masih belum mampu untuk memenuhi elemen standar fasilitas, dengan hanya mampu memenuhi kurang dari 60% (hanya empat dari tujuh standar yang ditetapkan) (Wulandari et al., 2021). Berdasarkan kedua penelitian tersebut, disebutkan bahwa kedua penelitian tersebut memfokuskan untuk dapat mengimplementasikan konsep smart library untuk memenuhi kebutuhan penggunanya dan juga untuk membuktikan kesesuaian konsep dengan sebuah standar yang ditetapkan mengenai fasilitas perpustakaan. sedangkan penelitian yang dilakukan oleh peneliti berfokus untuk melihat bagaimana smart library mampu memenuhi kebutuhan generasi digital native dan mampu di dalam berkontestasi dengan Google di dalam menjamin ketersediaan informasi yang terpercaya. Dari hasil penelitian yang dilakukan, peneliti berharap agar dapat memberikan wawasan dan pengetahuan mengenai smart library bagi peneliti-peneliti lainnya, sehingga nantinya dapat dijadikan rujukan untuk membuat tulisan baru.
Method
Metode yang akan dipakai dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan yang dilakukan dengan menganalisis data melalui kegiatan mengumpulkan berbagai macam sumber yang relevan dengan topik yang sedang diteliti, seperti buku, jurnal ilmiah, prosiding, maupun artikel ilmiah lainnya. metode kepustakaan juga dapat dipahami sebagai suatu metode pengumpulan data pustaka, membaca, dan menyatat, serta mengolah bahan penelitian (Zed, 2014)
Result & Discussion
1. Konsep Smart Library Perpustakaan pada saat ini bukan lagi hanya berfungsi sebagai pusat sumber daya informasi, melainkan juga sebagai pusat sumber daya elektronik. Hal ini merupakan bentuk kombinasi dari informasi yang terdapat di perpustakaan dan cara aksesnya yang dapat dilakukan dengan cara konvensional maupun digital. Pada saat ini, proyek digital/elektronik sudah menjadi makanan khas bagi masyarakat yang disebut dengan digital native. Para pengguna perpustakaan saat ini dapat memperoleh informasi dari perpustakaan melalui buku elektronik (e-book), koran elektronik (e-newspaper), majalah elektronik (emagazine), dan jurnal elektronik (e-journal). Perpustakaan modern seperti ini (smart library) memungkinkan perpustakaan dapat menghemat ruang dan biaya pembelian serta pemeliharaan untuk masa yang akan datang (Niranjan Mohapatra & Das, 2017). Perencanaan dan konsep-konsep smart library yang muncul, merupakan hasil dari ketidakmampuan perpustakaan tradisional di dalam memenuhi beragam perubahan yang berhubungan dengan kebutuhan informasi masyarakat pada saat ini. Bangunan secara fisik yang masih hadir pada saat ini tidak sesuai dengan permintaan dan keadaan saat ini. Maka dari itu, smart library yang diusung sebagai modern library, setidaknya harus menyelenggarakan empat konsep yang sesuai dengan kebutuhan pada saat ini, yaitu: Gambar 1. Empat konsep dasar smart libray sebagai modern library Empat konsep dasar dari smart library dapat dijabarkan sebagai berikut (Niranjan Mohapatra & Das, 2017): a. Perpustakaan harus menjadi sebuah tempat/zona yang nyaman bagi pengguna b. Perpustakaan yang mengusung “smart library” harus melakukan open data repository bagi pengguna, agar pengguna dapat memanfaatkan data yang ada di repository untuk beragam keperluan c. Perpustakaan harus menjadi taman bermain teknologi/elektronik, yang artinya perpustakaan harus mendesain dirinya agar selaras dengan kemajuan zaman d. Perpustakaan harus selaras dengan lingkungan alam sekitar dan perkotaan di mana perpustakaan berdiri. Smart library berarti sebuah perpustakaan yang akan diproyeksikan bukan hanya untuk generasi sekarang, akan tetapi generasi yang akan datang. Smart library menggabungkan fungsi sistem perpustakaan dan e-learning berbasis pengetahuan, yang mana pada akhirnya akan menciptakan sumber daya yang kreatif. Dengan beberapa kemajuan antarmuka yang ada di perpustakaan, pengguna dapat memanfaatkannya secara kolektif sekaligus mampu meningkatkan kemandirian dan pemikiran logisnya (Niranjan Mohapatra & Das, 2017). 2. Dimensi Smart Library Perpustakaan merupakan sebuah institusi budaya, pendidikan, dan ruang ketiga, memungkinkan terciptanya sebuah lingkungan dan generasi baru yang akan datang. Smart library akan menciptakan smart city yang di dalamnya juga mencakupi learning city dan knowledge city (Schöpfel, 2018), yang mana dicirikan dengan terjadinya banyak gebrakan di berbagai bidang yang dilakukan oleh sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif. Diharapkan sumber daya yang kreatif dapat lahir akibat peran serta dari perpustakaan pintar (smart library). Dengan kata lain, istilah smart library akan menciptakan smart people. Smart library dalam masa yang akan datang diharapkan mampu bekerja dengan baik sebagai pusat sumber daya informasi seperti menyediakan akses informasi, meningkatkan literasi informasi. Selain itu, smart library juga akan berfokus pada pengidentifikasi dan pemecahan masalah dengan menghadirkan beragam solusi yang dapat dipakai dalam bidang apa saja. Hal ini tentunya dalam tujuan untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat ke arah yang lebih baik. Maka, untuk dapat melihat bagaiman peran dan kinerja smart library ke depan, untuk itu penulis akan menggambarkan empat dimensi/cakupan dari smart library, sebagai berikut (Schöpfel, 2018): Gambar 2. Empat dimensi smart library a. Smart services Smart services dapat ditandai dengan sebuah elemen yang disebut dengan “spirit of innovation”. Semangat di dalam berinovasi merupakan suatu hal yang harus dilakukan oleh perpustakaan di dalam usahanya untuk tetap eksis di era sekarang ini. Inovasi-inovasi yang bisa diterapkan di perpustakaan salah satunya adalah dengan menghadirkan teknologi pembantu, guna menciptakan smart services. Teknologi yang dihadirkan dapat berupa RFID (Radio Frequency Identification), remote assistance, semantic web, artificial intelligence (AI), the Internet of Things (IoT), machine translation, voice and image recognition, dan lain sebagainya (Schöpfel, 2018). Pada umunya, smart library memang didefinisikan sebagai sebuah perpustakaan yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan untuk beberapa kegiatan biasa seperti pencarian dokumen, informasi, dan menciptakan karya, yang bersumberkan koleksi perpustakaan. smart library juga memungkinkan untuk selalu terhubung dengan lembagalembaga lain, agar bentuk-bentuk kemudahan yang berwujud kolaborasi dapat menjadi nyata dan mudah bagi pengguna. akan tetapi, smart yang digambarkan pada smart library harus kembali lagi kepada pengguna. artinya semua yang berusaha untuk dihadirkan oleh smart library tetaplah harus berorientasi kepada kebutuhan pengguna (Schöpfel, 2018). b. Smart People Smart library berfokus pada smart people. Manusia yang merupakan entitas yang menciptakan, mendistribusikan, dan menerima informasi, perlu mengembangkan dirinya ke arah yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman. pada saat ini, masyarakat dapat dikelompokkan sebagai sebuah komunitas yang memanfaatkan fasilitas perpustakaan (pemustaka), lalu ada kelompok kecil yang bertugas untuk menghubungkan antara masyarakat dan perpustakaan sebagai penyedia informasi (pustakawan). Terlebih, pada saat ini teknologi sudah mengajak manusia untuk beranjak ke arah yang memudahkan terkait penggunaan, akan tetapi juga mematikan bagi siapa saja yang tidak bisa mengikuti perkembangan teknologi tersebut. Smart people sebenarnya tidak berisikan sebuah konsep dengan berisikan sekumpulan warga negara yang cerdas dan pengguna perpustakaan yang cerdas. Akan tetapi, yang lebih terpenting dari itu adalah staf perpustakaan yang cerdas. Cerdas atau smart di sini dapat berupa keterampilan dan kemampuan untuk berkembang dan menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Staf perpustakaan di era ini harus telaten di dalam penguasaan alat temu kembali, dan alat bantu lainnya yang berhubungan dengan kemudahan layanan perpustakaan karena merekalah yang harus memastikan informasi-informasi yang tersedia di perpustakaan sudah dalam keadaan yang sangat baik, dan siap pakai. c. Smart Governance Smart library juga ditandai dengan adanya smart governance. Governance dalam hal ini dapat diartikan sebagai kerja sama, kolaborasi, partisipasi, kemitraan, dan keterlibatan masyarakat di dalam menciptakan sebuah smart communities (Coe et al., 2001). Maka dari itu, smart governance dapat ditandai dengan kesadaran tiap warga dan pemerintah terkait dengan potensi yang dimiliki oleh teknologi di dalam memajukan perpustakaan ke arah yang lebih baik dan berkembang. Dengan ini, perpustakaan yang dibantu dan didukung oleh partisipasi warga dan pemerintah, akan dapat menampilkan dan melahirkan ekosistem baru bagi perpustakaan. Smart governance juga ditandai dengan terjalinnya networking yang terhubung dengan perpustakaan dari berbagai pihak. Dalam artian ini, peprustakaan bukan sebagai lembaga yang terisolasi, yang hanya memikirkan dan bergerak secara mandiri, akan tetapi juga turut dibantu oleh lingkungan dan sosial budayanya. Perpustakaan yang terhubung dengan kepentingan masyarakat harus juga terhubung dengan lembaga pemerintahan yang lebih besar, hal ini dikarenakan antara pemerintah dan perpustakaan sama-sama bergerak dan bekerja untuk masyarakat. Dalam hal ini, smart library dapat tercipta dari adanya kerjasama antara pemerintah dan perpustakaan di dalam sama-sama memajukan perpustakaan dengan berbagai potensi pendukungnya. d. Smart Place Smart place memberikan gambaran mengenai perpustakaan sebagai ruang fisik yang ramah lingkungan. Sebagai contoh, ada sebuah perpustakaan yang berkonsepkan “green library” yang berorientasi dengan menciptakan lingkungan perpustakaan yang sehat dengan ditandai dengan kepatuhan terhadap bangunan yang berkelanjutan. Jadi, smart place yang ada pada smart library dapat dihubungkan dengan aspek ekologi yang mana mengartikan perpustakaan sebagai sebuah organisme yang harus menjaga lingkungannya demi kebaikan bersama. Smart place pada perpustakaan juga dapat dipahami dengan perpustakaan yang memperhatikan keberlangsungan gedung perpustakaan, seperti pemantauan perpustakaan secara terus-menerus, sumber daya listrik, keselamatan para penggunanya, kesehatan lingkungan staf dan urusan publik. Smart place juga berhubungan dengan bagaimana cara perpustakaan di dalam meningkatkan kualitas hidup dan daya tarik perpustakaan sebagai ruang fisik. Semuanya tergambarkan sebagai sebuah fenomena terjadinya transformasi dari perpustakaan tradisional menuju perpustakaan sebagai ruang/tempat yang pintar dan berkelanjutan (Schöpfel, 2018). 3. Smart library vs Google sebagai pusat informasi Masyarakat pada saat ini masih berpikir bahwa perpustakaan hanya sebatas gedung yang menyimpan beragam koleksi bacaan yang secara konvensional dipakai di ruang yang senyap, gelap, dan diisi oleh pustakawan yang tidak ramah kepada pemustaka. Anggapan lawas seperti itu harusnya sudah tidak ada lagi, terlebih lagi pada saat ini masyarakat sudah berpikir maju dengan banyaknya informasi yang berlalu-lalang dan sudah dimanfaatkan secara baik. Jika masyarakat masih berpikir bahwa perpustakaan masih seculun itu, maka selamanya perpustakaan akan seperti itu saja. Perpustakaan maju atau modern dapat terealisasi jika masyarakatnya sudah paham bahwa memang perpustakaan turut mengalami perubahan seiring berkembangnya zaman. Memang benar, jika perpustakaan masih menjunjung tinggi rasa ketradisionalannya, akan segera tereliminasi oleh Google, cepat atau lambat. Google menawarkan sesuatu yang lebih menarik, dari perpustakaan tradisional. Google boleh saja tidak mempunyai ruang fisik untuk melayani pelanggannya, akan tetapi, konten yang dimiliki oleh Google jauh lebih mentereng ketimbang koleksi-koleksi konvensional perpustakaan tradisional. Terkadang, koleksi yang tersimpan di perpustakaan tradisional sudah ketinggalan zaman, tidak up to date, dan tidak bisa menyesuaikan serta menyelesaikan problem-problem terkini. Perpustakaan tradisional hanya bisa berbangga dengan konten dari koleksinya yang masih memegang akuntabilitas, dapat dipercaya, sahih, dan berasal dari expert yang memang sesuai dengan bidangnya. Akan tetapi, selain itu, tidak ada lagi yang bisa dikontestasikan oleh perpustakaan tradisional terhadap Google di dalam menghadapi beragam permintaan Digital native dan sebagian lagi digital immigrants. Permintaan-permintaan digital native, sebagaimana sudah dijelaskan di atas, selalu berhubungan dengan teknologi. Mereka meminta semuanya serba instan dan cepat, seperti informasi harus disajikan dengan cepat dan tepat dan mempunyai wahana rekreasi yang bisa dinikmati untuk melepas penat. Semua itu bisa ditawarkan oleh Google dengan produk-produk unggulannya seperti Youtube, Google book, dan Google Scholar. Perpustakaan sekarang sudah tampil lebih maju, sudah berkembang menjadi lebih advanced. Perpustakaan pintar (smart library) menjadi sebuah tampilan baru dari perpustakaan. smart library merupakan modern library yang bisa mengatasi segala hal yang berhubungan dengan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. selain itu, smart library juga memastikan keterbukaan dan kemudahan akses bagi pemakainya, sehingga ia bisa diakses di mana saja dan kapan saja, layaknya Google. Berikut adalah perbadingan antara smart library dan Google di dalam manifestasinya sebagai pusat sumber daya informasi kontemporer: Gambar 3. Keunggulan Smart Library Gambar 4. Produk Google Tabel 1. Kontestasi Smart Library Vs Google SMART LIBRARY GOOGLE Smart library (fisik dan digital), mampu diakses secara langsung dan digital (menggunakan jaringan internet) Digital, hanya bisa diakses secara digital melalui jaringan internet selama 24 jam Smart librarian, mampu memberikan solusi dengan cepat dan tepat, serta mendetail Google assistant, mampu menjawab segala permasalahan dengan konten yang ada dalam waktu yang sangat cepat dengan jaringan internet Smart library memastikan sumber daya informasi ilmiah yang tersimpan di database dengan hanya melalui hak izin perpustakaan Google tidak mempunyai akses masuk ke dalam sumber daya informasi ilmiah yang sifatnya berbayar Smart library secara instan memastikan karya-karya yang tersaji di perpustakaan telah terverifikasi oleh para ahli Verifikasi informasi yang tersaji di Google membutuhkan waktu yang cukup lama, karena belum teruji validitasnya Smart library, membuat kenyamanan pemustaka dengan menghadirkan ruang privat, ruang diskusi, ruang penelitian, dan ruang hiburan Google dengan produknya yang bernama Youtube, memastikan pengguna terus terhibur dengan jutaan konten yang ada di dalamnya Smart library sebagai ruang fisik, memungkinkan semua pengguna bertemu dan berdiskusi terkait permasalahanpermasalahan yang harus diselesaikan Google mempunyai G-Meet sebagai ruang pertemuan secara virtual yang didesain agar para pengguna dapat bertemu secara langsung jika terkendala jarak Smart library memastikan semua koleksi dapat diakses dengan mudah dan berisikan konten yang up to date dan dapat dipertanggungjawabkan Google book yang disajikan oleh Google terkadang tidak memberikan keseluruhan halaman yang diminta oleh pengguna, karena terkendala izin oleh penulis Smart library memastikan kemudahan temu kembali koleksi yang dicari pengguna dengan bantuan teknologi temu kembali/katalog terpasang (OPAC) Google memastikan ribuan bahkan jutaan hasil yang relevan dan sesuai dengan apa yang dicari pengguna hanya dengan satu klik saja 4. Antara Smart Library dan Google dalam memenuhi kebutuhan Digital Native Pada saat ini sebenarnya bukan lagi berada di sebuah perdebatan mengenai siapa yang akan tereliminasi, siapa yang akan menang, siapa yang akan dipilih, dan lain sebagainya. Lebih dari itu, jika membicarakan dua lingkup yang berbeda seperti Smart library dan Google, pasti tidak aka nada habisnya. Yang lebih penting adalah bagaimana memastikan dan mencukupinya informasiinformasi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga perdebatan mengenai perpustakaan dan Google bukan lagi hanya sebatas saling mengalahkan satu sama lain, akan tetapi yang lebih penting adalah bagaimana terjalinnya sebuah kolaborasi antar penyedia informasi ini, yang akan menghasilkan sebuah entitas yang lebih besar dan bermanfaat. Ancaman-ancaman yang dihadirkan oleh Google selayaknya tidak selalu harus dibahasakan dengan arti yang negatif, akan tetapi perpustakaan dapat memanfaatkan Google sebagai sarana untuk memperkuat dan mengembangkan aspek dan lini di perpustakaan, sehingga apa yang selama ini dianggap laris oleh massyarakat terhadap Google, maka perpustakaan dapat memanfaatkan bahkan mengadopsi itu. Seperti treat pada analisis SWOT, yang dapat dipahami sebagai sebuah peluang yang diambil dari ancaman, yang menghasilkan cara untuk menganalisis pasar (Samosir & Purwaningtyas, 2021). Google telah sukses di dalam menarik minat jutaan masyarakat di Indonesia, bahkan dunia. Sebagaian masyarakat Indonesia yang memanfaatkan Google, tidak selalu mendapatkan informasi yang sesuai dengan keinginannya, bahkan terkadang juga menyesatkan. Hal ini diakibatkan kurangnya literasi informasi yang dimiliki oleh pengguna internet. Maka dari itu, perpustakaan dapat berperan di sana dengan memberikan sebuah informasi mengenai cara melakukan pencarian informasi yang baik, melalui kegiatan “user education”. Selanjutnya, perpustakaan juga dapat mengadopsi produk-produk Google untuk dijadikan sebagai sebuah layanan-layanan baru, guna memperbaiki dan meningkatkan kualitas layanan di perpustakaan. Perpustakaan harus memahami bahwa Google memang membuat semuanya menjadi mudah. Bahkan, di kegiatan pencarian informasi yang berhubungan dengan perpustakaan sendiri selalu didapatkan melalui Google. maka dari itu, memang sejatinya peran Google tidak dapat dipisahkan dari kegiatan pencarian informasi bagi siapapun. Oleh, karena itu perpustakaan harus hadir dengan sebuah jaringan yang terjalin dengan siapapun, demi kemudahan yang bisa didapatkan bagi semua orang. Digital native yang selalu berhubungan dengan teknologi dapat memanfaatkan fasilitas perpustakaan yang sudah maju dan berkembang. Mereka bisa dengan mudah mencari koleksi yang diinginkan melalui katalog terpasang (OPAC), meminjam dan mengembalikan koleksi secara mandiri (self-service) dengan sistem RFID, dan bisa menghibur diri dengan fasilitas menonton film seperti bioskop dan televise yang sudah terpasang di beberapa ruang perpustakaan.
Conclusion
Smart library merupakan sebuah perpustakaan dengan konsep yang lebih maju (advanced), yang mewakili perpustakaan di era modern. Konsep dasar Smart Library sebagai modern library yang mana berorientasi pada kenyamanan pengguna, open data repository, technological playground dan berdiri di tempat yang nyaman dan sustainable, dapat beriringan dengan terciptanya sebuah masyarakat yang disebut dengan smart people. Hal ini juga berasal dari dimensi smart library yang terdiri dari smart services, smart people, smart governance, dan smart place. Digital native erat kaitannya dengan jaringan internet dan Google. Google membuat semuanya menjadi mudah dengan kecanggihannya, yang memungkinkan pengguna dapat memperoleh jutaan informasi dengan hanya satu klik saja. Perpustakaan tradisional telah terbukti tidak bisa menyaingi Google sebagai pusat informasi kontemporer. Perpustakaan tradisional mempunyai keunggulan akuntabilitas konten, dibanding Google yang sekadar menyajikan informasi, tetapi belum bisa diverifikasi secara pasti. Akan tetapi, dalam hal kecepatan, keterbaruan, dan aksesibilitas, perpustakaan tradisional tertinggal jauh. Hal ini dikarenakan konten yang ada di perpustakaan tradisional masih sangat banyak yang usang, ketinggalan zaman, dan tidak sesuai dengan problem masa kini. Oleh karena itu, Smart library akan mampu menggantikan peran perpustakaan tradisional di dalam melayani masyarakat, khususnya digital native. Smart library telah cukup mumpuni untuk berkontestasi dengan Google di dalam menghadapi digital native. Namun, yang lebih penting adalah bukan hanya sekadar berkontestasi, akan tetapi lebih dari itu, perpustakaan dan Google harus berkolaborasi. Hal ini dikarenakan, baik perpustakaan maupun Google mempunyai tujuan yang sama, yaitu membuat masyarakat mendapatkan kepastian informasi dari berbagai sumber, hanya tinggal bagaimana keduanya mampu samasama memperbaiki setiap lini atau aspek yang masih kurang dan perlu ditingkatkan.