LAYANAN BIBLIOMETRIKA UNTUK MEMUDAHKAN DALAM PENGEMBANGAN KOLEKSI DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Perpustakaan sebagai lembaga yang memiliki fungsi untuk mendukung penelitian di lingkungan akademi perlu lebih kreatif untuk menciptakan berbagai peluang dalam pelayanan dan kebijakan pengembangan koleksi. Maksud dari penulisan ini yaitu untuk menggambarkan berbagai aspek kemungkinan untuk mengembangkan layanan bibliometrika di perpustakaan perguruan tinggi untuk mengefektifkan dalam pengembangan koleksi. Hasil dari pengumpul data dengan mengunakan studi pustaka, menemukan berbagai aspek keuntungan untuk akusisi dan menseleksi koleksi dengan mengembangkan layanan bibliometrika berbasis analisis sitiran. Aspek lain yang perlu diperhatikan dalam pengembangan koleksi yaitu kerelevansian koleksi, kemuktahiran, bentuk dan format, objektivitas, dan tinjauan.
Abstract
The library as an institution that has a function to support research within the academy needs to be more creative to create opportunities in service and collection development policies. The purpose of this writing is to describe various aspects of the possibility of developing bibliometrics services in university libraries to streamline the development of collections. The results of data collectors using literature study, found various aspects of benefits for acquisition and selecting collections by developing bibliometrics based on citation analysis. Other aspects that need to be considered in the development of collections are the relevance of collections, reliability, form and format, objectivity, and review
Keywords:
bibliometrics
· collection development
· collection
· university library
Introduction
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan lembaga pengelola dan penyedian informasi untuk pemustaka (civitas akademika) untuk mengembangan hasanah keilmuan. Berbagai upaya dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi dalam menyediakan informasi untuk pemustaka, mulai membeli sampai dengan menerima sumbangan. Hal ini semata hanya untuk memenuhi kebutuhan informasi civitas akademika. Upaya yang telah dilakukan oleh perpustakan perguruan tinggi dalam memenuhi kebutuhan informasi tentu tidak akan pernah dapat memenuhi secara keseluruhan informasi yang dibutuhkan oleh pemustakanya. Salah satu pungsi Perpustakaan Perguruan Tinggi merupakan pendukung dalam pelaksanaan riset yang dilakukan oleh pemustaka melalui penyediaan informasi dan sumbersumber informasi untuk keperluan penelitian (Rahayu, 2017). Fungsi ini sangatlah vital karena didalam perpuguruan tinggi itu sendiri memiliki banyak peneliti-peneliti bermunculan. Perpustakaan sebagai penyedia informasi dan memiliki fungsi untuk mendukung penelitian sudah selayaknya merespon pemustaka dalam menyediakan rujukan-rujukan yang berkualitas untuk keperluan aktivitas akademika. Adanya rujukan-rujukan yang berkualitas harapanya peneliti dapat kebaruan hasil penelitian. Mengingat parameter hasil dari penelitian yang berkualitas itu sendiri merupakan kebaruan (Lichtfouse, 2013). Namun perilaku dari pemustaka dalam menelusuri informasi untuk menciptakan kebaruan penelitian telah berubah dengan adanya internet. hadirnya internet telah memberikan keuntungan sendiri untuk pemustaka dalam memenuhi kebutuhan informasi dalam penelitian. Hasil survey Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2017 menunjukan bahwa orang yang berpendidikan cenderung mengunakan internet lebih tinggi dan dalam pemanfaatanya lebih untuk membaca artikel. Gambaran hasil survey ini merupakan indikasi akan posisi perpustakaan telah bergeser sebagai “go to” bagi pemustaka. Untuk itu perpustakaan perguruan tinggi perlu memikirkan Langkah-langkah yang strategis dalam menyikapi perubahan-perubahan yang terjadi. Kreatifitas lembaga perpustakaan perguruan tinggi saat ini telah ditantang untuk berinovasi dalam menyediakan informasi. Mengembangkan bibliometrika sebagai bentuk layanan perpustakaan perguruan tinggi mungkin akan dapat menjadikan tanggapan yang baik oleh pemustaka maupun pemangku kebijakan didalam perguruan tinggi. Seperti halnya yang diungkapkan oleh Gumpenberger, Wieland & Gorraiz (2012) kegunan bibliometrika tidak hanya sebagai kebijakan perpustakaan untuk berpartisipasi dalam mengevaluasi keluaran ilmiah, tetapi dapat mendukung perguruan tinggi untuk meningkatkan kuliatasnya khususnya dalam karya ilmiah. Untuk itu dengan adanya layanan bibliometrika diharapkan perpustakaan memiliki kontribusi aktif didalam perguruan tinggi. Mengembangkan layanan bibliometrika sebagai bentuk partisipasi dalam perguruan tinggi hanya dapat mengungkapan perkembangan dari penelitian sebelumnya. Untuk itu, bagaiamana layanan ini dapat dihubungkan dengan pengembangan koleksi sebagai kebijakan untuk menyediakan kebutuhan rujunkan-rujukan dalam penelitian. Sehingga fungsi dari perpustakaan sebagai pendukung penelitian tidak hanya mengukur dan memonitoring perkembangan penelitian namun berperan aktif dalam menyediakan kebutuhan informasi sebagaimana ensensinya perpustakaan. Dalam proses pengembangan koleksi semua kegiatannya melibatkan pemustaka secara penuh sebagai pemangku pentingan (Evans, 1937). Perguruan tinggi yang merupakan penyedia informasi, dalam memenuhi kebutahan pengguna harus mengefekifkan pengembangan koleksi. Semua kebijakan dalam pengembangan koleksi harus berpijak kepada kebutuhan didalam layanan sebagai bagian terdepan untuk melihat polapola kebutuhan pemustaka. Begitu juga sebaliknya layanan akan selalu menganalisis kebutuhan untuk mendapatkan data dalam melakukan kebijakan penembangan koleksi. Untuk itu penulis disini bermaksuk untuk menggambarkan beberapa aspek dalam pengembangan layanan bibliometrika dalam memudahkan pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi. Proses pengumpulan data dengan mengumpulkan dari berbagai data skunder, membaca, mencatat serta mengolahnya (Zed, 2008). Data dikumpulan dari buku. artikel ilmiah, dan prosiding dari berbagai sumber. B. LAYANAN PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI Perpustakaan perguruan tinggi di dalam Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia No. 13 tahun 2017 telah dijelaskan jenis pelayanan minimal yaitu : pelayanan sirkulasi, pelayanan referensi, pelayanan literasi informasi. selain itu didalam peraturan tersebut juga setiap perpustakaan perguruan tinggi diamanatkan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mewujudkan penyelengaraan dan pengelolaan untuk meningkatkan kinerja perpustakaan dan keperluan pemustaka. Layanan perpustakaan merupakan ujung tombak dari suksesnya sebuah perpustakaan dalam mengelola informasi. untuk itu, perpustakaan selalu mengevaluasi dan menetapkan standar layanannya sebagai suatu bentuk usaha untuk memberikan yang layanan terbaik untuk pemustakanya. Perpustakaan perguruan tinggi perlu menyediakan produk dan layanan informasi berkualitas berdasarkan kebutuhan dan permintaan pemustaka. penyediaan koleksi tanpa memperhitungkan kebutuhan kurang efektif apabila tanpa mengetahui secara rinci mengenai kebutuhanya. Maka faktor utama sebuah layanan akan sukses adalah kerevansian dari sebuah informasi yang disediakan (Ondieki Makori, 2010). Beberapa alasan utama pentingya perpustakaan perguruan tinggi menyediakan layanan perpustakaan informasi yang efektif yang dikemukan oleh Sanap (2017) yaitu sebagai berikut. 1. Untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna 2. Efektivitas biaya 3. Mengubah kebu tuhan pengguna 4. Harapan pengguna dari perpustakaan 5. Untuk membuat sistem perpustakaan mampu mencapai tujuan dan sasaran dan menghadapi tantangan masa depan C. KAJIAN BILIOMETRIKA Bibliometrika berasal dari dua akar kata, yaitu biblio dan metrics. Biblio artinya “kertas” atau “buku”, yang berasal dari nama sebuah kota di Phoenicia yang terkenal sebagai pengekspor kertas. Istilah metrics menunjukkan pengetahuan tentang meter dan pengukuran. Kata metrics sendiri berasal dari kata Latin atau Yunani, yaitu metricus atau metrikos yang berarti “ukuran” (Royani, Bachtar, Tambunan, Tupan &Alm, 2013). Bibliometrik pada awalnya dikenal dengan statistical bibliography pada abad 20an untuk melihat dinamika perkembangan ilmu pengetahuan dengan menghitung pergerakannya. Maka kajian bibliometrika dikenal dengan sebagai metode yang mengunakan matematika dan statistik. Dalam perkembangnya kajian ini terdapa bentuk hukum pengukuran utama yaitu hukum lokta (Lotka’s Law of Scientific Productivity), hukum Bradford (Bradford’s Law of Scattering, hukum zipf (Zipf’s Law of Word Occurrence)(Pendit, 2012, h.7). Selain tiga hukum diatas adapun beberapa bagian lagi diakui sebagai bagian dari kajian bibliometrika yaitu analisis sititiran atau bibliografi yang ada pada tulisan ilmiah dan terdapat tiga bentuk analisis yaitu sitiran langsung (direct citation counting), pasangan biliografi (bibliographic coupling), kositasi (co-citation analysis). Tercetusnya tiga bentuk analisis tersebut diawali untuk mengetahui perilaku manusia dengan dikenal dengan istilah model dan terus dikembangan dalam bidang perpustakaan untuk mengetahui prilaku dari pengguna perpustakaan. Lebih lanjut lagi model pemetaan perilaku dikaitkan dengan bibliografi. Hal inilah yang menjadi dasar pengukuran bibliometrika yang didasari oleh analisis sitasi (Pendit, 2012, h.12). Kajian bibliometrika ini banyak digunakan untuk mengindentifikasi arah perkembangan dan pertumbuhan ilmu pengetahuan dalam disiplin ilmu pengetahuan. maka dapat digunakan perpustakaan dalam mengevaluasi layanan-layanan perpustakaan, kebijakan pengembangan koleksi, pembuat keputusan, alokasi sumber daya dan juga penyingan. Untuk itulah, Data yang didapat dari hasil kajian bibliometrika ini dapat menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Kajian ini juga dapat digunakan untuk mengkaji perkembangan dari penelitan. Pengtingnya kajian bibliometrika sebagai suatu metode dalam mengembangan penyediaan koleksi maupun sebagai suatu bentuk pelayanan (Pattah, 2013). D. PENGEMBANGAN KOLEKSI Kualitas sebuah layanan perpustakaan akan tercermin dari seberapa sering koleksi perpustakaan digunakan oleh usernya, maka kebijakan perpustakaan dalam mengembangkan koleksi sangat penting. Bagimana perpustakaan disini di tuntut untuk berpan aktif untuk ngumpulkan, mengelola, dan menyadikan informasi sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemustakanya (Tyasmara, 2016). Pengembangan koleksi pengembangan koleksi adalah suatu kegiatan yang sifatnya cyclical atau terus menerus. Adapun menurut Evans (1937) mengenai proses pengembangan koleksi terdiri dari enam (6) tahapan yakni sebagai berikut. 1. Community analysis merupakan tahap awal proses pengembangan koleksi untuk pengguna dari perpustakaan itu sendiri. 2. Kebijakanan pengembangan koleksi (selection polices) tahapan untuk menyusun rancangan dalam pengembangan dan seleksi koleksi perpustakaan. 3. Seleksi (selection) yaitu tahapan dalam memilih koleksi dan mengidentifikasi kebutuhan pemustaka terhadap koleksi yang dibutuhkan. untuk itu tahapan dibutuhkan ksebuah kejelihan untuk mendapatkan keberhasilan dalam proses memenuhi kebutuhan pemustaka. 4. Akusisi (acquisition) merupakan tahapan dalam melakukan pengadaan koleksi baik melalui pembelian maupun sumbangan atau dengan memanfaatkan berbagai kemungkinan yang dapat menambah koleksi tanpa membeli. 5. Penyiangan (Weeding) yaitu proses untuk mengeluarkan koleksi dari sebuah layanan dengan kebijakan tingkat kemutakhiran, keusangan, manfaat dan kerusakan yang tidak dapat diperbaiki lagi. Proses bisa dilakukan pemusnahan, penjualan maupun disimpang didalam gudang penyimpan. 6. Evaluasi (evalution) tahapan untuk menilai koleksi dengan mengacu kepada kebutuhan pemustaka. Pada era teknologi ini bentuk informasi maupun koleksi perpustakaan telah berubah. Keberagaman jenis koleksi diperustakaan ini juga dituntut untuk menilai dari kerelevansian dari koleksi yang akan dilayankan kepemustaka. Untuk itu dalam ilmu literasi inforamsi yang diadopsi dari penilai koleksi berbasis cetak didalam perpustakaan, ada enam kriteria dalam evaluasi koleksi yang dipaparkan oleh (Marsudi, 2016) yaitu sebagai berikut. 1. Relevansi : Kesesuaian kesesuaian judul dengan isi 2. Kredibilitas pengarang : keahlian atau latar belakang bidang ilmu yang dikuasai 3. Kredibilitas penerbit : berkaitan dengan karya-karya yang dihasilkan maupun domain dalam informasi elektronik (domain : ac.id, .org, edu) 4. Kemutakhiran : berkaitan dengan waktu penerbitan atau publikasi 5. Objektivitas : dapat dilihat dari karya tersebut didasari pada kajian ilmiah atau atau penelitan, fakta dan propaganda atau pendapat umum. 6. Tinjauan : mengenai seberapa sering karya itu dikutip atau diri view. Selain itu juga menurut Osvaldo De Sordi ada 4 dimensi yang harus dilihat didalam seleksi informasi yaitu kredibilitas sumber, kelengkapan, ketepatan waktu, dan kerahasiaan. Dalam penelitianya yang paling diutama yaitu kredibitas dan ketepan waktu (Osvaldo De Sordi, Meireles, & Carvalho de Azevedo, 2014) E. LAYANAN DAN PENGEMBANGAN KOLEKSI PERGURUAN TINGGI Layanan perputakaan perguruan tinggi dapat dikatakan sukses dan menjadi bagian integral ketika kebutuhakan informasi dari pemustaka (civitas akademika) telah diterpenuhi oleh perpustakaan. begitu juga sebaliknya, perpustakaan perguruan tinggi akan menjadi bagian integral dari lembaga induknya jika tidak dapat memenuhi kebutuhan informasi akademikanya. Berbagai standar kriteria telah ditetapkan dalam berbagai peraturan dan usulan dari berbagai pihak untuk perpustakaan semata-mata untuk menjadikan perpustakaan peruguran tingi menjadi bagian integral dilingkungan perguruan tinggi. Untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka (civitas akdemika) tentu proses yang harus dilakukan pengembangankan koleksi sehingga informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka dapat dilayankan. Pengembangakan koleksi selalu berbicara mengenai pemustaka, tanpa pemustaka arah dari pengembangan koleksi tidak dapat menemukan kefektipan. Dalam artian koleksi yang dibutuhkan pemustaka bisa jadi tidak memiliki singkronisasi terhadap kebijakankebijakan dalam pengembangan koleksi. Pengembangan koleksi tidak dapat lepas dari layanan sebagai ujung tombak dari perpustakaan untuk menganlisis kebutuhan dari pemustakanya. Sedangkan layanan tidak dapat lepas dari pengembangan koleksi karena berkaitan dengan materil yang akan dilayankan. Untuk itu singkornisasi antar pengembangan koleksi dan layanan sangat penting untuk meningkatkan fungsi perpustakaan perguruan tinggi sebagai bagian integral di perguruan tinggi. Gambarkan hubungan dari keduan bagian ini sebagai berikut. PENGEMBANGAN KOLEKSI LAYANAN Gambar 1. Hubungan Pengembangan Koleksi dan Layanan Dalam hal ini juga termasuk kaitan dengan perkembangan teknologi informasi yang telah memiliki banyak pilihan bagi pemustaka untuk memenuhi kebutuhan. adanya singkornisasi antara layanan dan pengembangan koleksi yang kuat akan memunculkan inovasi-inovasi dan dapat rekayasa ulang terhadap layanan perpustakaan perguruan tinggi. Terlebih lagi dalam membenahari kesenjangan dan harapan pemustaka terhadap layanan aktual yang disediakan didalam perpustakaan perguruan tinggi untuk mendukung kebutuhanya. F. LAYANAN BIBLIOMETRIKA Layanan bibliometrika merupakan bagian dari layanan refrensi yang ada pada perpustakaan tinggi. layanan refrensi merupakan layanan yang terdiri dari koleksi rujukan-rujukan seperti artikel ilmiah, jurnal, prosiding dan lain-lain. segi pemanfaatkan lebih digunakan untuk penelitian dikalangan civitas akademi untuk mendukung penelitian. Untuk itulah bibliometrika yang kecendrunganya digunakan untuk menganalisis perkembangan dari publikasi ilmiah dapat digabung dalam layanan refrensi sebagai suatu bentuk layanan untuk memberikan masukan-masukan ke civitas akademika didalam mendukung penelitian. Kajian bibliometrika sebagai suatu layanan perpustakaan pada dasarnya masih belum di explore di Indonesia, mengingat keterbatasan pengembangan terhadap kajian ini. hasil penelitian Corrall, Kennan & Afzal (2013, p. 664) menunjukan kajian bibliometrika tidak hanya terbatas pada pengembangan koleksi dan evaluasi dampak dari penelitian peneliti perorangan, kelompok akademis, unit organisasi dan seluruh lembaga melainkan dapat dikembangkan dalam bentuk layanan manajemen data penelitian termasuk layanan bibliometrika. Kajian ini mendapatkan momentum untuk mengembangkan dalam bentuk layanan perpustakaan perguruan tinggi dalam meningkatkan kemitran baru dengan administrator penelitian maupun secara keseluruhan civitas akademika. Lebih lanjut hasil survey dari empat negara yang dilakukan terhadap perpustakaan tinggi dengan menerapakan layanan bibliometrika mendapatkan peluang yang sangat singinfikan dalam analisis tren, strategi penerbitan, tinjauan fakultas, penulisan hibah, dan aplikasi kerja (Corrall dkk., 2013, p. 665). Untuk itu layanan ini dapat dirancang untuk mengungkap bebagai kebutuhan informasi termasuk subjek dalam penelitian. untuk memenuhi kebutuhan subjek perpustakaan perguruan tinggi melakukan kajian bibliometrika terhadap karya-karya ilmiah (skripsi, tesis, artikel, dan lain-lain). Hasil dari kajianlah dapat mengungkap berbagai polapola penelitian sebelumnya dan yang belum diekplore ataupun yang sedang trend diteliti. Selian itu, layanan ini dimaksudkan untuk mendeteksi berbagai karya-karya ilmiah yang dihasilkan sebagai bahan evaluasi berbagai fakultas didalam perguruan tinggi. pentingnya evaluasi ini sebagai gambaran kualitas dari karya-karya ilmiah yang telah ditetapkan dapat dievaluasi. Keutungan yang akan didapat oleh perpustakaan ketika mengembangkan layanan bibliometrika ini yaitu sebagai berikut. 1. Dapat mendeteksi kebutuhan informasi yang paling utama 2. Meningkatkan kualitas dari perpustakaan yang semulanya sebagai penyedia informasi bertambah menjadi sebagai analisis 3. Perpustakaan dapat meningkatkan keterlibatanya dalam perguruan tinggi 4. Sebagai media promosi akan berbagai informasi yang disediakan untuk mendukung penelitianya G. HUBUNGAN LAYANAN BIBLIOMETRIKA DAN PENGEMBANGAN KOLEKSI Sebelumnya hubungan antara pelayanan dan pengembangan koleksi untuk meningkatkan fungsi dari perpustakaan perguruan tinggi telah dipaparkan. Dapat kita lihat bahwa hubungan antara keduanya terfokus kepada pemustaka. Semua kebijakan dalam layanan dan pengembangan koleksi tidak terlepas dari hubungannya terhadap pemustaka. Untuk pengembangan koleksi, layanan perpustakaan perguruan tinggi selalu menganalisis kebutuhan dari pemustakanya. analisis terhadap pemustaka dalam pengembangan koleksi tidak hanya dapat dilakukan dengan memetak-metakan karateristik dari pemustaka (profesi, umur, pekerjaan dan lain-lain), tingkat kunjung dari perpustakaan, informasi yang sering diakses, kepuasan pemustaka. Melainkan dapat dilakukan perpustakaan perguruan tinggi dengan melihat perilaku atau pola-pola tulisan dari pemustaka seperti jurnal, skripsi, tesis, dan disertasi yang dihasilkan oleh perguruan tinggi. Mengungkap pola-pola tulisan dapat dikaji dengan mengunakan bibliometrika sebagai sebuah pendekatan. Ditambah lagi jika kajian bibliometrika menjadi sebuah layanan dari perpustakaan akan lebih efektif lagi dalam mengembangkan koleksi. Korelasinya pengembangan koleksi dan layanan disini terletak pada layanan yang mengungkap polapola dari proses analisis dan hasil layanan bibliometrika dapat menjadikan kebijakankebijakan dalam pengembangan koleksi. Sebelum pengungkapan kebijakankebijakan dalam pengembangan koleksi, area analisis dari kajian bibliometrika yang akan dianalisis yaitu lebih terpokus kepada sitiran atau daftar pustaka. Analisis terhadap daftar pustaka dalam kajian bibliometrik dikenal dengan analisis sititiran (Citation Analisys). Menganalisis sitiran merupakan suatu proses untuk melihat pola-pola kutipan yang digunakan didalam sebuah tulisan seperti buku dan karya ilmiah. analisis sitiran ini pada dasarnya dapat dilakukan pada semua karya tulis yang memiliki daftar pustaka atau bibliografi mengenai kutipanya. Namun penggunaan dari analisis ini cenderung digunakan untuk menganalisis terhadap karya-karya ilmiah. Alasan utama karena frekuensi publikasi karya ilmiah sangat tinggi dibandingkan dengan karya tulis lainya, sehingga adanya tuntutan untuk melihat pola-pola tulisan dari karya ilmiah tersebut. hal ini juga sama seperti yang terjadi dalam publikasi diperpuguruan tinggi yang hampir setiap hari bermuculan dengan berbagai macam pembahasan atau subjek dari penelitianya. Perpustakaan perguruan tinggi yang menghimpun karya-karya ilmiah civtas akademika dapat mengunakan analisis sitiran sebagai layanan untuk menilai kualitas penelitian, trend, evaluasi dan selanjutkan menjadikan sebuah kebijakan dalam pengembangan koleksi. Beberapa analisis sitiran yang dapat digunakan yaitu sitiran langsung (direct citation counting), pasangan biliografi (bibliographic coupling), kositasi analisis (co-citation analysis). 1. Analisis Sitiran Langsung Mengunakan analisis sitiran secara langsung dalam perpustakaan perguruan tinggi dapat dilakukan dengan menghitung literature yang digunakan dalam daftar pustakanya pada karya ilmiah yang dihasilkan oleh civitas akademika. Prosesnya penghitungan tersebut dengan mengelompokan berdasarkan beberapa kriteria yang dinginkan. Dalam penelitian Purwani istiani dan Sri Rohyanti Zulaikha melakukan analisis sitiran terhadap 79 skripsi dengan mengelompokanya berdasarkan jenis literature, bahasa literature, dan ketersedia literature (Istiani, zulaikha 2007, h. 6). Hasilnya menunjukan bahwa jenis literature yang paling banyak disitir secara berurutan yaitu buku, skripsi, sumber internet, jurnal, tesis, dan sebagainya. Untuk bahasa literature yang digunakan yaitu bahasa Indonesia dan inggris. untuk melihat ketersedia literature dalm penelitianya dikaitkan dengan koleksi yang ada diperpustakaan menunjukan ketersediaan koleksi yang ada diperpustakaan telah banyak literature yang digunakan (Istiani, zulaikha 2007, h. 7). Dengan demikian dari hasil ini dapat dilihat pola-pola penggunaaan literature dalam karya tulis ilmiah yang ditulis oleh civitas akademika. Karateristik literatur yang digunakan dalam publikasi dapat dilihat dengan melakukan anlisis sitiran langsung ini. pengunaan analisis sitasi langsung ini, Perpustakaan perguruan tinggi dapat mempertimbangakan dalam melihat pengembangan koleksi secara keseluruhan. 2. Pasangan Bibliografi Pasangan bibliografi atau dalam bahasa inggrisnya disebut bibliographic coupling yang pertama kali diperkenalkan oleh M.M. Kessler pada tahun 1963. Pasangan bibliografi dapat dikatan proses analisis dengan menghubung-hubungkan antara dua dokumen dengan melihat kesamaan rujukan yang digunakan pada sitiran atau daftar pustaka. Pasangan bibliografi didasarkan pada atribut yang dimiliki oleh dokumen yang disitir didasarkan pada atribut dokumen secara langsung (seperti pengarang, kata kunci, afiliasi pengarang, nama jurnal, tempat publikasi, dan lain-lain), pasangan bibilografi dapat juga digunakan untuk mengukur hubungan antara satu dokumen dengan dokumen lain. Selain itu, pasangan bibliografi dapat digunakan untuk memetakan dokumen-dokumen berdasarkan ukuran kedekatan subjek satu dokumen dengan dokumen lain (Rupadha, 2016, h. 59). Penting untuk digunakan dalam menseleksi koleksi untuk diadakan didalam perpustakaan perguruan tinggi. Menggunakan analis pasangan bibliografi dapat mengefesiensikan dalam pengadaan koleksi. Data yang muncul dengan frekuensi kedekatan tertinggi dapat dijadikan prioritas untuk dimasukan dalam list pengadaan. Tinggkat frekunsi yang tinggi ini akan cenderung digunakan oleh pemustaka perpustakaan ketimbang dengan frekuensi kedekatan antara dua dokumen yang rendah. Namun tidak menutup kemungkinan juga frekuensi yang rendah tersebut dapat digunakan jika dikaji dengan pendekatan lain dalam kajian bibliometrika. Dalam bentuk pelayanan kajian ini dapat memberikan maanfaat bagi civitas akademika untuk mengevaluasi publikasi penelitian terhadap output yang dinginkan oleh para pemegang kepentingan di dalam civitas akademika. Walaupun pasangan bibliografi dapat menjadikan suatu bentuk evaluasi publikasi penelitian seperti yang disampaikan oleh Liu (2015) dalam penelitian ekpserimen dengan mengunakan dua pendekatan cenderung kurang menghasilkan kekuatan hubungan yang rendah. 3. Kositasi Pada pasangan bibliografi pendektanya mengenai dua dokumen yang menyitir sedangkan kositasi mengenai dua dokumen yang disitir paling sedikit satu dokumen yang terbit kemudian (Rupadha, 2016, h. 60). Lebih lanjut untuk memperjelas perbedaan antara pasangan bibliografi dan kositasi dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 2. Pasangan bibliografi dan kositasi Dapat dilihat pada gambar di atas, bagian bahwa dokumen yang menyitir (pasangan bibliografi) sedangkan bagian tengah disitir oleh dokumen diatas (kositasi). Pada analisi kositasi ini akan mengungkapkan dokumen atau publikasi digunakan oleh berbagai dokumen lain untuk melihat kualitas dan keterhubungan subjek antar dokumen yang terbit kemudian. kajian ini dapat mengevaluasi keterpakaian publikasi, tetapi dokumen yang bisa digunakan yaitu dokumen yang telah diterbitkan 5 tahun sebelumnya untuk mendapatkan rentan waktu pengunaan dokumen tersebut. Sama halnya dengan pasangan bibliografi, kositasi kurang memberikan gambaran mengenai hubungan subjek antara dokumen karena frekunsi kekuatanya rendah. Namun datanya hasilnya analisis dapat menjadikan bahan pertimbangan untuk menseleksi bahan pustaka yang belum dimiliki perpustakaan atau melihat keterpakaian koleksi. H. PENGEMBANGAN KOLEKSI DENGAN KAJIAN BIBLIOMETRIKA Dalam teori evans pengembangan koleksi semua prosesnya berhubungan dengan kebutuhan pengguna. Pengguan kajian bibliometrika untuk menganalisis kebutuhan sampai dengan evaluasi dapat digunakan dengan mencoba untuk menjawab perkembangan teknologi dan perkembangan publiksi yang selalu meningkat. Dalam penejalasan sebelumnya analisis sitiran merupakan pendekatan awal untuk mengetahui karatersitik dari kebutuhan informasi yang mereka dapatkan. untuk proses selanjutkan disesuaikan dengan kebutuhan dari proses pengembangan koleksi misalnya untuk mencari subjek-subjek untuk dilakukan pengadaan dapat diekplore bisa mengunakan analisi bentuk hukum dalam bibliometrika . Keterbatasan dana yang sering menyelimuti khususnya untuk proses pembaharuan koleksi terkadang menjadikan seleksi menjadi timpang tindih. Untuk itu proses pengadaan bisa memanfaatkan kerjasama dengan pihak lain dan mengunakan teknologi sebagai bentuk pelayanan untuk mencarikan koleksi merupakan alternatif lain untuk menjawab keterbatasan atau prediksi dari tingkat kegunaanya rendah. Memanfaatkan sumber seperti pangkalan data online dapat menjadikan jawaban untuk membantu memenuhi kebutuhan usernya. Memenuhinya kebutuhan informasi dengan mengunakan berbagai sumber dibutuhan penilaian informasi dan strategi dalam penelusuran informasi sehingga medapatkan hasil yang relevan dan proses penelusuran yang efektif. Adapun beberapa yang harus diperhatikan proses pencarian informasi dalam mendukung penelitian sebuah penelitian sebagai berikut. 1. kredibilitas Dalam proses penelusuran informasi, hal ini terkait dengan kualitas dari penyedia informasi (publiser atau domain) dan pembuat informasi (pengarang). Dalam penelusuran informasi dengan mengujungi secara langsung maupun dengan memanfaatkan search engine secara implisit akan menuju tempat-tempat yang memiliki otoritas seperti perpustakaan, toko buku dan dalam media elektronik yaitu domain yang digunakan (ac.id, .org, .edu). maka dari itu untuk mengefektikan waktu penelusuran, kredibitas menjadi hal pertama yang harus dipertimbangkan. 2. Relevansi dan kelengkapan Secara garis besar relevansi merupakan singkornisasi antara judul dengan isi informasi. Dalam menyediakan informasi untuk para peneliti sangatlah penting untuk menilai kerelevanan dan kelengkapan informasi. Untuk menilai informasi khususnya artikel ilmiah secara berurutan harus dinilai dari judul, abstrak, metode, hasil dan bibilografi. Semua artikel ilmiah dihasilkan dengan metode atau dengan pendeketan tertentu namun terkadang beberapa artikel tidak memiliki metode maka diperlukan penilain yang lebih teliti dibandingkan artikel populer. 3. kemutakhiran Kemutakhiran berkaitan dengan waktu publikasi dari informasi. Setiap publikasi memiliki waktu publikasi namun jika tidak tertera dan telah melawati keusang maka menjadi bahan pertimbangan untuk tidak menjadikan sebagai bahan rujukan. 4. Bentuk dan format penyajian Dalam proses penelusuan infomrasi format tentu menjadi pertimbangan. Dalam bentuk tradisional penyajian dalam bentuk tercetak tetapi bentuk eletronik memiliki beberapa format seperti pdf, doc, ppt, dan html. Tentu semua format eletronik dapat digunakan sebagai bahan selagi memenuhi kredibitas, relevansi dan kemutakhiran. namun pertimbangan bentuk dan format ini sebagai acuan dalam bentuk menyajikan hasil penelusuran informasi kepada yang membutuhkanya. 5. Objektivitas Proses ini sangat kerusial dalam menetukan informasi itu layak atau tidak untuk menjadi bahan rujukan jika dilihat dari kredibitas, Relevansi, kelengkapan, kemutakhiran dan bentuk telah memenuhi syarat tentu informasi tersebut dapat digunakan. Untuk menetukan apakah informasi tersebut objektif atau tidak harus melibatkan para ahli dalam bidang ilmu tersebut. Namun jika memungkinkan untuk dapat menilai tentu objektivitas tidak luput dari proses penilain informasi. 6. Tinjauan Hal ini berkaitan seberapa sering informasi ini dirujuk dan dalam media elektronik dapat dilihat juga dari seberapa sering dilihat dan diunduh. Proses ini merupakan alternatif untuk mencari artikel ilmiah yang lain ketika tingkat keusangan yang dibutuhkan telah melewati batasanya.
Conclusion
Untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka (civitas akdemika) proses yang harus dilakukan pengembangankan koleksi sehingga informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka dapat dilayankan. Pengembangakan koleksi selalu berbicara mengenai pemustaka, tanpa pemustaka arah dari pengembangan koleksi tidak dapat menemukan kefektipan. Dalam artian koleksi yang dibutuhkan pemustaka bisa jadi tidak memiliki singkronisasi terhadap kebijakan-kebijakan dalam pengembangan koleksi. Untuk mengembakan layanan bibliometrika dengan cara mengalisisi sitiran (sitiran langsung, pasangan biliografi, dan kositasi) karya-karya ilmiah yang dihasilkan oleh civitas akademika didalam perguruan tinggi. hasil dari layanan ini kemudian dapat menjadi alternatif untuk dimanfaatkan sebagai tolak ukur untuk melakukan pengembangan koleksi. Pengmbangan koleksi dengan mengunakan berbagai sumber dibutuhan penilaian informasi dan strategi dalam penelusuran informasi sehingga medapatkan hasil yang relevan dan proses penelusuran yang efektif.