ANALISIS PENGEMBANGAN KOLEKSI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI (STUDI KOMPARASI)
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstrak
Perpustakaan adalah salah satu cara untuk memajukan kebudayaan nasional dengan cara melestarikan kekayaan dan khasanah budaya. Pengembangan perpustakaan merupakan upaya peningkatan sumber daya, pelayanan, dan pengelolaan perpustakaan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengembangan bahan pustaka di Perpustakaan perguruan tinggi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi komparasi beberapa literatur. Hasil penelitiann adalah tidak semua perpustakaan perguruan tinggi melakukan kegiatan pengembangan koleksi secara menyeluruh. Komponen proses pengembangan koleksi meliputi kebijakan seleksi, seleksi, pengadaan, penyiangan, dan evaluasi. Pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi dapat dilakukan dengan langkah awal adalah analisis kebutuham pemustaka.
Abstract
The library is one way to advance national culture by preserving wealth and cultural treasures. Library development is an effort to increase resources, services, and management of libraries both in terms of quantity and quality. The purpose of this study was to analyze the development of library materials in the college library. The research method used is a comparative study in several literatures. The results of the research are not all college libraries carry out collection development activities as a whole. Components of the collection development process include selection, selection, procurement, weeding and evaluation policies. Development of collections in the college library can be done with, the first step is to analyze the needs of users.
Keywords:
collection development
· collection
· university library
Introduction
1. Latar Belakang Dalam UU RI No 43 tahun 2007 tentang perpustakaan disebutkan bahwa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. (Sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945), perpustakaan hadir sebagai wahana belajar sepanjang hayat dalam mengembangkan potensi masyarakat, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab dalam mendukung penyelenggaraan pendidikan nasional. Perpustakaan merupakan salah satu upaya memajukan kebudayaan dengan cara melestarikan kekayaan dan khasanah budaya. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencerdaskan bangsa adalah ditumbuhkannya budaya gemar membaca. Manfatnya adalah dapat digunakan sebagai sumber informasi. Perpustakaan adalah suatu tempat disimpannya informasi karya tulis, karya cetak, dan karya rekam. Salah satu peran perpustakaan dalam masyarakat adalah sebagai sarana penyimpanan karya manusia juga sebagai khazanah budaya masyarakat. Internasional Federation of Library Associations and Institutions (IFLA) mendefinisikan perpustakaan sebagai kumpulan materi tercetak dan media non – cetak atau sumber informasi dalam komputer yang disusun secara sistematis untuk digunakan pemustaka. Sumber informasi di perpustakaan yaitu berupa koleksi. Koleksi merupakan hal penting dan bisa dijadikan faktor yang menentukan kegiatan di perpustakaan. Perpustakaan harus mampu mengembangkan koleksi bacaan yang dapat mengikuti perkembangan. Menurut Undang-undang No.43 tahun 2007, pengembangan perpustakaan merupakan upaya peningkatan sumber daya, pelayanan, dan pengelolaan perpustakaan, baik dalam hal kuantitas maupun kualitas. Pengembangan perpustakaan dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan tujuan, serta dilakukan sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Secara definitif, Darmono (2007, h.57) mengatakan penembangan perpustakaan meliputi semua aspek kegiatan yang dapat memperluas koleksi di perpustakaan, terutama kegiatan yang ada kaitannya dengan pemilihan serta evaluasi bahan pustaka. Kegiatan pengebangan koleksi meliputi meyusun kebijakan, menetapkan prosedur seleksi, pengadaan koleksi, dan evaluasi. Yulia dan Janti (2009, h.23) menyebutkan beberapa azas yang digunakan dalam pengembangan koleksi, diantaranya kerelevanan, berorienasi pada kebutuhan pemakai, kelengkapan koleksi, kemutakhiran, dan kerjasama antar perpustakaan. Secara teknis menurut Prastowo (2018, h.238) sesuatu uang perlu dipertimbangkan dalam melakukan pengembangan koleksi yaitu program dari lembaga induk sebuah perpustakaan, kelompok pemakai, kebutuhan pemakai, ragam jenis koleksi, kriteria bahan pustaka, jumlah eksemplar, dan bahasa bahan pustaka. Beberapa perpustakaan perguruan tinggi ada yang memilki strategi dalam pengembangan bahan pustaka dan ada yang tidak memiliki. Strategi pengembangan koleksi diperlukam untuk mengatur agar tujuan dari perpustakaan tersebut bisa tercapai. Pengembangan koleksi tiap perpustakaan berbeda. 2. Tujuan Penulisan Dari permasalan diatas, maka artikel ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi. 3. Kajian Literatur a. Pengembangan Koleksi Pengembangan koleksi merupakan rangkaian suatu proses kegiatan yang bertujuan mengarahkan pemustaka atau pemakai pada sumber informasi di lingkungan perpustakaan maupun unit informasi. Kegiatan tersebut mencakup penyusunan kebijakan pengembangan koleksi, pemilihan koleksi, pengadaan koleksi, promosi, pemelihataan, penyiangan, da evaluasi daya guna koleksi. (Edwar, 2005). Menurut Pastowo (2018, h.236) pengebangan koleksi yaitu sebuah proses agar sebuah perpustakan dapat memenuhi kebutuhan informasi pemustaka yang dilayani dengan dengan tepat waktu dan ekonomis menggunakan sumber informasi yang ada di dalam maupun diluar perpustakaan tersebut. Membutuhkan suatu recana untuk pengembangan koleksi yang efektif. Penciptaan rencana pengembangan koleksi adalah untuk memperbaiki kelemahan koleksi dan memelihara kekuatannya. Darmono (2007, hlm.31) menyebutkan dalam pengembangan koleksi ada beberapa pendekatan yang harus dilakukan oleh pustakawan. Pendekatan tersebut dituangkan dalam skala prioritas pengembangan koleksi. Pendekatan ini digunakan agar pengembangan koleksi sejalan dengan tujuan dan jenis perpustakaan, visi dan misi lembaga induk, kebutuhan pemustaka, serta dana. Pendekatan tersebut adalah sebagai berikut : 1) Pendekatan secara fungsi. Pendekatan pengembangan koleksi ini apakah menekankan pada fungsi perpustakaan sebagai fungsi pendidikan, fungsi rekreasi, fungsi penelitia, ataukah fungsi pelestarian. Kombinasi terhadap fungsi-fungsi perpustakaan tersebut disesuaikan dengan kebutuhan perpustakaan. 2) Pendekatan output koleksi perpustakaan. Pendekatan ini mengarah pada apakah perpustakaan menekankan pada kualitas atau kuantitas koleksi perpustakaan. Pada pendekatan ini harus dipikirkan secara matang terhadap kebutuhan perpustakaan, karena tidak semua bahan pustaka yang memiliki kualitas yang bagus juga mempunyai nilai kebermanfaatan yang tinggi terhadap kebutuhan pemustaka di perpustakaan tersebut. b. Komponen proses pengembangan koleksi Dalam pengembangan koleksi terdapat komponen-komponen proses pengembangan koleksi yang harus diperhatikan. Komponen proses pengembanan koleksi adalah seerti gambar dibawa ini: Komponen-komponen Proses Pengembangan Koleksi Pada gambar di atas jelaskan bagaimana proses pengembangan koleksi dapat dilakukan dengan baik. Komponen-komponen tersebut saling terhubung dan berkesinambungan secara berkelanjutan sesuai yang digambarkan. Dari gambar diatas dapat dijabarkan komponen proses pengembangan koleksi meliputi seleksi, kebijakan seleksi, pengadaan, penyianan, dan evaluasi.
Method
Dalam penulisan ini menggunakan metode penelitian yang bersifat deskriptif tentang pengembangan koleksi yang ada di perpustakaan perguruan tinggi. Penelitian ini mengkaji literatur yang ada tentang pengembangan koleksi perpustakaan di perguruan tinggi dan menggabungkan beberapa hasil penelitian yang sudah ada. Adapun literatur yang diambil yaitu dari buku, jurnal penelitian, dan skripsi.
Discussion
Pengembangan Koleksi Di Perpustakan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi adalah bagian integral di perguruan tinggi. Sulistyo Basuki (1991, hlm.52) menyebutkan tujuan perpustakaan perguruan tinggi yaitu: 1. Memenuhi kebutuhan informasi sivitas akademik perguruan tinggi. 2. Menyajikan koleksi bahan pustaka di semua tingkatan akademik. 3. Menyediakan ruang baca atau belajar bagi pemustaka. 4. Menyediakan jasa peminjaman yang tepat guna. 5. Menyediakan jas informasi aktif. Tujuan perpustakaan perguruan tinggi dapat terlaksana dengan menjalankan fungsinya dengan baik. Jika fungsinya sudah berjalan baik, maka kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi bisa terlaksana dengan baik. Untuk memenuhi semua kebutuhan pemustaka di perpustakaan, maka perpustakaan menjalankan proses pengembangan koleksi. Tujuan pengembangan koleksi yaitu menambah jumlah dan ragam koleksi perpustakaan dengan tepat agar dapat memenuhi kebutuhan pemustaka sesuai dengan perkembangan informasi. Dalam melakukan pengembangan koleksi dibutuhkan sebuah strategi untuk alat perencana dan sarana agar tujuan dan kebijakan pengembangan koleksi dapat berjalan sesuai tujuan. Bagitupun pada perpustakaan perguruan tinggi. Strategi pengembangan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi dilakukan pada masing-masing bagian pengembangan koleksi, yaitu seleksi, kebijakan seleksi, pengadaan, penyiangan, dan evaluasi. Pengembangan koleksi perpustakaan perguruan tinggi dapat dilakukan dengan langkah awal adalah analisis kebutuham pemustaka. 1. Kebijakan Seleksi Bahan Pustaka Di Perpustakaan Perguruan Tinggi Kebijakan seleksi dapat berbentuk dokumen pernyataan tertulis yang berisi rincian kebijakan. Rincian dari kebijakan tersebut berisi rencana kerja dan informasi yang kedepannya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan seleksi bahan pustaka. Adanya kebijakan koleksi secara tertulis bermanfaat untuk membimbing staf perpustakaan dalam pertimbangan seleksi dan ketika ada pergantian petugas yang melaksanakan pengembangan koleksi, supaya kebjikan tersebut terus berjalan secara konsisten. Proses seleksi dilakukan untuk agar bahan pustaka dapat dilihan manfaat dan kerugiannya. Kegiatan seleksi diupayakan agar bidang subyek dan cakupan koleksi sesuai dengan kebutuhan pemustakanya. Proses seleksi di perpustakaan perguruan tinggi harusnya dilakukan sesuai dengan kebijakan seleksi. Namun tidak semua perguruan tinggi memiliki kebijakan seleksi secara tertulis. Menurut La Ode (2014, h.51) menyebutkan Universitas Negeri Makasar melakukan kebijakan koleksi yaitu dengan: (1) membentuk tim, (2) para selektor mengkaji daftar usulan bahan pustaka yang diusulkan oleh progra studi setiap fakultas, (3) kajian ketersediaan koleksi yang ada, (4) setelah diperoleh keputusan koleksi apa yang diperlukan maka selanjutnya dibuat daftar usulan koleksi. 2. Seleksi Bahan Pustaka Di Perpustakaan Perguruan Tinggi Menurut Kawet (2015, h.2), Seleksi merupakan salah satu proses penting dalam pengembangan koleksi perpustakaan. Dengan menganalisis dan mengevaluasi dokumen atau koleksi yang memenuhi kriteria terhadap kebutuhan pemakai. Tidak hanya itu, seleksi bahan pustaka juga mendapatkan peran untuk pengambilan keputusan pengembangan koleksi sesuai keijakan seleksi yang sudah ditentukan. Seleksi bahan pustaka perpustakaan perguruan tinggi harusnya melibatkan seluruh komponen akademik yaitu pustakawan, dosen, dan mahasiswa. Hal tersebut sudah dilakukan pada sebagian perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan Universitas Negeri Makasar melakukan proses seleksi dengan cara analisis kebutuhan yaitu; (1) melakukan survey terhadap pengguna, (2)mengirim formulir isian pengadaan koleksi kepada prodi yang ada di fakultas, (3) memberi kesempatan kepada pemustaka untuk mengusulkan koleksi yang dibutuhkan. Sumber-sumber seleksi juga dapat dilakukan untuk proses seleksi. Seperti yang dilakukan pada perpustakaan Universitas Sanata Dharma yaitu dengan menggunakan sumber-sumber seleksi berupa alat bantu seleksi antara lain majalah dan daftar judul untuk sebuah jenis perpustakaan, serta alat identifikasi dan verivikasi dalam bentuk katalog penerbit, berbagai jenis bibliografi, dan indeks. Hal penting lainnya yang perlu dipertimbangkan dalam proses seleksi adalah penentuan prioritas bahan pustaka yang harus disesuaikan dengan anggaran yang tersedia. 3. Pengadaan Koleksi di Perpustakaan Perguruan Tinggi Sistem Pengadaan koleksi Menurut Kawet (2018) Untuk pengadaan bahan pustaka, perpustakaan melakukan berbagai cara. Kegiatan pengadaan koleksi perpustakaan menurut Jefry meliputi kegiatan: a. Pemilihan kleksi berdasarkan tingkatan pemustaka atau pemakai dan jenis atau ragam koleksi. b. Kegiatan pengadaan koleksi dengan cara: c. membeli koleksi yang dibutuhkan perpustakaan d. sumbangan/ hadiah dari berbagai pihak baik berupa buku, majalah, dan koleksi lainnya. e. Tukar menukar koleksi perpustakaan dengan perpustakaan lain. Menurut Sulistyo-Basuki (1991, h.222) pengadaan koleksi dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu pembelian, hadiah, tukar menukar, dan keanggotaan organisasi. Empat cara pengadaan bahan pustaka tersebut adalah sebagai berikut. Pengadaan bahan pustaka di perpustakaan perguruan tinggi sama halnya dengan perpustakaan pada umumnya. Koleksi yang diadakan oleh perpustakaan hendaknya sesuai dengan minat, kebutuhan pemustaka. Pengadaan bahan pustaka meliputi pembelian, hadiah, dan tukar menukar. Namun kadang tidak semua proses pengadaan bahan pustaka tersebut dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi. Pada perpustakaan Universitas Negeri Makasar, pihak perpustakaan hanya mengusulkan koleksi dan pengadaan ini melalui tender yang dilakukan oleh pihak universitas. Jadi pengadaan koleksi yang dilakukan hanyalah melakui sumbangan dari mahasiswa, instansi/ lembaga dan kerjasama (hibah) yang dijalin dengan bank Indonesia juga penerbit. Salah satu perpustakaan lainnya yang melakukan pengadaan bahan pustaka melalui pembelian, hadiah dan sumbangan adalah perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta. Dari beberapa perpustakaan perguruan tinggi, pembelian bahan pustaka di perpustakaan perguruan tinggi biasanya dilakukan di toko buku, agen, ataupun penerbit. Pembelian biasanya lebih cepat karena sesuai dengan kebutuhan dan anggaran. Pengadaan bahan pustaka berupa hadiah bisa berdasarkan permintaan atau usulan. Hadiah yang diminta biasanya berdasarkan usulan pada saat seleksi sehingga diharapkan sesuai dengan kebutuhan pemustaka. Hadiah yang tidak diminta berdasarkan usulan saat seleksi biasanya berupaa koleksi ilmiah dan umum. Sumbangan pada perpustakaan perguruan tinggi bisa didapat dari alumni yang telah lulus. 4. Penyiangan Bahan Pustaka di Perpustakaan Perguruan Tinggi. Yulia (1993, h.14) menyebutkan penyiangan merupakan kegiatan identifikasi, memilah dan memilih serta mengeluarkan bahan pustaka dari rak sesuai kebijakan pengembangan koleksi. Penyiangan bahan pustaka bertujuan: a. Membina dan memperbaiki nilai pelayanan informasi oleh perpustakaan. b. Memperbaiki tampilan perpustakaan. c. Meningkatkan manfaat dan kegunaan ruang dan koleksi penyiangan dilakukan pada koleksi yang jumlahnya banyak setiap judul atau edisi. Penyiangan juga dilakukan untuk koleksi yang kondisinya tidak layak untuk dilayankan. Kebiakan pengembangan koleksi Perpustakaan Nasional menyebutkan bahan pustaka yang tidak layak dan perlu disiangi memerlukan pergantian dengan yang baru atau diperbaiki. Khusus untuk bahan pustaka deposit tidak dilakukan penyiangan. Tujuan penyiangan menurut Sutarno (2006, h.116) adalah menyisihkan bahan pustaka yang sudah kadaluarsa, tidak relevan dengan kebutuhan pemustaka, rusak, dan tidak terpakai. Koleksi tersebut diganti dengan koleksi baru yang lebih relevan. Penyiangan juga bermanfaat untuk menjaga koleksi. Biasanya yang melakukan penyiangan adalah pustakawan bidang pengelolahan dan pengembangan koleksi. Pertimbangan penyiangan bahan pustaka di perpustakaan perguruan tinggi adalah koleksi tidak digunakan lagi, kurikulum yang berubah, rak yang tidak mencukupi untuk bahan pustaka, memperbaiki buku yang sudah rusak. Jenis koleksi yang disiangi menurut Yununs (2004) adalah semua koleksi kecuali koleksi yang langka. Kriteria penyiangan bahan pustaka yang cocok di perpustakaan perguruan tinggi yaitu: (1) bahan pustaka yang rusak dan tidak dapat diperbaiki lagi, (2) bahan pustaka yang sudah tidak lengkap halamannya, (3) bahan pustaka yang tidak up to date, (4) bahan pustaka dengan jumlah eksemplar sedikit, (5) bahan pustaka kurang relevan bagi pemustaka di perpustakaan perguruan tinggi tersebut, (6) bahan pustaka yang dilarang untuk dilayankan karena dilarang beredar. Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta memiliki kriteria sendiri dalam melakukan penyiangan, yaitu: a. tidak dapat diperbaiki karena rusak berat b. bahan pustaka tidak lengkap halamannya dan tidak dapat dicari gantinya c. tidak sesuai lagi dengan kurikulum d. bahan pustaka tidak pernah dipinjam e. bahan pustaka dipinjam dan tidak dikembalikan f. bahan pustaka hilang koleksi yang masih bisa diperbaiki maka akan diperbaiki. Koleksi yang tidak terpakai karena rusak dan tidak bisa diperbaiki biasanya digudangkan dan dibuatkan berita acaranya. 5. Evaluasi Bahan Pustaka di perpustakaan Perguruan Tinggi. Yulia (1993, h.14) mengemukakan evaluasi koleksi adalah upaya menilai kegunaan dan manfaat untuk memenuhi kebutuhan pemustaka beserta program lembaga. Evaluasi suatu koleksi hendaknya dilakukan dengan cara teratur agar koleksi mengikuti perkembangan dan perubahan perpustakaan dan lembaganya. Tujuan evaluasi koleksi adalah: (1) mengetahui kualitas dan kedalaman isi sebuah koleksi, (2) menyesuaikan koleksi dengan tujuan serta program perpustakaan dan lembaganya, (3) mengikuti perkembangan, perubahan, teknologi, ilmu dn sosial budaya, (4) meningkatkan nilai sebuah informasi, (5) mengetahui kekuatan dan kelemahan suatu koleksi, (6) menyesuaikan dengan kebijakan penyiangan. Evaluasi bahan pustaka digunakan untuk menganalisa kebutuhan pemustaka guna pengembangan koleksi berikutnya. Evaluasi di perpustakaan perguruan tinggi dilakukan untuk mengetahui kuat lemahnya koleksi dilihat dari kualitas dan kuantitas. Selain itu, evaluasi bahan pustaka juga dapat digunakan untuk menilai adapakah pengembanga koleksi berjalan baik atau tidak. Melakukan evaluasi di perpustakaan perguruan tinggi dapat dilakukan dengan menyebarkan angket pada pemustaka. penyebaran angket adalah untuk mengumpulkan pendapat pemustaka dan hasilnya dapat diketahui apa yang diinginkan. Perpustakaan Universitas Negeri Makasar melaksanakan evaluasi dengan mengkaji sirkulasi dan daftar koleksi yang ada dan hasilnya akan digunakan untuk pengembangan koleksi selanjutnya. Perpustakaan Universitas Negeri Yogyakarta juga menggunakan evaluasi untuk mengetahui kekurangan dan kelebihan kegiatan pengembangan koleksi yang dilakukan oleh pustakawan. Tidak hanya itu, evalasi pengembangan koleksi juga digunakan untuk mengukur tingkat kebijakan pengembangan koleksi. Dapat disimpulkan bahwa manfaat dari kegiatan evaluasi koleksi perpustakaan perguruan tinggi adalah: a. membangtu proses perencanaan kembali pengembangan koleksi perpustakaan berikutnya b. mengukur evektivitas pengembangan koleksi c. meningkatkan nilai informasi yang ada di perpustakaan d. mengetahui kuat dan lemahnya suatu koleksi
Conclusion
c. Pengembangan koleksi merupakam rangkaian proses kegiatan yang bertujuan memudahkan pembaca/ pemustaka menemukan sumber informasi di lingkup perpustakaan maupun unit informasi. Kegiatan pengembangan koleksi mencakup seleksi, penyusunan kebijakan, pengadaan, pemilihan, pemeliharaan, penyiangan, promosi, serta evaluasi daya guna koleksi. d. Komponen proses pengembangan koleksi meliputi seleksi, kebijakan seleksi, pengadaan, penyiangan,dan evaluasi. e. Pengembangan koleksi perpustakaan perguruan tinggi dapat dilakukan dengan langkah awal adalah analisis kebutuham pemustaka.