Kembali
16
1
2020 Info Bibliotheca Vol 2 · 2 ISSN 2714-805X

INOVASI LAYANAN PERPUSTAKAAN SELAMA PANDEMI COVID-19 OLEH TAMAN BACA MASYARAKAT OMAH BUKU DI DESA BLONDO KABUPATEN MAGELANG

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Penelitian ini membahas mengenai Inovasi Layanan Perpustakaan Selama Pandemi Covid-19 Oleh Taman Baca Masyarakat Omah Buku di Desa Blondo Kabupaten Magelang. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi pelayanan perpustakaan yang ada di Taman Baca Omah Buku sebelum dan selama pandemi Covid-19 ini ada serta inovasi-inovasi yang dilakukan dalam menghadapinya. Penclitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif, dimana pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara, Wawancra dilakukan dengan dua orang partisipan yakni antara peneliti dengan pemilik sekaligus ketua pengelola dari Taman Baca Masyarakat Omah Buku. Data yang telah diperolch dari kegiatan observasi dan wawancara kemudian diolah dan dianalisis dengan teknik analisis data dengan mengeksplorasi mengenai kehidupannyata, sistem terbatas kontemporer atau kasus atau beragam sistem terbatas atau berbagai kasus, dengan teknink pengumpulan data secara detail dan mendalam dengan melibatkan sumber informasi yang majemuk serta melaporkan deskripisi kasus dan tema kasus penelitian guna membantu memudahkan proses interpretasi mengenai bagaimana inovasi kegiatan selama pandemi Covid-19 di TBM Omah Buku dimaknai dan dikaitkan dengan teori yang ada. Berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan diolah, penelitian ini menunjukkan adanya perbedaan yang cukup signifikan dalam aspek pelayanan antara saat sebelum dengan saat sedang berlangsungnya pandemi Covid-19. Perbedaan pada aspek pelayanan inilah yang kemudian menjadi sebab munculnya inovasi dan tindakan seperti berjalannya kegiatan dengan tetap mematuhi protokol kesehatan, pembatasan jumlah pengunjung, pengantaran koleksi bahan pustaka oleh relawan ke beberapa titik di masyarakat sekitar. Adanya inovasi tersebut diharapkan dapat menarik sikap masyarakat untuk memperhatikan betapa pentingnya taman baca di masyarakat.

Abstract

This research discusses Library Service Innovations during the Covid-19 Pandemic by the Omah Buku Community Reading Park in Blondo Village, Magelang Regency. The purpose of this study was to determine the condition of library services in the Omah Buku Reading Park before and during the Covid19 pandemic and the innovations made in dealing withit. This research is a research that usesa descriptivegualitative research method, where data collection is carried out by means of observation and interviews. Interviews were conducted with two participants, namely between the researcher and the owner andchairman of the Omah Buku Community Reading Park. The data that has been obtained from observationand interview activities are then processed and analyzed using data analysis techniques by exploring real life, contemporary limited systems or cases or various limited systems or various cases, with detailed andin-depth data collection techniques involving multiple sources of information. as well as reporting casedescriptions and research case themes to help facilitate the process of interpretation of how innovative activities during the Covid-19 pandemic at TBM Omah Buku are interpreted and linked to existing theories. Based on the data that has been collected and processed, this study shows that there is a significantdifference in service aspects between the time before and during the Covid-19 pandemic. The difference inthis aspect of service then becomes the cause of the emergence of innovation and actions such as running activities while adhering to health protocols, limiting the number of visitors delivery of library material collections by volunteers to several points in the surrounding community. This innovation is expected to attract people's attitudes to pay attention to the importance of reading gardens in the community.
Keywords: Layanan Perpustakaan · Taman Baca Masyarakat : Inovasi Layanan Perpustakaan · Covid-19

Introduction

Informasi pada era yang telah modern ini sudah sangat mudah untuk didapatkan. Berbagai ragam bentuk media yang ada dalam jumlah massive memudahkan kita untuk mendapatkan informasi sesuai dengan keinginan. Bentuk-bentuk itu diantaranya sepertimedia elektronik, media cetak, internet, dan lain-lain. Namun, perlu kita pahami terlebihdahulu apa arti dari informasi tersebut agar dapat digunakan secara tepat guna, baik dan benar. Informasi menurut Abdul Kadir, Mc Fedden, dkk adalah data yang telah diproses. Pemrosesan data tersebut dilakukan sedemikian rupa sehingga data yang telah diproses tersebut dapat meningkatkan pengetahuan orang yang menerima dan menggunakannya (Kadir 2014). Sedangkan menurut Anton M. Moeliono informasi merupakan data yang telah diproses, namun pemrosesan tersebut dilakukan untuk suatu tujuan tertentu. Lebih jauh lagi, Anton M. Moeliono juga menyatakan bahwa informasi merupakan keterangan, kabar berita, pemberitahuan, penerangan, atau bahan nyata lainnya yang dapat digunakan sebagai bahan kajian analisis untuk mengambil kesimpulan atau keputusan tertentu. Informasi yang digunakan sebaiknya adalah infromasi yang baik dan benar, guna mengantisipasi apapun kemungkinan yang akan ditimbulkan oleh informasi itu sendiri, terlepas itu adalah baik dimana ini yang diharapkan, ataupun buruk yang tidak diharapkan. Reynold Mc. Leod berpendapat bahwa informasi yang baik dan berkualitas harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut, yaitu : (1) Akurat, artinya informasi mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Pengujian terhadap hal ini biasanya dilakukan melalui pengujian yang dilakukan oleh dua orang atau lebih yang berbeda-beda dan apabila hasil pengujian tersebut menghasilkan hasil yang sama, maka dianggap data tersebut akurat. (2) Tepat waktu, artinya informasi itu harus tersedia atau ada pada saat informasi tersebut diperlukan, tidak besok atau tidak beberapa jam lagi. (3) Relevan, artinya informasi yang diberikan harus sesuai dengan yang dibutuhkan. Kalau kebutuhan informasi ini untuk suatu organisasi maka informasi tersebut harus sesuai dengan kebutuhan informasi diberbagai tingkatan dan bagian yang ada dalam organisasi tersebut. (4) Lengkap, artinya informasi harus diberikan secara lengkap karena bila informasi yang dihasilkan sebagiansebagian akan mempengaruhi dalam mengambil keputusan. (5) Correctness, berarti informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan harus memiliki kebenaran. (6) Security, berarti informasi yang dihasilkan mempunyai manfaat yang lebih besar dibandingkan dengan biaya mendapatkannya dan sebagian besar informasi tidak dapat ditaksir keuntungannya dan dengan satuan nilai uang tetapi dapat ditaksir nilai efektifitasannya. Dengan mengetahui bagaimana ciri-ciri informasi yang baik dan benar melalui pendapat Reynold Mec. Leod tersebut, setidaknya dapat diketahui dan dibedakan apakah yang terkandung dalam sebuah informasi yang kita peroleh adalah informasi yang baik dan benar atau tidak. Selain itu, melalui pendidikan bermedia diharapkan seseorang dapat merefleksikan nilai-nilai pribadinya, menguasai berbagai teknologi informasi, mendorong kemampuanberpikir kritis, memecahkan masalah dan kreatif, dan mendorong demokratisasi.Banyak ragam dan arus informasi yang ada pada saat sekarang ini. Baik darimedia cetak, eletronik, internet, dan lain-lain. Sepeti contoh mengenai informasikomersil, ideology, politik, dan kesehatan. Persis terjadi dimana seperti saat ini, dengan adanya wabah Covid-19 ini, menimbulkan adanya tambahan pada arus informasi. Corona Virus Disease dikabarkan muncul pertamakali di Wuhan, China. Sebuah virus yang diketahui memiliki tingkat penyebaran yang begitu cepat serta mematikan dengan penularannya yang berupa kontak fisik melalui mulut, mata, dan hidung. Wabah ini telah membawa dampak yang besar bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat serta yang menjadi masalah adalah bagaimana dampaknya terhadap pelayanan publik dan upayapenanggulangan dalam mengatasi pandemi Covid-19 ini (Syafrida 2020). Setelah melalui beberapa bulan penanganan kasus Covid-19 di Indonesia, banyak rumor yang beredar mengenai penanganan Covid-19 di Indonesia. Selain penanganan oleh pihak medis, tatanan kegiatan di dalam masyarakat juga diberikan sebuah kebijakan seperti Pembatasan Skala Besar-Besaran atau yang lebih dikenal dengan PSBB, menjaga jarak, PSBB jilid kedua di beberapa kota, hingga pada kebijakan new normal dengan mematuhi protokol kesehatan diterapkan guna menanggulangi persebaran dari pandemi Covid-19 ini. Isu atau rumor yang bermunculan di berbagai ragam bentuk media yang ada tentu tidak semuanya benar. Masayarakat dituntut untuk dapat membedakan dan pintar dalam memilih informasi yang baik dan benar bagi diri sendiri dan juga orang lain secara umum. Hal ini tidak hanya berlaku ketika pandemi ini terjadi, melainkan sedari dulu, masyarakat yang melek akan informasi dan juga terliterasi merupakan sebuah bekal bagi kemajuan budaya dari suatu bangsa. Taman Baca Masyarakat (TBM) adalah salah satu bentuk gerakan literasi selain lembaga perpustakaan yang bergerak dan berupaya untuk dapat meningkatkan kemampuan literasi dari masyarakat. Ini merupakan sebuah bentuk kegiatan yang diciptakan oleh masyarakat agar terwujudnya akses informasi untuk masyarakat demi pembelajaran serta pengetahuan yang diharapkan terus meningkat. Hal ini ada dan berangkat karena inisiatif dari masyarakat itu sendiri yang peduli akan kegiatan literasi, termasuk di dalamnya kegiatan pendidikan dan kemudahan dalam mengakses informasi yang baru. Keinginan masyarakat yang menuntut pemerataan tersebut, dalam hal ini adalah sebuah pendidikan, menjadi dorongan bagi masyarakat untuk menuangkan keinginannya kedalam bentuk fasilitas kegiatan yang menyediakan bahan pustaka untuk dibaca dan dipelajari seperti Taman Baca Masyarakat. Secara singkat, TBM dapat dipahami dengan arti sebuah lembaga yang dibentuk, didirikan, dan diselenggarakan oleh amsyarakat demi kemudahan dalam memperoleh dan mengakses bahan bacaan serta sumber informasi tertentu bagi masyarakat (Lestari, G. D., & Susilo 2011). TBM ada dan berdiri dengan didasari oleh niat serta tujuan yang mulia daripada pendirinya. Tujuan dan juga niat yang dimiliki oleh para pendiri ini s endiri, kemudian menjadi rujukan akan sejauh mana masyarakat menggarap ide dan mengupayakannya agar asyarakat dapat menikmati fasilitas untuk memenuhi kebutuhan akan informasi. Kehadiran dan keberadaan dari TBM menjadi salah satu jawaban bagi upaya dan usaha meningkatkan kualitas pendidikan, mendorong akses informasi serta meningkatkan kemampuan membaca dan menulis dari masyarakat untuk mencapai masyarakat yang terliterasi. Secara umum dan lebih jauh lagi, mengacu kepada Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini Nonformal dan Informal pada tahun 2013, TBM juga diperuntukkan sebagai penyedia layanan dalam bidang bahan pustaka bacaan sepertibuku, majalah, koran, komik, dan bahan multimedia lainnya, serta dilengkapi denganruangan untuk membaca, diskusi, dan kegiatan lain yang ada di dalamnya. TBM mempunyai peran yang cukup signifikan di dalam upaya dari masyarakat yang ingin mendapatkan pemerataan dalam bidang pendidikan dan bertujuan satu yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Hal ini merupakan sesuatu yang akan mendukung peningkatan dari kwalitas masyarakat Indonesia, terkhusus masyarakat yang ada di lingkungan sekitar dari TBM. Telah dikatakan bahwa tempat ini merupakan salah satu tempat dimana tersedianya pelayanan bahan pustaka yang tentu memiliki kepentingan pelayanan yang tentu berkaitan langsung dengan kebutuhan masyarakat di lingkungannya. . Taman Baca Masyarakat ini menajadi tanggung jawab, wewenang, dan hak yang dimiliki bersama oleh masyarakat setempat terutama dalam pembangunan, pengelolaan, dan pengembangannya. Dalam hal ini, perlu adanya pengembangan rasa dari masyarakat untuk ikut memiliki (sense of belonging), ikut bertanggung jawab (sense of responsibility), dan ikut memelihara (to take care of) (Sutarno NS 2006). Lebih jauh lagi, TBM memiliki beberapa peran yang di jelaskan oleh Sutarno (2006 : 68) yaitu : (1) Sebagai lembaga untuk mengembangkan minat baca, kegemaran membaca, kebiasaan membaca, dan budaya membaca melalui penyediaan berbagai bahan bacaan yang sesuai dengan keinginan dan kebutuhan dari masyarakat. (2) Memiliki fungsi untuk memfasilitasi, mediasi, dan memotivasi bagu mereka yang berkeinginan untuk mencari, memanfaatakan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambah pengalaman. (3) Merupakan bentuk dari lembaga pendidikan nonformal bagi pengunjung dan masyarakat di sekitar taman baca. Masyarakat serta pengunjung kemudian dapat belajar secaramandiri (otodidak), melakukan penelitian, menggali, memanfaatkan, danmengembangkan sumber informasi serta ilmu pengetahuan.Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi memiliki peran yang begitu penting akan dunia keilmuan. Hal ini tentu selaras dengan peran yang juga dimiliki oleh Taman Baca Masyarakat (TBM) dalam upayanya menumbuhkan minat baca dan tulis pada masyarakat yang kemudian menjadi jembatan daripada dunia keilmuan. Berdasarkan pendapat dari Sinaga (2005), letak perbedaan dari perpustakaan dan Taman Baca Masyarakat dilihat dari sifatnya hanyalah lembaga yang bersifat formal dan lembaga yang bersifat tidak formal. Kemudian, dengan sifat formalnya ini menjadikan perpustakaan memiliki cakupan yanglebih luas dibanding dengan TBM yang cakupannya tidak terlalu luas atau hanya pada masyarakat sekitar. Ketika ditinjau dari sudut pandang yang lainnya, kedua lembaga tetap memiliki peran yang besar dalam dunia ilmu pengetahuan dan peran inilah yang kemudian menuntut kedua contoh lembaga ini untuk dapat memberikan layanan yang prima. Perpustakaan sebagai lembaga pusat penyedia informasi dan pengetahuan dapat kita tinjau kualitasnya melalui aspek pelayanan yang diberikan. Pelayanan di perpustakaan ini dapat diketahui menjadi sebuah tolok ukur dari kualitas perpustakaan karena bentuk kegiatan ini adalah yang menjadikan adanya interaksi secara langsung antara pustakawan dengan para pemustaka dan ini berarti kegiatan yang cukup krusial. Ketika kemudian ditarik secara lurus, berarti pemustaka juga dapat secara langsung menilai atas pelayanan yang diberikan oleh pihak perpustakaan. Hal ini tentu dapat secara langsung disetujui ketika Taman Baca Masyarakat dalam sisi kualitasnya juga dikatakan demikian. Secara acuan, Taman Baca yang ideal dikatakan sebagai taman baca yang mengacu kepada standar yang dimiliki oleh perpustakaan, mulai dari standar koleksi, standar sarana dan prasarana, standar tenaga penyelenggaraan dan pengelolaan, termasuk kedalam standar dari pelayanannya. Problematik yang biasa di ketemukan dan terjadi pada taman baca adalah standar dari perpustakaan diatas yang belum dapat dipenuhi karena keterbatasan yang dimiliki oeh TBM. Keterbatasan ini biasanya berasal dari kemampuan pengelola yang bukan seorang ahli serta kondisi sosial ekonomi dan politik masyarakat di sekitarnya yang dirasa kurang dalam memberikan dukungan. Sementara itu, bahwa keberadaan Taman Baca Masyarakat ada di posisi yang sangat dekat dengan masyarakat. Jika ditarik kedalam Perpustakaan sebagai lembaga penyedia informasi memiliki peran yang begitu penting akan dunia keilmuan. Hal ini tentu selaras dengan peran yang juga dimiliki oleh Taman Baca Masyarakat (TBM) dalam upayanya menumbuhkan minat baca dan tulis pada masyarakat yang kemudian menjadi jembatan daripada dunia keilmuan. Berdasarkan pendapat dari Sinaga (2005), letak perbedaan dari perpustakaan dan Taman Baca Masyarakat dilihat dari sifatnya hanyalah lembaga yang bersifat formal dan lembaga yang bersifat tidak formal. Kemudian, dengan sifat formalnya ini menjadikan perpustakaan memiliki cakupan yanglebih luas dibanding dengan TBM yang cakupannya tidak terlalu luas atau hanya pada masyarakat sekitar. Ketika ditinjau dari sudut pandang yang lainnya, kedua lembaga tetap memiliki peran yang besar dalam dunia ilmu pengetahuan dan peran inilah yang kemudian menuntut kedua contoh lembaga ini untuk dapat memberikan layanan yang prima. Perpustakaan sebagai lembaga pusat penyedia informasi dan pengetahuan dapat kita tinjau kualitasnya melalui aspek pelayanan yang diberikan. Pelayanan di perpustakaan ini dapat diketahui menjadi sebuah tolok ukur dari kualitas perpustakaan karena bentuk kegiatan ini adalah yang menjadikan adanya interaksi secara langsung antara pustakawan dengan para pemustaka dan ini berarti kegiatan yang cukup krusial. Ketika kemudian ditarik secara lurus, berarti pemustaka juga dapat secara langsung menilai atas pelayanan yang diberikan oleh pihak perpustakaan. Hal ini tentu dapat secara langsung disetujui ketika Taman Baca Masyarakat dalam sisi kualitasnya juga dikatakan demikian. Secara acuan, Taman Baca yang ideal dikatakan sebagai taman baca yang mengacu kepada standar yang dimiliki oleh perpustakaan, mulai dari standar koleksi, standar sarana dan prasarana, standar tenaga penyelenggaraan dan pengelolaan, termasuk kedalam standar dari pelayanannya. Problematik yang biasa di ketemukan dan terjadi pada taman baca adalah standar dari perpustakaan diatas yang belum dapat dipenuhi karena keterbatasan yang dimiliki oeh TBM. Keterbatasan ini biasanya berasal dari kemampuan pengelola yang bukan seorang ahli serta kondisi sosial ekonomi dan politik masyarakat di sekitarnya yang dirasa kurang dalam memberikan dukungan. Sementara itu, bahwa keberadaan Taman Baca Masyarakat ada di posisi yang sangat dekat dengan masyarakat. Jika ditarik kedalamdasar urutan kepentingan, TBM memiliki fungsi utama akan pelayanan kepada pemustaka di akar rumput, kepada para karang taruna, anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah di daerah-daerahnya (Suwanto 2017). Secara harfiah, pelayanan pada perpustakaan dan lembaga informasi lainnya adalah sebuah perwujudan dari tempat penyediaan daripada segala bentuk infromasi termasuk di dalamnya seperti bahan pustaka, secara tepat guna dan sesuai dengan kebutuhan dari pemustaka. Hal ini berlaku pula bagi TBM sebagai lembaga informasi yang paling dekat dengan masyarakat di sekitarnya. Di era ini, layanan pada perpustakaan dan lembaga informasi dapat diketemukan dalam bentuk yang cukup beragam jika dibandingkan dengan beberapa dekade yang telah lalu. Bukan menjadi suatu masalah akan perkembangan yang sudah terjadi, tetapi suatu hal yang penting dan harus menjadi sebuah perhatian adalah pelayanannya yang wajib bersifat user oriented. User Oriented ini merupakan sifat yang harus terkandung di dalam layanan perpustakaan atau lembaga informasi lainnya terkhusus disini adalah TBM, yang maksud dan tujuan utamanya adalah untuk memenuhi kebutuhan dan kepuasan dari pemustaka. Kemudian, untuk dapat mencapai kepuasan yang diinginkan oleh pemustaka, lembagalembaga ini harus mampu memenuhi harapan daripada pemustakanya. Harapan ini timbul dari sebuah pemikiran akan perkiraan seorang pemustaka terhadap apa yang nantinya akan di dapat dari sebuah kegiatan pelayanan. Lalu kinerja yang diberikan oleh lembaga informasi akan diasumsikan sebagai sebuah hal yang pemustaka terima setelah merasakan kegiatan layanan tadi. Dengan demikian, lembaga informasi dan perpustakan harus bisa memberikan sebuah pengalaman yang dirasa menyenangkan dan memberikan kepuasan bagi para pemustakanya yang pada akhirnya akan membawa opini dan dampak yang baik bagi perpustakaan dan lembaga informasi itu sendiri. Berkaitan dengan hal ini, kelengkapan akan informasi dan koleksi bahan pustaka yang dimiliki merupakan sebuah hal yang sangat penting dan harus diperhatikan. Aspek kelengkapan daripada koleksi yang dimiliki ini masuk kepada salah satu contoh layanan yang ada, yakni pengembangan koleksi. Selain sebagai sebuah bukti gambaran bahwa lembaga informasi tersebut terus berusaha mengikuti dan mengembangkan infromasi yang dimilikinya, ini juga membawa fakta bahwa lembaga-lembaga informasi dan internet yang telah ada memang bersaing satu dengan lainnya dan menjadikan pengembangan koleksi akan selalu ada dan terus berkembang. Pengembangan koleksi dapat kita artikan sebagai sebuah aktivitas yang telah tersusun secara sistematis guna memenuhi kebutuhan dari para penggunanya. Kegiatan yang tersusun secara sistematis ini didalamnya meliputi yakni : (1) kegiatan analisis dari kebutuhan pengguna, (2) penyusunan kebijakan pengembangan koleksi, (3) pencarian dan pemilahan bahan pustaka, (4) dan realisasi dari bahan pustaka yang telah melalui seleksi seperti yang tertera sebelumnya. Kegiatan yang tersistematis tadi dilakukan guna mengetahui kelemahan yang dapat diketemukan untuk kemudian dapat diperbaiki agar peningkatan kualitas layanan dari perpustakaan dapat terjadi. Pengertian ini dapat dikuatkan dengan pendapat dari ahli, Soeatminah (1922 : 66) dalam buku berjudul DasarDasar Pengembangan Koleksi karya Yunus Winoto, Dian Sinaga, dan Rohanda, dikatakan bahwa pengembangan koleksi diartikan sebagai salah satu kegiatan kerja di perpustakaan yang bertugas menyediakan sumber informasi dan memberikan pelayanan informasi kepada pemakai sesuai dengan kebutuhan dan minat dari pemakainya. Fenomena pandemi Covid-19 ini memberikan dampak yang berpengaruh kepada hampir semua sektor yang ada di masyarakat, termasuk pelayanan informasi dari perpustakaan dan lembaga informasi yang berada di dalam masyarakat. Dengan demikianlah, kemudian peneliti memilih Taman Baca Masyarakat sebagai lembaga informasi yang posisinya sangat dekat dengan masyarakat untuk diangkat dan dirumuskan permasalahannya kedalam sebuah laporan penelitian berbentuk tulisan ilmiah. Penelitian ini medapatkan hasil dimana informasi yang merupakan sebuah hal penting bagi masyarakat apakah tetap dapat disalurkan oleh TBM atau tidak ? dan apakah terjadi hambatan akses informasi dan kegiatan-kegiatan dari TBM yang disebabkan pandemi Covid-19 ini ? dan apakah memiliki solusinya ? serta atas dasar solusi ini, adakah inovasi yang dilakukan oleh Taman Baca Masyarakat ini.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian yang menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif. Penelitian studi kasus menurut (Creswell 2015) adalah sebuah pendekatan kualitatif yang membawa penelitinya menjelajahi lebih dalam mengenai kehidupan nyata, sistem terbatas kontemporer atau kasus atau beragam sistem terbatas atau berbagai kasus, dengan teknink pengumpulan data secara detail dan mendalam dengan melibatkan sumber informasi yang majemuk serta melaporkan deskripisi kasus dan tema kasus penelitian. Lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti yaitu di Taman Baca Masyarakat (TBM) Omah Buku Jl. Raya Magelang-Jogja Km.7,5 RT 5, Dusun Randugunting, Desa Blondo, Kabupaten Magelang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan wawancara. Peneliti menghubungi media sosial dari pengelola, kemudian membuat janji untuk melakukan kegiatan wawancara pada hari Kamis, 19 November 2020. Wawancara dilakukan dengan dua orang partisipan yakni antara peneliti dengan pemilik sekaligus ketua pengelola dari TBM Omah Buku. Data yang telah diperoleh dari kegiatan observasi dan wawancara kemudian diolah dan dianalisis dengan teknik analisis data (Creswell 2016) guna membantu memudahkan proses interpretasi mengenai bagaimana inovasi kegiatan selama pandemi Covid-19 di TBM Omah Buku dimaknai dan dikaitkan dengan teori yang ada. Selain itu, penelitian ini juga dimuat dengan metode kajian literatur yang mana dapat menunjang adanya sumber informasi majemuk. Kajian literatur dalam metode penelitian kualitatif berbeda dalam penekanannya dengan penelitian kuantitatif. Pengaruh dari teori dalam penelitian kualitatif hanya terbatas kepada permasalahan penelitian, tidak berfungsi sebagai identifikasi dari arah penelitian, tujuan dan pertanyaan penelitian yang diajukan. Data yang didapat pada penelitian ini adalah data kualitatif yang mana menjadikan analisis dari data ini dilakukan secara deskriptif analitik.

Result & Discussion

Serupa dengan apa yang telah tertera pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa Tama Baca Masyarakat (TBM) ini merupakan salah satu bentuk dari gerakan literasi yang ada dan di prakarsai oleh masyarakat untuk dapat bergerak dalam upaya meningkatkan literasi dan pengetahuan dari masyarakat sekitar sehingga tercipta masyarakat yang melek akan informasi. Berbagai ragam upaya oleh TBM telah dilakukan seperti penyediaan layanan yang langsung bersinggungan dengan masyarakat, pengadaan kegiatan-kegiatan literasi, hingga ke penyediaan koleksi bahan pustaka. TBM Omah Buku berangkat dari kepedulian salah seorang warga, yang kemudian meminjam pos jaga dari RT 5 Dusun Randugunting untuk digunakan sebagai pos baca pada tahun 2016. Setelah berjalan, hal ini kemudian mendapat perhatian dari desa, dan kemudian dibangunlah sebuah bangunan khusus untuk Taman Baca Masyrakat yangditujukan sebagai pusat kegiatan dan rekreasi bagi masyarakat di sekitarnya, yang diresmikan pada tahun 2018. Kini, TBM Omah Buku yang berada di Desa Blondo, Kabupaten Magelang ini membuka pelayanannya setiap hari, tepatnya pada pukul 16.0018.30 pada hari kerja dan pukul 13.00-18.00 pada akhir pekan. TBM Omah Buku memaknai pelayanan sebagai sebuah jembatan yang ditujukan untuk kepentingan pendidikan masyarakat yang heterogen. Peneliti bertemu langsung dengan ketua sekaligus pendiri dari TBM Omah Buku, dan menurut penjelasan yang didapat, kegiatan-kegiatan berupa pelayanan yang ada di TBM Omah Buku ini sendiri aktif dilaksanakan se cara rutin dan cukup beragam jenisnya. Layanan seperti peminjaman bahan pustaka, reading group, keterampilan dengan memanfaatkan barang bekas, kelas menulis dengan mengundang penulis buku sebagai narasumber, belajar bahasa asing, belajar bahasa isyarat dan huruf braile agar dapat memahami apa yang dimaksud oleh teman-teman yang berkebutuhan khusus, dan masih banyak lainnya. Salah satu kegiatan rutin yang menarik perhatian peneliti adalah kegiatan literasi budaya yang dinamakan Onthel Sejarah. Ini adalah kegiatan bersepeda menuju ke tempat-tempat bersejarah di daerah seperti candi ataupun situs-situs bersejarah lainnya. Selain itu, ada pula kegiatan serupa dimana kegiatan ini dinamakan dengan Jelajah Budaya, dimana di dalamnya para anggota TBM mencari tahu asal mula sebuah perkampungan di sekitar wilayahnya. Kegiatan ini adalah salah satu bentuk terobosan dari kegiatan rekreasi yang tetap mempertahankan unsur pembelajaran didalamnya, terutama untuk tidak melupakan sejarah, terkhusus yang ada di daerah sekitar TBM Omah Buku berada. Berbicara mengenai sejarah, perlu diingat bahwa bangsa kita memiliki banyak kekayaan, termasuk permainan tradisionalnya yang beragam di tiap-tiap daerah. Meskipun Taman Baca Masyarakat ini diperuntukkan bagi semua kelompok dan kalangan masyarakat, tentu tidak asing untuk diketahui bahwa kebanyakan pengguna TBM berasal dari kelompok umur anak-anak. Demikian pula dengan TBM Omah Buku, selain disediakan koleksi bahan pustaka, anak-anak disini juga diberikan fasilitas berupa koleksi alat-alat permainan tradisional yang selain dapat melatih perkembangan motorik pada anak, juga menjaga kelestarian dari permainan tradisional sendiri, meredam pengaruh penggunaan gadget yang berlebihan pada anak, serta memenuhi kebutuhan yang seharusnya sesuai dengan usianya. Kegiatan yang mengusung permainan tradisional ini dinamakan dengan kegiatan Latar Dolanan. Inilah yang kemudian dinyatakan oleh pengelola dari TBM Omah Buku, bahwa memang benar anak-anak disini menjadi lebih banyak menghabiskan waktunya dengan permainan, tetapi sebuah hal penting ditekankan disini yakni bagaimana lembaga sekaligus gerakan literasi dalam masyarakat dapat menyediakan atau melakukan pengadaan koleksi yang sesuai dengan keinginan masyarakat. Adanya poin penting ini artinya keselarasan dari arti Taman Baca Masyarakat yang merupakan salah satu bentuk instrumen penting penunjang pendidikan nonformal telah terwujud dengan penyediaan koleksi yang memenuhi kebutuhan dan keinginan dari masyarakat.Penyediaan koleksi bahan pustaka juga terjadi demikian, disesuaikan dengan apa yang diinginkan oleh penggunanya. Menurut ketua TBM Omah Buku, hal ini diawali dengan seorang anak disana yang meminta agar koleksi bahan pustaka dengan jenis tertentu yang serupa supaya ditambah dan dibelikan yang baru. Meskipun terkadang koleksi tersebut dirasa kurang penting, tetapi beliau sebagai pengelola mungkin tidak tahu betapa pentingnya koleksi jenis tersebut bagi anak-anak yang menggunakannya. Hal-hal seperti ini yang kemudian menjadi sebuah perhatian beliau sebagai pengelola, yang dalam penyediaan koleksi pada TBM Omah Buku kini selalu menganalisis dan menanyakan kepada anggotanya mengenai koleksi bahan pustaka seperti apa yang diinginkan. Dalam penyediaannya, TBM Omah Buku yang kini telah mendapat perhatian dari desa setempat diberikan anggaran dari desa untuk pengelolaan dan pengembangan bahan koleksinya. Dalam penggunaan anggaran belanja pun, berkat pengalaman beliau yang telah lama berkecimpung di dalam gerakan literasi ini membuat beliau mengetahui tempat dimana bahan pustaka dijual sebelum diletakkan di pasaran, sehingga mendapat harga dibawah pasaran membuatnya dapat menggunakan anggaran belanja secara efektif. Selain bersumber dari dana yang di berikan oleh desa, TBM Omah Buku juga mengadakan kegiatan bersama dengan komunitas-komunitas literasi atau komunitas pecinta buku yang bahkan tak jarang komunitas ini berasal dari daerah yang berbeda. Melalui kegiatan ini, mereka mendapatkan donasi buku ataupun diberi karya-karya tulis dari komunitas tersebut. TBM ini juga menerima donasi atau hibah berupa koleksi bahan pustaka dari berbagai kalangan masyarakat. Selain itu, pengembangan koleksi pada TBM Omah Buku juga mengalami perkembangan secara nyata dengan anggotanya yang menghasilkan karya-karya tulis melalui kegiatan menulis yang ada dan dibukukan untuk dapat disimpan. Kini, koleksi bahan pustaka yang dimiliki oleh TBM Omah Buku menurut pengelola telah mencapai kurang lebih 4000 koleksi bahan pustaka. Terkait dengan fenomena Covid-19 yang melanda dunia ini, pengolahan dan pemanfaatan koleksi ini mengalami kendala. Masalah wabah yang terjadi ini memang memperngaruhi hampir ke segala sisi kehidupan, termasuk kepada akses sumber informasi bagi masyarakat. Dampak yang begitu terasa adalah kepada intensitas kegiatan yanga ada di TBM ini. Meskipun tetap buka di masa pandemi ini, TBM Omah Buku melakukan pembatasan jumlah pengunjungnya dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Menurut pendapat pengelola, datangnya pandemi Covid-19 ini membuat perbedaan yang cukup signifikan dibandingkan dengan kondisi sebelum adanya wabah ini, terkhusus pada sektor pelayanan. Jika menggunakan metode daring seperti yang umum digunakan saat ini, pengelola merasa ini adalah metode yang tidak mungkin bisa dilakukan dikarenakan keterbatasan dari akses teknologi pada masyarakat sekitar. Fenomena yang tengah terjadi ini kemudian memang menuntut kepada segala lapisan masyarakat untuk bisa melakukan sebuah inovasi dan perubahan. Inovasi ini dimaknai sebagai sesuatu yang sangat penting bagi TBM Omah Buku. Selain itu, menurut pengelola munculnya inovasi dapat diambil darimana saja seperti mencoba hal-hal baru yang umum di masa pandemi ini yakni mengikuti webinar. Dengan mengikuti webinar, pengelola mendapat banyak inspirasi dari teman-teman penggiat gerakan literasi dariberbagai daerah dalam skala nasional. Selain itu, pandemi ini ternyata juga dapat membuat jaringan dari para penggiat TBM dari berbagai daerah menjadi semakin besar, meskipun melalui dunia virtual. Selain itu menurut pengelola, diskusi dengan teman relawan yang berasal dari mana saja ataupun orang yang berkunjung untuk melakukan penelitian dan kegiatan lainnya pasti akan menambah sebuah pengetahuan dalam hal apapun yang mungkin dapat menjadi asal dari sebuah inovasi ditemukan. Adapun inovasi-inovasi yang dilakukan oleh Taman Baca Masyarakat (TBM) Omah Buku yaitu dengan melakukan inovasi dimana untuk pemanfaatan koleksi bahan pustakanya diletakkan di beberapa titik di daerah sekitarnya yang dekat dengan rumahrumah relawan dalam kurun waktu tertentu agar tetap dapat digunakan oleh masyarakat di tengah wabah ini. Pelayanan yang bersifat user oriented telah dibuktikan dengan inovasi tersebut dimana TBM Omah Buku tetap mengupayakan bagaimana koleksi bahan pustakanya bisa tetap digunakan secara tepat guna. Disamping agar tetap bisa melakukan pemanfaatan koleksi dengan baik, inovasi inijuga sekaligus dapatmenjadi caradari TBM untuk melakukan sosialisasi agar TBM menjadi lebih dekat dan menyadarkan masyarakat akan pentingnya taman baca ini sebagai gerakan literasi. Inovasi dari pemanfaatan bahan pustaka ini dimana bahan-bahan ini diantarkan kepada sejumlah titik yang telah ditetapkan di masyarakat menjadi bukti bahwa gerakan literasi ini peduli dan menyediakan sumber informasi yang dapat diakses oleh masyarakat di sekitarnya. Kemudian, menurut pengelola Taman Baca Masyarakat Omah Buku, pandemi ini memunculkan inovasi-inovasi pelayanan yang kemudian diharapkan akan menjadi sebuah hal yang berkelanjutan, bahkan ketika nanti fenomena ini telah berlalu. Hal-hal seperti penerapan protokol kesehatan yang akan terus dipertahankan dan sudah sepatutnya menjadi kebiasaan bagi siapapun dan dimanapun berada, termasuk bagi masyarakat di sekitar TBM Omah Buku di Desa Blondo ini. Pengelola memberi pesan agar pola hidup sehat ini supaya senantiasa dapat dipertahankan, setidaknya untuk menjaga hak orang lain agar tetap sehat dan jangan sampai menjadi penyebab.

Conclusion

Secara harfiah, pelayanan pada perpustakaan dan lembaga informasi lainnya adalah sebuah perwujudan dari tempat penyediaan daripada segala bentuk infromasi termasuk di dalamnya seperti bahan pustaka, secara tepat guna dan sesuai dengan kebutuhan dari pemustaka. Hal ini berlaku pula bagi TBM sebagai lembaga informasi yang paling dekat dengan masyarakat di sekitarnya. TBM memiliki fungsi utama akan pelayanan kepada pemustaka di akar rumput, kepada para karang taruna, anak-anak yang tidak bisa melanjutkan sekolah di daerah-daerahnya (Suwanto 2017).Kelengkapan akan informasi dan koleksi bahan pustaka yang dimiliki merupakan sebuah hal yang sangat penting dan harus diperhatikan, demi terciptanya peradaban masyarakat yang melek akan informasi. Aspek kelengkapan daripada koleksi yang dimiliki ini masuk kepada salah satu contoh layanan yang ada, yakni pengembangan koleksi. Pengembangan koleksi ini adalah sebuah kegiatan kerja di perpustakaan atau pun lembaga penyedia informasi seperti Taman Baca Masyarakat atau lainnya yang bertugas menyediakan sumber informasi dan memberikan pelayanan informasi kepada pemakai sesuai dengan kebutuhan dan minat dari pemakainya (Soeatminah 1922 : 66) dalam buku berjudul Dasar-Dasar Pengembangan Koleksi (Winoto, Sinaga, and Rohanda 2018). Pengembangan koleksi ini dapat disebut sebagai kegiatan yang selaras untuk dilakukan sehubungan dengan informasi yang terus mengalami perkembangan. Terlebih, dengan adanya fenomena pandemi seperti saat ini, informasi menjadi sebuah hal yang krusial dalam segala aspeknya termasuk kedalam kebenarannya. Berdasarkan kepada hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa fenomena pandemi Covid-19 ini memang menimbulkan hambatan bagi segala aspek di semua lapisan masyarakat, termasuk kepada pelayanan perpustakan dan lembaga informasi lainnya di dalam lingkungan sekitar masyarakat seperti Taman Baca Masyarakat. TBM Omah Buku merasakan dampak yang datang bersamaan dengan wabah ini, dimana beberapa kegiatan yang rutin dilakukan secara bersama-sama harus ditunda sebagai langkah pengambilan tindakannya. Meskipun tetap membuka pelayanan di masa pandemi Covid-19 ini pada jam operasional yang sama seperti biasanya, TBM Omah Buku mengambil langkah untuk membatasi kegiatan yang ada pun dengan jumlah anggota di dalam kegiatan tersebut. Penerapan protokol kesehatan pada pengunjung yang telah dibatasi ini pun dilaksanakan oleh TBM Omah Buku dengan menyediakan tempat cuci tangan, sabun, hand sanitizer dan harus tertib menggunakan masker. Inovasi dalam memanfaatkan koleksi bahan pustaka yang dimiliki dengan menempatkan koleksi ini ke beberapa titik bersamaan dengan relawan di masyarakat agar tetap dapat dimanfaatkan secara baik dan tepat guna menjadi bukti bahwa TBM Omah Buku menerapkan sifat pelayanan yang user oriented.Saran yang ditemukan oleh peneliti yakni TBM atau lembaga informasi yang ada di masyarakat lebih aktif melalui dunia maya. TBM Omah Buku dengan namanya yang telah dikenal baik, dapat memberikan informasi dan mengedukasi anak-anak terkait dengan pandemi yang terjadi melalui media sosial yang dimiliki. Hal ini juga termasuk dalam hal pengembangan koleksinya, kegiatan-kegiatan yang terhambat seperti donasi buku dapat dialihkan ke melalui media sosial dengan memberikan alamat pengiriman bagi siapapun yang hendak memberikan donasi koleksi bahan pustakanya. Disamping itu, lakukan juga inovasi-inovasi yang tetap membuat pemanfaatan bahan pustaka ini bisa berjalan dan diunggah ke media sosial yang ada agar para donatur semakin yakin untuk mendonasikan koleksi bahan pustaka. Inovasi-inovasi yang telah ada hendaknya dapat dipertahankan seperti protokol kesehatan yang baik bagi kebersihan diri sendiri ataupun menjaga orang lain.