Kembali
16
1
2020 Info Bibliotheca Vol 2 · 2 ISSN 2714-805X

EFEKTIVITAS PELAKSANAAN PROGRAM GERAKAN LITERASI SEKOLAH MELALUI READING CHALLENGE DI SMA PLUS AL-GHIFARI BANDUNG

Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran efektivitas pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah melalui Reading Challenge dengan menggunakakan teori efektivitas secara umum menurut Campbell J.P (1989) yang terdiri dari keberhasilan program, keberhasilan sasaran yang dituju, kepuasan dalam program, tingkat input dan output, serta pencapaian tujuan menyeluruh. Pada penelitian ini, pendekatan yang digunakan oleh peneliti adalah pendekatan kualitatif Teknik pengumpulan data dikumpulkan melalui wawancara dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ni menunjukan pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA Plus Al-Ghifari sudah cukup mencapai keberhasilan program dengan keikutsertaan peserta didik dalam program ini meskipun secara umum tidak semua peserta didik yang mengikuti kegiatan ini karena tidak diwajibkan, hambatan yang dihadapi di dalam pelaksanaan program Reading Challenge di SMA Plus Al-Ghifari para peserta didik kerepotan dalam mendeskripsikannya dalam diagram fishbone karena banyaknya tugas mata pelajaran sekolah.

Abstract

This study aims to describe the effectiveness of the implementation of the School Literacy Movement program through the Reading Challenge by using general effectiveness theory according to Campbell JP (1989) which consists of program success, target success, program satisfaction, input and output levels, and goal achievement. thorough. In this study, the approach used by researchers is a qualitative approach. Data collection techniques are collected through interviews and literature studies. The results of this study show that the implementation of the School Literacy Movement (GLS) program at Al-Ghifari Plus High School is sufficient to achieve program success with the participation of students. In this program, although in general not all students take part in this activity because it is not required, the obstacles faced in implementing the Reading Challenge program at Al-Ghifari High School are students having difficulties in describing it in a fishbone diagram because of the large number of school subject assignments.
Keywords: GLS · Reading Challenge · Efektivitas Minat Baca

Introduction

Membaca merupakan salah satu dari empat keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak atau mendengarkan, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan keterampilan menulis (Tarigan, 2008). Seperti yang dikutip dari kompasiana.com kemampuan membaca dan menulis sangat penting dimiliki karena kedua kemampuan tersebut dapat membuka dan memberikan wawasan berpikir, merangsang imanjinasi serta menciptakan kreativitas. Selain untuk menambah wawasan tetapi juga terkait dengan selera karena buku yang terbit pastinya beragam mulai dari desain sampul yang menarik judul buku yang membuat penasaran terhadap isinya sehingga mendorong seseorang tertarik untuk membaca ataupun membelinya. Membaca merupakan suatu proses mulai dari memahami isi teks dan pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca serta mempunyai peranan yang utama dalam membentuk makna. Melalui kegiatan membaca peserta didik mampu memperoleh banyak wawasan.(Imran, 2017). Gerakan Literasi Sekolah ini memperkuat penumbuhan budi pekerti sebagaimana yang telah dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu program gerakan literasi sekolah tersebut yaitu dengan kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai. Dengan terlaksananya program ini diharapkan dapat menumbuhkan minat baca peserta didik dan meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca ini tentunya berisi tentang nilai-nilai budi pekerti, berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang akan disampaikan sesuai dengan jenjang pendidikan peserta didik. (Faradina, 2017). Berdasarkan buku pedoman pembudayaan kegemaran membaca dalam gerakan literasi sekolah di SMA dan sederajat pada tahap pertama yaitu pembiasaan bertujuan untuk meningkatkan kemampuan isi bacaan. Pada tahap pembiasaan ini kegiatan yang dilakukan pendidik menetapkan waktu 15 menit untuk membaca sebelum pelajaran dimulai. Pihak sekolah bisa menjadwalkan waktu membaca dan disesuaikan dengan jadwal dan kondisi sekolah masingmasing. Bahan bacaan yang dibaca merupakan pilihan peserta didik sesuai minat dan kesenangannya. Kedua tahap pengembangan bertujuan untuk mengasah kemampuan peserta didik dalam menanggapi buku secara lisan dan tulisan. Setelah kegiatan membaca 15 menit dalam tahap pengembangan ini kegiatan tindak lanjut dapat dilakukan misalnya meringkas buku yang telah di baca, menceritakan kembali dan menanggapi isi buku. Ketiga tahap pembelajaran bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berpikir kritis serta mengolah kemampuan komunikasi secara kreatif melalui kegiatan menanggapi buku bacaan dan buku pelajaran. Dalam tahap ini semua kegiatan yang dilakukan dalam kegiatan tindak lanjut di tahap pengembangan dapat diteruskan sebagai bagian dari pembelajaran dan dinilai secara akademik, contohnya ada unjuk karya sebagai hasil dari kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berkomunikasi secara kreatif, verbal, tulisan, visual atau digital, even-event tertentu seperti misalnya pada acara perayaan yang bertemakan literasi (DISPUSIPDA, 2019). Penelitian pertama dilakukan oleh Fajrianti (2017) dengan judul“Efektivitas Taman Baca terhadap Penguatan Budaya Literasi Peserta Didik di SMA Negeri 10 Makassar”.Dalam penelitian ini diketahui bahwa dengan adanya taman baca dapat membantu peserta didik dalam menyelasaikan tugas-tugas sekolah. Hal ini dibuktikan dengan aktifnya para peserta didik pada saat proses belajar yakni diskusi, persentase dan mengadakan kegiatan bedah buku serta membuat karya ilmiah. Namun masih ada beberapa kekurangan diantaranya penataan bahan pustaka tidak teratur, kebersihan yang kurang dijaga dan secara umum belum mempengaruhi pesertaa didik yang lain. Maka dapat disimpulkan efektivitas taman baca di SMA Negeri 10 Makassar sudah dikatakan cukup efektif. Kedua, penelitian oleh Gita (2019) dengan judul “Efektivitas Program Sudut Baca dalam Memenuhi Kebutuhan Informasi Siswa SMPN diSurabaya”. Layanan program sudutbaca ini mempermudah peserta didik dalam penelusuran informasi sesuai kebutuhannya secara cepat lebih efisien dan juga lebih dekat daripada ke perpustakaan induk. Namun masih belum meratanya untuk fasilitas yang baik. Maka dapat dikatakan program ini memiliki hasil yang cukup efektif. Berdasarkan penelitian di atas, ada persaman dan perbedaan. Persamaanya yaitu untuk mengetahui gambaran efektivitas program Gerakan Literasi Sekolah dalam memenuhi kebutuhan pengguna khususnya peserta didik. Perbedaanya terletak pada program yang dilaksanakan. Sejak tahun 2018 SMA Plus Al-Ghifari melaksanakan program Literasi Sekolah melalui kegiatan Reading Challenge. Program ini dilakukan karena jarangnya peserta didik mengunjungi perpustakaan. Selain ituReading Challenge ini merupakan hasil dari study banding pada keberhasilan kegiatan budaya literasi di SMAN 20 Bandung. Pada program GLS SMA Plus Al-Ghifari setiap peserta didik di haruskan membaca buku dan membuat review sebagai bukti telah mengikuti program Reading Challenge. Tujuannya adalah untuk meningkatkan minat baca siswa . Dengan demikian, penelitian ini untuk melihat sejauh mana penerapan program gerakan literasi sekolah melalui Reading Challenge perlu dilakukan. Berdasarkan latar belakang di atas, ada dua permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini, yakni (1)Bagaimana pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah (GLS) di SMA Plus Al-Ghifari , (2) Hambatan apa yang dihadapi di dalam pelaksanaan program Reading Challenge di SMA Plus Al-Ghifari.

Method

Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti yaitu melalui pendekatan kualitatif. Pendekatan ini digunakan karena peneliti ingin mengkaji secara secara mendalam agar aspek realitas permasalahan atau suatu kasus dapat dibahas menjadi lebih jelas. Pada tahun 2015 Sugiyono mengemukakan penelitian kualitatif muncul karena terjadi perubahan paradigm dalam memandang suatu realitas/fenomena/gejala dan menekankan makna (data dibalik yang teramati). Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan cara wawancara, studi kepustakaan. Wawancara dilakukan dengan kepala perpustakaan serta satu staff pustakawan SMA Plus Al-Ghifari. Sugiyono (2020) mengemukakan analisis data dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, hasil wawancara dan bahan-bahan lainnya dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori dan memilih mana penting dan akan dipelajari.

Result & Discussion

Sasaran utama dari Gerakan Literasi Sekolah pada penelitian ini yaitu peserta didik SMA Plus AL-Ghifari. Dalam pelaksanaan program Gerakan Literasi Sekolah ini dapat dilihat dari kedisiplinan siswa dengan tiga tahap yaitu tahap pertama pembiasaan, tahap kedua pengembangan dan terakhir tahap pembelajaran. Budaya Literasi seperti yang tercantum di atas ,nampaknya sejalan dengan Permendiknas No. 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti menyatakan kegiatan wajib menggunakan waktu 15 menit sebelum pembelajaran untuk membaca buku selain buku mata pelajaran (setiap hari). Hal ini menunjukan bahwa setiap sekolah wajib menerapkan budaya literasi yang mana didalamnya setiap peserta didik wajib membaca buku 15 menit sebelum pelajaran dimulai dengan dibimbing wali kelas masingmasing. Tingkat efektivitas juga dapat dilihat dengan membandingkan rencana yang telah ditentukan dengan hasil nyata yang telah diwujudkan. Namun, jika usaha atau hasil pekerjaan dan tindakan yang dilakukan tidak tepat sehingga menyebabkan tujuan tidak tercapai atau sasaran yang diharapkan, maka hal itu dikatakan tidak efektif (Maytawati, 2019). Menurut Campbell (1989) bahwa terdapat cara menentukan keberhasilan suatu program secara umum adalah sebagai berikut: 1. Keberhasilan program 2. Keberhasilan sasaran 3. Kepuasan terhadap program 4. Tingkat output dan input5. Pencapaian tujuan menyeluruh Hasil penelitian yang telah diperoleh berkaitan dengan efektivitas program gerakan literasi sekolah terhadap minat baca peserta didik yang dilihat dari komponen keberhasilan program, keberhasilan sasaran, kepuasan terhadap program, tingkat output dan input, pencapaian tujuan menyeluruh, hasil akan dibahas sebagai berikut:1. Keberhasilan program Keberhasilan program pada Reading Challenge dimana program dapat memenuhi tujuan dari program itu sendiri. Hal ini terlihat dari jawaban informan. Program mulai dilaksanakan dengan pusat kendali dari perpustakaan pada tahun ajaran 2017/2018 sampai sekarang masih berjalan meskipun terhambat oleh pandemi dan sebagai kontrol evaluasi dilakukan setiap satu tahun sekali di akhir tahun ajaran. Adanya program ini karena hasil Studi banding tentang program literasi yang diterapkan di SMAN 20 Bandung dengan menggunakan istilah “Principle Reading Challenge”. Hasil study Banding Kegiatan mengangkat budaya literasi di SMAN 20 Bandung dimulai awal 2016. Keseriusan dalam penerapan budaya literasi dibuktikan adanya Tim pengembang Budaya baca di sekolah dengan melibatkan kepala sekolah, staff, guru dan tenaga perpustakaan. (Afifah, 2020). Program yang telah direncanakan sangat perlu untuk dimonitoring dan evaluasi untuk mengukur ketercapaian dari yang ditargetkan dan mengetahui faktor penghambatnya (Mahendrartha, 2020). 2. Keberhasilan sasaran Program Reading Challenge ini memiliki tujuan utama yaitu agar peserta didik segera bersikap menyadari bahwa membaca buku adalah salah satu gerbang ilmu pengetahuan dan wawasan serta, seluruh warga sekolah terlibat aktif dalam program peningkatan minat baca sehingga tercipta lingkungan yang kondusif mendukung peningkatan kecerdasan bangsa yang signifikan. Selain kepala sekolah daya dukung guru mata pelajaran dalam mengapresiasi hasil capaian literasi peserta didik dengan memberikan nilai lebih pada kemampuan kognitif, psikomotor, afektif para peserta didik. Maka dari itu bukan hanya peserta didik saja yang antusias dalam pelaksanaan program ini.3. Kepuasan terhadap program Kepuasan merupakan perbedaan antara tingkat dan kinerja atau hasil yang dirasakan yang berkaitan dengan perasaan yang dirasakan peserta (Maytawati,2019). Ini berarti ada manfaat yang dirasa para siswa dengan adanya program Reading Challenge di sekolah. Hal ini sesuai yang informan sampaikan Program Reading Challengeini tidak diwajibkan untuk seluruh siswa melainkan hanya yang berminat saja. Reward bagi peserta didik yang berhasil mencapai target diberikan dalam bentuk PIN dan selempang dengan tingkatan Bronce, Silver, Goldbagi yang melebihi target gold diberiPIN dan selempang Champhion dan photonya dipampang di maddingsekolah sebagai kebanggaan bersama. Diharapkan dapat mendorong setiap peserta didik “berprestasi” yang akan menjadi catatan akademik sekolah sebagai dasar pertimbangan untuk diberikan apresiasi atau penghargaan. Untuk pemberian penghargaan tidak hanya setiap peserta didik, melainkan juga diberikan kepada masing-masing kelas yang telah berhasil menjalankan program Reading Challenge. Peserta didik mendapat apresiasi hasil literasi dan pihak sekolah mendapat gambaran peserta didik prestatif dalam literasi.4. Tingkat input dan outputMerupakan pengukuran dimana inputdan output menjadi pembanding dalam berjalannya suatu program. Sedangkan jika output lebih besar maka dikatakan efektif. Berikut yang disampaikan oleh informan Untuk output dalam capaian sekolah mendapat gambaran siswa prestatif dalam literasinya. Selanjutnya pada proses input yang dilakukan oleh pihak sekolah SMA Plus Al-Ghifari dengan melakukan sosialiasasi dari pihak perpustakaan ketika MOS (Masa orientasi siswa) hal tersebut cukup efektif mengingat pada MOS siswa baru seharusnya diberikan wadah untuk melakukan proses pencarian informasi yang tepat sesuai apa yang dibutuhkan megingat peserta didik baru dapat dikategorikan minim informasi. Seperti yang dikemukakan oleh Champbell pada aspek tingkat input dan output dapat dilihat dari dari masukan (input) dengan keluaran (output). Apabila output lebih besar maka dapat dikatakan efisien dan sebaliknya jikainput lebih besar dari output maka dapat dikatakan tidak efisien.5. Pencapaian tujuan menyeluruhDalam aspek pencapaian tujuan merupakan penilaian umum dalam efektifitas organisasi. Efektifitas program dapat berjalan dengan adanya keterampilan operasional dalam melaksanakan program yang sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Efektifitas dapat diartikan sebagai tingkat pengukuran keberhasilan suatu instansi atau lembaga dalam mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan sebelumnya (Campbell, 1989).Upaya yang dapat dilakukan sekolah dalam rangka menyukseskan GLS adalah peningkatan jumlah dan ragam sumber bacaan yang up to date untuk menarik perhatian para peserta didik.Reading Challenge adalah suatu program gerakan literasi sekolah. Program ini diciptakan dengan tujuan Meningkatkan daya nalar dan kreativitas dan mengembangkan rasa ingin tahu tentang ilmu pengetahuan. Serta berfungsi untuk memperkenalkan budaya baca agar peserta didik segera bersikap menyadari bahwa membaca buku adalah salah satu gerbang ilmu pengetahuan dan wawasan. Hambatan pada pelaksanaan GLS melalui Reading Challenge ini yaitu peserta didik mengakui banyak membaca tetapi kesulitan dalam mendeskripsikannya dalam diagram fishbone karena banyaknya tugas mata pelajaran sekolah sehingga pengiriman hasil peserta didik kadang tidak terbaca.

Conclusion

Dari hasil penelitian dan pembahasan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Gerakan Literasi Sekolah yang dilaksanakan di SMA Plus Al-ghifari yaitu 1. Aspek keberhasilan program dalam meningkatkan minat baca siswa di SMA Plus Al-Ghifari menunjukan bahwa ada peningkatan dalam minat baca. 2. Aspek keberhasilan sasaran berdasarkan hasil data yang diperoleh program ini sudah mencapai sasaran dengan keikutsertaan siswa dalam program ini meskipun tidak diwajibkan. 3. Aspek kepuasan terhadap program siwa merasa puas karena dengan mengikuti program ini akan diberi penghargaan PIN, Gold Silver danBronze serta pihak sekolah bisa mengetahui peserta didik prestatif dalam literasi. 4. Aspek input dan output dilihat dari proses pelaksanaan programreading challenge dan keberhasilan dari proses tersebut yang dilakukan oleh pihak sekolah melalui sosialisasi pada saat MOS (masa orientasi siswa). 5. Aspek pencapaian keseluruhan berdasarkan data yang diperoleh dan diolah peneliti, sejauh ini sudah mencapai tujuan dari program ini meskipun masih ada beberapa kendala para peserta didik kesulitan dalam mendeskripsikannya dalam diagramfishbone karena banyaknya tugas mata pelajaran sekolah. Hasil tersebut dilihat dari data yang diperoleh penulis jadi efektivitas program GLS dalam program Reading Challenge ini menunjukan cukup efektif hal ini terlihat dari beberapa aspek di atas bahwa setiap buku yang dibaca wajib dibuatkan review berupainfografis sebagai bukti literasi.Infografis adalah representasi visual informasi, data atau ilmu pengetahuan secara grafis. Grafik ini memperlihatkan informasi rumit menjadi singkat dan jelas