Kembali
16
1
2022 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 13 · 2 ISSN 2715-274X

Konservasi Preventif Untuk Mencegah Kerusakan Koleksi pada Museum Geologi Bandung

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Museum Geologi Bandung adalah museum geologi satu-satunya yang dimiliki Indonesia. Koleksi mereka yang berupa benda-benda yang merupakan material geologi adalah aset yang harus dipelihara dan dijaga agar kebermanfaatannya dapat dirasakan untuk waktu yang lama hingga ke generasi-generasi selanjutnya. Berbagai cara bisa dilakukan oleh pihak museum agar koleksinya awet salah satunya adalah dengan melakukan konservasi. Penelitian ini penting untuk dilakukan karena penulis belum menemukan penelitian yang membahas tentang konservasi preventif koleksi Museum Geologi Bandung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan kegiatan konservasi preventif pada koleksi Museum Geologi Bandung. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Hasilnya ditemukan bahwa konservasi preventif yang dilakukan Museum Geologi Bandung dilaksanakan dalam langkah-langkah berupa pengendalian suhu dan tingkat kelembaban udara, pengaturan tingkat pencahayaan, cara pemindahan/pengangkutan koleksi, dan pengawetan koleksi. Kemudian saran yang dapat disampaikan adalah pihak museum mungkin dapat memperbarui kebijakan terkait siklus pembersihan, penambahan personel penjaga museum, rutin melakukan pengecekan berkala terhadap fasilitas yang ada dan mempertegas peraturan bagi pengunjung.
Keywords: Konservasi · Tindakan preventif · Museum Geologi Bandung · Koleksi museum

Introduction

Sebagai salah satu lembaga informasi, museum menyimpan sejumlah koleksi yang mengandung informasi penting untuk kemudian dikomunikasikan kepada khalayak luas dengan cara memamerkannya. Koleksi yang berada dalam museum biasanya terdiri dari benda-benda unik, langka, nan berharga sehingga tiap-tiap koleksi tersebut memiliki nilai tinggi. Oleh karenanya, koleksi yang ada pada museum dapat dikatakan sebagai aset penting yang mereka miliki. Museum Geologi Bandung adalah museum geologi satu-satunya yang dimiliki Indonesia. Terletak di Jalan Diponegoro No. 57, Bandung, museum ini telah didirikan oleh Belanda sejak tahun 1929 saat masa penjajahan. Museum ini berada di bawah naungan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Sesuai dengan namanya, di dalam Museum Geologi Bandung menyimpan sejumlah benda-benda yang merupakan material geologi seperti fosil, batuan, mineral, serta ragam koleksi kebumian lain. Koleksi mereka yang berupa batu-batuan, fosil, dan mineral tadi adalah aset yang harus dipelihara dan dijaga. Sesuai dengan pendapat yang disampaikan Keene (2019) dalam bukunya Managing Conservation in Museumbahwa “The importance of managing collections as museums’ primary asset, which they may use as the basis for the services they offer, is generally well recognized and there is a receptive climate for using management techniques to do this more effectively” (p. 2). Amatlah penting bagi koleksi-koleksi tersebut untuk mendapat penanganan khusus supaya tetap terjaga keutuhannya baik dalam bentuk fisiknya ataupun informasi yang terkandungnya.Dalam kegiatan operasionalnya, sebuah museum tentu memiliki banyak pekerjaan yang harus digarap. Satu contohnya adalah menjadikan seluruh koleksi yang ada dalam museum awet agar dapat bertahan untuk waktu yang lama sehingga koleksi tadi bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya. Berbagai cara bisa dilakukan oleh pihak museum agar koleksinya awet salah satunya adalah konservasi (Arfa, 2020). Aktivitas pemeli-haraan, pengawetan, perlindungan, dan pelestarian koleksi tadi dapat disebut juga sebagai konservasi. Konservasi ini menjadi salah satu pekerjaan penting yang harus ditangani oleh museum. Berdasarkan tindakan yang dilakukan dan tujuannya, Interna-tional Council of Museum (ICOM) dalam Rozaq et al. membagi praktik konservasi ke dalam tiga jenis yakni konservasi remedi (remedial conservation), konservasi preventif (preventive conservation), dan restorasi (restoration) (2019). Sebagai langkah awal, konservasi preventif merupakan aksi paling dasar yang dapat dilakukan untuk melestarikan koleksi yang ada pada museum. Dari kegiatan penelusuran literatur yang dilakukan, ditemukan sejumlah penelitian terdahulu yang selaras dengan topik penelitian ini yakni konservasi preventif. Penelitian pertama dikerjakan oleh Mardiah dan berjudul “Konservasi Preventif terhadap Koleksi di Perpustakaan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo” pada (2017). Dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi, penelitian ini memiliki dua tujuan. Tujuan pertama adalah untuk mengetahui tindakan konservasi preventif terhadap koleksi perpustakaan. Lalu tujuan keduanya adalah untuk melihat apakah pengelola Perpustakaan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo sudah menjalankan tindakan konservasi preventif terhadap koleksi yang ada di perpustakaan. Hasilnya, Mardiah menemukan jika perpustakaan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo telah berupaya melakukan tindakan konservasi preventif terhadap koleksi perpustakaan. Namun, belum lengkapnya sarana pendukung dan cara penanganan koleksi yang salah membuat upaya konservasi preventif yang ada belum dilakukan secara optimal.Penelitian selanjutnya berjudul “Konservasi Preventif Lukisan Koleksi Museum Istana Kepresi-denan Yogyakarta” dilaksanakan oleh M. Kholid Arif Rozaq, Vicky Ferdian Saputra, dan Mikke Susanto pada (2019). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana praktik konservasi preventif koleksi lukisan di Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kualitatif dan analisis komparasi data. Data didapatkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Dari penelitian ini ditemukan bahwa praktik pelestarian lukisan di Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta sudah sesuai dengan standar yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Sekretaris Negara Republik Indonesia Nomor 26 Tahun 2015. Sayangnya, dari analisis yang dilakukan terhadap koleksi masih ditemukan beberapa kerusakan yang disebabkan oleh faktor deteriorasi seperti faktor inherent vice dan faktor unsur iklim. Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta juga masih belum memiliki sarana prasarana berupa laboratorium konservasi. Melalui kajian literatur terdahulu sebagaimana telah dipaparkan di atas, penulis menemukan perbedaan dan persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis. Adapun perbedaan terlihat dalam objek yang akan diteliti. Pada penelitian pertama objeknya adalah koleksi perpustakaan Politeknik Kelautan dan Perikanan Sidoarjo, penelitian kedua mengambil objek koleksi lukisan Museum Istana Kepresidenan Yogyakarta, sedangkan objek dari penelitian ini adalah koleksi Museum Geologi Bandung. Selanjutnya persamaan yang ditemukan yakni antara kedua penelitian tadi dengan penelitian ini sama-sama mengumpulkan data dengan teknik observasi dan wawancara. Menilik dari latar belakang yang telah dijelaskan di atas, pada penelitian ini akan mengangkat permasalahan mengenai bagaimana kegiatan konservasi preventif yang diterapkan Museum Geologi Bandung terhadap koleksi-koleksinya. Sehingga tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengetahui penerapan kegiatan konservasi preventif pada koleksi Museum Geologi Bandung. Penelitian ini dirasa penting untuk dilakukan sebab sejauh penelusuran yang telah dilakukan terhadap artikel-artikel mengenai Museum Geologi Bandung, penulis belum menemukan penelitian yang membahas tentang konservasi preventif terhadap koleksi yang dimiliki museum tersebut. Sebagai pernyataan kebaruan ilmiah, penulis menegaskan bahwa artikel ini ditulis berdasarkan objek penelitian yang berbeda dengan penelitian terdahulu yang sebelumnya telah ditulis

Method

Penelitian ini disusun berdasarkan metode deskriptif. Metode deskriptif merupakan metode penelitian yang dipakai guna menginterpretasikan masalah yang terjadi apa adanya pada saat penelitian dilakukan (Margareta, 2013). Di sini penulis berupaya mengabadikan temuan yang ditemukan di Museum Geologi Bandung untuk selanjutnya dituliskan sebagaimana adanya. Adapun data penelitian dihimpun melalui observasi, wawancara, dan studi literatur. Studi literatur menurut (Fauziah & Sholeh, 2022) didefinisikan sebagai suatu bentuk penelitian yang dilaksanakan dengan melakukan penelaahan tulisan dari penelitian lain dan kemudian dikaji dengan teknik analisis isi. Metode studi literatur ini dilakukan melalui cara menelusuri berbagai literatur dan bahan pustaka berupa buku, dan artikel jurnal melalui internet untuk mendapatkan sejumlah data yang relevan dengan topik penelitian.

Discussion

Melalui kegiatan observasi dan wawancara yang dilakukan dengan salah satu petugas museum, diketahui bahwa Museum Geologi Bandung telah menerapkan aktivitas konservasi preventif terhadap koleksinya. Penerapan konservasi preventif yang dilakukan oleh Museum Geologi Bandung diketahui sesuai dengan langkah-langkah konservasi preventif yang dikemukakan oleh Bu’ang et al. (2018)Pengendalian suhu dan tingkat kelem-baban udaraRuangan yang terdapat di Museum Geologi Bandung dikategorikan dalam tiga (3) bagian, di antaranya adalah Geologi Indonesia, Sejarah Kehidupan, dan Geologi untuk Kehidupan Manusia. Dalam setiap ruangan terdapat perbedaan suhu yang dipengaruhi oleh isi koleksi yang disimpan di dalam ruangan tersebut. Untuk bagian Geologi Indonesia dan Geologi untuk Kehidupan Manusia suhu dirasakan lebih dingin. Hal ini dikarenakan ruangan-ruangan tersebut menyimpan koleksi berupa batuan, mineral, bahan galian, alat-alat yang digunakan manusia sehari-hari, dan sebagainya. Koleksi-koleksi tadi dianggap akan tahan terhadap dinginnya udara yang berasal dari AC, sehingga suhu yang ada tidak akan menyebabkan kerusakan pada koleksi.Kemudian untuk bagian ruang Sejarah Kehidupan, suhu yang dirasakan cenderung lebih hangat. Ruang ini digunakan untuk menyimpan berbagai fosil dari kehidupan bumi era prasejarah dan praaksara. Adapun fosil-fosil yang dapat ditemukan di ruangan ini meliputi fosil hewan, tumbuhan, hingga fosil manusia purba. Suhu yang lebih tinggi ini disebabkan karena pada ruang tersebut tidak dipasangi AC melainkan hanya menggunakan exhaust fan. Dikatakan bahwa hal ini memang dipertimbangkan karena suhu alami daerah Bandung sudah cukup sejuk untuk ruang penyimpanan fosil ini sehingga pihak museum merasa tidak perlu menambahkan AC.Pengaturan tingkat pencahayaanDalam hal ini cahaya dapat berasal dari sumber alami (matahari) ataupun sumber buatan (lampu). Kebanyakan koleksi yang ada di Museum Geologi Bandung disimpan di dalam ruangan yang jauh dari jangkauan cahaya matahari. Namun untuk beberapa koleksi, seperti koleksi batu dan mineral pihak museum memberi sorotan lampu yang akan menambah kesan estetik saat pengunjung melihatnya. Diterangkan oleh petugas museum, batuan yang terkena sorotan cahaya dari lampu ini akan tahan dari kerusakan karena struktur alamiah batu yang keras sehingga koleksi tersebut dianggap tahan terhadap cahaya lampu yang diberikan. Jika pun ada koleksi yang disimpan dalam ruangan yang menggunakan penerangan alami saat siang seperti koleksi fosil gajah blora, koleksi tersebut diletakkan jauh dari jangkauan sinar matahari sehingga tidak terkena sorotan sinar secara langsung. Bahkan, ditemukan juga koleksi fosil kayu yang diletakkan di luar museum. Namun, peletakan ini tentunya sudah melalui pertimbangan karena fosil tersebut yang telah membatu sehingga dianggap kuat terhadap terpaan cahaya dan iklim.Cara pemindahan/pengangkutan koleksiPada saat-saat tertentu pemindahan koleksi pasti akan diperlukan. Salah satunya adalah pada saat koleksi akan dipindahkan dari tempat penemuan menuju museum. Dalam hal ini, terdapat beberapa prosedur pemindahan dari mulai pembersihan koleksi, pembuatan replika, dan rekonstruksi. Ini diperlukan karena biasanya keban-yakan koleksi jarang ditemukan dalam keadaan utuh, akan ada beberapa bagian yang hilang, patah, atau retak. Untuk rekonstruksi sendiri dilakukan guna memperkirakan bentuk asli dari koleksi tersebut. Kemudian untuk koleksi yang dianggap rentan (misalnya fosil gajah blora) perlu untuk mencetak dan melapisi tiap-tiap bagian koleksi dengan gypsum sebelum dipindah. Cara ini dilakukan untuk meminimalisir kerusakan yang kemungkinan akan terjadi pada koleksi tersebut saat dalam perjalanan. Pengawetan koleksiDalam hal pengawetan ini museum mener-apkan berbagai cara untuk menjaga agar koleksi tersebut tetap awet. Di antaranya adalah:a. Melakukan pengamanan koleksi dengan menyimpan koleksi dalam kotak kaca, membatasi koleksi dengan pagar, dan menem-pelkan stiker larangan di sekitar koleksi. Hal ini dapat meminimalisir kerusakan koleksi yang diakibatkan karena beberapa faktor terutama faktor manusia. Sering kali pengunjung merasa penasaran dan ingin menyentuh koleksi yang ada. Jika seorang pengunjung menyentuh dengan terlalu keras atau terlalu kuat sebuah koleksi bukan tidak mungkin jika koleksi museum yang kebanyakan rentan akan rusak.b. Menetapkan peraturan bagi pengunjung yang masuk ke museum. Dalam hal ini contohnya seperti pengunjung dilarang membawa masuk makanan ke dalam museum. c. Memasang CCTV di berbagai titik dalam museum. Pemasangan CCTV ini digunakan untuk memantau tiap-tiap pengunjung yang berada dalam museum. Sehingga jika ditemukan pengunjung yang memiliki gerak-gerik mencurigakan atau melakukan tindak kriminal (pencurian koleksi) dapat diusut lebih lanjut.d. Memajang koleksi yang berupa replika. Ini diterapkan untuk koleksi fosil gajah blora dan fosil manusia purba. Upaya ini dilakukan guna menjaga keutuhan koleksi yang asli.e. Melakukan perawatan terhadap koleksi. Adapun perawatan koleksi yang diketahui berupa pembersihan koleksi yang dilakukan rutin setiap enam (6) bulan sekali. Pembersihan ini akan dilakukan oleh petugas pembersihan khusus yang memahami cara menangani koleksi museum. Sejumlah upaya konservasi memang telah dijalankan oleh pihak Museum Geologi Bandung, namun tentunya masih terdapat beberapa perma-salahan yang bisa ditemukan. Adapun sejumlah masalah yang ditemukan saat kegiatan observasi adalah terdapat koleksi yang terlihat kotor, peralatan display koleksi yang rusak, penemuan sampah minuman di dalam museum, dan masih banyak pengunjung yang mencoba menyentuh koleksi.

Conclusion

Dari paparan hasil yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa konservasi preventifyang dilakukan Museum Geologi Bandung dilak-sanakan dalam langkah-langkah yang dikemukakan Bu’ang et al. di antaranya berupa pengendalian suhu dan tingkat kelembaban udara, pengaturan tingkat pencahayaan, cara pemindahan/pengang-kutan koleksi, dan pengawetan koleksi. Kemudian masih terdapat beberapa perma-salahan yang ditemukan yang berupa koleksi kotor, kerusakan fasilitas, dan pelanggaran yang dilakukan oleh pengunjung. Atas dasar itu, saran yang dapat disampaikan mungkin pihak Museum Geologi Bandung dapat memperbarui kebijakan terkait siklus pembersihan, penambahan personel penjaga museum, rutin melakukan pengecekan berkala terhadap fasilitas yang ada dan memper-tegas peraturan bagi pengunjung.