Kembali
16
1
2023 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 14 · 1 ISSN 2715-274X

Implementasi Gerakan Literasi Nasional pada Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata Tematik Literasi di Kabupaten Magelang

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Gerakan literasi sudah menjadi agenda nasional Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia dalam rangka memberantas buta huruf masyarakat Indonesia. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) UIN Sunan Kalijaga Yogya-karta menyelenggarakan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik berbasis literasi guna mendukung gerakan literasi nasional. Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan program KKN tematik di dusun Bengkung, Desa Candiretno, Kabupaten Magelang. Klasifikasi dilakukan berdasarkan jenis-jenis literasi nasional Indonesia sebagai dasar gerakan literasi nasional. Penelitian ini merupakan studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Data diperoleh dengan studi dokumentasi dan wawancara secara purposive sampling. Analisis data dengan analisis interaktif Miles dan Huberman yakni penyajian data, kondensasi data, dan penyimpulan.Adapun pemetaan dan analisis data menggunakan VOSviewers. Kegiatan yang dilakukan oleh tim KKN tematik dusun Bengkung terdiri dari program utama dan pendukung.l. Sebagian besar program KKN tematik, mengarah pada gerakan literasi nasional. KKN tematik berbasis literasi menjadi pemantik pengembangan kegiatan literasi di tingkat dusun. Semakin besar persentase kegiatan berbasis literasi, maka semakin besar pula kontribusi program KKN tematik untuk melancarkan Gerakan Literasi Nasional Kemdikbud.Gerakan literasi yang dimulai dari dusun, dapat menjadi alat efektif untuk melancarkan aksi gerakan literasi nasional. Selanjutnya, analisis mengenai jenis kegiatan literasi yang memungkinkan dilakukan oleh masyarakat pedesaan dapat dilaksanakan. Melalui analisis kegiatan KKN tematik berbasis literasi, , dapat dikenali model literasi secara kontekstual yang menjadi media pembangunan manusia untuk Generasi Emas 2050

Abstract

The literacy movement became national agenda of Indonesian Ministry of Education and Culture in order to eradicate illiteracy in Indonesian society. The Institute for Research and Community Service (LPPM) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta is holding a thematic litera-cy-based community service program (KKN) to support the national literacy movement. The main objective of this study is to classify the thematic KKN programs in Bengkung sub-village, Candiretno Village, Magelang Regency. The classification was based on National Literacy Movement types. A qualitative approach using a survey method was carried out in order to obtain statistical data on literacy-based activities which became the thematic KKN program in Bengkung, then strengthened by observation and interviews (a qualitative approach). Mapping and data analysis used VOSviewers.The activities carried out by KKN team in Bengkung Village in Magelang Regency. There were two types of activities, programmed and incidental. Most of KKN programs lead to the national literacy movement. Literacy-based KKN became a trigger for the development of literacy activities at the rural areas. The greater the percentage of literacy-based activities, the greater the contribution of KKN programs to succeed the Ministry of Education and Culture’s National Literacy Movement.The literacy movement, which starts from the village, can be an effective tool to carry out the action of the national literacy movement. Furthermore, an analysis of the types of literacy activities that can best be carried out by rural societies community can be carried out. Through this analysis, a contextual literacy model can be recognized as a medium for human development for the 2050 Golden Generation
Keywords: Information Literacy · National Literacy Movement · Community Service · Program · Magelang Regency

Introduction

Kajian literasi informasi masyarakat Indonesia sudah banyak dilakukan. Salah satu kajian yang cukup populer dan menggambarkan kondisi literasi masyarakat Indonesia adalah kajian yang dilakukan oleh Program for International Student Assessment (PISA). Indonesia dilaporkan menempati ranking ke 62 dari 70 negara berkaitan dengan tingkat literasi, atau berada 10 negara terbawah yang memiliki tingkat literasi rendah. Survei tersebut dilakukan oleh PISA yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019 (Novrizaldi 2021). Hal ini menunjukkan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih sangat jauh tertinggal dengan masyarakat negara lainnya.Kondisi seperti yang disebutkan di atas adalah sebuah paradoks. Adapun paradoks yang dimaksud adalah karena ketika kondisi literasi masyarakat yang tergolong rendah, namun minat berkomentar atau mencuitkan aspirasinya di media sosial justru cenderung tinggi. Hal itu berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bahwa penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 78,19 persen pada 2023 atau menembus 215.626.156 jiwa dari total populasi yang sebesar 275.773.901 jiwa.. Hampir dari seluruh pengguna internet tersebut menggunakan media sosial. Pada kondisi yang seperti inilah berita bohong (hoax) menjadi komoditas untuk keperluan segelintir oknum tidak bertanggung jawab.Parahnya lagi, hoax tidak akan berhenti pada hoax saja, akan tetapi menimbulkan efek domino yang berkelanjutan yaitu post-truth (pasca kebenaran) dan hate speech (ujaran kebencian). Post-truth adalah kondisi dimana kesadaran publik terhadap fakta akan semakin dikaburkan akan asumsi pribadi (Cibaroğlu 2019). Post-truthditandai dengan meningkatnya signifikansi media sosial yang dijadikan sebagai sumber berita dan semakin besarnya ketidakpercayaan terhadap fakta dan data (Fatmawati, 2019). Sekalipun hoax diklarifikasi, masyarakat yang sudah terjangkit post-truth akan susah menerima kebenaran atau fakta sejati. Hal tersebut menjadi bukti bahwa post truth sebagaimana dampak buruk dari hoax lebih merusak ketimbang hoax itu sendiri. Hate speech pun tidak akan terhindarkan di tengah-tengah masyarakat terbelah akibat post-truth.Pesatnya kemajuan teknologi yang memudahkan akses dan pertukaran informasi ternyata tidak selalu berimplikasi positif. Kemajuan teknologi ini sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif, seperti kampanye anti-hoax yang dapat dipahami masyarakat. Perlu sinergi antara pemerintah dan masyarakat dalam melakukan tugas besar ini. Publik idealnya memiliki pengetahuan dan keterampilan yang baik dalam mengidentifikasi informasi, baik informasi di media cetak maupun informasi di media sosial/internet (Prabowo & Manabat 2021).Perguruan tinggi sebagai instrumen pening-katan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa perlu terlibat dalam peningkatan kapasitas literasi informasi. Perguruan tinggi di Indonesia, pada dasarnya memiliki tugas tri dharma perguruan tinggi yang meliputi; pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Produk-produk intelektual perguruan tinggi tidak akan bermanfaat apabila hanya berhenti menjadi tumpukan kertas.Selain pendidikan dan penelitian yang melibatkan aktivitas akademik dan ilmiah, pengabdian masyarakat adalah salah satu program perguruan tinggi yang manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat. Kegiatan ini mendasarkan aktivitasnya pada produk-produk pendidikan dan penelitian. Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) adalah salah satu bentuk kegiatan melakukan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan oleh sivitas akademika perguruan tinggi. Belakangan ini, KKN tematik adalah salah satu program populer di lingkungan perguruan tinggi. Program pengabdian ini dilakukan oleh sivitas akademika perguruan tinggi untuk membantu menyelesaikan persoalan mengenai isu tertentu di masyarakat dengan pendekatan-pendekatan yang strategis. KKN Tematik Literasi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan salah satu program KKN yang digadang-gadang mampu membumikan literasi di tengah-tengah masyarakat. Sasaran dari kegiatan adalah masyarakat pedesaan. Dalam konteks Indonesia, peningkatan kapasitas literasi terkandung dalam gerakan literasi nasional (GLN). Gerakan Literasi Nasional (GLN) merupakan upaya pemerintah untuk memperkuat sinergi antar unit utama pelaku gerakan literasi dengan menghimpun semua potensi dan memperluas keterlibatan publik dalam menumbuhkembangkan dan membu-dayakan literasi di Indonesia. Agar selaras dengan program nasional, KKN Tematik Literasi juga sebaiknya menerapkan prinsip-prinsip dalam GLN.Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan bagaimana pola pengabdian masyarakat yang merupakan salah satu manifestasi dari tridharma perguruan tinggi yang berkaitan dengan aspek literasi. Tulisan ini akan mengungkap sejauh mana implementasi gerakan literasi nasional diterapkan pada masyarakat pedesaan oleh sivitas akademika perguruan tinggi. Adapun praktik baik dari KKN Tematik Literasi yang dilakukan oleh sivitas akademika di UIN Sunan Kalijaga akan menjadi fokus dari penelitian ini. Artikel ini menggali tentang bagaimana membumikan literasi ke tengah-tengah masyarakat, utamanya adalah masyarakat pedesaan, melalui analisis klasifikasi kegiatan KKN tematik berbasis literasi

Method

KKN Tematik Literasi diadakan selama 45 hari di Dusun Bengkung, desa Candiretno, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. KKN Tematik Literasi memiliki dua klasifikasi program yakni program unggulan dan program pendukung. Program unggulan merupakan program utama dan menjadi fokus dari kegiatan KKN. Sedangkan, untuk program pendukung dilaksanakan sebagai bentuk penyatuan program kegiatan KKN dengan kegiatan yang sudah dilaksanakan oleh warga masyarakat. Studi ini merupakan penelitian studi kasus dengan pendekatan kualitatif. Peneliti menggu-nakan studi dokumentasi dan wawancara guna pengambilan data penelitian. Sebelum pelak-sanaan wawancara, dilakukan survey terlebih dulu guna mengetahui gambaran kegiatan literasi yang dilaksanakan pada program KKN tematik. Wawancara dilakukan dilakukan secara terbuka dan informal (Neuman 2013). Untuk memudahkan analisis tindak lanjut dari hasil studi dokumentasi dan wawancara, penelitian ini menggunakan alat bantu VOSviewer. Analisis data dengan model Miles dan Huberman yakni pengumpulan data, penyajian data, kondensasi data, dan penarikan kesimpulan (Idrus, 2009).Lokus penelitian yakni di Dusun Bengkung, Desa Candiretno, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang. Dusun tersebut dipilih karena menjadi tempat pelaksanaan KKN Tematik Literasi dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta periode 105 pada tahun 2021. Pelaksanaan program KKN ini beker-jasama dengan Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Pelopor Literasi Dusunku Magelang. Pengumpulan data dilaksanakan pada saat pelaksanaan KKN 105 yakni pada bulan Juli-Agustus 2021. Informan pada sesi wawancara sebanyak 13 informan yang terdiri dari 10 Mahasiswa, 1 DPL KKN, 1 kepala dusun, dan 1 tokoh masyarakat setempat yang dipilih secara purposive sampling

Result & Discussion

Penelitian ini memetakan kegiatan pelak-sanaan KKN Tematik Literasi yang dilakukan di Dusun Bengkung, Desa Candiretno, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sebelum menjabarkan terkait pemetaan, akan diuraikan terlebih dahulu secara deskriptif program apa saja yang telah dilakukan untuk meningkatkan kapasitas literasi informasi masyarakat. Setelah itu, peta kegiatan berupa tabel dan grafik dianalisis secara kuantitatif agar pola kegiatannya dapat diketahui. Beberapa program kerja yang dilaksanakan oleh KKN Tematik Literasi di Dusun Bengkung antara lain:Pengembangan aktivitas Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic (STEAM ). program ini merupakan follow up dari hasil kegiatan rintisan kampung STEAM yang telah dilakukan oleh tim pengabdi dari Universitas PGRI Yogyakarta pada tahun 2020. Aktivitas STEAM yang dikembangkan adalah aktivitas pewarnaan teknik ikat. Aktivitas tersebut bertujuan untuk mengeksplorasi cara pewarnaan t-shirt dengan teknik ikat. Prinsip dasar dari aktivitas pewarnaan teknik ikat adalah dengan mengikat kain di beberapa titik, kemudian memberikan pewarna ke atas kain. Eksplorasi motif kain dapat dilakukan dengan memodifikasi bentuk ikatan dan pewarna yang diberikan. Mahasiswa KKN membantu melaksanakan aktivitas tersebut dan membantu cara pemasaran melalui media instagram. Talk show menggunakan media sosial (Instagram). Program ini, dilakukan mahasiswa KKN secara live melalui media instagram dari TBM Pelopor Literasi Dusunku. Talk show dilaksanakan secara berkala dengan tema pilihan. Pembuatan peta dusun. Program ini dilakukan untuk mendukung literasi geografis warga dan tamu yang datang ke dusun Bengkung, Desa Candi-retno, Kec. Secang, Kab. Magelang. Mahasiswa KKN membuat peta dusun berdasarkan letak geografis rumah masing-masing kepala keluarga. Melalui peta tersebut, tamu yang datang ke dusun bengkung, dapat mencari secara cepat, alamat yang dituju dan memahami jalan yang perlu ditempuh untuk menuju ke tempat tujuan.Bimbingan belajar untuk anak sekolah dan pra sekolah. Kegiatan ini berpusat di TBM Pelopor Literasi Dusunku. Selain kegiatan membaca, menulis dan menghitung, para anggota KKN juga memberikan pendampingan belajar untuk anak-anak dusun Bengkung. Pada kegiatan pendampingan belajar tersebut, mereka berkelompok sesuai dengan kelas pendidikan formalnya. Pengembangan kreativitas berbasis bahan bacaan. Mahasiswa KKN melakukan kegiatan mewarnai, belajar membaca dan membantu membaca dongeng untuk anak, dengan meman-faatkan bahan pustaka yang tersedia di TBM Pelopor Literasi Dusunku. Penggerakan ekonomi kreatif berbasis teknologi. Program ini adalah pengenalan cara pemasaran produk hasil aktivitas STEAM yang dikembangkan. Produk pengembangan aktivitas STEAM adalah pewarnaan t-shirt yang meman-faatkan pewarnaan teknik ikat. Mahasiswa KKN membantu relawan Pelopor Literasi Dusunku, agar dapat melakukan pengambilan gambar produk STEAM. Setelah diambil gambarnya, kemudian diposting melalui instagram untuk dijual secara luas. Pengelolaan sampah organik dan non-or-ganik. Program ini dilakukan guna menangani sampah yang ada di dusun Bengkung. Mahasiswa KKN memiliki inisiatif untuk membuat Losida untuk mengolah sampah organik dan Ecobrick untuk mengolah sampah non-organik terutama plastik. Apabila mengacu pada jenis-jenis literasi dari Gerakan Literasi Nasional (GLN) Kemendikbud yang membagi literasi menjadi enam jenis (literasi baca-tulis, numerasi, sains, finansial, digital, dan budaya & kewargaan), maka masing-masing program tersebut dapat memuat lebih dari satu konten literasi. Tabel 1 adalah tabel jenis literasi pada masing-masing program kerja yang telah dilaksanakan oleh KKN Tematik Literasi di Dusun Bengkung. Tabel 1. Ceklis program kerja berdasarkan muatan literasiNoProgram KerjaBaca-tulisNumerasiSainsFinansialDigitalBudaya dan Kewargaan1Pengembangan aktivitas STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, Mathematic)√√√-√√2Talk show menggunakan media sosial (Instagram)----√√3Pembuatan peta dusun√-√-√-4Bimbingan belajar untuk anak pra sekolah dan sekolah dasar√√√---5Pengembangan kreativitas berbasis bahan bacaan (modul)--√√--6Penggerakan ekonomi kreatif berbasis teknologi√--√√-7Pengelolaan sampah organik dan non-organik--√---Sumber: Hasil Analisis Data Peneliti Tahun 2021 Berdasarkan Tabel 1 dapat diketahui bahwa: Pertama, pengembangan aktivitas Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematic (STEAM ) bermuatan aktivitas yang berkorelasi dengan literasi baca-tulis, numerasi, sains, finansial, digital, dan budaya & kewargaan. Kedua, talk show menggunakan media sosial (Instagram) bermuatan aktivitas yang berkorelasi dengan literasi digital dan literasi budaya & kewargaan. Ketiga, pembuatan peta dusun bermuatan aktivitas yang berkorelasi dengan literasi baca-tulis, sains, dan digital. Gambar 1. Tren program literasi yang dilakukan oleh KKN Tematik 105 Dusun BengkungSumber: Hasil Analisis Data Peneliti dengan VOSviewer Tahun 2021 Keempat, bimbingan belajar untuk anak sekolah dan prasekolah bermuatan aktivitas yang berkorelasi dengan literasi baca-tulis, literasi, dan sains. Kelima, pengembangan kreativitas berbasis bahan bacaan (modul) bermuatan aktivitas yang berkorelasi dengan literasi sains dan literasi finansial. Keenam, penggerakan ekonomi kreatif berbasis teknologi bermuatan aktivitas yang berkorelasi dengan literasi baca-tulis, finansial, dan digital. Terakhir, penge-lolaan sampah organik dan non-organik bermuatan aktivitas yang berkorelasi dengan literasi sains.Dari Gambar 1 dapat diketahui bahwa science literacy merupakan titik terbesar yang memiliki makna bahwa semua jenis literasi pernah berkaitan dengan science literacy. Science literacy memiliki pengaruh yang paling tinggi apabila diband-ingkan dengan jenis literasi lainnya. Satu tingkat di bawahnya, meskipun tidak memiliki pengaruh atau korelasi sebesar science literacy, reading-writing literacy dan digital literacy juga berkaitan dengan semua jenis literasi. Selanjutnya numeration literacydan culture and citizenship literacy hampir berkaitan dengan seluruh jenis literasi, kecuali financial literacy. Artinya, baik antara numeration literacy, financial literacy dan culture and citizenship literacy-financial literacy belum pernah muncul pada program kegiatan yang sama sekalipun. Terakhir, financial literacy, sebagaimana yang telah disebutkan sebel-umnya tidak berkaitan dengan numeration literacydan culture and citizenship literacy.Gambar 2. Persentase program kerja berbasis enam indikator literasi GLNSumber: Hasil Analisis Data Peneliti Tahun 2021Semakin banyak ‘kadar’ literasi pada program kerja KKN tersebut, berarti semakin kompleks pula muatan literasinya. Selanjutnya, semakin kompleks muatan literasi pada program kerja, maka kontribusinya pada enam indikator literasi GLN Kemendikbud akan semakin besar juga. Berikut adalah persentase literasi dari program kerja yang dilaksanakan oleh KKN Tematik Literasi di Dusun Bengkung.Berdasarkan Gambar 2 dapat diketahui bahwa secara berturut-turut persentase program kerja berbasis enam indikator GLN yaitu: aktivitas Science, Technology, Engineering, Art, & Mathematics (STEAM ) merupakan yang tertinggi, yaitu 83,33%; kemudian tiga program kerja, yaitu penggerakan ekonomi kreatif berbasis teknologi, pembuatan peta dusun, dan bimbingan belajar untuk anak pra sekolah dan sekolah dasar yang sama-sama bermuatan 50% dari seluruh jenis literasi pada GLN. Selanjutnya dua program kerja, yaitu talk show menggunakan media sosial (Instagram) dan pengembangan kreativitas berbasis bahan bacaan (modul) bermuatan 33,33% dari seluruh jenis literasi pada GLN. Terakhir bahwa pengelolaan sampah organik dan non-organik memiliki nilai persentase 16,67%. Gambar 3. Sebaran kata kunci jenis literasi pada program KKN Tematik 105 Dusun BengkungSumber: Hasil Analisis Data Peneliti Tahun 2021Reading-writing literacy dan digital literacy berada satu tingkat di bawahnya, yakni terdapat 4 dari 7 kegiatan. Sementara itu, numeration literacy, culture and citizenship literacy, dan financial literacy bersa-ma-sama hanya terdapat pada 2 dari 7 kegiatan.Gambar 4. Persentase jenis literasi pada program kerja KKN Tematik 105 Dusun BengkungSumber: Hasil Analisis Data Peneliti Tahun 2021.Apabila melihat sebaran kata kunci pada Gambar 3, dapat diketahui bahwa science literacydapat dikatakan hampir ada pada setiap program kegiatan. berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa terdapat 5 dari 7 kegiatan bermuatan literasi. Pada aspek jenis literasi, berdasarkan Gambar 4 dapat diketahui bahwa: literasi sains merupakan jenis literasi tertinggi yang dilaksanakan oleh Kelompok KKN Tematik Literasi di Dusun Bengkung, yakni sejumlah 71,43% dari keseluruhan program kerja. Selanjutnya literasi baca-tulis dan literasi digital secara bersama-sama berjumlah 57,14%; dan literasi numerasi, finansial, dan budaya & kewargaan berturut-turut berjumlah 28,57%.Selain program kerja yang telah disebutkan dalam tabel 1, meskipun tidak terprogram, mahasiswa KKN Tematik Literasi juga berpartisipasi pada kegiatan yang dilaksanakan oleh komunitas lokal seperti kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan lokal. Bentuk partisipasi mahasiswa KKN yang diberikan hanya secara pasif yakni mereka hanya menjadi peserta pada beberapa kegiatan kebudayaan lokal yang diselenggarakan oleh warga dusun Bengkung. Oleh karena itu, pembahasan pada artikel ini fokus pada program unggulan sebagai program utama KKN Tematik. KKN Tematik Literasi ini memang pada awalnya tidak dikhususkan untuk menerapkan gerakan literasi nasional, tetapi secara tidak langsung sudah menerapkannya secara proporsional.DiskusiBerdasarkan data UNESCO (tahun?), Indonesia menempati urutan kedua dari bawah berkaitan dengan literasi dunia, artinya minat baca masyarakatnya masih sangat rendah. Minat baca masyarakat Indonesia terhitung memprihatinkan, yakni hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang memiliki minat dan kegemaran membaca. Data tentang rendahnya minat baca di Indonesia perlu menjadi pengingat bagi segenap masyarakat, utamanya pemerintah dan agen-agen pendidikan seperti sekolah dan perguruan tinggi. Membaca merupakan hasil dari budaya yang berlangsung lama. Artinya, membenahi budaya membaca Indonesia yang rendah dan tentu tidak cukup dilakukan hanya dalam waktu 1-2 tahun saja.Budaya baca yang rendah ini seringkali berim-plikasi dengan bagaimana masyarakat mengakses informasi. Transaksi informasi saat ini didominasi oleh penggunaan teknologi informasi. Namun, bagi yang belum memiliki kesiapan maka mereka akan mengalami ‘kegagapan’ dalam mengakses informasi. Mereka memiliki akses kepada teknologi dan sumber informasi, tetapi tidak dapat memperoleh manfaat yang efektif dari informasi tersebut. Lebih kontradiktif apabila fasilitas dan infrastruktur teknologi informasi yang dimiliki justru malah membuat mereka tidak produktif karena mereka tidak menguasai literasi informasi. Keter-ampilan literasi informasi masyarakat Indonesia dapat dikatakan beragam, tetapi setidaknya dapat dikategorisasi menjadi dua, yaitu mereka yang well educated dan mereka yang no well-educated.Gap pengetahuan dalam mengakses informasi ini masih banyak terjadi di Indonesia. Gap ini terkadang merepresentasikan gap ekonomi dan strata sosial. Orang yang well educated biasanya berasal dari kalangan berpendidikan formal yang tinggi, keluarga ekonomi menengah ke atas, memiliki pekerjaan intelektual, dan sebagainya. Kelompok masyarakat seperti ini biasanya banyak dijumpai di perkotaan. Sebaliknya, mereka yang no well-educated biasanya tidak memiliki atau memiliki pendidikan formal yang rendah, keluarga kurang mampu, dan bekerja menggunakan kemampuan fisiknya. Mereka lazimnya tinggal di pedesaan dan jauh dari episentrum perubahan serta layanan publik (Vito dkk., 2015).Tidak hanya berkaitan dengan gap infras-truktur untuk mengakses informasi, belakangan gap justru lebih terlihat pada kemampuan dalam menggunakan informasi untuk meningkatkan nilai seseorang. Seiring dengan masifnya teknologi informasi, wilayah pedesaan yang mula-mula mendapatkan stigma ‘terbelakang’ dalam hal akses informasi, saat ini memiliki kesempatan yang sama dengan mereka yang tinggal di perkotaan. Hal itu didukung oleh teknologi informasi dan internet yang dapat dikatakan sudah hampir menjangkau seluruh penjuru Indonesia, termasuk pedesaan. Kendati demikian, pemerataan kesempatan akses teknologi justru memicu persoalan baru. Sebagaimana yang disebutkan di awal, masyarakat pedesaan yang belum teredukasi dengan baik akan mengalami kegagapan menghadapi kemajuan teknologi informasi yang pesat. Dampaknya bukan lagi tentang gap antara yang dapat memperoleh informasi dan yang tidak, melainkan tentang mereka yang dapat memperoleh manfaat dari informasi yang diaksesnya dan yang tidak.Untuk menyelesaikan persoalan tersebut, literasi informasi perlu menjadi gerakan masif. Berbagai pihak perlu berpartisipasi aktif, termasuk perguruan tinggi. Perguruan tinggi di Indonesia penting terlibat dalam upaya meningkatkan taraf literasi informasi masyarakat melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Salah satu kegiatan pengabdian masyarakat adalah Kuliah Kerja Nyata (KKN). Kegiatan ini merupakan kolab-orasi antara dosen dan mahasiswa yang biasanya diterjunkan di suatu wilayah untuk menyelesaikan persoalan sosial dengan pendekatan-pendekatan yang akademis. Dosen dan mahasiswa tentu saja perlu memetakan terlebih dahulu persoalan literasi yang terjadi di wilayah proyek pengabdian. Selan-jutnya merumuskan program-program strategis untuk mengatasi persoalan yang ditemukan.Sebagai salah satu perguruan tinggi yang berlandaskan asas keislaman, UIN Sunan Kalijaga sudah gencar menerjunkan KKN di berbagai wilayah. Namun pada beberapa tahun terakhir ini, terutama pasca Covid-19 yang juga merupakan problem global, KKN dirancang untuk menyele-saikan persoalan-persoalan yang lebih spesifik berkaitan pandemi. Meskipun demikian KKN yang bersifat reguler, yakni yang fokus dalam berbagai isu masih terus dilaksanakan. Pada tahun 2021, KKN 105 UIN Sunan Kalijaga dilaksanakan pada 12 Juli 2021 sampai dengan 31 Agustus 2021. KKN tersebut dibagi menjadi beberapa kelompok, antara lain: KKN Mandiri, KKN Reguler, dan KKN Tematik. Adapun fokus bahasan pada kajian ini adalah KKN Tematik, yakni tematik literasi. KKN Tematik ini dapat terlaksana karena adanya kolaborasi intensif antara dosen dan mahasiswa. Di UIN Sunan Kalijaga, pembentukan kelompok dari KKN Tematik diawali dengan inisiasi dosen yang menawarkan proyek tertentu, yang menjadi keahliannya kepada para mahasiswa yang akan membantu melakukannya melalui kegiatan KKN. Artinya, keterlibatan dosen dalam hal ini cukup sentral, yaitu menentukan arah dari kegiatan KKN.Literasi digital menjadi isu penting dalam pelaksanaan KKN yang dilakukan secara hybrid. Dilakukan secara hybrid karena penerjunan KKN bersamaan dengan situasi gelombang kedua dari hantaman virus COVID-19 di Indonesia. Literasi digital menjadi hal yang sangat penting karena seiring dunia didera COVID-19, masyarakat mengalami eskalasi penggunaan teknologi yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Hampir seluruh aspek dan aktivitas kehidupan masyarakat dilakukan secara daring, baik secara penuh maupun parsial. Hal yang demikian juga berpengaruh pada kegiatan KKN pada masa itu. Praktis, di lapangan ada beberapa kelompok ataupun anggota kelompok yang harus melaksanakan program kerjanya secara daring. Meskipun demikian, tidak jarang lembaga atau masyarakat sasaran KKN memperbolehkan pelaksanaan KKN secara luring dengan protokol kesehatan yang ketat. Dusun Bengkung, Desa Candiretno, Kecamatan Secang, Kabupaten Magelang sebagai salah satu lokasi KKN termasuk pada lokasi KKN yang memperbolehkan mahasiswa untuk melakukan KKN secara luring. Pada lokasi tersebut terdapat 11 mahasiswa yang terdiri dari berbagai program studi dengan didampingi satu dosen pendamping yang merekrutnya. Mereka melaksanakan program-program berbasis literasi informasi. Salah satu instrumen untuk melaksanakan program tersebut adalah gerakan literasi nasional (GLN) yang dilaunching oleh Kementerian Pendi-dikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemen-dikbudristek) pada 28 Oktober 2017 bersamaan dengan peringatan sumpah pemuda Beberapa kerangka kegiatan yang direkomendasikan oleh GLN tersebut antara lain: literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital, dan literasi budaya dan kewargaan.

Conclusion

Kegiatan KKN Tematik Literasi pada praktiknya ternyata tidak selalu berpusat pada aktivitas literasi yang berbasis pada indikator Gerakan Literasi Nasional (GLN) Kemendikbud, ada pula kegiatan KKN yang bersifat spontan merespons situasi dan kebutuhan di lapangan. Seluruh kegiatan literasi berpusat pada aktivitas komunitas lokal Taman Baca Masyarakat (TBM) Pelopor Literasi Dusunku. Terdapat satu kegiatan yang mana menjadi pusat dari hampir seluruh jenis kegiatan berbasis literasi, yakni pembelajaran berbasis Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics (STEAM ). Literasi sains, baca-tulis, dan digital menjadi tiga jenis literasi tertinggi pada kumulasi program KKN.Tantangan sekaligus peluang yang terkandung dalam pelaksanaan KKN berbasis literasi di Dusun Bengkung ini dapat dikategorikan menjadi dua, yakni peluang dan tantangan yang berasal dari faktor internal yang meliputi: sumber daya manusia, sarana dan prasarana, pendanaan, dan pengetahuan literasi peserta; dan faktor eksternal yang meliputi: daya dukung masyarakat dan daya dukung pemerintah