Kembali
16
1
2012 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 3 · 1 ISSN 2715-274X

KLASIFIKASI ILMU-ILMU KEISLAMAN ABAD PERTENGAHAN

Universitas Lancang Kuning

Abstrak

Pada abad pertengahan, Islam mengalami masa kejayaan. Kejayaan tersebut salah satunya tercermin dalam pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan pada masa itu. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan yang ada telah mendorong beberapa ulama muslim untuk membuat struktur klasifi kasi keilmuan. Klasifi kasi tersebut tidak hanya dilakukan oleh perseorangan saja, tetapi juga dilakukan secara berkelompok seperti yang telah dilakukan oleh organisasi Ikhwan Ash Shafa. Dengan mengkaji sejarah klasifi kasi ilmu pengetahuan oleh para ulama muslim diharapkan mampu memberikan informasi mengenai bagaimana kondisi keilmuan pada masa tersebu
Keywords: Klasifikasi · ilmu pengetahuan · abad pertengahan

Introduction

Islam merupakan agama yang cinta terhadap ilmu pengetahuan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa dalil mengenai ilmu pengetahuan. Di dalam al-Qur’an sendiri ditemukan kata-kata yang mengandung pengertian mengenai proses untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Sofyan Sauri menyebutkan dalam bukunya bahwa di dalam al-Qur’an ditemukan kata ya’qilu (memakai akal) terdapat pada 48 ayat dalam berbagai bentuk. Kata nadzara (melihat secara abstrak) terdapat pada 30 ayat. Kata tafakkara(berpikir) terkandung dalam 19 ayat. Kata tadzakkara (memperhatikan, mempelajari) ter-kandung dalam 40 ayat. Kata faqiha (perbuatan berpikir) terkandung dalam 16 ayat. Selain itu dalam Alquran terdapat pula kata-kata ulu al albab (orang berpikir), ulu al ‘ilmi (orang berilmu), ulu al abshar (orang berpandangan), ulu al nuha(orang bijaksana) (Sauri, 2004).Selain itu, di dalam hadits, banyak ditemukan dalil-dalil mengenai perintah untuk menuntut ilmu. Sebut saja hadits tentang kewajiban menuntut ilmu dari lahir sampai liang lahat, perintah untuk mengajarkan ilmu meskipun hanya satu ayat, dan masih banyak hadits lainnya yang berkaitan tentang masalah ilmu pengetahuan. Hal ini menunjukkan bahwa pada dasarnya, ilmu pengetahuan dalam agama Islam telah dikenal sejak Islam diturunkan di muka bumi.Terkait dengan masalah ilmu pengeta-huan, untuk memudahkan para pencari ilmu, maka perlu dilakukan pengelompokan-pen-gelompokan ilmu pengetahuan, yang kemudian disebut dengan klasifi kasi ilmu pengetahuan. Klasifi kasi ilmu sendiri dilakukan untuk membagi ilmu pengetahuan yang ada menjadi beberapa bagian. Hal ini dikarenakan, dalam perkemban-gannya, berbagai ilmu pengetahuan baru telah muncul sebagai turunan dari ilmu-ilmu yang sudah ada.Berbicara mengenai klasifi kasi ilmu dalam dunia perpustakaan, maka akan lebih dikenal sistem klasifi kasi yang telah dihasilkan oleh para ilmuwan barat. Sistem klasifi kasi seperti UDC dan DDC merupakan dua sistem klasifi kasi yang banyak digunakan di dalam perpustakaan dewasa ini. Hal yang berbeda justru dialami oleh sistem klasifi kasi yang diciptakan oleh para ilmuwan muslim.Di kalangan pustakawan, khususnya pus-takawan muslim di Indonesia, jarang dibahas mengenai sistem klasifi kasi yang dihasilkan oleh para ilmuwan muslim. Selama ini, sistem klas-ifi kasi yang dikenal, selain UDC dan DDC adalah sistem klasifi kasi Islam yang dikeluarkan oleh Departemen Agama. Padahal, para ilmuwan muslim terdahulu telah mengenal klasifi kasi ilmu pengetahuan. Beberapa ulama, seperti Jabir Ibnu Hayyan, Al Kindi, Al Farabi, Ibnu Nadhim, Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Al Khawarizm, Ibnu Bultan, Ibnu Sina, Ar Razi, Thasy Kubra Zadah, dan Ikhwan Ash Shafa telah melakukan klasifi ka-si ilmu pengetahuan dengan terperinci. Dalam tulisan ini, selanjutnya akan dibahas mengenai bagaimana klasifi kasi ilmu pengetahuan menurut para ulama tersebut di atas.TUJUAN PENULISANTujuan dari penulisan artikel ini adalah sebagai berikut.1. Memberikan gambaran tentang sejarah klas-ifi kasi ilmu pengetahuan, khususnya dalam dunia Islam.2. Memberikan informasi tentang ulama-ulama muslim abad pertengahan yang memiliki kontribusi dalam klasifi kasi keilmuan.3. Memberikan informasi tentang struktur keil-muan dalam pandangan ulama muslim pada abad pertengahan.SEJARAH KLASIFIKASI ILMU PENGETA-HUAN Klasifi kasi ilmu pengetahuan dalam dunia Islam telah muncul jauh sebelum klasifi kasi ilmu pengetahuan dilahirkan oleh ilmuwan barat, terutama yang berhubungan dengan dunia per-pustakaan. DDC, salah satu sistem klasifi kasi ilmu pengetahuan yang banyak digunakan, lahir pada tahun 1876 (Feather dan Sturges, 2003). Sedangkan klasifi kasi ilmu pengetahuan dalam dunia Islam telah lahir pada abad pertengahan, khususnya pada zaman keemasan Islam.Klasifi kasi dalam dunia Islam muncul sebagai imbas dari banyaknya ilmu pengeta-huan yang dilahirkan oleh para ilmuwan muslim. Secara umum, Plato mengklasifi kasi ilmu penge-tahuan ke dalam dua klasifi kasi. Pertama, ilmu yang dapat diraba/rasional yaitu ilmu-ilmu alam. Kedua, ilmu metafi sika yaitu ilmu riyadiyah dan ilmu ilahiyah (Ulyan, 1999). Aristoteles telah mengklasifi kasikan ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelompok. Pertama, ilmu teoritis seperti ilmu rekayasa, falak, dan ilmu hisab. Kedua, ilmu amaliyah seperti ilmu akhlaq, ekonomi, dan ilmu siasat. Ketiga, ilmu produksi seperti ilmu syair, balaghah. Hal ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Thomas Aquinas yang mengklasifi kasikan ilmu menjadi tiga bagian, yaitu ilmu mantiq, ilmu teoritis, dan ilmu amaliah. Sedangkan Francis Bacon mengklasifi kasikan ilmu pengetahuan ke dalam tiga kategori utama, yaitu memori (seperti ilmu sejarah), hayal (seperti ilmu syair), dan ilmu akal (seperti ilmu fi lsafat) (Ulyan, 1999). Pada perpustakaan kuno, koleksi tanah liat di bagi ke dalam dua kategori klasifi kasi, yaitu ilmu bumi dan ilmu falak dan nuzum (perbintan-gan dan peramalan). Dalam hal ini, Callima-chus dapat dianggap sebagai pengindeks dan klasifi kator pertama dalam sejarah perpusta-kaan. Dia adalah penyair asal Libya sekaligus pustakawan di perpustakaan Alexandria. Dia telah mengindeks lebih dari 90 ribu naskah pada perpustakaan tersebut dan mengklasifi kasikan-nya ke dalam lima kategori besar, yaitu sya’ir, sejarah, fi lsafat, karya sastra, dan retorika (Ulyan, 1999).Pada perpustakaan di tempat ibadah, koleksi buku diatur berdasarkan dua hal, yaitu berdasarkan subjek dan ukurannya. Koleksi tersebut diletakkan pada lemari khusus. Setiap lemari diberi tanda tertentu. Sedangkan pada koleksi buku tersebut terdapat tanda penerbitan. Secara berurutan, penyusunan koleksi secara berurutan adalah menurut lemari, rak buku, dan tanda penerbitan.Dalam perpustakaan tersebut, koleksi buku kekristenan diletakkan di sisi kiri pintu masuk per-pustakaan. Sedangkan untuk koleksi yang tidak berhubungan dengan kekristenan diletakkan di sisi lainnya. Pengelompokan juga didasarkan pada kualitas penjilidan buku. Kelompok awal yaitu dengan jilidan yang mewah dan kelompok kedua adalah buku yang dilapisi dengan lapisan warna hitam.Sistem klasifi kasi yang umum digunakan pada waktu itu adalah sistem klasifi kasi yang dike-mukakan oleh Gabriel Naude, fi lusuf sekaligus pustakawan yang berasal dari Perancis (1600-1653M). Naude mengklasifi kasikan ilmu penge-tahuan ke dalam 12 kelompok, yaitu agama, buku induk, seni bela diri, kekudusan dan sistem gereja, geografi dan politik, kalender sejarah, hukum, fi lsafat, sejarah, dan sastra (Ulyan, 1999).Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah berbagai macam klasifi kasi ilmu pengetahuan yang dihasilkan oleh para ilmuwan, diantaranya sebagai berikut (Ulyan, 1999).1. Klasifi kasi persepuluhan yang dikemukakan oleh Melvil Dewey (1876 M).2. Klasifi kasi yang dikemukakan oleh Charles Ammi Cutter (1891 M).3. Library of Congress Classifi cation (1902 M)4. Klasifi kasi subjek yang dikemukakan oleh James Brown (1906 M).5. Colon Classifi cation yang dikemukakan oleh Ranganathan (1933 M).6. Bibliographic Classifi cation yang dikemuka-kan oleh Henry Bliss (1935 M).7. Universal Decimal Classifi cationyang di-adaptasi dari DDC oleh Paul Otlet dan Sena-tor Henri La Fontaine (1904 M).KLASIFIKASI ILMU MENURUT ULAMA MUS-LIM1. Jabir Ibnu HayyanRiwayat Hidup Jabir Ibnu HayyanPemilik nama lengkap Abu Musa Jabir Ibnu Hayyan ini lebih dikenal dengan nama Geber di dunia Barat (NN, 2012). Ia dilahirkan di Kuffah, Irak pada tahun 750 M (sampai 803 M). Jabir dikenal sebagai ahli kimia yang ia dapat setelah berguru kepada Barmaki Vizier pada masa pemerintahan Harun ar Rasyid di Baghdad. Di Baghdad ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam pene-litian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Pada bidang ini, dialah penemu Hukum Perbandingan Tetap. Selain itu, dia juga berkontsribusi dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.Karya-karya Jabir Ibnu Hayyan Sebagai ahli kimia, Jabir telah menelur-kan banyak karya. Bahkan, diantara beberapa karyanya tersebut ada yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Beberapa karya Jabir yang tercatat antara lain:1. Kitab Al-Kimya (diterjemahkan ke Inggris menjadi The Book of the Composition of Al-chemy)2. Kitab Al-Sab’een3. Kitab Al Rahmah4. Al Tajmi5. Al Zilaq al Sharqi6. Book of The Kingdom7. Book of Eastern Mercury8. Book of Balance (NN, 2012).Klasifi kasi Ilmu Pengetahuan menurut Jabir Ibnu Hayyan Jabir Ibnu Hayyan merupakan ulama pertama yang melakukan klasifi kasi ilmu penge-tahuan dalam dunia Islam. Namun, sampai saat ini, menurutnya, klasifi kasi tersebut tidak tercatat. Hal ini menyebabkan klasifi kasi ilmu pengeta-huan menurut Jabir tidak dapat diketahui oleh generasi berikutnya (Ulyan, 1999). Dari hasil penelusuran penulis, diperoleh informasi bahwa Jabir Ibnu Hayyan membagi ilmu pengetahuan menjadi dua bagian, yaitu ilmu Agama dan ilmu Dunia (Mujahid, 2010). Ilmu Agama terdiri dari ilmu Syar’iyyan dan ilmu ‘aqliyan. Selanjutnya, ilmu ‘aqliyan dibagi lagi menjadi ilmu hurûf dan ilmu ma’ani. Selanjutnya ilmu huruf dibagi lagi menjadi ilmu Thabi’i dan ilmu Ruhani. Ilmu Thabi’i dibagi menjadi empat bagian, yaitu Panas, Dingin, Kering dan Lembab. Ilmu yang bersifat Ruhani dibagi lagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu Nûrâni dan Zhulmânîy.Sementara itu, ilmu Ma_x001F_ânî dibagi juga menjadi 2 bagian yaitu ilmu yang bersifat Falsafi yan dan ilmu Ilâhiyan. Sedangkan ilmu Syar’iyyan terbagi menjadi ilmu-ilmu yang Zâahiran dan Bâthinan. Sementara itu, ilmu Dunia juga dibagi menjadi dua kelompok, yaitu ilmu Syarifan dan Wadh’iyan(Buatan).2. Al-KindiRiwayat Hidup Al-Kindi Abu Yusuf Ya’qab ibn Ishaq al-Kindi merupakan fi lusuf muslim yang hidup pada 252-260 H/866-873 M (Esposito, 2012). Ia dilahirkan di Irak dari suku Kindah. Al-Kindi banyak menghabiskan hidupnya di Basrah, namun meninggal di Baghdad. Sebagai fi lusuf kenamaan, dia banyak menulis karya dalam berbagai bidang, seperti geometri, astronomi, astrologi, aritmatika, musik (yang di bangunnya dari berbagai prinip aritmatis), fi sika, medis, psikologi, meteorologi, dan politik. Pemikiran Al-Kindi banyak dipengaruhi oleh pemikiran fi lusuf Yunani seperti Plato dan Aristoteles. Prestasi terbesar Al-Kindi adalah mendorong penerjemahan teks Yunani. Selain itu, dia berusaha untuk membudidayakan fi lsafat agar bisa berkembang dalam masyarakat Islam sehingga dikenal sebagai Bapak Filusuf Islam. Hal ini sebagaimana pernah ia ungkapkan dalam karya Fi mahiya al-Naum wa al-ru’ya. Dalam karya tersebut, dia mengungkapkan bahwa mimpi jembatan antara spiritual dan fi sik dunia.Karya-karya Al-KindiKarya Al-Kindi terbagi ke dalam beberapa bidang, antara lain fi lsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, dialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Namun sayang, begitu dia wafat, karya-kary-anya banyak yang hilang. Para sejarawan ber-pendapat bahwa salah satu penyebab hilangnya karya-karya fi lusuf kenamaan tersebut adalah hancurnya kota Baghdad akibat serangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Beberapa karya Al-Kindi antara lain:1. Fi mahiya al-Naum wa al-ru’ya2. Fi Istikhraj al-Mu’amma3. al-Falsafah al-Ulā fī mā dūna ath-Thabi’iyyah wa at-Tawhīd4. Tanjim Ikhtiya-rat al-Ayyam5. Ilahyat-e-Aristu6. al-Mosiqa7. Mad-o-Jazr 8. Aduiyah Murakkaba9. dan Al-Kubra fi al-Ta’lif (Kartanegara, 2009).Klasifi kasi Ilmu Pengetahuan menurut Al-Kindi Dalam klasifi kasi ilmu pengetahuan, Al-Kindi membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok besar, yaitu ilmu agama dan ilmu dunia. Selanjutnya, Al-Kindi berpendapat bahwa ilmu pengetahuan tersebut terbagi lagi menjadi tiga golongan yaitu ilmu teori, ilmu praktis, dan ilmu produksi. Pemikiran Al-Kindi tentang ilmu pengetahuan ini banyak dipengaruhi oleh fi lsafat Yunani, Aristoteles (Ulyan, 1999).3. Al-FarabiRiwayat Hidup Al-Farabi Sebagai seorang fi lusuf muslim, Al-Farabi dikenal sebagai penerus teori-teori yang dike-luarkan oleh Al-Kindi. Nama lengkapnya adalah Abu Nasr Muhammad al-Farabi. Ia dilahirkan di Wasij, suatu desa di Farab (Transoxania) pada tahun 870 M. Ia lebih dikenal dengan sebutan Abu Nasr. Ayahnya adalah Muhammad Auzlagh merupakan seorang panglima perang Persia yang menetap di Damsyik. Sedangkan ibunya berasal dari Turki (Nurisman, 2004).Pendidikan dasarnya ialah keagamaan dan bahasa; ia mempelajari fi kh, hadis, dan tafsir al- Qur’an. Ia juga mempalajari bahasa Arab, Turki dan Persia. Pada tahap selanjutnya, Al-Farabi melanjutkan pendidikannya di Baghdad dan bertemu dengan para fi lusuf dan penerjemah. Dari sinilah dia mulai tertarik pada logika dan kemudian belajar kepada Abu Bisyr Matta Ibnu Yunus.Pada tahun-tahun berikutnya dia menjalani kehidupannya di Damaskus sebagai Ulama Istana. Namun, bukan di tengah kota tempat yang ia sukai. Sebuah kebun yang terletak di pinggiran kota adalah tempat yang paling ia sukai. Di tempat inilah kemudian Al-Farabi banyak meng-hasilkan karya-karya terutama tentang fi lsafat. Banyaknya karya tentang penyelidikan fi lsafat secara mendalam, terutama tentag fi lsafat Plato dan Aristoteles, Al-Farabi juga dikenal dengan sebutan Mu’alim Tsani (Guru Kedua). Dimana Guru Pertama adalah Aristoteles.Karya-karya Al-FarabiAl-Farabi telah banyak menulis berbagai karya tulis, terutama di bidang logika. Beberapa karyanya yang terkenal antara lain:1. Maqalah fi Aghradhi ma Ba’da al-Thabi’ah2. Ihsha’ al-Ulum 3. Kitab Ara’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah4. Kitab Tahshil al-Sa’adah5. ‘U’yun al-Masa’il6. Risalah fi al-Aql7. Kitab al-Jami’ bain Ra’y al-Hakimain : al-Afl a-tun wa Aristhu8. Risalah fi Masail Mutafariqah9. Al-Ta’liqat10. Risalah fi Itsbat al-Mufaraqat (Nurisman, 2004).: 15-24 Klasifi kasi Ilmu Pengetahuan Menurut Al-FarabiDalam dua karyanya (Tanbih ‘ala Sa’adahdan Ihsa’ al-‘Ulum) Al-Farabi membagi ilmu pengetahuan ke dalam lima kelompok besar (Ulyan, 1999). Dalam literatur lain, disebutkan bahwa Al-Farabi telah membagi ilmu penge-tahuan ke dalam tujuh kelompok besar, yaitu logika, percakapan, matematika, fi sika, metafi si-ka, politik, dan ilmu fi qih (hukum) (NN, 2012).Ilmu logika dibagi ke dalam delapan bagian, diawali dengan kategori dan diakhiri dengan syair. Ilmu percakapan dibagi lagi ke dalam tujuh bagian, seperti bahasa, gramatika, sintaksis, syair, menulis, dan membaca. Bahasa dalam ilmu percakapan terdiri dari ilmu kalimat mufrad, preposisi, aturan penulisan yang benar, aturan membaca dengan benar, dan aturan mengenai syair yang baik. Matematika dibagi dalam tujuh bagian. Fisika (ilmu kealaman) dibagi menjadi delapan bagian. Metafi sika dibagi dalam dua bahasan, bahasan pertama mengenai penge-tahuan tentang makhluk dan bahasan kedua mengenai fi lsafat ilmu. Politik dikatakan sebagai bagian dari ilmu sipil dan menjurus pada etika dan politika. Ilmu agama dibagi dalam ilmu fi qih dan imu ketuhanan/kalam (teologi). 4. Ibnu NadhimRiwayat Hidup Ibnu NadhimMuhammad Ibnu Ishaq an-Nadhim berasal dari Baghdad, Iraq (STMIK AMIKOM, 2007). Ke-cintaannya terhadap buku mungkin menurun dari jejak sang ayah yang juga ahli bibliografi . Kata “Al-Nadhim” merupakan gelar yang melekat pada dirinya yang berarti “sahabat orang-orang terkemuka”. Dalam masa belajaranya, Ibnu Nadhim telah berguru kepada para ulama terkemuka seperti Al-Sirafi , Al-Munajin, Abu Sulayman al-Mantiqi, dan lain-lain. Dia juga hidup di lingkun-gan Bani al-Jarrah yang mendapatkan banyak pengetahuan tentang berbagai macam ilmu pengetahuan seperti ilmu logika dan ilmu penge-tahuan umum baik yang berasal dari Yunani, Persia, juga India. Hal inilah yang membuatnya tertarik terhadap berbagai ilmu pengetahuan. Ia juga dikenal sebagai penjual buku. Ibnu Nadhim wafat pada tahun 385 H/995 M. Sebagai seorang ilmuwan, Ibnu Nadhim lebih dikenal sebagai seorang bibliografer. Karya-karya Ibnu NadhimTidak dapat dipungkiri, keterkenalan Ibnu Nadhim tidak akan terlepas dari kitab Fihrist. Kitab yang juga dikenal dengan nama Index of Nadhim ini berisi bibliografi karya bangsa Arab maupun bangsa non Arab yang ditulis dalam bahasa arab (Nakosteen, 1996). Karya Ibnu Nadhim lain yang terkenal adalah Al-Ausaf wa Tasybihaat.Klasifi kasi Ilmu menurut Ibnu NadhimDalam kitabnya yang terkenal, Fihrist, Ibnu Nadhim membagi ilmu pengetahuan ke dalam sepuluh kategori sebagai berikut (Nakosteen, 1996).1. Bahasa dari berbagai bangsa, baik Arab maupun non Arab, karakteristik tulisan, keanekaragaman tulisan, dan lain-lain.2. Tata bahasa dan fi lologi.3. Sejarah, biografi , dan silsilah.4. Puisi dan penyair.5. Filsafat dan cendikiawan skolastik.6. Hukum, ahli fi qh, dan ahli hadits.7. Filsafat dan ilmu pengetahuan kuno.8. Legenda, dongeng, guna-guna, sihir, dan su-lap.9. Sekte dan kepercayaan.10. Pembicaraan mengenai ahli kimia dan para pencari peninggalan para fi lusuf di antara para fi lusuf kuno dan modern serta nama buku-bukunya.5. Al-GhazaliRiwayat Hidup Al-Ghazali Muhammad bin Muhammad bin Muhammad bin Ahmad Al-Ghazali adalah pemikir yang muncul pasca puncak kemajuan Islam (Mutamam, 2007). Beliau lahir pada 450 H/1058 M, di desa Thus, Khurasan, Iran (Ibnu Rusn, 1998). Pada masa kecil, beliau berguru agama kepada Ahmad Bin Muhammad Razkafi , seorang ulama setempat. Setelah itu, beliau pergi ke Jurjan untuk belajar kepada Abu Nasr Ismaili. Setelah belajar di Jurjan, Al-Ghazali melanjutkan pendidikannya di Naisabur untuk belajar kepada Al-Juwainy yang dikenal juga dengan sebutan Imamul Haramain. Ilmu yang dipelajari darinya adalah ilmu kalam, ilmu ushul, madzhab fi qh, retorika, logika, tasawuf, dan fi lsafat. Setelah wafatnya Al-Juwainy, Al-Ghaz-ali pergi ke Mu’askar. Di tempat itu, Al-Ghazali sering berbincang dengan para ulama. Dari perbincangan tersebut, di kemudian hari, nama Al-Ghazali kemudian dikenal dan diunggulkan oleh para ulama di sana.Pada tahun 484 H/1091 M, Al-Ghazali diangkat menjadi ustad pada Universitas Nid-hamiyah, Baghdad. Karena kecerdasannya, pada umur 34 tahun, beliau kemudian diangkat sebagai pimpinan di universitas tersebut. Pada saat menjadi pimpinan itulah beliau menulis berbagai macam karya yang meliputi bidang fi qh dan ilmu kalam.Setelah 4 tahun menjadi pimpinan universi-tas, Al-Ghazali sempat mengalami krisis rohani. Hal ini mendorongnya untuk pergi ke Syam untuk belajar mengendalikan hawa nafsunya. Beliau memutuskan untuk berdiam di salah satu masjid di Damaskus. Kemudian beliau melan-jutkan perjalanan spiritualnya ke Baitul Maqdis sebelum kemudian pergi ke Mekah dan Madinah untuk menunaikan ibadah Haji.Setelah selesai melanglang buana, Al-Ghazali kembali ke Universitas Nidhamiyah untuk mengajar di sana. Tidak diketahui secara pasti berapa lama beliau mengajar di sana sebelum kemudian kembali ke tempat asalnya di Thus. Di sana beliau mendirikan madrasah. Akhirnya, pada tahun 505 H/1111 M Al-Ghazali wafat pada usia 55 tahun.Karya-karya Al-Ghazali Sebagai ulama yang produktif, Al-Ghazali telah menghasilkan banyak sekali karya. Karya-karyanya banyak membicarakan tentang fi lsafat, akhlak, tasawuf, keagamaan, metafi sika danfi qh. Berikut beberapa karya Al-Ghazali yang telah dikenal oleh masyarakat luas (Mutamam, 2007).1. Al-Ma’arif al Aqliyyah Wa al-Hikmah al-Ila-hiyyah, karya Al-Ghazâli ini hanya berupa naskah yang terdapat di dua perpustakaan yaitu Paris dan Oxford.2. Maqashid al-Falsafah, buku ini dikarang oleh al-Ghazâli sebagai pendahuluan buku al-Tahafut.3. Taháfut al-Falasifah,4. Al-Munqidz min al-Dhalal, karya tulis al-Ghazâli ditulis pada tahun 501-502 H.29 ke-tika dia menetap kedua kalinya di Naisabür.5. Al-Madhnun bih ‘ala Ghair Ahli,6. Fátihah al-Ulum, karya ini berupa naskah tu-lisan tangan (naskhah khaththiyya). tersim-pan di perpustakaan Paris.7. Haqaiq al-‘Ulum, karya dalam bentuk naskah yang juga tersimpan di perpustakaan paris.8. Maqásyifah al-Qulub al- Matrahbah ila ‘Allam Ghuyub.9. Mi’yár al- ‘Ilm,10. Minhaj aI-Nazhr,11. Ma’árij al-Quds fi Madárij Ma’rifah al-Nafs.12. Jam al-Haqaiq fi Tajrad al-‘a’laiq,13. Ihyá ‘Ulumu al-Din, karya terbesar al-Ghazâli yang ditulis pada tahun 489 dan 495 H., buku ini memuat ide sentral A1-Ghazili menghidup-kan kembali ilmu-ilmu agama Islam, seperti logika, akhlak, tasawuf, dan sebagainya. Buku ini mempunyai syarah yang banyak antara lain : Ittahaf al-Sadat al-Muttawin (13 Jilid), Taj al-Qashidin (Ibn al-Jauzih) Ruj al-Ihya’ (Ibn. Yunus).14. Bidayah al-Hidayah,15. Kitab Mizan al-’Amal, karangan al-Ghazâli ditulis di Bagdad, sebelum memasuki dunia tasawuf, buku itu merupakan pelengkap un-tuk menjelaskan pengertian yang ada di da-lam Ihya’ kurang jelas16. A1-Qisthas al-Mustaqim,17. Kitab al-Sa’adah,18. Kitan Ayyuha al- Walad,19. Kitab al-Madkhul Fi iImi Ushul, (kitab pilihan tentang Ushul Fiqh),20. Kitab al-Mustashfa min ‘Ilm al-Ushul (tempat pembersihan dan Ilmu Ushul Fiqh), merupa-kan kitab Ushul A1-Ghazâli yang pendahulu-annya memuat tentang pembahasan logika, dia menegaskan bahwa barang siapa yang tidak menguasai logika, maka pengetahuan-nya belum terpercayaKlasifi kasi Ilmu Menurut Al-GhazaliSebagai sesorang pemikir, Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan ke dalam tiga klas-ifi kasi, yaitu berdasarkan tingkat kewajibannya, : 15-24 berdasarkan sumbernya, dan berdasarkan fungsi sosial (Ulyan, 1999). Berdasarkan tingkat kewa-jibannya, ilmu dibagi menjadi ilmu yang dibutuh-kan oleh masing-masing individu dan ilmu yang dibutuhkan oleh jamaah (masyarakat umum). berdasarkan sumbernya, ilmu manzilat dan ilmu ghoiru manzilat. Sedangkan berdasarkan fungsi sosialnya, ilmu dibagi menjadi ilmu terpuji dan ilmu tercela. Dalam literatur lain, Al-Ghazali membagi ilmu pengetahuan menjadi tiga klasifi kasi utama, yaitu secara Epistemologis, Ontologis, dan Aksi-ologis (Ibnu Rusn, 1998). Secara epistemologis, ilmu dikategorikan menjadi syar’iyyah dan ghoiru syar’iyyah (aqliyah). Ilmu syar’iyyah adalah ilmu yang diperoleh dari para Nabi. Ilmu-ilmu yang masuk ke dalam kategori ini adalah ilmu ushul, ilmu furu’, ilmu muqaddimah, dan ilmu penyem-purna. Ilmu ushul meliputi Kitabullah, sunnah rasul, ijma’ ummat, dan peninggalan para sahabat (sejarah awal Islam). Ilmu furu’ meliputi ilmu yang berhubungan dengan kehidupan duniawi seperti fi qh dan ma’rifat. Ilmu muqaddimah meliputi ilmu bahasa dan tata bahasa Arab. Sedangkan ilmu penyempurna meliputi ilmu yang berkenaan dengan al-Qur’an seperti qiraah dan tafsir. Ilmu Ghairu Syar’iyyah adalah ilmu yang bersumber dari akal. Ilmu ini dapat berupa ilmu yang diperoleh dariinsting maupun dari proses belajar atau berfi kir. Yang termasuk ke dalam kategori ilmu ini adalah geografi , matematika, kedokteran, dan ilmu-ilmu lain yang sejenis. Secara ontologis, ilmu dibedakan menjadi dua bagian yaitu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah. Ilmu fardhu ‘ain adalah ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tugas-tugas akhirat dengan baik. Ilmu ini meliputi ilmu tauhid, syari’at, dan sirri.Ilmu fardhu kifayah merupakan ilmu yang berhubungan dengan urusan keduniaan oleh karena itu tidak semua orang wajib memiliki ilmu ini. Ilmu ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu ilmu abadi dan ilmu yang berkembang. Ilmu abadi adalah ilmu-ilmu yang meliputi Al-Qur’an, hadits, ijma’ dan sejenisnya. Sedangkan ilmu yang berkembang meliputi arsitektur, sastra, prikologi, dan sejenisnya.Secara aksiologis, ilmu dibagi menjadi ilmu terpuji, mubah, dan tercela. Kategorisasi ini bukan didasarkan atas isi ilmu itu sendiri, tetapi dikarenakan faktor manusia. Hal ini dikarenakan pada kasus-kasus tertentu, suatu ilmu dapat digunakan untuk melakukan kegiatan yang terpuji, mubah, dan tercela.6. Ibnu KhaldunRiwayat Hidup Ibnu KhaldunWali ad-Din Abu Zaid ar-Rahman bin Muhammad Ibnu Khaldun al-Hadrami al-Ishbili lahir di Tunisia pada 723 H/1332 M (Al-Azmeh, 1990). Beliau berasal dari keluarga yang memiliki garis keturunan dari Hadramaut (Yaman) yang bermigrasi ke Seville (Spanyol) pada abad ke-8 M. Sebagai ilmuwan besar, beliau dikenal sebagai sejarawan dan bapak sosiologi Islam yang hafal Alquran sejak usia dini. Pelajaran pertamanya diperoleh dari ayahnya sendiri. Kepada ayahnya, dia belajar menghafal Al-Qur’an dan ilmu tajwid. Selain itu, dia juga belajar kepada beberapa ulama Andalusia yang hijrah ke Tunisia. Guru-guru yang paling berpengaruh terhadap pembentu-kannya dalam bidang syariat, bahasa dan fi lsafat adalah Muhammad bin Abdullah Muhaimin bin Abdil Al-Hadrami, ia seorang Muhadditsin dan Ahli Nahwu di Maghriby. Kemudian Abu Abdillah Muhammad bin Ibrahim Al-Abily (1282-1356 M), Muhammad bin Muhammad al-Hadrami (1277-1348 M) dalam bidang ilmu rasional yang bisa kita sebut fi lsafat, ilmu falak, teologi, logika, ilmu-ilmu kealaman, matematika, astronomi dan musik. Selain itu, dalam bidang bahasa gurunya Abdullah Muhammad ibnu al-A’rabi al-Husairi, Abu al-Abas Ahmad bin al-Qashar, dan Abu Abdillah Muhammad bin Bahr. Dalam bidang ilmu Hadits Ibnu Khaldun belajar pada Syam-suddin Abu Abdillah al-Wadiyasyi (1274-1348), dalam bidang Fiqih Abu Abdillah Muhammad al-Jayyani, Muhammad al-Qashar dan Muhammad bin ‘Abd al-Salam al-Hawwari (1277-1348 M).Karya-karya Ibnu Khaldun Sebagai ulama, dia telah menulis banyak sekali karya terkenal. Di bawah ini ditampilkan beberapa karya yang beliau hasilkan (Siswatini, 2008). 1. Al-Ibar wa Diwan al-Mubtada’ wa al-Khabar fiAyyamim al-’Arab wa al-’Ajam wa al-Barbar wa Man ‘Asharahum min Dzawi al-Shultan al- Akbar. (Kitab contoh-contoh dan rekaman Mengenai asal-usul dan peristiwa hari-hari Arab, Persia, Barbar, dan orang-orang seza-man dengan mereka yang memiliki kekuatan besar). Oleh karenanya judulnya sangatlah panjang. 2. Muqaddimah. kitab ini merupakan magnum opus-nya Ibnu Khaldun yang topiknya terba-gi kedalam 6 fasal besar, yaitu ilmu sosiologi umum, sosiologi pedesaan, sosiologi politi, sosiologi kota, sosial industri, dan sosiologi pendidikan.3. Al-Ta’rif. Awalnya kitab ini adalah lampiran dari al-I’bar dan kemudianberdiri sendiri pula. Kitab ini berisi sejarah kehidupannya, riwayat-hidup beberapa orang penting lain-nya yang berhubungan dengan Ibnu Khal-dun., peristiwa-peristiwa tertentu, dokumen dokumen, khutbah-khutbah, dan lain-lain. Di dalamnya juga dibahas Mengenai situasi so-sial serta aturan-aturannya.4. Syifa’al-sail li Tahdhib al-Masa’il. Karya ini membahas mengenai pemisahan antara jalan tasauf dan jalan syariah serta mengu-raikan mengenai jalan tasauf dan ilmu jiwa.5. Karya- karya lainnya, Ibnu Khaldun juga memberikan komentarnya terhadap al-Bur-dah dengan indah. Mengikhtisar karya Ibnu Rusyd dan menguraikannya kepada Sul-tan Mengenai pandangan terhadap logika dengan cara yang menarik. Ibnu Khaldun juga mengikhtisar al-Muhassal karya Imam Fakhruddin al-Razi, menyusun karya aritma-tika dan memberi komentar terhadap sebuah karya dalam bidang usul fi qh dengan uraian yang bagus.Klasifi kasi Ilmu Menurut Ibnu KhaldunIbnu Khaldun membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kategori besar, yaitu aqliyah dan ilmu naqliyah (Ulyan, 1999). Ilmu aqliyah adalah ilmu yang berasal dari buah dari aktivitas pikiran manusia dan perenungannya ilmu- ilmu ini bersifat alamiyah bagi manusia. Ilmu ini meliputi ilmu mantiq, ilmu kedokteran (medis, fi sika, dan pertanian), metafi sika, dan ilmu tentang berbagai ukuran atau matematika.Sedangkan ilmu naqliyah adalah ilmu yang dikutip manusia dari yang merumuskan lan-dasannya dan diwariskan secara turun temurun ke generasi. Ilmu ini berasal dari Kitabullah dan hadits. Ilmu ini terbagi menjadi lima bagian yaitu ilmu yang berkaitan dengan al-Qur’an seperti tafsir dan tilawah, ilmu hadits, ilmu fi qh, ilmu agama, dan ilmu bahasa.7. Klasifi kasi Ilmu Keislaman LainnyaSelain nama-nama yag muncul di atas, beberapa ulama muslim lain ternyata telah melakukan hal yang serupa. Seperti yang dilakukan Al Katib dalam kitabnya Mafatihul Ulum (Nakosteen, 1996). Ulama yang memiliki nama lengkap Abdullah Muhammad ibnu Yusuf al Katib atau yang lebih dikenal dengan sebutan Al Khawarizmi (Ulyan, 1999) tersebut membagi ilmu pengetahuan ke dalam dua kelompok utama, yaitu orisinal (ilmu arab) yang terdiri dari ilmu bahasa dan ilmu agama, dan eksternal (mancanegara) yang terdiri dari ilmu-ilmu yang berasal dari luar bangsa arab. Ibnu Bultan, pada abad 11 H, mengklas-ifi kasikan ilmu pengetahuan ke dalam tiga kelompok, yaitu ilmu-ilmu alam, fi lsafat dan ilmu kealaman, dan intelektual atau ilmu literatur (Mukhtar, 2005). Muncul pula klasifi kasi ilmu pengetahuan oleh Ibnu Sina yang ternyata banyak dipengaruhi oleh pemikiran Al-Farabi. Hal ini dapat dilihat dalam kitabnya Fi Aqsami al ‘Ulum al ‘Aqliyah (Ulyan, 1999). Pada tahun 606 H, Fakhrudin Ar-Razi dalam kitabnya Hadaiq al-Anwar fi Hadaiq al-Asrar mengurutkan tu-lisan-tulisan berdasarkan topik-topik tertentu. Di dalamnya juga disebutkan jenis ilmu ber-dasarkan buku-buku yang pernah ditulis serta nama dan riwayat hidup penulisnya. Dalam kitab tersebut, Ar-Razi menyebutkan terdapat enam puluh cabang ilmu pengetahuan yang ada pada masa itu (Ulyan, 1999).Ulama lain yang juga mengklasifi kasikan ilmu pengetahuan adalah Thasy Kubra Zadah (Ulyan, 1999). Dalam kitabnya Miftah al-Sa’adah wa Misbah al-Siyadah, Zadah mengklasifi kasi-kan ilmu pengetahuan dengan pendekatan induktif dan deduktif. Hal inilah yang menyebab-kan klasifi kasi yang ia kemukakan mendekati sistem klasifi kasi pada masa kini.: 15-24 Zadah mengklasifi kasikan ilmu pengeta-huan ke dalam enam kelompok besar. Masing-masing kelompok diawali dengan pengantar sekaligus bagan yang menjelaskan cakupan dari ilmu yang dimaksud. Masing-masing kelompok kemudian dibagi ke dalam bagian-bagian yang lebih kecil dan ditandai dengan angka. Selain pengelompokan ilmu yang dilakukan oleh perseorangan, juga terdapat pengelompkan ilmu pengetahuan yang dilakukan oleh organisa-si ulama, seperti Ikhwan Ash Shafa (Nakosteen, 1996). Organisasi ini adalah organisasi rahasia yang terdiri dari para fi lusuf muslim sekitar abad ke-10. Menurut organisasi ini, ilmu pengetahuan dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Pertama, ilmu riyadiyah yang terdiri dari ilmu tulis menulis, qiroat, syair, bahasa, nahwu, hisab, mu’amalat, sihir, penawar sihir, kimia, dan lain-lain. Kedua, ilmu syar’iyah yang terdiri dari fi qh, tafsir, tafsir mimpi, riwayat, dan lain-lain. Ketiga, ilmu fi lsafat haqiqi yang terdiri dari empat risalah, riyadiyat(ilmu hisab, rekayasa, dan musik), psikologi (ilmu mantiq, pidato, pembuktian, dan lain-lain), fi sika (ilmu tentang benda, langit, alam semesta, dan lain-lain), dan ilahiyat (Ilmu ketuhanan)

Conclusion

Berdasarkan pemaparan di atas, terlihat bahwa pada dasarnya klasifi kasi ilmu pengeta-huan telah banyak dilakukan oleh para ilmuwan muslim. Salah satu kitab klasifi kasi yang paling terkenal adalah kitab Fihrist karangan Ibnu Nadhim. Kitab ini merupakan buku index yang memuat karya-karya yang terbit pada waktu itu. Karya-karya tersebut diklasifi kasikan ber-dasarkan ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya. Tidak hanya itu, di dalamnya juga diikutsertakan riwayat penulis karya tersebut. Pemaparan di atas juga menunjukkan betapa besarnya perhatian para ulama pada masa itu terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Hal inilah yang patut dijadikan sebagai tradisi keilmuan di antara masyarakat muslim saat ini.