Kembali
16
1
2013 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 4 · 1 ISSN 2715-274X

MEMBANGUN KESADARAN AKTIF MEMBACA PADA SISWA SMA DENGAN MEMANFAATKAN PERPUSTAKAAN SEKOLAH UNTUK MENINGKATKAN PRESTASI DAN MOTIVASI BELAJAR SISWA

Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Ngaglik

Abstrak

Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan: (1) Mengetahui peranperpustakaan sekolah sebagai salah satu media untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. (2) Mengetahui cara membangun kesadaran membaca buku pada siswa. (3) Mengetahui pengaruh membangun kesadaran membaca buku untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran secara nyata terhadap fenomena yang terjadi pada siswa kelas XI SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI program IPA maupun IPS di SMA Negeri 2 Ngaglik yang selanjutnya diambil sampel sebagai responden sebanyak 50 orang. Adapun metode penentuan sampel yang digunakan adalah simple random sampling (acak sederhana). Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode wawancara atau interview dan studi pustaka (library research). Adapun metode analisis data yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini adalah metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian dapat diambil beberapa kesimpulan: (1) Perpustakaan sekolah sangat berperan menjadi salah satu media untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, terbukti dengan minat kunjungan siswa ke perpustakaan sangat tinggi yaitu dengan intensitas satu minggu sekali, semangat belajar siswa juga terlihat ketika siswa berusaha belajar secara mandiri dengan meminjam buku pelajaran di perpustakaan sekolah untuk menambah referensi buku mereka. (2) Cara membangun kesadaran membaca buku pada siswa yaitu dengan mengubah perilaku atau mengurangi faktor-faktor penghambat minat baca pada siswa, dengan menggunakan metode membaca yang lebih menyenangkan. (3) Hubungan kesadaran membaca buku dengan meningkatnya motivasi belajar terlihat dengan antusias siswa yang lebih menyukai membaca buku daripada bermain handphone atau gemar membaca buku di perpustakaan daripada kegiatan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa siswa menyadari betapa pentingnya manfaat membaca buku terutama bagi seorang pelajar.
Keywords: perpustakaan · motivasi belajar

Introduction

Malas dan mengantuk, inilah kebiasaan yang terbangun dalam membaca buku. Maka tak heran apabila siswa sekolah menengah atas le bih memilih bermain dengan teman daripada me luangkan waktunya untuk membaca buku. Sebab bermain terasa lebih santai dan terkesan menyenangkan. Berbeda dengan membaca buku yang banyak membutuhkan tenaga dan pikiran yang tidak jarang justru membuat pusing pembacanya.Fenomena yang terjadi pada saat ini adalah kemalasan. Banyak alasan dapat dibuat ketika pelajar dihadapkan dengan sebuah buku atau setumpuk buku pelajaran, entah mengeluh karena bukunya sangat tebal ataupun mengantuk karena membaca buku yang sulit dicerna. Parahnya lagi buku dianggap sebagai suatu barang yang mengerikan dan menyusahkan.Persepsi yang salah mengenai buku akan membuat pelajar semakin tidak menyukai membaca buku. Membaca buku membuat mereka mengantuk karena mereka membaca buku di rumah saat akan tidur. Sementara itu, jarang sekali mereka membaca buku di luar menjelang tidur, misalnya pada saat jam istirahat sekolah. Akhirnya, secara perlahan-lahan kegiatan membaca buku yang membuat pelajar mengantuk itu tersimpan dibenak pelajar dan muncullah persepsi bahwa membaca buku hanya membuat seorang pelajar mengantuk.“Membaca buku merupakan suatu aktivitas yang sangat menyenangkan”. Sudut pandang inilah yang berusaha diangkat oleh penulis, pengubahan sudut pandang adalah hal pertama yang harus pelajar lakukan untuk masuk dalam dunia membaca dan mengubah persepsi membaca buku merupakan kebiasaan pelajar yang harus dibiasakan. Penulis juga meyakinkan mereka bahwa membaca adalah kegiatan untuk mengembangkan diri yang dapat dilakukan tanpa ada beban yang mengganjal.Maka dari itu, membaca buku tidak lagi dianggap sebagai hal yang membosankan. Membaca buku tidak lagi diidentikkan dengan rasa menjemukan apalagi melelahkan. Fenomena ini sangat ironis bagi pelajar dimasa sekarang, sebab sebagaimana kata pepatah buku adalah jendela dunia. Buku adalah gudangnya ilmu. Tetapi pepatah tersebut tinggalah pepatah belaka yang ha nya dipandang dengan sebelah mata oleh pelajar.Institusi sekolah dipercaya sebagai tempat menuntut ilmu karena di sekolah pelajar mengenal huruf, belajar mengeja, dan memahami buku. Namun sayang sekolah jarang mengajarkan kepada para peserta didiknya untuk memiliki kebutuhan terhadap buku. Fasilitas sekolah seperti perpustakaan dimanfaatkan siswa sebagai tempat untuk belajar secara mandiri. Kebiasaan membaca bagi pelajar masih sangat kurang. Fenomena ini akan penulis kaji mengapa mereka lebih suka bermain daripada membaca buku dan penulis akan me ngubah persepsi pelajar tentang membaca buku bukanlah hal yang memberatkan, antara lain dengan memanfaatkan fasilitas perpustakaan sekolah. Penulis mengajak siswa agar gemar membaca buku sehingga meningkatkan motivasi belajar. Judul makalah ini sengaja dipilih karena menarik perhatian penulis untuk dicermati dan perlu mendapat dukungan dari semua pihak yang peduli terhadap dunia pendidikan.

Method

Waktu dan Tempat PenelitianPenelitian ini berlangsung dari bulan September 2012 sampai dengan bulan Oktober 2012 dan tempat penelitian dilaksanakan di SMA Negeri 2 Ngaglik yang beralamat di Desa Sukoharjo, Kecamatan Ngaglik, Kabupaten Sleman.Jenis PenelitianPenelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang dilaksanakan dengan tujuan untuk memperoleh gambaran secara nyata terhadap fenomena yang ada pada siswa yang diteliti, yaitu siswa kelas XI program IPA dan IPS di SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman.Subjek PenelitianPenelitian ini dilaksanakan dengan mengambil lokasi di lingkungan SMA Negeri 2 Ngaglik, Kabupaten Sleman. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI Program IPA maupun IPS di SMA Negeri 2 Ngaglik.POPULASI DAN SAMPEL PENELITIANPopulasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas XI program IPA maupun IPS di : 26-38 SMA Negeri 2 Ngaglik. Selanjutnya dari populasi yang kemudian diambil sampel dalam penelitian ini sebagai responden sebanyak 50 orang yang terdiri dari 25 orang siswa dari program IPA dan 25 orang siswa dari program IPS. Adapun metode penentuan sampel yang digunakan adalah simple random sampling (acak sederhana).Informan PenelitianDalam penelitian ini selain dilakukan penelitian terhadap responden juga dilakukan wawancara mendalam atau indepth interview kepada para informan meliputi:1. Bapak Drs. Agus Marjanto, selaku Plh. Kepala SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman.2. Bapak Budiana S.Pd, sebagai Guru Bimbi ngan Konseling kelas XI SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman.3. Bapak Joko Santoso, sebagai Petugas Perpustakaan SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman.Metode PenelitianMetode pengumpulan data yang diguna- kan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:1. Metode angket atau kuisioner, yaitu dengan cara menyebarkan angket berupa daftar pertanyaan yang telah tersedia kepada para ressponden. 2. Metode wawancara atau interview yaitu dengan cara mengadakan wawancara secara langsung kepada beberapa informan yang telah ditentukan.3. Metode dokumentasi, yaitu dilakukan de ngan cara mengumpulkan data yang bersumber dari berbagai dokumen baik data primer (primery data) maupun data sekunder (secondary data).4. Studi pustaka (library research), yaitu dilakukan dengan melakukan kajian terhadap berbagai literatur yang sesuai dengan tema penelitian ini.Metode Analisis DataAdapun metode analisis data yang digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini adalah metode deskriptif analitis, yaitu dengan melakukan interprestasi secara kuantitatif terhadap data yang telah didapatkan dengan bantuan tabel frekuensi (kuantitatif persentase), kemudian diselaraskan dengan hasil studi pustaka. Selain itu juga digunakan metode analisis kualitatif terhadap data dari hasil wawancara mendalam dari para informan yang telah ditentukan.

Result

Dari hasil penelitian yang dilakukan de ngan metode penyebaran angket yang telah disebar kepada 50 orang siswa kelas XI program IPA maupun IPS di SMA Negeri 2 Ngaglik Sleman dan wawancara langsung kepada beberapa informan dan responden, selanjutnya dapat dikemukakan analisis hasil penelitian sebagai berikut:Peranan Media Perpustakaan Sekolah untuk Meningkatkan Motivasi Belajar1. Intensitas Responden Berkunjung ke Per-pustakaan SekolahSebagai salah satu fokus dalam penelitian ini, penulis juga melihat intensitas siswa berkunjung ke perpustakaan sekolah. Dari 50 orang responden setengahnya mengakui berkunjung ke perpustakaan seminggu sekali, 15 responden memilih pergi ke perpustakaan sekolah sebulan sekali, selain itu ada 6 responden menyatakan pergi ke perpustakaan sekolah 3 hari sekali yang tergolong intensitas sering. Sisanya yang pa ling memprihatinkan terdapat 4 orang yang me ngaku jarang berkunjung ke perpustakaan sekolah. Data selengkapnya pada tabel 1 berikut ini.Tabel 1. Intensitas Berkunjung ke PerpustakaanPilihan JawabanJumlahPersentaseSering (minimal 3 hari)612%Seminggu sekali2550%Sebulan sekali1530%Jarang (tidak pernah)48%Jumlah Responden50100%Setengah dari total responden (50%), mengakui bahwa mereka mengunjungi perpustakaan paling sedikit seminggu sekali. Mereka juga menyatakan bahwa kebanyakan dari responden mempunyai hobi membaca buku sehingga mereka datang untuk meminjam buku dari perpustakaan sekolah.Sebanyak 15 responden (30%) memilih jawaban mengunjungi perpustakaan dengan intensitas sebulan sekali. Mereka mengunjungi perpustakaan untuk mencari hiburan pada waktu senggang saja. Dalam hal ini fungsi rekreatif perpustakaan sangat berperan bagi mereka.Lain lagi dengan 6 responden (12%) yang senang membaca buku di perpustakaan. Mereka sering berkunjung ke perpustakaan sekolah dengan intensitas sering minimal 3 hari sekali, untuk sekedar membaca buku.Sedangkan sisanya 4 responden (8%) yang memilih pernyataan bahwa mereka jarang sekali pergi ke perpustakaan. Ada juga yang menyatakan tidak pernah ke perpustakaan. Hal ini sangat memprihatinkan, karena mereka juga mengaku tidak terlalu senang dengan kegiatan membaca buku. Mereka memilih bermain daripada membaca buku. Untuk lebih jelasnya dapat diperhatikan grafi k 1 berikut.Grafi k 1. Intensitas Berkunjung ke PerpustakaanSebagaimana terlihat dari grafi k 1, dapat disimpulkan bahwa responden paling banyak mengunjungi perpustakaan dengan intensitas satu minggu sekali. Hal ini merupakan aktivitas yang sangat baik bagi siswa, karena kebiasaan membaca buku di perpustakaan dapat membentuk siswa menjadi mandiri, karena banyak belajar dari buku yang mereka pinjam atau baca di perpustakaan sekolah. Semakin ba nyak siswa yang berkunjung ke perpustakaan sekolah wawasan siswa semakin lama semakin meningkat, sehingga motivasi belajar siswa akan meningkat. Untuk melihat seberapa besar minat siswa kelas XI berkunjung ke perpustakaan sekolah, berikut data sirkulasi peminjaman buku periode Januari sampai Juni 2012. KelasJan & FebMaret & AprilMei & JuniJumlahX533656145XI1415776274XII15610823287Guru dan karyawan34121561Jumlah350201155767(Sumber: Laporan Perpustakaan SMA Negeri 2 Ngaglik)Sebagaimana data sirkulasi peminjaman buku di Perpustakaan Sekolah SMA Negeri 2 Ngaglik di atas, dapat disimpulkan bahwa minat siswa kelas XI berkunjung untuk membaca dan meminjam buku di perpustakaan sekolah pasang surut terlihat sedikit menurun di bulan Maret dan April. Pada Mei dan Juni pengunjung mulai naik, namun penurunan kunjungan siswa kelas XI tidaklah signifi kan. Oleh karena itu minat siswa untuk berkunjung dan belajar secara mandiri di perpustakaan sekolah sangatlah tinggi. Maka peran perpustakaan sebagai pendorong minat membaca sangatlah penting untuk menumbuhkembangkan motivasi belajar siswa.2. Alasan Responden Berkunjung ke Per-pustakaan SekolahDari 50 responden, 29 orang diantaranya mempunyai alasan berkunjung ke perpustakaan karena buku-bukunya menarik. Selanjutnya terdapat 10 orang responden menyatakan berkunjung ke perpustakaan karena fasilitas lengkap, sebanyak 9 orang responden lainnya memilih jawaban karena perpustakaan suasananya te nang. Kemudian 2 orang responden memilih jawaban karena tempatnya luas dan bersih. Se bagaimana dapat dilihat pada tabel 2 dibawah ini.Pilihan JawabanJumlah PersentaseTempatnya luas & bersih24%Fasilitas lengkap1020%Buku-buku menarik2958%Suasana tenang918%Jumlah Responden50100%Tabel 2. Alasan Responden Berkunjung ke PerpustakaanData di atas menunjukkan bahwa sebagian besar 29 responden (58%), dari total ressponden mempunyai alasan berkunjung ke perpustakaan sekolah karena buku-bukunya ba nyak yang menarik. Menurut mereka bahwa buku perpustakaan yang sangatlah beragam merupa kan salah satu daya tarik bagi mereka. Maka me reka memanfaatkannya dengan mencari bahan-bahan referensi untuk melengkapi tugas sekolah.Selanjutnya sebanyak 10 (20%) orang responden memilih jawaban karena fasilitas lengkap. Mereka berpendapat bahwa fasilitas yang lengkap turut mempengaruhi kunjungan ke perpustakaan.Terdapat 9 orang responden (18%) memilih jawaban berkunjung ke perpustakaan sekolah karena suasana tenang, hal ini dipilih responden karena suasana tenang turut mempengaruhi konsentrasi responden saat membaca buku, oleh karena itu suasana yang te nang banyak dipilih responden untuk membaca buku atau belajar di perpustakaan sekolah.Sisanya 2 orang responden (4%) memilih jawaban karena tempatnya luas dan bersih, menurut beberapa responden tempat yang luas dan bersih membuat responden nyaman berada di perpustakaan sekolah. Untuk lebih jelasnya dapat diketahui dari grafi k 2 berikut ini. Grafi k 2. Alasan Berkunjung ke PerpustakaanPertanyaan selanjutnya adalah mengenai buku yang sering dipinjam para responden di perpustakaan sekolah. Dari 50 orang responden sebanyak 21 responden (42%) lebih memilih meminjam buku pelajaran. Menurut pernyataan responden, mereka meminjam buku pelajaran sekolah untuk menambah bahan bacaan buku mereka.Sebanyak 17 orang responden (34%) memilih meminjam novel fi ksi maupun non fi ksi untuk mereka baca. Menurut beberapa responden mereka sangat gemar membaca novel terutama yang sedang populer, hal ini merupakan salah satu daya tarik responden dalam memilih buku.Terdapat 9 orang (18%) memilih jawaban buku yang mereka pinjam buku yang pa ling banyak yaitu majalah. Menurut wawancara dengan responden, mereka memilih jawaban ini, karena mereka lebih senang membaca majalah yang dinilai lebih menarik karena terdapat banyak gambar dan ilustrasi dalam majalah.Selanjutnya terdapat 3 orang responden (6%) yang lebih suka meminjam jurnal ilmiah, menurut sebagian responden yang ditemui, fungsi perpustakaan sebagai fungsi penelitian dimanfaatkan responden untuk mencari bacaan yang dapat dijadikan obyek penelitian, mereka lebih tertarik membaca jurnal ilmiah karena menurut mereka, koleksi tersebut dapat memberi inspirasi bagi mereka, untuk melakukan penelitian ilmiah sederhana. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada grafi k 3 di bawah ini.Grafi k 3. Buku yang Banyak Dipinjam RespondenDari grafi k 3 tersebut dapat disimpulkan bahwa buku yang banyak dipinjam responden di Perpustakaan Sekolah SMA Negeri 2 Ngaglik adalah buku pelajaran yaitu 21 responden dari total 50 responden atau sebesar (42%). Menurut hasil wawancara langsung dengan responden, mereka dapat belajar secara mandiri dari buku-buku yang mereka pinjam di perpustakaan. Untuk itulah maka fungsi edukatif perpustakaan banyak dimanfaatkan siswa. Dengan demikian peran perpustakaan sekolah dapat menjadi media dalam pembelajaran sekolah sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.Faktor-faktor Pendukung dan Penghambat Kesadaran Membaca Buku Pada SiswaSebagai fokus dalam penelitian ini, penulis juga melihat faktor-faktor pendukung dan penghambat minat baca pada responden sebagai berikut: 1. Kebiasaan Responden Disaat Membaca BukuTerdapat 23 orang responden dari total 50 responden yang mempunyai kebiasaan membaca dengan suasana hening dan tenang. Sebanyak 16 responden mempunyai kebiasaan membaca sambil tiduran di tempat tidur. Seda ngkan 7 orang responden membaca sambil mendengarkan musik. Sebanyak 4 orang responden membaca buku sambil memakan camilan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 3 berikut.Tabel 3. Kebiasaan Responden Di saat Membaca BukuPilihan JawabanJumlahPersentaseMembaca dengan suasana hening dan tenang2346%Membaca sambil memakan camilan48%Membaca sambil tiduran di tempat tidur1632%Membaca sambil mendengarkan musik714%Jumlah Responden50100%Menurut data dari tabel 2, dapat disimpulkan bahwa sebanyak 23 orang responden (46%) mempunyai kebiasaan membaca buku memilih suasana hening dan tenang. Menurut mereka de ngan suasana yang tenang, membaca pun menjadi mudah untuk dipahami. Mereka menjadi le bih mudah berkonsentrasi, memahami, mengingat dan menghafalkan sesuatu. Hal ini merupakan salah satu kebiasaan yang baik, karena suasana tersebut sangat mendukung para siswa untuk berkonsentrasi di saat membaca buku.Ada juga yang mempunyai kebiasaan membaca sambil tiduran ditempat tidur yaitu sebanyak 16 orang responden (32%). Menurut mereka kebiasaan ini dilakukan karena rasa capek atau beban sekolah yang disebabkan banyaknya tugas yang diberikan. Selain itu kebiasaan membaca sambil tiduran juga dilakukan untuk melepas lelah.Lain lagi 7 orang responden (14%) yang menuliskan bahwa selama ini mereka mempunyai kebiasaan membaca buku sambil mende ngarkan musik. Bagi mereka, musik dapat membuat seseorang tenang dan dengan mendengarkan musik mereka menjadi lebih berkonsentrasi.Bagi 4 orang responden (8%) mempu nyai kebiasaan memakan camilan di saat membaca buku, menurutnya membaca menjadi lebih nyaman lagi. Untuk lebih jelasnya sebagaimana dapat dilihat dari grafi k 4 di bawah ini.Grafi k 4. Kebiasaan Responden Disaat Membaca BukuDari grafi k 4 dapat dilihat heterogenitas kebiasaan di saat membaca buku para responden. Dari grafi k 4 tersebut dapat diketahui bahwa kebiasaan yang paling banyak dilakukan responden disaat membaca buku ialah membaca buku dengan suasana he ning atau tenang sebanyak (46%). Menurut pernyataan sebagian besar responden, dalam membaca buku siswa memerlukan konsentrasi yang tinggi untuk lebih memahami buku tersebut. Hal ini merupakan kebiasaan yang sangat positif dan tergolong sebagai faktor pendorong untuk meningkatkan minat membaca siswa.2. Sikap Membaca Buku RespondenSebagai salah satu fokus dalam penelitian ini penulis juga melihat sikap membaca para responden. Dari 50 responden, sebanyak 26 orang responden memilih pernyataan bahwa mereka mengakui ketika membaca buku mereka membacanya dengan menyuarakan atau dijaharkan. Selanjutnya sebanyak 13 orang responden menyatakan ketika membaca buku dengan jeda dan mengulanginya lagi. Sebanyak 11 responden mengemukakan bahwa ketika mereka membaca tidak hanya duduk saja. Data selengkapnya sebagaimana dapat diketahui dari tabel 4 berikut. Tabel 4. Sikap Membaca Para RespondenPilihan JawabanJumlahPersentaseMembaca sambil berjalan tidak hanya duduk saja 1122%Membaca dengan menyuarakan2652%Membaca dengan jeda1326%Jumlah Responden50100%Data di atas menunjukkan bahwa sebagian besar responden membaca buku dengan sikap menyuarakannya yaitu sebanyak 26 orang responden (52%) dari total 50 responden. Alasan dari tiap responden berbeda satu sama lain namun kebanyakan dari mereka mengutarakan karena dengan sikap membaca dengan menyuarakan, membaca buku semakin mudah untuk diingat.Selain itu, sebanyak 13 responden (26%) menyatakan membaca buku dengan penjedaan. Mereka mempunyai alasan yang hampir sama yaitu agar mereka mudah memasukan kedalam ingatan mereka sehingga sulit untuk dilupakan kembali. Hal ini merupakan contoh hal yang baik bagi siswa.Sebanyak 11 responden (22%) mempunyai sikap membaca yang berbeda yaitu membaca sambil berjalan. Mereka menjawab bahwa membaca buku tidak hanya ketika duduk saja tetapi dimanapun saja meskipun dalam sikap berjalan. Alasan lain juga menyebutkan yaitu agar rileks dalam membaca buku, sehingga kegiatan membaca tidak menjemukan bagi siswa.Untuk lebih jelasnya dapat kita lihat bersama pada grafi k 5 sebagai berikut.Grafi k 5. Sikap Membaca Buku Para RespondenSebagaimana terlihat dari grafi k 5 di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa sikap membaca sebagian besar para responden dengan menyuarakan. Hal ini merupakan faktor pendorong minat baca dan sikap yang baik untuk meningkatkan minat membaca siswa. Menurut mereka, sikap membaca ini sangatlah membantu responden apabila mereka menemukan kalimat-kalimat yang sulit dicerna. Oleh karena itu, responden membaca dengan menyuarakannya. Jadi suara responden dapat ditangkap oleh telinga, sehingga telinga mereka dapat membantu mencerna kalimat-kalimat yang sulit. 3. Persepsi atau Pandangan Responden Tentang Membaca BukuSebagai salah satu fokus dalam penelitian ini juga melihat bagaimana persepsi atau panda ngan tentang membaca buku menurut responden. Dari total 50 orang responden, 17 diantaranya menyatakan mengantuk saat membaca buku. Selanjutnya membaca karena terpaksa disuruh orang tua atau guru sebanyak 14 responden. Selain itu ada 10 responden merasa pusing karena terlalu serius membaca buku yang sulit dicerna. Kemudian sebanyak 9 responden malas membaca karena halaman buku yang terlalu tebal, sebagaimana dapat dilihat dari tabel 5 di bawah ini.Tabel 5. Persepsi atau Pandangan Responden tentang Membaca BukuPilihan JawabanJumlahPersentaseMengantuk saat membaca buku1734%Membuat pusing karena terlalu serius membaca1020%Malas membaca karena halaman buku terlalu tebal918%Terpaksa atau disuruh orang tua atau guru1428%Jumlah Responden50100%Data di atas menunjukkan dari total responden yang berjumlah 50 orang, 17 orang responden (34%) menyatakan pandangan mereka bahwa buku membuat siswa mengantuk. Persepsi siswa yang salah tersebut sangat beralasan karena sebagian besar responden mengakui, bahwa mereka membaca buku setiap hari di rumah pada malam hari di saat ingin tidur.Selanjutnya 14 responden (28%) memilih jawaban karena terpaksa atau hanya ketika disuruh orang tua atau guru saja. Hal ini perlu dicermati lagi bagi siswa, karena responden membaca buku bukan karena kemauan sendiri tetapi karena dorongan orang lain. Oleh karena itu sangat diperlukan solusi pemecahan masalah untuk mengatasi masalah ini.Sebanyak 10 responden (20%) menganggap bahwa membaca buku membuat siswa pusing. Menurut mereka penyebabnya karena siswa terlau serius membaca. Sebab dengan membaca buku membutuhkan banyak tenaga apalagi mereka menemukan buku yang sulit dicerna. Bagi mereka hal tersebut merupakan salah satu faktor pendorong minat membaca siswa masih rendah.Kemudian sebanyak 9 responden (18%) mempunyai persepsi bahwa mereka malas membaca karena bukunya yang terlalu tebal. Parahnya lagi menurut mereka bahwa buku dianggap suatu barang yang mengerikan dan menyusahkan. Memang tidak semua siswa mempunyai pandangan seperti itu. Oleh karena itu penulis ingin mengetahui hambatan-hambatan yang terjadi sehingga mempengaruhi minat baca, dan paradigma yang sedang berkembang dikalangan siswa. Untuk lebih jelasnya dapat diketahui dari grafi k 6 berikut ini.Grafi k 6. Persepsi Membaca Buku Menurut RespondenSeperti dapat dilihat dari grafi k 6 di atas, dapat disimpulkan bahwa persepsi atau pandangan responden terhadap buku sebagian besar yaitu mengantuk. Paradigma inilah yang membuat aktivitas membaca buku sering dihindari. Begitu pula persepsi yang salah mengenai buku akan membuat siswa semakin Tidak menyukai buku. Faktor inilah yang menjadi penghambat minat membaca siswa. Maka dari itu diperlukan solusi agar siswa tidak mudah mengantuk jika mereka sedang membaca buku.CARA MEMBANGUN KESADARAN MEMBA-CA BUKU PADA SISWA UNTUK MENINGKAT-KAN MOTIVASI BELAJARa. Metode Membaca yang MenyenangkanPerihal bahwa faktor penghambat minat siswa dalam membaca buku, salah satunya yaitu pandangan siswa tentang membaca buku hanya membuat mereka mengantuk, ada beberapa metode atau cara menurut Hernowo (2004) dalam bukunya yang berjudul Quantum Reader, Membaca lebih efektif, lebih bermakna dan lebih cerdas. Diantaranya sebagai berikut :1. Agar membaca buku tidak menyebabkan kantuk, maka membaca buku harus melibatkan seluruh panca indera siswa. Yakni ketika membaca siswa harus memvisualisasikan bahan yang siswa baca (indera penglihatan), lalu mencoba menyuarakannya (indera pendengaran) serta menyusunnya dalam urutan yang logis.2. Ketika membaca buku hendaklah berani berimajinasi. Setiap kata dan kalimat yang siswa baca akan menimbulkan sensasi berbeda yang akan membangkitkan imajinasi siswa.3. Untuk mendapatkan informasi dari buku yang dibaca, siswa dapat memaksimalkan daya ingat dengan melibatkan emosi ketika membaca buku.Dengan ketiga cara di atas, faktor penghambat minat membaca buku akan dapat teratasi. Dengan demikian motivasi siswa untuk belajar secara mandiri akan meningkat. Maka siswa tidak lagi memandang buku hanya berupa kumpulan teks dan kalimat-kalimat belaka, tetapi ada sebuah tantangan, permainan dan sensasi yang akan membuat siswa tetap santai dan menyenangi buku. Dari sini lalu siswa akan kembali meyakini bahwa buku adalah sebuah gudang ilmu dan semakin meyakini bahwa membaca buku adalah kegiatan yang sangat menyenangkan.Dalam buku lainnya yang berjudul Melahap Buku Seperti Pizza karangan Hernowo (2004), disebutkan bahwa perubahan cara pandang adalah hal pertama yang harus siswa lakukan untuk masuk dalam dunia bacaan. Dengan paradigma baru seperti memandang buku sebagai makanan, siswa akan semakin gemar membaca. Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan seperti :1. Pilih buku yang siswa suka sebagaimana siswa memilih makanan yang siswa sukai. Hal tersebut bertujuan agar siswa dapat menikmati bacaan siswa dan tidak mudah jenuh.2. Cicipilah buku sebelum siswa membaca. Seperti siswa dapat mengenali dahulu siapa pengarangnya.3. Bacalah buku sedikit demi sedikit. Apabila siswa menemukan buku dengan halaman yang tebal sehingga siswa awang-awangenuntuk membacanya ingatlah bahwa tidak harus semua halaman buku tuntas dibaca, tetapi cari halaman yang menarik dan notabene mempunyai nilai manfaat tinggi.Dengan ketiga cara ini pandangan siswa terhadap buku akan berubah, kemudian mereka menyadari bahwa sebuah buku merupakan makanan yang siap mengenyangkan rohani siswa. Bahkan dapat diibaratkan buku merupakan makanan dengan gizi yang paling tinggi diantara jenis makanan rohani yang lain. Sebab dengan membaca buku seorang siswa mampu mengaktifkan syaraf-syaraf otak siswa. Aktivitas membaca buku juga dapat menggabungkan banyak aktifi tas penting lainnya. Sehingga siswa terbentuk kebiasaan membaca buku, akan tetapi tidak menjadikan buku sebagai beban psikis bagi mereka.HUBUNGAN KESADARAN MEMBACA BUKU DENGAN MENINGKATNYA MOTIVASI BELA-JAR SISWA1. Aktivitas Sosial RespondenFokus dalam penelitian ini juga melihat hubungan kesadaran membaca buku dengan meningkatnya motivasi belajar siswa. Menurut hasil penelitian terdapat 27 orang responden dari total 50 responden yang memilih jawaban lebih suka membaca buku daripada bermain handphone. Sebanyak 16 responden memilih pergi ke perpustakaan sekolah daripada jajan di kantin. Sebanyak 7 orang memilih mengobrol dan bermain dengan teman daripada membaca buku. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 6 berikut.Tabel 6. Aktivitas Sosial Responden di Luar KBMPilihan JawabanJumlahPersentaseke perpustakaan daripada jajan1632%Mengobrol dan bermain dengan teman daripada baca buku714%Memilih membaca buku daripada bermain hp2754%Jumlah Responden50100%Dari tabel 6 dapat dilihat bahwa 54% dari 50 responden siswa kelas XI, cenderung lebih menyukai membaca buku dibandingkan dengan bermain handphone. Sebagian besar responden berpendapat bahwa bermain dengan handphone hanya menganggu kegiatan belajar , baik di rumah maupun di sekolahSelanjutnya terdapat 16 orang responden (32%), menyatakan memilih membaca buku di perpustakaan daripada jajan ke kantin. Mereka juga berpendapat disamping pergi ke perpustakaan sekolah lebih bermanfaat mereka juga dapat menghemat uang saku mereka.Lain lagi dengan 7 orang responden (14%), memilih mengobrol dan bermain dengan teman daripada membaca buku. Mereka meluangkan waktunya untuk mengobrol dan bermain. Mereka lebih nyaman dengan aktivitas tersebut daripada membaca buku. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat grafi k 7 berikut ini.Grafi k 7. Aktivitas Sosial Responden Di Luar KBMDari grafi k 7 dapat disimpulkan bahwa kesadaran siswa tentang pentingnya membaca buku tergolong tinggi, terlihat bahwa sebagian besar responden memilih membaca buku daripada bermain handphone sebesar (54%). Kemudian responden menyatakan memilih pergi ke perpustakaan sekolah (16%) di waktu jam istirahat dibandingkan pergi ke kantin sekolah. Hal ini menunjukkan motivasi belajar siswa sangat tinggi di sekolah terutama dengan adanya fasilitas perpustakaan sekolah yang menjadi media belajar tambahan bagi siswa.Pertanyaan selanjutnya mengenai ketertarikan responden memilih tempat untuk membaca. Dalam hal ini terdapat pilihan jawaban lebih senang membaca buku di perpustakaan sekolah atau sewaktu di rumah. Dari 50 responden, 27 orang memilih lebih suka membaca buku di perpustakaan. Alasan responden sangat beragam tetapi sebagian besar menyatakan membaca buku di perpustakaan lebih nyaman karena suasananya sangat mendukung karena jauh dari kebisingan.Selanjutnya 23 orang responden menyatakan lebih senang membaca buku saat di rumah, alasan dari beberapa responden yang sangat menonjol yaitu karena di rumah mereka lebih leluasa atau nyaman. Tetapi ada juga responden yang menyatakan jika membaca buku di rumah tidak dapat berkonsentrasi karena ada berbagi hal yang menganggu. Sebagaimana dapat dilihat dari Tabel 7 berikut ini.Tabel 7. Tempat Membaca Favorit RespondenPilihan JawabanJumlahPersentaseMemilih membaca di perpustakaan sekolah2754%Memilih membaca buku di rumah2346%Jumlah Responden50100%Menurut data dari tabel 7 di atas, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar responden (54%) memilih lebih suka membaca buku di perpustakaan sekolah daripada membaca buku di rumah. Dari wawancara langsung pada beberapa responden, mereka berpendapat bahwa mereka lebih senang membaca di perpustakaan daripada di rumah. Sebab suasana di perpustakaan lebih tenang. Ini menunjukkan bahwa perpustakaan sekolah dapat dijadikan tempat untuk meningkatkan motivasi belajar siswa di sekolah. Untuk lebih jelasnya lihat grafi k 8 di bawah ini.Grafi k 8. Tempat Membaca Buku Favorit Menurut Responden

Conclusion

Dari uraian pembahasan yang merupakan arahan dari rumusan masalah dalam makalah ilmiah ini, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :1. Perpustakaan sekolah sangat berperan sebagai salah satu media peningkatan motivasi belajar siswa. Hal ini terbukti dengan minat kunjungan siswa ke perpustakaan sangat tinggi yaitu dengan intensitas satu minggu sekali. Semangat belajar siswa juga terlihat ketika siswa berusaha belajar secara mandiri dengan meminjam buku pelajaran di perpustakaan sekolah untuk menambah referensi buku mereka.2. Cara membangun kesadaran membaca buku pada siswa yaitu dengan mengubah perilaku atau mengurangi faktor-faktor penghambat minat baca pada siswa, dengan menggunakan metode membaca yang lebih menyenangkan.3. Hubungan kesadaran membaca buku dengan meningkatnya motivasi belajar terlihat dengan antusias siswa yang lebih menyukai membaca buku daripada bermain handphone atau gemar membaca buku di perpustakaan daripada kegiatan yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa siswa menyadari betapa pentingnya manfaat membaca buku terutama bagi seorang pelajar