Kembali
16
1
2013 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 4 · 1 ISSN 2715-274X

PERPUSTAKAAN DAN PELESTARIAN KEBUDAYAAN

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstract

Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan nilai-nilai budaya. Keanekaragaman budaya membentang dari Aceh hingga Papua. Peran perpustakaan menjadi sangat penting sebagai wujud upaya menjaga nilai-nilai kebudayaan dalam melestarikannya. Sebab perpustakaan berfungsi sebagai pelestari ilmu pengetahuan, budaya, dan peradaban suatu bangsa. Disinilah hasil-hasil budaya bangsa dihimpun, dicatat, dikelompokkan, diawetkan dan dilayankan kepada masyarakat untuk dikembangkan lebih lanjut. Mungkin ini yang harus menjadi pemikiran kita bersama berkenaan dengan permasalahan seperti terungkap pada judul di atas. Negara Kesatuan Republik Indonesia dikenal memiliki banyak pulau dan membentang dari ujung barat Sumatera hingga timur Papua. Apabila wilayah Indonesia dibentangkan maka kepulauan Indonesia sama dengan luas benua Eropa. Oleh sebab itu maka peran perpustakaan sangat penting sebagai tempat pelestarian bagi budaya yang eksis dan beraneka ragam yang terdapat di Indoneasia. Kekayaan budaya berupa naskah itu merupakan salah satu hasil karya peradaban pemikiran gemilang masyarakat Nusantara di masa lampau. Kandungan nilai-nilai dan pandangan hidup itu perlu dilestarikan sebab nilai-nilai luhur itu akan menjadi katalisator kemajuan bangsa di era globalisasi ini. Perpustakaan menjadi sangat penting dalam mewujudkan upaya pelestarian warisan budaya bangsa antara lain untuk mendukung kegiatan penelitian, pengkajian, dan penyebarluasan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya. Perpustakaan dapat berperan dalam upaya pelestarian nilai-nilai budaya serta menjamin keberadaan warisan budaya hingga masa yang akan datang
Keywords: perpustakaan · pelestarian budaya

Introduction

Munculnya berbagai peradaban bangsa di Nusantara ini telah menunjukkan tingkat peradaban tinggi yang telah dicapai nenek moyang kita di masa lampau. Bentuk peradaban bangsa-bangsa di Nusantara telah tertuang di dalam berbagai naskah-naskah kuno hal ini telah menjadi bukti yang diakui bahwa bangsa kita telah menuangkan hasil pemikiran mereka melalui tulisan dan telah dikenal luas oleh dunia internasional. Pemikiran itu meliputi kajian tentang manusia dan semesta alam serta hal-hal yang melingkupinya. Semua itu telah terekam dalam naskah-naskah kuno yang tersebar di seluruh wilayah Nusantara. Naskah-naskah kuno tersebut merupakan warisan budaya masa lalu merupakan catatan berharga pada masa itu yang memiliki keterkaitan dan ikatan erat dengan keberadaan masyarakat sekarang. Titik tekan yang harus ada pada masyarakat adalah mengenai pentingnya menggali nilai-nilai luhur yang termuat di dalamnya yang akan menumbuhkan pemahaman bahwa peradaban dan kekayaan yang tak ternilai harganya tersebut merupakan khasanah kebudayaan bangsa yang harus dilindungi dan dilestarikan.Bentuk dan upaya pelestarian tersebut menjadi penting dilakukan mengingat naskah-naskah peninggalan zaman dahulu banyak dijumpai dalam kondisi tidak utuh. Apalagi pada masa penjajahan Belanda banyak sekali naskah-naskah berupa manuskrip telah diangkut ke negeri Belanda dan kini tersimpan di perpustakaan Leiden Belanda. Bentuk naskah dan manuskrip tersebut adalah sebagai warisan budaya bangsa Indonesia yang memiliki wujud konkret dan menjadi identitas bangsa. Naskah-naskah kuno sering dikategorikan sebagai budaya benda (tangible) dan menuntut penanganan khusus karena mudah rusak. Namun demikian, upaya pelestarian warisan budaya masa lampau itu banyak menghadapi kendala. Hal yang sering menjadi bahan perdebatan dalam penanganan naskah kuno adalah usaha pelestarian secara fi sik yang berkaitan dengan cara penyimpanan atau cara pengawetan naskah. Akan tetapi sebenarnya usaha pelestarian nilai-nilai budaya yang menjadi sumber sikap dan tingkah laku manusia dalam kehidupan sosial budayanya justru inilah yang lebih penting.Terkait dengan hal itu perpustakaan sebagai tempat untuk menyimpan dan menyebarkan ilmu pengetahuan memainkan peran penting. Penyimpanan khasanah budaya bangsa dan apresiasi budaya masyarakat sekitar perpustakaan melalui penyediaan bahan bacaan merupakan fungsi kultural perpustakaan. Berdasarkan penjelasan yang dikemukakan oleh Sulistyo-Basuki (1991), bahwa perluasan fungsi kultural perpustakaan nantinya harus mengarah pada upaya pelestarian nilai-nilai kebudayaan.Eksistensi kondisi perpustakaan dari masa ke masa tak terlepas dari perkembangan budaya umat manusia. Budaya yang oleh Koentjaraningrat (1983) dirumuskan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar bersifat abstrak. Bentuk tercetak dari hasil pemikiran orang-orang zaman dahulu yang sekarang dikenal sebagai warisan budaya materi (tangible) dalam bentuk naskah-naskah kuno memuat nilai budaya dan makna simbolis yang berarti bagi pengukuhan jati diri sebuah bangsa. Usaha penyimpanan dokumen dan naskah-naskah kuno oleh perpustakaan memungkinkan terpeliharanya budaya masa lalu tetap eksis dan mendapatkan tempatnya didalam tatanan sosial budaya masyarakat sekarang dan yang akan datang. Dengan adanya peranan perpustakaan sebagai wadah budaya memungkinkan adanya sebuah mata rantai yang menghubungkan sejarah masa lalu dengan masa kini dan pelajaran yang berarti bagi kehidupan masa yang akan datang, maka jelas peranan perpustakaan tak dapat diabaikan.Berangkat dari wacana untuk memperbaiki kondisi bangsa yang kini tengah dilanda krisis multidimensi, berbagai kalangan mengungkapkan perlunya upaya penggalian nilai-nilai budaya masa lalu. Kebutuhan akan identitas diri atau jati diri bagi sebuah bangsa di tengah maraknya globalisasi menggugah bangsa ini untuk memberdayakan nilai-nilai budaya yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan masa depan. Kesadaran untuk menemukan kembali akar kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di masyarakat mengukuhkan gagasan untuk lebih meningkatkan penelitian, pengkajian, dan penyebarluasan khasanah kebudayaan yang tergolong langka tersebut.Tugas perpustakaan artinya suatu kewajiban yang telah ditetapkan untuk dilakukan perpustakaan. Setiap perpustakaan mempunyai tugas sebagaimana yang telah diberikan oleh lembaga induknya. Pada dasarnya sebuah perpustakaan tidak berdiri sendiri, melainkan berada di dalam suatu ruang lingkup atau di bawah koordinasi suatu organisasi. Perpustakaan Nasional RI, misalnya merupakan salah satu lembaga Pemerintah Non-Departemen berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Perpustakaan umum merupakan salah satu perangkat pemerintah daerah di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Daerah (Bupati/ Walikotamadya). Perpustakaan khusus/ kedinasan berada di bawah dan bertanggung jawab kepada kepala unit kerja/ instansi yang bersangkutan. Perpustakaan perguruan tinggi berada di dalam suatu lembaga pendidikan tinggi. Oleh karena itu kedudukan sebuah perpustakaan merupakan unsur penunjang dan tugasnya menjalankan sebagian dari tugas pokok organisasi.Menurut Keputusan Presiden RI Nomor 103 tahun 2001, Perpustakaan Nasional (Perpusnas) RI bertugas melaksanakan tiga pemerintahan di bidang perpustakaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Badan perpustakaan daerah atau lembaga yang sejenis di tingkat provinsi merupakan unsur penunjang pemerintah dan bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah sedangkan tugasnya menyelenggarakan kegiatan perpustakaan, dokumentasi dan informasi lainnya, terutama bagi masyarakat di wilayah yang bersangkutan. Perpustakaan perguruan tinggi, yang merupakan bagian dari lembaga pendidikan tinggi tersebut dan bertugas memfasilitasi program pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat atau Tri Dharma Perguruan Tinggi. Perpustakaan Umum yang berada pada tingkat kabupaten/ kota mempunyai tugas di bidang layanan informasi, pendidikan, rekreasi, preservasi dalam rangka ikut mencerdaskan kehidupan masyarakat secara luas. Sementara itu perpustakaan sekolah ugasnya adalah menunjang terselenggaranya proses belajar di sekolah yang bersangkutan. Sementara itu perpustakaan yang lain, pada prinsipnya mempunyai tugas menunjang kegiatan organisasi, karena keberadaan perpustakaan merupakan kebutuhan yang tidak kalah pentingnya seperti halnya bagian perangkat yang lain dalam menyelenggarakan pengembangan dan pembinaan perpustakaan dalam rangka pelestarian bahan pustaka sebagai hasil budaya dan pelayanan informasi ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebudayaan memainkan peran strategis dalam mewujudkan gagasan tersebut. Selanjutnya, pelestarian khasanah budaya dapat direalisasikan dengan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya pada semua kalangan, khususnya para peminat dan pecinta naskah Nusantara, untuk menggali nilai-nilai luhur yang terkandung dalam naskah-naskah kuno melalui penelitian, pengkajian, maupun pengajaran. Dengan demikian maka yang menjadi kajian selanjutnya adalah mengenai, hal-hal apa saja yang perlu dilakukan untuk mendukung langkah positif tersebu

Method

Jenis Penelitian Salah satu metode yang mampu mewadahi pendekatan tema Perpustakaan dan pelestarian budaya adalah metode kualitatif. Hal ini karena metode kualitatif relatif dapat menganalisis realitas sosial secara lebih mendalam. Metode kualitatif dapat digunakan untuk mempelajari membuka, dan mengerti apa yang terjadi di belakang setiap fenomena yang baru sedikit diketahui (Straus & Corbin, 1990 : 19). Penelitian dengan pendekatan kualitatif lebih menekankan analisisnya pada proses penyimpulan deduktif induktif serta pada analisis terhadap dinamika hubungan antar fenomena yang diamati dengan menggunakan logika ilmiah(Saifuddin, 1998 : 5)Bong dan Taylor (1975 : 5) mendefi nisikan “Metodologi kualitatif” sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriftif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang diamati. Menurut mereka pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Jadi, dalam hal ini tidak boleh mengisolasi individu atau organisasi kedalam variable atau hipotesis, tetapi justru perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. Oleh karena itu metode yang akan digunakan di dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif.2. Data yang dibutuhkanDalam setiap penelitian disamping menentukan jenis penelitiannya diperlukan pula data penelitian yang akan memudahkan peneliti melakukan penelitian dan mencapai hasil penelitian yang valid. Sumber data pada penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder.Data primer yakni data yang diperoleh langsung dari subyek penelitian atau data yang dikumpulkan oleh peneliti dari responden. Data primer ini bersumber pada keberadaan perpustakan yang ada di tiap kabupaten kota. Sedangkan data sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan oleh pihak lain atau merupakan pendukung data primer yang diambil dari dokumentasi yaitu bahan tertulis seperti buku, koran, majalah dan yang sejenis serta dari lokasi penelitian itu sendiri(Nawawi & Martini, 1992 : 69) 3. Teknik Pengambilan DataMenurut Nazir (1983 : 221) tehnik pengumpulan data didefi nisikan sebagai prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan. Teknik pengumpulan data ini sangat berpengaruh pada obyektivitas hasil penelitian. Dengan kata lain memungkinkan dicapainya pemecahan masalah secara valid dan reliabel (Nawawi, 1983 : 110). Sesuai defi nisi tersebut tehnik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi: observasi, wawancara, dan dokumentasi.a. ObservasiObservasi biasa diartikan sebagai pen-gamatan data didefi nisikan sebagai prosedur yang sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki (Hadi, 1970: 132). Pada teknik ini, peneliti mengada-kan penelitian langsung ke daerah pene-litian.Alasan secara metodologi bagi peng-gunaan pengamatan ini ialah pengamat dapat mengoptimalkan kemampuan peneliti dari segi motif, kepercayaan, perhatian. Observasi ini dilakukan dengan harapan dapat mencatat ke-mungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi di lingkungan sekitar yang ber-hubungan dengan obyek penelitian, maupun sikap yang lahir dari tingkah laku dan hasilnya diharapkan dapat membantu selesainya penulisan ini.b. DokumentasiMenurut Surachmat (1982: 132), doku-mentasi merupakan cara peneliti untuk menjelaskan dan menguraikan apa-apa yang telah lalu melalui sumber-sumber dokumen. Teknik ini adalah cara meng-umpulkan data penelitian melalui benda benda tertulis atau dokumen yang dapat digunakan untuk melengkapi data yang diperlukan di dalam penelitian. Data tersebut diperoleh dari arsip-arsip, buku-buku, internet tentang pendapat, teori, dalil/ hukum-hukum, majalah, catatan harian dan sebagainya.Dalam penelitian ini, dokumentasi di-perlukan sebagai bahan acuan peneliti dalam menyusun kerangka teori dan berfungsi sebagai pedoman, karena dalam penelitian ini data dianalisis secara terus menerus sejak awal hingga akhir penelitian.c. Teknik Analisis DataTeknik analisis data merupakan upaya mencari data dan mendata secara sistematis catatan hasil pengumpulan data untuk meningkatkan pemahaman terhadap objek yang sedang diteliti. Pene-litian pada hakikatnya berarti rangkaian kegiatan atau proses pengungkapan sesuatu yang belum diketahui dengan menggunakan metode yang sistema-tis dan terarah. Keseluruhan rangkaian berupa pengumpulan, pengolahan, dan penginterpretasian data diajukan untuk mendapatkan kebenaran yang terdapat pada permasalahan yang dihadapi.Seperti telah dikemukakan di atas bahwa penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Dalam penelitian kualitatif data dianalisis secara terus menerus sejak awal hingga akhir penelitian. Metode analisanya bersifat induktif, yaitu berawal dari hal-hal yang bersifat khusus ke hal-hal yang bersifat umum. Oleh karena itu, proses analisis data dimulai dengan menelaah seluruh data yang telah diperoleh dari beberapa sumber, seperti observasi, wawancara dan dokumentasi. Lebih lengkapnya tentang analisa data adalah sebagai berikut.Pertama dilakukan pengumpulan data yang dibutuhkan, kemudian dilakukan penilaian data yang didasarkan kepada prinsip validitas dan rehabilitas. Se-lanjutnya dilakukan penafsiran data, artinya memberikan makna pada analisis, menjelaskan pola dan mencari hubungan antara konsep. Penafsiran ini dimaksudkan sebagai usaha memilih dan menggolongkan dalam kategori-kategori tertentu. Langkah terakhir adalah melakukan interpretasi, meliputi pembuatan keputusan dan penyusunan kesimpulan yang berkaitan dengan per-tanyaan dalam penelitian

Discussion

Peran Perpustakaan dalam Upaya Me-numbuhkan Tradisi Kebudayaan Peran perpustakaan dalam melestarikan kebudayaan dapat dilakukan dengan mendokumentasikan berbagai penerjemahan dan penyaduran naskah-naskah kuno dari bahasa aslinya ke dalam bahasa-bahasa yang digunakan oleh masyarakat modern. Hal ini telah banyak dilakukan oleh para ahli dari dalam maupun luar negeri. Sumbangan dan peran para ahli dalam menerjemahkan dan mengartikan naskah naskah kuno yang berkaitan dengan nilai-nilai kebudayaan sangat besar terutama dalam upaya mencari dan menghidupkan kembali spirit kejayaan masa lalu. Sejarah masa lalu menjadi aspek penting dalam kehidupan manusia karena masa lalu adalah sumber inspirasi yang berfungsi sebagai bekal bagi perjalanan dan pijakan manusia menuju masa depan. Peran serta andil perpustakaan dalam upaya menghidupkan kembali kebesaran masa lalu tampak terlihat jelas dalam pengungkapan kembali khasanah kesusastraan Islam zaman kekhalifahan di Andalusia Spanyol dan kekhalifahan Abasiyah di Baghdad yang menggunakan bahasa Arab dan diterjemahkan ke dalam bahasa Latin kuno oleh kaum humanis Eropa. Pada saat itu kekhalifahan Islam di Andalusia Spanyol dan kekhalifahan Abasiyah di Baghdad menjadi pusat peradaban dunia dan banyak orang Kristen Eropa belajar di dunia Islam ketika itu lalu menterjemahkan karya karya para pemikir, cendekiawan, fi lsuf, dari dunia Islam kedalam bahasa Latin.Penerbitan naskah berbahasa Arab Latin secara besar-besaran yang dilakukan Gereja Katholik untuk melawan pembaharuan agama yang dipelopori Martin Luther menyebabkan jumlah buku-buku berbahasa Latin melimpah di pasaran. Gerakan Kontra-Reformasi yang berlangsung singkat menyurutkan perhatian kalangan terpelajar di Eropa terhadap naskah-naskah tersebut. Akibatnya, buku-buku yang telanjur dicetak dalam jumlah besar sulit dijual. Perpustakaan-perpustakaan Katholik berusaha menampung buku-buku yang beredar hingga muncul penghargaan terhadap pencapaian kecanggihan gaya penulisan para penulis di masa itu, di era selanjutnya (Anderson, 2001). Penyimpanan naskah-naskah berbahasa Latin yang dilakukan perpustakaan-perpustakaan Katholik memungkinkan naskah-naskah itu menjadi rujukan kaum inteligensia di kemudian hari.Begitu juga hal yang sama telah dilakukan di Indonesia. Lembaran-lembaran naskah-naskah kuno dikaji agar muncul spirit akan kejayaan dan semangat kebesaran di masa lampau dapat dihidupkan kembali di Indonesia. Usaha-usaha penerjemahan dan penyaduran dilakukan agar masyarakat Indonesia di masa sekarang dapat mempelajari prinsip-prinsip atau nilai-nilai luhur serta spirit yang mendukung bagi kemajuan bangsa Indonesia kedepan. Bentuk karya-karya yang dihasilkan para pujangga masa lalu banyak yang disimpan di museum atau perpustakaan daerah kemudian diteliti, serta dikaji, dan kemudian disebarluaskan melalui pengajaran secara ilmiah.Perpustakaan dalam skala nasional di Indonesia jelas memiliki peranan yang sangat penting serta peluang yang cukup besar dalam upaya pengkajian dan penyebarluasan tersebut. Untuk itu perlu adanya hubungan yang dekat antara Perpustakaan Nasional RI dengan komponen masyarakat yang mendukung pelestarian kebudayaan yang bersangkutan memungkinkan penerjemahan dan penyaduran naskah-naskah kuno ke dalam bahasa Indonesia tanpa harus mengesampingkan nilai nilai artistik yang terkandung didalamnya serta yang telah dicapai dalam bahasa aslinya. Isi naskah-naskah kuno tidak hanya memuat cerita atau pesan tersirat akan tetapi juga memuat nilai dan unsur artistik serta estetik yang mencerminkan karakter masyarakat Indonesia pada masanya. Proses penerjemahan dan penyaduran yang disertai versi aslinya memungkinkan masyarakat menemukan karakteristik tersebut. Sebagai contoh adalah didalam penyaduran naskah kuno terdapat nilai-nilai keunikan, misal hasil penerjemahan dan penyaduran Centhini ke dalam bahasa Indonesia yang diterbitkan Galang Press justru berasal dari hasil adaptasi Centhini yang berasal dari versi Prancis oleh Elizabeth D. Inandiak (2002). Sebagai hasil penerjemahan dan penyaduran dari sebuah karya adaptasi berbahasa asing, adalah tidak adanya bentuk penuturan versi Jawa yang dicantumkan di dalamnya. Oleh karena itu maka dalam penerjemahan dan penyaduran karya-karya pujangga Jawa, versi asli dalam bahasa Jawa biasanya dicantumkan. Hal itu dianggap penting karena ternyata bentuk spirit atau nuansa alami (natural) yang melingkupi ketika karya itu dibuat hanya dapat dirasakan dalam penuturan bahasa aslinya.Berbagai koleksi terjemahan naskah-naskah berbahasa Jawa seperti Wedhatama, Kalatidha, Cemporet, dan Joko Lodhang yang disimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta dan Suluk Saloka, Serat Kalatida, Paramayoga dan Serat Wirid Hidayat Jati disimpan di museum Sasono Budoyo Yogyakarta. Serta masih banyak yang masih memuat versi Jawa naskah-naskah terkenal itu. Namun, antusiasme masyarakat terhadap keberadaan naskah-naskah tersebut tak sebesar antusiasme mereka terhadap Centhini adaptasi Inandiak. Kenyataan yang terjadi di masyarakat terkadang sulit diperkirakan. Sambutan mereka terhadap “wajah baru” Centhini mungkin terjadi karena banyak diberitakan media yang secara tidak langsung mempengaruhi hasil promosi penjualan buku-buku tersebut.Penerimaan masyarakat terhadap sebuah wacana seringkali hanya sebatas bungkus luarnya saja. Pemaknaan kandungan sebuah naskah kuno secara mendalam hanya dapat dilakukan apabila tradisi membaca dan menulis menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan masyarakat. Namun, upaya menumbuhkan kembali tradisi membaca dan menulis akan sangat sulit. Tradisi membaca dan menulis yang dulu mengakar kuat di kalangan masyarakat Nusantara telah tenggelam di tengah kesibukan masyarakat masa kini yang semakin terdesak oleh tuntutan ekonomi. Sutarno dalam Perpustakaan dan Masyarakat (2003) bahkan berpendapat bahwa budaya baca tampaknya memang merupakan “privilese” bagi kalangan tertentu.Peran Perpustakaan Nasional RI dalam membudayakan kegiatan membaca di tanah air yang telah menjadi begitu mahal perlu disinergikan dengan upaya menumbuhkan kegiatan penelitian dan pengkajian naskah kuno untuk kepentingan budaya jangka panjang. Tujuan dari penelitian dan pengkajian naskah-naskah kuno adalah tujuan jangka panjang yang ditujukan pada upaya menumbuhkan kembali tradisi kritis membaca dan menulis. Kembalinya tradisi membaca dan menulis secara tidak langsung akan mendukung pelestarian khasanah budaya berbentuk naskah-naskah kuno dengan sendirinya. Masyarakat yang identik dengan tradisi membaca dan menulis akan mewujudkan kepeduliannya dengan melakukan penelitian dan pengkajian mendalam untuk selanjutnya disalin dan dibukukan kembali agar bisa disebarluaskan.2. Peran Perpustakaan Melestarikan Kem-bali Nilai-nilai Budaya IndonesiaHal terpenting dalam upaya pelestarian khasanah budaya bangsa adalah pelestarian nilai-nilai luhur budaya yang menjadi petunjuk sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sosial budaya. Pelestarian budaya yang hanya ditujukan pada perawatan fi sik benda-benda peninggalan purbakala tidak akan memberikan pengaruh besar pada upaya bangsa Indonesia dalam mencapai kemajuan. Bangsa Indonesia membutuhkan identitas atau jati diri sebagai sebuah bangsa dan hal itu hanya dapat dilakukan dengan menumbuhkan kesadaran akan pemahaman terhadap kenyataan sejarah dan budaya.Masyarakat membutuhkan perpustakaan umum sebagai sarana untuk menemukan kembali hal-hal yang berhubungan dengan kebudayaan di masa lalu. Pengembangan peran perpustakaan dalam pelestarian khasanah budaya bangsa akan menemukan muara yang tepat jika upaya pelestarian tersebut tidak hanya dilakukan dalam bentuk fi siknya saja. Akan tetapi perpustakaan memiliki peran yang lebih penting yaitu melestarikan nilai-nilai moral yang melingkupi warisan budaya tersebut. Melihat faktanya sekarang menunjukkan bukti terdapat keterkaitan antara kemerosotan nilai moral masyarakat serta lunturnya pengaruh nilai-nilai luhur budaya bangsa memasuki suatu masa di era globalisasi.Didalam lingkup kebudayaan, bentuk kesadaran masyarakat pada masa sekarang terhadap nilai manfaat perpustakaan hendaknya dapat ditujukan untuk mengembangkan kembali nilai-nilai budaya yang menjadi pedoman bagi kehidupan. Bentuk nilai-nilai budaya yang dapat diambil serta digali lebih dalam dari tradisi masa lalu tidak hanya berbentuk nilai-nilai yang bermanfaat untuk mengasah budi pekerti tetapi juga bentuk nilai-nilai yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masa depan seperti sifat bersungguh-sungguh, disiplin, gotong royong, dan kerja keras. Bentuk upaya tersebut hanya dapat terwujud apabila perpustakaan juga bisa difungsikan sebagai pusat penelitian dan pengkajian budaya dan disiplin ilmu-ilmu yang mendukung. Bentuk kegiatan penelitian serta pengkajian akan membawa dampak dalam mempengaruhi pengembangan ilmu pengetahuan yang berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Dalam perjalanan sejarahnya, perpustakaan selain berfungsi sebagai tempat penyimpanan buku dan penyedia informasi juga berfungsi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan. Tercatat dalam sejarah pada zaman Kekhalifahan Dinasti Abbasiyah dikenal istilah Baitul Hikmah, perpustakaan umum pada masa kekuasaan Khalifah Harun al-Rasyid yang semula didirikan dengan nama Khizanah al-Hikmah merupakan contoh perpustakaan yang juga difungsikan sebagai pusat kegiatan studi, riset astronomi, dan matematika (Syihabuddin, dkk., 2003). Berbagai macam jenis ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari lingkungan perpustakaan pada masa itu memberikan sumbangan pencerahan bagi masyarakat di zamannya dan telah mengantarkan kekhalifahan dinasti Abbasiyah sampai pada puncak peradaban tertinggi manusia pada zamannya. Jika seandainya saja Perpustakaan Nasional RI sebagai perpustakaan umum terbesar di Indonesia juga mampu difungsikan sebagai pusat bagi kegiatan penelitian, maka tentu peran perpustakaan dalam pengembangan ilmu pengetahuan akan tampak nyata nilai manfaatnya, dan tidak hanya akan menjadi wacana.Bentuk peranan perpustakaan didalam kegiatan penelitian dan pengkajian budaya memungkinkan bagi nilai-nilai budaya tersebut dapat ditransformasikan menjadi pedoman bagi sikap dan tingkah laku masyarakat dalam bentuk kehidupan sehari-hari. Bentuk pelestarian nilai budaya dianggap penting karena perjalanan bagi terbentuknya budaya baru tidak pernah lepas dari rangkaian sejarah hidup manusia yang berasal dari nilai-nilai luhur tradisi masa lalu diharapkan mampu mengangkat bangsa ini dari keterpurukan. Bentuk-bentuk pelestarian warisan budaya tidak saja ditujukan kedalam bentuk fi sik saja akan tetapi lebih jauh kepada nilai nilai fi losofi s yang terkandung didalamnya. Jika bentuk pelestarian hanya ditujukan pada segi fi siknya saja tentu tidak akan ada artinya sebab bentuk upaya pelestarian serta pengorbanan yang dikeluarkan untuk tujuan tersebut akan menjadi sia-sia. Sebaliknya, pelestarian warisan budaya yang menjadikan nilai-nilai budaya sebagai unsur utama jauh lebih berguna.Pelestarian nilai-nilai budaya adalah tanggung jawab masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri melalui sarana-sarana penyaluran yang telah ditentukan. Keberadaan perpustakaan umum seperti halnya Perpustakaan Nasional RI adalah wadah atau sarana penyaluran yang tepat untuk mewadahi kepentingan masyarakat berkaitan dengan hal tersebut. Perpustakaan menjadi tempat berkumpulnya berbagai kalangan masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap upaya pelestarian harta warisan budaya dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.Bentuk peranan Perpustakaan Nasional RI dalam upaya melestarikan nilai-nilai budaya setidaknya akan mengurangi bentuk-bentuk keresahan terhadap pihak-pihak yang memiliki kepedulian pada upaya pelestarian warisan budaya yang bernilai sejarah. Adapun terhadap keberadaan banyak naskah-naskah Nusantara yang berasal dari peninggalan zaman kerajaan Nusantara, yang pada saat zaman penjajahan diangkut oleh para penjajah ke negerinya amatlah disayangkan dan hingga saat ini banyak dari naskah tersebut berada di beberapa museum diantaranya di museum Oxford Inggris dan Leiden belanda. Henry Chambert-Loir, direktur Ecole Francais d’Extreme- Orient (EFEO – Lembaga Penelitian Prancis untuk Timur Jauh) boleh berpandangan bahwa kenyataan banyaknya naskah Melayu yang tersimpan di berbagai negara di luar negeri justru menguntungkan mengingat kondisi Indonesia pada masa itu yang berada dalam masa penjajahan (Kompas, 20 Mei 1999). Akan tetapi, kenyataan untuk masa sekarang tentu jauh berbeda akan jauh lebih menguntungkan apabila naskah-naskah Nusantara yang memuat nilai-nilai luhur di dalamnya kembali agar tetap lestari di negeri asalnya yakni Indonesia.3. Perlunya Dukungan Terhadap Per-pustakaan dalam Upaya Pelestarian Ke-budayaanUpaya dan usaha untuk mengembalikan kebanggaan masyarakat di tanah air terhadap khasanah budaya bangsa yang berupa naskah-naskah kuno memang sulit untuk diwujudkan. Munculnya nilai kebanggaan terhadap berbagai cagar budaya yang telah diakui dunia seperti Borobudur serta warisan non-bendawi seperti lagu, tari maupun benda seperti batik, wayang, pakaian adat, serta alat musik pun ternyata masih sedikit. Pengaruh globalisasi telah berdampak pada masyarakat Indonesia. Bisa dilihat bahwa saat ini masyarakat Indonesia lebih mengagumi budaya asing yang datang dari luar yang ternyata justru banyak ketidaksesuaian dengan nilai, norma serta adat ketimuran yang berlaku di Indonesia. Masyarakat sekarang lebih senang dengan budaya yang bersifat permisif dari barat daripada budaya yang tumbuh dan berkembang di negeri sendiri. Kecenderungan ini semakin diperparah dengan lunturnya nilai-nilai moral, makin menipisnya solidaritas sosial, serta menjamurnya praktik politik kotor, dan memburuknya kondisi perekonomian.Berbagai macam perbuatan serta tindakan-tindakan yang tidak terpuji tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia dewasa ini selain kurang dalam memberikan apresiasi terhadap budaya leluhur juga kurang memiliki etos kebudayaan. Padahal, etos kebudayaan itu sendiri bersumber dari nilai-nilai luhur bangsa yang terangkum dalam tradisi masa lampau. Berbagai bangsa-bangsa Asia lainnya seperti bangsa Jepang, Korea, Cina, dan India telah membuktikan bahwa bentuk kesadaran akan sejarah masa lalu dan melindung serta usaha pelestarian budaya sangat berpengaruh besar terhadap kemajuan bangsa. Kemapanan ekonomi dan kemajuan teknologi yang dicapai bangsa-bangsa tersebut tidak membuat mereka melupakan tradisi masa lampau. Sebaliknya, mereka justru berpikir untuk menyebarluaskannya ke seluruh dunia.Bentuk keberhasilan mereka dalam menghidupkan nilai-nilai luhur yang bersumber dari budaya lama adalah dengan cara mempertegas jati diri bangsanya dan mengukuhkan keberadaan mereka di tengah globalisasi. Nilai-nilai luhur berupa prinsip rajin, mandiri, dan bekerja keras bersumber dari tradisi masa lalu menjadi spirit yang memberikan energi serta kekuatan vital yang mampu membawa dan menuntun bangsa-bangsa tersebut menjadi bangsa yang kaya akan visi, imajinasi, dan kreativitas tanpa batas ruang dan waktu. Pengaruh tersebut tercermin kepada individu yang menjadi bagian didalamnya merekapun mempunyai kesempatan untuk mengembangkan diri dan menemukan sesuatu yang terbaik bagi dirinya. Nilai-nilai luhur kebudayaan masa lalu memiliki spirit, kebudayaan yang sehat adalah kebudayaan yang memberi kemungkinan dan kesempatan agar mereka yang hidup di dalamnya dapat berkembang menjadi dirinya sendiri (Kompas, 19 Mei 2006). Pernyataan tersebut dikemukakan Myrna Ratna, wartawan Kompas, yang dituangkan dalam lembaran khusus Kompas “Sewindu Reformasi Mencari Visi Indonesia 2030” berkaitan dengan reformasi kebudayaan untuk kemajuan bangsa.Berkaca kepada bangsa-bangsa Asia yang berhasil menjadikan tradisi leluhur sebagai modal dasar untuk membangun, tentu bangsa Indonesia harus mulai memikirkan pentingnya penghayatan terhadap tradisi dan sejarah. Krisis multidimensi yang menimpa bangsa ini hendaknya menumbuhkan kesadaran untuk membuka kembali catatan-catatan dalam lembar sejarah yang mengungkapkan kebesaran masa lalu. Keberadaan Perpustakaan Nasional RI yang terkenal dengan memiliki koleksi naskah kuno dan ribuan buku langka adalah penyedia sarana yang tepat untuk upaya tersebut.Perpustakaan mempunyai peluang untuk mengembangkan wacana mempelajari budaya melalui karya-karya besar masa lampau sebagai kegiatan intelektual yang membuat setiap individu yang terlibat di dalamnya menemukan hal-hal yang menarik dan juga dapat dibanggakan. Akhir-akhir ini, hal semacam itu telah dimunculkan oleh beberapa kalangan pecinta khasanah sastra Nusantara dengan mengemas hasil pengkajian karya-karya lama dalam konteks kekinian. Penerjemahan dan penyaduran Chentini dari karya adaptasi Inandiak dalam bahasa Prancis ke dalam bahasa Indonesia berhasil menarik perhatian masyarakat Indonesia. Banyak kalangan akademisi dan masyarakat luas yang menyoroti keberadaan buku itu, baik di media massa maupun dalam diskusi-diskusi kecil.Kenyataan itu membuktikan bahwa masyarakat Indonesia sesungguhnya memiliki ketertarikan yang cukup besar terhadap karya-karya gemilang peninggalan masa lampau. Peluang untuk menonjolkan hal-hal menarik dalam pengkajian khasanah budaya Nusantara telah mendapatkan momentum yang tepat. Keberadaan Perpustakaan Nasional RI di tengah kerinduan masyarakat terhadap kajian tentang kebudayaan mereka sendiri sangat signifi kan. Realisasi dari wacana tersebut sebaiknya dimulai dengan mengadakan diskusi-diskusi kecil bersifat terbuka dan yang terpenting mengikutsertakan masyarakat luas dari berbagai kalangan.Informasi-informasi yang relevan menyangkut pemberdayaan warisan budaya yang berasal dari sumber-sumber terpercaya sebaiknya juga disosialisasikan dalam kesempatan tersebut. Hal itu perlu dilakukan mengingat pemberitaan-pemberitaan di media massa banyak yang menyebutkan bahwa gagasan pemanfaatan warisan budaya yang berkembang di masyarakat cenderung berorientasi ekonomi. Benda budaya materi (tangible) seperti arca dan tulisan-tulisan kuno dinilai menguntungkan karena bisa diperjualbelikan dengan harga bernilai ratusan juta. Sedangkan, situs budaya seperti candi dan kraton dieksploitasi untuk kepentingan pariwisata. Situs budaya memang harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitarnya tetapi tidak boleh melampaui batas. Masyarakat harus diberi pemahaman bahwa benda warisan budaya masa lalu merupakan sumber daya yang tak dapat diperbaharui (nonrenewable resources) Langkah selanjutnya yang perlu diupayakan untuk menumbuhkan ketertarikan dalam pengkajian naskah kuno adalah mendorong orang-orang yang terlibat dalam upaya tersebut agar mampu berkomunikasi dengan baik sehingga menarik perhatian masyarakat. Selain itu, pustakawan dan juga ahli purbakala harus bangga dengan profesi mereka. Dengan kata lain, kebanggaan terhadap profesi akan menumbuhkan rasa percaya diri dan keyakinan bahwa mereka memang pantas mendapat penghargaan berupa pengakuan dari masyarakat. Apresiasi masyarakat pendukung kebudayaan adalah modal utama yang tak bisa diabaikan. Berhasil tidaknya wacana berbasis kebudayaan yang cukup inovatif tersebut tergantung pada masyarakat pendukung kebudayaan itu sendiri. Masalahnya, kegiatan semacam itu umumnya diminati kalangan tertentu saja dan kemungkinan untuk menjadikannya populer sangat kecil. Upaya untuk menjadikan pengkajian naskah kuno sebagai kegiatan intelektual yang mempunyai nilai istimewa di mata masyarakat adalah sebuah pilihan. Wacana ini berangkat dari tujuan awal menemukan sesuatu yang khas Indonesia yang bersumber dari khasanah budaya Nusantara di masa lampau untuk menegaskan identitas kebangsaan. Koentjaraningrat mengungkapkan dalam Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitas, dan Pembangunan (1983) bahwa kesenian, termasuk di dalamnya seni sastra merupakan unsur kebudayaan yang dapat menonjolkan kualitas dan sifat khas bangsa Indonesia.Berbagai macam dan jenis naskah-naskah kuno yang merupakan buah pemikiran gemilang di masa lampau memang harus digali kandungan isinya agar dapat dikembangkan untuk menegaskan jati diri bangsa Indonesia di tengah kepungan globalisasi. Sayangnya, penelitian dan pengkajian terhadap naskah-naskah kuno yang dilakukan oleh orang Indonesia sendiri masih sangat terbatas. Penyebarluasannya di masyarakat pun tidak dilakukan secara menyeluruh dan hanya menyentuh kalangan tertentu saja. Selain itu, penyajiannya ke tengah masyarakat sering tidak disertai kupasan yang menarik dalam bentuk resensi atau artikel lepas di media massa. Padahal, kupasan semacam itu merupakan suatu bentuk promosi kecil yang dapat mempengaruhi seseorang untuk mengetahui keseluruhan isinya. Kalau hal seperti itu tidak diperhatikan, upaya untuk menjadikan pengkajian naskah kuno sebagai sesuatu yang memiliki prestise tersendiri akan jauh dari pencapaian

Conclusion

Keberadaan perpustakaan dan budaya memiliki keterkaitan yang sangat erat. Perpustakaan dapat memainkan peran penting dalam upaya pelestarian kebudayaan yang merupakan identitas khasanah budaya bangsa. Keberadaan perpustakaan dapat difungsikan secara optimal dengan upaya melakukan hal-hal yang dapat mendukung upaya pelestarian kebudayaan baik itu yang berbentuk fi sik warisan budaya maupun yang berwujud pesan moral yang melingkupinya. Bentuk-bentuk langkah positif bagi perpustakan tersebut dapat diwujudkan yaitu dengan meningkatkan semangat melakukan penelitian dan pengkajian terhadap naskah-naskah kuno warisan budaya melalui upaya menumbuhkan kembali tradisi membaca dan menulis, menggali nilai nilai spirit yang terkandung di dalamnya untuk kemudian memupuk nilai-nilai kebanggaan masyarakat terhadap khasanah budaya yang merupakan warisan bangsa Indonesia dimasa lalu baik berupa naskah-naskah kuno maupun manuskrip, hal tersebut dilakukan dengan lebih mengutamakan upaya pelestarian nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.Perkembangan perpustakaan dalam sejarah umat manusia tak terlepas dari hambatan dan tantangan. Hambatan dan tantangan yang ada seharusnya diartikan sebagai sumber inspirasi untuk mengembangkan kegiatan di luar visi dan misi perpustakaan sebelumnya. Upaya mengoptimalkan peran Perpustakaan Nasional RI dalam pelestarian khasanah budaya bangsa seperti yang diungkapkan dalam artikel ini merupakan saran yang membangun untuk mengatasi hambatan dan tantangan yang seringkali timbul dalam mengembangkan fungsi kultural perpustakaan. Perpustakaan yang hanya difungsikan untuk tempat penyimpanan tidak akan memberikan pengaruh yang berarti dalam upaya pelestarian warisan budaya berupa nilai ilai luhur yang berlaku sebagai tuntunan sikap dan perilaku dalam kehidupan sosial budaya