Kepuasan Pemustaka Bersumber pada Nilai Perpustakaan: Studi Empiris pada Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kepuasan pemustaka yang bersumber dari nilai perpustakaan. Penelitian dilakukan di Universitas Islam Indonesia (UII) dengan menyebarkan kuesioner kepada mahasiswa yang kebetulan berkunjung ke perpustakaan sebanyak 135 responden sebagai sampel. Analisis data dilakukan dengan cara analisis korelasi Product Moment.Hasil penelitian membuktikan, bahwa persepsi mahasiswa terhadap variabel nilai perpustakaan dalam kualifikasi tinggi dengan nilai persepsi sebesar 60,07 dan variabel kepuasan mahasiswa tergolong dalam kualifikasi tinggi pada angka persepsi sebesar 73,30. Sementara indikator nilai akademik dari variabel nilai perpustakaan dalam kualifikasi tinggi dengan angka persepsi sebesar 73,70 menduduki nilai tertinggi dan terendah terdapat pada nilai ekonomi dengan skor72,28. Selanjutnya indikator kecepatan layanan dari variabel kepuasan mahasiswa menempati persepsi tertinggi 77,59 dalam kualifikasi sangat tinggi dan terendah pada indikator empati pada kualifikasi tinggi dengan angka persepsi sebesar 70,19. Pada hasil pengujian korelasi, terdapat pengaruh antara nilai perpustakaan terhadap kepuasan mahasiswa UII dengan angka pengaruh sebesar 72,40% (0,724) dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 (0,000) lebih kecil dari 0,05). Artinya hipotesis penelitian diterima dan besaran pengaruh kepuasan mahasiswa UII dari nilai perpustakaan sebesar 72,40%, sementara masih ada faktor diluar nilai perpustakaan sebesar 27,60% yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa
Keywords:
Kepuasan pemustaka
· nilai perpustakaan
· nilai akademik
· nilai ekonomi
· kecepatan pelayanan
· empati
Introduction
Secara tradisional, kualitas dan eksistensi perpustakaan ditandai dengan koleksi dalam bentuk cetak. Bukti kepemilikan koleksi perpustakaan dapat diukur melalui penyajian data dalam bentuk statistik (grafik atau tabel). Dengan semakin meningkatnya kebutuhan informasi, perpustakaan konvensional tidak lagi mampu memenuhi permintaan pelanggan terhadap informasi. Agar kebutuhan informasi bagi pelanggan dapat terpenuhi, maka perpustakaan perlu melakukan inovasi dan mengikuti perkembangan zaman, sehingga kualitas perpustakaan meningkat. Kualitas adalah filosofi dasar dan persyaratan layanan perpustakaan. Semua perpustakaan berusaha untuk memberikan kualitas layanan tertinggi untuk memenuhi permintaan pelanggan akan informasi. Layanan berkualitas merupakan harapan bagi setiap pelanggan. Jika perpustakaan memberikan informasi yang tepat kepada pengguna yang tepat pada waktu yang tepat dan menyediakan fasilitas yang diperlukan sebagai sarana akses bagi pemustaka, maka dapat dikatakan perpustakaan mampu memberikan layanan berkualitas. Hal ini sejalan dengan pendapat Sharma (2001) yang menyatakan, bahwa layanan perpustakaan berkualitas berarti memuaskan permintaan setiap pengguna secara akurat, mendalam, dan cepat. Dia juga mengungkapkan bahwa konsep kualitas layanan terutama didasarkan pada kualitas layanan yang dirasakan oleh pelanggan. Lebih lanjut Grönroos (1990) menjelaskan ketika penyedia layanan memahami bagaimana layanan akan dievaluasi oleh pelanggan, menjadi mungkin untuk mengidentifikasi bagaimana mengelola evaluasi ini dan bagaimana mempengaruhi mereka dalam arah yang diinginkan. Sejumlah peneliti telah mencapai konsensus pada fakta bahwa kualitas layanan harus ditentukan dan diukur dari perspektif pelanggan (Brown dan Swartz, 1989, Schneider and White, 2004). Menurut Grönroos (1984), kualitas layanan adalah hasil dari proses evaluasi, di mana pelanggan membandingkan ekspektasinya dengan layanan yang dia rasakan telah diterima. Parasuraman, Zeithaml, dan Berry (1988, p. 15) setuju dengan gagasan ini, dan mereka mendefinisikannya sebagai “evaluasi keseluruhan dari perusahaan jasa spesifik yang dihasilkan dari membandingkan kinerja perusahaan dengan harapan umum pelanggan tentang bagaimana perusahaan dalam industri itu harus tampil.”Perpustakaan secara tradisional identik dengan fasilitas fisik yang berkonsentrasi dalam penyediaan koleksi tercetak untuk kepentingan membaca di antara kelompok pengguna tertentu (seperti perpustakaan perguruan tinggi) atau masyarakat umum. Namun, di era informasi digital seperti saat ini, pencari informasi untuk penelitian akademis atau menyelesaikan tugas akhir mahasiswa tidak bergantung pada kunjungan fisik ke perpustakaan. Pencarian referensi online mulai dilihat sebagai pengganti yang lebih efektif. Masalah ini bahkan sebagai ancaman bagi perpustakaan konvensional (Little, 2011; Odling-Smee, 2007; Rapp, 2011). Intinya, ruang perpustakaan berfungsi sebagai platform pusat distribusi dan sirkulasi untuk kegiatan berbagi buku. Seiring perkembangan zaman dan tuntutan pemakai, ruang perpustakaan secara fisik mengambil peran tambahan dengan menyediakan lingkungan yang nyaman, tenang dan aman untuk kegiatan belajar mandiri. Meskipun akses ke dalam ruang perpustakaan terbuka untuk umum atau untuk kelompok pengguna tertentu dalam komunitas tertentu, ruang perpustakaan menjadi tempat perlindungan bagi pecinta buku dalam lingkungan yang kondusif (Row Farr, 2017). Hal ini dimungkinkan terutama karena pengelolaan fasilitas di dalam ruang perpustakaan merupakan perkara yang penting yang tidak boleh dipandang sepele. Ketenangan di ruang perpustakaan secara umum merupakan unsur penting di semua jenis perpustakaan, kecuali untuk bagian tertentu di perpustakaan (missal ruang diskusi), karena pengguna seharusnya melakukan aktivitas membaca saja. Oleh karena itu, diskusi verbal biasanya dilarang di sebagian besar area gedung perpustakaan, dan pengguna dapat menikmati membaca atau bekerja sendiri tanpa terganggu oleh orang lain. Oleh karena itu, ada ikatan yang kuat antara fasilitas perpustakaan sebagai ruang fisik dan kepuasan belajar bagi pengguna yang telah terbukti menjadi kepentingan akademis (Bilandzic & Foth, 2014; Cullen, 2014; Jolly & White, 2016; Rudzioniene, 2014 ). Keberadaan perpustakaan, terutama perpustakaan perguruan tinggi, secara khusus dibangun untuk tujuan terjadinya kolaborasi yang memuaskan, antara fitur desain perpustakaan dan lingkungan belajar yang memungkinkan dapat memaksimalkan kepuasan belajar bagi pemustaka. Selain fungsi konvensional, Bilandzic dan Foth (2014) juga menunjukkan bahwa karakteristik arsitektur ruang perpustakaan dapat memainkan peran penting dalam menyoroti atribut sosial fasilitas perpustakaan dalam memperkuat interaksi sosial di antara pengunjung ke perpustakaan. Ruang belajar informal yang dimasukkan sebagai bagian dari lingkungan kampus dalam perpustakaan perguruan tinggi sama pentingnya dalam agenda pendidikan tinggi. Dengan cara ini, perpustakaan masih mempertahankan pembelajaran penting dan peran sosial di era informasi digital. Tim desain dan manajemen perpustakaan perguruan tinggi perlu memahami kebutuhan pengguna dan menghargai bahwa ada aspek yang tidak dapat digantikan oleh teknologi digital, termasuk komunikasi dan interaksi di antara pengguna, apresiasi budaya, seni, an inspirasi di dalam fasilitas perpustakaan (Jolly & White, 2016; Palfrey, 2015; Stojanovski, 2013). Adanya fakta, bahwa masih diragukan apakah digital raksasa seperti Google dapat mendigitalkan semua koleksi buku dengan cara yang hemat biaya (Fialkoff, 2011; Palfrey, 2015). Lebih penting lagi, administrator perguruan tinggi juga harus mengenali sifat unik ruang perpustakaan dalam mempromosikan budaya belajar mahasiswa, daripada memperlakukan ruang perpustakaan sebagai ruang fisik yang berlebihan yang dapat dikonsumsi oleh unit lain untuk kegiatan yang tidak terkait dengan pembelajaran dari waktu ke waktu.Konsep kualitas layanan erat kaitannya dengan kepuasan pelanggan (Brady et al., 2002, Hernon dan Altman, 1998). Oliver (1997, p. 13) mendefinisikan kepuasan pelanggan sebagai pemenuhan respons pelanggan. Dia menilai bahwa fitur produk layanan, atau produk layanan itu sendiri, menyediakan tingkat kepuasan yang memuaskan terkait pemenuhan, termasuk tingkat di bawah atau di atas pemenuhan kebutuhan pemustaka. Secara khusus, akademisi dan praktisi sama-sama memiliki menunjukkan minat yang cukup besar dalam isu-isu yang mengelilingi pengukuran kualitas layanan dan konseptualisasi hubungan antara kualitas layanan dan kepuasan pelanggan (Brady et al., 2002). Sejumlah peneliti - seperti Hernon dan Altman (1998), Iacobucci, Ostrom, dan Grayson (1995), dan Zeithaml, Berry, dan Parasuraman (1993) - telah jelas mengartikulasikan fakta bahwa kepuasan pelanggan adalah fungsi dari kualitas layanan.Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia dirancang dengan konsep modern dengan luas bangunan + 7.000 m2 terdiri dari 5 lantai yang diperuntukkan bagi 25 ribu lebih pemustaka. Jumlah pemustaka yang sedemikan besar, tentunya membutuhkan sarana dan prasarana pendukung yang mampu memberikan kepuasan bagi pemakai tersebut. Dengan kata lain, perpustakaan perguruan tinggiharus memberikan kontribusi yang dapat diukur untuk kegiatan penelitian, pengajaran dan pembelajaran dari institusi yang menjadi tempat mereka belajar. Secara umum, layanan perpustakaan sebagai lembaga-lembaga sosial yang didirikan untuk melayani masyarakat akademik, karenanya perpustakaan perguruan tinggi perlu membuktikan nilainya kepada para pemangku kepentingan mereka. Artikel ini berusaha menganalisis berbagai pendekatan teoritis yang telah digunakan atau memberi informasi studi nilai di perpustakaan perguruan tinggi
Method
Penelitian dilakukan di Direktorat Perpustakaan Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Pemilihan lokasi penelitian ini dengan mempertimbangkan beberapa aspek antara lain: masalah yang diteliti berada di Universitas Islam Indonesia, Peneliti bekerja di Universitas Islam Indonesia, dan dalam rangka efisiensi biaya, waktu dan tenaga. 3.2. Populasi, Sampel dan Model Penentuan SampelDalam penelitian ini yang dimaksud dengan populasi adalah mahasiswa yang berkunjung ke Direktorat Perpustakaan sebagai subyek penelitian. Jumlah rata-rata pengunjung pada tahun 2017 sebesar 357.592 orang rata-rata per hari 1.490 orang. Sementara jumlah peminjam koleksi selama tahun 2017 sebesar 337.758 orang rata-rata per hari 1.407 orang dan besaran koleksi yang dipinjam sebanyak 460.820 eksemplar rerata per hari 1.920 eksemplar (https://library.uii.ac.id/statistics/ diakses 1 Desember 2018 pukul 13:11 WIB). Sampel yang ideal dari populasi 1.490 dengan taraf kesalahan 5% adalah 279 dengan catatan bahwa populasi berdistribusi normal. Bila sampel tidak berdistribusi normal, misalnya populasi homogen (dalam penelitian ini populasinya adalah pada kategori homogen mengingat populasi yang diambil berdasarkan mahasiswa yang aktif berkunjung ke Direktorat Perpustakaan UII), maka jumlah sampel yang diperlukan 1% sudah dapat mewakili (Sugiyono, 2010: 70-71). Peneliti mengambil 170 mahasiswa sebagai sampel, akan tetapi data yang masuk dan diisi secara lengkap hanya 135 orang, maka 135 mahasiswa tersebut yang digunakan sebagai sampel. Teknik sampling yang digunakan adalah Insidental Sampling yakni teknik penentuan sampel dengan mempertimbangkan responden yang aktif dan yang secara kebetulan mengunjungi perpustakaan pada saat angket diedarkan. Responden/subjek penelitian sengaja ditujukan kepada mahasiswa yang aktif dan yang kebetulan berkunjung ke Direktorat Perpustakaan UII dengan pertimbangan bahwa mereka akan memberikan jawaban secara obyektif.Angket yang disebarkan sebanyak 175 paket, dikembalikan dengan jawaban lengkap 135 paket (77,14%), dikembalikan dengan jawaban tidak lengkap 12 paket (6,86%), dan tidak dkembalikan 28 paket (16%).3.3. Jenis Data, Sumber Data dan Teknik Pengumpulan DataData PrimerYaitu data yang diperoleh dengan cara melalui observasi kegiatan, keadaan, suasana yang ada di Perpustakaan, dan kemudian dibuat kuesioner. Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari responden (subyek penelitian). Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati dan menghitung jumlah skor yang terdapat pada quesioner hasil penelitian.Data SkunderYaitu data yang diperoleh dengan cara membaca dan mengumpulkan berbagai bahan pustaka untuk menunjang penelitian ini.3.4. Teknik Analisis DataSesuai dengan tujuan penelitian, data yang diperoleh dari lapangan akan dianalisis secara deskriptif kuantitatif yaitu dengan memaparkan data-data yang ada sedetail mungkin dengan memvisualiasikan ke dalam sebuah tabel, kemudian dilakukan pembahasan secara keseluruhan sehingga dapat diketahui dan dianalisis, kemudian dapat ditarik suatu kesimpulan.3.5. Pengukuran VariabelSurvey kepuasan pemustaka terhadap Nilai Perpustakaan Universitas Islam Indonesia, dapat diukur dengan melalui indikator sebagai berikut:Tabel 1: Pengukuran Variabel VARIABELINDIKATOR-INDIKATORNilai Perpus-takaana. Nilai Ekonomi: (i) biaya, waktu, dan usaha, (ii) nilai informasi yang diperoleh, (iii) input & output dan (iv) kalkulasi penilaian penggunaan perpustakaan.b. Nilai Sosial: (i) mencari informasi tentang hobi, (ii) belajar bahasa asing, (iii) mengembangkan ide bisnis, (iv) membantu dalam mencari pekerjaan dan, (v) membantu meningkatkan keterampilan profesional.c. Nilai Akademik: (i) keaktivan mahasiswa, (ii) pengajaran fakultas, dan (iii) reputasi kelembagaan.Kepuasan Mahasiswa1. Kecepatan petugas dalam melayani mahasiswa2. Keramahan petugas dalam melayani mahasiswa3. Kemampuan petugas dalam melayani mahasiswa4. Responsiveness atau ketanggapan petugas5. Dapat memberikan jaminan layanan yang memuaskan6. Kesiapan dalam memberikan bantuan atas kesulitan yang dihadapi mahasiswa7. Tata susunan koleksi (keteraturan urutan koleksi di rak buku)8. Kedisiplinan petugas3.6. HipotesisDari uraian di atas dapat dirumuskan hipotesis, bahwa terdapat pengaruh antara nilai perpustakaan terhadap kepuasan mahasiswa UI
Discussion
Dari 135 responden sebagai subyek penelitian ditemukan data sebagaimana disajikan pada Tabel 2.Responden yang memberikan tanggapan terhadap penelitian ini paling banyak adalah mahasiswa angkatan 2016 sebanyak 43 orang (31.85%), kemudian disusul angkatan 2014 sebanyak 40 mahasiswa (29.63%), angkatan 2013 sejumlah 21 orang (15.56%), angkatan 2015 menduduki urutan selanjutnya dengan jumlah 16 orang (11.85%), angkatan 2012 sejumlah 10 orang (7.41%), sementara itu angkatan 2011 menduduki ranking paling sedikit, dengan angka 5 orang (3.7%).Tabel 2: Karakteristik RespondenNoData DemografiKriteriaJumlahPersentase (%)1Tahun Angkatan201153.72012107.4120132115.5620144029.6320151611.8520164331.85Jumlah1351002Asal dari FakultasFTI5641.48FMIPA2417.78FPSB2216.30FTSP1712.59D3 FE64.44FH64.44MTI42.96FE--FIAI--FK--Jumlah1351003Jenis KelaminLaki-laki5238.52Perempuan8361.48Jumlah135100Sumber: data primer diolah N=135, 2017Sementara responden paling banyak berasal dari Fakultas Teknologi Industri (FTI) sebanyak 56 orang (41.48%), diikuti dari FMIPA 24 orang (17.78%), FPSB 22 orang (16.30%), FTSP 17 orang (12.59%), FH dan D3 Ekonomi masing-masing 6 orang (4.44%), Magister Teknologi Industri 4 orang (2.96%). Mahasiswa dari FE, FIAI dan FK masing-masing nol (0) pengunjung, hal ini dapat terjadi ada beberapa kemungkinan, antara lain pada saat dilakukan survey secara kebetulan mahasiswa ke-3 fakultas tidak ada yang berkunjung ke perpustakaan. Atau bisa jadi, mahasiswa dari ke-3 fakultas tersebut ada yang mendapatkan angket, akan tetapi tidak sempat mengembalikan pada tempat yang telah ditentukan.Responden berjenis kelamin laki-laki berjumlah 52 orang (38.52%) dan berjenis perempuan sebanyak 83 orang (61.48%). Mahasiswa berjenis kelamin perempuan masih mendominasi dalam mengunjungi perpustakaan, yaitu sebesar 61.48%, sedangkan mahasiswa laki-laki hanya sebesar 8.52 % saja.4.2. Persepsi Kepuasan PemustakaHasil penelitian diambil berdasarkan jawaban kuesioner sejumlah 135 responden yang disebarkan kepada Mahasiswa yang aktif dan yang kebetulan berkunjung ke Direktorat Perpustakaan UII dan datanya akan dimasukkan ke dalam suatu tabel frekuensi. Dari tabel tersebut kemudian diketahui berapa besar persentase dari data yang memiliki hubungan antara satu dengan lainnya. Langkah selanjutnya adalah melakukan analisis data dari hasil pengolahan (tabulasi) data tersebut dalam bentuk interpretasi atau dalam bentuk penjabaran data.Dalam penelitian ini diajukan pertanyaan/pernyataan yang harus dijawab oleh responden sebanyak 6 butir. Dari hasil tabulasi, maka diperoleh hasil sebagai berikut :Tabel 3: Kecepatan dalam Melayani N = 135 (2017)No. UrutProsedur Pelayanan SirkulasiMudah dan CepatFrekuensi (F)Persentase (%)1Sangat Tidak Sesuai (STS)64.442Tidak Sesuai (TS) 96.673Sesuai (S) 9161.414Sangat Sesuai (SS) 2921.48Jumlah135100Sumber data : primerDari Tabel 3 di atas yang menyatakan bahwa prosedur pelayanan (pinjam, kembali, perpanjang, dan bayar denda) mudah dan cetak dipersepsikan responden terletak pada daerah sesuai sebanyak 91 orang (61.41%). Artinya bahwa 61.41% pemustaka merasakan adanya kesesuaian (setara dengan kategori puas) dengan kecepatan petugas Direktorat Perpustakaan UII dalam melayani pemustaka. Sementara itu 21.48% mahasiswa sangat puas, sedangkan hanya 6.67% tidak puas, dan 4.44% merasakan sangat tidak puas.Tabel 4: Tata Susunan Koleksi di Rak BukuN = 135 (2017)No. UrutTata Susunan Koleksi di Rak Buku Frekuensi (F)Persentase (%)1Sangat Tidak Sesuai (STS)75.192Tidak Sesuai (TS) 2115.563Sesuai (S) 8260.744Sangat Sesuai (SS) 2518.52Jumlah135100Sumber data : primerDari Tabel 4 di atas yang menyatakan bahwa susunan buku di rak dalam kondisi teratur, sehingga memberikan kemudahan dalam menemukan buku yang dicari,(60.74%) dinilai oleh pemustaka dalam kondisi sesuai. Semenetara itu18.52% mahasiswa menilai sangat sesuai, 15.56% mahasiswa menilai tidak sesuai, dan 5.19% pemustaka menyatakan sangat tidak sesuai. Artinya bahwa petugas direktorat perpustakaan masih perlu meningkatkan kinerjanya dalam melakukan shelving (penataan kembali buku di rak).Tabel 5: Kesiapan Petugas Membantu Mencari Buku di Rak (Empati) N = 135 (2017)No. UrutKesiapan Petugas Membantu Mencari Buku di Rak (Empati)Frekuensi (F)Persentase (%)1Sangat Tidak Sesuai (STS)21.482Tidak Sesuai (TS) 2820.743Sesuai (S) 8562.964Sangat Sesuai (SS) 2014.81Jumlah135100Sumber data : primerDari Tabel 5 di atas yang menyatakan bahwa ‘petugas selalu memberikan bantuan yang diperlukan (empati) ketika pemustaka mengalami kesulitan dalam mencari buku di rak’,terletak pada daerah sesuai (62.96%), merasa tidak sesuai sebesar 20.74%, sangat sesuai 14.81% dan sangat tidak sesuai sebesar 1.48%. Artinya bahwa empati terhadap pemustaka bagi pegawai Direktorat Perpustakaan UII saat ini dirasakan oleh mahasiswa dalam kondisi memuaskan (sesuai), walaupun baru mencapai 62.96% saja. Dalam kondisi seperti ini, sudah sewajarnya apabila petugas perpustakaan perlu meningkatkan empatinya terhadap pemustaka.Tabel 6: Sikap Ramah Petugas N = 135 (2017)No. UrutKeramahan PetugasFrekuensi (F)Persentase (%)1Sangat Tidak Sesuai (STS)42.962Tidak Sesuai (TS) 1712.593Sesuai (S) 8764.444Sangat Sesuai (SS) 2720.00Jumlah135100Sumber data : primerDari Tabel 6 di atas yang menyatakan bahwa ‘Petugas selalu ramah dan murah senyum‘,terletak pada kategori sesuai (64.44%), mahasiswa yang merasa sangat sesuia sebesar 20.00%, tidak sesuai 12.59% dan sangat tidak sesuai sebesar 2.96%. Artinya bahwa tingkat keramahan terhadap mahasiswa bagi pegawai Direktorat Perpustakaan UII saat ini dirasakan oleh mahasiswa dalam kondisi memuaskan, walaupun baru mencapai 64.44% saja. Dalam kondisi seperti ini, sudah sewajarnya apabila petugas perpustakaan UII perlu meningkatkan keramahannya dan selalu urah senyum terhadap pemustaka.Tabel 7: Ketepatan Waktu (Disiplin)N = 135 (2017)No. UrutKetepatan Waktu (Disiplin)Frekuensi (F)Persentase (%)1Sangat Tidak Sesuai (STS)00 2Tidak Sesuai (TS) 128.893Sesuai (S) 9872.594Sangat Sesuai (SS) 2518.52Jumlah135100Sumber data : primerPada Tabel 7 di atas yang menyatakan bahwa ‘Petugas Direktorat Perpustakaan UII selalu siap melayani sesuai dengan jam layanan yang sudah ditentukan (disiplin)’,terletak pada daerah sesuai (72.59%), merasa sangat sesuai sebesar 18.52%, tidak sesuai 8.89% dan sangat tidak sesuai sebesar 0%. Artinya bahwa kedisiplinan petugas Direktorat Perpustakaan UII saat ini dirasakan oleh mahasiswa dalam kategori sesuai (memuaskan), walaupun baru mencapai 72.59% saja. 4.3. Persepsi Pemustaka terhadap Nilai PerpustakaanPada penelitian ini, kategori Nilai Perpustakaan diklasifikasi dalam 3 nilai, yaitu nilai ekonomi, nilai sosial, dan nilai akademik. Dari olah data ditemukan hasil seperti berikut.Tabel 8: Persepsi Pemustaka terhadap Nilai PerpustakaanN = 135 (2017)No. UrutNilai PerpustakaanFrekuensi (F)Persentase (%)1Nilai Ekonomi32 23.702Nilai Sosial 4835.563Nilai Akademik 5540.74Jumlah135100Sumber data : primerPada Tabel 8 tampak bahwa persepsi mahasiswa terhadap Nilai Perpustakaan Universitas Islam Indonesia paling dominan terletak pada aspek nilai akademik sebesar 40.74%, aspek nilai sosial sebesar 35.56% dan aspek nilai ekonomi sebesar 23.70%.Nilai ekonomi perpustakaan pada studi ini meliputi: (i) keseimbangan yang diperoleh mahasiswa terhadap biaya, waktu, dan usaha yang di keluarkan; (ii) nilai informasi yang diperoleh merupakan investasi yang sangat bermanfaat dalam menunjang proses penyelesaian kuliah; (iii) dengan biaya kuliah yang sudah dikeluarkan oleh mahasiswa, akan diperoleh informasi yang optimal sehingga prestasi belajar dapat dicapai secara maksimal.Selanjutnya nilai perpustakaan pada aspek nilai sosial terdiri dari ketersedian koleksi perpustakaan yang dapat menunjang hobi, peningkatan berbahas asing, pengembangan bisnis dan wirausaha, dan koleksi untuk peningkatan keterampilan profesional. Selain itu pemustaka juga menghendaki adanya jaringan kerjasama dengan lembaga penyedia lowongan kerja, sehingga pemustaka dapat terbantu dengan jasa layanan tersebut. Disamping itu pemustaka juga memandang perlu adanya jasa layanan di perpustakaan dalam bentuk peningkatan kemampuan berbahasa asing bagi pemustaka.Sementara pada aspek nilai akedemik perpustakaan, mahasiswa menilai bahwa: (i) keaktivan kegiatan kemahasiswaan di kampus menurut pandangan mereka tidak mengganggu penyelesaian studi tepat waktu; (ii) pembelajaran fakultas sudah saatnya perlu menjalin kerjasama dengan perpustakaan secara online; (iii) reputasi Perpustakaan UII sudah dapat disetarakan dengan perguruan tinggi lainnya, bahwa pada aspek tertentu perpustakaan UII lebih unggul.
Result & Discussion
Uji validitas bertujuan untuk mengukur sejauh mana ketepatan suatu alat ukur melakukan fungsi ukurnya. Teknik yang digunakan untuk uji validitas adalah Pearson Product Moment. Pengujian validitas dilakukan dengan responden sebanyak 135 responden. Dalam pengujian ini koefisien korelasi kritis diperoleh dari tabel distribusi r pada taraf signifikansi sebesar 5% (0,05) diperoleh nilai rtabel = 0,176. Uji signifikansi dilakukan dengan membandingkan nilai rhitung dengan rtabel. Jika r hitung (untuk r tiap butir pertanyaan terhadap skor total) lebih besar dari r tabel, maka butir atau pertanyaan tersebut dikatakan valid. Hasil Uji Validitas dapat ditunjukkan pada tabel berikut:Tabel 7: Hasil Uji ValiditasN = 135 (2017) VariabelItemrtabelKoefisien KorelasiKeteranganKepuasan PemustakaSoal10.1760.634ValidSoal20.1760.638ValidSoal30.1760.760ValidSoal40.1760.740ValidSoal50.1760. 689ValidSoal60.1760.599ValidNilai PerpustakaanSoal10.1760.466ValidSoal20.1760.529ValidSoal30.1760.647ValidSoal40.1760.647ValidSoal50.1760.665ValidSoal60.1760.658ValidSoal70.1760.617ValidSoal80.1760.469ValidSoal90.1760.574ValidSoal100.1760.620ValidSoal110.1760.515ValidSumber: Data primer olahan, 2017Dari Tabel 7 di atas dapat diketahui besarnya koefisien korelasi (rhitung) dari seluruh butir pertanyaan terdiri dari 6 butir pertanyaan untuk variabel kepuasan (Y), dan 11 butir pertanyaan untuk variabel Nilai Perpustakaan (X) terbukti valid. Data seluruh butir pertanyaan dari hasil hitungan tersebut menunjukkan bahwa rhitung lebih besar daripada rtabel (rhitung > rtabel). Dengan demikian seluruh item pertanyaan variabel layak digunanakan untuk penelitian selanjutnya.5.2. Uji ReliabilitasUji Reliabilitas dilakukan untuk mengetahui sejauh mana alat ukur dapat memberikan hasil yang konsisten bila digunakan untuk mengukur obyek yang sama dengan alat ukur yang sama. Teknik yang digunakan untuk menilai reliabilitas adalah Cronbach’s Alpha (α), dengan cara menyebarkan angket/kuesioner kepada Mahasiswa Universitas Islam Indonesia yang berkunjung ke Direktorat Perpustakaan UII. Suatu instrumen penelitian dapat dikatakan reliabel (andal), jika alpha (α) lebih besar dari 0,60 (Ghozali, 2005: 42). Hasil pengujian reliabilitas dapat disajikan pada tabel berikut:Tabel 8: Hasil Pengujian ReliabilitasN = 135 (2017) VariabelKoef. Alpha Cronbach (α)Nilai KritisKeteranganNilai Perpustakaan0.7960.6ReliabelKepuasan Mahasiswa0.7560.6ReliabelSumber : Data primer olahan, 2017Berdasarkan ringkasan hasil uji reliabilitas seperti yang tersaji dalam Tabel 8 di atas, dapat diketahui bahwa nilai koefisien Cronbach’s Alpha (α), pada seluruh variabel lebih besar dari 0.6. Dengan demikian maka seluruh butir pertanyaan dalam variabel penelitian memiliki tingkat keandalan dalam kriteria tinggi. Sehingga butir-butir pertanyaan dalam variabel penelitian tersebut dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya.5.3. Persepsi Responden terhadap Variabel PenelitianVariabel nilai perpustakaan (X) terdiri atas 3 indikator, diantaranya adalah nilai ekonomi, nilai sosial, dan nilai akademik. Sementara variabel kepuasan mahasiswa terdiri dari 5 indikator diantaranya kecepatan layanan, shelving, empati, keramahan, dan kedisiplinan. Kuis/pertanyaan yang diajukan terhadap responden pada variabel nilai perpustakaan terdiri dari 11 butir pertanyaan, dan variabel kepuasan mahasiswa terdiri dari 6 butir pertanyaan. Setelah dilakukan uji validitas terbukti seluruh butir pertanyaan dinyatakan valid, sehingga 17 butir pertanyaan dapat digunakan untuk melakukan uji statistik. Oleh responden diberikan persepsi sebagaimana disajikan pada Tabel 9. Tabel 9: Tingkat Persepsi Responden terhadap Variabel PenelitianN = 135 (2017)VariabelIndikatorSkor Jawa-banSkor TotalNilai Persep-siKuali-fikasiNilai Perpus-takaan3,5685,94060,07TinggiNilai Ekomi1171162072,28TinggiNilai Sosial1965270072,78TinggiNilai Akademik1194162073,70TinggiKepua-san Mahasis-wa2375324073,30TinggiKecepatan Layanan41954077,59Sangat TinggiShelving38354070,93TinggiEmpati37954070,19TinggiKerama-han39554073,15TinggiKecepa-tan39254072,59TinggiKedispli-nan40754075,37Sangat TinggiSumber: data primer diolah. Catatan: 0,01-25: Sangat Rendah; 25,01-50: Rendah; 50,01-75: Tinggi; 75,01-100: Sangat TinggiPada Tabel 9 tampak, bahwa persepsi mahasiswa terhadap variabel nilai perpustakaan dalam kualifikasi tinggi dengan nilai persepsi sebesar 60,07 dan variabel kepuasan mahasiswa tergolong dalam kualifikasi tinggi pada angka persepsi sebesar 73,30. Sementara indikator nilai akademik dalam kualifikasi tinggi dengan angka persepsi sebesar 73,70 dan terendah terdapat pada nilai ekonomi dengan skor72,28. Selanjutnya indikator kecepatan layanan menempati persepsi tertinggi 77,59 dalam kualifikasi sangat tinggi dan terendah pada indikator empati pada kualifikasi tinggi dengan angka persepsi sebesar 70,19. Dari uraian tabel 9 diatas dapat dipahami bahwa ada hal-hal yang perlu ada perbaikan layanan yaitu pada aspek nilai ekonomi (dari indikator variabel nilai perpustakaan) dan aspek empati pada variabel kepuasan mahasiwa.5.4. Pengujian KorelasiKorelasi selain dapat untuk mengetahui derajat/keeratan hubungan, juga dapat untuk mengetahui arah hubungan dua variabel numerik. Dalam penelitian ini akan dicari hubungan antara nilai Direktorat Perpustakaan UII dengan kepuasan mahasiswa UII.Tabel 10: Hasil Uji Korelasi Nilai Perpustakaan terhadap Kepuasan N = 135 (2017)CorrelationsNilai PerpustakaanKepuasan PemustakaNilai Perpusta-kaanPearson Correlation1.724**Sig. (2-tailed).000N135135Kepuasan Mahasis-waPearson Correlation.724**1Sig. (2-tailed).000N135135** Correlation is significant at the 0.01 level (2-tailed). Sumber: Data Primer diolahDari hasil hitungan di atas diketahui bahwa terdapat pengaruh Nilai Perpustakaan UII (X) terhadap Kepuasan Mahasiswa UII (Y) dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 (0,000) lebih kecil dari 0,05). Sementara tingkat korelasi antara variabel X dengan variabel Y terdapat pengaruh sebesar 72,4% (0,724) dimana kriteria tingkat pengaruh (koefisien korelasi antar variable berkisar antara + 0.00 sampai + 1,00 dengan rincian sebagai berikut:Tabel 11: Kriteria Tingkat Pengaruh antar VariabelNoSkor KorelasiKategori Korelasi10,00 – 0,20Hampir Tidak Ada Korelasi20,21 – 0,40Korelasi Rendah30,41 – 0,60Korelasi Sedang40,61 – 0,80Korelasi Tinggi50,81 – 1,00Artinya Korelasi SempurnaSumber: Sungadi (2018)Dari hasil peneltian ini diperoleh hasil bahwa tingkat korelasi antara nilai perpustakaan terhadap kepuasan mahasiswa UII adalah sebesar 72,40% (0,724). Artinya pengaruh kepuasan mahasiswa UII dari nilai perpustakaan sebesar 72,40%, sementara masih ada faktor diluar nilai perpustakaan sebesar 27,60% yang mempengaruhi kepuasan mahasiswa.Berdasarkan hasil uji korelasi tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa dalam penelitian ini menerima hipotesis yang menyebutkan bahwa terdapat pengaruh antara nilai perpustakaan terhadap kepuasan mahasiswa UII dalam mendapatkan pelayanan. Sementara tingkat pengaruh nilai perpustakaan terhadap kepuasan mahasiswa UII pada kategori tinggi.Untuk mengkaji lebih mendalam terhadap kepuasan pemustaka dari hanya sekedar melihat dari sisi nilai perpustakaan, oleh Jayasundara disarankan untuk lebih ditingkatkan kepada hal-hal yang lebih kompleks lagi. Dari hasil penelitiannya dia menjelaskan bahwa kepuasan pelanggan dari perspektif kualitas layanan di perpustakaan universitas jauh lebih kompleks daripada dikonseptualisasikan oleh alat saat ini, seperti LibQUAL, SURVPREF dan SERVQUAL. Akibatnya, penelitiannya telah menghasilkan model akhir yang paling baik digunakan untuk mengidentifikasi dan mengarahkan kegiatan penilaian praktis secara efisien di perpustakaan universitas, memungkinkan perpustakaan untuk mengevaluasi layanan mereka secara sistematis dan untuk mengidentifikasi area untuk peningkatan yang efektif. Selanjutnya, domain-domain ini menyediakan kerangka acuan bagi perpustakaan universitas untuk menilai kinerjanya. Struktur domain dari model eksklusif ini tidak dapat diamati pada model generik lainnya. Meskipun beberapa area berkualitas mungkin tidak memuaskan pelanggan, manajemen harus tetap mempertahankan tingkat kualitas yang mematuhi standar perpustakaan dan memperbaiki setiap kegagalan dari atribut ini, untuk mencegah efek yang merugikan pada kepuasan pemustaka. Meskipun tidak mengurangi kepuasan pemustaka, dari penelitian lapangan sebelumnya, penelitian ini telah menunjukkan implikasi yang signifikan bagi para peneliti dan administrator perpustakaan dalam memahami pentingnya domain kepentingan individual dalam spektrum layanan perpustakaan pergruan tinggi, untuk memberikan kepuasan tertinggi bagi pelanggan dengan layanan perpustakaan berkualitas.
Conclusion
Sementara dari hasil analisis korelasi terbukti bahwa terdapat pengaruh nilai perpustakaan terhadap kepuasan mahasiswa hasil studi empiris pada Direktorat Perpustakaan UII, sehingga hipotesis penelitian ini diterima.Rekomendasi bagi Direktorat Perpustakaan UII ada hal-hal yang perlu ada perbaikan layanan yaitu pada aspek nilai ekonomi (dari indikator variabel nilai perpustakaan) dan aspek empati pada variabel kepuasan mahasiwa. Perbaikan nilai ekonomi menyangkut hal-hal antara lain: (i) adanya keseimbangan layanan yang diperoleh oleh mahasiswa dengan biaya, waktu, dan usaha yang telah dikeluarkan; (ii) informasi yang diperoleh mahasisea merupakan investasi yang sangat bermanfaat dalam menunjang proses penyelesaian kuliah, sehingga diperlukan infoemasi yang benar-benar berkualitas dan relevan; (iii) dengan biaya kuliah yang sudah dikeluarkan, para mahasiswa akan mengoptimalkan dalam pemanfaatan layanan perpustakaan. Sementara empati yang diperlukan mahasiswa adalah dalam bentuk bantuan dari petugas perpustakaan ketika mahasiswa mengalami kesulitan dalam mencari dan menemukan koleksi/informasi yang dibutuhkan