Kembali
16
1
2019 Unilib: Jurnal Perpustakaan Vol 10 · 2 ISSN 2715-274X

Integrasi Nilai Islam Multikultural dalam Pengembangan Perpustakaan Digital: Studi Kasus pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Malang Jawa Timur

Proklamator Bung Karno Blitar

Abstrak

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan paradigma kajian pengembangan perpustakaan digital dalam membangun aksesibilitas informasi berbasis nilai Islam multikultural. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam (dept interview) dan pemilihan objek dalam penelitian ini dengan teknik purposive sampling dengan 12 (duabelas) informan terdiri unsur kepala perpustakaan, kepala bidang, pengelola koleksi digital, pustakawan pengelola layanan digital dan mahasiswa. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada proses analisis yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman yang meliputi 3 (tiga) tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa strategi pemgembangan perpustakaan digital kedalam 3 (tiga) pola pendekatan antara lain pendekatan manajemen yang didasarkan pada perumusan konsep desain dan perancangan, pengembangan koleksi yang beragam, dan kebijakan / regulasi akses dan kedua, modernitas teknologi informasi, ketiga integrasi nilai multikultural melalui penguatan pada nilai demokrasi informasi melalui keterbukaan akses (open access), modernitas teknologi informasi berbasis humanisme, kesadaran hukum dan keadilan dalam legalitas informasi, kebersamaan resource sharring dan mengembangkan toleransi dalam membangun kesadaran yang saling menghargai dalam layanan perpustakaan digital. Integrasi nilai multikultural dalam erspektif teknis, manajemerial kepustakawanan, budaya sebagai pijakan yang mendasari dalam pengembangan perpustakaan di era digital</p>
Keywords: Islam Perpustakaan Digital Aksesibilitas Informasi dan Multikultural

Introduction

Dalam era informasi dewasa ini yang ditandaidengan perubahan perilaku masyarakat dalam mencari informasi. Dinamika perpustakaan juga terjadi perubahan sebagaimana pandangan dari Ranganathan bahwa perpustakaan merupakan organisasi yang tumbuh “growing organism”. Transformasi Perpustakaan tersebut mampu beradaptasi sebagai lembaga demokratis yang membangun aksesibilitas informasi serta berupaya memenuhi tuntutan dan kebutuhan masyarakat dalam menjawab tantangan zaman (Zulaikha, 2010).Modernitas lembaga perpustakaan perguruan tinggi yang demokratis mengharuskan layanan perpustakaan yang beragam dan bervariasi sehingga masyarakat dapat mencari informasi dengan cepat dan tepat. Perkembangan teknologi informasi yang sangat cepat tersebut telah merubah cara kerja dan sistem manajemen yang mampu mempercepat kinerja, kecepatan kinerja dan meningkatkan keuntungan dan omset yang masuk baik secara finansial maupun jaringan. Kemajuan teknologi dan informasi menuntut peran perpustakaan dalam menyediakan informasi, mengorganisasi, melestarikan, dan mendayagunakan serta mendesiminasikan informasi kepada masyarakat secara cepat, mudah, dan murah dengan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi (Supriyanto & Muhsin, 2008). Integrasi Nilai Islam Multikultural dalam Pengembangan Perpustakaan Digital: Studi Kasus pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Malang Jawa TimurHartonoPerpustakaan Proklamator Bung Karno Blitaremail: hartono_hary@yahoo.co.idAbstrakPenelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan paradigma kajian pengembangan perpustakaan digital dalam membangun aksesibilitas informasi berbasis nilai Islam multikultural. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam (dept interview) dan pemilihan objek dalam penelitian ini dengan teknik purposive sampling dengan 12 (duabelas) informan terdiri unsur kepala perpustakaan, kepala bidang, pengelola koleksi digital, pustakawan pengelola layanan digital dan mahasiswa. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada proses analisis yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman yang meliputi 3 (tiga) tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa strategi pemgembangan perpustakaan digital kedalam 3 (tiga) pola pendekatan antara lain pendekatan manajemen yang didasarkan pada perumusan konsep desain dan perancangan, pengembangan koleksi yang beragam, dan kebijakan / regulasi akses dan kedua, modernitas teknologi informasi, ketiga integrasi nilai multikultural melalui penguatan pada nilai demokrasi informasi melalui keterbukaan akses (open access), modernitas teknologi informasi berbasis humanisme, kesadaran hukum dan keadilan dalam legalitas informasi, kebersamaan resource sharring dan mengembangkan toleransi dalam membangun kesadaran yang saling menghargai dalam layanan perpustakaan digital. Integrasi nilai multikultural dalam erspektif teknis, manajemerial kepustakawanan, budaya sebagai pijakan yang mendasari dalam pengembangan perpustakaan di era digitalKata Kunci:Islam Perpustakaan Digital Aksesibilitas Informasi dan Multikultural Dinamika perpustakaan digital dari berbagai inovasinya telah merambah pada segala aspek kehidupan masyarakat, bukan saja untuk kebutuhan mencari informasi dilingkungan pendidikan tinggi saja namun sudah merambah kepada seluruh lapisan masyarakat. Modernisasi perpustakaan juga telah diadopsi dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007, Bab V pasal 14 ayat 3 disebutkan bahwa setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan tekonologi informasi dan komunikasi. Heterogenitas sumber informasi perpustakaan dari berbagai jenis karya tulis, karya cetak, karya rekam, dan karya digital mengharuskan layanan membutuhkan teknologi aksesibilitas informasi perpustakaan digital yang semakin canggih dan profesional. Kecanggihan aksesibilitas informasi merupakan faktor kunci dalam mencari sumber informasi yang memungkinkan koleksi dapat ditemukan dengan cepat, mudah, dan akurat. Bertolak dari pemikiran tersebut, masalah aksesibilitas informasi menjadi permasalahan dalam pengembangan perpustakaan digital. Fenomena kepustakawanan tersebut telah menjadikan objek yang menarik untuk diteliti dalam dalam memahami perpustakaan digital dalam membangun aksesibilitas informasi. Kesenjangan informasi dan kemudahan akses (accessibility) menjadi faktor penting dalam pengembangan perpustakaan digital. Praktek dan interaksi sosial aksesibilitas informasi tersebut merupakan isu sentral dalam pengembangan perpustakaan digital pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Malang.Bertolak dari pemikiran di atas dalam upaya mengembangkan perpustakaan digital terdapat akumulasi unsur antara lain aspek manajemen, teknologi dan nilai multikultural. Karena itu, untuk mengembangkan perpustakaan digital perlu membangun strategi implementasi manajemen, pengembangan teknologi dan pendekatan nilai keragaman budaya.</p>

Method

Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif, dengan paradigma batasan penelitian kajian strategi pengembangan perpustakaan digital dalam membangun aksesibilitas informasi berbasis nilai Islam multikultural pada Perpustakaan Perguruan Tinggi negeri di Malang Jawa Timur. Pemilihan 3 (tiga) Universitas perguruan tinggi negeri di Malang didasarkan pertimbangan hasil observasi dalam penetapan lokasi penelitian.Metode pengumpulan data menggunakan observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam (in-depth interview). Pemilihan objek dalam penelitian ini dengan teknik purposive sampling. Informan ditetapkan berjumlah 12 (duabelas) informan terdiri unsur pimpinan mperpustakaan, pengelola koleksi digital, bagian pengelola layanan digital dan pemustaka. Pengolahan data penelitian ini mengacu pada proses analisis yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman yang meliputi 3 (tiga) tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan menggunakan uji trianggulasi yaitu teknik pemeriksaan dan keabsaan data dengan mengecek baik derajat kepercayaan suatu informasi.</p>

Result & Discussion

Pada tahun 2004 Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Malang telah berhasil mengimplementasikan automasi perpustakaan berbasis web. Melalui berbagai program manajemen melakukan kerjasama dan pengembangan lainnya, perpustakaan Universitas Brawijaya (UB) memperoleh penghargaan sebagai perpustakaan yang mengembangkan dan menerapkan information technology (IT) dengan baik. Pada tahun yang sama Perpustakaan Pusat UM Malang menjadi perpustakaan unggulan perpustakaan Perguruan Tinggi di Jawa Timur yang berhasil mengembangkan perpustakaan digital. Pada tahun 2010 perpustakaan UIN Malang menjadi pioneer di lingkungan perguruan tinggi negeri dan PTAIN ditanah air membangun instituational repository dan melayankan koleksinya secara fulltext melalui internet. Sejumlah komponen yang telah dikembangkan pada perpustakaan perguruan tinggi di malang tersebut hampir secara keseluruhan telah membuktikan upaya yang keras dalam mengembangkan perpustakaan digital. Hal tersebut dibuktikan adanya komponen pengembangan koleksi baik pada aspek organisasional, mekanisasi, otomasi dan komunikasi informasi serta legalitas informasi sebagai implementasi pengembangan perpustakaan digital. Dalam mengembangkan perpustakaan digital menyangkut aspek manajemen, teknologi, kebijakan/hukum dan nilai budaya.Perpustakaan Pusat Universitas Brawijaya (UB) menggunakan Sistem informasi Inlis-Lite v.3, dengan database perpustakaan digital Brawijaya Knowledge Garden (BKG) serta pengembangan akses layanan digital pada Gazebo dan Terraz Digital. Pengembangan perpustakaan digital pada Perpustakaan Universitas Malang (UM) dengan sistem informasi Sipadu berbasis metadata local serta memiliki koleksi digital dengan database Mulok serta pengembangan akses pada Café Pustaka. Profil pengembangan perpustakaan digital pada UIN Malang dengan mengimplementasikan sistem informasi Slims berbasis metadata doublin core dengan database E-These dan didukung Corner Pustaka.Tabel 1 Ringkasan Perbandingan Perpustakaan DigitalPada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Malang Jawa TimurNo.Aspek ImplementasiUniversitas Brawijaya (UB)Universitas Negeri Malang (UM)Universitas Islam Negeri (UIN)Malang1.DatabaseGazebo, BKG Corner, Sampurna CornerCafé Pustaka disertai Wifi/hotspotE-Thesis dan Arabic Corner dan Sudan Corner, BI Corner.2.HardwareMengadakan perangkat keras untuk komputer, server, jaringan dan komputer client baik didalam perpustakaan maupun di Terraz dan Gazebo.Mengadakan perangkat keras untuk komputer, server, jaringan dan komputer client di Perpustakaan maupun di TerrazMengadakan perangkat keras untuk komputer, server, jaringan dan Komputer client di Perpustakaan.3SoftwareInlis Lite Versi 3Berbasis IndomarcSipadu Berbasis LokalE-Print dan Slims Berbasis doubling core4FasiltasBrawijaya Knowledge Gerden dan Instituational Repository (IR)Mobile libraryMuatan Lokal (MULOC), Café Pustaka disertai Wifi/hotspotE-Thesis, Arabic Corner , Sudan Corner dan Instituational Repository (IR), bookdropSumber : Sintesa PenelitiImplementasi Perpustakaan Digital dalam Era InformasiTransformasi perpustakaan pada abad 21 telah diramalkan oleh para pakar, yaitu terkait perubahan konsep kepustakaan mulai dari tugas-tugas perpustakaan hingga sumber daya koleksi dan jasa layanan perpustakaan yang diberikan oleh perpustakaan digital. Prinsip dan konsep dalam perpustakaan digital lingkungan global sebagaimana dijelaskan oleh Teed bahwa adanya peran teknologi, manajemen keterampilan, organisasi akses, users dan services, interfaces design dan searching,dan browsing dan isu kekayaan intelektual (intellectual proverty) dalam sikap pengetahuan (knowledge attitudes) (Teed & Large, 2005).Dalam pengembangan perpustakaan digital baik secara teknis maupun non teknis sebagaimana disampaikan dalam Pendit dalam pengembangan perpustakaan digital terdapat 3 (tiga) aspek penting yang perlu diperhatikan (Pendit, 2009). Pertama, aspek organisasional. Dalam pengembangan perpustakaan digital, aspek organisasi merupakan infrastruktur penting dan strategis untuk mendapatkan perhatian. Selain itu, dalam aspek ini juga disinggung tentang organisasi informasi itu sendiri, yang mengalami perubahan mendasar sejak digunakannya komputer sebagai alat bantu penyimpanan dan penemuan kembali informasi. Kedua, aspek mekanisasi, otomatisasi, dan komunikasi informasi. Dalam pengembangan perpustakaan berbasis teknologi informasi, pengelolaan perpustakaan digital pada aspek mekanisasi, otomatisasi dan komunikasi informasi merupakan komponen kunci dan sangat menentukan sukses atau tidaknya dalam tahap implementasi atau pelaksanaan perpustakaan digital. Aspek ini meliputi infrastruktur teknologi informasi, metadata, sistem temu kembali informasi, jaringan telekomunikasi, internet dan web, dan teknik digitalisasi. Ketiga, aspek legalitas. Dalam pengembangan perpustakaan digital, aspek hukum dan etika dalam informasi menjadi sangat penting pada era informasi. Aspek legalitas menyangkut etika dalam digitalisasi, transaksi elektronik, hak cipta (intellectual property) dan plagiarisme. Sampai saat ini masih banyak perdebatan yang terjadi di berbagai kalangan masyarakat tentang bagaimana sebaiknya mengatur penggunaan teknologi digital agar tidak menimbulkan kebingungan dan kerancuan tentang hak serta kewajiban orang.Pembangunan perpustakaan digital bagi masyarakat tidak akan lepas dari keinginan untuk saling berbagi. Dalam hal ini, perpustakaan berusaha untuk berbagi informasi kepada para pemustaka yang membutuhkan. Oleh karena itu, pembangunan perpustakaan digital perlu disesuaikan dengan kondisi pemustaka yang dilayani. Idealnya, sebelum mendesain dan mengaplikasikan sesuatu yang baru, termasuk perpustakaan digital, terlebih dahulu dilakukan analisa terhadap kebutuhan pemustakan (Teed & Large, 2005). Hal ini dilakukan terutama untuk mengetahui informasi apa yang mereka butuhkan ketika berkunjung ke perpustakaan digital. Selain itu, hasil analisis nantinya akan memengaruhi desain model perpustakaan digital yang akan diimplementasikan. Oleh karena itu, dalam implementasinya, sebaiknya perpustakaan digital menyediakan ruang yang akan memberikan kesempatan bagi pemustaka untuk saling berbagi informasi, termasuk bagaimana pengembangan perpustakaan digital ke depan.Dari uraian di atas dapat dijelaskan bahwa implementasi perpustakaan digital diperlukan strategi pengembangan perpustakaan digital berbasis nilai nilai-nilai Islam multicultural, yakni dalam rangka atau tujuan sebagai berikut: (a) memahami keanekaragaman budaya dalam merancang dan mendesain perpustakaan digital; (b) menghargai koleksi perpustakaan digital untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka yang beraneka ragam; (c) mengembangkan sumber daya manusia secara professional; (d) berinteraksi dengan teknologi informasi dengan lancar; dan (e) membangun kesadaran kritis terhadap regulasi kebijakan akses perpustakaan digital. Urgensi Nilai Islam Multikultural dalam Pengembangan Perpustakaan DigitalKehadiran perpustakaan digital tersebut diharapkan mengatasi kesenjangan dalam akses informasi masyarakat. Kendala utama dalam pengembangan perpustakaan digital pada perguruan tinggi pada umumnya adalah belum optimalnya aksesibilitas informasi. Permasalahan aksesibilitas informasi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain masalah manajemen, teknologi, kebijakan dan regulasi akses hingga dengan masalah sosial budaya. Dalam pengelolaan perpustakaan digital, di samping masalah teknis dan manajerial, nilai-nilai keberagaman masyarakat merupakan pilar penting dalam pengembangan demokrasi informasi, inovasi teknologi, dan keadilan dalam legalitas informasi yang dapat melayani aksesibilitas masyarakat secara demokratis dan berkeadilan.</p> <p>Bila diperhatikan, dalam pengembangan perpustakaan digital perguruan tinggi dapat dilihat dari tiga hal berikut pertama, dilihat dari aspek strategi. Ini ditunjukkan pada masing-masing perpustakaan perguruan tinggi negeri di Malang di mana perpustakaan digital memiliki strategi yang berbeda-beda baik dalam strategi membangun konsep dan desain, strategi dalam pengembangan koleksi digital, strategi manajemen sumber daya manusia (SDM), maupun strategi dalam menetapkan kebijakan akses informasi. Kedua, pengembangan perpustakaan digital dapat dilihat pada sistem dan teknologi informasi dalam upaya membangun aksesibilitas informasi. Dalam membangun aksesibilitas informasi sangat bervariasi. Hal ini dapat dilihat dari penyediaan infrastruktur teknologi informasi, sistem temu balik informasi, mengorganisasi dan metadata, jaringan internet dan kerjasama perpustakaan (resource sharing). Ketiga, pengembangan perpustakaan dapat dilihat dari pada nilai-nilai Islam multikultural. Hal ini dapat dilihat dari pengembangan perpustakaan digital yang bersumber pada nilai-nilai keragaman budaya seperti sikap, norma, nilai, dan perilaku.Gambaran integrasi nilai multikultural dalam pengembangan perpustakaan digital dapat dilihat dalam tabel berikut ini :Tabel 1.4Ringkasan Integrasi Nilai Multikultural dalam Pengembangan Perpustakaan Digital pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di MalangAspek / SubjekPerguruan TinggiUBUMUINDemokrasiDemokrasi dengan membangun Brawijaya Knowledge Garden (BKG) yang dapatdiakses terbuka (open access) melalui Aplikasi Inlis Lite v.3, Demokrasi dalam mengembangkan koleksi muatan local (MULOK) yang bisa diakses secara terbuka melalui aplikasi Sipadu.Demokrasi dalam melestarikan local conten (LOCO) yang dapat diakses terbuka pada aplikasi E-PrintHumanismeHumanisme membangun fasilitas gazebo digitalHumanisme mengembangkan café pustakaHumanisme mendayagunakan Corner PustakaKeadilanKeadilan memportalisasi dalam sebuah navigasi kejahatan informasi (cybercrime)Keadilan melalui mensosialisasi undang-undang hak ciptaKeadilan mengimplemantasikan aplikasi plagiarisasi (plagiarism Chexcher)KebersamaanKebersamaan membangun jaringan informasi digital (networks)Kebersamaan mengembangkan kerjasama perpustakaan digital (library cooperations)Kebersamaan mendayagunakan upaya dalam berbagi sumber daya koleksi digital (resource sharing)ToleransiToleransi dalam mengembangkan layanan berbasis teknologi informasiToleransi dengan menghargai pengguna kebutuhan informasi Toleransi dengan membangun kesadaran melalui regulasi akses terbuka secara tertulisSumber: Sintesa PenelitiDalam upaya memperjelas ”Pola integrasi Pengembangan Perpustakaan Digital dalam Membangun Aksesibilitas Informasi Berbasis Nilai Islam Multikultural” dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Demokrasi Informasi Layanan Berbasis ”Open Access”Demokrasi informasi merupakan kegiatan dalam upaya mengembangkan layanan jasa perpustakaan yang memungkinkan keterbukaan informasi (open access) yang dikembangkan oleh manajemen perpustakaan modern. Konsep open access merujuk kepada aneka jasa informasi digital yang tersedia secara terpasang (online), gratis (free of charge), dan terbebas dari semua ikatan atau hambatan hak cipta atau lisensi. Artinya, ada sebuah penyedia yang meletakkan berbagai berkas, dan setiap berkas itu disediakan untuk siapa saja yang dapat mengakses. Kebijakan keterbukaan informasi tersebut dirancang untuk membangun aksesibilitas informasi. Dalam upaya membangun demokrasi informasi tersebut perpustakaan perguruan tinggi diperlukan upaya dalam perancangan, tata kelola, manajemen dan kebijakan dalam pengaturan akses perpustakaan digital. Strategi Implementasi manajemen perpustakaan digital pada Perpustakaan Perguruan Tinggi yang telah dilakukan pada perpustakaan perguruan tinggi di Malang dalam bentuk “Pola Implementasi Manajemen” adalah sebagai berikut: (a) melakukan rancang bangun perpustakaan digital dalam pembangunan perpustakaan digital melalui desain dan perancangan yang matang; (b) mengembangkan manajemen sumberdaya manusia (SDM) secara professional baik melalui pendidikan, pelatihan maupun bimtek yang dibutuhkan; (c) melaksanakan pengembangan koleksi digital yang beragam berasarkan azas pendirian perpustakaan; (d) mengembangkan layanan perpustakaan yang bervariasi dan inovatif dan (e) Menyusun kebijakan akses secara tertulis yang mengatur dalam etika informasi, hak cipta, plagiarism dan masalah kejahatan informasi (cybercrime).2. Humanisme dalam Modernitas Teknologi DigitalDalam konteks pengembangan perpustakaan digital bahwa humanisme merupakan nilai multikultural dalam Islam yang sangat mempengaruhi keberhasilan tugas, fungsi, dan tujuan perpustakaan digital. Dalam memahami keanekaragaman budaya terhadap pengembangan perpustakaan digital tersebut ada peran interaksi manusia melalui penyediaan infrastruktur baik gedung, fasilitas teknologi informasi perpustakaan digital, memahami sistem temu balik informasi untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka yang beraneka ragam, komitmen dalam mengembangkan sistem metadata yang tepat bagi masyarakat yang beragam, mengembangkan sistem informasi dan teknologi informasi dengan lancar guna membangun interoperabilitas antara perpustakaan; dan menyediakan sistem internet yang memadai dalam berbagi sumber daya perpustakaan digital. Implementasi nilai humanisme dalam modernitas teknologi informasi pada pengembangan perpustakaan digital sangatlah bervariasi pada Universitas Brawijaya Malang misalnya integrasi humanisme perpustakaan digital dapat kita lihat dari beberapa aspek antara lain pertama, bagaimana mengembangkan fasilitas yang lengkap dan mudah untuk mengakses dengan dilengkapi gazebo, komputer, jaringan dan colokan listrik yang sangat memadai, kedua,membangun jaringan internet melalui suplay bandwidth dan sistem informasi yang lancar dan ketiga, mengembangkan desain teknologi perpustakaan digital untuk mengatasi masalah bahasa antara lain dengan aplikasi Aplikasi Voice Announcementmultibahasa.Kemudian implementasi nilai humanisme terhadap modernitas teknologi informasi perpustakaan digital pada Universitas Negeri Malang (UM) nilai humanisme dapat diimplementasikan sebagai berikut: pertama,pengembangan fasilitas gedung dan ruangan kedua, sistem penelusuran yang cepat dan nyaman dan ketiga, mengembangkan layanan terraz digital dan café pustaka yang modern untuk mendukung aksesibilitas informasi. Pengembangan humanisme dalam modernitas teknologi informasi juga terjadi pada Universitas Islam Negeri Malang antara lain dilakukan aktivitas sebagai berikut: pertama, mengembangkan corner perpustakaan digitalyang dilengkapi meja baca dan komputer dan jaringan yang memadai, kedua, memberikan fasilitas desain teknologi perpustakaan digital untuk mengatasi masalah bahasa melalui program literasi informasi dan ketiga memberikan fasilitas dan pelayanan perpustakaan digital bagi pemustaka berkebutuhan khusus (diffabel).3. Keadilan Akses dalam Legalitas InformasiDalam konsep perpustakaan digital bahwa hak kekayaan intelektual (intellectual property) merupakan bagian integral dalam pengembangan ayanan perpustakaan digital. Dalam perspektif sosial bahwa dalam dunia digital mengenal suatu kaidah etis yang disebut sebagai kaidah penggandaan (copynorms). Istilah tersebut diartikan sebagai suatu standar sosial yang terkait dengan etika pangadaan materi-materi yang dilindungi hak cipta. Dalam hal ini pengadaan materi yang dilindungi hak cipta tanpa izin dari pemegang hak yang sah dipandang sebagai suatu perbuatan yang tidak etis, isu ini mulai muncul setelah maraknya aktifitas sistem pertukaran data. Berkaitan legalitas informasi dapat dijelaskan bahwa dalam masalah hukum sangat berhubungan erat dengan legalitas informasi yang akan berbanding lurus dengan akesibilitas informasi. Aspek hukum dalam informasi berkaitan dengan etika mencari informasi, masalah hak kekayaan intelektual atau Haki, masalah plagiarism dan masalah undang-undang transaksi elektronik. Dengan adanya kebijakan dan regulasi akses informasi akan memberikan kepastian masyarakat kepada masyarakat dalam mencari informasi sekaligus membangun kemudahan dalam mendapatkan informasi. Dengan terbangunnya aksesibilitas informasi maka akan terpenuhinya kebutuhan masyarakat dalam upaya untuk membangun segala aspek kehidupannya bagi masyarakat informasi.Dalam perspektif hukum bahwa perpustakaan perlu memperhatikan pengaturan tentang hak dan kewajiban dalam cara menyajikan, menyimpan, menyebarkan dan menggunakan informasi dalam kegiatan pendidikan tinggi. Perpustakaan juga masih bekerja dengan prinsip-prinsip legal dan etika yang didasarkan pada tradisi cetak. Manakala teknologi digital membawa ciri-ciri baru ke dunia kepustakawanan, maka adalah tugas pustakawan untuk memahami aturan-aturan baru yang diperlukan agar kegiatan perpustakaan tetap pada koridor hukum yang berlaku di sebuah masyarakat. Aspek etis dan yuridis yang harus menjadi perhatian pihak yang terkait dengan digitalisasi, baik pengguna sistem (user), pengembang sistem (developer), maupun penyelenggara sistem (operator). Digitalisasi menimbulkan tata cara baru dalam emanfaatkan data, informasi dan pengetahuan, sehingga ketiga pihak perlu menyepakati aturan baru pula (Pendit, 2009).4. Kebersamaan dalam Jaringan Informasi Resource SharringDalam konteks pengembangan perpustakaan digital, nilai kebersamaan yang merupakan nilai Islam multikultural yang memiliki potensi yang dapat dikembangkan. Dalam pengembangan perpustakaan digital dalam rangka membangun aksesibilitas informasi, implementasi nilai kebersamaan atau kerjasama diarahkan pada berbagai maksud dan tujuan, antara lain kebersamaan dalam memahami keanekaragaman budaya melalui kerjasama jaringan informasi pada perpustakaan digital, kebersamaan dalam menghargai kerjasama perpustakaan digital untuk memenuhi kebutuhan informasi pemustaka yang beraneka ragam dan kebersamaan dalam mengembangkan kerjasama antar perpustakaan.Implementasi nilai kebersamaan dalam mengembangkan jaringan kerjasama perpustakaan pada Universitas Brawijaya, antara lain sebagai berikut: pertama, mengembangkan jaringan perpustakaan digital berbasis pada rumusan kesepakatan memorium of understanding (MoU), kedua pengembangan kerjasama jaringan perpustakaan digital pada bidang subjek multidisiplin dan ketiga kerjasama dan jaringan informasi digital memiliki ruang lingkup pada pengembangan akses koleksi perpustakaan dengan penguatan teknologi informasi, keempat mengedepankan jaringan informasi pada jangkauan nasional dan internasional.</p> <p>5. Toleransi Jasa Kemitraan Layanan Perpustakaan DigitalDalam konteks pengembangan perpustakaan digital, toleransi berupa sikap mengakui, menerima, dan menghargai merupakan nilai Islam multikultural dan dapat diarahkan untuk mempengaruhi keberhasilan tugas, fungsi, dan tujuan perpustakaan digital, antara lain: pertama, membangun toleransi dalam menghargai keanekaragaman dalam masyarakat yang dilayani; kedua, toleransi mengakui dalam mengembangkan koleksi; ketiga, saling menghargai dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustaka yang beraneka ragam melalui kerjasama; keempat, saling memahami dalam mengembangkan akses informasi kepada masyarakat, kelima saling berbagi dalam berinteraksi berbagi sumber informasi menggunakan teknologi informasi dengan lancar dan keenam, toleransi dalam bersikap membangun kesadaran kritis terhadap regulasi kebijakan akses perpustakaan digital.Strategi integrasi nilai multikultural dalam pengembangan perpustakaan digital” dapat digambarkan sebagai berikut :Gambar 3 Kerangka Integrasi Nilai Multikultural dalam Pengembangan Perpustakaan Digita</p>

Conclusion

Berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan, dapat ditarik kesimpulan yaitu: 1. Implementasi perpustakaan digital pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Malang (UB, UM dan UIN) telah berjalan sebagaimana adanya namun terdapat 4 (empat) permasalahan utama yang harus diatasi antara lain masalah perencanaan perpustakaan digital, aspek manajemen sumber daya manusia belum memadai, belum adanya kebijakan pengembangan koleksi digital yang beragam dan layanan yang bervariasi, keempat, belum memiliki kebijakan tertulis yang mengatur terhadap regulasi akses, penerapan hak cipta, plagiarisme dan masalah kejahatan dalam informasi (cybercrime). 2. Terdapat 3 (tiga) kendala dalam pengembangan teknologi informasi digital pada Perpustakaan Perguruan Tinggi Negeri di Malang (UB, UM dan UIN) yaitu belum optimalnya pengembangan infrastruktur teknologi perpustakaan digital baik, serta sistem temu balik informasi (information retrieval) belum memadai. 3. Integrasi Nilai Islam Multikultural dalam Pengembangan Perpustakaan Digital pada Perpustakaan Perguruan Tinggi di Malang didasarkan pada 5 (lima) aspek nilai Islam multikultural antara lain demokrasi, humanisme, keadilan, kebersamaan dan nilai toleransi.</p>