Kembali
16
1
2014 Edulibinfo Vol 1 · 1 ISSN 2541-3279

HUBUNGAN ANTARA KETERSEDIAAN FASILITAS PERPUSTAKAAN DENGAN MINAT KUNJUNG SISWA KE PERPUSTAKAAN PADA PERPUSTAKAAN SMP NEGERI 15 BANDUNG

Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia; Universitas Pendidikan Indonesia

Abstrak

Penelitian ini membahas hubungan antara ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. Tujuan penelitian ini, yaitu untuk memperoleh gambaran apakah terdapat hubungan antara ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung; untuk memperoleh gambaran apakah terdapat hubungan antara ketersediaan gedung/ruangan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung; untuk memperoleh gambaran apakah terdapat hubungan antara ketersediaan perlengkapan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung; untuk memperoleh gambaran apakah terdapat hubungan antara ketersediaan peralatan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif metode deskriptif dengan studi korelasional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket. Pengolahan data menggunakan korelasi Perason Product Moment. Teknik penarikan sampel yang digunakan adalah simple random sampling dengan sampel berjumlah 135. Hasil penelitian menunjukkan: terdapat hubungan kuat antara ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung dengan koefisien korelasi 0.671; terdapat hubungan sedang antara ketersediaan gedung/ruangan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung dengan koefisien korelasi 0.498; terdapat hubungan sedang antara perlengkapan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung dengan koefisien korelasi 0.437; terdapat hubungan sedang antara peralatan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung dengan koefisien korelasi 0.431. Saran pada penelitian ini adalah setiap perpustakaan harus memperhatikan fasilitas perpustakaan karena fasilitas merupakan salah satu faktor yang menimbulkan minat kunjung siswa ke perpustakaan.

Abstract

This research explain the relationship between the facilities availability with students visit interest to library at the Llibrary SMP Negeri 15 Bandung. The purpose of this study is to obtain a picture of whether there is a relationship between the availability of a library facility with the interests of students go to the library at the Library SMP Negeri 15 Bandung; to obtain a picture of whether there is a relationship between the availability of the building/room library with interest the students go to the library at the Library SMP Negeri 15 Bandung; to obtain a picture of whether there is a relationship between the availability of supplies libraries to the interests of students go to the library at the Library SMP Negeri 15 Bandung; and to obtain a picture of whether there is a relationship between the availability of library equipment to the interests of students go to the library at the Library SMP Negeri 15 Bandung. This study used quantitative approach descriptive methods with correlational studies. The data was collected using a questionnaire. Processing data by using the product moment correlation of Perason. The sampling technique used was simple random sampling with sample totaled 135. The results showed that: there is a strong relationship between the availability facilities of a library with the interests of students go to the library at the Llibrary SMP Negeri 15 Bandung with a correlation coefficient of 0.671; there is a relationship between the availibility building/room library with interest the students go to the library at the Llibrary SMP Negeri 15 Bandung with a correlation coefficient of 0.498; there is a relationship between the fixture library with interest the students go to the Library at the Llibrary SMP Negeri 15 Bandung with a correlation coefficient of 0.437; and there is a relationship between the equipment library availibility with interest the students go to the library at the Library SMP Negeri 15 Bandung with a correlation coefficient of 0.431. Suggestions on this research is that every library should pay attention to the library facility because the facility is one of the factors that give rise to interest students go to the library.
Keywords: Library facility · interests visit

Introduction

Perpustakaan merupakan sebuah institusi pengelola koleksi karya tulis baik cetak maupun non cetak yang didalamnya terdapat unsur-unsur pendukung perpustakaan. Unsur-unsur yang ada di perpustakaan, yaitu tenaga pengelola perpustakaan atau pustakawan, fasilitas atau sarana prasarana, anggaran, koleksi, dan adminstrasi. Unsur-unsur tersebut harus bersinergi untuk menciptakan pelayanan yang prima kepada pemustaka. Karena pada hakikatnya, layanan yang ada di perpustakaan adalah untuk memuaskan dan memenuhi kebutuhan informasi pemustakanya. Banyak faktor yang menentukan baik buruknya sebuah perpustakaan, akan tetapi fasilitas merupakan salah satu faktor penunjang yang sangat penting dalam sebuah perpustakaan. Fasilitas perpustakaan mencakup gedung/ruang, perlengkapan, dan peralatan. Dengan adanya fasilitas t e rs e b u t d i h a r a p k a n k e g i a t a n perpustakaan dapat berjalan lancar dan perpustakaan sekolah dapat berfungsi sesuai tujuan yang diharapkan, yaitu menjadi sumber informasi bagi warga pembelajaran di sekolah. Keberadaan perpustakaan sekolah pada lembaga pendidikan masih dipandang sebelah mata. Bahkan, perpustakaan dibenahi atau diprioritaskan hanya untuk kepentingan akreditasi semata. Padahal keberadaan perpustakaan akan membantu para siswa, guru, dan warga sekolah lainnya dalam memenuhi kebutuhan informasi terutama untuk menunjang proses pembelajaran. Selain itu juga, kebijakan terkait sarana dan prasarana perpustakaan sekolah belum direalisasikan secara optimal. Sebagai contoh, perpustakaan sekolah selalu terletak di pojok, ruangannya sempit, rak terbatas, pencahayaan seadanya, dan ventilasi sangat sedikit, bahkan penataan ruangan atau interior tidak menarik atau terkesan membosankan bagi para p e n g u n j u n g p e r p u st a k a a n a t a u pemustaka. Dengan keadaan seperti ini, perpustakaan memiliki peluang yang kecil untuk dimanfaatkan dan dikunjungi oleh siswa, guru atau warga sekolah lainnnya secara optimal . Keberadaan perpustakaan tidak akan berarti jika tidak dimanfaatkan oleh pemustaka secara optimal. Jika hal tersebut terjadi perpustakaan akan terkesan seperti museum, yaitu “hanya dilihat, tapi tidak dimanfaatkan”. Hal tersebut berdasarkan identifikasi masalah dalam penelitian, ini yaitu luas ruang/gedung perpustakaan belum sesuai Standar Nasional Indonesia, yaitu SD/MI 56 m², SMP/MTS 126 m², SMA, MA, SMK, MAK 168 m², pembagian area untuk ruang koleksi, ruang baca, dan ruang staf belum sesuai Standar Nasional Indonesia, yaitu area untuk ruang koleksi 45%, area ruang baca 15%, dan area ruang staf 15%, peralatan dan perabotan perpustakaan sebagai sarana penunjang kegiatan perpustakaan belum sesuai Standar Nasional Indonesia, rendahnya minat siswa dalam memberdayakan perpustakaan sebagi sumber belajar, serta ma si h t e r b a t a s n y a p ema h ama n pentingnya ketersediaan fasilitas yang akan berdampak terhadap minat kunjung sis w a d a l am me n d a y a g u n a k a n perpustakaan dilihat dari sisi psikologis. Tujuan diadakannya penelitian ini, yaitu terdiri dari tujuan umum dan khusus.Tujuan umum dari penelitian, yaitu: “untuk memperoleh gambaran apakah terdapat hubungan antara ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung”, dengan tujuan khususnya sebagai berikut: 1. untuk memperoleh gambaran apakah t e r d a p a t h u b u n g a n a n t a r a ketersediaan gedung/ruangan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung; 2. untuk memperoleh gambaran apakah t e r d a p a t h u b u n g a n a n t a r a ketersediaan perlengkapan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung; dan 3. untuk memperoleh gambaran apakah t e r d a p a t h u b u n g a n a n t a r a ketersediaan peralatan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. Perpustakaan merupakan sebuah unit kerja yang memerlukan pengelola (pustakawan), alat (fasilitas/sarana prasarana) untuk mengelola, dan sasaran penyebaran informasi (pemustaka) yang telah dikelola tersebut. Sejalan dengan hal tersebut, Suwarno (2010, hlm. 42) menjelaskan bahwa “...perpustakaan sebagai unit kerja harus memiliki gedung, koleksi bahan pustaka, perlengkapan dan perabot, mata anggaran dan sumber pembiayaan, dan tenaga kerja”. Perpustakaan dapat berjalan dengan lancar apabila didukung oleh beberapa unsur, seperti yang dikemukakan Lasa (2007, hlm. 13) bahwa “…dalam p e n g e l o l a a n d a n p ema n f a a t a n perpustakaan diperlukan gedung, tata ruang, anggaran, dan sarana prasarana y a n g m e m a d a i ” . D a l a m p e n y e l e n g g a r a a n n y a , s e b u a h perpustakaan khususnya perpustakaan sekolah memerlukan fasilitas untuk menunjang kelancaran dalam melayani pemustakanya. Fasilitas perpustakaan harus diciptakan sedemikian rupa agar membantu kemudahan para pemustaka dalam pendayagunaan perpustakaan secara optimal. Fungsi fasilitas itu sendiri, yaitu sebagai pendukung pelaksanaan pe l ayanan pe rpust aka an s e c a r a menyeluruh. Dengan kata lain, fungsi fasilitas perpustakaan adalah sebagai pendukung terhadap pelayanan yang disediakan oleh perpustakaan sekolah. Dengan demikian, keberadaan fasilitas perpustakaan sekolah memiliki peran yang tidak kecil bagi terciptanya pelayanan perpustakaan yang prima. Maka dari itu, fasilitas perpustakaan perlu menjadi perhatian dalam pengelolaan perpustakaan sekolah yang baik. P r a s t o w o ( 2 0 1 2 , h l m . 3 0 0 ) mengemukakan bahwa “...fasilitas perpustakaan sekolah paling tidak meliputi tiga bentuk. Pertama, gedung/ruangan perpustakaan. Kedua, perlengkapan perpustakaan. Ketiga, peralatan perpustakaan”. Gedung perpustakaan merupakan bentuk dan bukti fisik dari keberadaan perpustakaan. Gedung merupakan sebuah bangunan yang di dalamnya terdapat ruangan-ruangan. Ruangan perpustakaan terdiri dari ruang baca, ruang sirkulasi, ruang koleksi, ruang multimedia, ruang kerja pustakawan, dan ruang tempat p e n g o l a h a n b a h a n p u s t a k a . Gedung/ruangan merupakan tempat untuk melakukan aktivitas dan kegiatan di perpustakaan baik yang dilakukan oleh pemustaka maupun pustakawan. Sinaga (2011, hlm. 58) mengungkapkan “...kegunaan dari ruangan perpustakaan memberikan andil yang cukup besar k e p a d a p a r a p emu st a k a d a l am pendayagunaan perpustakaan secara maksimal”. Hal ini disebabkan karena ruangan memberikan andil terhadap menciptakan suasana yang nyaman dan tenang untuk membantu konsentrasi belajar para pemustaka. Hal serupa ditegaskan oleh Trimo (dalam Prastowo, 2012, hlm. 302) bahwa '...gedung atau r u a n g p e r p u st a k a a n s e d i k it n y a memberikan 5% dalam berhasil atau t i d a k n y a p e m b e ri a n j a s a -j a s a perpustakaan kepada masyarakat yang dilayaninya'. Ada beberapa hal yang perlu d i p e r h a t i k a n u n t u k s e b u a h gedung/ruangan perpustakaan, yaitu “...fungsi gedung/ruangan, luas gedung/ruangan, lokasi gedung/ruangan, bentuk gedung/ruangan, dan penataan ruangan” (Yusuf dan Suhendar, 2010, hlm. 98). Selain memerlukan gedung atau ruangan, penyelenggaraan perpustakaan s e k o l a h meme rl u k a n s e j uml a h perlengkapan, baik untuk pelayanan kepada pengunjung atau pemustaka maupun untuk “processing” bahan-bahan pustaka, dan ketatausahaan. Perlengkapan perpustakaan adalah alat yang digunakan untuk menunjang pelaksanaan kegiatan perpustakaan yang tidak habis pakai dalam waktu singkat, seperti: meja, kursi, lemari, rak buku, papan pengumuman, dan lain sebagainya. Sinaga (2011, hlm. 59) mengungkapkan bahwa “...kelancaran pelayanan perpustakaan sekolah ditunjang oleh perlengkapan dan peralatan perpustakaan yang memadai”. Minat dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor timbulnya minat menurut Crow (dalam Slameto 2010, hlm. 180) terdiri dari tiga faktor, yaitu “...faktor dorongan dari dalam (the factor inner urge), faktor sosial (the factor of social motive), dan faktor emosional (emosional factor)”. Penjelasan lebih lengkapnya akan dijelaskan sebagai berikut. 1. Faktor dorongan dari dalam, yaitu adanya rasa ingin tahu seseorang. Dorongan ini dapat membuat s e s e o r a n g b e r m i n a t u n t u k mempelajari suatu hal, melakukan penelitian ilmiah, atau aktivitas lain yang menantang. Kaitannya dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan adalah siswa atau pemustaka minat mengunjungi perpustakaan karena adanya dorongan dari dalam, yaitu rasa ingin tahu siswa terhadap perpustakaan. Dalam hal ini rasa ingin tahu tersebut didorong oleh fasilitas perpustakaan yang memadai sehingga siswa atau pemustaka berminat untuk mengunjungi perpustakaan. 2. Faktor sosial, yakni adanya minat dalam upaya mengembangkan diri, yang diilhami oleh hasrat untuk mendapatkan kemampuan dalam bekerja atau adanya hasrat untuk memperoleh penghargaan dari keluarga atau teman. Manusia merupakan makhluk sosial yang salah satunya c o n t o h n y a a d a l a h m a n u si a membutuhkan penghargaan dari orang lain. Dalam hal ini siswa minat untuk mengunjungi perpustakaan untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain, misalnya teman, guru, dan orang t u a . D e n g a n m e n g u n j u n g i perpustakaan, siswa atau pemustaka b e r h a r a p d a p a t me n d a p a t k a n penghargaan yang baik dari lingkungan sekitarnya. Berlandaskan hal tersebut, perpustakaan harus memenuhi keinginan siswa atau pemustaka pada saat berkunjung ke perpustakaan. Salah satu faktor yang mempengaruhi adalah ketersediaan fasilitas perpustakaan yang memadai. Dengan tersedianya fasilitas yang memadai, minat yang dipengaruhi oleh faktor sosial tersebut akan mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan secara berulang. 3. Faktor emosional, yakni minat yang berkaitan dengan perasaan dan emosi. Mis a lnya , kebe rha sil an akan menimbulkan perasaan puas dan dapat meningkatkan minat, sedangkan kegagalan dapat menghilangkan minat seseorang. Tujuan utama dari perpustakaan adalah memenuhi kebutuhan informasi pemustaka dengan memberikannya kepuasan. Salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah adanya fasilitas perpustakaan yang memadai. Dengan adanya fasilitas perpustakaan yang memadai tersebut faktor emosional siswa atau pemustaka diharapkan daat terpenuhi karena membantu efektivitas dan efisiensi kegiatan di perpustakaan. Siswa atau pemustakan akan mengunjungi perpustakaan secara b e r u l a n g a p a b i l a k e b u t u h a n informasinya dapat terpenuhi. Hal ini berhubungan dengan faktor emosional yang tumbuh dalam diri siswa atau pemustaka. Dalam penelitian ini ketersediaan fasilitas perpustakaan memiliki hubungan dengan minat kunjung siswa dalam memanfaatkan sumber daya yang ada di perpustakaan. Dengan munculnya minat kunjung tersebut dapat dilihat seberapa tinggi atau rendahnya ketersediaan fasilitas mempengaruhi minat siswa SMP Negeri 15 Bandung untuk mengunjungi perpustakaan. Kerangka berpikir dalam penelitian ini, yaitu: “jika fasilitas perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung baik, maka minat kunjung siswa meningkat”. Asumsi dalam penelitian ini, yaitu: “jika fasilitas yang ada di perpustakaan sekolah baik, maka minat kunjung siswa ke perpustakaan akan meningkat”. 1. “jika gedung/ruangan yang ada di perpustakaan sekolah baik, maka minat kunjung siswa ke perpustakaan akan meningkat”. 2. “jika perlengkapan yang ada di perpustakaan sekolah baik, maka minat kunjung siswa ke perpustakaan akan meningkat”. 3. “jika peralatan yang ada di perpustakaan sekolah baik, maka minat kunjung siswa ke perpustakaan akan meningkat”. Hipotesis dalam penelitian ini, yaitu: terdapat hubungan antara ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMPNegeri 15 Bandung. 1. Terdapat hubungan antara ketersediaan gedung/ruangan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. 2. Terdapat hubungan antara k e t e rs e d i a a n p e rl e n g k a p a n perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. 3. Terdapat hubungan antara ketersediaan peralatan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMPNegeri 15 Bandung.

Method

Penelitian hubungan ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan studi korelasional. Metode ini dipilih dengan alasan bahwa metode ini tepat digunakan untuk menjelaskan, meringkaskan berbagai situasi, kondisi, dan variabel yang timbul di masyarakat yang menjadi objek penelitian itu berdasarkan apa yang terjadi. Metode deksriptif dengan jenis studi korelasional ini tepat dipilih karena dalam penelitian akan dikaji hubungan antar variabel, yaitu variabel ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Melalui studi korelasional ini pula akan dipilih sampel sebagai wakil dari populasi yang diharapkan dapat mewakili populasi tersebut. Pengumpulan data akan dilakukan dengan menggunakan angket. Angket sebagai instrumen dalam penelitian ini akan disebarkan pada sampel yang telah ditentukan jumlahnya. Angket ini berupa pernyataan positif yang bersifat tertutup dan menggambarkan variabel yang diukur baik variabel itu sendiri maupun hubungan antar variabel. Angket yang telah disebar kemudian diolah untuk menguji dan menjelaskan hubungan variabel yang diteliti ke dalam data statistik. Setelah data diolah, kemudian data itu akan menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan. Hal ini terkait penolakan atau penerimaan hipotesis. Pengujian hipotesis dilakukan setelah data yang diperoleh dikonversi dari data ordinal menjadi data interval. Hal ini untuk memenuhi syarat dari teknik korelasi product Moment, yaitu datanya harus berbentuk interval. Sementara untuk menguji hipotesis dilakukan melalui uji korelasi dengan rumus Korelasi Product Moment.

Result & Discussion

Pembahasan hasil penelitian dimaksudkan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan dan m e m b u k t i k a n k e b e n a r a n hipotesis.Terbukti bahwa ketersediaan fasilitas perpustakaan mempunyai hubungan kuat dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan, ketersediaan gedung/ruangan perpustakaan memiliki hubungan sedang dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan, ketersediaan perlengkapan perpustakaan memiliki hubungan sedang dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan, dan ketersediaan peralatan perpustakaan memiliki hubungan sedang dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Adapun simpulan hasil pengujian tersebut akan disimpulkan dalam bentuk tabel sebagai berikut. Tabel 1.1 Simpulan Hasil Uji Hipotesis Bedasarkan tabel di atas, kategori hubungan hasil penelitian terkait dengan ketersediaan fasilitas perpustakaan dan minat kunjung siswa ke perpustakaan termasuk ke dalam korelasi parsial. Sub variabel dalam penelitian tersebut tidak bisa berdiri sendiri dalam meningkatkan v a ri a b e l y a n g d i p e n g a r u h i n y a . Maksudnya, apabila sub variabel g e d u n g /r u a n g a n p e r p u st a k a a n , perlengkapan perpustakaan, dan peralatan perpustakaan tidak menjadi satu kesatuan dalam variabel fasilitas perpustakaan tidak akan tercipta hubungan yang kuat, sebaliknya apabila ketiga sub variabel tersebut menjadi satu kesatuan variabel fasilitas perpustakaan akan tercipta hubungan yang kuat. Misbahuddin dan H a s a n ( 2 0 1 3 , h l m . 1 5 1 - 1 5 2 ) mengemukakan bahwa: analisis korelasi parsial (Partial Correlation) digunakan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel dimana variabel lainnya yang di anggap be rpenga ruh dikendalikan atau dibuat tetap (sebagai variabel kontrol). Nilai korelasi (r) berkisar antara 1 sampai 1, nilai semakin mendekati 1 atau -1 berarti hubungan antara dua variabel semakin kuat, sebaliknya nilai mendekati 0 berarti hubungan antara dua variabel semakin lemah. Nilai positif menunjukkan hubungan searah (X naik maka Y naik) dan nilai negatif menunjukkan hubungan terbalik (X naik maka Yturun). Pembahasan hasil penelitian akan dipaparkan berdasarkan rumusan masalah yang telah dirumuskan. Adapun penjelasan lebih rinci akan dipaparkan di bawah ini. 1.Hubungan Ketersediaan Fasilitas Perpustakaan dengan Minat Kunjung Siswa ke Perpustakaan Pembahasan mengenai hubungan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan Sekolah SMP Negeri 15 Bandung berdasarkan hasil pengujian hipotesis melalui uji korelasi yang dilakukan menunjukkan bahwa ketersediaan fasilitas perpustakaan memiliki hubungan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung sebesar 0.636 yang berada pada derajat hubungan dengan kategori kuat. Fasilitas yang ada di perpustakaan memiliki hubungan kuat dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan dan hubungan tersebut memiliki makna. Hal ini dilihat dari pengukuran terhadap sub variabel yang digunakan, yaitu g e d u n g /r u a n g a n p e r p u st a k a a n , perlengkapan perpustakaan, dan peralatan perpustakaan yang memiliki hubungan sedang dengan minat kunjung. Hal tersebut didukung oleh teori yang dikemukakan oleh Putri (2013, hlm. 23) yang menjelaskan beberapa usaha yang dapat dilakukan pustakawan untuk meningkatkan minat kunjung, yaitu sebagai berikut: ...menata gedung perpustakaan agar mena rik dan nyaman untuk dikunjungi; menyediakan sumber bacaan yang baru dan sesuai dengan kebutuhan pemustaka; fasilitas yang memadai; menjadi pustakawan (t enaga pe rpust aka an) yang profesional; dan pustakawan (tenaga perpustakaan) yang bersahabat dengan pemustakanya. Pengujian hipotesis yang dilakukan menunjukkan bahwa H0 ditolak dan H1 diterima, yang berarti terdapat hubungan antara ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Hipotesis kerja (H )1 diterima terbukti dengan butir-butir pernyataan yang diberikan kepada responden, sebagian besar responden menjawab sangat setuju berdasarkan skala sikap Likert. Sub variabel yang dianggap paling berhubungan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan adalah sub variabel gedung/ruangan perpustakaan. Ketiga sub variabel berada pada kategori sedang, namun yang membedakannya adalah nilai koefisien korelasi yang didapat dari hasil perhitungan. Sub variabel yang memiliki nilai koefisien korelasi paling tinggi adalah pada sub variabel gedung/ruangan perpustakaan, yaitu sebesar 0.498. Koefisien korelasi sub variabel perlengkapan perpustakaan, yaitu sebesar 0.436, dan sub variabel peralatan perpustakaan koefisien korelasinya adalah sebesar 0.430. Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa korelasi dalam penelitian ini tidak bisa berdiri sendiri-sendiri antar variabel dan sub variabel. Apabila sub variabel dari ketersediaan fasilitas perpustakaan tidak me n j a d i s a t u k e s a t u a n , ma k a hubungannya tidak akan kuat terhadap minat kunjung siswa ke perpustakaan. Apabila setiap sub variabel menjadi satu kestauan dalam sebuah variabel ketersediaan fasilitas perpustakaan maka hubungannya akan kuat terhadap minat kunjung siswa ke perpustakaan. 2 . H u b u n g a n K e t e r s e d i a a n Gedung/Ruangan Perpustakaan dengan Minat Kunjung Siswa ke Perpustakaan Gedung/ruangan perpustakaan memiliki respon positif paling besar berada pada indikator penataan ruangan tepatnya pada aspek tata ruang. Indikator tersebut menyebutkan bahwa penataan ruang seperti penataan rak buku, tempat membaca, dan meja pengelola/petugas perpustakaan membuat nyaman dan mempermudah menemukan koleksi yang d i b u t u h k a n o l e h p e n g u n j u n g perpustakaan dengan persentase sebesar 37.2%. Sedangkan respon negatif diberikan terhadap indikator penataan ruangan pada aspek dekorasi, ventilasi, dan penerangan, dimana pernyataannya adalah ventilasi udara perpustakaan sangat diperlukan untuk sirkulasi udara agar tidak pengap dengan persentase sebesar 11%. Hasil tersebut sesuai dengan salah satu teori yang dikemukakan oleh Yusuf dan Suhendar (2009, hlm. 98) “...kondisi tata ruang perpustakaan sekolah cukup menentukan keberhasilan pengelolaan perpustakaan sekolah”. Teori di atas menunjukkan bahwa perpustakaan harus ditata dengan baik untuk menciptakan kesan yang positif bagi pemustaka. Penataan ruangan merupakan cara m e n a t a r u a n g a n a g a r d a p a t mendayagunakan seluruh ruangan dengan optimal dan menarik bagi pemustaka. Ruangan harus ditata sebaik-baiknya, agar dapat menumbuhkan rasa nyaman dan menyenangkan bagi pemustakanya. Salah satu keberhasilan sebuah perpustakaan adalah dapat dilihat dari kepua s an pemust aka . Kepua s an pemustaka bisa diciptakan melalui berbagai macam cara, salah satunya adalah menarik minat kunjung pemustaka ke perpustakaan. Minat tersebut dapat diciptakan dengan berbagai macam cara, salah satunya adalah dengan menata ruangan semenarik mungkin. Hal yang pertama dilihat oleh pemustaka terutama pemustaka usia Sekolah Menengah Pertama adalah keunikan. Keunikan tersebut harus diciptakan oleh pustakwan atau tenaga pengelola perpustakaan sekolah dengan mengembangkan kreativitas. Hasil pengujian antara sub variabel X1 dengan variabel Y dapat diketahui bahwa gedung/ruangan perpustakaan memiliki hubungan yang positif dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan dan berada dalam kategori sedang. Dengan demikian gedung/ruangan perpustakaan memiliki peran yang cukup berarti dalam menarik atau meningkatkan minat kunjung pemustaka. Hubungan yang terjalin tersebut memiliki arti, yang berarti hubungan yang terjadi tidak hanya sebatas hubungan t e t api adanya s a ling menguatkan antara sub variabel gedung/ruangan perpustakaan dan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Kategori hubungan tersebut terbukti dengan banyaknya tanggapan responden yang menyatakan bahwa ketersediaan gedung/ruangan perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung dengan minat kunjung berada pada kategori sangat baik. Hasil pengujian tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sinaga (2011, hlm. 58) “...kegunaan dari ruangan perpustakaan memberikan andil yang cukup besar kepada para pemustaka dalam pendayagunaan perpustakaan s e c a r a m a k s i m a l ” . U n t u k memaksima lkan pendayaguna an perpustakaan sebuah perpustakaan harus menciptakan kenyamanan kepada pemustakanya. Kenyamanan tersebut bisa diciptakan dengan cara memaksimalkan gedung/ruangan yang ada menjadi suatu hal yang menarik untuk dikunjungi. Gedung/ruangan merupakan salah satu layanan yang diberikan oleh pustakawan atau tenaga pengelola perpustakaan sekolah dalam bentuk fisik. 3. Hubungan Ketersediaan Perlengkapan Perpustakaan dengan Minat Kunjung Siswa ke Perpustakaan Pernyataan dalam angket mengenai perlengkapan perpustakaan memiliki respon positif paling besar berada pada pernyataan nomor tiga mengenai perlengkapan perpustakaan mendukung efektivitas aktivitas di perpustakaan dengan persentase sebesar 79.4%. Sedangkan respon negatif diberikan terhadap pernyataan nomor lima mengenai perlengkapan perpustakaan sesuai dengan umur pemustaka (siswa, g u r u ) d a n p e n g e l o l a / p e t u g a s perpustakaan dengan persentase sebesar 73.3%. Hasil tersebut sesuai dengan salah satu teori yang dikemukakan oleh Trimo (dalam Sinaga, 2011, hlm. 60) mengungkapkan bahwa “...pemilihan perabot atau perlengkapan yang tepat serta kombinasi yang baik akan menimbulkan mobilitas yang besar bagi p a r a p emb a c a ” . Te o ri d i a t a s menunjukkan bahwa perlengkapan perpustakaan harus memadai baik kuantitas maupun kualitasnya agar tercipta mobilitas yang besar baik untuk pustakawan maupun pemustaka. Sebuah perpustakaan yang tidak memiliki perlengkapan yang memadai akan kebingungan ketika akan melakukan pelayanan. Sebagai contoh, sebuah perpustakaan mendapatkan sumbangan buku yang sangat banyak, tetapi rak yang tersedia hanya sedikit dan tidak dikelola dengan baik. Buku atau koleksi sumbangan yang baru datang tidak akan bisa dilayankan kepada pemustaka secara maksimal apabila perlengkapan yang ada di perpustakaan tidak memadai. Selain itu juga, perlengkapan yang ada di perpustakaan harus sesuai dengan masyarakat yang dilayaninya. Misalnya, rak yang ada di perpustakaan terbuat dari kayu dan ukurannya sangat tinggi, sedangkan masyarakat yang dilayaninya adalah siswa Sekolah Menengah Pertama yang ukuran tingginya di bawah rak yang ada di perpustakaan. Dari gambaran tersebut dapat dilihat bahwa perlengkapan yang ada di perpustakaan harus sesuai dengan masyarakat yang dilayaninya. Tujuan utama dari layanan jasa adalah kepuasan pemustaka. Hasil pengujian antara sub variabel X terhadap variabel Y dapat diketahui 2 bahwa perlengkapan perpustakaan memiiki hubungan dengan minat kunjung yang berada dalam kategori sedang. Dengan demiki an pe rl engkapan perpustakaan memiliki peran yang cukup berarti dalam menarik dan menumbuhkan minat kunjung siswa ke perpustakaan dan hubungan yang terjalin tersebut memiliki arti, yang berarti hubungan yang terjadi tidak hanya sebatas hubungan tetapi adanya saling menguatkan antara sub variabel perlengkapan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Kategori hubungan tersebut terbukti dengan banyaknya tanggapan responden yang menyatakan bahwa perlengkapan perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan berada pada kategori sangat baik bagi para siswanya. Hasil pengujian tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sinaga (2011, hlm. 59) “...kelancaran pelayanan perpustakaan sekolah ditunjang oleh perlengkapan dan peralatan perpustakaan yang memadai”. K e l a n c a r a n p e l a y a n a n s e b u a h perpustakaan dilihat dari kebermanfaatan atau keberdayagunaan perpustakaan. Pelayanan akan tercipta apabila ada yang melayani, ada yang dilayani, dan ada yang dilayankan. Dalam hal ini orang yang meayani adalah pustakawan, orang yang dilayani adalah pemustaka, dan yang dilayankan adalah informasi yang ada di perpustakaan dan pustakawan. Untuk memfasilitasi hal tersebut, maka diperlukan fasilitas. Fasilitas dalam hal ini adalah perlengkapan perpustakaan yang memadai. Dengan adanya perlengkapan yang memadai tersebut, pelayanan yang diberikan kepda pemustaka akan m a k si m a l d a n m e n a r i k s e r t a meningkatkan minat kunjung pemustaka untuk mendayagunakan perpustakaan. 4. Hubungan Ketersediaan Peralatan Perpustakaan dengan Minat Kunjung Siswa ke Perpustakaan Setelah dilakukan pengolahan data, menunjukkan bahwa pernyataan mengenai peralatan perpustakaan memiliki respon positif paling besar berada pada pernyataan nomor satu mengenai peralatan perpustakaan seperti pensil, pena, kertas, dan yang lainnya memadai/lengkap untuk mendukung aktivitas di perpustakaan dengan persentase sebesar 78.77%. Sedangkan respon negatif diberikan terhadap pernyataan nomor enam mengenai peralatan perpustakaan sesuai dengan jenis kelamin pengelola/petugas dan pengunjung perpustakaan dengan persentase sebesar 63.70%. Hasil tersebut sesuai dengan salah satu teori yang dikemukakan oleh Lasa (2009, hlm. 207) yang mengungkapkan hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalam pemilihan perlengkapan dan peralatan perpustakaan. “...Pertama, faktor fisik pemustakanya. Kedua, umur. Ketiga, faktor ergonomi”. Teori di atas menunjukkan bahwa peralatan yang ada di perpustakaan harus disesuaikan dengan masyarakat yang dilayaninya, baik sesuai fisik, umur, dan faktor ergonomi. Peralatan sama halnya dengan perlengkapan. Dalam pembahasan perlengkapan di atas dijelaskan bahwa kelancaran pelayanan perpustakaan salah satunya didukung oleh peralatan yang memadai. Dengan adanya peralatan yang memadai pelayanan yang diberikan akan maksimal dan akan menimbulkan kesan positif bagi para pemustakanya. Kesan positif tersebut harus ditimbulkan untuk menarik dan menumbuhkan minat kunjung pemustaka agar memanfaatkan perpustakaan secara optimal Hasil pengujian antara sub variabel X terhadap variabel Y dapat diketahui 3 bahwa peralatan perpustakaan memiiki hubungan dengan minat kunjung yang berada dalam kategori sedang. Dengan demikian peralatan perpustakaan memiliki peran yang cukup berarti dalam menarik dan meningkatkan minat kunjung, serta hubungan yang terjalin tersebut memiliki arti, yang berarti hubungan yang terjadi tidak hanya sebatas hubungan t e t api adanya s a ling menguatkan antara sub variabel peralatan perpustakaan dan minat kunjung siswa ke perpustakaan. Kategori hubungan tersebut terbukti dengan banyaknya tanggapan responden yang menyatakan bahwa peralatan Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung dan minat kunjung berada pada kategori sangat baik bagi para siswanya. Hasil pengujian tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Sinaga (2011, hlm. 59) “...kelancaran pelayanan perpustakaan sekolah ditunjang oleh perlengkapan dan peralatan perpustakaan yang memadai”. Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa salah satu pendukung kelancaran pelyanan di perpustakaan adalah adanya peralatan yang memadai. Peralatan tersebut harus memadai baik dari sisi kualitas maupun kuantitas. Kualitas peralatan yang ada di perpustakaan harus bisa memberikan kepuasan kepada pemustakanya. Begitupun dengan kuantitasnya, peralatan yang ada harus disesuaikan dengan masyarakat yang dilayani, kemampuan sekolah atau lembaga yang menanunginya, dan sesuai kebutuhan. Selain itu juga, peralatan dan perlengkapan harus mempertimbangkan fisik, umur, dan faktor ergonomi. Ketiga pertimbangan sangat penting karena apabila perlengkapan tidak sesuai umur, fisik pemustaka dan pustakawan, maka perlengkapan dan peralatan tersebut tidak akan dimanfaatkan secara optimal.

Conclusion

Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa terdapat hubungan kuat antara ketersediaan fasilitas perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. Hasil perhitungan tersebut didukung oleh beberapa indikator, yaitu fungsi gedung/ruangan perpustakaan, lokasi ruangan perpustakaan, luas ruangan p e r p u st a k a a n , b e n t u k r u a n g a n perpustakaan, dan penataan ruangan (tata ruang, dekorasi, ventilasi, serta penerangan). Responden memberikan tanggapan sangat baik terhadap k e t e rs e d i a a n g e d u n g / r u a n g a n perpustakaan, tetapi untuk pengujian hipotesis menunjukkan bahwa korelasi yang didapatkan sedang. Terdapat hubungan sedang antara k e t e rs e d i a a n g e d u n g / r u a n g a n perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. Hasil perhitungan tersebut didukung oleh beberapa indikator, yaitu fungsi gedung/ruangan perpustakaan, lokasi ruangan perpustakaan, luas ruangan p e r p u st a k a a n , b e n t u k r u a n g a n perpustakaan, dan penataan ruangan (tata ruang, dekorasi, ventilasi, serta penerangan). K e t e rs e d i a a n p e rl e n g k a p a n perpustakaan memiliki hubungan yang sedang dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung. Hasil perhitungan tersebut didukung oleh beberapa i n d i k a t o r, y a i t u k e l e n g k a p a n perlengkapan, efektivitas dan efisiensi perlengkapan, serta faktor ergonomi. Hubungan antara ketersediaan peralatan perpustakaan dengan minat kunjung siswa ke perpustakaan pada Perpustakaan SMP Negeri 15 Bandung berada dalam kategori sedang. Hasil perhitungan tersebut didukung oleh beberapa indikator, yaitu kelengkapan peralatan, efektivitas dan efisiensi peralatan, serta faktor ergonomi.