Kembali
16
1
2023 Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 11 · 1 ISSN 2723-7699

Perilaku pencarian informasi beauty vlogger di wilayah Kabupaten Trenggalek untuk memenuhi kebutuhan informasi pada proses pembuatan konten video

Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung; Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Abstract

The emergence of beauty vloggers is currently a trend in the world of beauty because they can influence skincare or make-up products through video content that is shared. This study intends to find out the information seeking behavior of beauty vloggers in the Trenggalek Regency area to meet information needs in the process of creating video content, as well as the obstacles faced by beauty vloggers in searching for information as an effort to meet information needs in the process of creating video content and how to overcome them. The type of approach used in this study is a qualitative descriptive approach. The data collection technique used was interviews with three beauty vloggers, observation and documentation. As well as data analysis used, namely data reduction, data presentation and drawing conclusions. The results of the study show that the information seeking behavior model used by beauty vloggers in the Trenggalek Regency area is in accordance with the theory put forward by David Ellis which is divided into 8 stages including Starting, Chaining, Browsing, Differenting, Monitoring, Extracting, Verifying, Ending via whatsapp, tick tock, instagram and google. The results of the study also show the obstacles faced by beauty vloggers which are divided into 2 factors including internal factors in the form of lack of information availability and external factors in the form of inadequate internet networks. However, the constraints from these internal factors can be handled by re-searching information, while external factors can be handled by postponing information search activities and looking for a place that has network access that supports it
Keywords: beauty vlogger · information seeking behavior · video content

Introduction

Beauty vlogger merupakan influencer kecantikan yang memberikan berbagai informasi dalam bidang kecantikan maupun fashion, mengajarkan keterampilan tertentu, dan memberikan gambaran dalam melakukan sesuatu melalui konten video yang diunggah diberbagai platform media sosial yang dimiliki seperti tik tok, youtube, dan instagram. Dalam video yang dibagikan, beauty vlogger memberikan ulasan mengenahi produk skincare atau make up yang digunakan dan tahapan dalam mengaplikasikannya (Rahmadina, 2019). Kemunculan beauty vlogger di wilayah Kabupaten Trenggalek berawal dari daya tarik mereka dalam bidang kecantikan. Adapun kegiatan yang dilakukan sehari-hari meliputi review produk, berbagi tips dan trik, serta pengalaman pribadi dalam menggunakan produk skincare atau make up tertentu. Terdapat 6 beauty vlogger di wilayah Kabupaten Trenggalek dengan berbagai macam konten video yang disajikan mulai dari review/endors produk skincare atau make up, tutorial make up serta tips dan trik dalam menggunakan produk tertentu dan lainnya. Namun diantara 6 beauty vlogger lebih difokuskan pada 3 beauty vlogger dengan follower instagram terbanyak, menarik serta memiliki karakteristik yang berbeda diantaranya adalah beauty vlogger Kelvi.lee dengan followersinstagram 23.9 ribu, Shelyoct_01 dengan followers instagram 10,2 ribu dan Yupita Des dengan followers Instagram 9,5 ribu. Dengan banyaknya followers tersebut tentu tidak terlepas dari upaya yang ditempuh beauty vlogger dalam proses pembuatan konten video yang menarik. Salah satu diantaranya adalah meningkatkan kualitas dan kuantitas konten yang dibagikan. Dari sini maka, muncul kebutuhan informasi yang digunakan sebagai referensi dalam membuat konten video atau menambah pengetahuan beauty vlogger di wilayah Kabupaten Trenggalek. Secara umum kebutuhan informasi beauty vlogger di wilayah Kabupaten Trenggalek adalah terkait informasi produk skincare atau make up, backsound lagu, serta transisi video yang akan digunakan dalam membuat konten video. Adanya kebutuhan informasi tentu tidak terlepas dari upaya pemenuhannya, sehingga kebutuhan informasi akan selalu berjalan beriringan dengan konsep perilaku pencarian informasi. Sebagaimana Wilson (1999) menjelaskan bahwa ketika seseorang membutuhkan informasi, maka individu akan berusaha untuk memperoleh informasi, sehingga mendorong individu dalam melakukan pencarian informasi dan memunculkan perilaku pencarian informasi. Penelitian terdahulu yang menjadi acuan dalam penelitian ini adalah seperti penelitian yang dilakukan oleh Nurkomara (2020) tentang “Perilaku Pencarian Informasi mahasiswa Tingkat Akhir dalam Menyelesaikan Skripsi Pada Masa Social Distancing”. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Adapun hasil yang diperoleh adalah tahapan perilaku pencarian informasi mahasiswa menggunakan model pencarian informasi Ellis, mulai dari starting, chaining, browsing, differentiating, monitoring, extracting, veryving, dan ending. Upaya yang dilakukan mahasiswa dalam memenuhi kebutuhan informasi pada masa sosial distancing adalah dengan memanfaatkan media sosial seperti whatsaap dan internet sebagai sarana pengumpulan data penelitian. Kelebihan dalam penelitian ini yaitu memiliki dasar penelitian terdahulu dan fenomena yang cukup mendukung. Sedangkan kekurangan penelitian ini terletak pada variabel yang dijelaskan dalam tinjauan pustaka mengenahi model perilaku pencarian informasi seharusnya mengambil salah satu model perilaku pencarian informasi yang akan digunakan saja. Teori yang dijadikan acuan penulis pada penelitian ini yaitu mengenahi model perilaku pencarian informasi menurut David Ellis. Penelitian yang dilakukan Syawqi (2017) dengan judul “Perilaku pencarian Informasi (Information Seeking Behavior) Guru Besar IAIN Antasari Banjarmasin”. Metode yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun hasil yang diperoleh adalah kebutuhan informasi para guru besar IAIN Antasari meliputi tugas sebagai dosen yang melaksanakan tridharma perguruan tinggi yaitu, pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sumber informasi yang digunakan sebagai rujukan adalah, buku milik pribadi, perpustakaan, toko buku, koran dan televisi, internet, jurnal, ebook, sosial media. Adapun kendala yang dihadapi yaitu dalam mengakses jurnal online namun dapat teratasi dengan meminta bantuan pada orang lain. Dalam penelitian ini terdapat kekurangan yaitu tidak terdapat rumusan masalah mengenahi perilaku pencarian informasi yang dilakukan oleh Guru Besar IAIN Antasari Banjarmasin. Akan tetapi dengan teknik pengumpulan data yang dilakukan menunjukkan aktualisasi data yang dihasilkan. Teori yang dijadikan acuan penulis pada penelitian ini yaitu mengenahi faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi menurut Wilson. Kemudian penelitian selanjutnya dilakukan oleh Selly Syahfitri (2020) dengan judul “Perilaku Pencarian Informasi Mahasiswa Prodi Ilmu Perpustakaan Angkatan 2017 dengan Menggunakan Model Kuhlthau di Taman Baca Fakultas Adab dan Humaniora UIN AR-Raniry”. Penelitian tersebut menggunakan metode deskriptif kualitatif. Adapula hasil yang diperoleh yaitu mahasiswa ilmu perpustakaan angkatan 2017 dalam melakukan pencarian informasi tidak semua menggunakan model Kuhlthau melainkan sesuai dengan kehendak mereka sendiri sehingga memunculkan perilaku pencarian informasi yang berbeda-beda. Adapun kelebihan dalam penelitian ini yaitu memiliki fenomena yang mendukung. Sedangkan kekurangan penelitian ini terletak pada kurangnya penjabaran mengenahi hasil penelitian. Teori yang dijadikan acuan penulis pada penelitian ini yaitu mengenahi kebutuhan informasi. Ketiga penelitian di atas secara umum sama-sama membahas tentang perilaku pencarian informasi. Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah pada penentuan subjek penelitian. Subjek dalam penelitian ini adalah beauty vlogger yang ada di wilayah kabupaten Trenggalek dalam memenuhi kebutuhan informasi pada proses pembuatan konten video. Di mana dalam penelitian terdahulu tidak sedikit penelitian dilakukan pada civitas academica untuk menunjang kebutuhan studinya. Melihat fenomena yang telah dijelaskan di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian guna untuk mengetahui bagaimana perilaku pencarian informasi beauty vlogger di wilayah Kabupaten Trenggalek dan kendala yang dihadapi beauty vlogger dalam melakukan penelusuran informasi beserta cara mengatasinya. Untuk mengkaji permasalahan penelitian menggunakan teori model perilaku pencarian informasi yang dikemukakan David Ellis (1993) yang dibagi ke dalam 8 tahapan di antaranya yaitu starting, chaining, differenting, browsing, monitoring, extracting, verifying, dan ending. Konten video yang dibagikan beauty vlogger meliputi konten video tutorial make up dan konten video endors. Dari konten video yang dibagikan tersebut akan mempengaruhi jenis kebutuhan informasi yang berbeda dan cara memperolehnya pun juga berbeda. Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat menambah khazanah ilmu pengetahuan terutama dalam bidang perilaku pencarian informasi menggunakan media sosial