Kembali
16
1
2024 Pustaka Karya : Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 12 · 2 ISSN 2723-7699

Program layanan anak di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai upaya peningkatan literasi anak

Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu; Universitas Bengkulu

Abstrak

Peran penting pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk bekerja sama meningkatkan indeks literasi anak. Layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memiliki peran strategis sebagai pusat literasi untuk mendorong peningkatan budaya baca dan keterampilan literasi anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, seperti “Read Aloud” memberikan dampak positif terhadap literasi anak. Anak-anak merasa tertarik dan ingin datang kembali untuk membaca buku di layanan anak dan mendapatkan program “Read Aloud”. Implementasi teori Super3 dalam kegiatan literasi memberikan hasil yang signifikan dalam meningkatkan keterlibatan anak. Tahap Plan membantu anak merencanakan aktivitas, Do mendorong mereka untuk belajar secara aktif, dan Review memungkinkan refleksi atas pembelajaran yang dilakukan.
Keywords: literasi anak · layanan anak perpustakaan nasional RI · teori Super3 · peningkatan literasi

Introduction

Literasi merupakan suatu keterampilan yang berkaitan dengan kegiatan membaca, berpikir, dan menulis untuk meningkatkan kemampuan dan pemahaman suatu informasi secara kritis, kreatif, dan mawas diri, serta literasi dapat dijadikan landasan dalam pembelajaran (Hardiyanti, 2022). Pendidikan anak merupakan salah satu fondasi utama dalam membangun masyarakat yang berpengetahuandan cerdas. Faktanya, UNESCO menyebutkan indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001% yang berarti dari setiap 1000 penduduk Indonesia, hanya satu orang yang merupakan pembaca setia. Tingkat minat literasi di Indonesia masih berpotensi untuk ditingkatkan. Penting bagi pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk bekerja sama meningkatkan minat terhadap literasi. Berbagai faktor seperti terbatasnya akses terhadap buku, kurangnya fasilitas pendidikan, dan rendahnya kesadaran akan pentingnya membaca juga turut berkontribusi terhadap keadaan tersebut. Berkurangnya minat anak terhadap literasi mempunyai dampak yang signifikan. Jika anak mempunyai kemampuan membaca dan menulis yang baik, mereka terlebih dahulu mengidentifikasi atau memperjelas informasi tersebut. Dengan kata lain, literasi sangat bermanfaat bagi masa depannya jika menerima atau membaca informasi dengan melihat benar atau tidaknya informasi tersebut untuk menghindari penyebaran informasi yang salah atau palsu. Sehingga kemampuan dalam membaca dan menulis sangat diperlukan dalam mendukung dan membangun sikap kritis dan kreatif terhadap berbagai fenomena kehidupan yang mampu menumbuhkan kehalusan budi, kesetiakawanan dan sebagai bentuk upaya melestarikan budaya bangsa (Gusriani et al., 2020). Kemampuan literasi anak menjadi salah satu aspek penting dalam pembentukan generasi yang cerdas dan kompetitif. Namun, tingkat literasi di Indonesia masih menjadi tantangan besar, terutama di kalangan anak-anak. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai pusat informasi dan literasi berperan penting dalam mengembangkan layanan yang ramah untuk mendukung upaya peningkatan literasi. Layanan perpustakaan merupakan salah satu aspek utama dalam pengelolaan perpustakaan. Pelayanan itu sendiri berarti suatu kegiatan penyediaan bahan perpustakaan yang tepat waktu, benar dan akurat untuk memenuhi kebutuhan informasi peserta didik (Agustina Kurniyati, 2021). Layanan Anak di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia merupakan tempat dan koleksi buku yang dirancang untuk memenuhi awal kebutuhan membaca dan pendidikan anak-anak dari tingkatan anak-anak usia dini sampai dengan sekolah dasar. Kemampuan membaca sangat penting bagi anak-anak karena mereka akan mendapatkan banyak informasi dengan membaca. Kegiatan membaca ini harus dilatih sejak usia dini, dengan memberikan bahan bacaan kepada anak-anak sejak kecil dan membuat ruangan khusus untuk membaca untuk anak-anak (Melfan & Batubara, 2023). Dengan adanya program layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dapat menciptakan ruang yang kondusif bagi pembelajaran, eksplorasi, dan pengembangan keterampilan literasi anak. Layanan anak akan menawarkan beberapa program yang dirancang untuk mendorong anak anak tersebut berpartisipasi aktif dalam kegiatan literasi, yang mana sesuai dengan visi dari Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang berbunyi “terwujudnya Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong melalui penguatan budaya literasi’. Salah satu program layanan anak seperti “Read Aloud” yang dilakukan di layanan anak bertujuan agar dapat meningkatkan kemampuan literasi anak-anak sekaligus dapat membangkitkan rasa ingin tahu dan kreativitasnya anak-anak terhadap buku bacaan sehingga, bertujuan untuk menumbuhkan minat anak dalam membaca dan pemahaman mereka tentang literasi melalui kegiatan mendengarkan buku yang dibacakan secara bersama yang interaktif. Layanan anak juga menyediakan fasilitas dan ruangan yang nyaman, koleksi yang sesuai dengan usianya seperti komik, cerita rakyat, board book dan lain-lain dapat dibaca maupun dibacakan dari usia 0 sampai 13 tahun. Layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mempunyai sekitar 10.459 judul dan 31.900 eksemplar dapat membuat anak-anak betah untuk berkunjung ke layanan anak. Program layanan anak di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia merupakan salah satu pendekatan penting untuk meningkatkan literasi anak yang baik sejak usia dini. Dalam hal ini, hubungan program layanan anak terhadap literasi tidak hanya berarti kemampuan menulis dan membaca, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, pemahaman informasi, dapat menyampaikan ide dan gagasan dari apa yang dia dapat saat membaca buku dan kemampuan menggunakan teknologi dan media. Ketersediaan program layanan anak dan pemanfaatan koleksi buku di tempat juga menjadi pendukung untuk menumbuhkan literasi anak-anak, dengan tingkat penggunaan koleksi buku yang sesuai dengan usia anak-anak, termasuk buku fiksi, non-fiksi. Program yang tersedia di layanan anak dalam upaya peningkatan literasi anak di antanya adalah protap jelita, read aloud, retelling, sulap edukasi dan layanan sirkulasi. Read Aloud (membaca dengan keras/nyaring) adalah salah satu bentuk strategi atau cara membaca teks dengan bersuara keras yang dapat membantu memfokuskan perhatian secara mental menimbulkan pertanyaan-pertanyaan dan merancang diskusi melalui pelafalan vokal atau konsonan, nada atau lagu ucapan, penguasaan tanda-tanda baca pengelompokan kata atau fase ke dalam satuan-satuan ide, kecepatan mata dan ekspresi. Reading Aloud merupakan salah satu strategi pembelajaran aktif, yang dapat membantu siswa dalam suatu program membaca (Bujangga, 2022). Penelitian ini menawarkan perspektif baru dengan fokus pada implementasi program layanan anak berbasis teori Super3 di layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Dengan menggunakan teori ini, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi cara inovatif dalam meningkatkan literasi anak melalui program “read aloud” layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang terstruktur dan interaktif. Teori ini relevan untuk membedah program layanan anak karena menyediakan panduan yang sederhana dan praktis dalam mengembangkan aktivitas literasi. Penelitian ini mengambil judul “Program Layanan Anak di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Sebagai Upaya Peningkatan Literasi Anak”, karena penulis melihat keaktifan anak-anak mendapatkan program “Read Aloud” saat kunjungan ke layanan anak. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan utama, bagaimana implementasi teori Super3 dapat meningkatkan efektivitas program layanan anak di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dalam mendukung peningkatan literasi anak. Pernyataan ini mencakup integrasi teori Super3 ke dalam program layanan anak, serta dampak yang dihasilkan terhadap peningkatan kemampuan literasi anak. Penelitian ini menawarkan kebaruan dalam aspek utama yaitu, eksplorasi program “Read Aloud” layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia sebagai upaya peningkatan literasi anak anak. Dengan penerapan teori Super3 (Plan, Do, Review) dalam program layanan anak di perpustakaan, sebuah pendekatan yang belum banyak diterapkan di Indonesia. Meskipun teori Super3 telah dikenal dalam konteks pendidikan untuk membantu proses pembelajaran yang terstruktur, penerapannya dalam layanan perpustakaan, terutama untuk anak-anak, masih minim dibahas dalam literatur maupun praktik. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru dan menjadi rujukan bagi pengembangan program serupa di perpustakaan lain di Indonesia.

Method

Penelitian ini dilakukan di layanan anak lantai 7 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jl. Medan Merdeka Sel. No. 11, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110 karena, memiliki peran strategis sebagai lembaga perpustakaan terbesar dan terpenting di Indonesia. Sebagai lembaga yang mendukung pengembangan literasi di seluruh Indonesia, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memiliki koleksi literatur yang luas dan berbagai program untuk anak, yang memungkinkan penelitian ini untuk mengeksplorasi implementasi teori Super3. Pemilihan lokasi ini juga bertujuan untuk mengkaji penerapan teori Super3 dalam konteks layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, di luar ruang lingkup lokal atau regional, serta untuk memberikan wawasan yang lebih komprehensif mengenai tantangan dan peluang yang dihadapi oleh lembaga besar dalam meningkatkan literasi anak. Penelitian yang dilakukan pada Agustus, September, Oktober 2024 juga bertepatan dengan persiapan bulan gemar membaca atau hari kunjung perpustakaan (HKP) yang semakin fokus pada topik yang dibahas. Dengan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif deskriptif yang diperoleh dari informasi atau fakta yang diperoleh melalui pengamatan atau penelitian di lapangan secara langsung yang bisa dianalisis dalam rangka memahami sebuah fenomena atau untuk mendukung sebuah teori literasi anak menggunakan super3, hubungan program layanan anak sebagai upaya peningkatan literasi anak, peran pustakawan dalam menjalankan program layanan anak, tentang sesuatu yang diteliti. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskriptif dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu kontek kasus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai motode ilmiah (Sugiyono, 2019). Subjek dalam penelitian ini adalah meliputi pihak-pihak yang terlibat dalam kegiatan program layanan anak yang ada di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia seperti, anak-anak usia 6-8 tahun karena, anak-anak di usia ini umumnya masih berada dalam tahap belajar membaca dan menulis, sehingga sangat cocok untuk menilai pengaruh program literasi yang mengintegrasikan teori Super3, yang fokus pada tahapan Plan dan Do. Dan anak-anak usia 9-12 tahun karena, anak-anak di usia ini lebih mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan analitis, sehingga penelitian ini dapat menilai sejauh mana teori Super3 membantu mereka dalam mengorganisasi dan menganalisis informasi (tahapan Review). Anak-anak yang terlibat dalam penelitian ini berasal dari instansi sekolah yang berkunjung di layanan anak dengan berbagai latar belakang pendidikan, termasuk anak-anak yang bersekolah di sekolah negeri maupun swasta seperti PAUD, MI, SD dan SDIT. Pustakawan yang dilibatkan dalam penelitian ini berjumlah 7 orang, 5 guru pendamping dan 5 orang tua. Subjek pada penelitian ini dapat memberikan data-data yang berkaitan dengan permasalahan pada penelitian yang dilakukan oleh peneliti sehingga dapat memperoleh hasil yang relevan dengan penelitian dan dapat di pertanggung jawabkan. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara dan observasi. Wawancara yang diakukan kepada pustakawan layanan anak, pemustaka seperti orang tua dari anak-anak, guru pendamping dan anak-anak yang berkunjung dan mendapatkan program layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang dimana informan tersebut dapat mewakili informasi yang dibutuhkan peneliti. Dengan menggunakan triangulasi metode inilah peneliti akan melakukan perbandingan dan pengecekan data yang di dapat melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi (Rimbani, 2020). Untuk menganalisis data yang diperoleh dari wawancara dan observasi, penelitian ini menggunakan pendekatan analisis tematik. Pendekatan ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi, menganalisis, dan melaporkan pola (tema) dalam data yang relevan dengan penelitian, khususnya yang berkaitan dengan penerapan teori Super3 dalam layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Analisis tematik memberikan fleksibilitas dalam mengeksplorasi berbagai perspektif dari partisipan, baik anak-anak, pustakawan, guru maupun orang tua.

Discussion

Penelitian oleh (Nurbaeti et al., 2022) “Penerapan Metode Bercerita dalam Meningkatkan Literasi Anak terhadap Mata Pelajaran Bahasa Indonesia” Adapun kesamaan dalam penelitian ini adalah sama sama fokus pada literasi anak dan keterlibatan aktif anak-anak, perbedaannya terletak pada pendekatan teoritis: Penelitian sebelumnya lebih fokus pada penerapan metode bercerita untuk meningkatkan literasi Bahasa Indonesia, sedangkan penelitian ini mengadopsi teori Super3 yang lebih komprehensif, mencakup tidak hanya literasi membaca dan menulis tetapi juga kemampuan berpikir kritis melalui struktur Plan, Do, dan Review. Konteks penelitian ini dilakukan di layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, yang lebih luas cakupannya, sementara penelitian sebelumnya terfokus pada penerapan metode bercerita di dalam konteks pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar. Penelitian ini memberi gambaran lebih luas tentang bagaimana teori Super3 dapat diterapkan dalam konteks perpustakaan di tingkat nasional. Kontribusi baru penelitian ini memperkenalkan penerapan teori Super3 sebagai pendekatan sistematis untuk meningkatkan literasi anak di perpustakaan, menawarkan perspektif baru dalam menghubungkan teori literasi dengan program layanan anak di perpustakaan, yang sebelumnya belum banyak dieksplorasi dalam penelitian penelitian terkait Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis tematik untuk mengevaluasi keberhasilan program layanan anak untuk peningkatan literasi anak, yang memberikan kontribusi metodologis baru dalam evaluasi program perpustakaan berbasis literasi. Penelitian oleh (Rahmat Rahmat et al., 2023) “Upaya Meningkatkan Literasi Membaca Melalui Pojok Baca di Desa Doda Rahmat” Adapun kesamaan pada penelitian ini adalah, bertujuan meningkatkan literasi anak melalui fasilitas dan program yang mendukung kegiatan membaca, membangun kebiasaan membaca pada anak-anak. Penggunaan layanan perpustakaan untuk anak, kedua penelitian menganggap perpustakaan sebagai tempat yang ideal untuk mendukung kegiatan literasi anak. Perbedaannya adalah lokasi dan skala penelitian, Penelitian sebelumnya berfokus pada upaya di tingkat desa dengan penerapan pojok baca di tingkat lokal, sedangkan penelitian ini mengambil lokasi dilayanan anak Perpustakaan Nasional dengan cakupan yang lebih luas dan program layanan anak yang lebih terstruktur. Pendekatan teoritis, penelitian ini mengintegrasikan teori Super3, yang mengarah pada pendekatan lebih terstruktur dan sistematis dalam meningkatkan literasi melalui tahapan Plan, Do, dan Review. Sebaliknya, penelitian sebelumnya lebih fokus pada kegiatan membaca di pojok baca tanpa integrasi teori literasi yang sistematis. Kontribusi Baru yang dapat diberikan pada penelitian ini adalah penelitian ini memperkenalkan teori Super3 dalam konteks layanan anak yang belum banyak diterapkan dalam literatur sebelumnya, memberikan kerangka yang jelas untuk merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program literasi anak, sehingga dapat memperbaiki efektivitas program perpustakaan. Penelitian oleh (Nengsi & Ramadayanti, 2022) ”Pemanfaatan Literatur Anak dalam Meningkatkan Budaya Baca di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan” Kesamaan dalam penelitian ini adalah pengembangan budaya baca di Perpustakaan, keduanya melibatkan program layanan yang mendukung budaya literasi anak dengan menyediakan akses ke koleksi buku yang sesuai. Adapun perbedaannya, penelitian ini mengadopsi teori Super3 sebagai kerangka teoritis untuk meningkatkan literasi anak, sedangkan penelitian sebelumnya lebih fokus pada pengembangan koleksi literatur yang sesuai dan bagaimana dapat membantu dalam membentuk budaya baca. Pada penelitian ini dapat memberikan kontribusi baru dalam mengintegrasikan teori Super3 dalam pengembangan program literasi anak di perpustakaan. Dengan menggabungkan pendekatan sistematis dan terstruktur penelitian ini menawarkan pendekatan yang lebih komprehensif dalam meningkatkan literasi anak melalui program layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Selain itu, penggunaan dalam menganalisis data wawancara dan observasi juga menambah dimensi metodologis yang baru dalam evaluasi program perpustakaan. Sehingga hasilnya mencakup: A. MENURUT TEORI SUPER3: 1. Tahap plan (merencanakan) Pada tahap Plan, pustakawan pengelola program merancang program yang sesuai dengan tujuan meningkatkan minat baca dan keterampilan literasi anak. Penetapan tujuan program, tujuan yang ditetapkan adalah untuk meningkatkan minat baca anak-anak melalui kegiatan interaktif seperti Read Aloud. Tujuan tersebut dirumuskan berdasarkan hasil wawancara dengan pustakawan di layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Pemilihan materi bacaan, buku-buku yang dipilih untuk kegiatan literasi mencakup berbagai genre, seperti dongeng, cerita bergambar yang sesuai dengan usia anak-anak. Buku-buku ini dirancang tidak hanya mengajarkan membaca, tetapi juga mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemahaman cerita. Hasil implementasi Plan, perencanaan yang dilakukan secara matang menghasilkan program literasi yang terstruktur dengan jelas. Pemilihan buku yang sesuai dengan usia anak-anak, serta penyusunan jadwal yang terjadwal membuat kegiatan ini berjalan lancar dan menarik bagi instansi pendidikan untuk datang dan berkunjung ke layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Hasil wawancara bersama pustakawan, guru dan orang tua pendamping pada saat berkunjung ke layanan anak menghasilkan setiap sekolah yang berkunjung tersebut akan membuat perencanaan yang nantinya akan dapat sesuai dengan target yang ingin dicapai karena sekolah yang terjadwal berkunjung ke layanan anak juga memiliki program lanjutan dari masing-masing sekolah seperti program literasi di sekolahnya. Perencanaan tersebut dibuat untuk memaksimalkan agar sesuai dengan apa yang akan diharapkan. Kemudian pustakawan layanan anak yang menjadi penggerak program seperti "Read Aloud" secara teliti memilih bahan bacaan dan merencanakan strategi untuk melibatkan anak-anak secara aktif. Pemilihan buku didasarkan pada kriteria relevansi tema, kesesuaian usia, dan tingkat kesulitan bahasa yang sesuai untuk peserta. Observasi menunjukkan bahwa bahan bacaan yang dipilih umumnya memiliki ilustrasi menarik dan alur cerita sederhana namun edukatif. Hal ini bertujuan untuk memudahkan anak-anak dalam memahami cerita serta mempertahankan minat mereka sepanjang sesi. Sehingga, pada hal ini peneliti dapat disimpulkan orangtua, guru pendamping, anak-anak, dan pustakawan telah melakukan tahap plan atau perencanakan terlebih dahulu agar sesuai dengan apa yang diharapkan dari masing-masing informan. 2. Tahap do (melakukan) Pada tahap Do, program literasi dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Kegiatan literasi dilakukan dengan pendekatan yang interaktif untuk memastikan anak-anak terlibat aktif dalam proses pembelajaran. Sesi dimulai dengan Read Aloud di mana pustakawan membaca buku dengan suara keras. Anak-anak diajak untuk memperhatikan cerita dan aktif berpartisipasi dengan mengajukan pertanyaan atau memberikan pendapat tentang isi cerita. Di akhir sesi, anak-anak juga diberi kesempatan untuk menceritakan kembali cerita yang dibaca dalam kata-kata mereka sendiri, yang membantu memperkuat pemahaman dan kemampuan berbicara mereka. Metode ini membantu anak-anak untuk lebih memahami isi cerita, memperluas wawasan mereka, dan meningkatkan keterampilan berpikir kritis. Selama kegiatan berlangsung, pustakawan, guru pendamping memberikan pendampingan yang intensif. Anak-anak yang menunjukkan minat tinggi diberikan motivasi lebih untuk terus membaca dan aktif berpartisipasi. Pustakawan memantau partisipasi setiap anak dengan cara berinteraksi bertanya langsung saat ditegah-tengah menceritakan buku, tingkat keaktifan mereka dalam merespon sangat baik. Pustakawan juga memberikan umpan balik langsung untuk mendorong anak-anak yang kurang aktif. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan selama di lokasi tersebut anak-anak tampak terlibat secara aktif, bahkan beberapa kali mereka berinteraksi dengan guru, orang tua ataupun pustakawan melalui pertanyaan atau komentar tentang buku yang di ceritakan. Guru ataupun orang tua pendamping juga mengarahkan anak-anak bahkan akan membacakan buku kepada anak-anak usia dini yang belum bisa membaca. Jenis buku pop up yang berwarna lebih banyak dipilih orang tua dan guru untuk diberikan ataupun dibacakan kepada anak-anak. Kemudian pustakawan yang membacakan buku dengan ekspresi dan intonasi yang menarik untuk memancing minat dan perhatian anak-anak. Observasi menunjukkan bahwa ekspresi wajah, nada suara, dan gaya bercerita yang dinamis sangat efektif dalam meningkatkan antusiasme anak-anak. Selain membacakan buku, pustakawan yang sedang melakukan read aloud juga berhenti pada bagian-bagian tertentu untuk bertanya kepada anak-anak tentang isi cerita, dan menggali bertanya pendapat mereka tentang alur cerita buku tersebut. Anak-anak yang sudah kelas 4, 5, dan kelas 6 memberikan jawaban yang lebih mendalam dan kritis, sementara anak-anak Paud atau TK, dan kelas 1,2,3 memberikan jawaban yang sederhana. Sebagian besar anak-anak menunjukkan respon positif terhadap program Read Aloud. Mereka sangat antusias mendengarkan cerita yang dibacakan oleh pustakawan, terutama ketika pustakawan menggunakan intonasi suara dan ekspresi wajah yang menarik. Respon ini terlihat jelas ketika anak-anak menunjukkan perhatian penuh dan memfokuskan diri pada cerita yang dibacakan. Misalnya anak-anak merepson dan mengatakan “Ceritanya sangat seru!”(anak anak Paud). 3. Tahap review (mereview) Tahap Review, dilakukan evaluasi untuk menilai efektivitas program dan untuk merefleksikan pencapaian tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Evaluasi ini bertujuan untuk mengidentifikasi kekuatan dan area yang perlu diperbaiki. Setelah setiap sesi, pustakawan melakukan evaluasi terhadap pemahaman anak-anak mengenai cerita yang dibacakan. Evaluasi ini dilakukan dengan cara meminta anak-anak untuk menceritakan kembali cerita atau menjawab pertanyaan terkait cerita. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar anak-anak dapat mengingat dengan baik detail cerita dan menyampaikan pemahaman mereka secara jelas. Umpan balik dari orang tua dan anak-anak juga dikumpulkan untuk mengetahui apakah kegiatan tersebut berdampak pada minat baca mereka. Sebagian besar guru pendamping dan orang tua mengatakan bahwa anak-anak mereka semakin tertarik untuk membaca setelah mengikuti program, dan beberapa bahkan melaporkan bahwa anak-anak mereka mulai membaca lebih banyak buku di rumah Berdasarkan hasil evaluasi dan umpan balik, sesudah melakukan program read aloud. Misalnya, pustakawan memperkenalkan lebih banyak jenis buku, seperti buku interaktif dan buku dengan elemen visual yang lebih menarik untuk anak-anak sesuai dengan usia mereka. Hasil survei dan wawancara terhadap pustakawan, orang tua, guru pendamping biasanya anak-anak akan diberikan tugas terhadap buku apa yang sudah dibaca dengan tujuan agar anak anak tersebut dapat fokus membaca dan memahami isi buku tersebut. Kemudian pustakawan mengajak anak-anak untuk merefleksikan cerita yang telah dibacakan, biasanya memulai dengan mengajukan pertanyaan terbuka, seperti "Apa yang kalian suka dari cerita ini?" atau "Menurut kalian, bagaimana seru tidak isi buku cerita ini?" Tahap ini memberikan kesempatan bagi anak anak untuk mengingat kembali alur cerita, menghubungkan dengan pengalaman pribadi mereka, dan mengekspresikan pendapat. Berdasarkan observasi, anak-anak merespon dengan berbagai cara, mulai dari menyampaikan pemahaman mereka tentang cerita hingga menceritakan pengalaman mereka yang mirip dengan karakter dalam cerita. Pustakawan dan guru pendamping ataupun orang tua tersebut kemudian memberikan saran buku-buku lain yang berhubungan dengan cerita, yang bertujuan untuk memicu minat baca berkelanjutan di luar sesi "Read Aloud". Perpustakaan Nasional dapat menjalankan program layanan anak secara sistematis dan terstruktur dengan teori Super3 (Plan, Do, Review). Metode ini memberikan pedoman yang jelas untuk setiap tahap program dan membantu pengembangan berkelanjutan melalui evaluasi. B. HUBUNGAN PROGRAM LAYANAN ANAK SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN LITERASI ANAK Perpustakaan mempunyai peran strategis sebagai lembaga yang mendukung pengembangan literasi masyarakat, termasuk anak-anak. Sebagai pusat informasi, perpustakaan menyediakan berbagai bahan bacaan yang dapat membantu anak-anak meningkatkan kemampuan literasinya (Hayati & Utomo, 2020). Read Aloud (membaca menyaring) merupakan salah satu program yang ada di layanan anak Perpustakaan Nasional Republik Indonesia yang biasa diberikan pada saat kunjungan dengan tingkatan sekolah pendidikan usia dini sampai sekolah dasar kelas 3, dengan bentuk kegiatan seperti pustakawan membacakan buku dengan keras serta dapat membuat daya tarik anak-anak saat mendengarkan cerita dari buku yang di ceritakan kepada anak-anak untuk memperkenalkan anak-anak pada buku, meningkatkan kemampuan dan memperoleh keterampilan mendengar dan pemahaman. Mereka belajar mendengarkan dengan cermat dan memahami isi cerita, imajinasi dan ketertarikan anak-anak terhadap buku sehingga dapat menumbuhkan minat membaca anak dan terciptanya hingga meningkatnya literasi anak-anak. Program layanan anak dan peningkatan literasi anak sangat erat hubungannya. Perpustakaan memiliki kekuatan untuk mendukung literasi anak melalui kegiatan yang dirancang dan penerapan dengan baik. Program ini tidak hanya membantu anak membaca lebih baik, tetapi juga membantu mereka belajar berpikir kritis, bekerja sama, dan menyesuaikan diri dengan dunia mereka yang selalu berubah. Menurut hasil wawancara bersama pustakawan layanan anak mengatakan program di layanan anak sangat berdampak baik dan positif untuk kemampuan literasi anak seperti program read aloud yang biasa diberikan untuk anak-anak sekolah paud, taman kanak-kanak, dan sekolah dasar yang berkunjung. Anak-anak menjadi tertarik untuk membaca buku di layanan anak Perpustakaaan Nasional Republik Indonesia, mendekatkan bacaan anak melalui wahana, dan interaksi sosial seusianya anak, serta memberikan kesan bagi anak untuk senang membaca, cinta buku, dan cinta perpustakaan dengan sering datang dan meminjam buku untuk dibaca di rumah. Inisiatif program membaca untuk anak-anak di layanan anak tidak hanya program peningkatan literasi, tetapi juga dapat membangun budaya literasi nasional jika program Perpustakaan Nasional Republik Indonesia membaca menjadi model untuk penyeragaman kegiatan anak di daerah daerah. Program layanan anak dapat membangun fondasi yang kuat untuk literasi di Indonesia dengan memperluas jangkauan ke seluruh provinsi dan berfokus pada keberlanjutan, pelibatan masyarakat, dan kerja sama. Tujuannya adalah untuk mencapai peningkatan literasi yang signifikan dengan menggunakan strategi yang berpusat pada masyarakat dan persiapan yang matang. Jumlah Kunjungan di Layanan Anak 9560 10000 5000 0 739 9103 2435 9592 3142 5044 998 Agustus 2024 Anggota Sep-24 Non Anggota 758 Oktober 2024 Rombongan Diagram 1. Diagram jumlah kunjungan dari sekolah di Layanan anak tahun 2023 sampai dengan Agustus 2024 Hal ini terlihat dari jumlah kelompok kunjungan yang terus meningkat serta jumlah kunjungan pribadi yang juga semakin naik yang mana dapat dilihat dari diagram dibawah ini. Pada bulan Agustus 204 jumlah pengunjung yang menjadi anggota 9.560, September 2024 menjadi 9.103 dan oktober meningkat menjadi 9.592. jumlah pengunjung non anggota di bulan Agustus berjumlah 739, bulan September 998, bulan Oktober berjmlah 758. Jumlah pengunjung rombongan dibulan Agustus berjumla 3.435, bulan September berjumlah 3.142, bulan Oktober meningkat menjadi 5.044. Program layanan anak di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia bukan sekadar sarana edukasi, tetapi juga alat strategis untuk membangun generasi yang literat dan siap menghadapi tantangan masa depan. Dengan menghubungkan anak-anak dengan sumber daya, kegiatan, dan lingkungan yang mendukung, program layanan anak seperti Read Aloud inilah dapat berkontribusi secara signifikan dalam meningkatkan literasi anak. Upaya ini tidak hanya berdampak pada kemampuan akademis mereka, tetapi juga pada pengembangan keterampilan hidup dan partisipasi aktif dalam masyarakat di dalam kehidup sehari-hari. C. PERAN PUSTAKAWAN DALAM MENJALANKAN PROGRAM LAYANAN ANAK Literasi adalah sekumpulan keterampilan nyata, khususnya kemampuan kognitif untuk membaca dan menulis, terlepas dari situasi di mana kemampuan tersebut diperoleh, dari siapa kemampuan tersebut diperoleh, dan bagaimana kemampuan tersebut diperoleh (Puja Nofia Sari, 2020). Peran pustakawan dalam upaya peningkatan literasi di Perpustakaan ini sangat penting untuk memberikan pengguna akses yang baik ke informasi. Pustakawan tidak hanya menjaga buku atau mengelola koleksi mereka juga membantu pemustaka menemukan apa yang mereka butuhkan. Orang yang bekerja di perpustakaan disebut pustakawan. Peran pustakawan sangat penting agar pemustaka dapat menerima layanan mereka. Oleh karena itu, perpustakaan harus terus meningkatkan dan mengembangkan layanan untuk memuaskan pemustaka. Pustakawan memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengelola perpustakaan dan meberikan layanan (Ngatini, 2020). Sebagai seorang pustakawan, penting untuk terus meningkatkan produktivitas dan kinerja guna memastikan kepuasan pengguna tercinta. Untuk memenuhi keperluan pustakawan yang bertanggung jawab mengurus perpustakaan. Pustakawan perlu memiliki keprofesionalan dan keahlian yang sangat mumpuni, sehingga dapat diandalkan oleh para pengguna untuk memenuhi segala kebutuhan mereka (Yusniah et al., 2023). Pengelolaan perpustakaan merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan layanan perpustakaan. Unsur-unsur yang terlibat di dalam pengelolaan perpustakaan antara lain sumber daya manusia yaitu staf perpustakaan atau pustakawan, pengguna perpustakaan sebagai pihak yang memanfaatkan informasi yang disediakan oleh perpustakaan, sarana dan prasarana serta berbagai fasilitas pendukung serta koleksi perpustakaan yang disusun dengan sistem tertentu (Rochmah, 2016). Keberhasilan layanan perpustakaan, khususnya peningkatan minat baca, bergantung pada banyak faktor. Salah satunya adalah petugas perpustakaan atau pustakawan yang memberikan program di layanan. Pustakawan diharapkan dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, berdasarkan keterampilan, wawasan, pengetahuan, dan sikap yang sesuai. Pustakawan harus berupaya semaksimal mungkin untuk meningkatkan minat membaca anak-anak. Pustakawan perlu benar-benar memahami prinsip-prinsip membaca, ciri-ciri membaca yang baik, persiapan, dan cara memotivasi siswa agar gemar membaca (Agustina Kurniyati, 2021). Gambar 1. Pustakawan yang sedang melakukan program Read Aloud kepada anak-anak Berdasarkan hasil penelitian pustakawan sangat berperan penting dalam menjalankan program di layanan anak seperti, dalam melakukan read aloud yang dapat dilihat pada gambar 1 merupakan peran pustakawan langsung sebagai fasilitator penggerak atau seorang edukator atau mentor yang mengedukasi untuk anak-anak saat mengenalkan buku bacaan. Pustakawan akan membacakan buku (read aloud) langsung untuk anak-anak. Judul buku bacaan yang biasanya dibacakan atau diberikan kepada anak-anak sekolah yang berkunjuang diantaranya adalah “Smong Si Raksasa Laut penulis Maya Lestari”, “Penghuni Rumah Tua penulis Januarsyah Sutan”, Siapa Yang Bernyanyi penulis Novia Samawandani, “Temukan Aku penulis Asri Andrini”, dan buku Campur Campur Campur penulis Elly Taurina”. Buku-buku tersebut akan diberikan dengan melihat terlebih dahulu tingkatan anak-anak atau siswa yang berkunjung kelayanan anak. Peran pustakawan dalam menjalankan program dilayanan anak sebagai pustakawan adalah orang yang bertanggung jawab untuk menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan usia, minat, dan kebutuhan anak. Mereka harus dapat memilih buku-buku yang menarik dan mendidik, dan memastikan bahwa bahan bacaan tersebut relevan dengan perkembangan literasi anak. Sebagai pendorong inovasi dalam layanan anak pustakawan harus terus berinovasi ketika mereka membuat program untuk layanan anak. Pustakawan memerankan langsung program yang ada untuk menarik minat anak-anak pada literasi, seperti pada adanya kunjungan dari instansi sekolah yang berkunjung pelayanan yang diberikan oleh pustakawan di layanan anak seperti kegiatan read aloud di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

Conclusion

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, maka peneliti dapat menarik kesimpulan bahwa dalam aspek perencanaan (Plan), guru atau orang tua pendamping, serta pustakawan merancang kegiatan berkunjung ke layanan anak dan program yang diberikan akan berbasis sesuai dengan kebutuhan anak-anak untuk mendukung perkembangan literasi, baik secara kognitif maupun kreatif. Pada tahap pelaksanaan (Do), guru atau orang tua pendamping serta pustakawan berperan sebagai fasilitator yang aktif, menyediakan sumber daya, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pembelajaran. Terakhir, melalui evaluasi (Review), guru-guru pendamping akan memantau keberhasilan setelah anak-anak mendapatkan program read aloud di layanan anak dan mengidentifikasi peluang perbaikan untuk memastikan program tersebut relevan dan efektif. Dengan pendekatan ini, hubungan antara program layanan anak dan peran pustakawan juga terbukti saling melengkapi. Pustakawan tidak hanya berfungsi sebagai penyedia informasi tetapi juga sebagai penggerak dalam upaya peningkatan literasi anak di Indonesia. Teori Super3 memberikan landasan yang kuat untuk perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi program, sehingga dapat menciptakan dampak yang berkelanjutan pada literasi anak-anak. Diharapkan penelitian ini dapat memberikan kontribusi terhadap pengembangan program literasi anak, khususnya di perpustakaan, sebagai sarana untuk meningkatkan kemampuan literasi generasi Indonesia. Dengan demikian, perpustakaan dapat memperkuat perannya sebagai pusat pembelajaran yang relevan dalam mendukung pembangunan literasi anak di Indonesia.