Kembali
16
1
2024 Al-ma'mun: Jurnal Kajian Kepustakawanan dan Informasi Vol 5 · 1 ISSN 2746-0509

Peran Akun Tiktok @jadipenulismuda Sebagai Sumber Informasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU Berbasis Literasi Digital

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak

Tiktok merupakan salah satu media sosial yang paling populer dengan fitur yang disediakan berupa video dan foto yang menarik. Tiktok selain digunakan sebagai sarana hiburan juga dapat berfungsi sebagai media pendidikan literasi digital yang menjadi sumber informasi masyarakat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan mengkaji peran akun Tiktok @jadipenulismuda sebagai sumber informasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU berbasis Digital Literacy. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik observasi terhadap isi akun @jadipenulismuda, serta wawancara pemilik akun @jadipenulismuda dengan dua mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU dan dokumentasi dengan instrumen penelitian berupa handphone. Analisis data dilakukan dengan meringkas seluruh data hasil wawancara, kemudian data tersebut dipilah dan disajikan dalam bentuk narasi dan tabel dan pada tahap akhir dilakukan pengecekan silang antar informan. Hasil penelitian menemukan bahwa akun Tiktok @jadipenulismuda juga berperan sebagai sumber informasi publik, khususnya oleh mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU. Hal ini terlihat dari para siswa yang telah mem-follow akun @jadipenulismuda merasakan dampak peningkatan kemampuan menulis dan rasa ingin tahu mereka terhadap buku dan informasi lainnya. Upaya yang dilakukan akun @jadipenulismuda dalam menyajikan informasi adalah teori information repackaging dimana informasi yang sudah ada dikemas kembali menjadi bentuk baru yang semakin menarik perhatian publik.
Keywords: literasi digital · generasi z · informasi · media sosial · tiktok

Introduction

Penyebaran informasi yang semakin hari semakin berkembang pesat merupakan bagian dari era Revolusi Industri 4.0. Era dimana penggunaan teknologi informasi digunakan secara besar-besaran sehingga ada banyak informasi yang dengan mudah diperoleh di masyarakat. Dalam penyebaran informasi tersebut, teknologi informasi memanfaatkan internet dan berbagai jenis aplikasi yang dengan mudah diperoleh hanya dengan menggunakan smartphone. Penggunaan teknologi informasi secara besar-besaran ini turut mempengaruhi aksesibilitasi internet yang menjadi pusat persebaran informasi. Revolusi industri tidak hanya berdampak pada teknologi informasi saja, melainkan turut melibatkan masyarakat sebagai objek dari revolusi industri tersebut. Kanemetsu menyatakan dalam Khasanah & Herina, (2019), masyarakat dituntut untuk menguasai perkembangan teknologi informasi yang ada karena hal ini berkaitan dengan keseharian dan masa depan suatu negara. Peran masyarakat dalam menghadapi era 4.0 ini tentunya melibatkan penggunaan teknologi dalam kehidupan sehari-hari (Arti, 2020). Dalam hal ini media informasi yang tentunya lebih akrab dengan masyarakat seperti televisi, surat kabar hingga media sosial. Bagi masyarakat kini khususnya generasi muda media informasi yang sering digunakan adalah media sosial. Ada banyak jenis media sosial yang tersebar di seluruh penjuru dunia dan beberapa diantaranya yang cukup popular yaitu Facebook, Twitter, Instagram, Line, Telegram, WhatsApp, Youtube, TikTok dan lainnya. Penggunaan internet yang semakin hari semakin meningkat setiap tahunnya menjadikan Tiktok salah satu aplikasi yang paling diminati khususnya oleh para Gen Z (Adawiyah, 2020). Kepopuleran Tiktok membawanya menjadi aplikasi terbaik di Play Store pada tahun 2018 (Gusmao, 2022). Dapat dikatakan bahwa aplikasi ini memberikan efek candu kepada para penggunanya, dengan berbagai fitur yang mudah digunakan, isi konten yang bervariasi dan kreatif, tak heran apabila aplikasi ini sangat popular di masyarakat. Penggunaan aplikasi ini telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Dari aplikasi Tiktok ini, mahasiswa dengan mudah mendapatkan berbagai macam informasi yang dibutuhkan bahkan para pengguna aplikasi ini juga dapat membagikan berbagai kegiatan dan kreativitasnya dalam bentuk foto ataupun video (Suhardiman, 2022). Para pengguna Tiktok cenderung memanfaatkan aplikasi ini untuk membagikan momen dan menggali potensinya di bidang editing. Mahasiswa Ilmu perpustakaan UINSU kerap menuangkan ide kreativitasnya di media sosial ini. Meningkatnya pemakaian aplikasi Tiktok ini diharapkan agar para penggunanya turut meningkatkan kemampuan literasi digital. Literasi digital dapat dikatakan suatu kemampuan dalam mengelola informasi ke dalam berbagai bentuk dan sumber yang tentunya dengan memanfaatkan komputer dan jaringannya (Hanik, 2020). Dengan adanya internet dan media sosial yang sangat mudah digunakan, tentu akan lebih mudah pula masyarakat untuk meningkatkan kemampuan literasi digitalnya. Peningkatan kemampuan literasi digital ini penting dilakukan agar masyarakat khususnya mahasiswa dapat mengelola informasi yang diperoleh agar menjadi informasi yang bermanfaat dan berdaya guna bagi masyarakat luas. Sumber informasi yang kredibel sangat dibutuhkan di era banjir informasi ini. Di era ini ada banyak sekali informasi positif dan membangun, namun ada banyak juga informasi yang tidak valid sehingga dapat dikatakan hoax. Para pengguna media sosial harus melek akan pentingnya persebaran informasi valid di masyarakat. Dengan tersebarnya informasi valid, maka tentu saja masyarakat yang mendapatkan informasi tersebut dapat dikatakan masyarakat yang cerdas. Literasi Digital adalah salah satu cara untuk menciptakan masyarakat cerdas dengan pengelolaan media sosial yang baik dan benar. Dengan diterapkannya literasi digital di kehidupan sehari-hari maka perlahan sumber informasi yang tersebar pun akan diakui kredibel oleh masyarakat luas. Penerapan literasi digital ini sudah dimulai oleh berbagai content creator di beragam platform khususnya Tiktok yang merupakan aplikasi paling laris di masyarakat. Salah satu content creator Tiktok yang cukup popular di kalangan mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU yaitu dengan nama akun @jadipenulismuda. Akun @jadipenulismuda merupakan akun Tiktok yang menyajikan konten seputar buku, baik rekomendasi buku, bagaimana cara memilih buku, tips menjadi penulis, tips menghasilkan uang dengan menulis serta banyak lagi. Akun @jadipenulismuda popular dikarenakan akun tersebut memiliki keterkaitan yang cukup erat dengan jurusan Ilmu Perpustakaan, terlebih cara penyajian konten yang menarik perhatian para pengikutnya. Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU mendapatkan banyak informasi penting dari akun @jadipenulismuda terlebih buku-buku rekomendasinya yang memberikan dampak pada meningkatnya minat baca para pengikutnya khususnya mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU. Tingginya minat mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU terhadap penggunaan Tiktok menjadikan peneliti tertarik untuk menggali lebih jauh kemampuan literasi yang dimiliki oleh mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU. Penelitian ini akan melihat sejauh mana peran yang dimiliki akun @jadipenulismuda sebagai sumber informasi dan menjadi perantara mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU dalam meningkatkan literasi digitalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui serta mengkaji peran akun Tiktok @jadipenulismuda sebagai sumber informasi Mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU dengan berbasis Literasi Digital. B. RUMUSAN MASALAH Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti tertarik untuk mengkaji apakah akun Tiktok @jadipenulismuda berperan sebagai sumber informasi mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara berbasis literasi digital?, serta kendala apa saja yang dilalui dalam pemanfaatan akun Tiktok @jadipenulismuda sebagai sumber informasi mahasiswa Ilmu Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sumatera Utara berbasis Literasi Digital?. C. KERANGKA TEORI 1. Tiktok Tiktok merupakan salah satu sosial media yang popular di masyarakat. Aplikasi ini merupakan aplikasi yang berisi foto atau video dengan durasi tertentu yang dilengkapi dengan musik (Firamadhina & Krisnani, 2021). Pada tahun 2018 Tiktok mendapatkan predikat sebagai aplikasi terbaik di playstore dengan mengalahkan berbagai aplikasi terdahulunya. Namun pada bulan Juli 2018 Tiktok sempat diboikot oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dengan alasan ditemukan konten-konten berbau SARA, tetapi hal ini hanya berlaku selama seminggu, dan setelahnya Tiktok dapat digunakan kembali hingga saat ini (Adawiyah, 2020) Gambar 1 Logo Tiktok Sumber: Google Kenaikan drastis yang dialami Tiktok menjadikannya aplikasi yang popular tidak hanya di Indonesia namun juga di dunia. Pada Juni 2020, aplikasi Tiktok adalah aplikasi yang paling banyak diunduh di seluruh dunia mengalahkan aplikasi Zoom Meeting yang pada tahun tersebut merupakan aplikasi yang banyak digunakan dikarenakan pandemi Covid 19 (Pardianti, 2022). Keberadaan Tiktok yang menjadi aplikasi paling diminati masyarakat, menjadikan Tiktok menjadi salah satu media komunikasi. Hal ini tentunya karena media sosial yang merupakan produk dari teknologi informasi memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk melakukan komunikasi dengan masyarakat luas secara online dengan mengupload berbagai konten di media sosial yang dimilikinya (Rahardaya, 2021). Pengguna aplikasi ini terdiri dari berbagai kalangan, mulai dari orang dewasa, remaja hingga anak kecil sangat menyukai aplikasi ini. Hal ini dikarenakan ada banyak konten yang menjadi hiburan yang tersaji di Tiktok. Konten yang ada di dalamnya pula dapat ditiru oleh siapa saja, sehingga akan banyak orang berlomba-lomba melakukan hal yang sama dengan apa yang sedang ramai. Hingga saat ini mayoritas pengguna Tiktok tentunya melakukan hal yang sama, yaitu dengan ikut meramaikan dengan mengunggah video ataupun foto yang sedang ramai dibicarakan. Para pengguna biasa mengatakannya dengan melakukan challenge dari suatu konten yang sedang viral. Popularitas Tiktok yang semakin meningkat dan dapat dikonsumsi oleh siapa saja menjadikan konten-konten yang ada di Tiktok pun dapat dikonsumsi secara bebas pula. Tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada konten-konten berbau negatif di dalam Tiktok, hal ini yang dikhawatirkan dapat memberikan pengaruh buruk pada anak-anak. Maka dari itu dalam penggunaan sehari-hari, anak-anak tetaplah harus dalam jangkauan orang tua. Hal baik dari Tiktok yaitu, banyak content creator yang menyajikan beragam informasi menarik yang dapat menambah wawasan penggunanya. Ada banyak topik yang tersedia dan tergantung kebutuhan pengguna informasi mana yang dibutuhkan. Untuk penyebaran informasi dan sekaligus untuk meningkatkan minat literasi masyarakat, Tiktok mengeluarkan campaign peningkatan literasi digital serta memberantas konten-konten yang bersifat merusak dan tidak baik. Adanya campaign ini bertujuan agar para pengguna dapat menggunakan aplikasi Tiktok dengan benar (Rahardaya, 2021). Tentu saja, hal ini mendapatkan respon yang positif dari para penggunanya. 2. Literasi Digital Literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis yang berarti seseorang harus mampu untuk memahami suatu bacaan. Sedangkan Literasi Digital merupakan kemampuan untuk menggunakan, mengakses, mengelola serta memanfaatkan teknologi informasi sebagai media komunikasi dan penyebaran informasi di masyarakat. Paul Gilster menyatakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan seseorang dalam memahami serta menggunakan informasi yang diperoleh secara luas dan diakses menggunakan jaringan komputer (Sutrisna, 2020). Menurut Potter dalam Setyaningsih et al., (2019) dibutuhkan usaha untuk menjadikan masyarakat menjadi melek literasi khususnya literasi digital, serta butuh usaha dan strategi yang tepat pula untuk mengenalkan media digital agar dapat digunakan di keseharian masyarakat. Literasi tentunya memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, salah satu diantaranya yaitu untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Pada mulanya, literasi digital masih seputar literasi komputer yang mana dalam hal ini masyarakat yang masih terkait dengan penggunaan dan pengelolaan komputer (Suhardiman, 2022). Namun seiring berkembangnya teknologi informasi literasi digital menjadi lebih luas cakupannya tidak hanya terkait dengan komputer saja. Salah satu bagian dari literasi digital yaitu pengelolaan media sosial yang menjadi bagian dari keseharian masyarakat. keseharian yang memiliki keterikatan dengan teknologi digital mengharuskan masyarakat untuk harus mampu menguasai teknoloi digital tersebut agar tidak menjadi masyarakat yang tertinggal. Kemampuan dalam mengelola dan menguasai teknologi digital harus dimiliki oleh masingmasing individu. Masyarakat harus mampu hidup berdampingan dengan teknologi karena pada era digital ini banyak hal yang sudah dilakukan dengan bantuan teknologi. Masyarakat yang mulai menguasai media sosial merupakan salah satu langkah awal untuk penguasaan literasi digital itu sendiri. Martin dan Grudziecki dalam penelitiannya mengemukakan bahwa keterampilan literasi digital dapat berjalan baik akibat adanya kesadaran dalam penggunaan perangkat ICT dalam berkomunikasi dan berinteraksi dalam kegiatan sosial (Sutrisna, 2020). Upaya untuk menghasilkan kemampuan literasi digital yang ada di masyarakat dapat terwujud dengan masyarakat yang berpikir kritis serta evaluasi kritis serta penerapannya di lingkungan sehari-hari (Kusmiaji et al., 2022). Literasi Digital menjadi hal yang sangat penting karena masyarakat di era ini banyak mendapatkan berita ataupun informasi dari platform digital media sosial. Ada banyak informaisi yang kredibel namun ada banyak pula informasi yang tidak benar. Dengan kemampuan literasi digital yang dimiliki masyarakat, maka masyarakat akan mampu memilah informasi dengan mudah. Maka dari itu media sosial berperan dalam kemampuan literasi digital yang harus dimiliki masyarakat. Dalam tesisnya yang berjudul What is Digital Literacy? Douglas Belshaw menyatakan bahwa untuk mengembangkan literasi digital di masyarakat terdiri dari delapan elemen yaitu; kultural yang merupakan pemahaman ragam konteks pengguna dunia digital, kognitif yang merupakan daya pikir dalam menilai konten, kontruktif yait reka cipta sesuatu yang ahli dan actual, komunikatif yang memahami kinerja jejaring dan komunikasi di dunia digital, kepercayaan diri yang bertanggung jawab, kreatif yang melakukan banyak hal baru dengan cara baru, kritis dalam menanggapi konten yang beredar, serta bertanggung jawab secara sosial (Hanik, 2020). 3. Teori Kemas Ulang Informasi Literasi merupakan kemampuan membaca dan menulis yang berarti seseorang harus mampu untuk memahami suatu bacaan. Sedangkan literasi digital merupakan kemampuan untuk menggunakan, mengakses, mengelola serta memanfaatkan teknologi informasi sebagai media komunikasi dan penyebaran informasi di masyarakat. Paul Gilster menyatakan bahwa literasi digital merupakan kemampuan seseorang dalam memahami serta menggunakan informasi yang diperoleh secara luas dan diakses menggunakan jaringan komputer (Sutrisna, 2020). Menurut Potter dalam Setyaningsih et al., (2019) dibutuhkan usaha untuk menjadikan masyarakat menjadi melek literasi khususnya literasi digital, serta butuh usaha dan strategi yang tepat pula untuk mengenalkan media digital agar dapat digunakan di keseharian masyarakat. Literasi tentunya memiliki banyak manfaat bagi masyarakat, salah satu diantaranya yaitu untuk meningkatkan produktivitas masyarakat. Kemas ulang Informasi atau pengemasan ulang informasi menurut Radhakrishnan dan Francis dalam Nashihuddin (2021) merupakan kegiatan yang terdiri dari pengumpulan, penataan ulang, serta pengorganisasasian informasi dan tersaji dalam berbagai bentuk tergantung kebutuhan individu. Menurut Dongartive dalam Maretti (2022) menyatakan bahwa kemas ulang informasi merupakan proses pengemasan informasi melalui tahap analisis untuk menyesuaikan bentuk akan kebutuhan penggunanya. Kemas ulang informasi tidak hanya dapat dilakukan pada informasi cetak saja, namun dapat pula berupa berita elektronik, buku elektronik, serta bentuk lain yang membutuhkan media. Media berfungsi sebagai perantara antara pengirim informasi serta penerima informasi yang mana pada era digital ini media yang dapat dimanfaatkan adalah media sosial yang telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat (Fitriyana & Husna, 2022). Adanya kemas ulang informasi tentu saja memberikan kemudahan dalam mengakses informasi. Informasi yang diperoleh lebih bervariasi dan tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yang membutuhkannya. Kemas ulang informasi perlu dan wajib dilakukan agar informasi yang beredar di masyarakat menjadi beragam. Terlebih masyarakat harus memenuhi kebutuhan informasi agar tidak terjadi kekurangan informasi ataupun tertinggal informasi. Kebutuhan informasi seperti yang dikemukakan oleh Kuhltau pada Maretti (2022) adalah kebutuhan yang harus terpenuhi untuk mendukung aktifitas sehari-hari.

Method

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berorientasi pada keadaan yang bersifat alami dan tidak dapat dilakukan tes laboratorium melainkan harus dilakukan pengecekan secara langsung di lapangan (Abdussamad, 2021). Menurut Moeloeng metode penelitian kulitatif merupakan proses mengumpulkan data-data dengan cara yang alamiah serta dilakukan oleh peneliti (Pardianti, 2022). Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif ini dilakukan dengan mendeskripsikan serta menggambarkan secara jelas dan terperinci data yang telah diperoleh. Informan pada penelitian ini yaitu pemilik akun Tiktok @jadipenulismuda yang bernama Ujwar Firdaus, serta dua Followers akun Tiktok @jadipenulismuda yang bernama Rahmi dan Rizka. Dua informan yang merupakan Followers akun @jadipenulismuda dipilih berdasarkan pengambilan sampel dengan teknik purposive sampling yang mana pada pemilihannya ada pertimbangan dengan tujuan penelitian (Emzir & Pd, 2012). Beberapa ketentuan yang ditetapkan pada pemilihan informan pada penelitian ini yaitu seperti; mahasiswa aktif jurusan Ilmu Perpustakaan UINSU, followers aktif akun Tiktok @jadipenulismuda, serta sering menjadikan konten dari akun tiktok @jadipenulismuda sebagai bahan referensi informasi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Observasi dilakukan dengan peneliti melakukan pengecekan pada kolom komentar di tiap konten @jadipenulismuda. Selanjutnya peneliti akan melakukan wawancara dengan ketiga narasumber dan disertai dokumentasi. Setelah peneliti mendapatkan data dari wawancara, selanjutnya peneliti akan melakukan tahap analisis data. Ada tiga jenis teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, serta verifikasi data (Sugiyono, 2013). Pada reduksi data, peneliti akan menyeleksi data yang akan digunakan dan data yang tidak digunakan, serta pada tahap penyajian data, data yang akan digunakan disusun kedalam tabel dan tulisan agar lebih mudah dipahami. Selanjutnya pada tahap verifikasi data, data-data yang telah diperoleh tersebut akan dilakukan pengecekan secara silang pada tiap-tiap narasumber untuk memastikan kevalidan data yang telah diperoleh tersebut

Result & Discussion

Pemanfaatan Tiktok sebagai sumber informasi dapat dilakukan untuk penyebaran informasi kepada khalayak ramai. Aplikasi Tiktok tidak hanya dapat digunakan sebagai sumber hiburan saja, namun dapat pula digunakan sebagai sumber informasi dan pembelajaran oleh masyarakat. Konten yang tersaji di aplikasi Tiktok tidak semuanya merupakan informasi yang benar dan baik. Maka dari itu masyarakat harus memahami serta memilah informasi baik dan informasi yang tidak baik. Di Amerika Serikat ada sekitar 350.000 konten video yang ditarik oleh Tiktok karena konten tersebut berisi misinformasi yang merugikan (Rahardaya, 2021). Untuk menghindari hal tersebut maka masyarakat harus memiliki kemampuan literasi digital. Masyarakat dapat memulainya dengan mengupload konten berbau edukasi. Tiktok yang merupakan salah satu aplikasi terpopular pada era ini diharapkan dapat menjadi alternatif media edukasi masyarakat. Secara garis besar akun Tiktok @jadipenulismuda turut berperan sebagai sumber informasi yang dibutuhkan oleh Mahasiwa Ilmu Perpustakaan UINSU. Mahasiswa tentu saja membutuhkan informasi tambahan selain yang diperoleh dalam buku cetak, terlebih di era digital yang serba teknologi maka gawai dan teknologi informasi sangat berperan dalam persebaran informasi di masyarakat. Mahasiswa harus mampu menggunakan gawai dengan baik dalam mengelola informasi. Akun Tiktok @jadipenulismuda merupakan satu dari sekian banyak akun Tiktok yang memiliki konsep literasi. Pemilik asli akun @jadipenulismuda bernama Ujang Wardani yang merupakan seorang Novelis yang sudah menerbitkan 6 judul buku. Ujang Wardani lebih dikenal dengan nama pena yaitu Kak Ujwar Firdus. Pada mulanya, Ujwar Firdus sangat menyukai membuat konten atau dalam bahasa gaulnya disebut ngonten. Konten awal yang dibuat oleh Kak Ujwar yaitu konten reaction lagu serta membuat gawai video pendek. Setelahnya Kak Ujwar merasa bahwa dia harus membuat konten yang menjadi ciri khasnya dan dapat dinikmati serta bermanfaat bagi banyak orang. Pada awal 2016 belum banyak content creator yang mengambil konsep konten tips menulis di Tiktok, sehingga Kak Ujwar memutuskan untuk menjadikan tips menulis, literasi serta buku menjadi ciri khas dari kontennya. Sesuai dengan nama akunnya @jadipenulismuda maka kak Ujwar memiliki harapan bahwa pengikutnya adalah Gen Z dan Gen Milenial yang merupakan konsumen terbesar akan teknologi informasi. Gen Z dan Gen Milenial yang dapat dikatakan sudah bergantung pada gawai menjadikan kak Ujwar memilih jalan ini untuk menarik minat para remaja untuk tetap belajar dan tetap memiliki rasa ingin tahu dengan bantuan gawai. Adapun konten-konten yang disajikan akun @jadipenulismuda yaitu berupa diary penulis yang berisi tentang kesehariannya sebagai penulis dan content creator; konten tips menulis fiksi biasa berisikan jawaban yang diutarakan kak Ujwar pada setiap pertanyaan dari kolom komentar; konten penghasilan dari menulis yang memberikan motivasi kepada pengikutnya bahwa dengan menulis kita juga bisa mendapatkan pemasukan; konten jejak karya yang menampilkan karya-karya kak Ujwar selama menjadi penulis; Konten bahasa Indonesia yang memberitahukan para pengikut bagaimana cara penulisan yang baik yang sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) info literasi yang berisikan tentang dunia kepenulisan, tips rajin membaca serta informasi lomba menulis; sisi lain buat kamu merupakan sesi dimana kak Ujwar akan membagikan potongan kalimat dari buku yang telah dibacanya; dan yang terakhir ada konten rekomendasi buku dimana kak Ujwar akan memberikan rekomendasi buku apa yang bagus dibaca, serta kak Ujwar akan menyampaikan sedikit review dari buku yang direkomendasikan tersebut agar para pengikutnya memiliki rasa ketertarikan kepada buku tersebut. Untuk mensukseskan tujuannya dalam membantu peningkatan literasi masyarakat, kak Ujwar menjalin kerjasama dengan beberapa pihak yang berkaitan dengan konten-konten yang disajikannya. Beberapa instansi yang menjalin kerjasama dengan akun tiktok @jadipenulismuda diantaranya; Penerbit Haru, Penerbit Renebook, Penerbit Grasindo, Penerbit Elex Media, serta Penerbit Gradien Mediatama. Beberapa penerbit diatas akan memberikan bukunya untuk direview oleh kak ujwar, namun kak ujwar juga memiliki buku-buku yang dibeli dengan uang sendiri lalu kemudian direview olehnya. Kerjasama dengan beberapa penerbit terkenal ini pula memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak. Keuntungan kak Ujwar yaitu kontennya akan semakin banyak yang menonton karena buku yang direview merupakan terbitan dari penerbit yang terkenal yang sudah memiliki pasarnya sendiri. Sedangkan bagi penerbit, peminat buku terbitan mereka akan meningkat setelah direview oleh kak Ujwar. Tentu saja manfaat lainnya yang lebih penting adalah minat membaca masyarakat turut meningkat Gambar 2 Konten Tips Menulis Fiksi Sumber: Akun Tiktok @jadipenulismuda Gambar 3 Konten Info Literasi Sumber: Akun Tiktok @jadipenulismuda Dengan memanfaatkan aplikasi Tiktok, kak Ujwar selaku pemilik akun Tiktok @jadipenulismuda terus berupaya untuk menjadikan media sosial Tiktok menjadi lebih bermanfaat bagi masyarakat luas. Tiktok dapat dijadikan media penyampai informasi yang mengedukasi masyarakat, yang mana hal ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Irfan (2022) bahwa Aplikasi tiktok cukup berperan sebagai sumber informasi, karena penggunaan tiktok yang sudah menjadi bagian dari keseharian masyarakat, serta ada banyak informasi yang diperoleh dari Tiktok itu sendiri. Banyaknya konten tiktok serta dengan jenis yang beragam menjadikan tiktok dijadikan sebagai sumber informasi oleh masyarakat. Penyebaran informasi dapat dikatakan berhasil apabila penerima informasi merasa bahwa informasi yang didapatnya bermanfaat. Dalam hal ini Kak Ujwar berkomunikasi dengan pengikutnya, topik apa yang ingin dibahas, tidak jarang Kak Ujwar pula menerima masukan dari pengikutnya. Komunikasi yang terjalin tentunya akan memberikan ikatan antara content creator dengan pengikutnya, sehingga akan ada masa dimana seseorang memiliki pengikut setia. Tentu saja hal ini dikarenakan pengikut tersebut merasa sangat tertarik dengan informasi yang disajikan oleh akun @jadipenulismuda tersebut. Keterikatan ini sejalan dengan yang dikemukakan oleh Dewa & Safitri (2021) bahwa Tiktok sebagai sumber informasi dapat dijadikan penghubung antar produsen dan konsumen yang mana konsumen akan mendapatkan produk dari produsen melalui Tiktok sebagai penghubungnya. Hal ini dimaksudkan bahwa produsen tersebut adalah akun Tiktok @jadipenulismuda, konsumen adalah para pengikut dan produknya yaitu konten yang disajikan akun@jadipenulismuda. Gambar 4 Wawancara dengan Kak Ujwar pemilik akun @jadipenulismuda Sumber: Via Zoom Meeting Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan UINSU menjadikan akun @jadipenulismuda sebagai salah satu referensi sumber informasi karena informasi yang disampaikan adalah informasi-informasi baru dan penting. Konten yang disampaikan akun @jadipenulismuda cukup membantu mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU dalam pemenuhan informasi serta dalam kemampuan menulis. Pengikut akun @jadipenulismuda yang merupakan mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU menyatakan bahwa dari akun @jadipenulismuda akhirnya kemampuan menulisnya perlahan berkembang. Pemanfaatan aplikasi tiktok ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Bulele (2020) yang menyatakan bahwa tiktok tidak hanya bermanfaat sebagai media hiburan namun dapat pula sebagai sumber informasi dan kreatifitas. Atas dasar agar masyarakat mendapatkan banyak manfaat dari menggunakan aplikasi Tiktok maka akun @jadipenulismuda sangat bersemangat untuk membuat konten dan dibagikan ke masyarakat luas. Pada wawancara yang dilakukan, pemilik akun Tiktok @jadipenulismuda dalam kontennya menyajikan informasi untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya literasi. Konten literasi yang disajikan akun @jadipenulismuda juga menyajikan sesi info bahasa Indonesia, yang mana pada sesi ini fokus topiknya yaitu ada pada bagaimana cara penulisan yang baik sesuai ketentuan dalam bahasa Indonesia. Topik ini sangat bermanfaat bagi masyarakat, masyarakat tetap dapat belajar serta mendapatkan contoh langsung dengan penyajian yang menarik. Dengan menyajikan konten ini, maka akun @jadipenulismuda turut mengimplementasikan cita-cita Indonesia yang dimuat dalam UUD 1945 yaitu “Mencerdaskan kehidupan bangsa”. Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Arti, 2020) yang menyatakan bahwa di era teknologi ini dibutuhkan keterampilan komunikasi dan kolaboratif, keterampilan berfikir kreatif dan inovatif, keterampilan berfikir kritis dan pemecahan masalah, serta literasi digital. Akun @jadipenulismuda telah mengimplementasikan hal tersebut dan dikemas dalam konten-kontennya yang edukatif Berdasarkan dengan informasi yang diperoleh pada saat wawancara diperoleh hasil bahwa apa yang dilakukan akun @jadipenulismuda dalam mengelola informasi menjadi informasi baru sejalan dengan teori kemas ulang informasi. Teori kemas ulang informasi merupakan pengemasan yang tidak hanya terbatas pada informasi namun juga pada bentuk dokumentasi (Fatmawati, 2009). Dalam teori kemas ulang informasi ini, hal yang dilalui ada pada tahap sebelum kegiatan serta pada saat pengemasan. Tahap sebelum kegiatan pada akun Tiktok @jadipenulismuda yaitu informasi awal sebelum dijadikan konten. Tahap ini berarti referensi serta bahan bacaan dalam bentuk cetak ataupun perkataan tidak terekam yang akan digunakan oleh pemilik akun @jadipenulismuda. Tahap pengemasan adalah tahap dimana pemilik akun @jadipenulismuda mengubah referensi yang telah didapat tadi kedalam sebuah konten berupa video ataupun foto yang dikemas dan disajikan dengan menarik. Kemas ulang informasi yang dilakukan akun @jadipenulismuda dapat menjadi salah satu contoh penerapan teori kemas ulang informasi secara nyata. Hal ini pula menjadi salah satu alasan mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU untuk mengikuti akun @jadipenulismuda beserta konten-kontennya yang memberikan wawasan. Akun tiktok @jadipenulismuda cukup berperan penting sebagai sumber informasi mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU. Hal ini menjadikan masyarakat khususnya mahasiswa Ilmu Perpustakaan turut belajar akan pentingnya penggunaan teknologi informasi sesuai tempatnya. Serta dengan adanya akun tiktok @jadipenulismuda turut membantu masyarakat hidup berdampingan dengan literasi digital yang sedang digalakkan dimasyarakat. Dengan tersedianya fasilitas teknologi informasi yang dapat diakses secara bebas, diharapkan mahasiswa Ilmu Perpustakaan UINSU terlebih kepada masyarakat umum agar menggunakan fasilitas tersebut dengan sebaik mungkin. Sosial media dapat digunakan sebagai media hiburan tentunya, namun tidak ketinggalan pula fungsinya sebagai media edukasi. Dengan pemanfatan serta penggunaannya yang sesuai tentulah akan tercipta masyarakat yang informatif, cerdas dan kreatif.

Conclusion

Era teknologi informasi yang menjadikan masyarakat memiliki keterikatan dengan gawai menjadikan masyarakat harus pintar dalam mengelola segala informasi yang diperolehnya. Media sosial merupakan satu dari produk teknologi informasi yang sangat erat dengan masyarakat. Demi pemenuhan informasi yang kredibel dan dapat dipercaya maka masyarakat diharuskan untuk menggunakan media sosial dengan sebaik mungkin. Ada banyak hal yang dapat dimanfaatkan dari adanya media sosial. Media sosial tidak hanya dapat dijadikan media hiburan semata, namun dapat pula dijadikan media pembelajaran yang bermanfaat dan tentunya berdaya guna bagi masyarakat. Keberadaan akun Tiktok @jadipenulismuda yang menyajikan berbagai konten sumber informasi terkait literasi turut membantu dalam meningkatkan tingkat literasi di masyarakat. Dengan memanfaatkan keahlian dan kemampuannya, pemilik akun Tiktok @jadipenulismuda menyajikan berbagai konten dengan kreatif yang meningkatkan rasa ingin tahu masyarakat. Informasi yang dikemas secara menarik ini pula tidak lepas dari strategi pemilik akun @jadipenulismuda agar informasi yang dibagikannya menarik minat banyak orang. Hal ini pula yang mendasari akun @jadipenulismuda memakai teori kemas ulang informasi pada setiap konten yang dimilikinya. Dengan cara mengemas informasi yang sudah ada menjadi informasi baru secara kreatif maka masyarakat akan merasa informasi yang dibagikan lebih menarik. Konten yang dimiliki akun @jadipenulismuda mendapat respon yang positif terlebih masyarakat yang merasa mendapatkan dampak yang cukup baik dari konten yang disajikan. Dengan respon tersebut pemilik akun @jadipenulismuda merasa bangga karena turut memberikan perubahan yang berarti kepada anak-anak penerus bangsa.