Kembali
16
1
2025 Informatio: Journal of Library and Information Science Vol 5 · 1 ISSN 2775-0043

Penelitian pengembangan koleksi perpustakaan pada database Google Scholar: Narrative literature review

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Pengembangan koleksi perpustakaan penting dilakukan agar koleksi yang disediakan sesuai dengan kebutuhan informasi pengguna. Pustakawan perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam melaksanakan kegiatan pengembangan koleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tren penelitian pengembangan koleksi perpustakaan di Asia melalui kajian narrative literature review dengan menganalisis 12 rujukan relevan dari Google Scholar. Fokus analisis meliputi manajemen perpustakaan dan evaluasi kebijakan pengembangan koleksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan koleksi di perpustakaan Asia bervariasi, dipengaruhi oleh kebutuhan pengguna, budaya, dan tingkat teknologi informasi. Korea Selatan fokus pada digitalisasi koleksi, Pakistan mengutamakan kebutuhan akademik, Indonesia menghadapi tantangan anggaran, India memprioritaskan literasi digital, dan negara-negara di Asia Timur mengintegrasikan jaringan internasional. Tahapan pengembangan koleksi meliputi analisis kebutuhan pengguna, penetapan kebijakan seleksi, pemilihan koleksi, pengadaan materi, penyiangan, dan evaluasi. Kebijakan pengembangan koleksi menekankan pada penyediaan koleksi relevan dalam format digital dan cetak serta evaluasi berkala untuk menjaga kualitas. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan koleksi perpustakaan di Asia merupakan upaya strategis dalam menghadapi dinamika kebutuhan informasi dan meningkatkan literasi masyarakat.

Abstract

Collection development in libraries is crucial to ensure that library resources meet user information needs. Librarians must adapt to advancements in information and communication technology in carrying out collection development activities. This study aims to identify research trends in library collection development in Asia through a narrative literature review, analyzing 12 relevant references from Google Scholar. The analysis focuses on library management and the evaluation of collection development policies. The findings reveal that collection development in Asian libraries varies based on user needs, culture, and the level of information technology. South Korea emphasizes collection digitization, Pakistan prioritizes academic needs, Indonesia faces budget constraints, India focuses on digital literacy, and East Asian countries integrate international networks. Collection development stages include user needs analysis, selection policy establishment, collection selection, material acquisition, weeding, and evaluation. Collection development policies emphasize providing relevant resources in digital and print formats, along with periodic evaluations to maintain quality. This study concludes that library collection development in Asia is a strategic effort to address the dynamics of information needs and enhance community literacy.
Keywords: Pengembangan koleksi · narrative literature review · kebijakan perpustakaan · perpustakaan negara asia

Introduction

Sejak awal perpustakaan didirikan dan dioperasikan dengan tujuan untuk mengumpulkan dan melestarikan berbagai bahan pustaka dan menyediakan layanan membaca dan peminjaman, serta menyediakan kegiatan promosi membaca, program budaya dan pembelajaran. Perpustakaan juga berfungsi sebagai layanan untuk menjangkau pusat komunitas, dan menjadi ruang budaya dan pembelajaran yang kompleks bagi masyarakat. Oleh karena itu, perpustakaan harus menyediakan koleksi yang sesuai kebutuhan pengguna. Salah satunya melalui kegiatan pengembangan koleksi sesuai tuntutan zaman. Informasi semakin berkembang dan memengaruhi pengguna untuk mencari dan menggunakan informasi yang tepat. Perpustakaan melalui peran pustakawan harus beradaptasi dalam menyediakan dan melayankan informasi kepada pengguna. Perpustakan yang memiliki koleksi buruk, akan mengakibatkan layanan inti peminjaman dan pengembalian koleksi rendah. Maka pustakawan secara kreatif melakukan pengembangan koleksi yang benar-benar sesuai kebutuhan pemustaka. Apabila kegiatan pengembangan koleksi terabaikan, fasilitas dan ruangan perpustakaan hanya menjadi tempat ruang membaca saja tanpa pengembangan lebih lanjut dari koleksi yang ada. Pengembangan koleksi harus dilakukan dengan penataan ruang yang kreatif dan program humaniora yang mendukung. Hal ini sesuai pernyataan Evans dan Saponaro (2017) yang menyatakan bahwa program pengembangan koleksi yang bersifat kooperatif memungkinkan perpustakaan menyediakan layanan yang lebih baik, jangkauan materi yang lebih luas, atau gabungan keduanya. Pustakawan yang melakukan kegiatan pengembangan koleksi dengan tepat, akan memudahkan tersampaikannya program-program yang dibuat di perpustakaan. Pengembangan koleksi adalah kegiatan secara umum yang dilakukan perpustakaan dalam pengelolaan koleksi perpustakaan (Evans & Saponaro, 2017). Pengembangan koleksi dilakukan pustakawan di semua jenis perpustakaan. Perpustakaan yang berkembang adalah melayankan koleksi yang tepat bagi penggunanya. Koleksi yang tepat diperoleh melalui proses pengembangan koleksi. Khan dan Bhatti (2021) menyatakan bahwa pengembangan koleksi menjadi elemen yang esensial di perpustakaan dan mempengaruhi siklus hidup informasi. Hal ini memperlihatkan bahwa pengembangan koleksi menjadi penentu keberlangsungan sebuah perpustakaan dan menaungi kegiatan dasar perpustakaan lainnya. Berdasarkan hal ini, penelitian pengembangan koleksi di perpustakaan penting dilakukan. Ada beberapa penelitian terdahulu yang meneliti tentang pengembangakan koleksi di perpustakaan. Pertama penelitian Daulay dan Rohayanti (2022) mengenai kebijakan pengembangan koleksi di Perpustakaan Nasional Korea. Masyarakat di Korea memiliki minat baca yang tinggi. Hal ini dikarenakan Pemerintah Korea melalui Perpustakaan Nasionalnya memiliki kebijakan pengembangan koleksi yang terlihat dari visi misi, tujuan, sasaran, pengguna perpustakaan, penanggung jawab pengembangan koleksi, metode pemilihan koleksi, anggaran perpustakaan, kriteria seleksi bahan pustaka, pelestarian koleksi, pengelolaan koleksi, dan penyiangan koleksi. Penelitian kedua, Cahyani dan Perdana (2022) mengenai penelitian pengembangan koleksi di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Sumenep pada masa pandemi. Pada tahap analisis masyarakat, perpustakaan menggunakan analisis secara online dengan penyebaran link kuesioner dan angket melalui akun Instagram dan website. Pada tahap kebijakan pengembangan koleksi belum dirumuskan secara formal dan resmi. Pustakawan dalam tahap seleksi koleksi melakukan penyeleksian dengan menyeimbangkan kualitas dan minat buku masyarakat. Pada tahap pengadaan bahan pustaka belum memiliki penganggaran khusus dikarenakan pandemi dan perpustakaan memanfaatkan koleksi digital. Pada tahap penyiangan dilakukan secara teratur saat pandemi. Adapun tahap evaluasi, pustakawan belum melakukan evaluasi rutin dari kegiatan pengembangan koleksi yang dilakukan. Penelitian ketiga, Luthfiyah (2023) mengenai literature review tentang pengembangan koleksi perpustakaan. Penelitian ini membandingkan 2 penelitian yang meneliti tentang pengembangan koleksi di perpustakaan. Berdasarkan literature review yang dianalisis, dua penelitian yang dianalisis memiliki pengembangan koleksi yang berbeda. Penelitian pertama mengenai pengembangan koleksi di perpustakaan akademik, sedangkan penelitian kedua pengembangan koleksi setelah adanya efek Google Books. Poin yang dibahas adalah ada dua cara pengembangan koleksi yang dilakukan dari 2 lembaga ini, melalui pendekatan tatap muka dan online. Hal ini memengaruhi kebijakan sampai evaluasi dalam pengembangan koleksi. Namun, kedua penelitian ini menitikberatkan bahwa analisis pengguna tetap dilakukan sesuai kebutuhan pengguna sekarang atau minat pasar. Ketiga penelitian terdahulu di atas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang penulis teliti. Ketiga penelitian terdahulu sama-sama meneliti mengenai topik pengembangan koleksi. Dua penelitian terdahulu sama-sama meneliti menggunakan metode penelitian kualitatif, sedang satu penelitian melalui literature review. Penelitian literature review sama dengan penelitian yang peneliti teliti. Adapun perbedaannya terlihat dari subjek penelitian, metode penelitian, dan hasil penelitian. Ketiga penelitian terdahulu memiliki subjek penelitian yang berbeda, penelitian Daulay dan Rohayanti (2022) mengenai pengembangan koleksi di Perpustakaan Nasional Korea, penelitian Cahyani dan Perdana (2022) meneliti pengembangan koleksi di Perpustakaan Umum Daerah Kabupaten Sumenep, dan penelitian Luthfiyah (2023) mengenai literature review dari dua penelitian. Penelitian yang peneliti teliti yakni mengenai literature review pada penelitian yang dilakukan di negara-negara Asia. Dua penelitian terdahulu menggunakan metode penelitian kualitatif, sedangkan satu penelitian menggunakan literature review. Penelitian ini hampir sama dengan penelitian terdahulu ketiga menggunakan literature review. Adapun perbedaan dalam hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pengembangan koleksi yang dilakukan di setiap lembaga berbeda dan disesuaikan kembali dengan kebijakan perpustakaan dan pengguna perpustakaannya. Berdasarkan penelitian terdahulu, penulis ingin mengeksplorasi topik tentang pengembangan koleksi perpustakaan di negara-negara Asia sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan informasi di perpustakaan. Penelitian ini akan mencakup berbagai jenis perpustakaan agar dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai tahapan-tahapan pengembangan koleksi di beberapa perpustakaan. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penelitian pengembangan koleksi perpustakaan melalui database Google Scholar di negara-negara Asia melalui narrative literature review, dengan menganalisis manajemen perpustakaan dan evaluasi kebijakan pengembangan koleksi.

Method

Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review. Machi dan McEvoy (2022) mengungkapkan bahwa narrative literature review meninjau literatur yang relevan pada topik penelitian dengan menyajikan kasus logic untuk menggambarkan apa yang saat ini diketahui mengenai subjek penelitian. Metode Narrative literature review juga dapat diterapkan dalam penelitian yang menginvestigasi berbagai metode penelitian dan topik yang berbeda. Penulis dalam penelitian ini analisis hasil penelitian dikumpulkan dan disimpulkan secara terperinci. Byrne (2016) menyatakan bahwa narrative literature review dapat berfokus pada satu sumber referensi yang mengandung beragam data untuk dianalisis, dengan tujuan memperluas perkembangan pengetahuan dan konsep yang terkait. Proses penelitian ini dilakukan sesuai tahapan narrative literature review dari Machi dan McEvoy (2022) antara lain research interest, research topic, literature review, dan research thesis. Pengembanga koleksi menjadi minat penelitian yang diteliti karena pengembangan koleksi menjadi kegiatan utama keberlangsungan sebuah perpustakaan. Setelah itu, penulis menentukan topik yang akan dikembangkan lebih lanjut ke dalam manajemen perpustakaan dan evaluasi kebijakan pengembangan koleksi. Selanjutnya, peneliti mencari literatur yang berkaitan dengan topik dan sub topik yang dibahas pada database Google Scholar. Penulis menggunakan kata kunci, “Pengembangan Koleksi (Collection Development)”, dan “Perpustakaan di Negara Asia (Asian Libraries)”. Penulis mencari literatur pada tahun 2016 sampai tahun 2023 dan mendapatkan 12 literatur. Tabel 1. Data jurnal yang dianalisisNo Judul1. Khan, G., & Bhatti, R. (2016). “An analysis of collection development in the university librariesof Pakistan”.Collection Building,35(1).2. Daulay, N. S., & Rohayanti, S. (2022). “Kebijakan Pengembangan Koleksi Perpustakaan NasionalKorea”.Bibliotech: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi,6(1).3. Kismiyati, T. (2020). “Repositori data nasional: tantangan baru pengembangan koleksiperpustakaan”.Media Pustakawan,27(3).4. Chen, X. (2017). “Managing changes in collection development”.Journal of East Asian Libraries,10(7).5. Kaur, M., & Walia, P. K. (2016). “Collection development of electronic resources in managementlibraries of India”.Collection Building, 35(3). No Judul6. Winoto, Y. (2017). “Model Jaringan Kerjasama Antar Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam DiWilayah Provinsi Jawa Barat”.Commed: Jurnal Komunikasi dan Media,2(1).7. Yoon, H. Y., Kim, J., & Oh, S. K. (2020). “Analysis and implication of the collection developmentpolicy of public libraries in major cities”.Journal of the Korean Society for informationManagement,37(3).8. Himawan, D., & Kania, W. (2021). “Potret pelaksanaan pengembangan koleksi di perpustakaanIPB University”.Jurnal Pustakawan Indonesia,20(2).9. Wijayanti, A. Y. (2022). “Studi Kebijakan Seleksi Koleksi Di Perpustakaan UniversitasTarumanagara”.Jurnal Adabiya,24(1).10. Tuginem, H. N. (2023). “Penelitian strategi pengembangan koleksi di perpustakaan pada googlescholar: sebuah narrative literature review”.Jurnal Pustaka Budaya, 10(1).11. Suyasa, I. M., & Sedana, I. N. (2020). “Mempertahankan Eksistensi Media Cetak Di TengahGempuran Media Online”.Jurnal Komunikasi Dan Budaya,1(1).12. Achmad, Q. N. (2021). “Kebijakan pengembang koleksi perpustakaan: formulasi,implementasi hingga evaluasi”.Shaut Al-Maktabah: Jurnal Perpustakaan, Arsip danDokumentasi,13(2).Sumber: Google Scholar, 2022Berdasarkan 12 literatur pada tabel 1, penulis memilah, memilih, dan menganalisisliteraturnya. Setiap rujukan memiliki hasil penelitian yang berbeda dan hal inimemperlihatkan keberagaman pengembangan koleksi dari setiap perpustakaan.Pengembangan koleksi di Perpustakaan di Negara Asia menjadi pijak kuat dalampengembangan penelitian di topik pengembangan koleksi berikutnya.

Result & Discussion

Peran perpustakaan salah satunya sumber informasi dimana memberikan informasi kepada pemustaka, baik atas permintaan pemustaka atau bahkan tanpa permintaan. Perpustakaan sering digunakan untuk mendapatkan informasi yang relevan dengan kebutuhan sehari-hari pengguna ataupun informasi umum lainnya. Perpustakaan berbasis website adalah penerapan teknologi informasi yang bertujuan untuk meningkatkan pemanfaatan informasi dan bahan perpustakaan, serta memaksimalkan tugas kepustakawanan, mulai dari proses pengadaan, pengolahan, sirkulasi bahan pustaka, pencarian kembali, hingga penyebaran informasi (Purnamayanti & Oktaria, 2022). Pengembangan koleksi adalah proses utama untuk perpustakaan dan pusat lembaga informasi. Pengembangan koleksi memiliki enam komponen utama, yaitu analisis masyarakat, kebijakan seleksi, pengadaan, penyiangan dan evaluasi. Dari segi aspek fungsional, berbagai peneliti menggambarkan proses pengembangan koleksi secara berbeda cara, tergantung pada lingkungan perpustakaan mereka sendiri (Khan & Bhatti, 2021). Tujuan kebijakan Perpustakaan Nasional Korea adalah memperkuat statusnya sebagai perpustakaan pada lingkup nasional, meningkatkan pengetahuan akses informasi dengan menggunakan teknologi yang ada dan menyediakan layanan perpustakaan yang aktif dan ramah. Perpustakaan Nasional Korea sebagai lembaga yang memiliki prioritas utama dalam mencari dan melestarikan pengetahuan nasional dan memiliki komitmen mengembangkan informasi dan pengetahuan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Pemerintah Korea ingin membangkitkan kembali minat masyarakat dalam kehidupan sehari-hari, melindungi fungsi perpustakaan dan hak pengguna, serta memastikan hak yang sama dalam akses dan penggunaan koleksi nasional. Tujuannya adalah untuk memberikan akses yang sama kepada warga negara dan semua pengguna, tanpa memandang ras, ideologi, agama, jenis kelamin, usia, pekerjaan, atau golongan lainnya, dengan menerapkan prinsip kesetaraan yang adil dalam penyediaan berbagai materi dan layanan. Kebijakan pengembangan koleksi di perpustakaan umum yang diterapkan di Korea memiliki kebijakan dalam pengumpulan, layanan data, dan penyediaan pelestarian dan layanan koleksi yang efektif. Kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan dilakukan secara representative dengan menetapkan rencana induk komposisi koleksi serta tinjauan umum dalam membangun data lokal (Daulay & Rohayanti, 2022). Koleksi Perpustakaan Nasional Korea dimutakhirkan dan dikelola sesuai pedoman pengembangan koleksi yang mencakup pengakuan terhadap perubahan zaman, pengumpulan data yang konvergen, kekokohan dalam komposisi sistem, praktis, dan kebutuhan masa depan. Pengembangan koleksi di Perpustakaan Nasional Korea bertujuan secara sistematis dan berkelanjutan dalam mengembangkan koleksi di tingkat nasional, memenuhi tanggung jawab terhadap preservasi koleksi nasional dengan cara yang aman dan ilmiah. Hal ini mencakup perpustakaan nasional untuk anak-anak serta remaja, perpustakaan nasional untuk penyandang disabilitas, serta adanya Perpustakaan Nasional Sejong. Tujuan pengembangan koleksi ini adalah untuk menyediakan berbagai topik dan bahasa guna memenuhi kebutuhan pengguna dari berbagai latar belakang (Daulay & Rohayanti, 2022). Beberapa faktor mempengaruhi kegiatan pengembangan dan pengelolaan koleksi di perpustakaan perguruan tinggi di Pakistan. Faktor-faktor tersebut mencakup komunitas pengguna, kebutuhan pengguna, rencana pengembangan koleksi, tujuan dan sasaran pengembangan koleksi, prosedur seleksi, format materi, manajemen akuisisi, hadiah dan donasi, manajemen keuangan, akses pengelolaan, pemasaran koleksi, evaluasi koleksi, penyiangan koleksi, pengawetan dan konservasi koleksi, pengembangan koleksi secara kooperatif, serta berbagai sumber daya yang tersedia (Khan & Bhatti, 2021). Perpustakaan di Pakistan memainkan peran penting dalam penyediaan akses informasi dan meningkatkan literasi di negara tersebut. Perpustakaan nasional dan perpustakaan akademik di Pakistan menyediakan beragam koleksi buku, jurnal, dan sumber informasi lainnya. Selain itu, perpustakaan sekolah juga memainkan peran kunci dalam meningkatkan minat baca dan pendidikan di kalangan pelajar. Dukungan pemerintah dan adanya kerjasama antar perpustakaan menjadi faktor penting dalam pengembangan koleksi dan pelayanan perpustakaan di Pakistan. Perpustakaan meskipun memiliki tantangan dalam hal pembiayaan dan aksesibilitas, perpustakaan terus berupaya untuk memberikan akses informasi yang merata kepada masyarakat. Salah satunya adalah pengelolaan data di perpustakaan. Data sebagai koleksi perpustakaan yang memberikan nilai tambah. Dalam hierarki informasi, data, informasi, dan pengetahuan adalah sumber yang membentuk kebijaksanaan. Meskipun data bukanlah konsep yang baru dalam dunia perpustakaan, data dalam era perpustakaan digital memiliki peran penting. Sebelum era perpustakaan digital, data statis telah ada dalam berbagai bentuk koleksi referensi seperti almanak, buku tahunan, dan buku fakta yang disajikan kepada pengunjung perpustakaan. Namun, koleksi referensi perlu mengikuti perkembangan zaman, termasuk dalam format data. Data perlu hadir dalam bentuk digital yang memungkinkan akses lebih mudah bagi secara masyarakat luas. Selain itu, perkembangan era akses terbuka (Open Access) telah mengubah lanskap penerbitan, di mana perpustakaan sekarang membuka repositori koleksi yang berisi hasil penelitian dan publikasi. Selaras dengan itu, konsep open data juga telah menjadi semakin penting, di mana berbagai lembaga menyimpan dan membagikan data hasil penelitian, survei, dan pencatatan perpustakaan. Yang menarik adalah adanya ketersediaan live data, yaitu data yang terus berkembang secara online tanpa menunggu waktu tertentu secara berkala (Kismiyati, 2020). Perpustakaan akademik tetap menjunjung tinggi misi fundamental untuk memberikan layanan informasi terbaik untuk pengajaran, pembelajaran, dan penelitian. Perpustakaan akademik mengalami perubahan dalam banyak aspek dan menantang para profesional perpustakaan untuk mengatasi isu baru yang muncul. Perubahan dalam perpustakaan merupakan proses pembaharuan organisasi secara terus-menerus yang terarah, struktur, dan kemampuan dalam melayani kebutuhan eksternal dan eksternal yang selalu berubah. Koleksi manajemen, komponen inti dan dasar layanan informasi perpustakaan merupakan tantangan dan isu baru yang timbul. Mengelola perubahan berarti bekerja dengan masalah perubahan teknologi, material dan orang untuk mengatur strategi, struktur, dan solusi untuk mengatasi perubahan. Pustakawan sebagai manajer perpustakaan dapat mengidentifikasi masalah baru dan mencarikan solusi secara strategis dan menangani aktivitas dan layanan koleksi perpustakaan. Secara umum, perpustakaan mengalami perubahan dalam manajemen koleksi, struktur koleksi, akses koleksi, dan kegiatan akuisisi. Dengan demikian, masalah baru muncul terkait perubahan ini, seperti sifat koleksi, tekno-stres di antara pustakawan dan pengguna koleksi, tugas yang kompleks dan beban kerja yang bertambah, dan kendala anggaran dalam kegiatan akuisisi. Masalah ini menantang pengelolaan yang baik dalam kegiatan pengumpulan. Untuk menghadapi tantangan dan mencapai pengembangan koleksi yang efektif, maka diperlukan penerapan strategi yang efektif untuk mengelola perubahan, seperti mengembangkan metode pengelolaan yang efektif, pengadaan program pelatihan yang sesuai, pelibatan kolaborasi dan komunikasi yang efektif. Pengelolaan perubahan dalam konteks pengembangan koleksi berarti, pengelolaan perubahan dalam bidang teknologi, anggaran, material, pemustaka, distributor atau penjual buku, mitra kolaboratif, anggota tim, dan pengguna koleksi (Chen, 2017). Teknologi baru telah mengubah metode penerbitan tradisional dan ilmiah komunikasi. Akibatnya, koleksi perpustakaan berubah dari fisik tradisional koleksi cetak menjadi koleksi digital hybrid. Sumber daya internet pun menghadirkan beberapa tantangan dari adanya perubahan cepat dalam sumber daya website dan kurangnya kontrol bibliografi. Pustakawan perlu memiliki pilihan yang tepat mengenai apa yang menjadi karakteristik utama untuk objek informasi, cetak atau digital atau keduanya. Sumber daya elektronik mudah dan cepat diakses, namun pada saat yang sama sumber elektronik harus memiliki kompatibilitas perangkat keras dan perangkat lunak, stabilitas sumber daya dan layanan web, dan instruksi pengguna dalam akses elektronik. Pengenalan sumber daya digital di perpustakaan menghasilkan konflik antara format lama dan baru sehingga perpustakaan harus menyiapkan koleksi e-resource sebagai media dan mengatur kebijakan pengembangan untuk panduan seluruh sumber daya elektronik proses pengembangan koleksi. Pengelolaan perpustakaan diperlukan untuk meningkatkan koleksi sumber daya elektronik. Pemilihan sumber daya elektronik di perpustakaan pun harus dilakukan dengan memperhatikan berbagai spesialisasi bidang seperti manajemen keuangan, manajemen pemasaran, manajemen sumber daya manusia, ekonomi manajerial, perilaku organisasi, internasional perdagangan, dan lainnya (Kaur & Walia, 2016). Media berperan sebagai alat atau sarana untuk menghubungkan komunikasi antara individu satu dengan individu lainnya. Melalui media, terjadi proses komunikasi di mana pesan disampaikan dari satu orang ke orang lainnya. Media massa, juga dikenal sebagai media jurnalistik, menjadi alat bantu utama dalam proses komunikasi massa (Suyasa & Sedana, 2020). Situasi ini semakin diperburuk oleh kenaikan harga kertas yang tinggi, yang merupakan akibat dari depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Dampak ini menyebabkan biaya produksi koran dan majalah meningkat. Sebelumnya, banyak media cetak telah menurunkan harga jual di bawah biaya produksi dan distribusi guna mempertahankan jumlah pembaca mereka. Kebijakan pengembangan koleksi di Korea memiliki karakteristik dan pendekatan yang berbeda di setiap perpustakaan. Perpustakaan Chungnam tidak memiliki dokumen kebijakan pengembangan koleksi yang formal. Namun terdapat pedoman yang telah diterapkan sebagai rencana kerja sejak 2018 yaitu Panduan Pengembangan Koleksi Perpustakaan Chungnam. Panduan ini terdiri atas sembilan bab, meliputi gambaran umum, tujuan dan kebutuhan, status target, standar dan tujuan pengembangan koleksi, pengelolaan data, komposisi koleksi, evaluasi koleksi, pembuangan koleksi, serta siklus pembaruan koleksi. Selain itu, Perpustakaan Chungnam memiliki fokus khusus pada pengumpulan data terkait studi dan publikasi yang relevan dengan provinsi Chungnam. Data ini menjadi prioritas untuk mendukung pelestarian budaya dan sejarah lokal. Pengelolaan koleksi berbasis kebijakan ini bertujuan untuk memastikan bahwa koleksi perpustakaan tetap relevan, komprehensif, dan mampu memenuhi kebutuhan informasi masyarakat di wilayah Chungnam dan sekitarnya. Sementara itu, Perpustakaan Mudeung yang mewakili Perpustakaan Kota Gwangju telah menetapkan kebijakan pengembangan koleksi yang lebih terstruktur pada tahun 2019 melalui dokumen resmi yaitu “Panduan Pengembangan Koleksi Perpustakaan Kota Mudeung”. Kebijakan ini mengatur aspek seperti rasio komposisi material, kriteria seleksi berdasarkan jenis bahan dan subjek, serta pengelolaan bahan khusus. Salah satu poin penting dari kebijakan ini adalah pengumpulan data yang mencakup berbagai media informasi, terutama data yang diterbitkan oleh pemerintah daerah dan administrasi lokal. Tujuan pedoman adalah keseimbangan komposisi koleksi, kebijakan konsistensi, efisiensi pelaksanaan anggaran, penyusunan berbagai standar, karakterisasi data, peran kebijakan dasar, dan lainnya. Kegiatan seleksi koleksi berisikan tujuan, waktu, umum dan kriteria koleksi berdasarkan subjek (humaniora dan ilmu sosial, ilmu terapan, surat kabar/majalah, bahan referensi, bahan bukan buku, bahan lain), ruang pemrosesan hukum (penjualan, donasi, pertukaran, penjualan) diatur. Pedoman Chungcheongnam-do menetapkan siklus pembaharuan selama 5 tahun, di sisi lain Kota Gwangju tidak menentukan (Yoon, Kim, & Oh, 2020). Perpustakaan di Korea telah mengalami perkembangan yang signifikan dan memiliki peran yang penting dalam memfasilitasi akses informasi dan meningkatkan minat baca di negara ini. Berbagai inisiatif telah diambil untuk mengembangkan koleksi perpustakaan dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu aspek penting dalam pengembangan perpustakaan di Korea adalah penggunaan teknologi informasi. Perpustakaan di Korea telah mengadopsi teknologi digital dalam mengelola koleksi dan menyediakan akses elektronik ke berbagai sumber informasi. Buku elektronik, jurnal online, dan basis data digital telah menjadi bagian integral dari koleksi perpustakaan, sehingga pengguna dapat dengan mudah mengakses informasi melalui komputer atau perangkat seluler. Perpustakaan di Korea juga menawarkan berbagai program dan layanan inovatif untuk meningkatkan minat baca dan pembelajaran. Mereka mengadakan berbagai kegiatan seperti lokakarya, diskusi buku, dan pertunjukan seni untuk melibatkan masyarakat dan mempromosikan minat baca. Program ini bertujuan untuk meningkatkan literasi informasi dan keterampilan penelitian masyarakat. Kerjasama antara perpustakaan juga menjadi fokus dalam pengembangan perpustakaan di Korea. Perpustakaan nasional, perpustakaan universitas, dan perpustakaan lokal bekerja sama dalam berbagi koleksi dan sumber daya informasi. Hal ini memungkinkan pengguna perpustakaan untuk mengakses koleksi yang lebih luas dan mendapatkan layanan yang lebih baik. Pemerintah Korea juga memberikan dukungan yang kuat dalam pengembangan perpustakaan. Mereka mengalokasikan anggaran untuk perpustakaan dan mendorong pembangunan perpustakaan modern dengan fasilitas yang lengkap. Pemerintah juga mendorong inisiatif untuk memperluas jangkauan perpustakaan ke daerah pedesaan dan menyediakan layanan perpustakaan yang inklusif bagi semua lapisan masyarakat. Meskipun telah mencapai banyak kemajuan, perpustakaan di Korea masih menghadapi beberapa tantangan, seperti meningkatnya permintaan informasi digital, peningkatan variasi kebutuhan pengguna, dan perubahan tren dalam pembelajaran dan riset. Oleh karena itu, perpustakaan terus berupaya untuk beradaptasi dengan perubahan ini dan mengembangkan strategi yang inovatif dalam pengelolaan koleksi dan pemberian layanan. Secara keseluruhan, perpustakaan di Korea berperan penting dalam memfasilitasi akses informasi, meningkatkan minat baca, dan mendorong pembelajaran masyarakat. Perpustakaan di Korea melalui pengembangan koleksi yang beragam, penerapan teknologi informasi, dan kerjasama antara perpustakaan menjadi sumber informasi yang penting dan relevan bagi masyarakat. Setiap perpustakaan memiliki strategi pengembangan koleksi yang berbeda-beda, tergantung pada jenis perpustakaan yang dikembangkan. Setiap jenis perpustakaan memiliki karakteristik dan fokus koleksi yang unik. Jenis-jenis perpustakaan yang disinggung mencakup perpustakaan nasional, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah atau madrasah, perpustakaan perguruan tinggi, dan perpustakaan khusus. Setiap perpustakaan harus memperhatikan kebutuhan pemustakanya. Oleh karena itu, pengembangan koleksi diperlukan strategi yang kuat agar dapat menyediakan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Dengan adanya strategi yang tepat, perpustakaan dapat mengembangkan koleksi yang relevan dengan kondisi masyarakat sekitar (Tuginem, 2023). Salah satu dari perpustakaan yang harus melakukan strategi kuat dalam pengembangan koleksi adalah perpustakaan sekolah. Perpustakaan sekolah dikatakan sebagai pusat pengetahuan diperlukan adanya pengembangan koleksi sehingga mampu untuk menyediakan berbagai koleksi yang beragam serta sesuai dengan kebutuhan pemustakanya. Strategi pengembangan koleksi di perpustakaan sekolah dapat melibatkan kerjasama antara siswa, guru, dan staf perpustakaan. Perpustakaan melalui kerjasama dapat lebih memahami kebutuhan informasi yang diperlukan dalam proses pembelajaran dan memastikan bahwa koleksi yang disediakan relevan dengan kebutuhan tersebut. Selain kerjasama di dalam sekolah, perpustakaan juga dapat menjalin kerjasama dengan lembaga informasi lain. Kerjasama ini dapat dilakukan dengan dua pihak atau lebih yang memiliki tujuan saling menguntungkan. Lembaga informasi di luar sekolah memiliki peran cukup penting dalam mendukung pengembangan perpustakaan dengan menyediakan berbagai jenis koleksi. Strategi lain yang dapat dilakukan dalam pengembangan koleksi meliputi pertukaran data atau bibliografi, hibah, dan tukar-menukar. Hal ini melibatkan kerjasama dengan pihak lain di luar perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam mengakses koleksi yang lebih beragam dan lengkap. Dengan demikian, kerjasama antar perpustakaan memiliki manfaat dan keuntungan dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna, meningkatkan ketersediaan koleksi, memperluas jangkauan layanan, dan mengoptimalkan penggunaan sumber daya yang ada. Salah satu bentuk kerjasama dalam konteks kerjasama antar perpustakaan adalah kerjasama dalam pengadaan koleksi. Perpustakaan dalam bentuk kerjasama dapat berkolaborasi untuk mengumpulkan bahan pustaka. Hal ini merupakan langkah awal dalam bentuk kerjasama. Setiap perpustakaan melalui kerjasama memiliki tanggung jawab atas setiap kebutuhan informasi pengguna. Maka, perpustakaan akan memilih bahan pustaka berdasarkan permintaan pengguna atau berdasarkan pengetahuan pustakawan atas keperluan bacaan pemustakanya (Winoto, 2017). Proses pengadaan atau akuisisi melibatkan semua langkah yang diperlukan untuk mendapatkan bahan perpustakaan, baik melalui pembelian, sumbangan, pertukaran, maupun penerbitan sendiri. Pelaksanaan pengadaan bahan perpustakaan melibatkan beberapa tahap, termasuk proses pembelian, penerimaan, dan inventarisasi kepemilikan. Berikut adalah prosedur pengadaan yang dapat diikuti antara lain, a) Penerimaan bahan perpustakaan yang dibeli harus disesuaikan dengan daftar usulan pembelian. Jika ada masalah terkait penerimaan bahan perpustakaan, klaim harus dilakukan, b) Penerimaan karya ilmiah, baik dalam bentuk cetak maupun file digital, diterima dari kalangan akademik, c) Registrasi bahan perpustakaan dilakukan dengan memberikan cap kepemilikan pada buku, majalah, dan karya ilmiah lainnya. Data yang dicatat dalam buku induk mencakup nomor induk atau nomor registrasi, nama pengarang, judul buku, tanggal penerimaan, tahun terbit, penerbit sumber pengadaan, bahasa, harga buku, dan jumlah eksemplar, d) Bahan perpustakaan kemudian dikirim ke bagian pengolahan bahan perpustakaan untuk diproses lebih lanjut, dan e) Informasi tentang buku terbaru disebarkan melalui situs web perpustakaan sebagai cara untuk memberikan informasi kepada pengguna tentang buku-buku yang baru diperoleh. Pengadaan bahan koleksi melibatkan serangkaian kegiatan teknis yang mencakup perencanaan, seleksi, proses pembelian, penerimaan, klaim, inventarisasi, dan persiapan data untuk menyebarkan informasi terbaru. Selain berfungsi sebagai parameter, kebijakan pengembangan koleksi juga berperan sebagai pedoman kerja bagi staf perpustakaan di dalamnya (Cahyani & Perdana, 2022). Di Perpustakaan Universitas Tarumanagara, kebijakan seleksi koleksi bertujuan utama untuk menyediakan bahan pustaka yang tepat dan bermanfaat dalam mendukung program pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Himawan & Kania, 2021). Tim seleksi di Perpustakaan Universitas Tarumanagara terdiri dari dosen/program studi dan kepala perpustakaan, dengan partisipasi mahasiswa yang diizinkan untuk mengusulkan koleksi baru yang relevan dengan kebutuhan perkuliahan. Dalam melakukan seleksi, beberapa kriteria yang diterapkan mencakup kualitas isi, kualitas fisik, penerbit, kelengkapan informasi terkini, harga, bahasa, dan jumlah yang ditentukan. Perpustakaan Universitas Tarumanagara telah menggunakan alat bantu seleksi, seperti buku penawaran program tiap fakultas yang disesuaikan dengan kurikulum program studi setiap semester, serta katalog elektronik dari penerbit, bibliografi, daftar buku baru, kajian literatur atau resensi, serta katalog elektronik dan pangkalan data dari perpustakaan lain dalam database (Wijayanti, 2022). Perpustakaan perlu untuk membuat kebijakan tertulis tentang berbagai jenis kegiatan pengembangan koleksi untuk menghindari inkonsistensi pengambilan keputusan pengembangan koleksi. Pada saat menentukan formulasi kebijakan pengembangan koleksi, maka, 1) berbagai pihak yang berkaitan langsung dilibatkan untuk mewadahi berbagai usulan/aspirasi terkait kegiatan pengembangan koleksi, dan 2) penyusunan naskah kebijakan pengembangan koleksi disesuaikan dengan kebutuhan, visi dan misi perpustakaan. Implementasi kebijakan pengembangan koleksi adalah bentuk konkret formulasi kebijakan, yaitu konsistensi dalam pengambilan keputusan dalam seluruh kegiatan pengembangan koleksi. Keberhasilan implementasi kebijakan pengembangan koleksi ditentukan berdasarkan: 1) konten kebijakan yang akomodatif sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan visi-misi perpustakaan dan 2) karakteristik dan kondisi perpustakaan. Pengembangan koleksi di perpustakaan Indonesia merupakan upaya penting untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Perpustakaan nasional, perpustakaan akademik, dan perpustakaan daerah di Indonesia berperan dalam menyediakan koleksi yang relevan dan bervariasi. Upaya pengembangan koleksi dilakukan melalui proses seleksi, akuisisi, donasi, dan kerjasama dengan penerbit dan perpustakaan lain. Ketersediaan koleksi yang baik meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan memberikan akses informasi yang luas kepada pengguna. Dukungan pemerintah, kolaborasi antar perpustakaan, dan partisipasi masyarakat dalam sumbangan bahan pustaka menjadi kunci dalam pengembangan koleksi perpustakaan di Indonesia. Hasil analisis terhadap kebijakan pengembangan koleksi perpustakaan dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk melakukan tindakan dan/atau pemecahan masalah yang tepat terkait kegiatan pengembangan koleksi perpustakaan (Achmad, 2021). Untuk dapat membantu perpustakaan dalam memisahkan faktor internal dan eksternal yang terkait dengan objek kebijakan pengembangan koleksi, yang selanjutnya dijadikan landasan untuk memperbaiki sebuah kebijakan agar dapat memenuhi kebutuhan perpustakaan seiring perkembangan zaman. Pengembangan koleksi di perpustakaan di Asia memiliki peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna serta meningkatkan kualitas pelayanan perpustakaan. Di berbagai negara di Asia, pengembangan koleksi perpustakaan dilakukan dengan pendekatan yang berbeda-beda, tergantung pada karakteristik, kebutuhan, dan kebijakan masing-masing negara. Salah satu aspek penting dalam pengembangan koleksi di perpustakaan di Asia adalah keragaman budaya dan bahasa. Setiap negara di Asia memiliki warisan budaya dan sastra yang kaya, sehingga perpustakaan di negara-negara tersebut berupaya untuk mengumpulkan dan melestarikan karya-karya sastra, dokumen sejarah, dan materi lain yang terkait dengan budaya dan bahasa mereka. Hal ini membutuhkan upaya kolaboratif antara perpustakaan nasional, perpustakaan universitas, dan lembaga budaya lainnya. Selain itu, perkembangan teknologi informasi juga memberikan dampak signifikan dalam pengembangan koleksi di perpustakaan Asia. Perpustakaan di Asia semakin memanfaatkan teknologi digital dalam mengumpulkan, menyimpan, dan mengakses koleksi perpustakaan. Digitalisasi koleksi tradisional seperti manuskrip, buku langka, dan arsip sejarah menjadi salah satu fokus utama dalam pengembangan koleksi. Hal ini memungkinkan pengguna perpustakaan untuk mengakses materi yang sebelumnya sulit dijangkau. Kerjasama regional juga menjadi tren dalam pengembangan koleksi di perpustakaan Asia. Negara-negara di Asia bekerja sama untuk berbagi dan menukar koleksi, baik dalam bentuk fisik maupun digital. Kerjasama ini memungkinkan perpustakaan di satu negara untuk mengakses koleksi yang tidak dimiliki perpustakaan, sehingga pengguna perpustakaan dapat memperoleh akses ke informasi yang lebih luas. Terdapat pula upaya dalam meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pengembangan koleksi perpustakaan di Asia. Perpustakaan berupaya untuk melibatkan komunitas lokal dalam proses pemilihan koleksi, baik melalui survei kebutuhan, partisipasi dalam acara seleksi koleksi, atau program donasi buku. Dengan melibatkan masyarakat, perpustakaan dapat lebih tepat dalam menyediakan koleksi yang relevan dan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Meskipun terdapat banyak kemajuan dalam pengembangan koleksi perpustakaan di Asia, masih terdapat tantangan yang perlu dihadapi. Beberapa di antaranya adalah kurangnya anggaran, kurangnya sumber daya manusia yang terlatih, dan kurangnya pemahaman tentang pentingnya pengembangan koleksi dalam meningkatkan layanan perpustakaan. Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari pemerintah, institusi pendidikan, dan komunitas untuk terus memperkuat pengembangan koleksi perpustakaan di Asia.

Conclusion

Pengembangan koleksi perpustakaan di negara-negara Asia menunjukkan adanya upaya yang beragam dalam menjaga relevansi koleksi dengan kebutuhan informasi pengguna. Berdasarkan analisis melalui database Google Scholar, sebagian besar perpustakaan di Asia menerapkan strategi pengembangan koleksi yang melibatkan seleksi bahan koleksi secara ketat, penggunaan teknologi untuk mempermudah akses informasi, serta penyesuaian koleksi terhadap kebutuhan lokal maupun global. Manajemen perpustakaan di Asia cenderung mengadopsi pendekatan berbasis teknologi untuk mendukung pengelolaan koleksi, termasuk pemanfaatan sistem otomasi dan digitalisasi. Selain itu, kebijakan pengembangan koleksi di beberapa negara Asia difokuskan pada pemenuhan kebutuhan informasi untuk kegiatan pengajaran, penelitian, dan literasi masyarakat, meskipun terdapat tantangan dalam hal pendanaan, aksesibilitas, dan relevansi koleksi. Dengan demikian, perpustakaan di Asia terus beradaptasi dengan dinamika informasi global untuk memberikan layanan yang optimal kepada pengguna. Pengembangan penelitian selanjutnya akan diteliti kegiatan pengembangan koleksi di perpustakaan di Indonesia melalui metode penelitian kualitatif.