ANALISIS PENERAPAN PENCAHAYAAN DI PITIMOSS FUNLIBRARY TERHADAP MINAT KUNJUNG PERPUSTAKAAN
Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara; Universitas Islam Nusantara
Abstract
This study aims to determine the lighting and arrangement of the room in the Pitimoss Fun Library on the interest of visitinglibrary visitors. This research uses a descriptive qualitative researchmethod. Data collection techniques in this study were observation,interviews and documentation. There are three informants in thisstudy, namely library managers and visitors. The results of this studyindicate that the lighting used in the Pitimoss Fun Library mostlyuses artificial lighting using electric light as a means of lighting. Thisis because the library only has one window, so there is not muchsunlight entering the room. The use of artificial light has a negativeimpact, namely the presence of shaded light, unstable light andwasteful of electricity. However, the use of artificial lighting does notreduce visitor interest because the majority of visitors prefer to takeadvantage of the gazibu that is available outside the room.
Keywords:
Pencahayaan perpustakaan
· PitimossFun Library
· minat kunjung
Introduction
Sistem pencahayaan menjadi kebutuhan yang harus diperhatikan. Pencahayaan diperpustakaan memiliki dua sistem, yaitu pencahayaan alami dari sinar matahari danpencahayaan buatan dari cahaya listrik. Tanpa cahaya, manusia tidak akan bisamelihat. Pencahayaan yang baik dapat mempengaruhi kemampuan penggunanya dalammelihat objek secara jelas, cepat dan tepat tanpa adanya kesalahan. Dengan demikiandibutuhkan sistem pencahayaan perpustakaan yang cukup. Pencahayaan yang cukupdapat mengurangi ketegangan dan kelelahan mata bagi pengunjung maupun petugasyang ada di perpustakaan. Hal ini merupakan salah satu aspek dari pelayanan yangdiberikan oleh perpustakaan terhadap kenyamanan pemustaka yang berkunjung. Kegiatan yang dilakukan di perpustakaan tidak lepas dari cahaya. Hal inimenjadikan sistem pencahayaan di perpustakaan harus cukup baik. Adapun keuntungan yang diperoleh dengan adanya pencahayaan yang cukup, yaitu mampu meningkatkan produktifitas dalam bekerja, kualitas dalam pekerjaan dan dapatmenimbulkan semangat dalam bekerja. Keuntungan lainnya, yaitu dapat mengurangiketegangan mata dan kelelahan mata, sehingga bisa membuat pengunjung betah beradadi perpustakaan.1 Adanya pencahayaan yang baik di perpustakaan juga akan berdampak kepada minat pengunjung untuk datang ke perpustakaan. Minat kunjung menurut Darmonodalam Iztihana dan Mecca adalah kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang yangmengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan.2 Hal ini menunjukkan jika semakinmeningkatnya minat kunjung pemustaka, maka semakin meningkat juga aktivitas dankegiatan yang dilakukan oleh pemustaka di perpustakaan. Adapun salah satu faktorminat kunjung perpustakaan menurut Bafadal dalam Iztihana dan Mecca adalah faktorlingkungan.3 Hal ini menunjukkan bahwa keadaan lingkungan atau tampilan perpustakaan mempengaruhi minat kunjung pemustakanya. Hal ini yang melatarbelakangi penulis tertarik untuk meneliti bagaimana penerapan pencahayaan yang ada diPitimos Fun Library terhadap minat kunjung pemustakanya. Pitimoss Fun Library adalah sebuah perpustakaan modern atau lebih akrab dikenaldengan istilah taman bacaan yang terletak di Kota Bandung Provinsi Jawa Barat. Pitimoss Fun Library didirikan pada tanggal 1 September 2003. Pitimoss Fun Librarydidirikan karena adanya kecintaan terhadap buku dan kegemaran membaca. Adapunjumlah pengunjung Pitimoss Fun Library setiap harinya mencapai 20 hingga 30 orang. Adanya jumlah pengunjung yang relative banyak ini menjadikan peneliti tertarik untukmeneliti keterkaitan pencahayaan yang ada dengan minat kunjung di Pitimoss Fun Library. Dengan demikian, penelitian ini berjudul “Analisis Penerapan Pencahayaan DiPitimoss Fun Library Terhadap Minat Kunjung Perpustakaan”. LANDASAN TEORI Penelitian mengenai penerapan pencahaan terhadap minat kunjung pemustakasudah pernah dilakukan oleh beberapa peneliti. Pertama, diteliti oleh Muhsinah Hamid(2017) dengan judul “Analisis Pencahayaan Dan Penataan Ruang Perpustakaan SD Negeri 77 Ganra 1 Kabupaten Soppeng Dalam Menarik Minat Kunjung Pemustaka”.4Penelitian ini menggunakan Metode deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitiantersebut, dapat disimpulkan bahwa pencahayaan Perpustakaan SDN 77 Ganra 1menggunakan pencahayaan alami, namun ketika cuaca mendung menggunakan pencahayaan buatan dalam hal ini lampu didalam ruangan dinyalakan. Tetapipencahayaan didalam ruangan tetap redup bahkan pencahayaannya tidak merata karenahanya menggunakan satu lampu didalam ruang perpustakaan. Penataan Ruang Perpustakaan SD 77 Ganra I dengan cara pemustaka hanya melantai karena kurangnyameja baca dan kursi namun yang ingin menggunakan meja baca maka bisa menggunakantetapi jumlahnya terbatas dan tidak menggunakan kursi. Penelitian kedua dari Mumpuni, Rahmanu, dan Silfia (2017) dengan judul “Pencahayaan Alami Pada Ruang Baca Perpustakaan Umum Kota Surabaya”.5 Penelitianini menggunakan Metode kuantitatif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapatdisimpulkan bahwa pencahayaan alami di ruang baca Perpustakaan Umum Kota Surabaya tidak memenuhi syarat minimum baik dari intensitas cahaya (lux) maupunjumlah bukaan minimum. Penyebab lain dari jumlah yang tidak memenuhi syarat terebutterdapat pada layout ruang baca yang memblokade jendela sebagai media masuknyacahaya alami, selain itu kebedaraan toilet di sebelah utara dan area parkir di sebelahselatan bangunan juga berkontribusi pada kurangnya pencahayaan alami yang masuk kedalam ruang baca. Elemen pembentuk ruang yang terdapat di ruang baca sudahmenerapkan warna yang tepat yaitu warna putih sehingga cahaya dapat didistribusikandengan lebih merata dan ruangan tampak lebih terang. Penelitian ketiga dari Khumaidah dan Jumino dengan judul “Penerapan SistemPencahayaan, Pewarnaan Dan Pengaturan Udara Di Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang Untuk Menunjang Layanan Perpustakaan”.6 Penelitian ini menggunakan Metode kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwapencahayaan buatan di Perpustakaan Umum Kabupaten Rembang secara umum belum menunjang layanan perpustakaan karena ada bagian-bagian yang kurang pencahayaanseperti di rak buku. Selanjutnya dari segi pewarnaan, dinding Perpustakaan UmumKabupaten Rembang sudah menunjang layanan perpustakaan karena sudahmenggunakan warna cream. Secara umum pengaturan udara di Perpustakaan UmumKabupaten Rembang sudah menunjang layanan perpustakaan karena sirkulasi udaraberlangsung lancar. Pencahayaan Pencahayaan disebuah ruangan merupakan salah satu faktor untuk menciptakankeadaaan lingkungan yang aman dan nyaman karena akan mempengaruhi produktivitasdan aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Pencahayaan yang baik memungkinkanorang dapat melihat objek-objek yang dikerjakannya secara jelas dan cepat. MenurutSatwiko (2009)7 , cahaya adalah gelombang elektromagnetik yang mempunyai panjang antara 380 hingga 700nm (nanometer, 1nm= 10-9m), dengan urutan warna: (ungu-ultra),ungu, nila, biru, hijau, kuning, jingga, merah (merah-infra). Hal ini menjadikan cahayasangat penting bagi manusia karena melalui cahaya manusia dapat beraktivitas dengansehat, nyaman dan menyenangkan. Pada perpustakaan terdapat dua jenis pencahayaan, yaitu pencahayaan alami danpencahayaan buatan. Pencahayaan alami menurut Damayanti dan Utomo (2018) 8, yaitu pencahayaan yang memanfaatkan sumber cahaya dari matahari pada siang hari. Sinarmatahari yang dibiarkan masuk ke dalam ruangan. Pencahayaan alami bermanfaat dalammenghemat listrik dan dapat membunuh kuman yang ada pada ruangan. Namun,masuknya cahaya yang masuk ini perlu dikontrol agar tidak mengakibatkan rasa gerahdan cepat lelah. Kontrol cahaya yang masuk juga untuk mencegah adanya kerusakanbahan pustaka karena terkena sinar matahari secara langsung. Adapun strategi desainpencahayaan alami, yaitu orientasi bangunan dan jendela; ukuran jendela/skylight;perlindungan matahari/shading; peneduh kaca; dan ketinggian kusen atas jendela.9 Pencahayaan buatan menurut de Grands dalam Savitri adalah percahayaan yangberdasarkan sumber cahayanya berasal dari cahaya lampu pijar (incandescent), cahayalistrik neon dan cahaya yang mengandung fosfor (fluorescent).10 Kekurangan cahayabuatan menurut Iesna dalam Carena dan Ratri (2016) adalah silau (Glare), bayangan(Shadow), dan cahaya kejut (Flicker). Cahaya silau dibagi menajdi dua, yaitu silaudisability glare dan discomfort glare. Disability glare adalah silau yang menyebabkanmata tidak mampu melihat apa pun akibat dari pancaran sinar yang besar ke arah mata. Adapun discomfort glare adalah silau yang ditimbulkan akibat pantulan sinar terhadapbidang kerja atau unsur-unsur di sekitarnya yang menuju mata. Bayangan (Shadow)adalah pancaran sinar cahaya ke bidang kerja tertutupi oleh suatu objek (tangan). Adapuncahaya kejut (Flicker) adalah ketidakstabilan suplai cahaya yang dihasilkan sumbercahaya yang menyebabkan perubahan intensitas cahaya dengan cepat.11 Namun,pencahayaan buatan ini memiliki kelebihan dapat memberikan penerangan tanpamengandalakan cahaya matahari. Pencahayaan pada perpustakaan sangatlah penting. Hal ini dikarenakan fungsipencahayaan pada perpustakaan adalah untuk keperluan membaca dan bekerja; untukmencegah serangan serangga yang suka tempat gelap; dan untuk kenyamanan cahaya(Lasa, 2009).12 Adapun dampak dari adanya pencahayaan yang kurang baik menurutLasa dalam Khumaidah dan Jumino antara lain:13 1. Kelelahan mata dengan berkurangnya daya dan efisiensi kerja. 2. Kelelahan mental. 3. Keluhan-keluhan pegal di daerah mata, dan sakit kepala sekitar mata. 4. Keluhan kerusakan alat penglihat. Minat Kunjung Perpustakaan Minat kunjung menurut Darmono dalam Ibrahim (2017) adalah kecenderungan jiwa yangmendorong seseorang mengunjungi dan memanfaatkan perpustakaan.14 Hal iniditunjukkan dengan adanya keinginan yang kuat dari pemustaka untuk datang danmemanfaatkan fasilitas yang disediakan oleh perpustakaan. Menurut Dahlan dalamIbrahim (2017) terdapat beberapa hal yang membuat pemustaka betah dan inginberkunjung ke perpustakaan, yaitu adanya rasa nyaman; keadaan lingkungan fisikperpustakaan yang memadai; keadaan lingkungan sosial perpustakaan yang kondusif;dan layanan yang diberikan oleh perpustakaan.15
Method
Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kulitatif. Penelitian deskriptif kualitatif ditujukan untuk mendeskripsikan dan menggambarkanfenomena-fenomena yang ada, baik bersifat alamiah maupun rekayasa manusia, yanglebih memperhatikan mengenai karakteristik, kualitas, keterkaitan antar kegiatan(Sukmadinata, 2011).16 Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2019 hinggajanuari 2020 di Taman Baca Pitimoss Fun Library yang berlokasi di Jl. Banda No. 12-S,Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung, Jawa Barat. Teknik pengumpulan datayang digunakan dalam penelitian ini, yaitu observasi, kajian dokumen dan wawancara. Teknik Analisis data yang digunakan adalah pengumpulan data, reduksi data, penyajiandata dan verifikasi atau penarikan kesimpulan (Miles dan Huberman dalam Sugiyono,2017).17 Informan dalam penelitian ini berjumlah tiga orang. Tabel 1. Daftar Informan Nama Jabatan Jenis Kelamin Andi Pengelola Perpustakaan Laki-laki Endah Mahasiswi Perempuan
Result & Discussion
Profil Taman Baca Pitimoss Fun Library Pitimoss Fun Library adalah taman bacaan modern yang didirikan karena kecintaanpara pendirinya terhadap dunia baca dan buku. Pitimoss Fun Library secara resmiberoperasi pada tanggal 1 September 2003. Pitimoss Fun Library didirikan oleh empatsekawan, yaitu Yosrizal Sandra, Yusra Hamdi, Andi Sinaga, dan Yulio Ferinaldo. PendiriPitimoss Fun Library ini didirikan atas rasa kekeluargaan tetapi tetap profesional. Nama Pitimoss Fun Library diadaptasi dari bahasa Minang yang terdiri dari duasuku kata, yaitu kata PITI yang berarti uang dan kata MOS yang berarti lima rupiah. Kedua suku kata tersebut digabung menjadi satu dan ditambahkan satu huruf “S” dibelakang agar lebih komersial. Berdasarkan kedua suku kata tersebut dapat diketahuibahwa Pitimoss berarti uang logam pecahan Rp.5,- (lima rupiah). Uang logam pecahanlima rupiah merupakan nilai uang terkecil atau uang receh yang pernah dimiliki dandigunakan para pendirinya dimasa kecil. Denganalasan komersial maka. Berangkat darimakna receh tersebut, secara filosofis Pitimoss dimaksudkan agar kebiasaan membacadapat dilakukan hanya dengan membutuhkan biaya yang sangat kecil, dan bahkan tanpabiaya. Koleksi yang terdapat pada Pitimoss Fun Library awalnya berasal dari sumbanganberbagai pihak dan milik pribadi para pendirinya. Kemudian mulai dapat membeli secaramandiri dan bekerjasama dengan berbagai penerbit seperti Gramedia dan Airlangga. Koleksi yang ada di Pitimoss Fun Library ini kebanyakan buku-buku fiksi seperti novel,komik. Jumlah koleksi pada saat ini hampir 90.000 buku. Hampir setiap minggunyamasuk sekitar 30-40 buku baru. Jumlah anggota dari Pitimoss Fun Library adalah 10.000orang. Penerapan Pencahayaan Di Pitimoss Fun Library Terhadap Minat Kunjung Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa pencahayaan di Pitimoss Fun Librarylebih dominan menggunakan pencahayaan buatan. Pencahayaan buatan yaitu percahayaan yang berdasarkan sumber cahayanya berasal dari cahaya lampu pijar(incandescent), cahaya listrik neon dan cahaya yang mengandung fosfor (fluorescent) (de Grands dalam Savitri, 2007).18 Adanya penggunaan cahaya buatan ini dikarenakan kurangnya cahaya matahari yang dapat masuk ke ruangan. Hal ini sesuai denganpernyataan informan Andi sebagai berikut: ”Di sini memang sangat kurang cahaya matahari jadi menggunakan cahaya lampuuntuk penerangan. Apalagi di sini jendela hanya satu, jadi cahaya matahari hanyamasuk kurang”. (Andi, Wawancara, Januari, 2020) Berdasarkan wawancara diatas dapat diketahui bahwa cahaya matahari yang masukke ruangan di Pitimoss Fun Library sedikit, karena keterbatasan dari jendela yang hanyaberjumlah satu buah. Cahaya matahari yang dapat masuk hanya pada saat pagi harikarena jendela berada disebelah timur. Adanya jumlah jendela yang berjumlah satu buahmenujukkan adanya kekurangan dalam ketersediaan ventilasi dan jumlah jendela yangseharusnya tersedia. Hal ini menuru Trimo dalam Khumaidah dan Jumino, ruangperpustakaan seharusnya mempunyai cukup cendela dan alat-alat ventilasi lainnya untukpertukaran udara. 19 Adanya ventilasi udara secara alami menurut Mediastika (2013)dapat menghasilkan udara yang lebih baik daripada menggunakan ventilasi perputaranudara.20 Selain itu, menurut Rahim (2012) sebuah ruangan dikatakan nyaman apabilamemiliki prosentase lubang angin sebesar 5% terhadap luasan lantai ruang.21Pencahayaan buatan berupa lampu selalu disediakan selama jam layanan berlangsung. Penggunaan cahaya buatan berupa lampu ini tentunya memiliki kekurangan. Diantaranya adalah adanya cahaya berbayang, dan cahaya yang tidak stabil. Adanya cahaya berbayang dan tidak stabil memang salah satu konsekuensi penggunaancahaya buatan. Menurut Iesna dalam Carena dan Ratri (2016)22, bayangan (Shadow)adalah pancaran sinar cahaya ke bidang kerja tertutupi oleh suatu objek (tangan). Sedangkan cahaya kejut (Flicker) adalah ketidakstabilan suplai cahaya yang dihasilkansumber cahaya yang menyebabkan perubahan intensitas cahaya dengan cepat. Adanyacahaya berbayang dan cahaya yang tidak stabil ini tentunya bisa memberikan dampakberupa kelelahan mata dan sakit kepala. Sealin itu, adanya penggunaan cahaya buatan inisangat bergantung pada listrik, sehingga apalagi listrik padam mengakibatkan pencahayaan yang tersedia menjadi sangat minim atau gelap. Hal ini tentunya bisamenghambat aktivitas dari pengguna dan pengelola Pitimoss Fun Library. Adanya penggunaan pencahayaan buatan di Pitimoss Fun Library ternyata tidakmembuat minat pengunjung taman bacaan berkurang. Hal ini dikarenakan mayoritaspengunjung lebih suka membaca pada area gazibu, yaitu area baca yang berada diluarruangan Pitimoss Fun Library. Banyaknya pepohonan yang rimbun di sekitar Pitimoss Fun Library memberikan kesan sejuk dan mengontrol pencahayaan alami yang tersedia, sehingga pengguna lebih suka menggunakan fasilitas gazibu. Hal ini sesuai denganpendapat informan Endah sebagai berikut: ”Lebih suka baca-baca sama melakukan aktivitas diluar atau gazibu. Lebih ademdan enak kalau untuk diskusi. Lebih luas juga”. (Endah, Wawancara, Januari,2020)
Conclusion
Pencahayaan yang tersedia di Pitimoss Fun Library menggunakan pencahayaan buatan. Hal ini dikarenakan jendela yang tersedia hanya berjumlah satu buah, sehinggapencahayaan alami sangat minim. Namun, penggunaan cahaya buatan ini tidak membuatberkurangnya minat kunjung dari pengunjungnya. Adanya fasilitas gazibu yang beradadiuar gedung Pitimoss Fun Library merupakan area favorit yang digunakan olehpengunjung untuk membaca dan melakukan aktivitas lainnya. Apalagi di area sekitar Pitimoss Fun Library terdapat banyak pepohonan yang dapat memberikan kesan sejukdan mendukung ketersediaan pencahayaan alami yang sesuai dengan kebutuhan penggunanya