KEMAMPUAN LITERASI MEDIA SISWA TUNANETRA SEKOLAH DASAR SLB MANDARA SEBAGAI UPAYA MENDUKUNG PENGEMBANGAN MEMBACA DI KALANGAN ANAK-ANAK
Universitas Halu Oleo; Universitas Halu Oleo; Universitas Halu Oleo; Universitas Halu Oleo
Abstrak
Literasi media merupakan kebutuhan dasar anak yang berkembang secara alami seiring dengan meningkatnya kebutuhan belajar, dan berkomunikasi terkait pengetahuan dan kemampuan dalam menggunakan media. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana Kemampuan literasi media siswa Tunanetra Sekolah Dasar SLB Mandara sebagai upaya mendukung pengembangan membaca di kalangan anak-anak. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dengan teknik penentuan informan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dengan jumlah informan sebanyak 2 orang. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa kemampuan literasi media dalam upaya mendukung pengembangan membaca pada siswa Tunanetra di SLB Mandara yaitu pihak sekolah maupun guru telah menyediakan media Braille dan alat media Reglet sesuai dengan kebutuhan jenis siswa kecacatan Tunanetra, dapat diketahui bahwa literasi media dalam hal ini proses metode pengajaran yang di pakai telah berhasil dalam upaya membangun minat membaca, kreativitas siswa Tunanetra dengan menggunakan media Braille dan alat Reglet.
Abstract
Media literacy is a basic need for children that develops naturally along with the increasing need for learning, and communicating especially about knowledge and abilty to use a media. This study aims to determine how the media literacy ability of blind elementary school students through SLB Mandara is an effort to support the development of reading among children. This study uses the of the National Association for Media Literacy Education Hobbs, 2010 using descriptive qualitative research methods. The technique of determining the informants in this study was purposive sampling with the number of informants as many as 2 people. Data collection techniques used in this study were observation, interviews, and documentation. The results of this study indicate that media literacy skills in an effort to support the development of reading in blind students at SLB Mandara, namely the school and teachers have provided Braille media and Reglet media tools according to the needs of the types of students with visual impairments, it can be seen that media literacy in this process the teaching method used has been successful in an effort to build interest in reading, the creativity of blind students by using Braille media and Reglet tools.
Keywords:
Media Literacy
· Special Schools
· Blind Students
· Learning Media
Introduction
Literasi media diketahui sebagai kemampuan dasar seseorang seseorang dalam memahami kegiatan membaca dengan menggunakan kemampuannya dalam menganalisis media dalam upaya menumbuhkan potensi yang ada pada dirinya untuk memahami aktivitas tersebut. Maka menjadi penting untuk mengadakan literasi media dari kalangan dewasa maupun anak-anak, di mana kita ketahui bahwa teknologi semakin maju kemudahan mendapatkan informasi di manapun dan kapan pun secara cepat dan mudah dengan menerapkan literasi media. Hal ini juga di perkuat dengan perkataan dari Suyono dan Hariyanto (2011) menyatakan bahwa literasi sebagai basis pengembangan pembelajaran yang efektif dan produktif yang memungkinkan siswa dapat lebih mengembangkan keterampilan mencari informasi serta menggunakan media-media pembelajaran. Kemampuan literasi sangat dibutuhkan dalam kehidupan sekarang di mana penggunaan metode pembelajaran yang di lakukan dapat bersifat teknologi dengan memudahkan pada anak dalam proses pembelajaran1. Budaya literasi media sekolah bisa dikembangkan dengan menggunakan metode pembelajaran yang menarik dan melakukan kegiatan-kegiatan yang menarik yang bisa membuat para guru melakukannya dengan mudah, serta para siswa dapat terlibat di dalam kegiatan tersebut. Kemampuan yang berkaitan dengan kegiatan membaca,berpikir dan menulis yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memahami informasi secara kritis, kreatif dan reflektif. Anak berkebutuhan khusus didefinisikan anak-anak yang memiliki keunikan tersendiri dalam jenis dan karakteristik perilakunya, yang membedakan dengan anak normal lainnya (Poerwanti, 2007). Selain pendidikan formal di indonesia juga memiliki jenis lembaga pendidikan informal dan pendidikan non formal. Dan pendidikan formal yang ada di Indonesia adalah jenis pendidikan khusus yang disebut sebagai Sekolah Luar Biasa (SLB) 2. Lembaga pendidikan Sekolah Luar Biasa yaitu pendidikan yang bertujuan membantu peserta didik yang menyandang kelainan fisik/mental perilaku dan sosial agar mampu mengembangkan sikap serta dapat juga mengembangkan kemampuan mereka sebagai upaya mendukung pengembangan membaca di kalangan anak-anak3. Secara umum, disabilitas adalah ketidakmampuan seseorang untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Ada beberapa jenis disabilitas, diantaranya yaitu disabilitas fisik, seperti gangguan gerak yang menyebabkan penderitanya tidak bisa berjalan. Disabilitas sensorik yaitu seperti gangguan pendengaran atau gangguan pada penglihatan. Pada penelitian ini sekolah luar biasa lebih di spesifiksikan pada anak dengan jenis kecacatan Tunanetra. Tunanetra merupakan salah satu ragam disabilitas. Tunanetra merupakan sebutan bagi seseorang yang memiliki hambatan dalam menggunakan indera penglihatannya atau tidak berfungsi indera penglihatannya dari tingkatan ringan sampai benar-benar buta. Dalam hal ini dibuktikan dengan adanya proses kemampuan literasi media dalam mendukung pengembangan membaca di kalangan anak-anak terkhususnya pada anak dengan jenis kecacacatan Tunanetra pada sekolah luar biasa (SLB) Mandara masih memiliki banyak persoalan. Adapun penelitian terdahulu terkait dengan ini yang berjudul “Literasi Media Dalam Tataran Konsep” (Tita Melia Milyane, 2020), “Peran Literasi Dalam Meningkatkan Minat Baca Siswa Sekolah Dasar” (Dhina Cahaya Rohim Dan Septina Rahmawati, 2020), “Kemampuan Membaca Ujaran Anak Tunarungu Di SLB-B Dena Upakara Wonosobo” (Alvi Nurdiana, 2015). Atas dasar itulah penulis tertarik untuk meneliti tentang kemampuan literasi media siswa tunanetra pada tingkat sekolah dasar di SLB Mandara. Literature review Di era perkembangan teknologi seperti zaman teknologi informasi dan komunikasi yang begitu pesat di kalangan masyarakat penggunaan internet tidak dapat di pungkiri bahwa dapat memberikan ke masing-masing individu manfaat yang positif ataupun mungkin sekaligus memberikan manfaat yang negatif. Seperti kita ketahui di mana banyak mediamedia yang digunakan bukan untuk memberikan informasi tetapi lebih ke memanfaatkan teknologi untuk memberikan hal-hal yang negatif kepada anak-anak yang masih terbilang mudah untuk di berikan masukan ataupun informasi, yang mungkin mereka tidak tahu bahwa informasi yang mereka dapat dari media yang tidak benar atau tidak bertanggung jawab kepada Informasi yang diberikan. Sama halnya yang disampaikan oleh Suhail & Bargees (2006) hal itu semakin membuat pendidik dan peneliti sadar akan pentingya pengembangan literasi media terkhususnya di sekolah dasar SLB Mandara agar menambah pengetahuan anak maupun guru di sekolah maupun orang tua siswa4. Literasi media merupakan sebuah cara pandang yang digunakan ketika seseorang mengakses media dengan tujuan untuk mengintepretasikan makna yang disampaikan dengan baik, karena sebuah kesadaran bahwa media tidak hanya menyajikan hal positif yang bermanfaat tetapi, juga hal-hal yang berdampak negatif bagi perkembangan emosional seseorang. Dalam hal ini, pengertian literasi media berkembang bukan hanya pada tataran menganalisis saja tetapi juga kesadaran akan hal positif/manfaat positif dan dampak negatif media. Berarti orang yang memakai meida harus memahami bahwa sebuah media tepat mempengaruhi tingkat emosi seseorang dan bahkan kedudukan seseorang secara sosial di mata masyarakat. Literasi media bukan keahlian yang muncul dengan sendirinya, tetapi literasi media adalah keahlian yang dapat dikembangkan melalui proses berpikir. Keahlian yang harus dikembangkan melalui proses berpikir, keahlian yang harus dikembangkan melalui literasi media adalah berpikir bagaimana pentingnya literasi media menciptakan dan mengenadalikan budaya yang membatasi kita dan hidup kita. Pada saat seseorang sudah merasa bahwa media adalah penting dalam hal perkembangan kehidupan kemasyarakatan, mental bangsa dan budaya, maka biasanya mereka akan berpikir untuk berkontribusi mengendalikan terpaan negatif media dengan memberikan masukan yang positif bagi media. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJJI, 2019) berdasarkan data tahun 2018 terdapat sekitar 171,17 juta pengguna internet dari total perkiraan populasi 264,16 juta orang di indonesia atau sebesar 64,8 % pengguna internet di indonesia. Khusus di jawa tengah terdapat 14,3 % pengguna atau sebesar 37,8 % juta jiwa pengguna internet. Dari total penduduk di indonesia, 50,7 % penduduk menggunakan facebook sebagai media sosial. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian pengguna internet di indonesia menggunakan facebook sebagai salah satu akun media sosial untuk komunikasi massal. Pengembangan literasi media masyarakat di indonesia mulai menyadari bahwan sebenarnya pentinya sejak tahun 2012 seperti yang dikemukakan oleh komisioner KPI Pusat Nina Mutmainnah ( kompas.com,2012) Menurut Nina, pendidikan literasi media perlu dimasukkan dalam kurikulum pendidikan di indonesia. Hingga kini pendidikan literasi media belum secara resmi penuh dimasukkan dan dilaksanakan sebagai salah satu kompetensi dasar di kurikulum naisional baik tingkat TKSMA. Kesadaran guru terhadap pentingnya diterapkan literasi media seharusnya menjadi tugas atau tujuan dalam pembelajaran seorang guru ke siswanya agar mereka bisa mendapatka ataupun meningkatkan lebih banyak lagi pegetahuan dari keterbatasan mereka. Dalam lingkup sekolah dasar mestinya masih penting sekali untuk kita sebagai pengajar menerapkan hal tersebut serta dorongan orang tua siswa juga bisa menambah semangat kepada anak-anak di sekolah luar biasa SLB Mandara. 1). Tujuan Literasi a. Membantu menumbuhkan dan mengembangkan bufi pekerti yang baik di dalam diri seseorang. b. Meningkatkan kemampuan seorang anak dalam memberikan penilaian kritis terhadap suatu karya tulis. c. Meningkatkan nilai kepribadian seorang anak melalui kegiatan membaca. d. Menumbuhkan dan mengembangkan budaya membaca literasi pada anak e. Membantu meningkatkan tingkat pemahaman seorang anak dalam mengambil kesimpulan dari informasi yang dibaca. f. membantu meningkatkan pengetahuan anak dengan cara membaca berbagai informasi bermanfaat. g. Membantu meningkatkan kualitas penggunaan waktu seorang anak sehinggah bisa lebih bermanfaat. 2). Manfaat Literasi a. Menambah perbendaharaan kata “kosa kata” seoarang anak. b. Mengoptimalkan kinerja otak kareana sering diguanakan untuk kegiatan membaca dan menulis anak-anak. c. Mendapat berbagai wawasan dan informasi baru. d. Kemampuan interpersonal seseorang akan semakin baik. e. Kemampuan memahami maka suatu informasi akan semakin meningkat. f. Meningkatkan kemampuan verbal anak. g. Meningkatkan kemampuan analisis dan berpikir seorang anak. h. Membantu meningkatkan daya fokus dan kemampuan konsentrasi seorang anak. i. Meningkatkan kemampuan seorang anak dalam merangkai kata yang bermakna. Kompetensi Esensial dari literasi media berdasarkan Hobbs, 2010 yang mengkaji tentang pendidikan literasi media untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam mendukung kemampuan Literasi Media yang pertama Mengakses yaitu menemukan dan menggunakan alat media yang terampil dan teknologi dengan terampil untuk memenuhi berbagai informasi yang sesuai bagi anak berkebutuhan khusus terkhususnya anak jenis kecacatan Tunanetra, yang kedua Analisis yaitu memahami pesan dan menggunakan pemikiran kritis untuk menganalisis perkembangan tingkah laku/emosi untuk mengetahui perkembangan anak dalam kreadibilitas, dan sudut pandang dalam perkembangan anak serta mengaitkan dalam proses pembelajaran, yang ketiga Penciptaan yaitu meningkatkan kreativitas seorang anak dalam menumbuhkan kepercayaan dirinya dalam berekspresi diri, yang ke empat Refleksi yaitu menerapakan prinsip perilaku komunikasi dalam proses pembelajaran agar lebih memperhatikan tingkah laku dan komunikasi pada siswa dan yang kelima Tindakan yaitu dalam pemecahan masalah pada anak dapat memberikan pengamatan apa saja yang dapat dilakukan dalam melakukan suatu tindakan. 1). Sekolah Luar Biasa Sekolah luar biasa diperuntukan bagi anak yang berkebutuhan khusus agar bisa mendapatkan layanan dasar yang bisa membantu mendapatkan akses pendidikan. Dengan jenis yang berbeda, berbeda pula dengan strategi pembelajaran serta fasilitas yang dimiliki. Sekolah luar biasa merupakan bentuk pendidikan bagi mereka yang memiliki tingkat kesulitan dalam mengikuti peoes pembelajaran pada umumnya sikarenakan adanya kelainan fisik, kelainan emosional, atau mental sosial tetapi, memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa. Yang perlu di garis bawahi adalah sesorang anak dapat menempuh pendidikan di SLB apabila ia mengalami kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran dengan metode belajar pada umumnya. 2). Tunanetra Tunanetra merupakan salah satu ragam disabilitas. Berikut adalah beberapa hal yang harus dipahami saat akan menjadikan tunanetra sebagai objek penelitian. Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) mengartikan bahwa tunanetra merupakan kondisi dimana seseorang yang tidak dapat melihat sama sekali/buta dan seseorang yag masih dapat melihat akan tetapi tidak mampu membaca tulisan berukuran 12 point dalam cahaya normal walaupun dibantu dengan kacamata. Di sisi lain, tunanetra yang masih dapat melihat dan memiliki penglihatan yang fungsional sering disebut dengan tunanetra low vision. Sedangkan menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Luar Biasa (dalam Widjaya, 2017:11) yang dimaksud tunanetra adalah seseorang yang memiliki hambatan dalam penglihatan atau tidak berfungsinya indra penglihatan. Tunanetra adalah sebutan bagi seseorang yang memiliki hambatan dalam mengguanakan indera penglihatanya atau tidak berfungsi indera pengelihatanya dari tingkatan ringan sampai benar-benar buta. Berdasarkan data yang diperoleh penyandang disabilitas sebesar 2,45% dari jumlah penduduk Indonesia dengan presentase terbesar adalah disabilitas mengenai kesulitan melihat atau tunanetra. Namun banyaknya penyandang tunanetra tidak diikuti dengan akses pendidikan yang mudah5. Sesuai dengan Undangundang No. 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat, menyatakan bahwa: “Setiap lembaga pendidikan memberikan kesempatan dan perlkauan yang sama kepada penyandang cacat sebagai peserta didik pada satuan, jalur, jenis, dan jenjang pendidikan sesuai dengan jenis dan derajat kecacatanya.” Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa kelompok disabilitas memiliki hak yang sama dalam pemanfaatan teknologi,informasi dan komunikasi. a. Karakteristik Tunanetra Setiap anak berkebutuhan khusus pasti memiliki ciri khas baik fisik maupun non fisik. Seperti halnya anak tunanetra, secara fisik anak tunanetra sama dengan anak normal pada umunya, hanya saja memiliki keterbatasan pengelihatan. Akan tetapi secara psikologis, tentu mereka memiliki karakter yang berbeda. Berikut adalah beberapa karakteristik anak tunanetra yang biasa kita temui; 1) Rasa ingin tahu yang tinggi; kurangnya pengelihatan yang mereka alami, menjadi kendala tersendiri untuk anak tunanetra dalam mempelajari suatu hal. Meski begitu, keingintahuan anak tunanetra terhadap hal baru cukup tinggi. Dalam hal ini mereka butuh didampingi untuk mempelajari sesuatu yang baru. 2) Daya ingat yang tinggi; berbeda dengan anak normal pada umumnya, anak memiliki daya ingat yang lebih tinggi. Hal ini dikarenakan otak mereka mampu merekam dengan jelas informasi yang didapatkan. 3) Mudah tersinggung; anak tunanetra biasanya akan lebih mudah curiga dan tersinggung terhadap pembicaraan orang lain. 4) Menyukai hal yang berbau seni; kebanyakan dari anak tunanetra mereka menyukai musik dan seni. Dengan kepekaan mereka terhadap bunyi dan daya ingat yang tinggi membuat banyak anak tunanetra yang dapat berkembang di dunia seni.
Method
Penelitian ini menggunakan Metode penelitian kualitatif. Menurut moleong (2005), penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa ang di alami subjek penelitian misalnya perilaku, presepsi, motivasi, tindakan, dan lain-lain secara holistic, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Dengan penentuan informan dengan menggunakan teknik purposive sampilng sehingga dalam hal ini informan yang dipilih ialah Guru SLB Mandara dengan kriteria Guru sekolah luar biasa yang mengajar pada siswa dengan jenis kecacatan Tunanetra, Sehinggah dapat menjawab pertanyaan yang diberikan pada saat pengumpulan data dengan metode wawancara. Teknik pengumpulan data dengan cara Observasi, Wawancara, Dokumentasi dan di dukung dengan analisis metode Triangulasi. Metode Triangulasi adalah untuk mentracking ketidaksamaan antara data yang diperoleh dari informan dengan informan lainnya oleh karena itu, dibutuhkan suatu teknik yang dapat menyatukan perbedaan data agar ditarik kesimpulan yang akurat dan tepat sebagai teknik pemeriksaan data dengan membandingkan hasil dan wawancara terhadap objek penelitian .
Result & Discussion
Kemampuan literasi media siswa Tunanetra sekolah dasar SLB Mandara telah melakukan literasi media tersebut, dan media-media yang digunakan dari pihak sekolah maupun guru telah menyiapkan agar dalam proses pembelajaran tetap memungkinkan dengan media-media yang ada. Maka dapat diketahui bahwa literasi media dalam hal ini proses membangun minat, membaca, kreativitas, dan media-media yang digunkan sagatlah membutuhkan peran orang dewasa dalam memberikan arahan atau bimbingan kepada anak-anak terkhusus pada anak jenis kecacatan Tunanetra. Dengan terlebih dahulu memahami kebutuhan serta keinginan anak-anak dalam hal literasi media, itulah langkah-langkah yang diadakan SLB Mandara yang ikut serta untuk meningkatkan literasi anak Tunanetra. Kegiatan-kegiatan yang ada di di SLB Mandara tidak terlepas dari upaya-upaya mereka untuk terus mengembangkan potensi anak dalam membaca melalui media-media yang mereka gunakan terutama media Braille agar semakin meningkat. Berikut ini merupakan analisis berdasarkan Hobbs, 2010 yang mengkaji tentang pendidikan literasi media untuk meningkatkan kompetensi siswa dalam mendukung kemampuan Literasi Media. 1). Mengakses Mengakses yaitu menemukan dan menggunakan alat media dan teknologi dengan terampil untuk memenuhi berbagai informasi yang sesuai bagi anak berkebutuhan khusus terkhususya anak dengan jenis kecacatan Tunanetra. Dapat disimpulkan bahwa mengakses media yang siswa gunakan merupakan bentuk tugas untuk guru bagaimana mengajarkan media Braille yang digunakan pada proses pembelajaran dengan menggunakan alat Reglet. Terkait dengan keberhasilan anak dengan jenis kecacatan Tunanetra bisa membaca dan menulis karena proses pembelajaran guru telah menerapkan metode belajar dengan menggunakan media Braille dengan alat media Reglet. Dari 4 siswa sekolah dasar SLB Mandara hanya ada 2 siswa yang berhasil dalam metode pembelajaran tersebut. Berdasarkan hasil wawancara pada guru sekolah luar biasa (SLB) Mandara: “Dapat kita ketahui bahwa sekolah telah menyiapkan pedoman atau media-media terkhususnya pada anak kecacatan Tunanetra dan memberikannya pada saat proses pembelajaran yang nantinya akan berlangsung agar kemampuan anak bisa lebih meningkat dalam proses membaca”. Hal ini sudah sesuai dengan pernyaataan Hobbs, 2010 bahwa perlunya kemampuan literasi media terkait dalam hal mengakses seperti penggunaan braille dan reglet. Dalam hal ini Kemampuan membaca dan menulis memiliki hubungan yang erat, Hal ini terjadi karena secara tidak sadar siswa Tunanetra dengan keterbatasan yang mereka miliki mereka bisa membaca dengan cepat tetapi menggunakan waktu yang cukup lama di bandingkan dengan anak pada umumnya. Dengan keterbatasan yang mereka miliki aktivitas membaca dimulai dengan mengamati seluruh teks yang ada di hadapannya dengan menggunakan media Braille dan menggunakan alat media Reglet untuk menulis. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan penelitian terdahulu menurut Alvi Nurdina (2015) terkait dalam hal menggambarkan bahwa kemampuan membaca ujaran anak sekolah luar biasa berdasarkan kemampuan dalam mengakses media-media dengan beragam karakteristik dalam hal penggunaan media-media. a. Braille Braille adalah salah satu media pembelajaran yang tidak lepas dalam proses pembelajaran pada tunanetra. Dibawah ini akan dibahas beberapa hal tentang braille. Huruf Braille merupakan huruf sentuh yang digunakan oleh penyandang tunanetra untuk membaca dan menulis. Pola baca huruf braille ini ditemukan oleh bekas perwira alteleri Napoleon, Kapten Charles Barbier. Charles menggunakan gabungan garis dan titik timbul untuk menyampaikan pesan kepada prajuritnya dalam kondisi gelap. Pesan tersebut dibaca dengan cara meraba gabungan garis dan titik yang membentuk suatu kalimat. Louise Braille (Prancis) yang juga merupakan seorang tunanetra lalu mempunyai pemikiran untuk menjadikan pola tersebut menjadi suatu pola belajar yang dapat digunakan oleh tunanetra. Ia kemudian menyederhanakan pola tersebut yang awalnya terdiri dari garis dan titik, menjadi pola yang hanya terdiri dari titik saja. Widjaya (2017) mengungkapkan bahwa membaca dan menulis braille merupakan salah satu sarana bagi para penyandang tunanetra untuk memperoleh informasi dan berkomunikasi dengan menggunakan dria taktual; oleh karena itu kepekaan dria taktual merupakan tuntutan dalam memiliki kecakapan membaca dan menulis braille. Padahal kepekaan dria taktual bukan merupakan hal yang otomatis bagi penyandang tunanetra, tetapi perlu adanya latihan dan atau pembelajaran bagi yang bersangkutan. Berikut adalah gambaran pola huruf Braille yang biasa digunakan dalam pembelajaran untuk tunanetra. Gambar 1. Huruf Braille Sumber : louisbrailleonlineresource.org Proses pembelajaran pengenalan braille kepada siswa tunanetra, guru menerapkan sistem latihan dengan Metode Drill. Secara berulang, guru menjelaskan bagaimana cara membaca dan menulis menggunakan reglet (penggaris pola braille) yang sudah diberi kertas dan stylus (pen braille) untuk membentuk pola braille menjadi tulisan yang dapat dibaca. Sebelum meminta siswa mencobanya sendiri, guru menuntun siswa bagaimana cara menusukkan pena dan membuat polanya. Jika siswa masih kesulitan, pembelajaran akan diulang terus sampai siswa paham bagaimana cara membaca dan menulis menggunakan huruf braille yang benar. b. Reglet Reglet adalah sebuah alat tulis tunanetra paling tua yang diciptakan untk membantu komunikasi secara tulis bagi siswa dengan ganggguan penglihatan atau biasa dikatakan anak jenis kecacatan Tunanetra. Reglet digunakan untuk membuat titik-titik timbul yang akan membentuk suatu pola yang mengacu pada huruf-huruf Braille. a. Braille b. Reglet 2). Analisis Tahapan- tahapan yang di lakukan untuk menganalisis hal tersebut yaitu memberikan kepada siswa Tunanetra tahapan yang sederhana dengan melakukan game atau bernyanyi sebelum proses pembelajaran dimulai, selalu menanyakan kabar dan kesehatan pada siswa dan memberikan kegiatan-kegiatan yang menarik sesuai dengan kemampuan mereka tahapan-tahapan tersebut sangat penting dilakukan agar guru dapat mengetahui tingkah laku anak dan kesiapan dalam proses pembelajaran. Berdasarkan hasil wawancara pada guru sekolah luar biasa (SLB) Mandara : “Dapat menyimpulkan bahwa penerapan dalam hal analisis yang dilakukan dalam proses guru mengajar dapat disesuaikan dengan keadaan siswa terlebih dahulu sebelum memberikan bentuk-bentuk literasi media yang ingin diterapkan” Hal ini sudah sesuai dengan pernyaataan Hobbs, 2010 bahwa perlunya kemampuan literasi media terkait Analisis dalam hal perubahan emosi, perubahan pada minat dan perilaku. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan penelitian terdahulu menurut Dhina Cahya Rohim Dan Septina Rahmawati, 2020 terkait dalam kegiatan literasi serta mengusahakan dalam mengatasi hambatan berperan dalam meningkatkan penerapan tahapan-tahapan tingkah laku. 3). Penciptaan Kepercayaan diri menjadi salah satu aspek kepribadian yang sangat penting dalam kebutuhan siswa berkebutuhan khusus (tunanetra), tanpa adanya rasa percaya diri siswa Tunanetra, maka akan timbul rasa masalah seperti : minder, malu, dan sulit berinteraksi dengan lingkungannya di rumah ataupun di sekolah Fathurrohman (2019). Teknik yang dilakukan untuk menumbuhkan kreativitas dan kepercayaan diri yaitu keyakinan kemampuan diri (sikap positif anak tentang dirinya), optimis (selalu berpandangan baik), dukungan orang dari orang tua, selalu menghargai hasil kreativitas seorang anak, selalu memberikan dan mengajarkan media-media yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan dalam pengembangan kemampuan anak yang lebih baik. Penciptaan yaitu meningkatkan kreativitas seorang anak dalam kepercayaan dirinya dalam berekspresi diri. Dengan metode pembelajaran yang mengaitkan penggunaan mediamedia braille dan alat media reglet mereka bisa lebih mengembangkan kreativitas pada proses pembelajaran di sekolah maupun di rumah. Berdasarkan hasil wawancara pada guru sekolah luar biasa (SLB) Mandara : “Sama halnya yang dikatakan Guru siswa dengan jenis anak kecacatan Tunanetra bahwa pada dasarnya Guru di SLB Mandara menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi anak dalam penciptan kreativitas tetapi tetap menggunakan metode-metode pembelajaran literasi media agar meningkatkan kemampuan siswa Tunanetra”. Hal ini sudah sesuai dengan pernyaataan Hobbs, 2010 bahwa perlunya kemampuan literasi media terkait penciptaan dalam meningkatkan kreativitas dalam kepercayaan diri pada seorang anak untuk meningkatkan ekspresi diri pada anak. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan penelitian terdahulu menurut Sri Anggriani Madanua, 2015 dengan penelitian terkait peningkatan kemampuan literasi bagi anak-anak dengan menyesuaikan program literasi yang mereka miliki dalam menyediakan buku bacaan serta melakukan kegiatankegiatan literasi. 4). Refleksi Refleksi yaitu menerapkan prinsip perilaku komunikasi dalam proses pembelajaran sama halnya yang di lakukan pada SLB Mandara memiliki peran penting dalam pemerhatian pada siswa Tunanetra agar memerhatikan tingkah laku dan komunikasi pada siswa. Seorang guru sangat penting untuk menjaga emosional dan tingkat nada bicara kepada siswa terumata siswa dengan jenis kecacatan Tunanetra menghadapinya selalu menggunakan kesabaran tingkat yang lebih tinggi. Dengan metode pembelajaran literasi media guru mempunyai tugas yang penting dalam proses melakukan penerapan-penerapan yang baik pada siswa dengan jenis kecacatan Tunanetra. Berdasarkan pada wawancara yang di lakukan terhadap guru siswa dengan jenis kecacatan Tunanetra mengatakan bahwa Anak dengan jenis kecacatan Tunanetra semakin berkembang dalam proses penggunaan media. Implementasi yang digunakan oleh guru bagaimana mengupayakan proses pengajaran yang sabar dan sangat penting memperhatikan perubahan tingkah laku emosioanl pada anak Tunanetra. Berdasarkan hasil Observasi dapat diketahui bahwa : “Anak dengan jenis kececatan Tunanetra dalam penerapan perilaku komunikasi sebagai bentuk guru dalam mengekspresikan harapan siswa lebih berusaha mengatur tingkat emosional dan memperhatikan perilaku siswa dalam penerapan tanggung jawab sebagai seorang guru harus selalu memperhatikan perilaku siswa di mana pada siswa anak dengan jenis kecacatan Tunanetra memiliki perilaku yang tidak menentu”. Hal ini sudah sesuai dengan pernyaataan Hobbs, 2010 bahwa perlunya kemampuan literasi media terkait dalam hal Refleksi terkait dengan perilaku komunikasi pada proses pembelajaran. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan penelitian terdahulu menurut Alvi Nurdina, (2015) dengan terkait tentang kemampuan membaca serta ujaran anak sekolah luar biasa untuk mengintepretasikan kemampuan perilaku komunikasi. 5). Tindakan Tindakan yaitu memecahkan masalah pada anak, sama halnya yang dilakukan Guru di SLB Mandara dimana mereka memberikan penuh perhatian dalam pengamatan agar siswa berkebutuhan khusus tetap menigkatkan proses kreativitas mereka. . Berdasarkan hasil Wawancara dapat diketahui bahwa : “Setiap proses pembelajaran guru tetap melakukan evaluasi ketika proses pembelajaran selesai gunanya untuk mengetahui apakah siswa bisa atau mungkin sama sekali belum bisa dalam penerapan membaca yang dilakukan pada saat proses pembelajaran”. Pada dasarnya tindakan guru di SLB Mandara sangat mengupayan agar siswa tunanetra yang memiliki keterbatasan dalam membaca tetap menggunakan media-media yang telah di siapkan. Dengan mengadakan gerakan literasi media disekolah sebanyak 1-2 kali dalam sebulan dan adanya Buku Braille dan Alat Reglet mereka tetap bisa membaca dengan mengembangkan keativitas dalam kondisi yang sangat kekurangan. Hal ini sudah sesuai dengan pernyaataan Hobbs, 2010 bahwa perlunya kemampuan literasi media terkait dalam hal Tindakan terkait dengan memecahkan masalah dalam pengamatan siswa berkebutuhan khusus. Hal ini juga sesuai dengan pernyataan penelitian terdahulu menurut Tita Melia Milyane, 2020 terkait tentang konsep literasi media yang lebih menekankan tindakantindakan yang merujuk pada literasi media.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian diatas serta hasil observasi dan wawancara keseluruhan, sesuai dengan rumusan masalah yang di angkat peneliti ini, yang menjadi konsep dan acuan untuk merumuskan rumusan masalah dari judul penelitian yaitu “Kemampuan Literasi Media siswa Tunanetra sekolah dasar SLB Mandara Sebagai Upaya Mendukung Pengembangan Membaca Di Kalangan Anak-Anak”. Menurut Hobbs (2010) tentang kompetensi Esensial dari literasi media pada anak berkebutuhan khusus, khususnya anak jenis kecacatan Tunanetra dimana memiliki 5 bagian yaitu : Mengakses, Analisis, Penciptaan , Refleksi, Tindakan Maka penulis dapat menarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Mengakses yang berkaitan Dengan Literasi Media pada SLB Mandara sudah sesuai dengan pernyataan Hobbs (2010) bahwa pada disabilitas terkhusunya SLB Mandara penerapan metode pembelajaran guru telah menerapkan metode belajar dengan menggunakan media Braille dan alat media Reglet, untuk memudahkan proses kegiatan belajar mengajar di SLB Mandara terkhususnya anak dengan jenis kecacatan Tunanetra6. 2. Analisis yang berkaitan dengan Literasi Media pada SLB Mandara sudah sesuai dengan pernyataan Hobbs (2010) bahwa pada tahapan analisis guru telah memberikan kepada siswa Tunanetra tahapan-tahapan yang sederhana seperti melakukan game, bernyanyi, dan selalu menanyakan kabar siswa agar dapat meganalisis perkembangan tingkah laku anak pada saat proses pembelajaran7. 3. Penciptaan yang berkaitan pada Literasi Media di SLB Mandara belum sesuai dengan pernyataan Hobbs (2010) teknik metode pembelajaran yang mengaitkan media-media yang dilakukan pada SLB Mandara untuk menumbuhkan kreativitas dan kepercayaan diri pada siswa Tunanetra masi kurang, dalam hal dukungan dari orang tua siswa8. 4. Refleksi yang berkaitan pada Literasi Media sudah sesuai dengan pernyataan Hobbs (2010) bahwa literasi media dalam hal ini proses metode pengajaran yang di pakai telah berhasil namun, upaya membangun minat membaca, kreativitas siswa Tunanetra dengan menggunakan media Braille dan alat Reglet. Guru SLB Mandara harus lebih mengembangkan kreativitas terkait literasi media dengan melihat kondisi-kondisi siswa yang tidak menentu9. 5. Tindakan yang berkaitan dengan Literasi Media sudah sesuai dengan pernyataan Hobbs (2010) bahwa Literasi Media di sekolah SLB Mandara untuk mendungkung pengembangan membaca pada anak. Terkait dalam hal tersebut SLB Mandara telah mengadakan kegiatan literasi dengan menggunakan media-media khusus Tunanetra 1-2 kali dalam sebulan untuk meningkatkan kreativitas membaca siswa Tunanetra10. Dari kesimpulan yang telah diuraikan, dirasa perlu kiranya penulis memberikan sumbangan pemikiran berupa saran bagi pihak guru atau pihak sekolah agar menjadi pertimbangan dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan kemampuan membaca dalam menumbuhkan kemampuan literasi media siswa Tunanetra pada SLB Mandara kota kendari, saran tersebut yaitu: