PERKEMBANGAN KEPUSTAKAWANAN ISLAM KLASIK DAN KONTRIBUSINYA BAGI PERPUSTAKAAN MASA SEKARANG
Institut Agama Islam Negeri Curup; Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana perkembangan kepustakawanan Islam klasik dan bagaimana kontribusinya bagi perkembangan perpustakaan di masa sekarang. Metode yang di gunakan dalam pembuatan artikel ini adalah metode literatur dengan menggunakan beberapa sumber buku dan Jurnal-jurnal mengenai perkembangan perpustakaan pada islam klasik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pada masa kejayaan Islam, perpustakaan menjadi sarana belajar sehingga membuat umat Islam di masa itu mampu membangun sebuah peradaban besar dan bertahan hingga berabad-abad lamanya. Perkembangan perpustakaan ada dan muncul karena adanya kecintaan akan buku-buku dan ilmu pengetahuan oleh para raja-raja dan bangsawan serta kaum intelektual terdahulu. Dengan adanya kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan maka muncullah namanya perpustakaan sebagai salah satu pusat pendidikan. Berdasarkan dimensi sejarahnya, kontribusi perpustakaan pada masa klasik terhadap perpustakaan yang berkembang dimasa sekarang tentunya memiliki kontribusi yang sangat besar dalam memajukan peradaban dunia di masa sekarang ini. Kontribusinya meliputi berbagai segi baik manusianya, koleksinya, maupun bentangan sejarahnya yang masih dipelajari hingga sekarang ini.
Abstract
This study aims to analyze how the development of classical Islamic librarianship and how it contributes to the development of libraries in the present. The method used in making this article is the method of literature using several sources of books and journals on the development of libraries in classical Islam. The results showed that during the heyday of Islam, the library became a learning tool so that the Muslims at that time were able to build a great civilization and survive for centuries. The development of the library exists and arises because of the love of books and science by the kings and aristocrats and former intellectuals. With their love of science, the name of the Library as a center of education emerged. Based on the historical dimension, the contribution of the library in the classical period to the library that developed in the present certainly has a very large contribution in advancing world civilization today. His contributions include various aspects of both his people, collections, and the historical landscape that is still studied until now.
Keywords:
Kepustakawanan Islam klasik
· Perpustakaan masa sekarang
Introduction
Pada masa kejayaan Islam, perpustakaan menjadi sarana belajar sehingga membuat umat Islam di masa itu mampu membangun sebuah peradaban besar di Jazirah Arab yang bertahan hingga berabad-abad lamanya. Perkembangan Perpustakaan tidak terlepas dari masa kerajaan-kerajaan yang berjaya pada masa itu. Perkembangan perpustakaan muncul karena adanya kecintaan akan buku-buku dan ilmu pengetahuan oleh para raja-raja dan bangsawan serta kaum intelektual terdahulu. Dengan adanya kecintaan mereka terhadap ilmu pengetahuan maka muncullah namanya Perpustakaan. Ketika itu Baghdad menjadi salah satu tempat pengembangan ilmu pengetahuan dan kebudayaan Islam yang maju dan berkembang pada masa itu. Perkembangan perpustakaan pada masa Islam mengalami dua fase, yakni fase kemajuan dan fase kemunduran. Kemajuan umat Islam terjadi pada tahun 650-1250 M yang ditandai dengan meluasnya kekuasaan Islam dan adanya penyatuan wilayah sehingga berkembanglah ilmu pengetahuan baik dalam bidang sains dan ilmu pengetahuan lain. kemudian pada fase kemunduran terjadi pada tahun 1250-1500 yang ditandai dengan terpecahnya kekuasaan Islam dan mulai menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang terpisah (Winarto, 2010). Kemajuan peradaban Islam berkaitan dengan kemajuan seluruh aspek atau bidang-bidang keilmuan. Pada masa klasik (650-1250 M) keilmuan Islam berkembang pesat baik dalam pemikiran maupun peradaban Islam yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti motivasi internal Islam itu sendiri, maupun para khalifah yang cinta ilmu. Bukan hanya pada ilmu agama, namun juga ilmu-ilmu umum sehingga ilmu pengetahuan terus berkembang disertai dengan munculnya perpustakaan pada masa kejayaan Islam (Masruri, 2006). Jadi dari penjelasan diatas dapat dikatakan bahwa perkembangan perpustakaan mempunyai 2 fase yaitu kemajuan dan kemunduran. Fase tersebut terjadi pada masa Dinasti Umayyah dan Abasiyyah, yang mana pada masa ini telah banyak didirikannya perpustakaan. Hal ini dilatarbelakangi karena adanya kaum intelektual yang sudah paham dan cinta terhadap ilmu pengetahuan. Ilmu-ilmu yang berkembang bukan hanya ilmu agama melainkan ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Syihabuddin Qolyubi dkk meyebutkan bahwa ada tiga fase penting dalam sejarah perpustakaan islam klasik, yaitu: Fase pertama, perintisan perpustakaan saat datang wahyu Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW tentang perintah “iqro”, kemudian perintah Nabi Muhammad SAW kepada para sahabat untuk menulis Al-Qur’an, sebagai mushaf pribadi, yang mana, dari mushaf-mushaf tersebut kemudian menjadi cikal bakal mushaf Utsmani, mushaf ini dibuat pada masa pemerintahan Khalifah Utsman Bin Affan. Fase kedua adalah masa pembentukan dan pembinaan perpustakaan. Pada fase ini ditandai dengan lahirnya kodifikasi Al-Qur’an, Al-Hadits, dan penerjemahan karya dari Persia dan Yunani, serta ditemukannya teknologi kertas yang menggantikan papirus dan kulit. Sehingga perpustakaan Islam klasik mencapai kejayaan saat Al-Ma’mun (815M) dari dinasti Abbasiyah mengembangkan lembaga pendidikan bait Al-Hikmah yang menjadi perpustakaan pertama yang dibuka untuk umum. Bait Al-Hikmah mempunyai koleksi yang dihimpun dari Persia, Bizantium, Etiopia dan India. Perpustakaan tersebut sekaligus menjadi pusat kegiatan studi, riset astronomi dan matematika. Fase ketiga adalah kemunduran perpustakaan Islam klasik. Di samping perpustakaaan bait Al-Hikmah, muncul juga perpustakaan pribadi milik bangsawan, saudagar dan cendekiawan. Seperti pendapat Mehdi Nakosteen yang dikutip Saefudin mencatat ada 36 perpustakaan di Baghdad sebelum diluluhlantakkan oleh pasukan Hulagu dari Mongol, diantaranya, (1) Pepustakaan Bait Al-Hikmah, (2) Perpustakaan Umar Al-Waqidi yang diperkirakan memiliki 320 ekor unta beban buku-buku, (3) Perpustakaan Dar Al-Ilm, (4) Perpustakaan Nizamiyah, (5) Perpustakaan Madrasah Mutansyiriyah, (6) Perpustakaan Al-Baiqani, (7) Perpustakaan Muhammad Ibn-Husain dan (8) Perpustakaan Ibn Kamil (Qolyubi & Dkk, 2007). Dalam sejarah peradaban Islam, ada dua kerajaan yang paling menonjol pada saat masa keemasan Islam yaitu kerajaan Umayyah di Spanyol yang berlangsung kurang lebih delapan abad dan kerajaan Abbasiyah di Baghdad yang berlangsung selama kurang lebih lima abad, dan merupakan kerajaan yang mewakili kejayaan negara Islam di Timur dan Barat (Langgulung, 2004). Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan dan perpustakaan pada masa klasi itu sendiri ialah yang mana : Pada masa Daulah Umayyah yaitu : 1. Konflik internal di kalangan umat muslim. Adanya konflik politik dan propaganda yang telah banyak mempengaruhi nasib perpustakaan. Penghancuran dan pembakaran buku-buku dan penjualan dengan harga sangat murah serta banyak koleksi-koleksi istana telah menyebar di seluruh Spanyol. 2. Pencurian koleksi perpustakaan. Pencurian ini bukan hanya oleh pengunjung perpustakaan tetapi juga oleh petugas sendiri. Perugas yang diangkat terdesak oleh kebutuhan hidup, lalu mengambil koleksi-koleksi manuskrip yang sangat berhjarga untuk dijual. 3. Persoalan pribadi atau keluarga. Persoalan pribadi atau keluarga menjadi faktor kemunduran perpustakaan di dunia Islam, terutama pada perpustakaa-perpustakaan khusus (pribadi). Adapun yang mempengaruh kemunduruan pada masa Daulah Abasiyyah yaitu : 1. Konflik dan serangan terhadap Baghdad. Adanya penyerangan terhadap Baghdad, umat Islam dibunuh tanpa sisa, segala macam peradaban dan pusaka yang telah dibuat beratus-ratus tahun lamanya, kitab-kitab yang dikarang oleh para ilmuan dibuang ke laut. 2. Serangan tentara Salib. Perang salib ini bermula dari penyerbuan Tentara Romawi, Gergia, dan Perancis yang dipimpin oleh Raja Armanus (Raja Romawi) ke wilayayh muslim. 3. Invasi pasukan Tartar. Penyerangan pasukan Tartar yang dipimpin Hulaghu Khan menyerbu kota Baghdad dengan melakukan perampasan, pembakaran penghancuran, dan pembunuhan massal. 4. Bencana alam seperti gempa bumi, banjir dan sebagainya yang dapat merusak dan melenyapkan bahan pustaka itu sendiri (Sunanto, 2003). Jadi dari pembahasan diatas dapat dikatakan bahwa perkembangan perpustakaan pada masa klasik sudah di mulai pada masa Daulah Umayyah dan Daulah Abasiyyah, yang mana pada Daulah Umayyah ilmu pengetahuan belum terlalu berkembang pesat seperti yang ada pada Daulah Abasiyyah. Pada masa perkembangannya juga pada kedua masa itu memiliki kemajuan dan kemunduran serta mempunyai faktor tersendiri terhadap masing-masing masanya, baik dari Daulah Umayyah maupun Daulah Abasiyyah. Pada masa kejayaannya, perpustakaan-perpustakaan pada waktu itu sudah banyak mempunyai koleksi-koleksi. Koleksi tersebut didapatkan dan diolah dengan sistem perpustakaan yang digunakan pada masa itu. Dengan demikian dapat dipahami bahwa perpustakaan pada masa tersebut menjadi culture center terpenting, yaitu pada masa pemerintahan Abbasiyah, hasil karya terjemahan dan karang mengarang mengalami perkembangan, produksi kertas mengalami kemajuan dan penyalinan serta penterjemahan buku berkembang (Mustofa, 2018). Dari pembahasan diatas juga dikatakan bahwa perpustakaan pada masa Islam klasik juga sudah mengalami perkembangan yang bagus, hal tersebut terbukti dengan adanya perpustakaan-perpustakaan besar seperti Bayt Al-Hikmah, Perpustakaan Madrasah dan Perpustakaan Masjid, dan Sebagainya. Dengan demikian berarti pada masa islam klasik sudah mengenal tulisan, kertas, ilmu pengetahuan dan sebagainya, hanya saja perpustakaan pada masa islam klasik belum menggunakan teknologi seperti sekarang ini, pada masa islam klasik perpustakaan nya hanya menggunakan fasilitas yang ada atau seadanya saja. Jadi penulis di sini tertarik untuk menulis artikel tentang pengaruh perkembangan perpustakaan pada masa islam klasik dengan perpustakaan pada masa sekarang. Berdasarkan uraian di atas, maka yang menjadi rumusan dalam tulisan ini adalah Bagaimana perkembangan perpustakaan pada masa Islam klasik ?; Bagaimana sistem pengelolaan yang ada di Perpustakaan pada masa Islam klasik ?; Bagaimana kontribusi perpustakaan Islam klasik bagi perpustakaan pada masa sekarang ? Adapun tujuan dari penulisan artikel ini adalah 1) Untuk menganalisis Perkembangan perpustakaan pada masa islam klasik; 2) Untuk menganalisis bagaimana sistem pengelolaan yang di gunakan perpustakaan islam klasik; dan 3) Untuk menganalisis bagaimana kontribusi perpustakaan Islam klasik bagi perpusta-kaan sekarang.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan kajian pustaka/ studi literatur yang berkaitan dengan pendidikan Islam di Indonesia. Dengan kata lain, istilah Studi Literatur ini juga sangat familiar dengan sebutan studi pustaka. Ada beberapa metode yang dapat dilakukan untuk melakukan Studi Literatur, seperti mengupas (criticize), membandingkan (compare), meringkas (summarize), dan mengumpulkan (synthesize) suatu literatur. Dengan demikian, metode yang digunakan dalam tulisan ini yaitu studi literatur dengan menitikberatkan pada segi mengupas, meringkas dan mengumpulkan suatu literatur, kemudian diberikan analisis terhadap data yang telah dikumpulkan.
Discussion
1. Perkembangan Perpustakaan Pada masa Islam Klasik Kemajuan peradaban Islam berkaitan dengan kemajuan seluruh aspek atau bidang-bidang keilmuan. Pada masa klasik (650-1250 M) keilmuan Islam berkembang pesat baik dalam pemikiran maupun peradaban Islam yang disebabkan oleh beberapa hal, seperti motivasi internal Islam itu sendiri, maupun para khalifah yang cinta akan ilmu pengetahuan. Bukan hanya pada ilmu agama, namun juga ilmu-ilmu umum sehingga ilmu pengetahuan terus berkembang disertai dengan munculnya perpustakaan pada masa kejayaan Islam(Masruri, 2006). Pada masa pemerintahan Abbasiyah, berdiri sebuah tempat penyimpanan koleksi yang didirikan oleh Harun Al-Rosyid yang merupakan perpustakaan terbesar dimasa itu. perpustakaan ini bernama Bayt Al-Hikmah dan bertahan hingga tahun 1258 M setelah adanya penyerangan dari bangsa Mongol ke Baghdad. Perpustakaan Bayt al-Hikmah ini didirikan oleh khalifah Harun al-Rasyid, dan kemudian menjadi besar pada masa khalifah al-Ma’mun. Perpustakaan ini lebih menyerupai sebuah universitas yang di dalamnya terdapat banyak buku. Bayt al-Hikmah pada masa kejayaannya telah menjadi pusat studi di mana para cendikiawan dan pecinta ilmu berkumpul untuk berdiskusi, muthala’ah, menerjemah, dan menyalin buku. Dengan adanya perpustakaan terbesar Bayt Al-Hikmah menjadi salah satu bukti bahwa perkembangan dunia perpustakaan pada masa klasik sudah sangat maju, dengan koleksi yang sangat banyak serta bukan hanya membahas ilmu agama saja melainkan juga sudah mencangkup ilmu-ilmu pengetahuan yang lainnya. Artinya bahwa pada masa islam klasik banyak masyarakat nya sudah mengenal adanya tulisan dan pendidikan dan hal tersebut lahir karena adanya kecintaan kaum intelektual atau para pemimpin dan bangsawan pada masa itu terhadap ilmu pengetahuan. 2. Sistem Pengelolaan di Perpustakaan Islam Klasik Di seluruh wilayah Islam saat itu tersebar berbagai macam ilmu pengetahuan, seperti filsafat, matematika, kedokteran, teknik astronomi dan lain-lain. Disamping itu kesungguhan kaum Muslimin terhadap ilmu tampak dalam pengaturan perpustakaan, pusat-pusat penjualan kitab, jadwal diskusi dan penelitian serta kegiatan-kegiatan rutin yang mereka lakukan. Untuk itu mereka memerlukan sistem yang dapat memudahkan pengguna dalam memilah-milah dan mengelompokkan bahan pustaka sekaligus sebagai pemberi tanda/indikator bagi setiap bahan pustaka itu sehingga menjadi mudah untuk dicari dan ditemukan. Sistem yang digunakan pada masa itu ialah klasifikasi yang mana klasifikasi ini berfungsi untuk membagi bahan-bahan pustaka yang ada menjadi berbagai kelompok sesuai dengan tema, judul, penulis, dan/atau parameter-parameter lainnya yang akan memudahkan penempatan bahan-bahan pustaka tersebut dalam rak-rak buku, serta untuk memudahkan proses penemuan buku-buku tersebut ketika dibutuhkan. Dalam perpustakaan dibuat beberapa ruangan, (1) untuk diskusi, (2) untuk pengkajian dan penelitian, (3) untuk menyalin, (4) untuk membaca, bahkan ada pula yang menyediakan (5) ruang untuk latihan musik. Dalam rak-rak perpustakaan, kitab-kitab itu tersusun berdasarkan sistem klasifikasi tertentu menurut temanya masing-masing (Alyan, 1999). Dengan adanya klasifikasi pengguna perpustakaan akan mudah untuk menemukan bahan pustaka yang dibutuhkan, selain klasifikasi pada perpustakaan masa islam klasik juga sudah dipergunakannya katalog, walaupun klasifikasi dan katalog yang digunakan bukanlah klasifikasi yang di gunakan pada masa sekarang. klasifikasi yang digunakan pada masa itu ialah karya Ibn Nadim. Ibn Nadim menyusun karyanya tersebut didasarkan atas nama pengarang yang diikuti dengan nama- nama kitab atau judul-judul karangannya. Di samping itu ia juga menerangkan tentag riwayat kehidupan pengarang buku, asal usul, negeri tempat tinggal dan jasa-jasanya. Kitab ini menurut Abdul hadi sejak awal penulisannya telah berkali-kali di revisi oleh pengarangnya dan diperluas isinya (Rifai, 2006). Jadi klasifikasi dan katalog sebenarnya sudah ada sejak perkembangan pada masa Islam klasik, Klasifikasi dan katalog yang ada di buat dengan sistem dan bahan yang ada pada masa itu. Selain itu juga pada Perpustakaan masa Islam klasik telah adanya sistem penerjemahan, penyalinan dan kegiatan-kegiatan pengumpulan koleksi sudah ada pada saat itu sehingga dapat menambah adanya pembukuan bagi perpustakaan tersebut, selain itu juga pembukuan dan etika dalam peminjaman buku sudah ada sesuai aturan pada perpustakaan tersebut, dan dibantu juga dengan pustakawan pada masa itu yang di sebut juga dengan Khazin dan Munawil. 3. Kontribusi Perpustakaan Pada Islam Klasik Terhadap Perpustakaan Sekarang Perpustakaan dalam sejarah Islam sangat penting, Keberadaannya sangat sulit dipisahkan dari perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan dan peradaban Islam terutama pada abad 8-10 M. Secara hipotetis dapat dikatakan bahwa jika tidak ada perpustakaan di masa tersebut maka ilmu pengetahuan dan peradaban tidak akan mengalami kemajuannya, atau setidak-tidaknya perkembangan ilmu akan berjalan sangat lambat dan tersendat-sendat jika tidak ada perpustakaan(Saepudin, 2016). Sejarah pertumbuhan dan perkembangan perpustakaan pada masa klasik menunjukkan hal yang sangat fenomenal dengan berdirinya perpustakaan di wilayah kekuasaan Islam, baik di kota besar maupun kecil. Perpustakaan bahkan menjadi lambang kebanggaan para khalifah (pemegang kekuasaan). Perkembangan perpustakaan di dunia Islam juga memiliki hubungan yang erat dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Perpustakaan merupakan basis bagi tradisi intelektual yang berlangsung di dunia Islam (Agus Rifai, 2010). Hal ini menunjukkan bahwa perpustakaan pada masa Islam klasik mempunyai peran yang sangat strategis dalam menunjang perkembangan Islam selanjutnya. Perpustakaan pada masa itu berperan sebagai penyedia informasi ilmu pengetahuan untuk memenuhi kebutuhan para penggunanya yaitu masyarakat Islam. Selain itu juga dengan adanya perpustakaan adanya juga pustakawan yang bertugas mengelola perpustakaan tersebut sehingga perpustakaan tersebut dapat berjalan dengan semestinya sesuai dengan perkembangan zaman. Fungsi Perpustakaan dalam sejarah Islam adalah pertama, tempat mencari bahan referensi bagi para penuntut ilmu di berbagai tingkat pendidikan; kedua, bahan kajian para intelektual Islam; ketiga, pusat penyimpanan buku-buku dan manuskrif berharga karya ilmuan, keempat, sebagai tempat pertemuan untuk kepentingan diskusi ilmiah dan debat intelektual, dan kelima, menjadi simbol kembanggaan khalifah dan penguasa setempat (Saepudin, 2016). Lebih lanjut Agus Rifai mengutip hadis Nabi Muhammad Saw yang berbunyi: “Jadilah engkau orang yang menyebarkan ilmu atau orang yang belajar ilmu pengetahuan atau jadilah pendengar atau pecinta terhadap ilmu pengetahuan, dan janganlah menjadi orang yang kelima karena engkau akan binasa” (Rifai, 2007). Hadits diatas memberikan pemahaman bahwa kita diajarkan untuk mempelajari ilmu pengetahuan, menyebarkan ilmu, serta mencari dan mencintai ilmu pengetahuan. Maka dari itu seorang pustakawan harus memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna karena dengan hal tersebut termasuk kedalam menyebarkan ilmu pengetahuan kepada orang lain. Dalam perkembangan perpustakaan pada masa klasik perpustakaan sudah dapat dikatakan maju pada zamannya, hal tersebut terbukti dengan adanya perpustakaan terbesar pada zaman daulah Abasiyyah dan bahan koleksi nya pun sudah sangat banyak. Perpustakaan mempunyai peran penting dalam mencerdaskan kehidupan anak bangsa, baik di negara maju maupun negara berkembang. Keberadaan perpustakaan merupakan keniscayaan dalam kemajuan peradaban dan kebudayaan umat manusia. Juneti mengatakan bahwa Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi, ilmu pengetahuan, teknologi, kesenian, dan kebudayaan(Junaeti & Arwani, 2016). Berdasarkan penjelasan di atas, ada banyak sekali peran perpustakaan pada masa peradaban Islam, antara lain sebagai: 1) Pusat belajar atau learning center.Setelah masa Khulafaur Rasyidin, peradaban Islam dengan cepat berkembang, salah satunya pada bidang pendidikan yang mencapai puncaknya pada masa Umayyah dan Abbasiyah. Pada saat itu, apresiasi umat Islam terhadap perpustakaan sangat tinggi. Banyak ulama yang membangun perpustakaan, baik yang bersifat umum, maupun semi umum dan pribadi. Hampir setiap masjid kemudian memiliki perpustakaan. Umat Islam yang hidup pada masa itu menganggap perpustakaan sebagai sesuatu hal yang sangat penting, sehingga kadang fungsinya sulit dibedakan dengan fungsi lembaga pengajaran atau pendidikan. 2) Pusat penelitian. Peran perpustakaan sebagai pusat penelitian lebih dirasakan pada masa awal peradaban Islam. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya peristiwa-peristiwa penting, misalnya saat utusan atau orang kepercayaan raja dan khalifah membahas bidang keilmuan tertentu di perpustakaan-perpustakaan terkenal, seperti Baitul Hikmal dan Darul Hikmah. Banyak pula peneliti maupun cendekiawan muslim yang mencoba untuk mengembangkan ilmu pengetahuan di perpustakaan. Tidak sedikit dari mereka yang rela berpindah dari satu perpustakaan ke perpustakaan lain hanya untuk menemukan rujukan atas penemuan-penemuan baru. 1) Pusat penerjemahan. Perpustakaan pada masa kejayaan Islam menjadi jembatan bagi kebudyaaan yang berbeda. Salah satu wujud peran tersebut adalah ketika banyak buku – buku atau karya penulisan berbahasa Yunani, Persia, dan yang lainnya dialihbahasakan ke dalam bahasa Arab. Pada masa tersebut, penerjemah mendapat tempat istimewa dan sangat dihormati oleh masyarakat. Kurd Ali mengungkapkan bahwa orang yang pertama kali menekuni bidang penerjemahan adalah Chalid ibn Jazid. Banyak sumber lain yang juga menyebut bahwa Chalid ibn Jazid memiliki ketertarikan yang sangat besar terhadap buku-buku lama, khususnys buku-buku yang membahas bidang kimia, kedokteran serta ilmu perbintangan atau astronomi (Afrizal, 2017). Dengan adanya perpustakaan pada masa Islam klasik hal tersebut menjadi contoh bagi perpustakaan pada masa sekarang, yang mana kita ketahui bahwa perpustakaan sudah berkembang pesat sejak dahulu hingga saat ini, hanya saja pada masa Islam klasik perpustakaan yang ada tersebut masih menggunakan metode-metode manual dan perlengkapan seadanya sedangkan pada masa sekarang perpustakaan sudah menggunakan kecanggihan dari teknologi informasi yang telah ada. Juga dengan pembukuan dan klasifikasi hingga katalogisasi semuanya sudah ada sejak dulu dan masih ada sampai sekarang. Sejarah Islam membuktikan bahwa perpustakaan memiliki kontribusi sangat penting di dalam perkembangannya. Hal itu terjadi tidak lain karena perpustakaan menyimpan berbagai informasi dan referensi ilmu pengetahuan. Hal ini sesuai dengan perpustakaan itu sendiri yaitu hasil budaya dan catatan (record) perjalanan ummat manusia. Kontribusi tersebut dibuktikan dengan lahirnya beberapa karya ilmuwan Islam yang sangat monumental dalam sejarah perkembangan peradaban Islam hingga sekarang ini. Perpustakaan sebagai pusat penelitian bisa kita lihat salah satunya dengan munculnya Avicenna sebagai salah satu tokoh penting di dunia kedokteran modern. Dirinya dikenal banyak melakukan penelitian maupun pengumpulan bahan di perpustakaan yang dia kunjungi, terutama di Bukhara. Perpustakaan sebagai pusat penelitian masih dilakukan hingga saat ini, terbukti dengan banyaknya pelajar yang memanfaatkannya untuk mencari sumber referensi untuk karya yang akan mereka hasilkan. Pada masa kejayaaan Islam, alat atau mesin pencetak buku belum ditemukan. Hal itu membuat proses seleksi penyalinan dilakukan oleh hampir setiap perpustakaan besar. Pekerjaan penyalinan buku dilakukan oleh para penyalin yang memiliki tulisan tangan baik dan memiliki etoskerja tinggi. Oleh karena itulah, kehancuran perpustakaan Islamdimulai ketika terjadi banyak perang yang mengakibatkan tidak sedikit para penyalin buku yang gugur di medan perang. Misalnya saja terjadinya Perang Salib yang kemudian membuat kehancuran perpustakaan Tripoli. Selain Al Qur’an, penghancuran perpustakaan tripoli juga menyasar karya-karya cendekiawan muslim terkenal. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa kepustakawanan Islam klasik memiliki kontribusi yang besar dalam perkembangan peradaban dan perpustakaan di masa sekarang ini. Berapa banyak hasil-hasil karya masa lalu yang monumental masih digunakan pada sekarang ini.
Conclusion
Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa perkembangan perpustakaan sudah di mulai sejak dahulu yaitu pada masa islam klasik, dan perpustakaan adalah salah satu tempat atau unsur penting dalam mencari informasi, mengembangkan ilmu pengetahuan, penelitian serta melakukan proses penerjemahan. Sistem yang di gunakan oleh perpustakaan pada islam klasik juga tidak jauh beda dari yang ada pada masa sekarang seperti dengan adanya klasifikasi, katalogisasi, pengadaan koleksi, hingga peran pustakawan yang membantu pemustakanya dalam mencari informasi yang dibutuhkan. Perpustakaan pada masa islam klasik dapat memberi contoh dan teladan bagi perpustakaan yang ada pada saat ini, hanya saja pada masa islam klasik teknologi yang ada belum seperti teknologi saat ini sehingga pada masa itu hanya menggunakan perlengkapan dan bahan yang sederhana.