Kembali
16
1
2023 Jupiter Vol 18 · 1 ISSN 2777-046X

Filsafat Eksistensialisme dan Relevansinya dengan Perpustakaan Berbasis Komunitas di Indonesia

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Maraknya keberadaan perpustakaan komunitas disebabkan oleh adanya beberapa kalangan masyarakat yang memiliki minat serta kecintaan terhadap buku dan literasi. Melalui tulisan ini, penulis ingin mengetahui mengenai relevansi antara perpustakaan berbasis komunitas di Indonesia dan salah satu aliran dalam filsafat yaitu eksistensialisme yang notabene merupakan bentuk aliran kebebasan dalam artian tidak terikat oleh norma maupun aturan tertentu. Kajian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Tulisan ini merupakan studi pustaka. Dengan memanfaatkan berbagai sumber rujukan untuk memperoleh data. Hasil penelitian menunjukan terdapat dua relevansi antara perpustakaan komunitas dan eksistensialisme, pertama, eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern dapat ditinjau dari latar belakang kemunculannya akibat ketidakpuasan terhadap perpustakaan umum yang keberadaannya belum mampu untuk menarik minat kunjung terhadap perpustakaan serta meningkatan minat baca masyarakat maka perpustakaan komunitas menjemput bola dengan hadir ditengah masyarakat. Kedua, eksistensialisme menekankan keunikan sementara itu, perpustakaan komunitas hadir dengan beberapa nama atau istilah seperti taman bacaan masyarakat, rumah baca, sanggar baca, pojok baca, dan lain-lain. Selain itu, keunikan lain diwujudkan dalam tidak adanya denda dalam peminjaman, tidak memerlukan kartu anggota perpustakaan, dan semua koleksi dapat dipinjam tanpa terkecuali.

Abstract

The widespread existence of community libraries is due to the existence of several groups of people who have an interest and love for books and literacy. Through this article, the author wants to know about the relevance between community-based libraries in Indonesia and one of the schools of philosophy, namely existentialism, which in fact is a form of freedom in the sense of not being bound by certain norms or rules. This study uses descriptive qualitative methods. This article is a literature study. By utilizing various reference sources to obtain data. The research results show that there are two relevances between community libraries and existentialism, first, existentialism is a rebellion and protest against rationalism and modern society which can be seen from the background of its emergence due to dissatisfaction with public libraries whose existence has not been able to attract interest in visiting libraries and increase people's interest in reading. So the community library picks up the ball by being present in the community. Second, existentialism emphasizes uniqueness. Meanwhile, community libraries come with several names or terms such as community reading parks, reading houses, reading studios, reading corners, and so on. Apart from that, another unique feature is that there are no fines for borrowing, no library membership card is required, and all collections can be borrowed without exception.
Keywords: Existentialism · Community Library

Introduction

Fenomena kemunculan perpustakaan berbasis komunitas ini secara umum dikarenakan adanya beberapa kalangan masyarakat yang memiliki minat serta kecintaan terhadap buku dan literasi. Selain itu mereka juga ingin mengembangkan minat baca masyarakat perkotaan maupun masyarakat pedesaan. Perpustakaan berbasis komunitas ini dalam memberikan pelayanan kepada masyarkat tentu sangat berbeda jauh dengan perpustakaan umum yang dinaungi oleh pemerintah. Perpustakaan komunitas ini cenderung membebaskan dalam arti tidak memiliki aturan yang bersifat kaku bagi pengguna untuk memanfaatkan layanan yang telah disediakan oleh mereka. Persoalan pada dunia keperpustakaan tidak semuanya bisa dipecahkan dengan keilmuan perpustakaan itu sendiri, perlu adanya cabang ilmu lain untuk menjawab persoalan tersebut. Salah satu cabang ilmu tersebut yaitu filsafat. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), filsafat memiliki pengertian sebagai pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Filsafat sendiri memiliki beberapa cabang lagi. Salah satu diantaranya yaitu aliran eksistensialisme. Secara istilah eksistensialisme merupakan aliran filsafat yang pahamnya berpusat pada individu manusia yang bertanggungjawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. 1 Berdasarkan uraian singkat diatas, maka penulis ingin mengetahui mengenai relevansi antara perpustakaan berbasis komunitas di Indonesia dan salah satu aliran dalam filsafat yaitu eksistensialisme. Karena jika ditinjau dari karakteristik keduanya memiliki kesamaan yaitu kebebasan. Tujuan dari penulisan artikel ini yaitu untuk memberikan gambaran kepada pembaca tentang relevansi keberadaan perpustakaan komunitas di Indonesia dan filsafat eksistensialisme.

Method

Kajian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Oleh karena itu, hasil pada makalah ini bukan berupa pengukuran atau angka. Menurut Strauss dan Corbin dalam Afrizal penelitian kualitatif merupakan jenis penelitian yang temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau hitungan lainnya.2. Tulisan ini merupakan studi pustaka. Dengan memanfaatkan berbagai sumber rujukan untuk memperoleh data.

Result & Discussion

1. Perpustakaan Berbasis Komunitas Secara konsep, keberadaan suatu komunitas berguna sebagai wadah bagi beberapa kalangan masyarakat untuk saling bertukar fikiran, informasi, serta penyaluran hobby. Dalam sebuah komunitas, biasanya para anggota saling berkomunikasi dan berkontribusi dengan tujuan mengembangkan komunitas mereka. Menurut Crow dan Allan, sebuah komunitas dibagi menjadi tiga komponen yaitu:3 a. Berdasarkan lokasi dan tempat komunitas, berkumpulnya komunitas pada suatu lokasi dan tempat. b. Berdasarkan minat, terbentuknya suatu komunitas ini didasari karena adanya sekelompok orang yang memiliki ketertarikan serta minat yang sama. c. Berdasarkan komuni, komuni dalam pengertiannya dapat berarti ide atau dasar pemikiran yang melandasi terbentuknya komunitas tersebut. Perpustakaan berbasis komunitas sudah ada sejak pada tahun 1970, namun lebih digunakan sebagai media bisnis seperti, persewaan buku berbayar. Kemudian pada tahun 1980 perpustakaan berbasis komunitas hadir dengan konsep untuk fokus meningkatkan minat baca anak-anak.4 Keberadaan perpustakaan berbasis komunitas ini tidak dijelaskan pada Undang-Undang, Namun perpustakaan komunitas ini digolongkan sebagai perpustakaan khusus sebagaimana tertulis pada UU Nomor 43 Tahun 2007, Pasal 25 bahwa perpustakaan khusus menyediakan bahan perpustakaan sesuai dengan kebutuhan pemustaka di lingkungannya. Tidak sedikit berdirinya perpustakaan komunitas dilatar belakangi atas ketidakpuasan pada layanan perpustakaan umum yang dinilai belum mampu untuk menarik masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Lebih lanjut perpustakaan dianggap sebagai tempat yang kaku, serius, dan tidak menarik dikunjungi.5 Oleh karena itu, muncul sebuah perpustakaan komunitas untuk memberikan alternatif selain perpustakaan umum bagi masyarakat. Pendekatan dalam pembangunan perpustakaan yang dilakukan oleh masyarakat atau komunitas tidak dilakukan secara struktural dan birokratis melainkan melalui pendekatan kultural yang cair. Selain itu dalam hal pengelolaan perpustakaan berbasis komunitas lebih bersifat independen dalam artian tidak bergantung pada pemerintah.6 Seiring perkembangannya, perpustakaan komunitas mempunyai beberapa nama atau istilah seperti taman bacaan masyarakat, rumah baca, sanggar baca, pojok baca, dan lain-lain. Penggunaan berbagai macam istilah ini menunjukan bahwa pegiat perpustakaan komunitas ini ingin menghadirkan tempat yang berbeda dari perpustakaan umum. Selain itu menurut Stilwell sebagaimana yang dikutip oleh Dent menjelaskan bahwa pustakawan perpustakaan komunitas yaitu orang yang hidup atau bagian dari komunitas tersebut.7 2. Filsafat Eksistensialisme Eksistensialisme berasal dari kata “eksistensi” dengan akar kata eks “keluar” dan sistensi “berdiri”. Oleh karena itu kata eksistensi diartikan sebagai manusia berdiri sebagai diri sendiri dengan keluar dari dirinya. Dikutip dari ensiklopedia Sastra Indonesia Kemdikbud RI, secara istilah eksistensialisme merupakan gerakakan filosofis yang menganut paham bahwa tiap orang harus menciptakan makna di alam semesta yang tak jelas, kacau, dan tampak hampa. 8 Aliran eksistensialisme merupakan salah satu dari sekian cabang dari filsafat yang menganggap segala sesuatu dimulai dari pengalaman pribadi, keyakinan yang tumbuh dari dirinya dan kemampuan serta keluasan jalan untuk mencapai keyakinan hidupnya. Atas dasar pandangan itu, sikap di kalangan kaum eksistensialisme atau penganut aliran ini seringkali tampak aneh atau lepas dari norma-norma umum. Kebebasan untuk freedom to adalah lebih banyak menjadi ukuran dalam sikap dan perbuatannya. Menurut Muntansyir, ciri dari aliran eksistensialisme yaitu sebagai berikut:9 1) Eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern, khususnya terhadap idealisme heagel. 2) Eksistensialisme adalah suatu proses atas nama individualis terhadap konsep-konsep, filsafat akademis yang jauh dari kehidupan konkret. 3) Eksistensialisme juga merupakan pemberontakan terhadap alam yang impersonal (tanpa kepribadian) dari zaman industri modern dan teknologi, serta gerakan massa. Masyarakat industri cenderung menundukkan orang seorang pada mesin. 4) Eksistensialisme merupakan protes terhadap gerakan-gerakan totaliter, baik gerakan fasis, komunis, yang cenderung menghancurkan atau menenggelamkan perorangan di dalam kolektif atau massa. 5) Eksistensialisme menekankan situasi manusia dan prospek (harapan) manusia di dunia. 6) Eksistensialisme menenkankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung. Seperti yang sudah disinggung sebelumnya bahwa perpustakaan komunitas merupakan perpustakaan yang bersifat independen dan dalam pengelolaannya tidak ada unsur birokratis serta tanpa aturan yang mengikat seperti halnya perpustakaan umum. Lebih lanjut berdirinya perpustakaan komunitas secara umum dilatar belakangi atas ketidakpuasan pada layanan perpustakaan umum yang dinilai belum mampu untuk menarik masyarakat untuk berkunjung ke perpustakaan. Lebih jauh lagi bagi pegiat perpustakaan komunitas, perpustakaan umum dianggap sebagai tempat yang kaku, serius, dan tidak menarik dikunjungi. Koleksi yang dimiliki perpustakaan komunitas juga tidak melalui proses pengelolaan seperti, klasifikasi, pemberian barcode, dan lain-lain. Berdasarkan ciri-ciri dari perpustakaan komunitas, maka relevansi ajaran pokok filsafat eksistensialisme dengan keberadaan perpustakaan komunitas di Indonesia terletak pada karakteristik dari ajaran eksistensialisme. Pada bab sebelumnya telah dipaparkan mengenai ciri-ciri dari eksistensialisme. Terdapat dua poin utama yang relevan terhadap keberadaan perpustakaan komunitas dan ajaran eksistensialisme. Berikut penjelasannya: Pertama, esensi dari eksistensialisme adalah pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern. Apabila dikaitkan dengan keberadaan perpustakaan komunitas relevansi dengan ajaran eksistensialisme yaitu dapat ditinjau dari latar belakang kemunculannya akibat ketidakpuasan terhadap perpustakaan umum yang keberadaannya belum mampu untuk menarik minat kunjung terhadap perpustakaan serta meningkatan minat baca masyarakat maka perpustakaan komunitas menjemput bola dengan hadir ditengah masyarakat. Kedua, eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perpustakaan komunitas ini hadir dengan beberapa nama atau istilah seperti taman bacaan masyarakat, rumah baca, sanggar baca, pojok baca, dan lain-lain. Penggunaan berbagai macam istilah ini menunjukan bahwa pegiat perpustakaan komunitas ini ingin menghadirkan tempat yang berbeda dari perpustakaan umum. Selain itu mayoritas perpustakaan komunitas ini hadir dengan konsep yang berbeda dengan keunikan masing-masing. Konsep yang ditawarkan oleh perpustakaan komunitas biasanya berbentuk lapak buku, perpustakaan keliling, dan rumah atau sanggar. Hal tersebut menjadi keunikan yang berbeda dibandingkan dengan perpustakaan umum. Dengan hadirnya perpustakaan komunitas, menjawab serta memberi alternatif kepada masyarakat untuk meningkatkan minat baca selain mengunjungi perpustakaan umum yang terkesan banyak aturan dan kaku. Lebih lanjut Iskandar memberikan contoh aliran eksistensialisme dalam dunia perpustakaan misalnya, pengikut aliran eksistensialisme tidak menghendaki adanya aturan-aturan dalam perpustakaan, seperti:10 a. Tidak diperlukan uang denda b. Semua koleksi bisa dipinjamkan tanpa terkecuali c. Untuk mengakses perpustakaan, tidak memerlukan kartu perpustakaan. d. Tidak perlu menitipkan barang ketika masuk kedalam perpustakaan. Adapun beberapa contoh dari perpustakaan berbasis komunitas yang ada di Indonesia khususnya di Daerah Istimewa Yogyakarta yaitu: 1) Perpustakaan Jalanan DIY Perpustakaan jalanan DIY terbentuk didasari dari hobby serta keresahan para kalangan anak muda di Kota Yogyakarta mengenai rendahnya minat baca masyarakat saat ini. Kegiatan yang ada di perpustakaan pun bukan hanya sebatas membaca dan meminjam buku semata, akan tetapi mereka menawarkan untuk saling belajar bersama dan sharing mengenai berbagai hal mulai dari pendidikan hingga politik. Usaha yang dilakukan oleh para pegiat perpustakaan jalanan ini menjadi pembeda dari perpustakaan umum yaitu menjemput masyarakat daripada menunggu masyarakat. Lokasi perpustakaan jalanan ini yaitu di pelataran tugu Yogyakarta dan buka setiap hari jumat malam pukul 19.30 WIB. Koleksi yang dilayankan kepada masyarakat tidak diolah seperti halnya yang dilakukan perpustakaan umum, seperti klasifikasi, stempel, barcode, dan lain-lain. Perpustakaan jalanan ini ditujukan untuk semua kalangan masyarakat yang ingin membaca.Setiap bulan perpustakaan jalanan ini memiliki program untuk mengunjungi empat desa yaitu desa Tegalmojo, desa Badran, Jetis, dan Demakan baru. Pemilihan desa tersebut didasarkan pada tingkat kepadatan penduduk dan rendahnya fasilitas baca yang ada pada desa tersebut. 2) TBM Cakruk Pintar Taman Baca Masyarakat (TBM) Cakruk pintar merupakan taman baca yang memadukan konsep “cakruk” dengan “taman baca” sehingga memiliki keunikan tersendiri. Fokus dan tujuan TBM ini yaitu untuk memberdayakan masyarakat sekitar lokasi dengan beberapa kegiatan yang melibatkan masyarakat.11 Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya bahwa perpustakaan komunitas berbeda dengan perpustakaan umum. Koleksi yang dimiliki perpustakaan TBM ini juga tidak ada sistem klasifikasinya. Keunikan lain mengenai TBM ini yaitu setiap pengunjung yang memanfaatkan fasilitas Wi-Fi melebihi dari waktu yang telah ditentukan, maka pengunjung tersebut wajib menulis mengenai apapun dan diserahkan kepada petugas TBM.

Conclusion

Dari enam poin karakteristik dari eksistensialisme, terdapat dua poin utama yang memiliki kerelevanan terhadap keberadaan perpustakaan komunitas di Indonesia, yaitu : 1) Eksistensialisme merupakan pemberontakan dan protes terhadap rasionalisme dan masyarakat modern. Apabila dikaitkan dengan keberadaan perpustakaan komunitas relevansi dengan ajaran eksistensialisme yaitu dapat ditinjau dari latar belakang kemunculannya akibat ketidakpuasan terhadap perpustakaan umum yang keberadaannya belum mampu untuk menarik minat kunjung terhadap perpustakaan serta meningkatan minat baca masyarakat maka perpustakaan komunitas menjemput bola dengan hadir ditengah masyarakat. 2) Eksistensialisme menekankan keunikan dan kedudukan pertama eksistensi, pengalaman kesadaran yang dalam dan langsung. Perpustakaan komunitas yang hadir dengan beberapa nama atau istilah seperti taman bacaan masyarakat, rumah baca, sanggar baca, pojok baca, dan lain-lain. Penggunaan berbagai macam istilah ini menunjukan bahwa pegiat perpustakaan komunitas ini ingin menghadirkan tempat yang berbeda dari perpustakaan umum. Selain itu mayoritas perpustakaan komunitas ini hadir dengan konsep yang berbeda dengan keunikan masing-masing. Konsep perpustakaan komunitas biasanya berbentuk lapak buku, perpustakaan keliling, dan rumah atau sanggar. Hal tersebut menjadi keunikan yang berbeda dibandingkan dengan perpustakaan umum. Dengan hadirnya perpustakaan komunitas, menjawab serta memberi alternatif kepada masyarakat untuk meningkatkan minat baca selain mengunjungi perpustakaan umum yang terkesan banyak aturan dan kaku.