PENGARUH KOMPETENSI DIGITAL (e-Skills) TERHADAP KINERJA PUSTAKAWAN DI UPT PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS HASANUDDIN
Universitas Hasanuddin; Universitas Hasanuddin
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh kompetensi digital(e-Skills)terhadap kinerja pustakawan di UPT Perpustakaan, yang dilaksanakan mulai bulan Juli hingga Nopember 2020 menggunakan sumber dana Universitas Hasanuddin. Sumber data dalam penelitian ini adalahData Primer dan Data Sekunder, teknik pengumpulan data melalui penyebaran daftar pertanyaan.Populasi penelitian ini adalah seluruh pustakawan yang ada di Universitas Hasanuddin dan aktif bekerja di UPT Perpustakaan hingga tahun 2020, sebanyak 48 orang. Penelitian ini mengambil seluruh pustakawan sebagai responden atau pengambilan sampel secara total (total sapling) karena jumlah populasi yang sedikit. Analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif untuk menjelaskan frekuensi dari masing-masing variabel serta uji statistik regresi linear sederhana untuk membuktikan adanya pengaruhantara kompetensi digital (e-Skills), terhadap kinerja pustakawan (Y) diUPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin. Hasil uji statistik menerima hipotesis bahwa terdapat hubungan pengaruh positif yang signifikan antara variabel kompetensi digital (e-Skills), terhadap variabel kinerja pustakawan. Koefisien regresi sebesar 0,796 menunjukkan tingkat korelasi yang kuat. Temuan penelitian:kompetensi digital (e-Skills)pustakawan pada kategori baik, namun sebagian kecil pustakawan memiliki kompetensi digital (e-Skills)dibawah standar rata-rata, maka disarankan perlu ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui Diklat teknis maupun fungsional kepustakawanan.
Abstract
This study aims to determine how the influence of digital competence (e-Skills) on the performance of librarians at Hasanuddin University Library, which was held from July to November 2020 using Hasanuddin University funding sources. Sources of data in this study are Primary Data and Secondary Data, data collection techniques through distributing questionnaires. The population of this research is all librarians at Hasanuddin University who are actively working in Hasanuddin University Libraries until 2020, as many as 48 people. This study took all librarians as respondents or total sampling due to the small population. The data analysis used is descriptive analysis to explain the frequency of each variable and simple linear regression statistical test to prove the influence of digital competence (e-Skills) on the performance of librarian (Y) at Hasanuddin University Library Unit. The results of statistical tests accept the hypothesis that there is a significant positive relationship between the digital competency variable (e-Skills) and the librarian performance variable. A regression coefficient of 0.796 indicates a strong correlation level. Research findings: Librarians' digital competence (e-Skills) is in a good category, but a small proportion of librarians have digital competence (e-Skills) below the average standard, so it is advisable to improve their knowledge and skills through Librarian training.
Keywords:
digital competence (e-Skills)
· Librarian performance
Introduction
Keberadaan perpustakaan sangat penting bagi kemajuan dan perkembangan Universitas Hasanuddin, karena perpustakaan merupakan salah satu penyedia informasi ilmiah yang dibutuhkan untuk pendidikan dan penelitian. Perpustakaan sebagai salah satu pusat informasi yang mempunyai akses strategis dalam mendukung keberhasilan Universitas Hasanuddin dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa dan sekaligus sebagai upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia. Ketika profesi perpustakaan dan informasi memasuki abad ke-20, mulai dikenal istilah profesi Pustakawan Sumber Daya Elektronik, Pustakawan Informasi Elektronik, dan Pustakawan Informasi Digital, pustakawan IT, yang mencerminkan kompetensi digital yang dimiliki dan lapangan kerja pustakawan memasuki era digital. Kompetensi digital(e-Skills)menjadi salah satu faktor penting yang harus dimiliki setiap pustakawan dalam mememberikan pelayanan perpustakaan diEra Idustri 5.0 yang dicirikan dengan kecepatan dan kemudahan memperoleh informasi, teknologi merupakan pendorong penting kualitas dan efisiensi operasional perpustakaan. Penerapannya menghasilkan transformasi yang signifikan dari konseptualisasi kuno tentang perpustakaan dan profesi ilmu informasi menjadi konsep perpustakaan digital.Penggunaan model aplikasi seperti katalog berbasis web, Integrated Library Software (ILS) dan teknologi Web lain yang sedang berkembang secara fleksibel mendefinisikan ulang operasi perpustakaan. Saat ini, UPT Perpustakaan Unhas dalam posisi perpaduan dari konsep kuno sebagaipengelola sumber informasi bahan kertas tercetak dengan teknologi informasi dan komunikasi, terus berkembang dengan pustakawan yang memiliki kompetensidigital(e-Skills)yang membuka jalan menuju dunia digital. Rumusan Masalah Kompetesi digital(e-Skills) pustakawan UPT Perpustakaan Unhas dapat dilihat dari pengetahuan dan keterampilanyang ditunjukkan dalam mengelola perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Kompetensi digital(e-Skills)pustakawan Unhas ini mesti ditingkatkan karena pengelolaan perpustakaan dan informasi yang terus menerus berkembang. Peningkatan kompetensidigital(e-Skills)pustakawan ini memiliki efek pada peningkatan kinerjanya yang berakumulasi pada peingkatan kualitas pelayanan perpustakaan. UPT Perpustakaan Unhas merupakan pusat sumber pembelajaran dan sumber intelektual yang sangat penting dan diperlukan oleh civitas akademika Unhas untuk keberhasilan Tri Dharma Perguruan Tinggi. UPT Perpustakaan Unhas dikelola oleh 48 orang pustakawan diantaranya berstatus sebagai Pustakawan madya, Pustakawan penyelia, pustakawanpertama, Pustakawan muda, Pustakawanpelaksana, dan Pustakawan pelaksana lanjutandengan berbagai latar belakang pendidikan seperti ilmu perpustakaan, ekonomi manajemen, hukum, sosiologi dan yang lainnya. Berdasarkan Uraiandiatas, maka dapat dikemukakan masalah sebagai berikut: “Bagaimana pengaruh kompetensidigital(e-Skills)terhadap kinerja pustakawan di UPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin?” Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensidigital(e-Skills), kinerja, dan hubungan pengaruh antara kompetensidigital(e-Skills)dengan kinerja pustakawandi UPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin. Penelitian ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan pihak pimpinan dan pustakawan, dalam meningkatkan kinerjanya, sehingga berakumulasi pada peningkatan kualitas layanan yang diberikan oleh UPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin. Dalam penelitian ini, penulis mengajukan hipotesis penelitian sebagai berikut: “Terdapat korelasi variabel kompetensi digital(e-Skills)terhadap kinerja pustakawan di UPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin.” Definisi Kompetensi (e-Skills) Pustakawan Sebagian besar literatur ilmu informasi dan perpustakaan setuju bahwa 'kompetensi' adalah, kurang lebih, kombinasi dari keterampilan, pengetahuan, dan sikap. Watson dalam Ruky (2013) kompetensi adalah kombinasi dari keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan perilaku yang diamati dan diterapkan secara kritis untuk suksesnya sebuah organisasi dan prestasi kerja serta kontribusi pribadi karyawan terhadap organisasinya. Namun saat ini kompetensi dasar tersebut sudah dianggap kurang memenuhi lagi tugas-tugas pustakawan yang hampir seluruh tugasnya berbasis teknologi informasi, sehingga dibutuhkan kopetensi tambahan sebagai kemampuan melakukan pelayanan berbasis teknologi infprmasi. Sebagai konsep yang berkembang, kompetensidigital(e-Skills) menggambarkan kemampuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang dibutuhkan oleh pustakawan terutama dalam studi media dan literasi, pendidikan, ilmu komputer, ilmu perpustakaan dan informasi serta disiplin ilmu terkait lainnya, untuk memaksimalkan aktivitas sosial-ekonomi dari lingkungan digital tempat mereka berada(Ilomaki, Kantosalo, & Lakkala, 2011). Kompetensi e-Skillsatau Kompetensi digital adalah konsep yang menggambarkan keterampilan terkait teknologi. Selama beberapa tahun terakhir, beberapa istilah telah digunakan untuk menggambarkan keterampilan dan kompetensi penggunaan teknologi digital, seperti keterampilan TIK, keterampilan teknologi informasi, kompetensi digital, keterampilan abad 21, literasi informasi, literasi digital, dan keterampilan digital. Istilah-istilah ini juga sering digunakan sebagai sinonim; misalnya kompetensi digital dan literasi digital (sebagai contoh, lihat Adeyemon, 2009). Pustakawan pengelola Sumber daya elektronik harus memiliki pengetahuan yang luas tentang konsep dan masalah yang terkait dengan siklus hidup pengetahuan dan informasi yang direkam dari penciptaan melalui berbagai tahap hingga penggunaannya oleh orang yang membutuhkan.Ilomakiat.all. (2011)mengutip Punie & Cabrera, (2006), yang telah mendefinisikan kompetensi digital sebagai melibatkan penggunaan Teknologi Masyarakat Informasi yang percaya diri dan kritis untuk pekerjaan, waktu luang dan komunikasi. Kompetensi digital didasarkan pada keterampilan dasar dalam TIK, yaitu penggunaan komputer untuk mengambil, menilai, menyimpan, memproduksi, menyajikan dan bertukar informasi, dan untuk berkomunikasi dan berpartisipasi dalam jaringan kolaboratif melalui Internet(Ilomaki, Kantosalo, & Lakkala, 2011). Secara operasional dalam penelitian ini, variabel kompetensie-Skills mengacu pada seperangkat keahlian yang dibutuhkan untuk menciptakan platform TIK dan menggunakannya untuk meningkatkan kinerja pustakawan dan kualitas pelayanan perpustakaan serta keterlibatannya dalam pengembangan koleksi digital di UPT perpustakaan Universitas Hasanuddin. Kinerja Pustakawan Kinerja biasa diasamakan artinya dengan prestasi kerja pustakawan yang dideskripsikan dengan mudah hanya sebagai produk pemberian jasa dari jumlah dan kualitas pekerjaan yang dilakukan pustakawan. Prestasi kerja digambarkan sebagai alternatif untuk menekankan hanya perilaku dan tindakan yang berada di bawah kendali pustakawan, dan berkontribusi pada tujuan penyelenggaraan pelayanan perpsutakaan. Kinerja menurut Sinambela, dkk (2012) adalah kemampuan pekerja (pustakawan) dalam melakukan sesuatu keahlian tertentu (dapat berupa pengadaan bahan pustaka, pengolahannya, ataupun pelayanannya).Wirawan (2009) merumuskan kinerja sebagaioutput berupa barang atau jasa yang dihasilkan oleh indikator-indikator suatu pekerjaan atau profesi kepustakawan dalam waktu tertentu. Faktor-faktor yang memmengaruhi kinerja, menurut Suradji (2004) dapat dibedakan menjadi tiga faktor, yaitu (1) kompetensi individual, (2) tuntutan jabatan, dan (3) lingkungan tempat individu bekerja. Kompetensi individual dapat berupa kompetensi digital yang merujuk kepada kemampuan dalam mengerjakan pekerjaan kepustakawanan. Tuntutan jabatan sebagai pustakawan di era digital akan menentukan apa yang diharapkan dari seseorang dalam menjalankan pekerjaan berbasis teknologi informasi. Lingkungan organisasi perpustakaan menentukan bagaimana seseorang diharapkan merespon terhadap tuntutan pekerjaan. Kinerja pustakawan merupakan hasil sinergi dari sejumlah faktor, yaitu: (1) Faktor internal pustakawan, yaitu faktor-faktor dari dalam diri pustakawan yang merupakan faktor bawaan dari lahir dan faktor yang diperoleh ketika ia berkembang. Faktor bawaan, misalnya bakat, sifat pribadi, serta keadaan fisik dan kejiwaan. Setelah dipengaruhi oleh lingkungan internal perpustakaan dan lingkungan eksternal, faktor internal pustakawan ini menentukan kinerja pustakawan. Sehingga dapat diasumsikan bahwa makin tinggi faktor-faktor internal tersebut, makin tinggi pula kinerja pustakawan demikian sebaliknya, (2) Faktor-faktor lingkungan internal perpustakaan. Dalam melaksanakan tugasnya, pustakawan memerlukan dukungan dari perpustakaan tempat ia bekerja. Dukungan tersebut sanga memmengaruhi tinggi rendahnya kinerja pustakawan, misalnya penggunaan teknologi informasi dan komunikasi yang dapat meningkatkan produktivitas pustakawan. Sebaliknya jika kompetensi teknologi informasi dan komunikasi perpustakaan buruk, kinerja pustakawan akan menurun. Faktor internal perpustakaan lainnya misalnya strategi layanan perpustakaan, dukungan sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan tugas utama kepustakawanan, serta sistem otomasi yang diterapkan. Oleh sebab itu perpustakaan perguruan tinggi dituntut untuk dapat menciptakan lingkungan internal yang kondusif sehingga dapat mendukung dan meningkatkan produktivitas pustakawan, (3) Faktor lingkungan eksternal perpustakaan. Faktor-faktor lingkungan eksternal perpustakaan adalah keadaan, kejadian atau situasi yang terjadi di lingkungan eksternal perpustakaan yang memmengaruhi kinerja pustakawan. Lingkungan eksternal dapat berupa tuntutan pemenuhan kebutuhan layanan informasi dari mahasiswa sehingga pustakawan benar-benar berupaya memenuhinya dengan sistem pelayanan yang cepat, efektif, dan efisien. Dari uraian definisi kompetensi kompetensi digital(e-Skills), dapat dilihat hubungan kompetensi dengan kinerja pustakawan, bahwa pustakawan dapat menghasilkan kinerja yang baik jika mereka memiliki kompetensi digital(e-Skills), yang baik serta dipraktekkan dalam pegelolaan perpustakaan. Pada penelitian ini fokus pada hubungan antara kompetensi kompetensi digital(e-Skills),dan kinerja pustakawan (Y) di UPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin. Kedua variabel ini penting dikaji karena sesuai dengan keadaan sumber daya manusia di UPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin saat ini yang sedang berupaya keras meningkatkan kompetensi dan kinerja pustakawannya
Method
Penelitian ini didesain secara kuantitatif dengan menggunakan uji hipotesis yang bersifat analitis korelasi. Penelitian ini dilakukan di UPT Perpustakaan Universitas Hasanuddin pada Bulan Juli sampai dengan Bulan Nopember Tahun 2020.Jenis data penelitian ini adalah data kuantitatif. Data Primer diperoleh melalui penyebaran kuesioner penelitian langsung kepada objek yang diteliti di lapangan pertanyaan yang berhubungan dengan variabel kompetensi digital(e-Skills),dan kinerja pustakawan.Data Sekunder diperoleh dari tempat penelitian berupa dokumen tertulis seperti buku, dan literatur lainnya yang ada kaitannya dengan topik penelitian(Sugiyono, 2017). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pustakawan yang bertugas di Universitas Hasanuddin sebanyak 48 pustakawan. Teknik penarikan sampel yang dipilih adalah total sampling karena jumlah populasi sedikit. Analisis penelitian dilakukan dengan menggunakan: (1) analisis deskriptif terhadap setiap variabel penelitian, dan (2) analisis statistik dengan koefisien korelasiproduct moment. Data hasil tabulasi dianalisis secara deskriptif kuantitatif untuk mengetahui kompetensi digital(e-Skills),dan kinerja pustakawan. Data observasi dianalisis untuk mengetahui kontribusi kedua variabel yang diukur dari indikator yang telah ditetapkan. Selanjutnya pengujian hipotesis digunakan analisis regresi linier sederhana untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh dari variabel bebas terhadap variabel terikat. Sebelumnya telah dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas instrument, serta pengujian asumsi klasik. Definisi operasional kompetensi digital(e-Skills) adalah seperangkat keahlian yang dibutuhkan untuk menciptakan platform TIK dan menggunakannya untuk meningkatkan kinerja pustakawan dan kualitas pelayanan perpustakaan. Indikatornya adalah: terampil, mudah, cepat, tepat, dan akurat menyelesaikan pekerjaan / tugas kepustakawanan berbasis teknologi informasi. Indikatornya adalah: Saya memiliki pengetahuan yang cukup tentang TIK dan literasi informasi; Saya memiliki keterampilan TIK yang sangat mendukung tugas kepustakawanan; Pekerjaan rutin saya selalu menggunakan TIK yang mudah dioperasikan; saya mampu dengan cepat menyelesaikan tugas kepustakawan karena memiliki kemampuan TIK; Hasil kerja saya lebih akurat dan berkualitas baik dengan penggunaan TIK. Kinerja pustakawan adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan kepustakawanan dalam waktu tertentu. Indikatornya adalah:Komponen internal pustakawan: Pekerjaan yang dilakukan sesuai pengetahuan; Kemandirian menjalankan tugas; Optimisme pustakawan menyelesaikan tugas-tugas dengan tepat. Komponen lingkungan internal perpustakaan: motivasi dan arahan pimpinan; peranan pimpinan dalam meningkatkan kinerja. Komponen lingkungan external perpustakaan: Budaya kerja mendukung kinerja; adanya lingkungan kerja yang kondusif dan nyaman. Lima nilai digunakan dalam penilaian untuk menunjukkan frekuensi suatu indikator: 5 = sangat setuju, 4 = setuju, 3 = Ragu-ragu, 2 = tidak setuju, dan 1 = sangat tidak setuju.
Result
Tabel 1. Frekuensi jawaban responden mengenai kompetensi digital(e-Skills), Indikator Frekuensi Jawaban Responden Skor Total Rata-rata Skor 1 2 3 4 5 STS TS R S SS KOMPONEN PENGETAHUAN Saya memiliki pengetahuan yang cukup tentang TIK dan literasi informasi 0 1 (2,1%) 1 (2,1%) 12 (25%) 34 (70,8%) 223 4,64 Saya memiliki keterampilan TIK yang sangat mendukung tugas kepustakawanan 0 1 (2,1%) 3 (6,3%) 23 (47,9) 21 (43,8%) 208 4,33 Pekerjaan rutin saya selalu menggunakan TIK yang mudah dioperasikan 2 (4,2%) 1 (2,1%) 2 (4,2%) 18 (37,5) 25 (52,8%) 207 4,31 Saya mampu dengan cepat menyelesaikan tugas kepustakawan karena memiliki kemampuan TIK 0 2 (4,2%) 0 29 (60,4%) 17 (35,4%) 205 4,27 Hasil kerja saya lebih akurat dan berkualitas tinggi dengan penggunaan TIK 0 0 6 (12,5% 36 (75%) 6 (12,5%) 192 4,00 Rata-rata Indeks 4,31 Berdasarkan tanggapan responden mengenai kompetensi digital (e-Skills) diperoleh angka indeks sebesar 4,31, angka indeks ini menunjukkan bahwa kompetensi digital (e-Skills) tergolong baik. Hal ini dapat dilihat dari tanggapan responden yang sebagian besar memberikan jawaban setuju dan sangat setuju dengan nilai rata-rata yang tinggi pada seluruh indikator.Skor tertinggi ada pada indikator ‘Saya memiliki pengetahuan yang cukup tentang TIK dan literasi informasi’ dengan rata-rata skor 4,64 menunjukkan bahwa kebanyakan responden memiliki pengetahuan TIK yang baik sehingga memiliki rasa percaya diri dalam melakukan pekerjaannya.Dari tabel diatas tampak pula adajawaban ‘tidak setuju dan sangat tidak setuju’ dari responden yang berarti bahwa masih ada sebagian kecil pustakawan yang memiliki kompetensi digital yang rendah. Tabel 2. Frekuensi Jawaban Responden Variabel Kinerja Pustakawan (Y) Indikator Frekuensi Jawaban Responden Skor Total Rata-rata Skor 1 2 3 4 5 STS TS R S SS FAKTOR INTERNAL PUSTAKAWAN Pekerjaan yang saya lakukan sesuai dengan pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki 0 0 0 25 (52%) 23 (47,9%) 215 4,48 Kemandirian diperlukan oleh pustakawan dalam menjalankan tugas-tugas profesional kepustakawanan 0 0 0 27 (56%) 21 (43,8%) 213 4,44 Optimisme pustakawan menyelesaikan tugas-tugas dan kewajiban dengan tepat dan akurat 0 0 1 (2,1%) 28 (58,3) 19 (39,6) 209 4,38 FAKTOR LINGKUNGAN INTERNAL PERPUSTAKAAN Pemimpin selalu memberikan motivasi dan arahan sehingga saya dapat bekerja secara optimal 0 0 2 (4,2%) 31 (64,6) 15 (31%) 205 4,27 Pimpinan mempunyai peranan penting dalam meningkatkan motivasi kerja saya 0 0 3 (6,3%) 28 (%8,3) 17 (35,4%) 206 4,29 FAKTOR LINGKUNGAN EXTERNAL PERPUSTAKAAN Budaya kerja dalam perpustakaan sangat mendukung kinerja saya 0 0 1 (2,1%) 30 (625) 17 (35,4%) 208 4,33 Kinerja saya dapat meningkat dengan adanya lingkungan kerja yang kondusif dan nyaman 0 1 2,1% 0 24 (50%) 23 (47,9%) 213 4,44 Rata-rata Indeks 4,38 Tabel 2 menunjukkan bahwa indikator yang dominan kontribusinya dalam pembentukan variabel Kinerja Pustakawan (Y) ialah indikator kesatu yaitu: Pekerjaan yang saya lakukan sesuai dengan pengetahuan dankemampuan yang dimiliki, Rata-rata skor indikator ini adalah 4,48, hal ini berarti pengetahuan yang dimiliki pustakawan sudah baik sehingga mampu mendukung kinerja yang baik pula. Guna menunjang kinerja sebuah perpustakaan, maka perpustakaan harus dikelola oleh SDM yang sesuai dengan visi dan misi perpustakaan. SDM berupa pustakawan yang memiliki pengetahuan dan kemampuan untuk melakukan tugastugas profesional seperti, melakukan pengadakan bahan pustaka yang sesuai dengan kebutuhan pembacanya, mengolah dan mengorganisir penempatan bahan pustaka tersebut agar dapat disajikan dalam ruang baca perpustakaan untuk segera dimanfaatkan oleh pembaca, menyelenggarakan pelayanan agar pembacanya dapat meminjam dan mengembalikan bahan pustaka yang diperlukan secara tertib sesuai aturan yang dibuat perpustakaan, dan masih banyak lagi hal-hal yang harus dilakukan oleh pustakawan. Skor rata-rata variabel kinerja pustakawan sebesar 4,38 menunjukkan kinerja yang baik, dapat diartikan bahwa kinerja baik yang dihasilkan oleh pustakawan selama ini adalah karena didukung oleh kompetensi pustakawan yang baik. Keadaan ini mesti dipertahankan oleh manajemen perpustakaan agar diupayakan meningkatkan pengembangan kompetensi pustakawan secara terencana dengan baik. Pengembangan profesi perpustakaan terdiri dari semua kegiatan dan upaya pembelajaran, formal dan informal, dimana individu pustakawan berusaha untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan TIK, serta pemahaman mereka dalam bidang pekerjaan khusus mereka menyediakan koleksi digital untuk memberikan kinerja yang baik, dan meningkatkan karir kepustakawanan mereka. Uji Reliabilitas dan Validitas Instrumen Penelitian Hasil pengujian reliabilitas data menunjukkan bahwa semua variabel yang diteliti dapat dikatakan reliable karena nilai koefisien Cronbach's alpha (r-hitung) yang diperoleh di atas dari nilai 0,60 (lihat Lampiran output SPSS). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pertanyaan-pertanyaan yang digunakan telah dapat dipahami baik oleh responden dan mampu menunjukkan konsistensi jawaban yang cukup baik pula. Dari hasil uji validitas instrumen penelitian menunjukkan bahwa semua butir pertanyaan yang diajukan, setelah dilakukan penghitungan menghasilan nilai rhitug lebih besar dari rtabel (r ≥ 0,2845), berarti seluruh instrumen valid. Telah dilakukan pula uji asumsi klasik yang memperoleh hasil berdasarkan uji normalitas data(One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test)bahwa data tergolong memiliki pola berdistribusi normal, uji linearitas linearitas data, dan lainnya sehingga memenuhi syarat uji regresi. Analisis Regresi Linear Sederhana Analisis regresi sederhana yaitu regresi untuk satu variabel independen Kompetensi Digital (e-Skills)dengan satu variabel dependen kinerja pustakawan. Bertujuan untuk menguji sejauh mana pengaruh variabel independen memengaruhi variabel dependen. Model Summaryb Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate Durbin-Watson 1 .821a .675 .668 .2646208 2.044 a. Predictors: (Constant), Kompetensi Digital (e-Skills) b. Dependent Variable: KINERJA PUSTAKAWAN (Performance) ANOVAa Model Sum of Squares df Mean Square F Sig. 1 Regression 6.678 1 6.678 95.361 .000b Residual 3.221 46 .070 Total 9.899 47 a. Dependent Variable: KINERJA PUSTAKAWAN (Performance) b. Predictors: (Constant), Kompetensi Digital (e-Skills) Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients t Sig. Collinearity Statistics B Std. Error Beta Tolerance VIF 1 (Constant) 1.474 .297 4.967 .000 Kompetensi Digital (e-Skills) .666 .068 .821 9.765 .000 1.000 1.000 a. Dependent Variable: KINERJA PUSTAKAWAN (Performance) Berdasarkan output SPSS di atas, diuraikan sebagai berikut: 1. Tabel model summary dapat dilihat kolom regresi ‘R’ simbol dari nilai koefisien korelasi, sebesar 0,821. Nilai ini dapat menunjukkan bahwa hubungan variabel Kompetensi Digital (e-Skills) dengan variabel dependen kinerja pustakawan berada pada kategori kuat. Nilai R Square (koefisien determinasi) pada table ini menunjukkan seberapa bagus model regresi yang dibentuk oleh interaksi variabel kompetensi digital dengan kinerja pustakawan. Besaran nilai koefisien determinasi yang diperoleh adalah 0.668 yang dapat ditafsirkan bahwa variabel bebas Kompetensi Digital (e-Skills) memiliki pengaruh kontribusi sebesar 66,80% terhadap variabel Y dan 33,20% lainnya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain diluar variabel X. 2. Tabel coefficientsamenjelaskan model persamaan regresi yang diperoleh dengan koefisien konstanta dan koefisien variable kompetensi digital (e-Skills)pada kolom Unstandardized Coefficients B. Berdasarkan tabel ini diperoleh model persamaan regresi pengaruh variabel bebas Kompetensi Digital (e-Skills) terhadap variabel dependen kinerja pustakawan yang dinyatakan dengan persamaan: Y =1,474 + 0,666 X. Konstanta (βo) = 1,474 nilai ini merupakan nilai tetap, diasumsikan variabel bebas Kompetensi Digital (e-Skills) bernilai 0, maka kinerja pustakawansebesar 0,666 atau dengan kata lain, semakin bagus Kompetensi Digital (e-Skills), maka kinerja pustakawan akan semakin meningkat. Persamaan ini menunjukkan bahwa nilai koefisien regresi X sebesar (0,666), karena nilai yang diperoleh positif maka akan menyebabkan peningkatan pada variabel lain, yang berarti apabila Kompetensi Digital (e-Skills) (X) meningkat 1 poin maka kinerja pustakawan (Y) akan bertambah/naik (0,666) poin. 4. Pengujian Hipotesis Tingkat signifikansi dari uji ANOVA atau F-Test, diperoleh Fhitung 95,361 dengan tingkat signifikansi 0.000 karena probabilitas (tingkat signifikansi) ini lebih kecil daripada 0,05 dan nilai Ftabel adalah 4,05 (df1/N1 pembilang: k-1 =2-1=1 dan df2/N2 penyebut: n-k =48-2=46) lebih kecil dari Fhitung. Dengan demikian jika kita membandingkan nilai Fhitung dengan nilai Ftabel, maka tampak Fhitung 95,361 lebih besar daripada Ftabel 4,05 berarti hasilnya signifikan. Demikian pula nilai signifikansi yang diperoleh 0,000 lebih kecil daripada alpha 0,05, maka model regresi ini signifikan bisa dipakai untuk memprediksi pengaruh variabel bebas Kompetensi Digital (e-Skills) terhadap variabel dependen kinerja pustakawan. Berdasarkan hasil pengujian ini, maka hipotesis penelitian ini yaitu variabel Kompetensi Digital (e-Skills) (X) berpengaruh terhadap variabel dependen kinerja pustakawan dapat diterima pada tingkat keyakinan 95 persen.
Discussion
Sesuai hasil analisis regresi variabel kompetensi digital (e-Skills) terhadap kinerja pustakawan, telah diketahui bahwa antara variabel bebas dengan variabel terikat berkorelasi positif dan signifikan. Selanjutnya akan dikaji lebih jauh variabel kompetensi digital (e-Skills) dalam hubungannya dengan kinerja pustakawan di UPT Perpustakaan Unhas. UPT Perpustakaan Unhas yang bertugas dalam penyediaan sumber informasi bagi keberlangsungan sistem pembelajaran civitas akademika. Memiliki tanggungjawab untuk meningkatkan kualitas pelayanan mengimbangi dan memenuhi kebutuhan informasi mahasiswa terutama bahan inti atau bacaan wajib mata kuliah, bahan penunjang kuliah, bahan penunjang penelitian. Pustakawan bertanggungjawab memenuhi kebutuhan pokok tersebut dengan menyediakan koleksi yang relevan serta mencukupi kebutuhan pemustakan. Pustakawan menyediakan fasilitas dan sarana penelusuran yang mudah diakses oleh pemustaka. Pustakawan juga harus memberikan pelayanan peminjaman yang cepat, tepat, dan akurat, dengan menerapkan TIK yang efektif dan efisien penggunaannya. Guna memenuhi tugas dan tanggungjawab tersebut maka pustakawan telah memiliki dan memenuhi persyaratan kompetensi yang mumpuni agar dapat melaksanakan tugas dan tanggungjawab tersebut.Pustakawan Unhas cukup memiliki kompetensi digital dari komponen pengetahuan dan keteampilan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini telah dibuktikan sejak tahun 1990an UPT Perpustakaan Unhas telah menerapkan sistem penelusuran katalog OPAC dengan perangkat lunak CDS/ISIS versi DOS. Hingga sekarang pengetahuan dan keterampilan tersebut berkembang seiring dengan perkembangan TIK perpustakaan, dimana saat ini UPT Perpustakaan Unhas telah memasuki era digital dengan pengelolaan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi.Layanan perpustakaan berbasis teknologi informasi, layanan sirkulasi menggunakan perangkat lunak khusus perpustakaan, web perpustakaan sudah mudah diakses oleh sivitas akademika, berlangganan eJurnal dan ebook, penyetoran karya ilmiah skripsi, thesis, disertasi, dan karya jurnal penelitian dosen dilaksanakan secara daring. Bagi UPT Perpustakaan Unhas, kompetensi digital pustakawan bukan masalah karena pustakawan yang dimiliki sekarang ini telah memenuhi syarat karakteristik yang telah disebutkan di atas. Hasil analisis yang telah dilakukan menunjukkan terdapat pengaruh yang positif dan signifikan dari kompetensi digital (e-Skills) terhadap kinerja pustakawan. Koefisien regresi yang bertanda positif diinterpretasikan bahwa jika kompetensi digital (e-Skills) pustakawan bagus maka kinerja pustakawan juga akan semakin meningkat. Hasil ini dapat diartikan bahwa kompetensi digital (e-Skills) pustakawan di UPT Perpustakaan Unhas sudah baik sehingga dapat mendukung peningkatan kinerja perpustakaan. Keterampilan digital ini akan mendorong niat dan motivasi pustakawan menuju penerimaan teknologi informasi dan komuniskasi perpustakaan, memunculkan motivasi kerja yang tinggi sehingga kinerja pustakawan meningkat. Namun, temuan masih ada sebagian kecil pustakawan yang memiliki kompetensi digitalrendah yang perlu ditingkatkan keterampilannya hingga setara dengan tingkat kesulitan pekerjaan yang harus dilakukan. Pustakawan yang tidak memiliki kompetensi digital cenderung menghindari tugas-tugas yang memanfaatkan aplikasi teknologi perpustakaan, sehingga sistem pelayanan perpustakaanakan terganggu.Kompetensi digital rendahakan berakibat pada penurunan kinerja pustakawan dan ikut menunrunkan kualitas layanan perpustakaan. Kompetensi digital pustakawan yang rendah ini perlu ditingkatkan oleh pihak manajemen perpustakaan dengan memberi motivasi kepada pustakawan agar selalu berupaya meningkatanpengetahuan dan keterampilan TIK. Perlu disadari oleh pustakawan bahwa tantangan pustakawan saat ini adalah terjadinya perubahan besar dalam profesi kepustakawanan dimana UPT Perpustakaan Unhas yang ada saat ini dalam hitungan hari dan bulan akan menjadi perpustakaan kuno yang tidak lagi dipakai oleh civitas akademika, berubah menjadi perpustakaan maya, disebabkan oleh tuntutan kebutuhan informasi mahasiswa dan dosen yang sangat dipengaruhi oleh perubahan besar yang terjadi pada kemajuan teknologi informasi dan komunikasi dalam sistem pembelajaran di Universitas Hasanuddin. Pustakawan yang tidak meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya terutama kompetensi digital (e-skills) akan terhapus oleh jaman, hanya mereka yang selalu meningkatkan pengetahuan dan keterampilan digitalnya yang diharapkan membawa UPT Perpustakaan Unhas ke era industri 5.0 yang lebih kompetitif. Empat pekerjaan utama yang paling diperlukan bagi perpustakaan dan pusat informasi saat ini yaitu Pustakawan IT, Pustakawan Digital, Pustakawan Metadata, dan Pengarsip Digital (Shahbazi, 2016). Penelitian ini mendukung penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Okede dan Owate (2015) melaporkan bahwa salah satu tantangan yang dihadapi institutional Repository (IR) di Nigeria adalah kurangnya keterampilan yang dimiliki pustakawan. Kompetensidigital (e-Skills) merupakan keterampilan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang harus dimiliki oleh pustakawan, untuk optimalisasi kegiatan kerja rutin pada jenis pekerjaan digital perpustakaan. Kompetensi digital (e-Skills) pustakawan Unhas yang dibutuhkan saat ini mengacu pada keahlian melakukan imigrasi database buku dari software lama ke software baru (InlisLite); mengupayakan integrasi data karya repository UNHAS ke RAMA Repositori dengan tujuan menghindari duplikasi dan plagiarism hasil penelitian dan agar seluruh karya civitas akademika Unhas dapat disitasi secara luas oleh masyarakat ilmiah di dunia global; terindeks di Google Schoolarsehingga mudah ditelusur dan banyak pembacanya. Kompetensi digital ini secara langsung meningkatkan kinerja dan kualitas pelayanan perpustakaan. Dalam sistem informasi global kompetensi digital (e-Skills) dengan cepat menjadi dasar untuk mempertahankan pekerjaan perpustakaan yang berhubungan dengan komputer serta teknologi informasi sebagai persyaratan untuk survive dalam bisnis penyediaan dan pengelolaan informasi ilmiah. Dalam lingkungan informasi saat ini, teknologi merupakan pendorong penting kualitas dan efisiensi operasional perpustakaan. Penerapannya menghasilkan transformasi yang signifikan dari konseptualisasi kuno perpustakaan dan profesi ilmu informasi menjadi perpustakaan modern era industri 5.0. Perpustakaan Unhas menggunaan model aplikasi katalog berbasis web, dengan perangkat lunak perpustakaan terintegrasi, berbasis teknologi Web, keadaan ini perlahan-lahan berkembang terus meninggalkan layanan koleksi kertas cetak. Efek yang dicemaskan sebagian pustakawan adalah berkurangnya jumlah kunjungan fisik ke perpustakaan, akan tetapi banyak peningkatan kunjungan pemustaka ke web perpustakaan. Perubahan ini membenarkan anggapan bahwa akan pustakawan mendefinisikan ulang operasi perpustakaan dengan cara yang tidak kecil. Saat ini, perpustakaan merupakan perpaduan antara teknologi informasi yang berkembang dan sumber daya pengetahuan yang membuka jalan menuju dunia digital (Kowalczyk, 2016 dalam Izuagbea, 2019). Dengan paradigma baruteknologi, tersediapeluang bagi perpustakaan untuk: menciptakan akses tanpa batas ke sumber daya dan layanan informasi, secara adaptif dan fleksibel melibatkan pengguna yang berbeda, memperluas jangkauan layanan perpustakaan dan mengotomatiskan praktik rutin pemeliharaan perpustakaan dan koleksinya, sehingga meminimalkan urgensi fisik dan mental, tergantung pada ketersediaan pendanaan dan kompetensidigital (e-Skills) yang dimiliki.
Conclusion
Berdasarkan hasil analisis data, pembahasan, dan pengujian hipotesisnya yaitu uji F dan uji t, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: (1) Menerima hipotesis bahwa terdapat hubungan pengaruh positif yang signifikan antara variabel kompetensi digital(e-Skills),terhadap variabel kinerja pustakawan. Hasil analisis menunjukkan bahwa semakin tinggi kompetensi digital(e-Skills) dari pustakawan, maka semakin meningkat pula kinerja pustakawan di UPT Perpustakaan Unhas. (2) Angka R sebesar 0,821menunjukkan bahwa terdapat tingkat korelasi /hubungan kuat dan signifikan antara variabel dependent kinerja pustakawan dengan variabel bebas kompetensidigital(e-Skills) pustakawan. (3) Koefisien determinasi menerangkan bahwa 66,8% variasi dari kinerja pustakawan dapat dijelaskan oleh variasi variabel pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Ditemukan pula bahwa masih ada 33,2% faktor lain yang memmengaruhi kinerja pustakawan selain tiga variabel yang diteliti. Oleh karena itu untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk memasukkan variabel lain seperti motivasi atau kepuasan kerja. Berdasarkan kesimpulan tersebut, maka dapat direkomendasikan beberapa saran sebagai berikut: (1) Kinerja pustakawan harus ditingkatkan, selaras dengan tuntutan kebutuhan layanan pemustaka yang semakin meningkat sesuai perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan telekomunikasi. (2) Karena ditemukan masih adanya sebagian kecil pustakawan yang memiliki kompetensi digital(e-Skills),dibawah standar rata-rata, maka perlu ditingkatkan pengetahuan dan keterampilannya melalui pendidikan dan pelatihan teknis maupun fungsional kepustakawanan. (3) Pekerjaan atau jabatan yang dilimpahkan pada setiap pustakawan sebaiknya disesuaikan dengan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki, sehingga pustakawan dapat menyelesaikan tugas dan kewajibannya dengan baik dan menghasilkan kinerja yang baik pula.