Implementasi Layanan Inovatif Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Makassar ( Studi Kasus Layanan KUSUKA)
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan salah satu program perpustakaan yang inovatif dan berbasis pada kebutuhan masyarakat dan salah satu dari program perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah layanan KUSUKA yang dilaksanakan oleh perpustakaan kota makassar, namun dalam tahapan kegiatannya belum berjalan dengan baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana implementasi layanan inovatif perpustakaan berbasis inklusi sosial pada dinas perpustakaan kota makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program layanan KUSUKA terdapat model layanan inovatif pada program layanan inovatif perpustakaan berbasis inklusi sosial di dinas perpustakaan dan kearsipan kota Makassar dikelompokkan menjadi empat yaitu: sosialisasi program, bimbingan dan pelatihan, pelaksanaan program dan evaluasi program, Adapun tantangan dalam tahapan kegiatan pelaksanaannya mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan fasilitas dan anggaran sehingga menjadi sebuah kendala dalam pelaksanaan program layanan KUSUKA.
Abstract
Social inclusion-based libraries are one of the innovative library programs and are based on community needs and one of the social inclusion-based library programs is the KUSUKA service implemented by the Makassar city library, but in the stages of its activities it has not gone well. This study aims to determine how the implementation of innovative library services based on social inclusion in the Makassar city library service. This research uses a descriptive qualitative approach. The results of this study indicate that the KUSUKA service program has an innovative service model in the social inclusion-based library innovative service program at the Makassar city library and archives office is grouped into four, namely: program socialization, guidance and training, program implementation and program evaluation, as for the challenges in the stages of implementation activities ranging from limited human resources, limited facilities and budget so that it becomes an obstacle in the implementation of the KUSUKA service program.
Keywords:
innovative services
· social inclusion
· KUSUKA services
Introduction
Perpustakan merupakan salah satu sarana untuk mencerdaskan bangsa dan kegiatan yang dilakukan perpustakaan didalamnya terdapat unsur pengetahuan, pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi, budaya maupun pendidikan. Salah satu jenis perpustakaan yang mudah ditemui dimanapun adalah perpustakan umum(Ariani et al., 2020). Pada dasarnya perpustakaan adalah lembaga penyelenggara kegiatan layanan informasi, pendidikan, dan rekreasi bagi masyarakat(Sutarno NS., 2008). Perpustakaan adalah unit kerja dengan koleksi staf, ruangan khusus, dan koleksi, tergantung pada jenis perpustakaan. Setiap perpustakaan diatur untuk tujuan dan tujuan tertentu, tergantung pada jenis perpustakaan itu dalam hal fungsinya. Layanan perpustakaan adalah bentuk-bentuk kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan layanan atau penggunaan kepemilikan perpustakaan (informasi) untuk kepentingan pengguna. Layanan adalah bagian penting dari sebuah perpustakaan, dan itu tidak akan menjadi perpustakaan tanpa layanan. Semua kegiatan pelayanan bertujuan untuk menciptakaan suasana yang tertib lancer dan penyediaan akses kepada seluruh lapisan masyarakat dengan berbagai koleksi, layanan serta informasi yang dapat di gunakan oleh pengguna dalam menyalurkan ide dan pedapat. Perpustakaan dapat dijadikan sebagai tempat untuk memperoleh informasi untuk masyarakat guna meningkatkan taraf kehidupan baik dalam bidang ekonomi maupun bidang sosial. Dari beberapa informasi yang terdapat di perpustakaan sehingga dapat dikatakan bahwa perpustakaan merupakan sebagai wadah untuk memperoleh pengetahuan untuk Masyarakat. Perpustakaan umum sangat erat kaitannya dengan masyarakat umum sehingga perpustakaan umum dituntut untuk melakukan transformasi perpustakaan. Transformasi yang digunakan dalam perpustakaan saat ini yaitu tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dengan menjadikan program penguatan literasi dan pengentasan kemiskinan(Rachman et al., 2019). Sebagaimana yang dikemukakan oleh Fourie "The urgency for public librarians to ensure social inclusion to their services, as well as for them to contribute to society's efforts to address social exclusion, cannot be questioned"(Fourie, 2007). Urgensi dari perpustakaan umum yakni untuk memastikan bahwa adanya inklusi sosial di dalam layanan perpustakaan serta berkontribusi dalam hal mengatasi sesuatu yang ekslusif. Marwiyah (2018) menjelaskan bahwa inklusi sosial merupakan upaya untuk membuat semua orang terlibat dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial tanpa memandang jenis kelamin, usia, agama, geografi, bahasa, suku atau ras di Indonesia sehingga membuat masyarakat yang inklusif(Marwiyah, 2019). Kehadiran perpustakaan diera modern saat ini tentunya memberikan beberapa dampak positif bagi pengguna perpustakaan untuk mengembangkan keterampilan dan pengalaman guna meningkatkan kualitasnya melalui pemanfaatan sumber informasi yang tersedia di perpustakaan yang dapat menunjang segala aktivitas dari berbagai aspek seperti pendidikan, penelitian, ekonomi dan lingkaran sosial. Perpustakaan memiliki potensi yang besar untuk berkontribusi dalam pemberdayaan masyarakat, dengan cara mendekatkan, mengajak, dan memberdayakan masyarakat secara aktif. Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk menjalin hubungan lebih dekat antara perpustakaan dan masyarakat adalah melalui konsep perpustakaan berbasis inklusi. Transformasi perpustakaan yang berfokus pada inklusi sosial dapat dijelaskan secara sederhana sebagai sebuah perubahan dalam layanan perpustakaan yang berkomitmen untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan pengguna. Perpustakaan yang mengedepankan layanan berbasis inklusi sosial harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang kebutuhan informasi masyarakat yang dilayaninya. Dengan pengertian tersebut, diharapkan perpustakaan dapat memberikan pelayanan yang optimal dengan menyediakan informasi yang relevan. Pengguna layanan perpustakaan berasal dari beragam latar belakang sosial dan tingkat pendidikan yang bervariasi, yang tentunya berpengaruh pada kebutuhan informasi mereka. Oleh karena itu, layanan perpustakaan yang berfokus pada inklusi harus mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan informasi ini. Dalam perspektif pembangunan, pengembangan koleksi bahan pustaka juga perlu diarahkan pada subjek ilmu terapan yang dapat memperluas pengetahuan dan merangsang pertumbuhan ekonomi kreatif di masyarakat. Dalam rangka memperkuat peran perpustakaan dalam pembangunan berbasis inklusi sosial, sinergi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menjadi sangat krusial. Kolaborasi ini diwujudkan melalui forum seperti stakeholder meeting, di mana berbagai pihak dapat berdiskusi dan merumuskan strategi bersama untuk mendukung layanan perpustakaan yang inklusif. Dengan upaya tersebut, diharapkan dapat terjadi peningkatan kinerja individu serta penguatan sistem dan organisasi perpustakaan. Semua ini akan berdampak positif pada peningkatan kualitas layanan perpustakaan dan pemanfaatannya oleh masyarakat, yang pada gilirannya akan mendorong peningkatan literasi masyarakat. Perpustakaan berbasis inklusi sosial merupakan salah satu program perpustakaan yang inovatif dan berbasis pada kebutuhan masyarakat dan merupakan salah satu dari program perpustakaan berbasis inklusi sosial adalah layanan kusuka yang dilaksanakan oleh perpustakaan kota Makassar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa program layanan kusuka memiliki beberapa tahapan yang memiliki kendala diantaranya adalah pada keterbatasan pada setiap kelas pada program layanan kusuka. Dampak langsung dari program ini adalah peningkatan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Dengan adanya akses yang lebih inklusif terhadap informasi dan pembelajaran, masyarakat dapat lebih berdaya dalam berbagai aspek kehidupan. Seiring berjalannya waktu, diharapkan persepsi lama tentang perpustakaan dapat berubah, dan masyarakat semakin melihatnya sebagai pusat kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan mereka. Perpustakaan yakni transformasi layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial. Paradigma baru perpustakaan saat ini tidak lagi berfokus pada mengelola koleksi maupun mengelola pengetahuan melainkan proses transfer ilmu pengetahuan (transfer knowledge). Sehingga Perpustakaan mesti lebih banyak melakukan pendampingan kepada pemustaka atau masyarakat yang dilayani khususnya kepada perpustakaan umum yang mengemban Amanah sebagai sumber pembelajaran sepanjang hayat dan inklusif. Untuk mewujudkan fungsi dan peran perpustakaan sebagai wahana pendidikan, sumber belajar sepanjang hayat dan layanan perpustakaan berbasis inklusi sosial untuk kemandirian masyarakat maka Dinas Perpustakaan Kota Makassar membuka layanan khusus yang diberi nama layanan KUSUKA atau akronim dari Kelas Khusus Pemustaka. Kelas Khusus Pemustaka atau KUSUKA ini dibuka untuk umum dan dilaksanakan di ruang baca Perpustakaan Umum Kota Makassar. Layanan KUSUKA diselenggarakan dengan berkolaborasi bersama Pegiat Literasi yang ada di Kota Makassar.
Method
Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriktif. Motode penelitian kualitatif deskriktif merupakan salah satu pendekatan penelitian yang dapat mengungkapkan kondisi sosial tertentu dengan menjelaskan fenomena dengan baik dari sebuah kenyatan yanga ada, dibentuk dari kalimat dari hasil pengumpulan serta analisis data yang dilakukan secara relevan yang diperoleh dari kondisi di lapangan Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peristiwa mengenai apa yang di alami oleh subjek penelitian seperti tingkahlaku, motivasi, persepsi dan kegiatan lainnya.
Result & Discussion
Kegiatan program layanan kusuka dilaksanakan di dinas perpustakaan dan kearsipan kota Makassar yang telah melakukan Kerjasama dengan pengiat literasi yang ada di kota Makassar sehingga meninggkatkan pengetahuan dan keterampilan Masyarakat melalui pelatihan dasar sehingga dapat menyelesaikan permasalahan dari aktifitas sehari-hari berikut ini merupakan beberapa model layanan pada program layanan kusuka yang dilaksanakan di dinas perpustakaan dan kearsipan kota Makassar: a. Model Layanan Inovatif pada program layanan kusuka di Dinas perpustakaan dan kearsipan Kota Makassar. 1. Pelaksanaan sosialisasi Pelaksanaan sosialisasi program layanan kusuka yang berbasis inklusi sosial dengan menyebarkan informasi melalui sosial media dinas perpustakaan, facebook,grub pustakawan dan Instagram dari dinas perpustakaan kota Makassar serta melakukan pembinaan sentuh Pustaka dengan melakukan sosialisasi secara langsung ke sekolah-sekolah yang ada di kota Makassar. 2. Bimbingan dan Pelatihan Bentuk kegiatan bimbingan dan kegiatan sosialisasi program layanan kusuka yakni melalui proses kesepakatan awal dari masing-masing mentor sebelum program terlaksana. dimana program ini dilaksanakan oleh setiap kelas pada kegiatan program layanan kusuka ada yang melakukan ice briking serta penyampaian terkait bagaimana bentuk-bentuk pelaksanan dari kegiatan dari masing-masing setiap kelas. Adapun kegiatannya dilaksanakan sesuai jadwal dari masing-masing kelas dan kesepakatan awal dari masing-masing mentor serta penyampaian materi setiap pekanya yang akan dilaksanakan. 3. Pelaksanaan Program Bentuk kegiatan program layanan kusuka yakni dengan membuka 10 kelas seperti: kelas aktivitas softskil, kelas konten visual, kelas Bahasa inggirs, kelas computer, kelas perpustakaan digital, kelas dasar mendongeng, kelas memotivasi menulis atau menerbitkan buku, kelas mendongeng dengan boneka, kelas menulis dan kelas publick speaking. Adapun jadwal pertemuan selama dua jam setiap pekan dan setiap kelas memiliki 12 kali pertemuan yang akan di pandu atau di damping oleh masing-masing mentor pengajar dengan dua mentor setiap kelasnya. 4. Evaluasi program layanan kusuka Bentuk evaluasi program layanan kusuka dapat berupa survei yang dilakukan untuk mengumpulkan data tentang kepuasan dan harapan mereka, serta melakukan penyebaran kuisioner kepada pengguna layanan untuk mengetahui keberhasilan dan kegagalan program layanan kusuka. b. Tantangan dari program layanan kusuka yang berbasis inklusi sosial di dinas perpustakaan dan kearsipan Kota Makassar Pelaksanaan program layanan kusuka menjadi wadah bagi Masyarakat yang memiliki peran penting sebagai sumber belajar sepanjang hayat dan kemandirian Masyarakat. Berikut ini adalah beberapa tantangan tantangan yang di hadapi pada pelaksanaan program layanan kusuka: 1. Sumber daya manusia Tantangan yang dihadapi terkait dengan sumber daya manusia pada program layanan kusuka yakni yakni kurangnya keterampilan teknis yang memadahi untuk mengelola program layanan kusuka, serta kurangnya keterampilan teknis untuk mengelola program layanan kusuka dan kualitas dari staf yang rendah sehingga mempengaruhi kualitas dari suatu program. 2. Failitias Fasilitas program layanan kusuka yakni ruangan yang kurang memadai mengenai pelaksanaan setiap kelas pada program layanan kusuka, kemudian publikasi lebih meluas sehingga dapat melibatkan Masyarakat lebih luas. tantangan terkait fasilitas pada program layanan kusuka yakni keterbatasan fasilitas seperti kurangnya ruangan yang memadai untuk melaksanakan program layanan kusuka, keterbatasan perangkat yang memadai untuk mendukung program layanan kusuka, dan kurangnya aksibilitas fasilitas yang memadahi untuk pengguna dengan kebutuhan khusus. 3. Kebijakan Beberapa bentuk kebijakan yang dapat di terapkan untuk membuat program layanan kusuka lebih baik kedepanya dengan meningkatkan kualitas layanan yang di berikan pada pengguna program layanan kusuka meningkatkan aksebilitas program kusuka untuk semua kalangan terutama bagi mereka yang membutuhkan dan meningkatkan efesiensi dalam pengelolaan program kusuka untuk mengurangi biaya dan meningkatkan hasil.
Conclusion
Melalui Program layanan KUSUKA berbasis inklusi sosial di dinas perpustakaan dan kearsipan kota Makassar menjad sebuah tempat yang nyaman dan ramah bagi seluruh kalangan Masyarakat termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup Masyarakat melalui akses informasi dan pengetahuan yang relevan dengan kebutuhan Masyarakat. Program layanan KUSUKA memiliki dampak positif bagi Masyarakat, termasuk meningkatnya jumlah pemustaka yang datang di perpustakaan dan meningkatkan kemampuan literasi Masyarakat. Program layanan KUSUKA memiliki model layanan dan dapat dikelompokkan menjadi empa yaitu: soialisasi program, bimbingan dan pelatihan, pelaksanaan program dan evaluasi program, Adapun tantangan dalam tahapan kegiatan pelaksanaannya mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, keterbatasan fasilitas dan anggaran sehingga menjadi sebuah kendala dalam pelaksanaan program layanan KUSUKA.