Optimalisasi Pustakawan dalam Menumbuhkan Budaya Literasi Siswa Perpustakaan Sekolah Dasar di Kecamatan Manggala Kota Makassar
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar; Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar
Abstrak
Penelitian ini mengkaji optimalisasi peran pustakawan dalam menumbuhkan budaya literasi siswa sekolah dasar di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, serta mengidentifikasi kendala yang dihadapi. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara dan observasi kegiatan literasi di perpustakaan sekolah, lalu dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan memiliki peran yang sangat penting dalam mengembangkan budaya literasi, melalui berbagai kegiatan seperti pembiasaan baca buku, penyediaan koleksi yang sesuai untuk menarik minat baca siswa, dan kolaborasi antara pustakawan dengan guru dalam mengintegrasikan literasi ke dalam kurikulum. Kompetensi pustakawan dalam manajemen koleksi, pengembangan program literasi, serta komunikasi dan kolaborasi pustakawan dengan guru menjadi faktor kunci keberhasilan literasi di sekolah dasar. Profesionalisme kerja pustakawan yang meliputi dedikasi, etika kerja, dan inovasi berperan signifikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung budaya literasi. Keterbatasan sumber daya, rendahnya kompetensi pustakawan dan minat baca siswa, kurangnya kolaborasi dengan pemangku kepentingan dalam meningkatkan minat baca siswa merupakan tantangan dalam menumbuhkan budaya literasi siswa perpustakaan sekolah dasar di Kecamatan Manggala Kota Makassar.
Abstract
This study aims to optimize librarians' roles in fostering a literacy culture among elementary school students in the Manggala sub-district of Makassar City and identify obstacles hindering their effective utilization. The research employs a qualitative approach with a case study method conducted in several schools. Data were collected through in-depth interviews with librarians and direct observations of literacy activities carried out in elementary school libraries. Data analysis was performed descriptively to illustrate the phenomena observed in the field. The findings indicate that librarians play a crucial role in developing a literacy culture through various literacy activities, such as promoting regular reading habits, providing collections tailored to attract student's interest, and collaborating with teachers to integrate literacy into the curriculum. The competencies of librarians in collection management, literacy program development, and communication and collaboration are key factors contributing to successful literacy initiatives in elementary schools. Additionally, the professionalism of librarians—encompassing dedication, work ethics, and innovation—significantly contributes to creating a learning environment that supports a literacy culture. However, there are challenges, including limited resources, insufficient librarian competencies, low reading interest among students, and inadequate collaboration with school stakeholders and parents to boost students' reading enthusiasm.
Keywords:
librarianship roles
· developing a literacy culture
· elementary school library
Introduction
Perpustakaan sekolah dasar merupakan sarana strategis dalam mengembangkan kreativitas siswa karena menyediakan berbagai koleksi yang memuat informasi dan pengetahuan yang dapat dieksplorasi guna mengembangkan potensinya. Selain itu, perpustakaan sekolah juga berperan dalam membentuk kebiasaan membaca sejak dini. Salah satu indikator kemajuan masyarakat adalah tingginya tingkat literasi, di mana proses memperoleh pengetahuan sangat bergantung pada kegiatan membaca. Oleh karena itu, budaya membaca perlu dikembangkan sejak usia dini agar menjadi kebiasaan yang berkelanjutan. Literasi merupakan pondasi utama dalam kehidupan anak-anak. Secara luas, literasi mencakup kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan. Budaya literasi juga menjadi bagian integral dalam kehidupan sehari-hari. Dengan adanya budaya literasi yang kuat, peserta didik didorong untuk lebih aktif dalam kegiatan membaca dan menulis sehingga dapat meningkatkan pemahaman, memperluas wawasan, serta mendukung perkembangan intelektual dan personal mereka.Budaya literasi mendorong minat dan keterlibatan siswa dalam membaca serta menulis sebagai proses yang membangun pengetahuan, memperluas wawasan, dan mendukung pengembangan diri. Metode pendidikan anak yang efektif adalah menanamkan kebiasaan yang selaras dengan prinsip-prinsip syariat Islam sejak usia dini. Kebiasaan yang diterapkan secara konsisten akan membentuk karakter dan mempengaruhi perilaku anak hingga dewasa. Oleh karena itu, pembiasaan terhadap nilai-nilai positif menjadi aspek penting dalam pendidikan guna membangun kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam. Pustakawan sering kali hanya dipandang sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aspek teknis pengelolaan perpustakaan, seperti pengaturan tata letak buku dan administrasi koleksi, tanpa mempertimbangkan peran lebih luas yang mereka emban. Menurut Sulistyo Basuki, pustakawan memiliki peran krusial dalam menentukan arah perkembangan dan kemajuan sebuah perpustakaan. Penelitian ini relevan untuk dieksplorasi lebih lanjut, mengingat permasalahan utama bukan hanya rendahnya kebiasaan membaca, tetapi juga lemahnya peran pustakawan dalam menjalankan tugasnya secara optimal. Rendahnya budaya literasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, dimana kurangnya kebiasaan membaca menjadi faktor utama. Dalam upaya meningkatkan budaya literasi di lingkungan sekolah, pustakawan memegang peranan penting, terutama dalam membangun kebiasaan membaca di kalangan siswa. Sebagai pengelola perpustakaan, pustakawan bertanggung jawab atas pengelolaan dan operasional perpustakaan sekolah. Peran pustakawan tidak hanya terbatas pada pengelolaan koleksi, tetapi juga mencakup upaya aktif dalam membina dan mengembangkan minat serta bakat siswa melalui berbagai kegiatan yang mendukung budaya literasi. Selain itu, pustakawan perlu menciptakan inovasi yang dapat mendorong kebiasaan membaca di lingkungan sekolah. Sebagai elemen utama dalam pengelolaan perpustakaan, pustakawan harus meningkatkan produktivitas dan kinerjanya agar tidak hanya menjalankan program literasi secara temporer, tetapi juga menyusun strategi jangka panjang yang berdampak signifikan terhadap peningkatan budaya literasi di kalangan siswa. Keberadaan perpustakaan sekolah dasar menuntut peran aktif pustakawan dalam pengelolaannya. Mereka harus mampu beradaptasi dengan dinamika lingkungan, baik dari faktor internal maupun eksternal, sehingga perpustakaan dapat menjadi sarana yang efektif dalam menanamkan serta menginternalisasikan kebiasaan membaca di lingkungan sekolah, khususnya bagi siswa. Pustakawan merupakan elemen kunci dalam kemajuan perpustakaan, tetapi efektivitas regulasi yang mendukung tugas mereka di sekolah masih perlu dievaluasi. Penilaian terhadap peran pustakawan menjadi penting, mengingat dampak besar yang mereka miliki dalam membentuk budaya literasi di sekolah dasar. Selain mengelola perpustakaan, pustakawan juga berperan aktif dalam mempromosikan budaya membaca dengan memilih bacaan yang sesuai dan mengembangkan program literasi, seperti klub buku, kompetisi menulis, serta kegiatan literasi lainnya. Pustakawan bekerja sama dengan guru dan orang tua dalam mengintegrasikan sumber daya perpustakaan ke dalam kurikulum serta mendukung pengembangan keterampilan membaca dan menulis siswa. Untuk menciptakan lingkungan yang mendukung budaya literasi, pustakawan perlu menyediakan ruang yang ramah dan inklusif agar siswa merasa nyaman dalam menjelajahi bahan bacaan dan mengembangkan minat membaca. Melalui pelatihan dan pengembangan profesional yang berkelanjutan, pustakawan dapat meningkatkan keterampilan mereka dalam memberikan layanan berkualitas yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan komunitas sekolah. Fenomena ini menunjukkan pentingnya optimalisasi peran pustakawan dalam menumbuhkan budaya literasi sejak usia dini di perpustakaan sekolah dasar. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih dalam peran pustakawan dalam membangun budaya literasi di perpustakaan sekolah dasar secara komprehensif.
Method
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif untuk mengkaji optimalisasi peran pustakawan dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa sekolah dasar di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, serta untuk mengidentifikasi kendala-kendala yang menghambat proses optimalisasi peran pustakawan. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, sementara data sekunder berasal dari penelitian terdahulu yang relevan dengan topik penelitian, seperti jurnal dan buku. Untuk pengumpulan data, penelitian ini menggunakan tiga metode, yaitu wawancara, observasi, dan dokumentasi. Observasi dilakukan secara langsung dalam beberapa waktu di lokasi penelitian yang berbeda. Penelitian ini dilaksanakan di lima lokasi Perpustakaan Sekolah Dasar di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, yaitu: UPT SPF SD Inpres Perumnas Antang I, UPT SPF SD Inpres Borong Jambu II, UPT SPF SD Inpres Unggulan Puri Taman Sari, UPT SPF SD Negeri Borong, dan UPT SPF SDI Perumnas Antang III. Wawancara dilakukan dengan lima pustakawan yang mewakili masing-masing sekolah. Untuk memperkuat data yang diperoleh melalui wawancara dan observasi, peneliti juga mengumpulkan dokumentasi terkait kegiatan literasi perpustakaan yang ada di setiap sekolah. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model Miles dan Huberman (Moleong, 2016), yang melibatkan tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Tahap reduksi data dilakukan dengan memisahkan data yang relevan dengan topik penelitian dari data yang tidak relevan. Selanjutnya, peneliti menyajikan data dalam bentuk yang lebih sistematis dan mudah dipahami. Pada tahap terakhir, peneliti menarik kesimpulan dari data yang telah dianalisis, yang kemudian digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini. Untuk memastikan keabsahan data, penelitian ini menerapkan teknik triangulasi yang meliputi triangulasi sumber, teknik, dan waktu. Dengan cara ini, peneliti membandingkan hasil data yang diperoleh dari berbagai sumber, teknik pengumpulan data, serta waktu pengumpulan data untuk memastikan konsistensi dan validitas temuan penelitian. Penyajian data dilakukan dalam bentuk teks naratif yang menggambarkan secara mendalam kondisi lapangan serta temuan yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara, dan dokumentasi. Dengan demikian, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang optimalisasi peran pustakawan dalam menumbuhkan budaya literasi di siswa sekolah dasar di Kecamatan Manggala, Kota Makassar, serta mengidentifikasi kendala yang menghambat proses optimalisasi peran pustakawan.
Result & Discussion
A. Optimalisasi pustakawan dalam menumbuhkan budaya literasi siswa perpustakaan sekolah dasar Optimalisasi pustakawan mengacu pada upaya meningkatkan peran, kompetensi, dan efektivitas pustakawan dalam menjalankan tugasnya. Upaya ini bertujuan untuk mendukung pengembangan serta menumbuhkan budaya literasi, sekaligus meningkatkan kualitas layanan perpustakaan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis terhadap lima informan yang ada di perpustakaan sekolah kecamatan kota manggala Optimalisasi ini terdiri dari dua aspek utama: 1. Kompetensi Pustakawan Kompetensi pustakawan harus mencakup kemampuan dalam mengukur, mengevaluasi, dan merespons secara proaktif terhadap berbagai tantangan. Selain itu, pustakawan dituntut untuk menerima serta beradaptasi dengan kemajuan, perkembangan, inovasi, dan kreativitas di bidang perpustakaan. Hal ini bertujuan untuk menegaskan eksistensi profesi pustakawan sebagai entitas yang mampu memenuhi kebutuhan masyarakat atau pemustaka secara optimal. Spencer dan Spencer (1993) mengemukakan teori kompetensi empat dimensi yang mencakup, yaitu pengetahuan, keterampilan, sifat dan konsep diri, serta motivasi. a) Pengetahuan Pustakawan dalam Literasi Sekolah Dasar Pengetahuan pustakawan mencakup pemahaman tentang literasi dan ilmu dasar perpustakaan, serta metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa. Pustakawan yang memiliki pemahaman luas mengenai literasi mampu memberikan rekomendasi bacaan yang tepat serta menyusun program literasi yang efektif bagi siswa sekolah dasar. Menurut salah satu informan, pustakawan dari UPT SPF SDI Antang I, "Pengetahuan tentang literasi sangat penting bagi pustakawan. Kami harus memahami kebutuhan membaca anak-anak berdasarkan usia dan tingkat perkembangannya, agar mereka bisa menikmati proses membaca dengan lebih baik." Pernyataan ini menegaskan bahwa pengetahuan pustakawan menjadi dasar dalam membangun minat baca siswa sejak dini. Selain itu, pemahaman pustakawan terhadap metode pembelajaran yang sesuai dengan tingkat perkembangan siswa juga berperan penting dalam menciptakan lingkungan literasi yang mendukung. Pustakawan dari UPT SPF SDI Borong mengungkapkan, "Kami tidak hanya menjaga buku, tetapi juga harus mengetahui metode yang efektif untuk mengajarkan literasi kepada siswa. Hal ini mencakup teknik mendongeng, pembuatan aktivitas berbasis literasi, dan memanfaatkan teknologi untuk menarik minat baca." b) Keterampilan Pustakawan dalam Mendukung Literasi Sekolah Dasar Keterampilan pustakawan sangat menentukan kualitas layanan perpustakaan dalam mendukung literasi siswa. Beberapa keterampilan utama yang harus dimiliki pustakawan meliputi: 1) Mengelola Koleksi Buku Pustakawan harus mampu mengelola koleksi buku berdasarkan kategori usia dan tingkat kesulitan bacaan agar siswa dapat dengan mudah menemukan bacaan yang sesuai. Pustakawan di UPT SPF SDI Antang I mengatakan, "Kami menyusun buku berdasarkan level kesulitan bacaan. Dengan begitu, siswa bisa memilih buku yang sesuai dengan kemampuan mereka, sehingga mereka tidak merasa kesulitan atau bosan." 2) Menggunakan Teknologi dalam Perpustakaan Di era digital, pustakawan dituntut untuk menguasai teknologi guna meningkatkan aksesibilitas informasi. Penggunaan katalog digital (OPAC) dan smart Tv atau layar LCD besar di perpustakaan dapat menarik siswa berkunjung di Perpustakaan. "Kami memanfaatkan katalog digital (OPAC) untuk mempermudah pencarian buku, sehingga siswa dapat dengan mudah menemukan bacaan yang mereka butuhkan. Selain itu, kami juga mengadakan pemutaran film edukasi di perpustakaan sebagai upaya menarik minat siswa agar lebih aktif mengunjungi dan memanfaatkan fasilitas perpustakaan." pustakawan dari UPT SPF SDI Perumnas Antang III. 3) Mengadakan Kegiatan Literasi Interaktif Kegiatan literasi yang menarik, seperti klub baca, storytelling, dan diskusi buku, menjadi salah satu strategi efektif dalam menumbuhkan minat baca siswa. Pustakawan dari UPT SPF SDI Borong mengungkapkan, "Kami mengadakan sesi storytelling tiap pekan. Anak-anak sangat antusias, terutama ketika cerita dibawakan dengan ekspresi dan alat bantu seperti boneka tangan." Pustakawan yang memiliki keterampilan tinggi dalam aspek-aspek tersebut mampu meningkatkan kualitas layanan perpustakaan dan menarik lebih banyak siswa untuk berkunjung serta membaca. Dengan demikian, perpustakaan sekolah dapat menjadi pusat literasi yang aktif dan berkontribusi dalam meningkatkan kemampuan literasi siswa sekolah dasar secara optimal. c) Sifat dan Konsep Diri Pustakawan dalam Literasi Siswa Sifat dan konsep diri pustakawan sangat mempengaruhi interaksi mereka dengan siswa. Pustakawan yang memiliki sifat ramah, sabar, dan komunikatif lebih mampu menciptakan lingkungan literasi yang nyaman. Hal ini terlihat dari tingginya tingkat kunjungan siswa ke perpustakaan sekolah yang memiliki pustakawan dengan keterampilan interpersonal yang baik. Konsep diri juga memainkan peran penting dalam membentuk persepsi pustakawan terhadap pekerjaannya. Pustakawan yang memiliki konsep diri positif menunjukkan rasa percaya diri dalam membimbing siswa, sehingga siswa lebih termotivasi untuk berpartisipasi dalam kegiatan literasi. Pustakawan dari UPT SPF Antang I mengungkapkan, "Saya percaya bahwa setiap siswa memiliki potensi untuk mencintai membaca. Dengan pendekatan yang baik, mereka bisa merasa nyaman dan berani mengeksplorasi dunia literasi." Dengan demikian, kombinasi antara sifat yang mendukung dan konsep diri yang positif membantu pustakawan menciptakan pengalaman literasi yang menyenangkan bagi siswa. d) Motivasi Pustakawan dalam Menumbuhkan Budaya Literasi Motivasi merupakan faktor internal yang mendorong pustakawan untuk melakukan tugasnya dengan penuh dedikasi. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi di perpustakaan sekolah dasar, pustakawan yang memiliki motivasi tinggi lebih proaktif dalam menyelenggarakan kegiatan literasi, seperti: 1) Program Membaca Bersama, yang bertujuan meningkatkan kebiasaan membaca sejak dini 2) Layanan Peminjaman Buku atau Membaca Buku Berbasis Digital, yang memberikan kemudahan bagi siswa dalam mengakses bahan bacaan (anatang III) 3) Pengembangan Pojok Baca, yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa untuk meningkatkan minat baca. Pustakawan dari UPT SPF SDI Antang III menyatakan, "Saya merasa terdorong untuk mengembangkan budaya literasi di sekolah karena saya melihat dampak positifnya terhadap siswa. Mereka lebih antusias dan tertarik untuk membaca ketika ada program yang menarik." Selain itu, motivasi pustakawan juga dipengaruhi oleh dukungan dari pihak sekolah dan orang tua. Pustakawan dari UPT SPF SD Borong menambahkan, "Ketika sekolah dan orang tua turut mendukung kegiatan literasi, kami semakin termotivasi untuk menciptakan inovasi baru dalam layanan perpustakaan." Dengan motivasi yang tinggi, pustakawan dapat menciptakan lingkungan literasi yang kondusif dan berkelanjutan, sehingga budaya membaca dapat tertanam dengan baik di kalangan siswa sejak usia dini. 2. Profesionalisme Kerja Pustakawan Michael Eraut (1994) menjelaskan bahwa kompetensi profesional terdiri dari tiga aspek utama, yaitu kompetensi kognitif, kompetensi fungsional, dan kompetensi sosial serta personal. Dalam konteks perpustakaan sekolah dasar, profesionalisme pustakawan berperan penting dalam meningkatkan literasi siswa melalui pengelolaan yang efektif dan inovatif. a) Kompetensi Kognitif dalam Pengelolaan Literasi Kompetensi kognitif pustakawan berkaitan dengan pemahaman mereka terhadap teori literasi, metode pengajaran, serta pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran literasi. Pustakawan yang memiliki kompetensi kognitif tinggi mampu: 1) Menyesuaikan koleksi buku dengan kebutuhan literasi siswa. 2) Menggunakan strategi pembelajaran berbasis literasi yang inovatif, seperti literasi digital dan game edukasi berbasis bacaan. 3) Berkolaborasi dengan guru dalam mengintegrasikan kegiatan literasi ke dalam mata pelajaran. Berdasarkan wawancara dengan salah satu pustakawan UPT SPF SDI Borong Jambu I, menyatakan bahwa: "Kami terus memperbarui koleksi buku agar sesuai dengan kurikulum terbaru dan minat siswa. Selain itu, kami menerapkan teknologi seperti e-book dan permainan edukatif untuk meningkatkan daya tarik literasi." Hasil observasi juga menunjukkan bahwa sekolah dengan pustakawan yang memiliki kompetensi kognitif baik mengalami peningkatan dalam minat baca siswa dan frekuensi kunjungan ke perpustakaan. b) Kompetensi Fungsional dalam Pengelolaan Perpustakaan Sekolah Kompetensi fungsional mengacu pada kemampuan teknis pustakawan dalam mengelola perpustakaan dan merancang program literasi. Beberapa indikator kompetensi fungsional yang mendukung optimalisasi pustakawan meliputi: 1) Manajemen Koleksi Buku: Pustakawan harus memiliki keterampilan dalam mengelola koleksi buku berdasarkan kebutuhan siswa dan tren literasi terkini. 2) Pelaksanaan Program Literasi Berbasis Teknologi: Pemutaran Film (Nonton Bareng), Pembelajaran Digital di Perpustakaan, serta program "Buku Audio untuk Literasi Inklusif" meningkatkan aksesibilitas siswa terhadap bahan bacaan. 3) Penyelenggaraan Kegiatan Literasi: Program seperti "Bulan Literasi", "Festival Literasi Anak", dan "Ranking Satu" terbukti meningkatkan antusiasme siswa dalam membaca. Pustakawan UPT SPF SDI Borong, mengungkapkan bahwa: "Kami selalu mencari cara untuk membuat perpustakaan lebih menarik bagi siswa, seperti mengadakan festival literasi dan menyediakan sistem peminjaman buku yang lebih fleksibel." Hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan yang memiliki kompetensi fungsional tinggi lebih efektif dalam mengoptimalkan layanan perpustakaan dan meningkatkan budaya literasi di sekolah dasar. c) Kompetensi Sosial dan Personal dalam Meningkatkan Interaksi Literasi Kompetensi sosial dan personal berhubungan dengan kemampuan pustakawan dalam membangun hubungan dengan siswa, guru, dan komunitas literasi. Beberapa aspek yang mendukung kompetensi ini meliputi: 1) Kemampuan komunikasi yang baik, sehingga pustakawan dapat membimbing siswa dalam memilih bacaan yang sesuai. 2) Kolaborasi dengan guru dan orang tua untuk menciptakan lingkungan literasi yang berkelanjutan. 3) Adaptasi terhadap perkembangan literasi modern, seperti penerapan "Perpustakaan Digital Sekolah" yang memungkinkan siswa mengakses bahan bacaan dari rumah. Menurut wawancara dengan Pustakawan UPT SPF SDI Borong Jambu I: "Pustakawan yang memiliki keterampilan interpersonal yang baik mampu menciptakan lingkungan perpustakaan yang nyaman dan mendorong siswa untuk lebih sering membaca." Pustakawan yang memiliki kompetensi sosial dan personal yang baik mampu menciptakan suasana perpustakaan yang ramah dan menarik bagi siswa, sehingga mendukung peningkatan literasi secara keseluruhan. B. Kendala optimalisasi peran pustakawan dalam menumbuhkan budaya literasi siswa perpustakaan sekolah dasar Pustakawan memiliki peran yang signifikan dalam menumbuhkan budaya literasi siswa. Namun, terdapat berbagai kendala yang menghambat optimalisasi peran mereka. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menjadi tantangan dalam optimalisasi pustakawan di sekolah dasar: 1. Keterbatasan Sumber Daya Salah satu kendala utama yang dihadapi dalam optimalisasi pustakawan adalah keterbatasan sumber daya, baik dalam hal jumlah pustakawan maupun ketersediaan koleksi buku yang memadai untuk menarik peserta didik membaca buku. Minimnya jumlah pustakawan menyebabkan layanan literasi yang diberikan kepada siswa menjadi terbatas. Dampaknya, pendampingan dalam kegiatan membaca serta pengelolaan program literasi tidak dapat berjalan secara optimal. Informan dari pustakawan UPT SPF SDI Antang I, mengungkapkan: "Kami hanya memiliki satu pustakawan yang harus melayani ratusan siswa setiap harinya. Dengan keterbatasan tenaga ini, sulit bagi kami untuk memberikan bimbingan yang maksimal dalam meningkatkan minat baca siswa." Selain itu, kurangnya pembaruan koleksi buku juga menjadi faktor yang mengurangi daya tarik perpustakaan. Koleksi yang tidak variatif dan tidak sesuai dengan perkembangan kurikulum maupun minat baca siswa dapat menurunkan motivasi mereka untuk mengunjungi perpustakaan. Hal ini ditegaskan juga oleh salah satu guru sekaligus Pustakawan dari UPT SPF SDI Borong Jambu I yang mengatakan: "Banyak buku di perpustakaan yang sudah usang dan tidak relevan dengan pembelajaran saat ini. Siswa sering kali mengeluh karena tidak menemukan bacaan yang menarik dan sesuai dengan minat mereka." Akibatnya, peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan penguatan budaya literasi di sekolah dasar menjadi kurang maksimal. 2. Kurangnya Dukungan dari Pihak Sekolah serta Orang Tua Dukungan dari pihak sekolah dan orang tua memiliki peran krusial dalam menumbuhkan budaya literasi di kalangan siswa. Namun, pada kenyataannya, kurangnya perhatian dan keterlibatan dari kedua pihak ini menjadi salah satu hambatan utama, terutama di tingkat sekolah dasar. Di lingkungan sekolah, pustakawan sering kali menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan program literasi akibat minimnya kebijakan yang mendukung. Anggaran yang terbatas serta prioritas lain yang lebih diutamakan oleh pihak sekolah menyebabkan kurangnya fasilitas dan sumber daya yang memadai untuk menjalankan kegiatan literasi yang efektif. Selain itu, peran orang tua dalam menanamkan kebiasaan membaca di rumah juga belum optimal. Rendahnya kesadaran akan pentingnya literasi membuat sebagian besar orang tua kurang memberikan dorongan kepada anak-anak mereka untuk gemar membaca. Sebagaimana disampaikan oleh Pustakawan UPT SPF SDI Perumnas Antang III: "Untuk menjalankan kegiatan literasi, diperlukan dukungan dari kepala sekolah serta guru-guru lainnya. Jika hanya dibebankan kepada tenaga perpustakaan, upaya meningkatkan minat baca siswa akan menjadi tidak seimbang. Apalagi, tenaga perpustakaan di sekolah kami hanya satu orang dan masih memiliki tanggung jawab administratif lainnya. Oleh karena itu, dalam menciptakan program literasi yang produktif di perpustakaan, diperlukan kolaborasi yang kuat." Selain itu, ketiadaan kebijakan yang mewajibkan siswa untuk mengunjungi perpustakaan secara rutin turut berkontribusi pada rendahnya keterlibatan mereka dalam kegiatan literasi. Pustakawan UPT SPF SDI Unggulan Puri Taman Sari menyampaikan pendapatnya: "Tidak ada aturan yang mewajibkan siswa untuk membaca di perpustakaan. Kebanyakan siswa datang hanya saat ada tugas dari guru, bukan karena kebiasaan membaca yang mereka bangun sendiri atau inisiatif berkunjung ke perpustakaan membaca." Oleh karena itu, sinergi antara pustakawan, guru, kepala sekolah, dan orang tua sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan literasi yang mendukung dan berkelanjutan bagi siswa. 3. Minimnya Pelatihan Berkelanjutan bagi Pustakawan Kurangnya kesempatan pustakawan untuk mengikuti pelatihan dan workshop juga menjadi kendala dalam pengelolaan perpustakaan yang inovatif. Pustakawan yang tidak mendapatkan pelatihan secara berkala cenderung kesulitan dalam mengembangkan program yang menarik bagi siswa. Pustakawan UPT SPF SDI Unggulan Puri Taman Sari menuturkan: "Saya ingin mengikuti pelatihan tentang literasi digital dan manajemen perpustakaan modern, tetapi kesempatan tersebut sangat jarang diberikan. Akibatnya, kami masih menggunakan metode yang sama seperti bertahun- tahun lalu tanpa adanya inovasi." Tanpa adanya peningkatan keterampilan dan wawasan, pustakawan akan kesulitan dalam menciptakan program literasi yang mampu menarik minat siswa. 4. Rendahnya Minat Baca Siswa Salah satu tantangan terbesar dalam optimalisasi pustakawan adalah rendahnya minat baca siswa. Pengaruh media digital dan kurangnya kebiasaan membaca di lingkungan keluarga membuat siswa kurang tertarik untuk mengunjungi perpustakaan. Pustakawan UPT SPF SDI Borong Jambu I mengungkapkan: "Di rumah, anak-anak lebih suka bermain gadget daripada membaca buku. Tanpa dorongan yang kuat dari sekolah, sulit bagi mereka untuk membiasakan diri membaca secara rutin." Untuk mengatasi kendala ini, diperlukan berbagai upaya seperti penguatan kebijakan literasi sekolah, peningkatan pelatihan bagi pustakawan, serta inovasi dalam layanan perpustakaan guna menarik minat baca siswa. Dengan dukungan yang lebih baik, perpustakaan dapat berperan lebih maksimal dalam membangun budaya literasi di sekolah.
Conclusion
Pengembangan kompetensi pustakawan dalam aspek pengetahuan, manajemen koleksi, serta kolaborasi pustakawan dengan guru merupakan faktor kunci dalam menumbuhkan budaya literasi dan keberhasilan literasi di sekolah dasar. Profesionalisme kerja pustakawan yang mencakup dedikasi, inovasi, dan etika kerja berperan signifikan dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif bagi tumbuhnya budaya literasi siswa. Dedikasi pustakawan tercermin dalam komitmen mereka untuk menyediakan layanan terbaik, membimbing siswa dalam mengakses dan memahami bahan bacaan, dan terus meningkatkan kompetensi melalui pelatihan serta pendidikan berkelanjutan. Inovasi dalam program literasi, seperti penerapan teknologi digital, storytelling interaktif, dan kegiatan literasi kreatif, mendorong minat baca siswa secara lebih efektif. Etika kerja yang tinggi, termasuk tanggung jawab, kejujuran, dan sikap profesionalisme dalam mengelola perpustakaan, memastikan bahwa setiap layanan yang diberikan dapat secara optimal mendukung pertumbuhan budaya literasi siswa di sekolah dasar Kecamatan Manggala Kota Makassar. Tantangan dalam menumbuhkan budaya literasi di perpustakaan sekolah dasar Kecamatan Manggala Kota Makassar dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu keterbatasan sumber daya, rendahnya kompetensi pustakawan, rendahnya minat baca siswa, serta kurangnya kolaborasi dengan pemangku kepentingan. Keterbatasan sumber daya, baik dalam hal jumlah buku maupun fasilitas pendukung lainnya, menghambat akses siswa terhadap bahan bacaan yang berkualitas. Rendahnya kompetensi pustakawan dalam mengelola perpustakaan dan memberikan bimbingan literasi menjadi kendala dalam memfasilitasi minat baca siswa. Rendahnya minat baca siswa disebabkan oleh kurangnya stimulasi yang efektif dari lingkungan sekolah dan keterbatasan peran aktif dari pemangku kepentingan. Peningkatan kompetensi pustakawan dan penguatan kolaborasi dengan berbagai pihak sangat dibutuhkan guna menciptakan budaya literasi yang mendukung perkembangan siswa secara optimal.