Perpustakaan Konvensional, Hibrida, Perpustakaan Digital dan Bookless Library
Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang
Abstrak
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi pada era digital ini membawa dampak yang sangat berpengaruh pada perpustakaan, pustakawan dan pemustaka. Tidak dapat dipungkiri terjadi perubahan karakter pencarian informasi pada pemustaka di setiap perpustakaan, baik perpustakaan sekolah maupun perguruan tinggi. Dengan berkembangnya teknologi perpustakaan juga mengalami banyak perubahan salah satunya adalah dengan hadirnya perpustakaan berbagai jenis dari hibrida, digital sampai bookless.Perpustakaan konvensional merupakan perpustakaan yang hanya memiliki koleksi cetak dan melakukan pekerjaan dengan manual. Perpustakaan hibrida merupakan gabungan perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital, dimana informasi yang dikemas dalam media elektronik maupun cetak digunakan secara bersamaan. Perpustakaan digital merupakan perpustakaan yang menyediakan sumber-sumber digital. Sedangkan perpustakaan bookless merupakan perpustakaan yang memiliki koleksi dalam bentuk digital tanpa koleksi tercetak. Perkembangan perpustakaan tidak terlepas dari pro dan kontra tapi kembali lagi mengingat tentang sejauh mana manfaat yang dapat diambil dari perkembangan tersebut. jenis-jenis perpustakaan yang telah dibahas dalam makalah ini merupakan dampak dari perkembangan teknologi, dan perpustakaan membutuhkan inovasi untuk dapat terus bertahan dengan menggunakan perkembangan teknologi yang ada, maka dari itu perpustakaan hibrida, digital dan bookless menjadi alternatif yang dapat digunakan untuk tetap mempertahankan eksistensi keberadaan perpustakaan.
Abstract
The development of science, technology and information in this digital era has had an impact on libraries, librarians and librarians. It is undeniable that there is a change in the character of information search in the library in each library, both the school library and the college. With the development of library technology is also experiencing many changes one of which is with the presence of libraries of various types of hybrids, digital to bookless. Conventional library is a library that only has a collection of prints and do the work with the manual. Hybrid Library is a combination of conventional libraries and digital libraries, where information packed in electronic and print media is used simultaneously. Digital libraries are libraries that provide digital sources. While the bookless library is a library that has collections in digital form without printed collections. The development of the library cannot be separated from the pros and cons but back again to remember about the extent to which benefits can be taken from these developments. The types of libraries discussed in this paper are the impact of technological developments, and libraries require innovation to continue to survive using existing technological developments, so hybrid, digital and bookless libraries serve as an alternative that can be used to maintain the existence of existence library.
Keywords:
perpustakaan konvensional
· digital
· hibrida
· bookless
Introduction
1. Latar Belakang Perpustakaan sebagai pusat sumber daya informasi menjadi tulang punggung gerak majunya suatu institusi terutama institusi pendidikan, di mana tuntutan untuk adaptasi terhadap perkembangan informasi sangat tinggi. Hal ini dikarenakan pengguna dominan dari kalangan akademisi yang kebutuhannya akan informasi sangat kuat, sehingga mau tidak mau perpustakaan harus pula berfikir untuk berupaya mengembangkan diri guna memenuhi kebutuhan pengguna. Perpustakaan adalah sebuah ruangan, bagian dari sebuah gedung atau gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang disusun secara sistematis untuk digunakan pembaca, bukan untuk dijual. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi pada era digital ini membawa dampak yang sangat berpengaruh pada perpustakaan, pustakawan dan pemustaka. Tidak dapat dipungkiri terjadi perubahan karakter pencarian informasi pada pemustaka di setiap perpustakaan, baik perpustakaan sekolah maupun perguruan tinggi. Dengan perubahan yang ada perpustakaan juga telah banyak mengalami perubahan dengan berkembangnya teknologi dengan hadirnya perpustakaan dengan berbagai jenis dari hibrida, digital sampai bookless merupakan hasil dari perkembangan teknologi yang ada. Pemustaka saat ini lebih banyak berteman akrab dengan gadget dan elektonik maka dari itu perpustakaan membenah diri dengan menghadirkan perpustakaan perpustakaan yang sesuai dengan trend yang ada, seperti perputakaan digital dimana pemustaka dapat menemukan informasi dimana dan kapan saja. Kebutuhan pemustaka merupakan prioritas keberadaan perpustakaan maka dari itu inovasi terbaru patut menjadi perhatian agar perpustakaan tetap dapat mempertahankan eksistensinya. Perkembangan teknologi informasi membawa dampak perubahan terhadap bentuk perpustakaan yang hanya menyediakan koleksi buku dengan pelayanan manual, sekarang berkembang menjadi perpustakaan yang menggunakan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan perpustakaan itu sendiri. Karena teknologi informasi juga perpustakaan masa kini muncul dengan wajah baru atau seperti yang kita kenal dengan perpustakaan digital dan bookless library dimana perpustakaan ini memiliki koleksi dengan format digital yang bisa diakses pemustaka dimanapun dan kapanpun. Dari pernyataan diatas diketahui bahwa perpustakaan dari dulu hingga sekarang telah banyak mengalami perubahan, apalagi dengan hadirnya perkembangan TI yang sangat pesat. Maka dari itu penulis tertarik untuk menganalisis perkembangan perpustakaan dari bentuk konvensional, hibrida, digital hingga bookless library, serta memperjelas kelemahan dan kelebihan dari masing-masing bentuk perpustakaan tersebut. 2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas yang telah diuaraikan, maka rumusan masalah adalah : apa yang dimaksud perpustakaan konvensional, hibrida, digital dan bookless?
Result & Discussion
1. Perpustakaan Konvensional Ketika membincangkan perpustakaan konvensional (perpustakaan berbahan kertas dan tinta), tentu kita tidak pernah bisa melepaskan unsur tempat karena eksistensi perpustakan konvensional ditandai dengan tempat. Dalam suatu batasan perpustakaan, adalah ruangan, ataupun bagian sebuah gedung atau gedung itu sendiri yang digunakan untuk menyimpan buku dan terbitan lainnya yang biasanya disimpan menurut tata susunan tertentu untuk digunakan pembaca bukan untuk dijual.1 Dari pengertian diatas dapat disimpulkan perpustakaan konvensional merupakan perpustakaan yang hanya memiliki koleksi cetak, pada saat ini perpustakaan kebanyakan sudah berpindah menuju perpustakaan hibrida. Adapun perpustakaan konvensional biasanya bisa kita dapati pada perpustakaan taman kanak-kanak atau sekarang lebih dikenal dengan TK dimana pengguna perpustakaan merupakan anak-anak dibawah umur yang masih membutuhkan buku-buku bergambar, buku dogeng dsb. 2. Perpustakaan Digital Konsep perpustakaan digital, perpustakan elektronik ataupun perpustakaan hibrida sering dianggap sama atau sinonim. Artinya bila menyebut satu istilah di atas maka istilah itu megacu pada perpustakaan yang sama. Namun sekarang, konsep perpustakaan digital lebih sering didengar dari istilah lainnya, karena kebanyakan orang berharap ada ada kemajuan besar dalam dunia perpustakaan.Dari sinilah para ahli mulai membatasi istilah perpustakaan digital. Batasan yang paling sederhana adalah definisi Lesk sebagaimana dikemukakan Pendit dalam Perpustakaan digital: perspektif perpustakaan perguruan tinggi, yaitu ”Organized colections of digital information”. 2Batasan lain yang lebih luas disampaikan Arms seperti dikemukakan Deegan 3 yaitu:“A Managed collection of information, with associated services, where the information is stored in digital formats and accessible over network. A crucial part of this definition is that the information is managed.” Federasi perpustakaan di Amerika Serikat juga memberi batasan sebagaimana dikutip oleh Deegan 4 sebagai berikut: “Digital libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select, structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital works so that they are readily and economically available for use by defined community or set of communities”. Batasan terakhir memberi makna yang lebih luas dari dua terdahulu, yaitu bahwa perpustakaan digital menyediakan sumber-sumber digital disamping pegawai dengan tatakerja dan tujuan kerja serta masyarakat yang diharapkan dapat memanfaatkan layanan perpustakaan. Selanjutnya Tedd dan Large, seperti dikutip Pendit 5, menyebut ada tiga karakter untuk menyebut perpustakaan sebagai perpustakaan digital yaitu: a. Memakai teknologi yang mengintegrasiakan kemampuan menciptakan, mencari, dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dalam sebuah jaringan digital yang tersebar luas. b. Memiliki koleksi yang mencakup data dan metadata yang saling mengaitkan berbagai data, baik di lingkungan internal maupun eksternal. c. Merupakan kegiatan mengoleksi dan mengatur sumberdaya jasa untuk memenuhi kebutuhan informai masyarakat tersebut karenanya peprustakaan digital merupakan integrasi institusi museum, arsip, dan sekolah yang memilih, mengoleksi, mengelola, merawat dan menyedikan informasi secara meluas ke berbagai komunitas. Karakter terakhir yang menyebut integrasi berbagai lembaga informasi untuk melayani berbagai masyarakat, merupakan salah satu gambaran paling dicitakan dalam konsep perpustakaan digital. Dari sisi teknologi, maka yang menjadi perhatian utama adalah adanya integrasi dan keterkaitan antar berbagai jenis format data dalam jumlah yang sangat besar; disimpan dan disebarluaskan melalui jaringan telematika yang bersifat global. Mukaiyama6 mengemukakan setidaknya ada 7 (tujuh ) teknologi yang menjadi perhatian utama dalam mewujudkan perpustakan digital yaitu: a. Contents processing technology. Teknologi yang digunakan untuk menciptakan, menyimpan, menemukan kembali informasi digital, baik informasi primer maupun sekunder secara efektif. b. Information access technology. Teknologi yang memungkinkan menyediakan akses ke berbagai jenis informasi tanpa batasan waktu dan tempat. c. Human-friendly, intelellgenet interface. Antarmuka yang memungkinkan peningkatan produktivitas intelektual dalam bentuk fasilitas yang juga memungkinkan berbagai pengguna melakukan berbagai carian informasi. d. Interoperability. Teknologi yang memungkinkan berbagi teknologi yang berbeda-beda saling bertemu dalam lingkungan yang heterogen. e. Scalability. Teknologi yang memperluas sebaran informasi dan mmapu meningkatkan jumlah pengguna serta memungkinkan aksesnya. f. Open system development. Teknologi yang memungkinkan penggunaan standard international dan standar de facto tetapi Dengan persyaratan yang begitu kompleks untuk mewujudkan suatu perpustakaan digital, maka membangun perpustakaan digital tidak mungkin dikerjakan oleh perpustakaan perguruan tinggi saja. Proyek besar memerlukan kerja sama yang erat antara banyak pihak,dalam mewujudkan perpustakaan digital membutuhkan perjalanan dan proses yang lumayan panjang. 3. Perpustakaan Hibrida Sebelum banyak ahli membincangkan perpustakaan digital, sesungguhnya mereka sudah mewacanakan perpustakaan hibrida. Istilah perpustakaan hibrida (Hybrid library) pertama kali dikemukakan oleh Chris Rusbridge dalam artikel yang dimuat dalam di D-Lib Magazine pada tahun 1998. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan suatu perpustakaan yang koleksinya terdiri atas bahan cetak dan bahan noncetak. Perpustakaan hibrida adalah campuran bahan-bahan cetakan seperti buku, majalah, dan juga bahan-bahan berupa jurnal elektronik, e-book dan sebagainya. Perpustakaan hibrida merupakan continuum antara perpustakaan konvensional dan perpustakaan digital, dimana informasi yang dikemas dalam media elektronik maupun cetak digunakan secara bersamaan. Tantangan pengelola perpustakaan hibrida adalah mendorong pemakai untuk menemukan informasi dalam berbagai format. Inggris merupakan negara yang paling aktif melakukan penelitian guna mewujudkan perpustakaan digital. D-lib Magazine edisi Oktober 1998 mencatat, setidaknya ada lima proyek yang Inggris coba untuk mewujudkan impiannya menciptakan perpustakaan hibrida. Yaitu: a. HyLife (Hybrid Library of the Future) Proyek ini berusaha mendirikan, menguji, mengevaluasi, serta menyebarkan sekitar teori dan praktik perpustakaan hibrida yang terdiri atas layanan lektronik dan cetak. Proyek ini dikembangkan di University of Northumbria yang menfokuskan diri dalam hal nonteknologi untuk memahami bagaimana cara terbaik mengoperasikan perpustakaan hibrida. Salah satu hasilnya adalah Hybrid Library Toolkit, yang berisikan panduan mengenai langkah implementasi bagi perpustakaan- perpustakaan yang ingin mengembangkan jasa elektronik sesuai dengan kebutuhan. b. Malibu (Managing the hybrid Library for the Benefit of Users). Proyek ini memfokuskan diri pada pengembangan model institusi untuk organisasi dan layanan perpustakaan hibrida. Malibu didirikan oleh tiga lembaga yaitu King’s College London, University of Oxford, dan University of Southamton, yang mengembangkan perpustakaan hibrida dalam kajian humanities. Proyek ini menarik sebab juga melibatkan pemakai untuk membuat skenario sistem yamg memudahkan dalam melayani pemakainya. Malibu memfokuskan pada pengembangan model institutsi untuk suatu organisasi dan manajemen layanan perpustakaan hibrida. c. HeadLine(Hybrid Electronic Access and Delivery in the Library Networked Environment) Proyek ini dikerjakan oleh London School of Economics, The London Business School, dan The University of Hertfordshire. Proyek ini bertujuan mrerancang dan mengimplementasikan model perpustakaan hibrida dalam dalam lingkungan akademik yang nyata. Pproyek ini bereksperimen dengan lingkungan jasa informasi personal alias Personal Information Environment dengan mengembangkan portal yang memungkinkan pemakai perpustakaan mengakses informasi elektronik maupun nonelektronik secara terintegrasi. d. Builder (Birmingham University Integrated Library Development and Electronic Resource) Dikembangkan di University of Birmingham, bertujuan untuk mempelajari dampak perpustakaan hibrida terhadap pemakai di perguruan tingi, mulai dari mahasiswa serta dosen yang mengajar di sana, serta pengelola perpustakaan sendiri. e. Agora, membangun sistem manajemen perpustakaan hibrida ( a hybrid library management system /HLMS) merupakan konsorsium yang terdiri atas University of East Anglia, UKOLN, Fretwell-Downing Informatics, dan CERLIM (the Centre for Research in Library and Information Management) dengan konsentarsi pada Hibrid Library Management System. Perhatian utama dalam proyek ini adalah pengembangan sistem informasi berbasis pada konsep search, locate, request, an deliver. Dari temuan di atas akhirnya para pustakawan dan para teknolog berkolaborasi mengembangkan suatu konsep perpustakaan hibrida yang tetap mempertahankan koleksi tercetak, dan digital secara terintegrasi tanpa harus menomorduakan macam koleksi tententu. Yang membedakan perpustakaan digital dangan hibrida adalah: a. Hibrida masih memiliki koleksi tercetak yang permanen dan setara dengan koleksi digitalnya, dimana perpustakaan digital berusaha ingin mengubah semua koleksinya ke dalam bentuk digital. b. Perpustakan hibrida memperluas konsep cakupan jasa informasi sehingga perubahan koleksi elektronik dan digital serta penggunaan teknologi komputer tidak dipisahkan dari yang berbasis tercetak. Konsep perpustakaan hibrida sangat jelas yaitu mempertahankan keberadaan perpustakaan tercetak dengan alasan bahwa pemakai masih saja memerlukan koleksi tercetak untuk memenuhi keperluan mereka. Tetap saja buku tercetak tidak tergantikan dengan buku digital. Untuk itulah koleksi tercetak harus tetap dipertahankan. 4. Bookless Library Bookless library merupakan perpustakaan yang memiliki koleksi dalam bentuk digital tanpa koleksi tercetak, perpustakaan bookless pertama berada di texas yang bernama Bibliotech. Bookless library merupakan salah satu bukti dunia yang berubah dengan adanya teknologi. Adapun pengertian bookless library adalah : “Bookless library are public, academic and school libraries that do not have any printed books. Instead they offer all-digital collections of literary works, reading material and scientific and academic research material. A bookless library typically uses the space that would have once been used for books to offer public computers, e-readers and other technology used to consume and produce digital media. Over the last decade, driven by changes in scholarly communication, several major research libraries have successfully become bookless”7 Perpustakaan Bookless merupakan perpustakaan tanpa fisik buku yang diperuntukkan untuk umum, akademisi, sekolah yang menawarkan semua koleksi bahan pustaka dalam format digital baik untuk bacaan karya sastra, bahan bacaan, bahan penelitian ilmiah dan akademis.8 Perpustakaan bookless berbeda dengan perpustakaan hybrid yang memiliki dua jenis koleksi—koleksi cetak dan digital, sementara di perpustakaan bookless, semua koleksi cetak tidak disediakan. Fasilitas baca menggunakan ereader. Itulah sebabnya sebuah perpustakaan bookless meminjamkan ereader kepada para pemustakanya, selain juga menyediakan desktop untuk akses koleksi di tempat. Konsep perpustakaan bookless adalah perpustakaan tanpa koleksi cetak, dan tetap membutuhkan space. Sementara perpustakaan digital tidak membutuhkan space, tetapi membutuhkan konten yang dapat diakses dari manapun dan kapanpun.9 Bookless library sering dianggap sebagai model perpustakaan masa depan yang modern, namun perpustakaan tanpa buku banyak menghadapi tantangan termasuk keterikatan kuat publik terhadap koleksi media cetak di perpustakaan, masalah akses dan hak cipta juga menjadi salah satu yang membatasi kegunaan perpustakaan tanpa buku atau bookless library. Kelebihan Dan Kelemahan Dari Perpustakaan Kovensional, Hybrid, Digital & Bookless 1. Perpustakaan Konvensional Perpustakaan konvensional bisa dikatakan sebagai perpustakaan tradisional Karena hanya memiliki koleksi tercetak dan pelayanan yang tidak mengikuti perkembangan teknologi yang ada. Perpustakaan the U.S Library of congress terkenal sebagai perpustakaan konvensional terbesar didunia tetapi perpustakaan tersebut sudah bertransformasi menjadi perpustakaan yang mempunyai koleksi digital. Perkembangan tersebut tidak terlepas dari perkembangan teknologi yang ada dan juga pemustaka yang membutuhan koleksi digital agar lebih mudah. Adapun Kelebihan dari perpustakaan konvensional adalah: a. Hemat dana, perpustakaan konvensional melakukan pekerjaan dengan manual tanpa bantuan system, maka kerusakan computer atau system yang membutuhkan campur tangan ahli yang tentu saja membutuhkan dana tidak akan terjadi. b. Pelayanan yang tetap beroperasi walaupun mati lampu. Pepustakaan konvensional masih menggunakan katalog kertas manual, dimana proses peminjaman dan pengembalian koleksi perpustakaan juga dilakukan secara manual maka tidak akan menimbulkan kekhawatiran apabila terjadi mati lampu karena perpustakaan konvensional tidak menggunakan system yang membutuhkan listrik. Berdasarkan kelebihan dari perpustakaan konvensional terdapat juga sisi kelemahan perpustakaan konvensional yaitu : a. Membutuhkan ruangan besar. Perpustakaan konvensional hanya berisi koleksi fisik (buku) yang tentu saja sangat membutuhkan ruangan yang lebih besar. b. Koleksi buku yang ada diperpustakaan tidak bisa didownload atau disimpan diperangkat digital. c. Tidak ada OPAC atau mesin pencarian informasi untuk mempermudah pemustaka dalam menemukan koleksi yang diinginkannya. d. Memerlukan banyak tenaga kerja. Perpustakaan konvensional melakukan segala hal dari pengolahan sampai pelayanan dengan manual maka dari itu memerlukan banyak tenaga kerja. e. Kurang menarik, seiring berkembangnya teknologi, masyarakat saat ini membutuhkan sebuah perpustakaan yang bisa mengikuti perkembangan yang ada dan tentu saja memberikan inovasi-inovasi terbaru untuk mempermudah para pemustaka. 2. Perpustakaan Hibrid Perpustakaan hybrid adalah perpustakaan yang memadukan duan bentuk perpustakaan yaitu konvensional dan digital, perpustakaan ini menjadi solusi ideal untuk perpustakaan saat ini, pemustaka membutuhkan koleksi digital tetapi tetap membutuhkan koleksi cetak, maka perpustakaan hybrid inilah yang menjadi alternative terbaik untuk perpustakaan. Adapun kelebihan dari perpustakaan ini adalah : a. Sumber data yang beraneka ragam dari koleksi cetak sampai digital b. Efektif, pemustaka sangat beragam ada yang lebih memilih koleksi cetak dan ada yang memilih koleksi digital. Perpustakaan ini telah memberikan keduanya. Pemustaka juga lebih mudah dalam mencari dan menemukan informasi yang diinginkan atau dibutuhkannya. c. Peluang untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat dapat dilakukan dengan mudah. Adapun kelemahan dari perpustakaan hibrida ini adalah : a. Koleksi digital yang dipublikasikan masih kurang karena masih membutuhkan pertanggung jawaban hak cipta yang jelas, apalagi plagiarism menjadi salah satu alasan perpustakaan tidak mempublikasikan keseluruhan isi koleksi digital seperti skripsi, tesis dan disertasi. b. Pengetahuan masyarakat tentang literasi informasi masih kurang, karena itu masih sering didapati pemustaka yang bingung menggunakan OPAC dalam mencari informasi yang diinginkan. 3. Perpustakaan Digital Seiring bekembangnya teknologi perpustakaan dituntut dalam bentuk koleksi digital tetapi dalam merealisasikan perpustakaan digital membutuhkan tenaga professional dan biaya yang sangat tinggi untuk mewujudkannya. Seperti yang kita ketahui bahwa ciri umum dari perpustakaan digital adalah10 : a. Menggunakan komputer untuk mengelola SDP (sumber daya perpustakaan) b. Memakai saluran elektronik untuk menghubungkan penyedia informasi dengan pengguna informasi c. Memanfaatkan transaksi elektronik. d. Memakai sarana elektronik untuk menyimpan, mengelola, dan menyampaikan informasi kepada pengguna. Dari ke empat ciri diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perpustakaan membutuhkan pemustak yang juga mengerti tentang IT untuk mengembangkan akses informasi yang ada di perpustakaan. Adapun kelebihan dari perpustakaan digital adalah : a. Tidak dibatasi ruang dan waktu. Pemustaka dapat mengakses informasi yang diinginkan dimana dan kapanpun. b. Menghemat ruang. Koleksi di perpustakaan digital merupakan dokumen dokumen digital yang tentu saja tidak membutuhkan ruangan yang besar dalam penyimpanannya. c. Koleksi digital beragam, tidak hanya teks tetapi gambar dan suara. Adapun Kelemahan dari perpustakaan hibrida adalah : a. pemustaka memang membutuhkan informasi dalam bentuk digital tetapi disisi lain, koleksi bentuk cetak juga masih dibutuhkan. b. Koleksi digital membutuhkan izin dari hak cipta koleksi yang akan didigitalkan, dan kebanyak pengarang tidak mengizinkan hal tersebut. c. Masih banyak perpustakaan yang takut berhijrah ke perpustakaan bentuk satu ini karena dana. d. Masih banyak pustakawan yang mengerti cara mendigitalkan koleksi dengan benar. e. 4. Bookless Library Bookless library atau perpustakaan tanpa buku merupakan model terbaru dari perpustakaan masa kini, perpustakaan yang menyediakan informasi yang sepenuhnya digital atau online dengan menyediakan desktop untuk para pemustaka yang datang. Di Indonesia sendiri bookles library belum ada karena untuk mewujudkan bookless library dengan melihat kebutuhan dari para pemustaka yang ada. Adapun kelebihan dari perpustakaan ini adalah mengikuti trend dan memberikan kemudahan pemustaka karena dapat Tapi pilihan itu jadi berat karena biaya yang sangat tinggi untuk mewujudkannya. Melihat hal ini maka langkah yang paling rasional adalah menjelmakan perpustakaan kita dalam bentuk perpustakaan hibrida, dimana koleksi tercetak, elektronik dan digital menyatu. Adalah suatu fakta yang tak terbantahkan bahwa pemakai perpustakaan di negara maju sekalipun tetap menggunakan bahan tercetak sebagai andalan koleksinya, karena tak selamanya pemakai bisa membaca secara nyaman di depan layar komputer. Apakah pemakai perpustakaan mampu membaca habis novel di komputer? Jawabanya bisa iya bisa tidak, tetapi masih banyaknya orang yang membutuhkan koleksi nyata merupakan bukti bahwa kita belum bisa meninggalkan perpustakaan berbasis kertas dan tinta. Tapi kita mampu mengombinasikan bahan koleksi perpustakaan dengan bahan berbasis kertas dan tinta, elektronik dan tentu juga bahan digital. Adapun kelebihan perpustakaan Bookless adalah : a. Modern, Rapi karena hanya ada komputer yang disediakan untuk pemustaka. b. Membaca koleksi menggunakan e-reader, pemustaka juga dapat meminjam koleksi menggunakan e-reader yang disediakan pustakawan. c. Lebih praktis dan efisien d. Pemustaka dapat menggunakan gadget masing-masing untuk membaca koleksi yang ada. Dari poin diatas dapat disimpulkan bahwa perpustakaan bookless menggunakan teknologi informasi untuk memberikan suasana perpustakaan yang berbeda kepada pemustaka. Dari kelebihan diatas perpustakaan bookless juga memiliki kelemahan yaitu : a. Perizinan untuk koleksi digital yang sulit. b. Peminjaman koleksi menggunakan e reader, apabila e-reader habis maka pemustaka harus menunggu pemustaka lainnya. c. Mahal, dalam mewujudkan perpustakaan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit, seperti pengadaan e-reader yang banyak dan komputer.
Conclusion
Perkembangan perpustakaan tidak terlepas dari pro dan kontra tapi kembali lagi mengingat tentang sejauh mana manfaat yang dapat diambil dari perkembangan tersebut. Kehadiran internet umpamanya, dulu orang begitu kawatir terhadap akibat yang ditimbulkan. Salah satu alasannya adalah plagiasi, namun dengan berjalannya waktu ternyata kekhawatiran itu mulai terkikis dengan berkembangnya teknologi yang ada. Itu artinya memang internet mempunyai dua pilihan yang berbeda, tinggal kita yang memilih akan menggunakan internet dengan pintar atau tidak. Seperti halnya jenis-jenis perpustakaan yang telah dibahas dalam makalah ini. Perpustakaan membutuhkan inovasi untuk dapat terus bertahan dengan perkembangan teknologi yang ada, maka dari itu perpustakaan hibrida, digital dan bookless menjadi alternatif yang dapat digunakan untuk tetap mempertahankan eksistensi keberadaan perpustakaan.