Kembali
16
1
2021 Maktabatun Jurnal Perpustakaan dan Informasi Vol 1 · 2 ISSN 2797-2275

Manajemen Pengembangan Koleksi di SMA Negeri 1 Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap

Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang; Universitas Muhammadiyah Enrekang

Abstrak

Jurnal ini berjudul “Manajemen Pengembangan Koleksi di SMA Negeri 1 Tellu Limpoe Kabupaten Sidrap”. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan jenis penelitian deskriptif. Dengan menggunakan metode pendekatan kualitatif. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah peneliti itu sendiri dengan menggunakan metode wawancara, observasi, dan dokumen. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data deskriptif kualitatif yaitu reduksi data, penyajian data, dan verifikasi data. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam Manajemen pengadaan koleksi di perpustakaan SMA Negeri 1 Tellu Limpoe tahun 2013 sampai 2015 tergambar bahwa koleksi buku perpustakaan hanya didominasi oleh bantuan sekolah ke perpustakaan berupa dana BOS dan DPG. Terdapat faktor penghambat diantaranya terkendala pada dana, terkendala juga pada perencenaan pengadaan koleksi tidak menyeluruh. Solusi yang diberikan pustakawan adalah Perlunya ada perhatian dari semua pihak sekolah mengenai pentingnya suatu koleksi di perpustakaan dalam mendukung proses pembelajaran.
Keywords: Manajemen · Pengembangan Koleksi

Introduction

Setiap perpustakaan tentunya mempunyai visi yang berbeda, namun dapat dipastikan bahwa perpustakaan itu dikatakan berhasil bila banyak digunakan oleh komunitasnya. Salah satu aspek penting untuk membuat perpustakaan itu banyak digunakan adalah ketersediaan koleksi yang memenuhi kebutuhan penggunanya. Oleh karena itu, tugas utama setiap perpustakaan adalah membangun koleksi yang kuat demi kepentingan pengguna perpustakaan. Pustakawan yang diberi tugas di bidang pengembangan koleksi, harus tahu betul apa tujuan perpustakaan tempat mereka bekerja dan siapa penggunanya serta apa kebutuhannya. Salah satu sarana dalam menunjang proses belajar dan mengajar di sekolah adalah perpustakaan. Perpustakaan sekolah dewasa ini, bukan hanya merupakan unit kerja yang menyediakan bacaan guna menambah pengetahuan dan wawasan bagi murid, tapi juga merupakan bagian yang integral dalam pembelajaran. Artinya, penyelenggaraan perpustakaan sekolah harus sejalan dengan visi dan misi sekolah dengan mengadakan bahan bacaan bermutu yang sesuai kurikulum, menyelenggarakan kegiatan yang berkaitan dengan bidang studi, dan kegiatan penunjang lain, misalnya berkaitan dengan peristiwa penting yang diperingati di sekolah. Dengan membajirnya informasi dalam skala global, perpustakaan sekolah diharapkan mampu menyediakan informasi yang selalu update. Perpustakaan sangat membantu sekali dalam proses belajar mengajar, sebab perpustakaan adalah alat dalam pendidikan yang menyediakan sumber informasi yang dibutuhkan, adapun pendapat tentang perpustakaan sekolah menurut Sulistyo- Basuki (1993: 50) adalah perpustakaan yang tergabung dalam sebuah sekolah, dikelola sepenuhnya oleh sekolah yang bersangkutan. Dengan tujuan utama membantu sekolah untuk mencapai tujuan khusus sekolah dan tujuan pendidikan pada umumnya. Perpustakaan bisa berjalan dengan baik apabila kelengkapan koleksi yang memadai dan relevan dengan kegunaan sesuai kebutuhan pemustaka. Perpustakaan adalah suatu tempat berkumpulnya bahan-bahan pustaka untuk dimanfaatkan oleh masyarakat yang memerlukan (Purnomo, 1983: 65). Salah satu unsur dari perpustakaan adalah bahan pustaka maka perlu diperhatikan agar perpustakaan bisa misinya dengan baik, ada unsur-unsur penting yang harus dimiliki oleh perpustakaan yaitu masyarakat yang dilayani, pihak yang berwenang, bahan pustaka, anggaran, dan pustakawan (Rempas, 1972: 42). Pengembangan koleksi perpustakaan mencakup: (1) jumlah, mencakup judul, jenis, dan eksemplar, (2) terbitan baru, (3) variasi, baik tercetak seperti buku, majalah, koran, maupun yang terekam, (4) sumber penerbitan makin banyak, (5) sumber asalnya dalam negeri (bahasa indonesia dan bahasa daerah) dari luar negeri terjemahan, saduran bahasa inggris dan bahasa lainnya (Sutarno, 2006: 113-114). Pengembangan koleksi dilakukan untuk memastikan kebutuhan pemustaka akan informasi supaya kebutuhan mereka terpenuhi melalui proses pengembangan terlebih dahulu. Hal tersebut sesuai dengan pernyataaan Almah bahwa pengembangan itu suatu proses memastikan kebutuhan pemustaka akan informasi supaya kebutuhan mereka terpenuhi secara otomatis dan tepat waktu. Pengembangan koleksi tidak hanya mencakup kegiatan pengadaan bahan pustaka, tetapi juga menyangkut masalah perumusan kebijakan dalam memilih dan menentukan bahan pustaka yang mana yang akan diadakan serta metode-metode apa yang akan diterapkan (Almah, 2012: 27). Dalam pengembangan koleksi terdapat beberapa aspek, yaitu aspek seleksi, pengadaan, evaluasi, dan penyiangan. Koleksi perpustakaan harus dibina dari suatu seleksi yang harus sistematis dan terarah serta disesuaikan dengan tujuan, rencana, dan anggaran yang tersedia. Pustakawan yang bertugas untuk mengembangkan koleksi harus mengetahui bentuk tujuan perpustakaan dan siapa pemakainya, oleh karenanya sebelum melakukan seleksi dan pengadaan bahan pustaka sangat diperlukan analisis kebutuhan pemakai terlebih dahulu, dengan cara mengenal masyarakat yang dilayani serta analisis koleksi dan evaluasi yang sangat berguna untuk melihat apakah tujuan dari perpustakaan tersebut telah tercapai atau belum. Perkembangan koleksi perpustakaan harus dijalankan semaksimal mungkin agar tujuannya dapat terarah dengan baik. Salah satu cara yaitu menyeleksi pengadaan bahan pustaka dan melakukan analisis kebutuhan pemakai terlebih dahulu, sampai sejauh mana perpustakaan mengenai pengguna yang dilayani serta analisis koleksi dan evaluasi yang berguna untuk melihat tujuan perpustakaan itu sendiri. Dengan adanya pengembangan koleksi di suatu perpustakaan baik tercetak maupun tidak tercetak, maka tercapailah pelayanan perpustakaan yang optimal sesuai apa yang diharapkan perpustakaan tersebut. Pengembangan koleksi perpustakaan dilakukan untuk dapat memenuhi kebutuhan akan dunia informasi yang dibutuhkan oleh semua pengguna perpustakaan. Kualitas pengembangan koleksi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan literatur dari pemustaka. Pengembangan koleksi perpustakaan tidak akan lepas dari pembinaan koleksi. Pembinaan koleksi merupakan salah satu kegiatan di bidang pelayanan teknis. Pengembangan koleksi perpustakaan diharapkan mampu menyediakan informasi atau bahan pustaka yang dapat mendukung serta meningkatkan kegiatan penelitian, sehingga pengembangan koleksinya benar-benar ditingkatkan. Berdasarkan undang-undang nomor 43 tahun 2007 tentang perpustakaan yang mengharuskan suatu perpustakaan melakukan pengembangan koleksi yaitu pasal 12 ayat 1 dan 2. Ayat pertama menjelaskan tentang koleksi perpustakaan diseleksi, diolah, disimpan, dilayangkan, dan dikembangkan sesuai dengan kepentingan pemustaka dengan memperhatikan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, ayat kedua pengembangan koleksi perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan sesuai dengan standar nasional perpustakaan (Suwarno, 2010: 267) Agar fungsi perpustakaan dapat tercapai dengan baik sesuai dengan syarat-syarat yang ditentukan, maka perpustakaan perlu dikelola dengan baik sesuai dengan prinsip manajemen. Koleksi merupakan salah satu faktor yang paling penting pada perpustakaan. Untuk tercapainya kebutuhan informasi yang dibutuhkan oleh pengguna, maka pihak perpustakaan harus dapat membina serta mengembangkan koleksi sehingga pemakai perpustakaan merasa terpenuhi kebutuhan informasinya. Setelah melakukan pengamatan di perpustakaan SMA Negeri 1 Tellu Limpoe di kabupaten Sidrap penulis menemukan bahwa perpustakaan pada dasarnya telah melakukan fungsi dan tujuan perpustakaan sebagaimana halnya perpustakaan yang lain, diantaranya adalah pengembangan koleksi, namun seiring berjalannya waktu selalu saja perpustakaan mengalami hambatan, khususnya dalam pengembangan koleksi secara berkesinambungan, salah satu hambatan dalam pengembangan koleksi yang sulit dipecahkan, yaitu masih minimnya dana yang tersedia dalam perpustakaan. Koleksi buku yang ada di perpustakaan SMA Negeri 1 Tellu Limpoe kabupaten Sidrap hanya dipenuhi berbagai koleksi ilmu murni, sehingga siswa-siswi malas untuk berkunjung ke perpustakaan, karena koleksi yang ada tidak menarik untuk dibaca. Adapun koleksi lain berupa novel, tetapi koleksinya tidak terbaru. Melihat kondisi di atas, perpustakaan SMA Negeri 1 Tellu Limpoe kabupaten Sidrap perlu melakukan manajemen pengembangan koleksi melalui pengadaan koleksi. Manajemen adalah kegiatan untuk merencanakan agenda kerja dalam jangka waktu tertentu agar supaya pengembangan koleksi dapat dilakukan secara berkesinambungan.

Method

Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan menggunakan metode penelitian deskriptif. Penelitian ini mengkaji dan mendeskripsikan Manajemen Pengembangan Koleksi di SMA Negeri 1 Tellu Limpo e Kabupaten Sidrap dengan menggunakan metode kualitatif dan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data penelitian ini adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi yang dilakukan di SMA Negeri 1 Tellu Limpoe. Data yang telah diperoleh melalui observasi dan wawancara tersebut akan diolah dan dianalisa. Kemudian perbandingkan antara pelaksanaannya dengan teori-teori yang telah dipelajari.

Result & Discussion

1. Manajamen Pengadaan Koleksi di Perpustakaan SMA Negeri 1 Tellu Limpoe Manajemen pengadaan koleksi di perpustakaan SMA Negeri 1 Tellu Limpoe dilakukan melalui indikator seleksi bahan pustaka, pembelian, tukar menukar, hadiah, manfaat pengadaan koleksi, kebijakan pengadaan koleksi, dan sumber anggaran . Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa dalam manajemen pengadaan koleksi di perpustakaan SMA Negeri 1 Tellu Limpoe tahun 2013 sampai 2015 tergambar bahwa koleksi buku perpustakaan hanya didominasi oleh bantuan sekolah ke perpustakaan berupa dana BOS dan DPG. 2. Kendala-kendala yang menjadi penghambat dalam manajemen pengadaan koleksi di SMA Negeri 1 Tellu Limpoe Terdapat faktor penghambat diantaranya terkendala pada dana, terkendala juga pada perencenaan pengadaan koleksi tidak menyeluruh. Solusi yang diberikan pustakawan adalah Perlunya ada perhatian dari semua pihak sekolah mengenai pentingnya suatu koleksi di perpustakaan dalam mendukung proses pembelajaran.

Conclusion

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, maka berikut ini penulis mengemukakan beberapa kesimpulan dari hasil wawancara kepada pustakawan dapat dilihat sebagai berikut: 1. Manajemen pengadaan koleksi di perpustakaan SMA Negeri 1 Tellu Limpoe tahun 2013 sampai 2015 tergambar bahwa koleksi buku perpustakaan hanya didominasi oleh bantuan sekolah ke perpustakaan berupa dana BOS dan DPG. Dana DPG itu sebagiannya berupa buku. Koleksi buku pembelian sudah memiliki banyak eksemplar. Pengembangan perpustakaan dalam hal pengadaan koleksi di SMA Negeri 1 Tellu Limpoe sudah melakukan pengadaan pada umumnya. 2. Kendala-kendala yang menjadi penghambat dalam pengadaan koleksi pada perpustakaan sekolah SMA Negeri 1 Tellu Limpoe terkendala pada dana, terkendala juga pada perencenaan pengadaan koleksi tidak menyeluruh. Hal ini dikarenakan dana yang diberikan belum bisa memnuhi semua kebutuhan koleksi yang diinginkan. Solusi yang muncul dari pengelola perpustakaan adalah perlunya kesadaran yang dipupuk antara civitas akademik di sekolah baik kepala sekolah, guru, mengenai pentingnya keberedaan perpustakaan sebagai penunjang keberhasilan pembelajaran di sekolah. Perlunya ada perhatian dari semua pihak sekolah mengenai pentingnya suatu koleksi di perpustakaan dalam mendukung proses pembelajaran. Berdasarkan dengan hasil penelitian yang penulis temukan, maka bersama ini disarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Agar kepala sekolah selaku pemangku kebijakan tertinggi di sekolah memperhatikan kondisi perpustakannya dengan melakukan pengamatan sejauh mana perkembangan perpustakaan dengan koleksi yang dimilikinya. 2. Bagi guru untuk menjadikan perpustakaan sebagai jembatan untuk menarik minat baca muridnya dan menjadikan koleksi perpustakaan bermutu dengan menggunakan sebagai bahan ajar. 3. Pengelola perpustakaan adalah mitra intelektual yang memberikan jasa kepada pengguna, sehingga dituntut untuk mampu berkembang sesuai perkembangan ilmu pengetehuan.