Peran Pustakawan dalam Pembelajaran Literasi Informasi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol
Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang; Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang
Abstrak
Artikel ini berjudul “Peran Pustakawan dalam Pembelajaran Literasi Informasi Mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang”. Latar belakang pada penulisan artikel didasari oleh keadaan saat ini dimana perpustakaan perguruan tinggi jarang mengajarkan literasi informasi bagi mahasiswa. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui penggambaran peran pustakawan dalam pembelajaran literasi informasi mahasiswa UIN Imam Bonjol Padang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptid dengan pendekatan studi kasus. Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dengan metode pengumpulan data wawancara dan observasi. Informan yang dipilih pada penelitian ini berjumlah empat orang yang terdiri dari tiga mahasiswa dan satu pustakawan. Pemilihan informan pada penelitian ini diambil menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data yang digunakan menggunakan model analisis data milik Miles & Huberman. Menerapkan aspek yang dimiliki Wheeler dan Pamela McKinney tentang peran pustakawan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pustakawan memiliki peran sebagai pendukung pembelajaran (learning support), pustakawan yang mengajar (librarian who teaches), ataupun pelatih (trainer) literasi informasi.
Abstract
This article is entitled “The Role of Librarians in Learning Information Literacy for UIN Imam Bonjol Padang Students” The background in article writing is based on the current situation where university libraries rarely teach information literacy to students. The purpose of this study was to describe the role of librarians in learning information literacy for UIN Imam Bonjol Padang students. This research uses descriptive qualitative method with a case study approach. The data used are primary data and secondary data, with interview and observation data collection methods. The informants selected in this study were four people consisting of three students and one librarian. The selection of informants in this study was taken using a purposive sampling technique. Analysis of the data used using Miles & Huberman's data analysis model. Applying the aspects of Wheeler and Pamela McKinney about the role of librarians, the results of this study indicate that librarians have a role as learning support, librarian who teaches, or information literacy trainer.
Keywords:
information literacy learning
· the role of librarians
· universities
Introduction
Selaku salah satu bagian dari sivitas akademis, mahasiswa juga memerlukan literasi informasi. Keahlian literasi informasi bisa menolong mahasiswa guna berpikir secara kritis (ACRL dalam American Library Association, 2000), sehingga sanggup menanggapi bermacam persoalan dan perkara yang dialami sepanjang perkuliahan. Untuk memperoleh keahlian literasi informasi tersebut, mahasiswa memerlukan pembelajaran maupun pelatihan yang cocok dengan kebutuhan. Perihal tersebut disebabkan, pengajaran literasi data dirasa bisa menolong mahasiswa dalam aktivitas perkuliahan (Paterson serta CarolynWhite Gamtso, 2017). Dalam akademi besar dosen, pustakawan serta instruktur yang lain merupakan sebagian kandidat yang bisa membagikan mahasiswa keahlian literasi informasi Pustakawan sebagai ahli informasi dianggap sebagai kandidat yang cukup kuat untuk membuat mahasiswa dapat mempelajari kemampuan literasi informasi. Kompetensi yang dimiliki dalam pemenuhan informasi dinilai mampu membuat pustakawan memberikan instruksi perpustakaan, instruksi bibliografis, serta instruksi literasi informasi. Dengan kompetensi-kompetensinya pustakawan bersama universitas dapat mengajarkan sivitas akademis termasuk mahasiswa untuk mendapatkan literasi informasi yang sesuai dengan kebutuhannya. Hal tersebut seperti yang disampaikan oleh Black, dkk. (2001) yang menyatakan bahwa dalam literasi informasi, pustakawan dapat mempertajam pertanyaan penelitian dan mengajari mahasiswa kemampuan-kemampuan untuk menemukan jawabannya. Hal tersebut berbeda sebagaimana yang ditunjukan oleh perpustakaan dan pustakawan perguruan tinggi yang ada di Indonesia. Pada saat ini perpustakaan dan pustakawan perguruan tinggi kurang memperhatikan pentingnya literasi informasi dalam lingkungan perguruan tinggi, hal ini juga diungkapkan dalam sebuah penelitian milik Baskoro dan Esterina Jonatan yang berjudul "Kompetensi Literasi Informasi Pustakawan Universitas Swasta di Lingkungan KOPERTIS Wilayah III". Dari penelitian tersebut diketahui bahwa, institusi perguruan tinggi melakukan literasi informasi hanya 42.31% dari seluruh institusi perguruan tinggi yang ada. (Baskoro dan Esterina Jonatan, 2015). Hal tersebut menunjukan bahwa tidak banyak perguruan tinggi yang menerapkan pembelajaran literasi informasi bagi sivitas akademis, terutama mahasiswa. Berbeda yang terjadi pada Universitas Islam Imam Bonjol Padang, melalui UPT Perpustakaan dan pustakawan yang telah melaksanakan pembelajaran literasi informasi bagi anggota sivitas akademik, salah satunya adalah mahasiswa. Pustakawan memberikan pembelajaran literasi informasi dalam berbagai kegiatan khususnya untuk membantu mahasiswa dalam mempelajari literasi informasi. Pustakawan di Universitas Islam Imam Bonjol Padang bahkan diberikan kesempatan oleh fakultas/ prodi untuk mengajarkan literasi informasi di dalam kelas sebagai sisipan matakuliah yang diadakan tiap semesternya. Dalam upaya menambah kemampuan literasi informasi mahasiswa, pustakawan bahkan menambahkan materi literasi informasi dalam road show perpustakaan. Bahkan pustakawan juga menerima pendampingan personal jika mahasiswa membutuhkan konsultasi literasi informasi dengan pustakawan secara khusus. Berdasarkan latar belakang yang diungkapkan tersebut, peneliti mengajukan penelitian dengan judul "Peran Pustakawan dalam Pembelajaran Literasi Informasi Mahasiswa Universitas Islam Imam Bonjol Padang". 2. LANDASAN TEORI Dalam aktivitas setiap hari, realita yang akan dialami mahasiswa ialah memenuhi kebutuhan informasi tiap hari disaat proses pembelajaran. Kebutuhan informasi ialah latihan untuk mereka dalam meningkatkan pengetahuannya (Triwansyah, 2011). Fajar Drestha Birawa (2013) melakukan riset tentang pemenuhan kebutuhan informasi mahasiswa strata satu (S1) saat proses penyusunan skripsi. Riset ini tujuannya adalah untuk mengenali tata cara ataupun metode apa saja yang dipakai mahasiswa agar terpenuhi kebutuhan informasinya, sumber apa saja yang dipakai dan apa kegunaaan informasi yang telah diperoleh. Hasil temuan data dari riset ini menerangkan bahwa mahasiswa saat memenuhi kebutuhan informasi memakai internet serta menelusuri jurnal online dan perpustakaan. Informasi itu bersumber dari laporan penelitian serta buku cetak. Mahasiswa menggunakan informasi yang didapat sebagai bahan untuk membuat laporan penelitian, mengerjakan tugas serta meningkatkan pengetahuan (Birawa, 2013). Keadaan tersebut membuat mahasiswa harus memiliki kemampuan dalam mendapatkan, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan secara efektif (ACRL dalam Bopp dan Linda C. Smith, 2011 : 225), oleh sebab itu mahasiswa membutuhkan bantuan pustakawan yang dapat membantu dalam memberikan kemampuan literasi informasi. Pustakawan dalam menjalankan perannya dalam membangun kompetensi literasi informasi, mahasiswa harus memperhatikan beberapa hal dalam pembelajaran literasi yang dilakukan. Pada saat melakukan penelitian misalnya, mahasiswa menyatakan bahwa konsultasi penelitian dengan pustakawan dengan cara one-on-one atau satu demi satu dirasakan lebih efektif untuk dilakukan. Pustakawan juga dapat membantu mahasiswa menilai hasil penelitian mahasiswa, yang merupakan dokumen yang dikontribusikan untuk kumpulan pengetahuan dalam berbagai bidang studi. (Paterson dan Carolyn White Gamtso, 2017). Pustakawan juga dirasa harus memperhatikan pendekatan yang tepat dalam membangun kompetensi mahasiswa yang diajar.
Method
Menurut pendapat (Usman dan Purnomo, 2008:78), Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif, yaitu “studi yang berusaha memahami dan menginterpretasikan makna suatu peristiwa interaksi perilaku manusia dalam situasi tertentu dari sudut pandang peneliti itu sendiri.” Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu wawancara dan observasi. Teknik wawancara yang digunakan adalah teknik wawancara semi langsung. Sedangkan teknik observasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik observasi non partisipatif. Respons informan yang diperoleh kemudian disintesis dan dianalisis oleh peneliti untuk memilih dan mencatat informasi yang relevan dengan poros penelitian, yaitu data deskriptif yang berbeda Peran pustakawan dalam pembelajaran literasi informasi siswa. Metode terakhir dari analisis data adalah verifikasi. Kesimpulan awal yang telah terbentuk mungkin masih bersifat tentatif dan dapat berubah tanpa adanya bukti yang kuat. Namun, kesimpulan awal dapat diandalkan jika didukung oleh bukti yang valid dan konsisten ketika peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data. Menurut (Sugiyono, 2015),
Discussion
2.1 Kegiatan Pustakawan dalam Pembelajaran Literasi Informasi Pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Banjol Padang telah melakukan berbagai kegiatan dalam pengajaran literasi informasi untuk mensukseskan pengajaran literasi informasi, seperti yang dikemukakan oleh Maitaouthong dkk. (2012) diungkapkan bahwa ketika mengajarkan literasi informasi, pendidik dan pustakawan harus menyiapkan rencana pembelajaran, media pembelajaran, sumber informasi, dan layanan perpustakaan. Pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Banjol Padang diketahui melakukan berbagai kegiatan mulai dari persiapan hingga proses pengajaran, yang bertujuan untuk memberikan akses literasi informasi kepada mahasiswa. Sebelum mengajar literasi informasi, seorang pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Banjol Padang melakukan beberapa persiapan. Yang dapat dilakukan pustakawan untuk mempersiapkan diri adalah mempersiapkan diri dengan kompetensi yang dibutuhkan, menyiapkan materi, dan menyiapkan beberapa suplemen ketika ditemui kendala saat mengajar. Dalam melaksanakan kegiatan pengajaran literasi informasi, pustakawan tentunya harus mempersiapkan bahanbahan sebagai bahan yang akan diajarkan kepada siswa. Materi yang disiapkan oleh pustakawan sering kali memuat materi tentang strategi pencarian informasi dan tentang cara menggunakan informasi tersebut. Sebagai pihak yang menerima materi, mahasiswa mengkonfirmasikan bahwa materi yang diberikan pada proses pengajaran meliputi strategi pencarian sumber-sumber informasi dengan menggunakan e-journal, e-resource perpustakaan nasional dan repository dari berbagai universitas. Selain itu, materi ajar lainnya adalah dengan mengetahui bagaimana cara mengevaluasi informasi yang relevan, bagaimana menggunakan aplikasi manajemen referensi seperti Mendeley untuk sitasi, dan memberikan wawasan tentang penggunaan informasi dengan menggunakan Plagscan sebagai aplikasi untuk mencegah plagiarisme. Semua materi tersebut disediakan oleh pustakawan dengan metode pengajaran dan peralatan pendukung agar mudah dipahami oleh siswa. 2.2 Peran Pustakawan dalam Pembelajaran Literasi Informasi Mahasiswa 1) Peran Pustakawan Sebagai GuruPustakawan (Teacher- Librarian) Pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang saat ini telah mengambil tanggung jawab dalam melaksanakan pembelajaran literasi informasi kepada mahasiswa. Berdasarkan observasi langsung yang dilakukan peneliti dan kegiatan pembelajaran, kegiatan pustakawan dalam pembelajaran literasi informasi diketahui bahwasanya pustakawan menggunakan metode ceramah dan praktik, serta menggunakan peralatan pendukung untuk menunjang penyampaian materi literasi informasi seperti pendidik pada umunya. Metode ceramah dan praktik yang dimaksud yaitu seperti pustakawan memberikan penjelasan yang rinci mengenai informasi yang dibutuhkan pemustaka dan setelah itu pustakawan mempraktikkan secara langsung apa yang telah dijelaskan tersebut. Walaupun pustakawan melakukan beberapa metode dalam hal pendukung perannya sebagai guru dalam pembelajaran literasi informasi bagi mahasiswa di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang seperti pengajar pada umunya, pustakawan tidak menganggap bahwasanya mengajar sebagai tugas intinya. Pernyataan tersebut didukung dari hasil wawancara berikut ini, “Kami melaksanakan tugas pebelajaran litersi informasi merupakan tugas tambahan bagi kami sebagai pustakawan di sini sebagai bagian dari pengembangan profesi, akan tetapi kami juga memiliki job desk rutin.” (Zulfitri, 29 April 2022). Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwasanya tugas pustakawan sebagai pendidik khususnya pada program literasi informasi bukanlah merupakan tugas inti dari pustakawan yang ada di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang tersebut, melainkan tugas tambahan yang bisa disalurkan oleh pustakawan yang memiliki kemampuan dalam hal pemberian informasi kepada pemustaka mengenai literasi informasi, dan tugas ini bukanlah tugas wajib dari pustakawan tersebut, sehingga tidak semua pustakawan di universitas lain bisa berperan sebagai guru kepada mahasiswanya dalam hal pemberian informasi sebagai pembelajaran literasi informasi. Wheeler dan Pamela McKinney menyebutkan bahwasanya sebagai teacher-librarian, pustakawan dinilai sama dengan guru atau pengajar lainnya. Dalam konsep ini pustakawan merasa mengajar atau mendidik menjadi fokus utama dalam perannya. Pustakawan juga menerapkan teori dan tenik pendidikan dalam mengajar (Wheeler dan Pamela McKinney, 2015). Pustakawan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang diketahui memiliki metode pengajaran seperti pendidik pada umumnya, akan tetapi pustakawan tidak menganggap mengajar literasi informasi merupakan tugas intinya. Berdasarkan konsep yang disampikan oleh Wheeler dan Pamela McKinney, 2015, yang menyatakan bahwa pustakawan sebagai teacher-librarian, pustakawan dinilai sama dengan guru atau pengajar lainnya, maka dari itu pustakawan yang ada di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang tidak termasuk dalam keadaan atau konsep teacher-librarian. Melainkan putakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan tugas tersebut bukanlah tugas inti dari pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, walaupun tidak termasuk dalam kategori teacher-librarian yang telah dijabarkan. 2) Peran Pustakawan Sebagai Pendukung Pembelajaran (Learning Support) Pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang memiliki penilaian terhadap perannya di era teknologi informasi saat ini. Pustakawan menilai bahwasanya literasi informasi merupakan bagian dari kegiatan yang dapat digunakan sebagai pendukung pembelajaran bagi mahasiswa. Pemaknaan tersebut didapatkan dari jawaban yang diberikan informan yang merupakan pustakawan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang, “Kebutuhan informasi pengguna sekarang sudah luar biasa di karenakan mereka generasi yang sudah di atas kita.Ya memang kalau pustakawan hanya berhenti pada cukup pada proses interaksi di dalam perpustakaan, ya perpustakaan akan di tinggalkan untuk pengguna atau mahasiswa yang sudah kekinian dalam menggunakan teknologi informasi dan perubahan pencarian informasinya. Mereka butuh teman belajar, dalam hal ini butuh pustakawan yang memang bisa support dan mendampingi mereka untuk bisa lancar dalam melakukan proses pembelajaran.” (Zulfitri, 29 April 2022). Bedasarkan hasil wawancara tersebut, dapat diidentifikasikan bahwasanya pustakwan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang tidak hanya memberikan layanan konvensional seperti yang biasa diberikan pustakawan pada umumnya, akan tetapi juga menyesuaikan diri dengan era yang saat ini hampir setiap orang termasuk mahasiswa menggunakan teknologi informasi, sehingga dapat membantu mahasiswa dalam pembelajarannya. Berdasarkan keadaan tersebut, dapat dikatakan bahwasanya pustakawan merupakan bagian dari pendukung pembelajaran, salah satunya dilakukan dengan cara mengajarkan literasi informasi kepada pemustakanya. Pada observasi yang telah dilakukan peneliti saat kegiatan pengajaran literasi informasi, dapat dikatakan bahwasanya pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang juga merupakan bagian dari pengajar, khususnya dalam pengajaran literasi informasi. Akan tetapi pustakawan tidak berperan sebagai pengajar utama dan hanya bekerjasama dengan dosen untuk mengajarkan kemampuan literasi informasi di saat mahasiswa datang berkunjung dan meminta infomasi tersebut kepada pustakawan, sehingga pustakawan memberikan pengajaran mengenai literasi informasi tersebut dan dalam hal ini pustakawan disebut di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang sebagai pendukung dalam pembelajaran. 3) Peran Pustakawan Sebagai Pustakawan yang Mengajar (Librarian Who Teaches) Pustakawan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang telah mengambil perannya dalam hal pembelajaran literasi informasi sebagai tugas tambahan dalam upaya mendukung pembelajaran dan pengembangan profesi. Pemaknaan penulis tersebut didukung dengan petikan hasil wawancara dengan Ibu Zulfitri seperti berikut, “Kami melaksanakan tugas pebelajaran litersi informasi merupakan tugas tambahan bagi kami sebagai pustakawan di sini sebagai bagian dari pengembangan profesi, akan tetapi kami juga memiliki job desk rutin. Kalau pustakawan teknis, ya saya mengadakan job desk rutin teknis. Nah, untuk implementasi profesi, yaitu tadi ada kegiatan-kegiatan yang menunjang apa yang sudah kita lakukan. Itu merupakan bagian dari upaya kami untuk mendukung proses pembelajaran. Untuk apa kami memberikan informasi kalau ternyata mahasiswa masih kesulitan untuk bisa membuat suatu kalimat ilmiah.” (Zulfitri, 29 April 2022). Dari hasil wawancara yang telah diberikan, dapat diidentifikasikan bahwasanya, pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang melaksanakan pengajaran literasi informasi sebagai tugas tambahan selain job desk rutin yang dilakukan. Selain itu diketahui pula bahwasanya pengajaran literasi informasi merupakan bagian dari pengembangan profesi dari seorang pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Dengan mengajarkan literasi informasi, pustakawan dapat menjadi pendukung proses pembelajaran bagi mahasiswa. Pustakawan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang juga melakukan improvisasi dengan melakukan pembelajaran literasi dalam kegiatan tambahan yaitu secara personal dan dalam road show perpustakaan. Pustakawan juga menerima pendampingan khusus secara personal, serta dalam road show perpustakaan. Berdasarkan hasil pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa mengajar literasi informasi bukanlah tugas utama dari pustakawan Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang. Berdasarkan kegiatan yang diselenggarakan pustakawan dalam literasi informasi ditengarai bahwasanya, pustakawan melakukan kegiatan pengajaran yang berbeda dengan pengajaran pada umumnya yang hanya di dalam kelas, yaitu dengan melakukan pengajaran literasi informasi yang diselenggarakan dalam road show perpustakaan dan pendampingan secara personal. Dari keadaan tersebut dapat diidentifikasikan bahwasanya pustakawan memiliki peran sebagai librarian who teaches, yang mengungkapkan bahwa pustakawan menilai dirinya tidak sama sekali sama dengan guru atau bahkan menilai dirinya lebih. Adapun peran mereka dalam mengajar atau mendidik hanyalah salah satu peran yang mereka miliki, dan tidak menganggap mengajar adalah peran utamanya. (Wheeler dan Pamela McKinney, 2015). 4) Peran Pustakawan Sebagai Pelatih (Trainer) Pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang melaksanakan pembelajaran literasi informasi dengan cara melatih dan melakukan persiapan untuk melaksanakan pengajaran. Pernyataan tersebut diperkuat dengan hasil wawancara berikut ini, “Memberikan modul atau materi, kemudian menginformasikan, memberikan materi, mahasiswa praktik.” “Kita juga memberikan materi secara langsung, kemudian power point, kemudian contohcontoh soal atau contoh-contoh kasus yang berkaitan dengan kegiatan penelusuran informasi.” (Zulfitri, 29 April 2022). Dari hasil wawancara tersebut dapat diketahui bahwasanya pustakawan juga menerapkan kegiatan yang melatih mahasiswa mendapatkan dan memahami literasi informasi. Pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang melaksanakan pembelajaran literasi informasi dengan melakukan praktik untuk melatih mahasiswa kemampuan, beberapa diantaranya seperti cara memngakses berbagai sumber informasi melalui jurnal yang dilanggan perpustakaan, serta cara menggunakan aplikasi sitasi. Hal tersebut seperti yang didapatkan peneliti dari hasil observasi yang dilakukan, diketahui bahwasanya pustakawan melakukan praktik tentang cara menggunakan aplikasi manajemensitasi Mendeley dan cara mengakses berbagai sumber informasi seperti e-journal dan repository, akan tetapi sayangnya tidak banyak mahasiswa yang mengikuti langkah-langkah praktik tersebut secara langsung karena tidak membawa laptop. C. Kegiatan Pustakawan dalam Pembelajaran Literasi Informasi Dengan terjadinya ledakan informasi tentunya peran pustakawan dalam mengarahkan mahasiswa dalam pembelajaran Literasi Informasi sangatlah Penting. Menurut Paterson dan Carolyn White Gantso:2017 presepsi mahasiswa terhadap pegajaran literasi informasi biasanya di tentukan dari metodologi pengajaran, serta faktor-faktor lain yang berkaitan dengan pendidikan yang diterimanya. Pada lingkunganperguruan tinggi, mahasiswa merupakan pemustaka yang paling banyak mengggunakan perpustakaan. Sebagai mahasiswa memiliki syarat kelulusan wajib berupa tugas akhir. Dalam penulisan tugas tersebut mahasiswa mendapatkan kesulitan dalam menemukan sumber referensi yang berkualitas. Maka di perpustakaan UIN IB Padang memandang perlu adanya upaya peningkatan literasi informasi. Dengan mengadakan pelatihan Penelusuran Google Book : Literasi untuk Pemustaka UIN Imam Bonjol Padang pada 15 Oktober 2018. Kegiatan yang dilakukan Pada Aula Kampus I Pasca sarjana UIN Imam Bonjol Padang. Dengan narasumber dari Kepala Lembaga Bahasa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten, Dr. Jamridafrizal, S.Ag.SS,M.Hum. Pada pelatihannya dilakukan oleh mahasiswa dalam penyelesaian Tugas akhir (D3, S1, S2, dan S3). UPT Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang Megadakan pelatihan literasi informasi mengenai Pengenalan EResources Perpustakaan Nasional, IPusnas, Pengenalan Zotero, Serta Abby Screenshoot Reader Narasumber dalam kegiatan ini di bimbingng oleh Zulfitri S.Ag.,Ma., dan Nasrul Makdis S.IP.,MA. Yang dilaksanakn pada 4 Maret 2022 yang dilakukan oleh peserta Prodi Psikologii Islam. Kegiatan tersebut sudah berjalan sebanyak 10 (sepuluh) kali. Dengan diadakan kegiatan ini diharapkan mahasiswa dapat meningkatkan skill dalam menemukan informasi serta penggunaan tools dalam menulis kutipan serta daftar pustaka. Ada pun paket literasi yang disediakan oleh UPT Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang seperti pengenalan macam-macam koleksi Takhrij, Hadits, Pengecekan Similarity dengan Turnitin, Pengenalasn Sumber Referensi Online, dan lain sebagainya. D. Dampak Pembelajaran Literasi Informasi bagi Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Pengajaran tambahan berupa literasi informasi merupakan peran dan tugas Pustakawan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol. Seluruh persiapan dan pengajaran telah dilaksanakan pustakawan untuk diberikan kepada mahasiswa. Pengajaran yang dilakukan pustakawan diketahui memberikan pengaruh yang positif bagi mahasiswa dalam menjalankan kegiatan perkuliahan. Diketahui pula pada saat ini mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang secara aktif mengikuti beberapa kegiatan pengajaran literasi yang diselenggarakan oleh pustakawan. Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang turut aktif dalam mengikuti berbagai program literasi informasi yang diberikan pustakawan. Banyak dari mahasiswa mengikuti pembekalan literasi informasi dalam sisipan mata kuliah wajib, tidak sedikit pula diantara mahasiswa mengikuti kegiatan literasi informasi tambahan, seperti yang diberikan di dalam road show perpustakaan. Dari beberapa kegiatan kepustakawanan yang diselenggarakan, informan mahasiswa memberikan tanggapan mengenai kegiatan mana yang biasa mereka ikuti untuk mendapatkan pengajaran literasi informasi. Sebagian mahasiswa seringnya hanya mengikuti kelas literasi informasi yang merupakan sisipan matakuliah masing-masing prodi yang wajib diikuti mahasiswa ataupun dalam road show perpustakaan yang merupakan program tambahan. Dengan demikian dapat ditengarai bahwa, mahasiswa ternyata memiliki antusias yang cukup baik dalam mempelajari literasi informasi dengan mengikuti beberapa program sekaligus yang diselenggarakan pustakawan. Sebagai pihak penerima pengajaran literasi informasi, mahasiswa memiliki pemahaman tersendiri dalam materi yang diberikan pustakawan. Ada diantara mahasiswa yang merasa mudah dalam memahami materi tertentu, ada pula yang menganggap materi tersebut adalah materi yang sulit untuk dipahami. Berikut ini hasil wawancara yang diperoleh dari mahasiswa tentang sejauh mana pemahaman materi literasi informasi yang didapatkan, “Dari pelatihan tersebut, saya cepat tanggap terhadap temu kembali informasi, tetapi untuk penggunaan aplikasi ada sedikit permasalahan, mungkin e-book pada e-resource perpusnas yang saya akses itu kan perlu ada kode aksesnya, kita perlu terima dulu dari perpustakaan jadi mungkin agak menyulitkan untuk mengaksesnya. Untuk Mendeley karena saya sudah pakai ya mudah.” (Melisa, 29 April 2022) “Kalau saya, sudah bisa mengakses koleksi menggunakan e-resource perpusnas. Tetapi ada sedikit masalah terkait beberapa database yang belum bisa saya gunakan,” (Naufal, 29 April 2022). Dari jawaban yang diberikan informan mahasiswa, diidentifikasi bahwa, mahasiswa memiliki pemahaman yang berbeda-beda dalam menerima materi yang diberikan. Beberapa dari informan merasa bahwa materi yang mudah dipahami adalah penggunaan E-Resource Perpusnas, akan tetapi ada beberapa diantaranya menganggap bahwa penggunaan E-Resource Perpusnas merupakan materi yang dirasa susah untuk dipahami. Akan tetatapi dari jawaban yang diberikan informan ditengarai bahwa kesulitan yang dialami dikarenakan mahasiswa mudah merasa lupa ataupun kurang mempraktikan kemampuannya. Pentingnya kemampuan literasi informasi tersebutlah yang ternyata dibutuhkan oleh mahasiswa. Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti, diketahui bahwa mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang saat ini juga telah mengerti pentingnya kemampuan literasi informasi untuk dimiliki. Mahasiswa menganggap penting adanya literasi informasi sebagai cara untuk berpikir secara kritis dan lebih kreatif, hal ini diketahui peneliti berdasarkan petikan wawancara dengan informan berikut ini, “Menurut saya pemahaman terhadap literasi informasi sangat penting karena kita sebagai mahasiswa, harus punya pemikiran yang kritis dan intelektif. Kenapa itu penting? Karena dalam menyediakan informasi ataupun membuat suatu kajian penelitian kita harus maksimal dalam penyelesaian masalah atau isu nya.”. (Arif, 29 April 2022). Dari petikan wawancara tersebut dapat terjawab bahwa mahasiswa merasa literasi informasi merupakan kemampuan penting bagi mahasiswa yang diharapkan memiliki pola pikir kritis dan intelektif. Literasi informasi dirasakan dapat membuat mahasiswa memiliki pemahaman utuh dari sebuah informasi, sehingga dapat melatih mahasiswa untuk berpikir kreatif dan intelektif dalam memahami sebuah informasi secara maksimal. Selain dapat membuat mahasiswa memiliki kemampuan dalam memahami informasi secara lebih kreatif dan intelektif, diketahui pula bahwa literasi membuat mahasiswa sadar akan teknologi informasi yang berkembang saat ini. Dari jawaban yang diberikan seluruh informan yang merupakan mahasiswa dapat disimpulkan bahwa, mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol merasa literasi informasi merupakan suatu kemampuan yang penting untuk diterapkan dalam berbagai aktifitasnya. Mahasiswa juga merasa bahwa, literasi informasi membuat mereka mampu untuk berpikir lebih kritis dan inelektif dalam memahami informasi secara utuh, membantu memahami aturan penggunaan informasi yang baik dan benar, membantu dalam mengevaluasi sumber informasi, serta membuat mahasiswa melek dalam menggunakan teknologi informasi yang memudahkannya dalam memperoleh informasi secara cepat dan efisien. Selain itu, literasi informasi dirasakan mahasiswa sebagai kemampuan yang dapat dimanfaatkan untuk membantu dalam menyelesaikan tugas perkuliahannya. Seluruh pemahaman mahasiswa terhadap pentinggnya literasi informasi tersebut tentunya tidak terlepas dari pengalaman mahasiswa ketika mengalami permasalahan yang berkaitan dengan informasi.
Conclusion
Perpustakaan di Universitas Islam Negeri Imam Bonjol Padang memiliki peran dalam penilaian di era teknologi informasi saat ini. Menurut pustakawan literasi informasi merupakan bagian dari kegiatan yang mereka dapat digunakan sebagai pendukung pembelajaran bagi mahasiswa. Contohnya sebagaimana dijelaskan oleh Zulfitri (29 April 2022), “Kebutuhan informasi pengguna sekarang sudah luar biasa dikarenakan mereka generasi yang sudah di atas kita. Ya memang kalau pustakawan hanya berhenti pada cukup pada proses interaksi di dalam perpustakaan, ya perpustakaan akan di tinggalkan untuk pengguna atau mahasiswa yang sudah kekinian dalam menggunakan teknologi informasi dan perubahan pencarian informasinya. Mereka butuh teman belajar, dalam hal ini butuh pustakawan yang memang bisa support dan mendampingi mereka untuk bisa lancar dalam melakukan proses pembelajaran.” Dalam keadaan tersebut, dapat dikatakan bahwa pustakawan merupakan bagian dari pendukung pembelajaran, salah satunya dilakukan dengan cara mengajarkan literasi informasi kepada pemustakanya. Maka dapat dijawab bahwa Mahasiswa Universitas Islam Negeri Imam Bonjol merasa literasi informasi merupakan kemampuan penting bagi mahasiswa yang diharapkan memiliki pola pikir kritis dan intelektif. Literasi informasi dirasakan dapat membuat mahasiswa memiliki pemahaman utuh dari sebuah informasi, sehingga dapat melatih mahasiswa untuk berpikir kreatif dan intelektif dalam memahami sebuah informasi secara maksimal. Dengan kemelekan teknologi informasi yang dimiliki, mahasiswa dapat mengatur berbagai literatur yang dimiliki dengan lebih efektif dan efisien, sehingga dapat memudahkan mahasiswa dalam melaksanakan kegiatan ilmiah.