#1LIB1REF : ANALISIS ISI PESAN ADVOKASI DIGITAL SATU PUSTAKAWAN SATU REFERENSI (ONE LIBRARIAN ONE REFERENCE) DI TWITTER
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Abstrak
1Lib1Ref (One Librarian One Reference) adalah gerakan untuk menambahkan referensi pada artikel-artikel Wikipedia yang masih belum memiliki rujukan memadai. 1Lib1Ref saat ini terbuka untuk diikuti oleh pustakawan maupun masyarakat umum. Wikipedia memandang para pustakawan memiliki kemampuan dan sumsber daya yang baik untuk mendukung kualitas dan reliabilitas artikel. Selama masa kegiatan berlangsung atau 15 Januari s.d. 5 Februari dan 15 Mei s.d. 5 Juni setiap tahun, para pendukung program ini juga mengampanyekan #1Lib1Ref di media sosial, terutama Twitter (X). Peneliti menganalisis penggunaan tagar #1Lib1ReF di Twitter selama 2022 dengan menggunakan metode analisis isi. Dari hasil analisis, ada 4 (empat) tema besar yang sering muncul selama tahun tersebut yaitu: kampanye #1LibRef, promosi acara, sentimen wilayah, dan berbagi pengalaman pribadi
Abstract
1Lib1Ref (One Librarian, One Reference) is a movement to add references to Wikipedia articles that still need adequate references. 1Lib1Ref is currently open for participation by librarians and the general public. Wikipedia considers librarians to have good skills and resources to support the quality and reliability of articles. During the activity period of January 15 to February 5 and May 15 to June 5 every year, supporters of this program also campaign #1Lib1Ref on social media, especially Twitter (X). The researcher applies the content analysis method to analyze 214 tweets containing the hashtag #1Lib1ReF on Twitter in 2022. From the analysis results, 4 (four) big themes often appeared during that year, namely the #1LibRef campaign, event promotion, regional sentiment, and sharing personal experiences.
Keywords:
digital advocacy
· #1Lib1Ref
· Twitter
· content analysis
Introduction
Media sosial kini telah digunakan secara meluas baik di level individu maupun organisasi. Lewat media sosial, masyarakat saling membangun interaksi, bersosialisasi, serta melakukan debat dan pertukaran ide serta informasi baik melalui akun pribadi maupun lembaga. Perkembangan ini turut dipengaruhi oleh kemudahan mengakses media sosial melalui berbagai perangkat bergerak, seperti telepon pintar dan tablet. Teknologi media sosial dalam konteks tulisan ini adalah “platform digital, aplikasi, dan layanan yang memadukan upaya berbagi konten, komunikasi publik, dan koneksi antarpribadi” (Burgess et al., 2017). Menurut Sloan & Quan-Haase (2017), ada tiga karakteristik utama media sosial, yaitu memiliki kemampuan untuk mendukung konten pengguna (user-generated content), seperti gambar, teks, video, dan status geolokasi; menyediakan alat untuk menghubungkan pengguna, misalnya melalui fitur suka (like) dan mengikuti (follow) di Twitter (kini X) dan Instagram; dan memungkinkan pengguna untuk membangun keterlibatan melalui kolaborasi, pengembangan komunitas, upaya berbagi, dan semacamnya. Penggunaan media sosial yang masif saat ini tentu berimplikasi pada data yang dihasilkan. Data media sosial yang begitu besar bisa menjadi bahan kajian yang menarik bagi para peneliti ilmu-ilmu sosial, terutama studi terkait perilaku manusia (Steinert-Threlkeld, 2018). Advokasi digital merupakan aktivitas mengedukasi dan memengaruhi orang lain melalui internet dengan pesan yang dirancang sedemikian rupa sehingga mudah disebarkan dan dapat menjangkau publik (Santiago, 2012). Tujuannya adalah untuk mendorong dan memobilisasi orang lain yang memiliki kesamaan pandangan (allies) untuk melakukan sesuatu, baik dalam konteks mendukung maupun menentang (Johansson & Scaramuzzino, 2019). Contoh advokasi digital adalah pesan untuk membangun kesadaran publik, misalnya ajakan menandatangani petisi, melakukan pemboikotan, dan menuntut perubahan kebijakan (Katiti, 2018). Platform daring yang sering digunakan untuk melakukan advokasi digital antara lain situs web, blog, forum, dan media sosial, seperti Twitter, Instagram, Facebook, dan Tiktok. Advokasi di media sosial acapkali memanfaatkan simbol tagar (#). Pada awalnya atau sekitar akhir 1990-an, tagar dalam forum-forum daring digunakan untuk mengelompokkan topik-topik dalam kolom percakapan. Penggunaan tagar di Twitter pertama kali dilakukan pada 2007 oleh Chris Messina yang merupakan aktivis internet dan konsultan di Silicon Valley (Bernard, 2019). Messina menggunakan tagar untuk mengelola topik-topik yang menurutnya menarik. Dua tahun kemudian, Twitter resmi mengadopsi tagar dalam pengkodeannya dan memperkenalkannya ke publik. Dalam aktivisme digital, simbol tagar digunakan untuk mengamplifikasi pesan dan menjangkau orang-orang yang sepemikiran, membangun kesadaran publik, dan mengorganisasi aksi kolektif. Secara spesifik, simbol ini digunakan untuk memberikan „merek dagang‟ pada gerakan advokasi, mengarsipkan pesan, serta menghubungkan pengguna untuk berinteraksi dan mendorong keterlibatan (engagement), misalnya dengan melihat dan membalas komentar (Saxton et al., 2015). Dari sini, kemudian muncul istilah aktivisme tagar (hashtag activism) atau penggunaan tagar untuk aktivisme internet (Sinpeng, 2021). Dua aktivisme tagar yang cukup populer di dunia antara lain adalah #BlackLivesMatter dan #MeToo yang masing-masing mengawal isu mengenai hakhak warga kulit hitam dan kekerasan dan pelecehan seksual. Di Indonesia, tagar yang sempat ramai di Twitter antara lain adalah #PercumaLaporPolisi dan #UsutTuntas. Tagar pertama digulirkan publik untuk mengekspresikan kekecewaan terhadap kinerja Kepolisian RI, sedangkan yang kedua adalah tuntutan masyarakat agar pemerintah mengusut Tragedi Kanjuruhan yang terjadi pada 1 Oktober 2022. Pada perkembangannya, selain untuk aktivisme politik dan sosial seperti kampanye politik dan gerakan protes, tagar juga menjadi alat untuk memasarkan produk dan program (Bernard, 2019). 2. TINJAUAN PUSTAKA a. Aktivisme tagar Menurut Yang (2016), aktivisme tagar mengacu pada gerakan daring untuk kepentingan sosial dan politik yang ditandai dengan unggahan dalam jumlah besar dan disertai dengan sebuah tagar yang sama. Saat ini, tagar telah digunakan secara meluas oleh masyarakat, media, dan politisi untuk membicarakan topik yang sedang hangat dibahas lintas platform. Pembahasan mengenai isu tertentu seringkali berjalan jauh lebih cepat di media sosial dibandingkan di media konvensional. Aktivisme tagar memanfaatkan kecepatan tersebut untuk membangun opini dan menggalang dukungan dari pengguna berbagai latar belakang. Kelebihan media sosial untuk kegiatan aktivisme adalah adanya kesempatan bagi siapapun, termasuk orang-orang yang sebelumnya tidak memiliki ruang berekspresi, untuk bisa bersuara, berbagi ide, serta menghimpun kekuatan (Bouvier & Rasmussen, 2022). Tagar populer seperti #BlackLivesMatter dan #MeToo sering dijadikan contoh bagaimana aktivisme tagar bisa digunakan untuk menggalang massa, menekan para pemegang kebijakan, dan memberikan pengetahuan terhadap publik mengenai isu-isu krusial yang dipandang mendesak untuk ditangani. Salah satu contoh keberhasilan aktivisme internet untuk membagikan informasi dan mengorganisasi protes di Timur Tengah atau yang dikenal dengan Arab Spring pada 2010. Di sisi lain, aktivisme internet dan media sosial juga memiliki kekurangan. Aksi ini riskan terjebak pada aktivisme performatif atau aksi untuk mengejar keuntungan pribadi alih-alih mendukung tujuan awal sebuah gerakan. Keuntungan tersebut bisa berupa citra baik dan terhindar dari cap-cap buruk, misalnya label seksis, tidak peduli lingkungan, dan semacamnya. Sehingga, pelaku advokasi merasa cukup dengan melakukan aktivisme di internet dan menghindari perubahan di dunia nyata. Dengan kalimat lain, ada kesenjangan antara apa yang dikatakan dan apa yang dilakukan oleh seorang pelaku advokasi digital (Thimsen, 2022). b. Advokasi ddigital oleh pustakawan Pustakawan dan warganet yang peduli terhadap dunia perpustakaan juga ikut memanfaatkan media sosial untuk kepentingan advokasi. Salah satu tagar yang paling sering digunakan adalah #savelibraries. Tagar ini pernah digunakan untuk menentang pemotongan anggaran perpustakaan dan penggantian pustakawan oleh tenaga paraprofesional di Amerika Serikat (Ewbank, 2015), dan menentang penutupan perpustakaan umum di Inggris Raya (Wylie, 2022). Tagar lain yang lebih spesifik pernah digunakan oleh ALA (American Library Association), yaitu #getESEAright. Pustakawan yang terhimpun di ALA meminta publik mendesak anggota senat untuk memasukkan perpustakaan sekolah ke dalam kebijakan reotorisasi UU Pendidikan Sekolah Dasar dan Menengah dengan mendukung amandemen yang bertajuk SKILLS (Strenghtening Students‟ Interest in Learning and Libraries) (Ewbank, 2015). Tagar-tagar lain yang pernah dipakai oleh pustakawan adalah #WhatLibrariansDo dan #LibraryLife. Keduanya digunakan oleh pustakawan untuk mengedukasi publik mengenai kerja-kerja yang dilakukan pustakawan. Selain itu, dua tagar tersebut juga dipakai untuk menantang stereotipestereotipe yang beredar di masyarakat mengenai profesi pustakawan (Kristina A. Holzweiss is #HackingSchoolLibraries, 2022). c. Kampaye dan kegiata #1Lib1Ref #1Lib1Ref (“One Librarian, One Reference”) merupakan agenda tahunan perkumpulan Wikimedia. Program ini mengajak para pustakawan, arsiparis, dan pekerja informasi lainnya dari seluruh dunia untuk menambahkan referensi pada artikel-artikel Wikipedia secara sukarela. Artikel yang menjadi fokus adalah yang masih kekurangan sumber informasi pendukung, baik dari segi jumlah maupun kualitas. Tidak hanya di Wikipedia bahasa Inggris, #1Lib1Ref juga terbuka untuk dilakukan di Wikipedia bahasa-bahasa yang lain. Setiap tahun, #1Lib1Ref diunggah di media sosial untuk mengajak lebih banyak pustakawan dan masyarakat untuk terlibat dalam aktivitas ini. IFLA (International Federation of Library Association and Institution) juga menjadi salah satu pendukung #1Lib1Ref. Dalam situsnya, IFLA mendorong pustakawan terlibat dalam peningkatan kualitas artikel-artikel Wikipedia mengingat ensiklopedia terbuka daring ini telah menjadi salah satu sumber informasi pendidikan paling populer di dunia. Dengan meningkatkan mutu artikel, pustakawan juga terlibat dalam upaya menekan peredaran informasi palsu, membangun struktur informasi yang baik, dan mempromosikan pengetahuan terhadap sumber-sumber yang penting dalam bidang-bidang yang relevan (Francoise, 2020). Secara prinsip, perpustakaan dan Wikipedia juga berbagi visi yang sama berupa penyediaan akses gratis terhadap pengetahuan dan percepatan penyebaran dan transmisinya (Sutton, 2017). Wikimedia juga menyoroti adanya pemberlakuan sensor terhadap informasi (information censorship) yang terjadi di beberapa negara dan peningkatan pencarian informasi selama pandemi Covid-19. Kedua hal ini juga menjadi pendorong utama untuk mempromosikan kegiatan #1Lib1Ref selama tiga tahun terakhir. Selain itu, pustakawan juga dinilai memiliki kemampuan yang memadai untuk menemukan dan menggunakan referensi yang tepercaya. Selain itu, dengan bekerja di perpustakaan, pustakawan juga dipandang memiliki akses yang luas ke sumber-sumber informasi yang berkualitas (Stinson, 2017). Sehingga, sumbangan referensi dari pustakawan diharapkan bisa meningkatkan tingkat kehandalan artikel-artikel Wikipedia (IFLA, 2020).
Method
Penelitian ini merupakan studi eksplorasi dengan menggunakan twit (unggahan di Twitter) sebagai data primer. Peneliti mengumpulkan data dengan bantuan Tweet-Harvest, sebuah aplikasi data crawling berbasis Python. Data yang digunakan adalah twit berbahasa Inggris yang menggunakan tagar #1Lib1Ref selama 2022. Unggahan bertema 1Lib1Ref umumnya banyak bermunculkan pada awal tahun mengacu pada periode pertama pelaksanaan kegiatan. Dari hasil data crawling, diperoleh 214 twit yang relevan untuk dianalisis lebih lanjut. Sebelum itu, retweet (twit ulang) telah disaring dan dikeluarkan dari data. Selanjutnya, twit dianalisis dengan menggunakan metode analisis isi (content analysis). Analisis isi adalah “teknik penelitian untuk membuat kesimpulan yang dapat direplikasi dan valid dari teks (atau hal bermakna lainnya) hingga konteks penggunaannya” (Krippendorff, 2004). Dalam riset ini, analisis twit digunakan untuk menjawab pertanyaan: “Pesan advokasi apa yang terkandung dalam twit-twit dengan menggunakan tagar #1lib1ref selama 2022?”.
Result & Discussion
Untuk menganalisis data, peneliti membaca secara berulang-ulang seluruh twit yang telah dikumpulkan. Peneliti kemudian melakukan pengkodean manual ke masingmasing unit twit berdasarkan 3 kategori, yaitu tipe, unit makna (meaning unit), dan kategori. Berikut adalah tahapan proses pengumpulan data dalam riset ini: Gambar 1. Proses pengumpulan data Gambar 1. Proses pengumpulan data Kampanye #1Lib1Ref Dari hasil interpretasi data, twit yang mendominasi adalah kategori kampanye #1Lib1Ref. Ada 51 twit yang secara spesifik menjelaskan definisi kegiatan dan tujuan #1Lib1Ref, seperti memperkaya referensi, mendorong keterlibatan pustakawan dalam memperbaiki kualitas rujukan, serta memperbaiki tingkat reliabilitas dan akurasi artikel-artikel Wikipedia. Twit bertema kampanye (campaign) ini berpotensi menjangkau para pustakawan dan masyarakat yang masih awam dengan kegiatan #1Lib1Ref dan proyek-proyek Wikipedia secara umum. Tabel 2. Contoh twit kampanye #1Lib1Ref Promosi acara Ada 44 twit promosi yang menyertakan waktu pelaksanaan pelatihan secara spesifik. Beberapa istilah yang digunakan antara lain adalah editing session, training session, drop-in session, dan online session. Berdasarkan hasil ini, para pegiat Wikipedia menggunakan tagar #1Lib1Ref untuk menjaring calon peserta yang ingin mengikuti kelas pelatihan luring dan daring. Hal ini ditandai dengan informasi tanggal dan jam pelaksanaan yang disebutkan dalam twit. Tabel 3. Contoh twit promosi acara Sentimen wilayah Para pustakawan dan pegiat Wikipedia juga menggunakan #1Lib1Ref untuk mendorong agenda nasional dan regional yang mereka miliki. Ada 39 twit yang berkategori sentimen wilayah dari hasil olah data. Sebagaimana yang diketahui, Wikipedia sebagai bentuk urun daya digital memiliki sejumlah kelemahan, seperti kesenjangan dan bias informasi. Ini salah satunya diakibatkan oleh ketidakseimbangan jumlah editor Wikipedia yang berasal dari wilayah/negara, ras, dan bahasa tertentu. Wikipedia bahasa Inggris, misalnya, memiliki jumlah kontributor terbanyak dan berasal dari berbagai negara. Perbedaan ideologi dan budaya, pandangan politik, serta bias gender yang dimiliki oleh administrator dan kontributor juga turut berperan di dalamnya (Hube, 2017). Dari 39 twit yang bermuatan sentimen wilayah, jumlah twit terkait Afrika mendominasi dengan 30 twit. Para pustakawan dan forum pustakawan di Afrika secara gencar mendorong penguatan narasi Afrika dalam artikel-artikel Wikipedia melalui #1Lib1Ref. Selain itu, ada sejumlah kecil twit yang mendorong keterlibatan wikipediawan dan pustakawan dari negara-negara selatan (Global South) dalam 1Lib1Ref. Ada 5 twit yang menyampaikan sentimen nasional para kontributor dari negara-negara tertentu, salah satunya Ukraina. Konflik berkepanjangan antara Ukraina dan Rusia tampaknya memotivasi para penyunting Wikipedia untuk memperkaya artikel-artikel tentang negara tersebut (Dammak & Lemmerich, 2023).Berdasarkan hasil studi sebelumnya, artikelartikel di Wikipedia bahasa Inggris kebanyakan ditulis dari negara-negara utara (Global North), seperti Eropa dan Amerika Utara. Akibatnya, ada resiko bias dalam penulisan artikel-artikel tersebut (Ramjohn, 2022). Artikel tentang Afrika, misalnya, bisa saja ditulis menurut perspektif warga Amerika dan Eropa. Sedangkan artikelartikel wilayah-wilayah di Afrika dan Asia masih kurang terwakili, sedikit jumlahnya, dan tidak ditulis dengan baik (Ramjohn, 2022). Tabel 4. Contoh twit yang mengandung sentimen wilayah Pengalaman pribadi Para peserta juga menggunakan #1Lib1Ref untuk berbagi pengalaman pribadi dalam mengikuti kegiatan 1LibRef. Ada 18 twit yang masuk kategori ini. Sentuhan personal menjadi salah satu hal yang menarik dalam kajian media sosial. Dengan mengunggah konten yang bersifat personal, pengguna lain bisa mengetahui kesan orang terhadap sebuah program/isu. Selain itu, peneliti juga bisa mempelajari perilaku, minat, dan pandangan publik. Tabel 5. Contoh twit yang menceritakan pengalaman pribadi
Conclusion
Penelitian ini menggali pesan-pesan advokasi yang dilakukan oleh wikipediawan dan para pendukung #1LibRef di Twitter selama 2022. Dari hasil studi, ada empat tema besar yang diusung, yaitu: kampanye #1Lib1Ref, promosi acara, sentimen wilayah, dan pengalaman pribadi. Dengan melihat hasil ini, peneliti menyimpulkan bahwa para pendukung #1LibRef telah menggunakan tagar dengan cukup baik, seperti untuk memperkenalkan 1Lib1Ref dan tujuannya, siapa saja yang bisa dan diharapkan berkontribusi, dan informasi cara partisipasi dan bergabung dalam pelatihannya. Berdasarkan pembacaan terhadap twit, peneliti melihat bahwa para pendukung 1Lib1Ref masih memiliki sejumlah tugas ke depan. Salah satu yang terpenting adalah bagaimana menarik lebih banyak peserta dari berbagai latar belakang berbeda. Keragaman kontributor ini akan turut membantu mengurangi kesenjangan dan bias yang saat ini masih ada di Wikipedia. Antusiasme para pustakawan di Afrika dan Ukraina, misalnya, bisa menjadi contoh bagi para pustakawan di wilayah dan negara yang lain dalam mengurangi bias dan menambah representasi entri-entri Wikipedia tentang wilayah bersangkutan. Di Indonesia, penguatan referensi dalam artikel-artikel di Wikipedia bahasa Indonesia dan bahasa Inggris tentang keindonesiaan bisa menjadi salah satu tema besar yang diperkenalkan.