Kembali
16
1
2017 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 9 · 1 ISSN 2502-4108

KETERAMPILAN KOMUNIKASI EFEKTIF PUSTAKAWAN REFERENSI DI PERPUSTAKAAN UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

Universitas Tanjungpura

Abstrak

Pustakawan dalam menjalankan profesinya di perpustakaan harus memiliki pengetahuan yang memadai dalam segala bidang. Sebagaimana kita ketahui bahwa fungsi pustakawan, khususnya pustakawan referensi di antaranya adalah membimbing, membantu dan menjawab pertanyaan pemustaka atas informasi yang dibutuhkannya. Karena itu, membutuhkan keahlian khusus sebab informasi yang disajikan di layanan referensi merupakan koleksi khusus. Oleh karena itu pustakawan referensi harus mempunyai keterampilan, salah satunya komunikasi efektif yang terkait dengan keprofesionalan mereka dalam menjalankan tugasnya yaitu melayani, mendampingi, membimbing, dan menjadi konsultan informasi untuk pemustaka serta tuntutan tingginya ilmu pengetahuan yang harus mereka kuasai. Inilah yang melatarbelakangi penulis untuk meneliti tentang keterampilan komunikasi efektif pustakawan referensi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk mengetahui keterampilan komunikasi efektif, cara membangun komunikasi efektif dan faktor-faktor yang menghambat keterampilan komunikasi efektif pustakawan referensi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Adapun hasil penelitian menunjukkan bahwa pustakawan referensi dalam berkomunikasi dengan pemustaka sudah terampil dan efektif. Cara pustakawan referensi membangun komunikasi efektif dengan pemustaka yaitu dengan cara memahami dan memenuhi aspek-aspek komunikasi yang efektif seperti penuh pertolongan, tenggang rasa, menghargai, empati, penuh perhatian, sopan, peduli, dapat didengarkan, jelas, rasa percaya, peduli dan sikap rendah hati. Adapun faktor-faktor yang menghambat keterampilan komunikasi efektif pustakawan referensi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yaitu faktor psikologis, sistematis, dan ekologis.</p>

Abstract

Librarians in their profession in the library must have adequate knowledge in all fields. As we know that the function of librarians, particnlarly among reference librarian is to guide, assist and answer questions from users on the information it needs. one Therefore, it requires special skills becanse of the information presented in the reference service is a special collection. Therefore, a reference librarian should have the skills, of which effective communication associated with their professionalism in carrying ont its duties are to serve, assist, guide, and a consultant for users information as well as the high demands of science should be mastered. This is what lies bebind the anthor’s research on efective communication skills reference librarian at the Library of UIN Sunan Kaljjaga Yogyakarta. This study aims to determine the general effective communication skills, how to build an effective communication and the factors that binder ¢ffective commumnication skills the reference librarian in the library of UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. The method used in this research is descriptive method with gualitative research approach. The research results indicate that the reference librarian in communicating with users skilled and effective. How librarian reference 1o communicate efectively with users that is by understanding and fulfilling aspects of effective communication as a full relief, tolerance, respect, empathy, caring, polite, caring, can be heard, obvionsly, confidence, caring and bumble attitude. The factors that hinder dffective communication skills the reference librarian in the library of UIN Sunan Kaljjaga Yogyakarta that psychological factors, systematic, and ecological.
Keywords: communication skills · effective communication · reference librarian · and nser

Introduction

Paradigma perpustakaan saat ini adalah merupakan sumber informasi karena perpustakaan menyimpan berbagai jenis koleksi, baik tercetak maupun terekam. Koleksi tersebut merupakan informasi yang telah diolah dan dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.! Informasi yang akurat, tepat guna yang disediakan perpustakaan akan sangat membantu para pemustaka dalam menghadapi persoalan yang dihadapinya. Perpustakaan yang berkualitas itu adalah perpustakaan yang mampu menjawab setiap persoalan informasi yang dibutuhkan oleh setiap pemustakanya, oleh karena kelengkapan koleksi ditunjang dengan pustakawan yang terampil akan menjadi faktor yang dominan dalam membantu pemustaka dalam melakukan penelusuran informasi yang lebih tepat. Sosial Skz// atau keterampilan sosial pustakawan akan sangat berpengaruh dalam meningkatkan pelayanan yang ada di perpustakaan. Dalam menghadapi tuntunan kebutuhan pemustaka yang semakin tinggi dan beraneka ragam, maka perpustakaan perlu mempersiapkan pustakawan yang profesional, yaitu pustakawan yang memiliki "s&i//”, “knowledge’, kemampuan (ability), serta kedewasaan psikologis. Harapan pemustaka yang berkunjung ke perpustakaan adalah bagaimana mereka terpenuhi baik untuk mencari berbagai sumber informasi dan ilmu pengetahuan, ataupun hanya berkunjung saja untuk mengisi waktu luang, memiliki satu keinginan ketika dia dilayani di perpustakaan yaitu dilayani oleh seorang pustakawan yang ramah, sopan dan anggun. Itu merupakan harapan bagi semua orang yang berkunjung ke dari perpustakaan. Namun tidak sekedar itu saja, sebenarnya ada harapan lebih pemustaka terhadap pustakawan ketika melayani pemustaka yaitu pustakawan yang memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik, ramah, dan sopan. Aziz menyatakan bahwa pustakawan hendaknya dalam bekerja selalu mementingkan kebutuhan pemustakanya dengan prinsip selalu siap sedia dalam memberikan pertolongan pada saat diperlukan. Apabila prinsip tolongmenolong benar-benar dijalankan oleh pustakawan, maka pustakawan dalam memberikan pelayanan kepada pemustakanya, tidak hanya mendapatkan respon yang positif dari para pemustaka tetapi akan terhitung juga sebagai kebaikan yang tentu saja akan mendapatkan pahala.? Prinsip tolong-menolong ini merupakan salah satu ajaran Islam yang harus diperhatikan, sebagaimana firman Allah dalam Q.S. al-Maidah (5):2 yaitu sebagai berikut:> Astinya: “dan tolong menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takna, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran” (QS. Al-Maidah 5)2). Menurut Fatmawati pada perpustakaan, seorang pustakawan sering melakukan komunikasi dengan pemustaka. Oleh karena itu, kemampuan putakawan dalam berkomunikasi dengan baik akan mempengaruhi hasil kerja di pustakawan tersebut. Model hubungan komunikasi pustakawan perpustakaan, bisa antara pustakawan dengan pimpinan, pustakawan dengan pustakawan, maupun pustakawan dengan pemustaka. {omunikasi merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia sebagai makhluk sosial, dan merupakan bagian penting dalam perpustakaan, khususnya dalam melayani pemustaka.* Dalam konteks perpustakaan, komunikasi merupakan suatu keniscayaan yang tak terbantahkan, karena perpustakaan berhubungan dengan informasi yang akan digunakan pemustaka untuk kepentingan-kepentingan terkait perannya sebagai makhluk sosial. Informasi yang disampaikan maupun yang diterima oleh elemen-elemen yang terkait dengan perpustakaan tentu membutuhkan komunikasi yang efektif agar setiap informasi yang ada maupun yang dibutuhkan di perpustakaan dapat tersampaikan dan dapat diterima dengan baik. Di sinilah letak urgensi komunikasi sebagai penghubung antara pustakawan dengan pemustaka untuk membangun relasi ideal yang nantinya menghapus jurang pemisah (seperti yang masih sering terjadi sampai saat ini) antara pustakawan dengan pemustaka. Bagaimanapun juga, peran pustakawan dalam menyampaikan setiap informasi yang ada dan yang dibutuhkan pemustaka sangatlah penting. Membengun komunikasi dengan orang lain akan menghilangkan kesombongan, kekecewaan, kepenatan, yang biasanya akan menjadi faktor penghambat dalam pergaulan sehari-hari. Komunikasi sangat penting untuk memperlancar tugas-tugas baik di dalam perpustakaan maupun di Iuar perpustakaan. Komunikasi bisa dilakukan dengan cara dialog, sehingga dapat saling memberi dan menerima (fake and gave) pendapat. Komunikasi bisa menghilangkan salah pengertian (wisunderstanding) dalam pergaulan. Dan komunikasi bisa mendatangkan simpati, empati, kepercayaan dari orang lain. Dalam perpustakaan pustakawan referensi harus mengembangkan komunikasi dengan orang lain khususnya dengan pemustaka, agar bisa menghilangkan persepsi yang salah menjadi benar. Pustakawan referensi adalah tokok penting yang harus menengarai bahan yang tepat untuk menjawab pertanyaan. Pustakawan referensi harus tanggap terhadap kebutuhan pemustaka serta berpikir kritis dan tertata. Karena fungsi pustakawan referensi di antaranya adalah membimbing, membantu dan menjawab semua pertanyaan pemustaka atas informasi yang dibutuhkannya.’ Maka dari itu, pustakawan referensi harus memiliki pengetahuan yang memadai dalam segala bidang, khususnya yang menjadi fokus lembaga induk perpustakaannya. Dalam menjalankan profesinya, pustakawan referensi membutuhkan keahlian khusus karena informasi yang disajikan berasal dari koleksi khusus. Pustakwan referensi perlu memberi bimbingan cara pencarian informasi menggunakan koleksi referensi bahkan pada tingkat pendampingan kepada pemustaka yang akan melakukan penelitian. Keahlian penelusuran informasi yang berbobot oleh pustakawan referensi berkaitan dengan luasnya ilmu pengetahuan yang dikuasai oleh pustakawan referensi. Dua hal mendasar inilah yang menjadi alasan harus adanya keterampilan komunikasi efektif untuk pustakawan referensi terkait dengan keprofesionalan mereka dalam menjalankan tugasnya yaitu melayani, mendampingi, membimbing, dan menjadi konsultan informasi untuk pemustaka serta tuntutan tingginya ilmu pengetahuan yang harus mereka kuasai. Berdasarkan hal di atas, maka menjadi alasan bagi penulis untuk meneliti bagaimana Keterampilan Komunikasi Efektif Pustakawan Referensi dalam Melayani Pemustaka. Hal tersebut menjadikan Penulis tertarik untuk meneliti kasus di atas, sehingga penulis mengambil judul penelitian “Keterampilan Komunikasi Efektif Pustakawan Referensi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Method

Adapun metode yang digunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan penelitian kualitatif. Informan kunci dalam penelitian ini adalah pustakawan yang bertugas di ruang referensi, serial dan skripsi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga. Informan dalam penelitian ini berjumlah empat orang, yaitu di antaranya tiga (3) orang pustakawan yaitu Bapak Drs. Bambang Heru Nurwoto yang merupakan seorang pustakawan yang bertugas di ruang layanan referensi di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, Bapak Daldiri yang merupakan seorang pustakawan yang bertugas di ruang Sereal (ruang sereal bagian dari mang referensi) di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, dan Bapak Nashruddien yang juga merupakan seorang pustakawan bagian referensi. Dan satu (1) orang yang bukan pustakawan melainkan staf yang bertugas di ruang skripsi (mang skripsi merupakan bagian dari layanan referensi), yaitu Ibu Etty Nurhayati. Agar penelitian ini lebih menguatkan lagi informasi yang peneliti dapatkan dari informan, maka di sini peneliti juga mewawancari sebelas (11) pemustaka yang sering berkunjung ke ruang referensi. Adapun teknik-teknik yang peneliti gunakan dalam upaya pengumpulan data yaitu, observasi #on partisipan, wawancara mendalam dan dokumentasi. Untuk teknik analisis data yang peneliti gunakan dalam penelitian ini sesuai dengan menurut Miles dan Huberman dalam Sugiyono yaitu meliputi: pengumpulan data, reduksi data, disp/ay data (penyajian data), penarikan kesimpulan dan verifikasi®

Discussion

Pada pembahasan ini peneliti akan menyajikan teori-teori yang mendukung data yang diperoleh di lapangan, baik data hasil observasi maupun data hasil wawancara. Sistematika pembahasan ini akan peneliti paparkan secara deskriptif sesuai dengan fokus penelitian. 1. Keterampilan Komunikasi Efektif Pustakawan Referensi dalam Melayani Pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Sebelum lebih jauh menjelaskan keterampilan komunikasi efektif pustakawan referensi dalam melayani pemustaka di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga terlebih dahulu peneliti menjelaskan apa sebenarnya makna dari komunikasi tersebut. Sebagaimana kita ketahui komunikasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah proses pengitiman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dimengerti. Seperti halnya ketika pustakawan referensi dan pemustaka berkomunikasi di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, pemustaka sebagai pengirim pesan dan pustakawan menerima pesan atau sebaliknya, dan pesan tersebut dimengerti. lomunikasi yang dilakukan pustakawan dengan pemustaka, di mana pemustaka bertanya tentang suatu informasi yang diinginkan atau sebaliknya pustakawan yang bertanya kepada pemustaka yang sedang kebingungan untuk mencari informasi, dan hal tersebut ketika terjadi sebuah komunikasi maka terjadilah sebuah pertukaran informasi sebagaimana yang dikatakan oleh Liliweri yaitu komunikasi merupakan pertukaran informasi, ide, sikap, emosi, pendapat atau instruksi antara individu atau kelompok yang bertujuan untuk menciptakan sesuatu, memahami dan mengkoordinasikan suatu aktivitas.>* Komunikasi yang dilakukan oleh pustakawan referensi dengan pemustaka tersebut, fungsinya untuk mendapatkan informasi, pendidikan atau pengetahuan sehingga mendorong perkembangan intelektual apalagi komunikasinya terjadi di dalam suatu perpustakaan misalnya ketika pemustaka bertanya tentang suatu sumber rujukan tentang istilah atau kata atau pengertian. Hal tersebut sesuai dengan menurut Wijaya komunikasi mempunyai beberapa fungsi yaitu sebagai informasi, sosialisasi, motivasi, perdebatan dan diskusi, dan sebagainya. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan pemustaka di ruang referensi Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, komunikasi yang terjadi antara pustakawan referensi dan pemustaka menimbulkan perubahan sikap yang positif. Adapun pernyataan pemustaka yang peneliti wawancarai yaitu sebagai berikut: Pertama kali saya masuk ke ruang referensi Perpustakaan UIN Sunan Kaljjaga Yogakarta ini, saya merasa kebingungan karena saya belum pabam bagaimana cara mencari bahan pustaka atau referensi yang saya inginkan, dan bagaimana cara mencarinya. informasi yang saya inginkan tersebut. Tapi untungnya ada petngas (pustakawan) yang menyapa saya terlebih dabulu dengan sikap yang ramab, dan menanyakan serta menawarkan bantuan kepada saya dengan penub keikhiasan, apa yang saya butubkan. Saya mengatakan kepada petugas di layanan referensi ini, babwa saya membutubkan suatu biografi tentang salah satu tokob Islam yang bernama Abu Bakar As-Shiddiq. Lalu petugas (pustakawan) tersebut langsung membantu saya dengan mencarikan referensi yang saya inginkan dengan mencari di OPAC terlebib dabulu, dan membimbing saya bagaimana menggunakan OPAC serta menjelaskan fingsi dari OPAC tersebut. Ketika informasi yang saya inginkan ditemukan di OPAC, saya melibat petugas menulis nomor panggil buku/ referensi itu. Setelah mencari di OPAC langsung mengantarkan saya ke rak di mana letak referensi atau buku itu berada. Pustakawan langsung menunjukkan dan mengambilkan referensi yang berjudul BIOGRAFI, serta menunjukkan referensi lain yang berkaitan dengan referensi yang saya inginkan seperti ENSIKLOPEDI ISLAM dan KAMUS BIOGRAFL Pustakawan pun juga menjelaskan bahan bahan koleksi yang ada di ruang referensi ini tidak boleh dipinjam untuk dibawa pulang melainkan hanya bisa dipinjam dan dibaca di tempat. Ketika pustakawan membantu saya dengan mencarikan referensi yang saya inginkan dan menemnkannya, saya tidak merasa kebingungan lagi dan cemas, malah yang saya rasakan sebaliknya yaitu merasa senang karena saya telab dibantu dengan sepenub hati dan pabam bagaimana cara mencari informasi yang saya inginkan. Selain itu juga, saya menjadi kenal dengan petngas perpustakaan yang ada di ruang referensi tersebut dan saya tidak merasa takut apabila suatu waktu saya ingin bertanya kepada petugas tentang informasi yang saya inginkan namun belum ditemukan. Berdasarkan komunikasi yang hasil wawancara peneliti dengan pemustaka di atas, tefjadi antara pustakawan referensi dan pemustaka menimbulkan perubahan sikap yang positif. Di mana antara pustakawan dan pemustaka yang asalnya tidak kenal menjadi kenal dan selanjutnyamenimbulkan hubungan yang akrab dan lebih baik, selain itu sikap antara keduanya juga berubah, yang asalnya pemustaka kebingungan mencari informasi yang sulit di lagi dapatkan, setelah berkomunikasi dengan pustakawan jadi tidak bingung karena sudah dijelaskan dengan sejelas-jelasnya sehingga pemustaka itu paham. Hal tersebut seperti yang dikatakan Nasir dkk, bahwa komunikasi secara umum mempunyai beberapa tujuan yaitu perubahan sikap, perubahan pendapat, perubahan perilaku, dan perubahan sosial. * Selanjutnya, keterampilan perpustakaan hasil UIN Sunan komunikasi Kalijaga, pustakawan menurut peneliti referensi di berdasarkan observasi dan wawancara dengan beberapa pemustaka di ruang referensi, pustakawan yang ada di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga sudah mempunyai keterampilan dalam berkomunikasi. Di mana ketika pemustaka bertanya tentang informasi kepada pustakawan, pustakawan tersebut mendengarkan dengan penuh perhatian, menyimak betul-betul apa yang disampaikan oleh pemustaka, setelah itu pustakawan memberikan Jeedbeck yang baik dan memberikan respon atau tanggapan yang jelas, serta memberikan solusi atau arahan dengan jelas sesuai dengan apa yang dibutuhkan pemustaka. Selain itu, pustakawan ketika berkomunikasi dengan pemustaka juga mempunyai inisiatif sendiri tanpa disuruh oleh orang lain, dan juga mempunyai kemampuan untuk bekerja sama dalam sebuah tim dalam era global yang ditandai dengan sarana penelusuran internet seperti halnya menelusuri informasi dengan menggunakan OPAC. Adapun pernyataan pemustaka yang peneliti wawancarai di ruang referensi Perpustakaan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, yang menyatakan bahwa pustakawan yang ada di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga sudah mempunyai keterampilan dalam berkomunikasi, yaitu sebagai berikut: Menurut saya pustakawan yang ada di layanan referensi ini sudab terampil dalam berkomunikasi, karena ketika saya bertanya tentang informasi yang saya butuhkan sulit untuk ditemukan, pustakawan tersebut langsung mendengarkan dengan pensh perkatian dan merespos atan menjanab yang saya tanyakan. Pustakanan tersebut Juga langsung membantu saya wntuk menemmkan informasi dengan mencari di OPAC terlebiby dabuln dan mengantarkan saya ke tempat informasi itn berada. Misalnya ketika saya membutublan skripsi yang suli di temukan yang beyjudul “Pendidikan Karakter Anak dalam Pendidikan Islam dengan Menggunakan Hypnoparenting” pustakawan langsung membantu saya dan mengatakan dengan jelas babwa skrisi tersebut ada di sebelab fimmr (ruang skripsi) di rak tarbiyah dengan label TY 12.0516 DEL p. Pustakanan pun tidak hanya mengatakan begitu sqja, etapi juga langsung mengantarkan saya ke tempat skrisi tersebut. Dan albamdulillah skripsi tersebut ditermkan. Setelab di temukan saya bertanya kembali ke pustakawan, “spaka skripsi ini boleh di fotocapy atan tidak”?. Pustakawan menjawab babwa “boleh difstocapy, nammn sebelum difstacopy dipinjam terlebib dabuln ke petugas di bagian ruang skripsi dengan meninggalkan kartu identitas mahasiowa (KTM), serta skripsi fersebut tidak boleh di bawa pulang dan tidak boleh di fotocopy di luar perpustakaan”. Pustakawan Jjuga mengatakan “kalan man forveapy di dalam perpustaraan UIN Sunan Kaljaga yang berada di lantai 2”. Dan saya juga menanyakan apakah boleh difotocapy semma, pustakawan pun juga menjawab babwa “hanya bisa difotocspy di bagian BAB T, BAB 11, dan BAB 1 serta lampiran saja”. Dan setelah itu saya mengakhiri percakapan saya dengan mengucapkan terimakasib kepada pustakawan tersebut, pustakawan pun juga membalasnya dengan janaban “sama-sama sambil ersenyum dengan tulus dan ikhlas”. Berdasarkan pernyataan pemustaka di atas yang peneliti wanwacarai, dapat disimpulkan bahwa pustakawan referensi di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sudah terampil dalam berkomunikasi. Di katakan sudah terampil dalam berkomunikasi karena sudah memiliki beberapa hal sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Aziz, yaitu ke listening skills (kemampuan mendengar), mampu memberikan feedback yang baik, cnflict resolution (mampu mengatasi konflik), relationship building, menggunakan mekanisme formal dan informal dalam menjaga hubungan baik, dan se/finitiative, memiliki inisiatif tampa harus disuruh. Serta zeanmork (kemampuan untuk bekerja sama dalam sebuah tim dalam era global yang ditandai dengan sarana penelusuran internet).’ Berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan di layanan referensi Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, pustakawan ketika berkomunikasi dengan pemustaka menerapkan etika berkomunikasi yaitu bersikap sopan, santun, ramah, dan sabar serta membantu pemustaka yang sedang kebingungan dalam mencari informasi. Hal tersebut senada dengan yang dikemukakan Ali bahwa ketika seseorang berkomunikasi harus mengedepankan prinsip-prinsip etika berkomunikasi, seperti benar, jujur, adil, baik, sopan, optimis, menyenangkan, logis, tepat, selaras, mengesankan, tenang, efektif, lemah lembut, rendah hati, dan sebagainya, agar komunikasi tersebut menyenangkan dan nyaman.®® Komunikasi yang terjadi antara pustakawan referensi dan pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, merupakan komunikasi efektif karena ketika pemustaka bertanya kepada pustakawan tentang informasi yang diinginkan, pustakawan tersebut langsung memberikan informasi kepada pemustaka yang diinginkan serta mengarahkan/ menunjukkan keberadaan informasi (koleksi) tersebut. Dan ketika keduanya mengakhiri komunikasinya menimbulkan kesan yang baik. Sebagaimana kita ketahui bahwa kata efektif sering diartikan sebagai mencapai sasaran yang diinginkan (producing desired resulf), berdampak menyenangkan (baving a pleasing effect), bersifat aktual, dan nyata (actual and real) ¥ Komunikasi yang terjadi antara pustakawan dengan pemustaka di layanan referensi Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, dikatakan komunikasinya sudah efektif karena pustakawan mampu menyelaraskan gaya komunikasinya dengan gaya komunikasi pemustaka tersebut. Pemustaka juga menerima dengan baik informasi yang disampaikan oleh pustakawan tersebut. Misalnya pada saat pustakawan menjelaskan kepada pemustaka bahwa buku yang ia inginkan terlebih dahulu harus dicari &i OPAC (OPAC/ Online Public Access Catalog). Agar pemustaka tahu dan paham bagaimana mencari dan menelusur informasi, dan setelah itu pustakawan menulis letak rak dan lebelnya apa. Misalnya ketika ada pemustaka yang mencari tentang Ensiklopedi Islam Kaffah, setelah pustakawan telusuri di OPAC ternyata berada di rak 200 > lebel RF 2X4.003 TUW e. Dan pemustaka pun paham apa yang dijelaskan oleh pustakawan tersebut, maka komunikasi yang terjadi antara pustakawan dan pemustaka bisa dikatakan sudah efektif, artinya komunikasinya berhasil. Selain itu, pustakawan referensi dalam melayani pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, dikatakan komunikasinya sudah efektif karena pustakawan mampu memahami pemustakanya, apa yang dibutuhkan, diucapkan atau pesan yang disampaikan oleh pemustaka tersebut. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang peneliti lakukan di % * lapangan, antara pustakawan referensi ketika berkomunikasi dengan pemustaka,sudah menimbulkan komunikasi yang sama-sama OK atausaling memahami antara keduannya. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh seorang pakar komunikasi yang bernama Gudykunst terhadap pengertian komunikasi efektif sebagai proses untuk meminimalisasi kesalahpahaman. Artinya, bila komunikasi kita OK sama OK atau saling memahami.® Adapun contoh komunikasi yang sama-sama OK atau saling memahami antara pustakawan dengan pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, berdasarkan hasil observasi yang peneliti lakukan secara langsung di bagian layanan referensi, ada pemustaka yang bertanya kepada pustakawan tentang journal online yaitu sebagai berikut: Pemustaka Pustakawan Pemustaka Pustakawan Pemustaka Pustakawan Pemustaka Assalamu’alaikum bapak, saya mau tanya ada berapa journal yang dilanggan di sini pak? Wa’alaikum salam, journal yang dilanggan ada empat (4) vaitu Ewerald, eXford Islamic studies, Sage journal online dan Springer Link. Kalau kita ingin mendapatkan journal social skill, kita menggunakan langgan yang mana, dan apa alamatnya supaya kita bisa buka journal tersebut pak? Kalau mencari tentang social skill, kamu masukkan alamatnya dulu yaitu: Lib.uin-suka.ac.id, Setelah itu kamu pilih salah satu journal online yang bernama SAGE _Jjournal online, dengan alamat http:/ /onlinesagepub.com/ OK bapak saya akan mencobanya Pustakawan Pemustaka Pustakawan “ Bisa tidak ketika dicoba/dibuka alamat tersebut? Bisa pak, tapi kenapa tidak bisa di download semua journal tersebut pak? Karena semuanya tidak bisa di download, sebelum kita mendaftar ke petugas pustakawan. Kalau mendaftar apa saja persyaratannya? Kalau mendaftar persyaratannya hanya dengan memberikan identitas/nama lengkap dan alamat email kepada petugas pustakawan. Setelah itu pustakawan akan mendaftarkan dan akan memberikan pasword kepada pemustaka tersebut. Dan pemustaka akan bisa mengakses semua journal yang diinginkan. Pemustaka Putakawan 2. itu di juga : : O gituya pak, OK saya akan daftar dulu pak, terimakasih ya pak informasinya OK sama-sama. Cara Membangun Komunikasi Efektif Pustakawan Referensi dalam Melayani Pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan Bapak Bambang di ruang layanan referensi di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, beliau mengatakan bahwa cara pustakawan dalam membangun komunikasi efektif di layanan referensi yaitu: pertama, kejelasan (c/arity), pustakawan ketika menyampaikan pesan atau memberikan jawaban kepada pemustaka menggunakan bahasa yang jelas, baik dari segi arti pesan yang disampaikan, sehingga pemustaka pun paham atas apa yang disampaikan pustakawan. Peneliti juga mewawancarai beberapa pemustaka, salah satunya yaitu Erliyani, ia mengatakan bahwa informasi yang disampaikan dan diberikan oleh pustakawan kepadanya sudah sangat jelas dan sesuai dengan apa yang diinginkan, misalnya ia bertanya tentang kamus ada mana, dan pustakawan pun menjelaskannya, kalau kamus itu ada di sebelah barat > rak 400 > lebel RF 499.2223 IND k. dll. dan juga langsung mengantarkan ke tempatnya, dan ia (pemustaka) pun mendapatkan kamus tersebut. Begitu juga dengan jawaban pemustaka yang ke-dua yaitu Awie, menjawab hampir sama, yaitu, bahwa informasi yang diberikan pustakawan kepadanya sudah sesuai dengan apa yang ia inginkan yaitu jelas dan tepat. Kedua, informasi yang disampaikan harus jelas dan akurat (acorracy), pustakawan UIN referensi dalam melayani pemustaka di Perpustakaan Sunan Kalijaga Yogyakarta, ketika menyampaikan informasi atau memberikan jawaban kepada pemustaka itu sudah sesuai dan tepat dengan keinginan pemustaka. UIN Sunan Kalijaga, Ketiga, juga pustakawan referensi di Perpustakaan ketika berkomunikasi dengan pemustaka menggunakan bahasa yang sesuai dengan keadaan pemustaka tersebut. Seperti, apabila ada pemustaka asing atau pemustaka yang menggunakan bahasa asing misalnya bahasa inggris atau bahasa arab, beliau (pustakawan) juga tidak menggunakan bahasa inggris atau Arab. Dan apabila pustakawan bisa berbahasa asing tersebut, pustakawan mengkonfirmasi dan mengadakan kesepakatan dengan bagian layanan informasi yaitu ibu Yusra, supaya juga ikut membantu pemustaka yang berbahasa asing tersebut untuk menemukan informasi yang dibutuhkan. Karena menurut beliau, ibu Yusra pandai ketika berbahasa asing seperti halnya bahasa inggris. Terakhir, cara pustakawan dalam membangun komunikasi efektif di layanan yaitu referensi Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pustakawan juga memperhatikan cara pemustaka berkomunikasi dan menyesuaikan dengan budaya pemustaka tersebut. Misalnya ketika pemustaka berkomunikasi dengan logat jawa, maka pustakawan pun menggunakan logat jawa karena mayoritas pustakawan di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga orang jawa, dan apabila pemustaka tersebut berbicara dengan menggunakan nada tinggi (Orang Batak), maka pustakawan pun akan memahaminnya bahwa pemustaka tersebut tidak bermaksud marah atau kesal karena memang sudah budayanya berbicara seperti itu, dan sebagainya. Selanjutnya, peneliti mewawancarai Bapak Daldiri, yang merupakan seorang pustakawan yang bertugas di ruang Sereal (ruang sereal bagian dari ruang referensi) di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, beliau mengatakan bahwa cara pustakawan dalam membangun komunikasi efektif di layanan referensi yaitu: Hal pertama yang dilakukan seorang pustakawan referensi sebagai komunikator yang baik adalah menatap lawan bicara (pemustaka) dan mengambil jeda untuk memulai sebuah pembicaraan. Kedua, ekspresi wajah, seorang pustakawan ketika melayani pemustaka harus selalu tersenyum dengan tulus dan ikhlas, serta selalu bersikap sabar untuk mengatasi pemustaka yang sifatnya kurangnya menyenangkan, seperti halnya marah atau cerewet dan lain-lain, beliau selalu berusaha untuk mencoba mengerti pemustaka dan bersikap sabar, karena dengan sabar kita bisa menyelesaikan semuanya. Seperti halnya dalam al-Quran itu dijelaskan: Artinya: Hai orang orang yang beriman, bersabarlah kamu dan knatkanlah kesabaranmu dan tetaplab bersiap siaga (di perbatasan negeri) dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu bernntung. (Q.S. Ali-Imran, 3:200) Ketiga, tampilan pustakawan harus rapi sesuai dengan profesi pustakawan itu sendiri. Ieempat, Pustakawan selalu respek (respecs) ketika ada pemustaka bertanya terhadap dirinya tentang informasi yang dibutuhkan dan sulit untuk ditemukan. Sekecil apapun pertanyaan pemustaka, pustakawan selalu menghargainya. Kelima, pustakawan ketika berkomunikasi dengan pemustaka juga mampu menempatkan dirinya pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. keenam juga mampu mendengarkan apa yang disampaikan oleh pemustaka. Seperti halnya yang dikatakan oleh Bapak Bambang yang merupakan seorang pustakawan yang bertugas di ruang layanan referensi yang peneliti wawancarai, beliau mengatakan bahwa: Prinsip-prinsip yang saya paling kedepankan adalah sikap dan rasa empati ketika berkommnikasi dengan pemmstaka. Dan rasa ingin membantu, apalagi pemnstaka yang merasa sangat kesulitan sekali. Karena saya yakin pemmstaka yang datang ke perpustakaan ini ada yang mereka cari yaitu informasi. Karena saya sadar bahwa pustakanan itu tugasnya merupakan public service, seperti kata pepataly “di mana bumi di pijak, di situlab langit di junjung”. Dan seqptimal munkin membantun mereka serta emberikan pelayanan yang terbaik, karena itu juga merupakan ibadab, Bapak Bambang juga mengatakan bahwa selain memahami dan menerapkan komunikasi juga efektif di atas, beliau selaku pustakawan berusaha untuk membuat pemustaka mendengarkan apa yang Ia sampaikan. Adapun pernyataan beliau ketika diwawancarai oleh peneliti yaitu: “Saya selaku pustakawan berusaha menampilkan sikap yang sewajarnya, dan bersabda, walaspun ada pemustaka ketika berkonmmikasi dengan saya akhlaknya Jurang bagus atan tidak memperhatikan saya ketika saya menjawab pertanyaannya. Biasanya ada pemnstaka yang sibuk main hp nya sendiri, tidak memperhatikan apa yang saya sampaian, padahal permstaka itu butub dengan informasi tersebut, namun saya sebagai pustakawan mencoba untuk. memabaminya, serta menegurnya dengan halus, dengan wcapan “udal main hpnya mh?”, supaya pemustaka itu mendengarkan apa yang saya sampaikan kepadanya dan supaya pemmustaka itu mengerti dan pabam apayang saya sampaikan. kadang permsiaka itu malu sendii, kalan ditegur seperti itn, dan minta maaf kepada saya”. Berkaitan denganhaldiatas, pustakawan referensi dalam berkomunikasi dengan pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta agar efektif, juga memperhatikan sasaran pokok dalam proses komunikasi. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Fatmawati yaitu pustakawan harus bisa membuat pengguna mendengarkan apa yang dikatakan atau melihat apa yang telah ditunjukkan, memahami apa yang didengar atau dilihat, menyetujui, mengambil tindakan, berperilaku, dan bisa menerima sesuai dengan apa yang dimaksud pustakawan, menciptakan respon dan umpan balik dari pengguna, dan mampu menyesuaikan komunikasinya dengan image pengguna, misalnya kebutuhan, kecakapan, kesulitan dan lainnya* Apabila pustakawan referensi memperhatikan sasaran pokok dalam proses komunikasi tersebut, maka komunikasi pustakawan referensi dengan pemustaka akan efektif di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta . 3. Faktor-faktor yang menghambat keterampilan komunikasi efektif pustakawan referensi dalam melayani pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Berdasarkan hasil wawancara peneliti dengan Bapak Daldiri di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga, beliau mengatakan bahwa memang ada hambatan. Hambatan tersebut seperti halnya ketika ada hujan, demo, pemustaka ketika bertanya sambil marah-marah, cemas dan bingung serta pemustaka bertanya menggunakan bahsa asing, seperti bahasa inggris dan bahasa arab. Namun hal tersebut menurut beliau masih bisa di atasi, misalnya waktu hujan, beliau mengusahakan suaranya lebih dikeraskan lagi. Dan ketika menghadapi pemustaka yang sedang marah, cemas, dan bingung, beliau juga berusaha memberikan pengertian yang baik dan menghadapinya dengan sabar. Serta ketika ada pemustaka yang bertanya dan menggunakan bahasa asing seperti halnya bahasa arab dan bahasa inggris, beliau berusaha melayaninya dengan menggunakan bahasa asing juga beliau walaupun tidak sesuai dengan kaedah bahasa tersebut. Walaupun demikian, mencoba memberanikan diri untuk berkomunikasi dengan bahasa tersebut. Alhamdulillah, menurut beliau pemustaka pun paham apa yang dikatakan oleh beliau, begitu juga beliau juga paham apa yang disampaikan oleh pemustaka itu sendiri. Peneliti juga mewawancari ibu Etty Nurhayati di ruang skripsi Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menurut beliau selama ini tidak ada hambatan sama sekali, dan cukup berjalan dengan lancar. Hanya saja ketika pemustaka membaca skripsi bukan ditempatnya. Namun beliau juga bisa mengatasinya dengan cara menegurnya secara sopan, untuk tidak membaca di ruang skripsi tersebut. Alhamdulillah menurut beliau mereka paham atas apa yang disampaikan oleh beliau, dan pemustaka pun dengan cepat pindah keruang baca yang sudah disediakan. Selanjutnya, peneliti mewawancarai Bapak Bambang Heru Nurwoto yang merupakan seorang pustakawan yang bertugas di ruang layanan referensi, beliau mengatakan bahwa ketika berkomunikasi dengan pemustaka biasanya ada hambatan, seperti pemustaka yang mencari tentang rujukan bahasa asing (bahasa Inggris dan Arab), menggunakan bahasa asing, serta sikap pemustaka yang kurang menyenangkan. Untuk mengatasi hal tersebut menurut beliau: pertama, beliau masih terus berusaha belajar, dan sambil membaca buku-buku yang berbahasa asing ketika selfing. Kedua, apabila ada pemustaka asing atau pemustaka yang menggunakan bahasa asing, beliau konfirmasi kepada pustakawan yang sudah ahli berbahasa asing dan mengadakan kesepakatan dengan bagian layanan informasi agar ikut membantu untuk menemukan informasi yang dibutuhkan. Ketiga, untuk mengatasi pemustaka yang sikapnya kurang menyenangkan, seperti halnya marah atau cerewet dan lain-lain, beliau selalu berusaha untuk mencoba mengerti pemustaka dan bersikap sabar, karena dengan sabar bisa menyelesaikan semuanya. Seperti halnya dalam al-Quran itu dijelaskan; Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerim) dan bertakewalah kepada Allah supaya kamm bermntung. (Q.S. Ali-Imran, 3:200) Terakhir peneliti melakukan wawancara dengan Bapak Nashruddien yang juga merupakan seorang pustakawan bagian referensi, sama halnya seperti bapak Bambang, hambatan yang dihadapi ketika berkomunikasi dengan pemustaka menurut beliau yaitu ketika pemustaka menggunakan bahasa asing dalam mencari informasi, seperti halnya bahasa Arab dan Inggris. Untuk mengatasi hal tersebut, yaitu konfirmasi kepada pustakawan yang sudah ahli berbahasa asing dan menghubungi pustakawan bagian layanan informasi agar ikut membantu untuk menemukan informasi yang dibutuhkan. Selain itu, ada hambatan seperti adanya hujan deras dan demo serta perbedaan agama. Namun hal tersebut tidak mengganggu ketika pustakawan berkomunikasi dengan pemustaka. Jadi berdasarkan di atas, faktor-faktor yang menghambat keterampilan komunikasi efektif pustakawan referensi dalam melayani pemustaka di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yaitu ada tiga faktor yaitu; pertama faktor psikologis, ustakawan, yaitu ketika pemustaka berkomunikasi dengan pemustaka tersebut sedang kebingungan, marah, cemas, dan lain sebagainya. Kedua hambatan sistematis, yaitu hambatan yang disebabkan oleh latar belakang bahasa yang berbeda, seperti pemustaka yang menggunakan bahasa Inggris dan bahasa Arab. Ketiga, hambatan ekologis, seperti hujan deras, ada demo, menjadi penghambat kelancaran berkomunikasi dan menjadi tidak fokus. Namun hambatan yang dialami oleh pustakawan referensi tersebut masih bisa diatasi dengan baik.

Conclusion

Keterampilan komunikasi efektif pustakawan referensi dalam melayani pemustaka di Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sudah terampil dalam berkomunikasi, karena pustakawan referensi tersebut sudah memiliki kemampuan mendengar ketika pemustaka menyampaikan pesan, mampu memberikan feedback yang baik, mampu mengatasi konflik, mampu menjaga hubungan baik dengan sesama pemustaka, dan memiliki inisiatif untuk berkomunikasi dengan pemustaka tanpa harus disuruh. Komunikasi pustakawan dalam melayani pemustaka juga sudah efektif, sebab ketika pustakawan menyampaikan pesan kepada pemustaka sudah jelas, itu, tepat, dapat dimengerti serta diterima oleh pemustaka. Selain pesan yang disampaikan oleh pustakawan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh pemustaka. Adapun cara membangun komunikasi efektif yang dilakukan oleh pustakawan referensi dalam melayani pemustaka di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sudah memahami dan memenuhi aspekaspek komunikasi yang efektif seperti penuh pertolongan, tenggang rasa, menghargai/ respect, empati, penuh perhatian, sopan, peduli, dapat didengarkan, jelas, rasa percaya, peduli dan sikap rendah hati. Sedangkan faktor-faktor yang menghambat keterampilan komunikasi efektif pustakawan referensi dalam melayani pemustaka di perpustakaan UIN Sunan Kalijaga yaitu ada tiga faktor, yaitu faktor psikologis, sistematis, dan ekologis. Namun ketiga hambatan yang dialami oleh pustakawan referensi tersebut masih bisa diatasi dengan sebaik mungkin.