Kembali
16
1
2022 IKOMIK: Jurnal Ilmu Komunikasi dan Informasi Vol 2 · 2 ISSN 2798-9607

Analisis Framing Pemberitaan Vaksin Covid-19 Oxford-Astrazeneca di Indonesia

Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta; Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Abstrak

Terdapat beberapa situs laman berita daring di Indonesia, sebut saja Kompas.com dan Tempo.co. Pada pemberitaan tentang Covid-19, terutama informasi perkembangan vaksin, kedua media, seperti Kompas.com dan Tempo.co, masing-masing membingkai informasi yang didapat untuk kemudian dipublikasikan agar dapat membentuk persepsi publik yang diharapkan dari media-media tersebut, terutama dalam membentuk persepsi pembaca terhadap vaksin Covid-19. Metode penelitian ini menggunakam pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data secara dokumentasi dan dianalisis menggunkan model framing yang dikembangkan oleh Pan & Kosicki. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara sintaksis framing pemberitaan Kompas.co dari headline, lead, kutipan, serta penutup, banyak memuat tentang rencana vaksin AstraZeneca berikut pembaruan penelitiannya yang memuat pro dan kontra untuk di konsumsi, sedangkan pemberitaan Tempo.co dari headline, lead, kutipan, serta penutup, banyak memuat tentang penelitian vaksin AstraZeneca yang sebenarnya layak untuk dikonsumsi dan sebaiknya dilaksanakan oleh masyarakat.

Abstract

There are several online news sites in Indonesia, such as Kompas.com and Tempo.com. In reporting on Covid-19, especially information on vaccine developments, both media such as Kompas.com and Tempo.com each frame the information obtained and then publish it to shape the public perception expected from these media, especially in shaping the perception of readers. Against the Covid-19 vaccine. This research method uses a qualitative approach with data collection techniques documented and analyzed using the framing model developed by Pan & Kosicki. The results showed that syntactically the framing of Kompas.com news from headlines, leads, quotes, and closings contained many AstraZeneca vaccine plans and its research updates that contained pros and cons for consumption. Moreover, closing contains much research on the AstraZeneca vaccine, which is suitable for consumption and should be carried out by the community.
Keywords: analisis framing · vaksin covid-19 · persepsi publik

Introduction

Di kawasan Jabodetabek dari tanggal 14—30Juni 2021 merupakan rentang waktu meningkatnya jumlah peserta vaksinasi karena vaksinasi golongan masyarakat umum sudah dapat dilakukan. Terdapat dua jenis vaksin yang digunakan dalam program ini, salah satunya adalah vaksin Oxford-AstraZeneca.Dilansir dari lama berita daring Katadata.co.id tanggal 15 Juni 2021 Pukul 11.27 WIB yang mengatakan bahwa vaksin ini di klaim memiliki tingkat efikasi sebesar 76% dalam sekali suntikan. Efikasi vaksin tersebut dapat bertahan melawan virus Covid-19 selama tiga bulan. Oxford-AstraZeneca menyatakan bahwa pemberian suntikan pertama dan keduadengan jarak 8—12 minggu merupakan yang terbaik untuk mencapai kemanjuran. Hal ini berdasarkan uji coba pada peserta berusia 18-55 tahun di Inggris, Brasil, dan Afrika Selatan. Setelah melalui uji klinis fase ketiga, vaksin Oxford-AstraZeneca sudah resmi digunakan untuk umum.Gambar 1. Berita Kompas.ComSumber: Kompas.comSeiring berjalannya waktu vaksinasi, ditemukan beberapa kasus serius pascavaksinasi OxfordAstraZeneca ini. Dilansir dari laman berita daring Tempo.co pada artikel tanggal 17 Juni 2021 Pukul 20.48 WIB, studi terbaru di Inggris Raya mengungkap kemungkinan vaksin Covid-19 AstraZeneca/Oxford yang sedikit meningkat sama halnya dengan kasus pembekuan dan penggumpalan darah pada penerima vaksin tersebut. Akibat kejadian ini beberapa negara melarang penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca, di antaranya, Irlandia, Norwegia, Denmark, Islandia, Italia, Latvia, Lituania, Luksemburg, Bulgaria, Siprus, Prancis, Belanda, Spanyol, Swedia, Jerman, Portugal, dan Slovenia, seiring dengan munculnya kasus penyerta yang serupa di berbagai negara yang menggunakan vaksin tersebut (Alamsyah, 2021).Di Indonesia vaksin Oxford-AstraZenecapenggunaanya sementara diberhentikan untukpengujian toksisitas dan sterilitas oleh BPOM. Hal ini merupakan upaya tindak lanjut dari pemerintah karena adanya kasus paska vaksinasi yang memakan korban jiwa dengan diagnosis awal karena pembekuan darah. Sebagian besar dosis vaksin ini sudah didistribusikan ke berbagai daerah, salah satunya di DKI Jakarta. Dilihat dari banyaknya kasus yang terjadi diberbagai negara setelah vaksinasi OxfordAstraZeneca dan beberapa negara menghentikan penggunaan vaksin tersebut untuk vaksinasi sehingga terciptanya faktor keraguan masyarakat Indonesia atas penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca (Nani & Sensusiyati, 2021).Jika hal ini masih terus berlangsung, akanmenyebabkan sulitnya dan semakin lama untukmencapai target vaksinasi nasional. Dilansir dari laman berita daring resmi kepresidenan Republik Indonesia pada tanggal 30 Juni 2021, Presiden Republik Indonesia Ir. Joko Widodo menyatakan bahwa target vaksinasi nasional pada bulan Juli harus mencapai satu juta dosis perhari, dan untuk bulan Agustus sebesar dua juta dosis per hari. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya media-media penyalur informasi yang dapat dipercaya masyarakat kebenarannya, informasi yang aktual dan faktual, serta tanpa adanya pemelintaran informasi khalayak mengenai vaksin ini, salah satunya melalui media berita online (Tosepu et al., 2020).Media online menjadi objek kajian teori media baru (new media), yaitu istilah yang mengacu pada permintaan akses ke konten (isi/informasi) kapan saja, di mana saja, pada setiap perangkat digital serta umpan balik pengguna interaktif, partisipasi kreatif, dan pembentukan komunitas sekitar konten media, juga aspek generasi real-time (Salsabila & Kusumastuti, 2021). Media berita daring (online) menjadi salah satu opsi sumber informasi terbaharukan yang aktual dan faktual meskipun tidak semua situs laman berita daring merupakan situs berita resmi dan terpercaya.Terdapat beberapa situs laman berita daring di Indonesia, sebut saja Kompas.com dan Tempo.co (Romli, 2012).Saat situasi pandemi seperti sekarang, Kompas.com dan Tempo.co menjadi opsi laman beritadaring aktual dan terpercaya di Indonesia yang menyebarluaskan informasi-informasi berkaitan dengan Covid-19 (Pujarama, 2021). Akan tetapi, fokus kedua media tersebut dalam proses pemberitaan dapat berbeda. Hal ini didasari pada cara kedua media tersebut melakukan framing kepada topik utama yang akan diberitakan. Framing adalah sebuah bingkai atau potret yang menjadi pembatas informasi yang nantinya akan dipilih dan difokuskan kepada kunci elemen informasi yang terkandung didalamnya dan dapat menarik perhatian massa (Pinontoan & Wahid, 2020).Menurut Karman (2018), framing akanmempengaruhi cara sebuah informasi atau kisah diberitahukan dan hal tersebut akan mempengaruhi cara publik mempersepsikan informasi tersebut berdasarkan pemahaman mereka. Menurut Sendjaja (2017), teori agenda setting menekankan pada media massa akan mengangkat sebuah isu, peristiwa, atau fenomena sebagai wacana publik. Publik cenderung lebih mengetahui isu yang diangkat oleh media massa dan lebih memerhatikan apa yang disampaikan oleh media massa, berdasarkan arah yang telah dimaksud atau dikonstruksikan oleh media massa (Riady, 2021).Penggunaan media online sebagai media yang dapat memberikan informasi kepada masyarakat luasmemang sangat penting di era sekarang (Fong & Ishak, 2014). Hal ini memudahkan pembaca untuk mengetahui perkembangan yang ada, seperti sejak pandemi Covid-19 yang menjadikan semua orang bekerja dari rumah, hanya bisa melihat sekitar atau informasi melalui media online.Media online berpengaruh penting sepertipenelitian yang relevan, yaitu berjudul Dekonstruksi Citra Politik Jokowi dalam Media Sosial diteliti oleh Rusmulyadi & Hanny (2018). Penelitian tersebut menggambarkan ruang media sosial citra politik Jokowi berupaya didekonstruksi dan dicitrakan sebagai sosok yang tidak kompeten sehinggapenggunaan media sosial menjadi saluran bagi kontestasi dan perebutan citra politik (Indrananto, 2017). Penelitian sebelumnya yang relevan terkait analisis framing model Robert N. Entman untuk mengetahui pembingkaian berita pada penelitian yang berjudul Analisis Framing Pemberitaan Portal Berita Media Online Mediaindonesia.com dan Beritasatu.com dalam Debat Pilpres Putaran Pertama diteliti oleh (Sapulette et al., 2019) menjelaskan tentang pemberitaan Mediaindonesia.com dan Beritasatu.com. Mediaindonesia.com memberikan kesan positif pada pasangan Jokowi-Amin dan kesan negatifbagi pasangan Prabowo-Sandi, serta Beritasatu.com terlihat lebih netral dibandingkan dengan Mediaindonesia.com.Media lainnya yang dilakukan oleh penelitisebelumnya, yakni Analisis Framing Pemberitaan Media Online CNN Indonesia.Com Dan Tirto.Id Mengenai Kasus Pandemi Covid-19 diteliti oleh Naqqiyah (2020) yang membahas mengenai kasus pandemi covid-19 di media online. Hasilnya media online CNN Indonesia.com pada struktur sintaksisnya lebih menekankan opini positif di muka public, sedangkan di tirto.id di dalam keseluruhan strukturnya lebih menekan pada peran tenaga medis sehingga membuka pikiran khalayak untuk tetap tenang dan waspada. Penelitian sebelumnya yang relevan berjudul Analisis Framing Media Online Tentang Pandemi Covid-19 (Studi Kasus Covid-19 Pada Media Online Tribun News.com dan Kepri.co.id Edisi Bulan Maret s/d Juni 2020) oleh Fadli et al., (2021) dengan analisis framing dengan metode Zhondang Pan dan Gerald M.Kosicki. Penelitian ini berfokus pada media tribunnews.com dan wartakepri.co.id dalam pembingkaian berita covid 19 yang terjadi di bulan maret-juni 2020, akan tetapi setelah diteliti melalui sintaksis, skrip, tematik dan retoris terlihat jika tribunews.com dan wartakepri.co.id saling memberikan perbedaan mengenai bagai cara mengontruksi atau frame berita mengenai Pandemi covid-19. Selain itu, sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan yaitu untuk melakukan analisis pembikaian berita online terkait covid-19. Hal ini relevan dengan Penelitian yang berjudul Objektivitas Berita Pada Media Dalam Jaringan (Analisis Isi Berita Pemilihan Gubernur DKI Jakarta pada Detiknews selama Masa Kampanye Periode I) diteliti oleh Vience Mutiara Rumata, (2017) karena penelitian ini menggunakan penyakjian fakta yang lengkap unsur 5W+1H yang tinggi dalam pemberitaannya.Berdasarkan referensi-referensi penelitiandi atas, peneliti mendapatkan gambaran mengenai berbagai analisis framing dari media online yang dilakukan pembingkaian dengan membandingkandua media. Berdasarkan penelitian terdahulu, ditemukan adanya persamaan dengan penelitian terdahulu. Persamaan yang ditemukan oleh peneliti adalah topik analisis isi dibahas dan diulas dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan asumsi hasil yang diharapkan bahwa:1. Analisis isi dilakukan untuk menginterpretasikan isi pesan atau konten pesan2. Analisis isi menjadi pisau bedah dalam menjawab kecenderungan arah isi pesan yang disampaikan 3. Proses komunikasi yang dilakukan harusdengan mempertimbangkan konten pesan yangdisampaikan dan situasi yang memungkinkan untuk menyampaikan pesan terkait.Setelah memahami lebih lanjut penelitianterdahulu, analisis framing dengan berbagai teori dan model digunakan dalam membingkai pemberitaan dari media online. Penelitian yang dilakukan terdapat perbedaan dengan penelitian sebelumnya karena peneliti menggunakan dua media yang berbeda, yaitu media Kompas.com dan Tempo.co mengenai pemberitaan vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca.Dalam hal ini terdapat tantangan dalam pemberitan media online karena masyarakat dapat dengan mudah mendapat informasi secara cepat sehingga dampaknya masyarakat menjadi khawatir dengan pemberitaan yang ada. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengkaji penelitian yang berjudul “Analisis Framing Pemberitaan Vaksin Covid-19 Ofxord-Astrazaneca Di Indonesia (Studi Pada Pemberitaan MediaKompas.Com & Tempo.Co Tanggal 14-30 Juni 2021)”.Dengan dilakukannya analisis farming tersebut, dapat membingkai informasi terkait suatu fenomena dan pembingkaian yang disoroti serta dipublikasikan secara intens agar membentuk persepsi pada para penerima informasi.

Method

Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif agar peneliti memperoleh gambaran terhadap suatu fenomena berdasarkan kaidah keilmuan yang mendukung topik penelitan.Kemudian, jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis isi (content analysis) (Sugiyono, 2019). Penelitian menemukan objek penelitian yaitu saluran media baru resmi dari media online Kompas.com dan Tempo.co. Media baru resmi tersebut ditentukan dari platform portal berita Kompas.com dan Tempo.co yang melakukan unggahan-unggahan yang berkaitan dengan pemberitaan vaksin Covid-19 OxfordAstraZeneca. Untuk memudahkan proses pengutipan objek penelitian, peneliti membatasi ungguhan berita yang hanya di publish pada tanggal 14—30 Juni 2021.Adapun klasifikasi dari media online portal berita Kompas.com dan Tempo.co dapat dilihat pada Tabel 1.Tabel 1. Klasifikasi media online portal berita Nama Media ObjekPenelitianPeriodeWaktu ObjekPenelitianJumlahObjekPenelitianKompas.com PublikasiBerita besertaIsinya14-30 Juni202110 ArtikelberitaTempo.co 7 ArtikelberitaPada objek penelitian ini, sampel penelitian yang akan diteliti oleh peneliti adalah Headline (judul artikel berita) & Content (isi artikel berita). Keduanya kemudian akan dibuatkan sebuah Summary (ringkasan dari keseluruhan berita) untuk mengetahui kemana arah pembingkain berita tersebut terhadap fenomena yang diangkat.

Result & Discussion

Dalam menganalisis hasil penelitian yangdilakukan pada penelitian ini adalah dengan cara mencari, mengetahui, dan memahami bagaimana maksud serta arah pesan yang disampaikan kepada publik berdasarkan bingkaian informasi yang dimuat oleh media massa pemberitaan vaksin Covid-19 Ofxord-AstraZaneca di Indonesia (Studi Pada Pemberitaan Media Kompas.com & Tempo.co) yang dilakukan dari tanggal 14—30 Juni 2021. Bentuk kerapihan kedua media online tersebut di kemas dalam sebuah kontruksi sosial yang mengharuskan wartawan mengolah fakta dan informasi agar tetap sejalan dengan ideologi yang di pegang oleh masingmasing media mereka.Media sebagai tempat yang memberikaninformasi yang dapat mempengaruhi khalayakberdasarkan isu-isu tertentu. Berita-berita yang dimuat oleh media online Kompas.com dan Tempo.co mengenai pemberitaan sekitar vaksinasi Covid-19 yang bertebaran di masyarakat Indonesia, bahkan seluruh dunia. Adapun penyajiannya sesuai dengan berita yang terkait sehingga peneliti berusahaa menelaah bagaiamana pembingkaian berita tersebut, seperti yang akan dibahas mengenai pemberitaan vaksin Covid-19 Oxford-AstraZaneca di Indonesia pada portal berita Kompas.com dan Tempo.co. Hal yang kita ketahui infeksi virus menyebar hampir seluruh dunia dengan cepat termasuk wilayah Indonesia sehingga berkembang vaksin sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut. Kritik media dan publik berfokus pada satu hal, yaitu transaksi informasi menjadi salah satu kunci penting dalam penanganan pandemi yang menyebar cepat, informasi juga dapat menyebar dengan cepat, dan terkadang menyebabkan disinformasi.Dari sejumlah data yang dianalisis, dapatdijelaskan bahwa sepanjang bulan Juni, media massa mempublikasikan berita tentang vaksinasi masyarakat yang dimulai sejak awal Juni 2021. Munculnya sejumlah fenomena KIPI terhadap vaksinasi Covid-19 membuat media menyoroti jenis-jenis vaksinyang berlaku di masyarakat, salah satunya adalah vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca asal Inggris. Penyorotan KIPI vaksin Oxford-AstraZeneca yang dinilai cukup berat dan muncul anggapan di tengah publik bahwa vaksin Oxford-AstraZeneca menjadi salah satu vaksin yang dihindari dan ditakuti oleh masyarakat karena beratnya KIPI yang dapat terjadi.Fenomena ini menjadi bahan peliputantersendiri untuk media-media massa di Indonesia, tidak terkecuali dua media massa online besar, yaitu Tempo.co dan Kompas.com. Peliputan terkait Tempo.co menggugah tujuh berita yang membahas mengenai vaksin selama Juni 2021, sedangkan Kompas.com menggugah sepuluh berita.Kedua media menggambarkan secarapengamatan dari keseluruhan permedia didapatkan adanya frame yang berbeda dari Kompas.com dan Tempo.co. Kompas cenderung menggambarkan berita terkait efektifnya vaksin Oxfod-AstraZeneca, salah satunya mengenai efektivitas vaksin tersebut dalam melawan varian virus Covid-19 yang dibesarkan oleh media dapat menjadi kekuatan media kompas ini.Untuk melihat bagaimana media kompas menyoroti fenomena efektivitas vaksin Oxford-AstraZeneca yang terjadi berdasarkan pemilihan katanya, dapat kita lihat pada penggalan kalimat dalam salah satu artikel kompas dibawah ini yang masih berkaitan sebagai berikut: “Dalam laporan tersebut dikatakan bahwa dua dosis vaksin AstraZeneca dapat mencegah risiko rawat inap karena varian Delta sampai 92 persen. Selain itu, tidak ada kematian di antara mereka yang divaksinasi” (Berita Kompas 16 Juni 2021, 12:30 WIB). Berita kompas (19 Juni 2021, 09:31 WIB) yang menyebutkan bahwa “Data terbaru dari Kesehatan Masyarakat England (PHE) menunjukkan vaksin Covid-19 AstraZeneca efektif terhadap varian yang jadi perhatian WHO”.Sama dengan media Kompas, Tempo dalampenulisannya dalam memberitakan berita terkait vaksin Oxford-AstraZeneca yang efektif terhadap virus Covid-19. Berikut pembingkaian informasi dari media Tempo yang dapat dilihat dalam teks beritanya pada tanggal 23 Juni 2021 Pukul 14:00 WIB seperti dibawah ini: “Vaksin AstraZeneca efektif terhadap varian Covid-19 Delta dan Kappa, yang pertama kali diidentifikasi di India. Pekan lalu, analisis oleh Public Health England (PHE) menunjukkan bahwa vaksin yang dibuat oleh AstraZeneca menawarkan perlindungan tinggi lebih dari 90% terhadap rawat inap dari varian Covid-19 Delta”.Dari kedua media melakukan pembingkaianyang sama yaitu mengenai efektivitas vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca. Peneliti menemukan secara keseluruhan bahwa setelah dibandingkan terhadap kedua media online tersebut, dalam berita yang disajikan oleh kompas.com memiliki karakter dengan selalu menyajikan kutipan hasil wawancara dengan narasumber serta membingkai berita atau artikel yang ada mengenai beberapa hal yang positif, fun, dan membangun persepsi yang baik dari masyarakat.Selain itu, media kompas.com memiliki sifat kebahasaan yang cenderung persuasive, dan mengajak pembacanya, tersaji dalam headline berita tentang Gejala pembekuan darah yang jarang terjadi akibat vaksin AstraZeneca. Dapat dilihat pada kalimat yang disajikan dalam berita tersebut yang menyebutkan mengenai “Berikut adalah beberapa gejala dari adanya pembekuan darah yang patut diwaspadai meliputi sakit kepala yang hebat kadang disertai dengan gangguan penglihatan, mual muntah, gangguan berbicara bisa juga dijumpai nyeri dada, sesak napas, pembengkakan pada kaki, kadang juga nyeri perut. Selain itu, Prof Zullies menghimbau jika terdapat gejala-gejala demikian, segera saja mencari bantuan medis” (Berita Kompas tanggal 23 Juni 2021 Pukul 08:05 WIB).Dalam menyajikan fakta berita kompas.comlebih memilih tidak menggunakan foto kronologi kejadian dan menggunakan ilustrasi gambar. Selain itu, berita dari Tempo.co berita yang diinformasikan sangat singkat, tidak menampilkan gambar atau ajakan kepada pembaca dan sukar untuk pembaca memahami inti dari pemberitaan tersebut. Dari kedua media tersebut dapat membentuk persepsi publik dari berita atau informasi yang mereka terima karena informasi tersebar secara tidak terkontrol baik di media online. Pemberitaan media menjadi sangat penting dalam menentukan langkah penanganan selanjutnya.Berita Kompas.com dan Tempo.co mempunyaitujuan untuk memiliki pengaruh terhadap bagaimana isu dalam berita dikemas untuk mudah dipahami oleh khalayak. Secara sintaksis framing pemberitaan kompas.com dilihat dari headline, lead, kutipan, serta penutup, pembedahan sintaksis dari media kompas.com memuat tentang efektivitas vaksin OxfordAstraZeneca, pembaruan penelitiannya yang memuat pro dan kontra untuk dikonsumsi, serta mengenai informasi yang membangun terkait kewaspadaan yang harus dilakukan masyarakat.Selain itu, pemberitaan tempo.co pembedahan sintakisnya yaitu gejala yang timbul dari pemberian vaksin tersebut sampai dengan memuat tentang penelitian vaksin Oxford-AstraZeneca yangsebenarnya layak untuk di konsumsi dan sebaiknya di laksanakan oleh masyarakat. Framing pemberitaan kompas.com terlihat lebih menyarankan agar hati hati dalam konsumsi vaksin tersebut.Secara keseluruhan hasil analisis framing dapat dikatakan bahwa media mengarahkan perhatian publik kepada tema tertentu pilihan jurnalis yang mengakibatkan khalayak membuat keputusan apa yang dipikirkan. Adanya proses framing tersebut yang pada akhirnya akan membuat bagian informasi tersebut akan lebih mudah dikenal atau melekat pada masyarakat. Aspek-aspek tersebut yang nantinya juga menentukan berhasil atau tidaknya penanaman informasi melalui kontruksi sosial dan terjadilah efek framing di masyarakat.Jika diamati kembali, media berupayamemberikan pemberitaan yang objektif, sehingga kecepatan situs berita online dalam memberikan informasi atau persepsi yang cepat kepada masyarakat.Media Kompas.com cenderung memberikaninformasi sesuai dengan realitas sebenarnya yang terjadi dibuktikan dengan hasil wawancara dan pernyataan dari berbagai pihak. Upaya ini dapat mengajak pembaca agar bisa melihat realitas sosisal dengan realitas media sebagai medium pemberitaan.Media Tempo.co memberikan informasi yangtidak dibuktikan dengan hasil wawancara, namun menginformasikan terkait gejala vaksin OxfordAstraZeneca yang sama dengan berita Kompas diatas.Seperti dalam berita mengenai efek samping vaksin AstraZeneca yang perlu diketahui oleh pembaca seperti pada berita tanggal 21 Juni 2021 Pukul 14.06 WIB mengatakan bahwa gejala yang identik dengan pengaruh vaksin AstraZeneca di antaranya sakit kepala yang hebat, kadang disertai dengan gangguan penglihatan, mual, muntah, dan gangguan berbicara.Selain itu, gejala lain yang bisa dijumpai adalah nyeri dada, sesak napas, pembengkakan pada kaki atau nyeri perut. Kadang dijumpai lebam di bawah kulit.Hal ini memberikan kesan atau temuan framing karena memberikan informasi yang saling melengkapi sebagai kekuatan dari kedua media tersebut. Hal itu dimaksudkan mengetahui bagaimana peran media massa online yang berdampak terhadap pemahaman khalayak terkait vaksin Oxford-AstraZeneca di Indonesia. Seperti dalam berita mengenai efek samping vaksin AstraZeneca yang perlu diketahui oleh pembaca seperti pada berita tanggal 21 Juni 2021 Pukul 14.06 WIB mengatakan bahwa “Gejala yang identik dengan pengaruh vaksin AstraZeneca di antaranya sakit kepala yang hebat, kadang disertai dengan gangguan penglihatan, mual, muntah, dan gangguan berbicara. Selain itu, gejala lain yang bisa dijumpai adalah nyeri dada, sesak napas, pembengkakan pada kaki atau nyeri perut. Kadang dijumpai lebam di bawah kulit. Hal ini memberikan kesan atau temuan framing karena memberikan informasi yang saling melengkapi sebagai kekuatan dari kedua media tersebut untuk mengetahui bagaimana peran media massa online yang berdampak terhadap pemahaman khalayak terkait vaksin Oxford-AstraZeneca di Indonesia.Dari kedua media berita online tersebutmembingkai berita yang terus-menerus menjadi sorotan karena media massa memberikan perhatian pada berita tertentu dan mengabaikan berita yang lainnya untuk memengaruhi pendapat publik. Hal ini sesuai dengan teori yang digunakan yaitu teori agenda setting bahwa teori ini menghubungkan kemungkinan terjadinya efek yang dapat mempengaruhi pendapat atau opini publik sehingga tidak hanya memperhatikan terhadap berita yang menjadi prioritas, tetapi juga mempelajari seberapa penting media masssa memprioritaskan topik tersebut (Agustina, 2017:227).Hal itu membuat masyarakat belajar mengenai isu apa yang terjadi dan seberapa penting informasi tersebut.Pada hasil wawancara diatas adanya keraguan dalam penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca terkait berita pasien meninggal setelah divaksin yang mengalami pembekuan darah. Adanya pemberitaan yang ada membuat masyarakat untuk menemukan sebuah informasi yang penting untuk dipahami. Oleh karena itu, sesuai dengan hasil wawancara diatas bahwa masyarakat menemukan informasi mengenai efektifitas vaksin Oxford-AstraZeneca, gejala yang terjadi, dan berbagai dampak yang dapat ditimbulkan didapat dengan mudah melaui internet, media massa online dan TV.Pemberitan melalui media massa onlineini sangat berpengaruh besar terhadap persepsi masyarakat. Perubahan teknologi, kemajuan ilmu pengetahuan dan informasi, telah menciptakan saling ketergantungan yang luar biasa antara publik dan media. Hal ini berhubungan dengan peran Public Relations, menurut Jefkins Frank, (2015), seorang PR berperan untuk mengantisipasi setiap perubahan yang mungkin saja berdampak negatif terhadap lembaga/ perusahaan. Dalam hal ini, PR haruslah pandai dalam mengawasi setiap tindakan publik (pemonitoring) dan mengevaluasi (pengevaluasi) semua kegiatan yang berhubungan dengan publik. Pada tahapan evaluasi ini dilakukan perbaikan-perbaikan untuk menciptakan citra yang baik antara publik terhadap lembaga/perusahaan dan dapat memengaruhiperspektif publik serta membentuk opini publik sesuai dengan keinginan lembaga/perusahaan tersebut.Sehingga perlu diketahui pesan dari informasi tersebut sesuai dengan tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui dan memahami bagaimana maksuddan arah pesan yang disampaikan kepada publik, berdasarkan pembingkaian informasi yang dilakukan oleh media massa terkait dalam suatu hal, dalam hal ini adalah vaksin Covid-19 Oxford-AstraZeneca di Indonesia melalui dua media massa. Kompas.com dan Tempo.co bahwa media sudah menjadikewajiban bentuk informasi dalam masyarakat untuk menyebarkan sebuah berita dengan sebenarbenarnya tanpa ada tendesi apapun. Hal tersebutguna berjalannya masyarakat yang sehat dan sebagai bentuk partisipasi media demi kemajuan bangsa.Media massa tersebut melakukan korelasi yang signifikan antara isu yang diangkat oleh media baik media sosial maupun media massa dengan isu yang dianggap penting oleh publik.Dengan kelebihan media online yang sangatefisien dalam segi kecepatan dan kemudahanmengakses sebuah informasi, seperti beritaberita dari Kompas.com dan Tempo.co. Bentukefisiensi ini dimanfaatkan oleh kedua media massa online yang peneliti ambil, sebagai medium untuk menyebarluaskan ideologi media massa dankepentingan yang lebih spesifik dari mereka, yaitu membangun persepsi tertentu terhadap suatu realitas atau fenomena yang terjadi, dilihat dari bagaimana media terkait membangun struktur informasi tertentu agar dapat membentuk persepsi dan keputusan pembaca ke arah yang diinginkan. Berdasarkan dari latar struktur informasi berita yang ditampilkan oleh berita-berita tentang vaksin Covid-19 OxfordAstraZeneca di kedua media, berita-berita Kompas.com menunjukkan informasi yang lebih detail dan mengajak pembaca untuk menekankan nilai-nilai kewaspadaan terhadap objek yang dipublikasikan dari laman berita ini. Berbeda dengan Kompas.com, berita-berita Tempo.co menyajikan sedikit informasi yang disampaikan sehingga pembaca kurang dapat memahami informasi yang disampaikan secarakeseluruhan.Seperti yang telah dibahas sebelumnyamengenai pembingkaian media Kompas.com danTempo.co yang memberikan informasi bahwa kedua media tersebut, terkesan memberikan informasi yang saling melengkapi. Media kompas.com memberikan kekuatan terhadap berita efektivitas vaksin Oxford-AstraZeneca, sedangkan berita tempo.co memberikan informasi mengenai gejala atau dampak dari penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca.Dengan adanya efek pada media ini, memperlihatkan hubungan kedua media yang saling berkaitan.Adanya perkembangan informasi yang secara cepat maka untuk menumbuhkan dan mengembangkanhubungan baik antara media dengan publiknya sesuai dengan fungsi Public relation (PR). Menurut Kriyantono dalam Prastya (2016), fungsi utama PR sebagai upaya untuk menanamkan pengertian, menumbuhkan motivasi dan partisipasi publik dalam upaya menciptakan iklim pendapat (opini publik) yang menguntungkan lembaga organisasi atau media tersebut. Persepsi dari kedua media yang muncul yaitu terkait komunikasi timbal balik (two ways traffic communications) antara media dengan publik yang menciptakan saling pengertian dan dukungan bagi tercapainya citra positif. Hal ini sangat erat kaitannya dengan pembentukan opini publik dan perubahan sikap dari masyarakat (Prastya, 2016).

Conclusion

Dari perbandingan kedua media setelahmelalui analisis framing jelas ditemukan adanya perbedaan dalam penyajian pemberitaanya. Kompas.com membingkai Vaksin Oxford-AstraZeneca dengan menyebutkan mengenai efektivitasnya yang mencapai 92% dalam melawan varian virus delta. Selain itu, Tempo.co menyebutkan mengenai gejala dan bahaya dari penggunaan vaksin Oxford-AstraZeneca serta mengenai bahayanya virus Covid-19 varian delta.Pengemasan berita ini dalam berita yang disajikan oleh kompas.com memiliki karakter dengan selalu menyajikan kutipan hasil wawancara dengannarasumber serta membingkai berita atau artikel yang ada mengenai beberapa hal yang positif dan membangun persepsi yang baik dari masyarakat.Pembedahan berita yang dilakukan olehkompas.com secara sintaksis framing memuat tentang rencana vaksin Oxford-AstraZeneca, pembaruan penelitiannya yang memuat pro dan kontra untuk di konsumsi. Selain itu, pemberitaan tempo.co vaksin Oxford-AstraZeneca yang sebenarnya layak untuk dikonsumsi dan sebaiknya dilaksanakan oleh masyarakat. Adanya pembingkaian dari kedua media tersebut dapat membentuk persepsi pembaca mengenai vaksin Oxford-AstraZeneca karena terdapat korelasi yang signifikan antara isu yang diangkat oleh media baik media sosial maupun media massa dengan isu yang dianggap penting oleh publik.Media Kompas.com dan Tempo.co konsistenmendukung masyarakat untuk melakukan vaksinasi vaksin Covid-19, terutama vaksin yang saat itu dikhawatirkan adalah vaksin Oxford-AstraZeneca.Kedua media memberitakan bahwa vaksin OxfordAstrazaneca aman untuk digunakan yang dapat dilihat dari bagaimana kedua media membingkai informasi yang lebih spesifik terkait keunggulan vaksin OxfordAstrazaneca, yaitu tingkat efikasi di atas 90 persen. Hal ini yang kemudian menjadi sorotan agar masyarakat percaya bahwa vaksin Oxford-Astrazaneca benarbenar aman untuk digunakan dan unggul dari segitingkat efikasinya.