Transfiguration of Visual Communication in Pamekasan Madura Batik Patterns
Universitas Terbuka; Universitas Terbuka; Universitas Terbuka
Abstrak
Meskipun telah banyak kajian tentang batik, namun masih sedikit tentang corak motif dalam batik. Terlebih kajian tentang corak motif batik Pamekasan Madura dari perspektifkomunikasi visual. Sehingga menarik untuk dikaji lebih dalam guna mengetahui perkembangan dalam corak motif batik Pamekasan. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi, studi literatur, dan hasil wawancara dengan narasumber. Analisis Semiotika visual Charles Sanders Peirce dipakai guna mengkaji objek penelitian yakni corak motif batik. Kemudian diambil kesimpulan berdasar analisis data.
Abstract
Although there have been many studies on batik, there is still little about the pattern of motifs in batik. Moreover, the study of the pattern of Pamekasan Madura batik motifs from the perspective of visual communication. So, it is interesting to study more deeply to know the developments in the pattern of Pamekasan batik motifs. This study uses a qualitative descriptive method, with data collection techniques through observation, literature study, and the results of interviews with sources. Charles Sanders Peirce's visual semiotic analysis is used to examine the object of research, namely the pattern of batik motifs. Then conclusions are drawn based on data analysis.
Keywords:
Motif Batik
· Batik Pamekasan
· Simbolisasi
· Pemaknaan dan Semiotika Visual
Introduction
Ragam corak motif batik merupakan warisan budaya bangsa yang memiliki beragam interpretasi makna. Batik selalu lekat dengan makna filosofi pada setiap corak motifnya. Proses pembuatannya yang rumit turut menjadikan kain batik ibarat sebuah karya seni yang sempurna. Secara historis, kain batik telah ada sejak lama dimana tata cara pembuatannya telah diturunkan antar generasi.Dalam perspektif istilah bahasa, batik berasal dari kata dalam bahasa jawa kromo atau halus. “batik” artinya “serat” (berupa kata benda) yang berarti tulisan, dan “ambatik” artinya “nyerat” (kata kerja) yang berarti menulis, adapun menurut Nurhaida (2015) The word Batik comes from the Javanese language and consists of two partsnamely “Mbat” and “Titik”, and means to make a “titik”(dot). Meskipun teknik membatik telah ada jauh sebelum era kerajaan mataram Islam. Namun istilah “batik” baru dikenal sejak abad ke-18 melalui tulisan-tulisan yang dibuat oleh orang-orang VOC (Kusrianto, 2021)dan juga UNESCO telah menetapkan Batik Indonesia sebagai warisan budaya Indonesia (Shabrina, 2018).Keberagaman corak motif batik ditentukan dari letak daerah pembuatannya, sehingga setiap daerah memiliki ciri corak motif masing-masing. Macam jenis batik dibedakan berdasar daerah pembuatan batik berasal. Seperti adanya Batik Pekalongan, Batik Mataraman, Batik Pesisiran dan Batik Pedalaman. Pengistilahan atau penamaan tersebut biasanya diberikan sesuai tempat batik tersebut diproduksi. Akhirnya penamaan tersebut menjadi identitas sebuah batik yang sudah terekam dalam asumsi masyarakat (Hasan, 2013).Sama halnya seperti Madurayang terkenal dengan Batik Maduranyakarena memiliki beberapa sentra pembuatan batik tradisional.Batik Madura memiliki corak motif yang unik dengan pemakaian warna-warna yang cerah. Batik Madura bisa dikategorikan sebagai salah satu keberagaman batik pesisir karena memiliki ciri pemakaian warna dominan cerah dan corak motif cenderung asimetris.Jika dilihat dalam persepektif sejarahnya, Batik pesisir asal mulanya adalah batik tulis yang diproduksi di luar batik keraton di Jawa Tengah, karakteristik batik tulis pesisir lebih kaya corak, simbol, dan warna serta moderat karena terpengaruh corak-corak asing seperti Tiongko, Timur Tengah dan Eropa. Motif batik tulis pesisir banyak dipengaruhi oleh kehidupan di sekitar pesisir (Wulandari, 2011).Batik pesisir sebagai salah satu keragaman batik Indonesia memiliki perbedaan dengan jenis batik lain. Seperti batik mataraman yang menonjolkan penggunaan warna-warna sogan. Motif dan pewarnaan Batik Tulis Madura dapat dengan mudah dibedakan karena guratan canting yang melukiskan gambar –gambar yang cenderung tidak rapih atau asimeteris, sehingga dilihat lebih orisinil dibandingkan batik daerah lain.Pembeda lain adalah tentang corak motif dimana batik keraton lebih menonjolkan corak motif geometrisnya dibanding dengan batik pesisir yang dominan corak asimetris. Pasalnya batik pesisir lebih banyak mengadopsi figur hewan dan tumbuhan sebagai inspirasi motifnya. Sehingga karakteristik batik pesisir lebih menyerupai sebuah lukisan dengan medium kain.Penggunaan warna-warna dominan cerah dan berani seperti hijau, merah, biru dan kuning merupakan salah ciri utama Batik Pamekasan. Hal tersebut menandakan Batik Pamekasan merupakan tipikal batik pesisir seperti Batik Lasem, Pekalongan dan batik-batik pesisir utara Jawa lainnya. Dari sudut pandang aspek filosofi, Penggunaan warna cerah dan berani mencerminkan karakter masyarakatMadura yang berani dan tegas. Batik dengan motif yang terstruktur memberi kesempatan pada pelukis Madura untuk menyampaikan karta kreatif (Rifa’i, 2007).Secara umum inspirasi penciptaan corak motif batik berangkat dari hasil representasi keadaan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat. Seperti banyaknya corak motif batik yang mengambil tema representasi figur binatang dan tumbuhan. Namun banyak juga motif yang dipengaruhi oleh kondisi akulturasi budaya atau pengaruh dari budaya asing, misal pengaruh budaya Tiongkok, Timur Tengah, bahkan Budaya Eropa (Triandika, 2020). Sejatinya inspirasi terciptanya motif batik berasal dari figur flora,dan fauna yang diambil dari stilasi keadaan alam (Setiati, 2007). Dimana figur binatang dan tumbuhan menjadi inspirasi filosofi dalam penciptaan motif batik. Konsep tersebut juga turut direpresentasikan dalam corak motif Batik Madura terutama batik Pamekasan hingga saat ini. Secara umum Batik Pamekasan masih terus mempertahankan identitasnya sebagai tipikal batik pesisir yang mendapat pengaruh Islam. Corak motif flora yang di-stilasi dipadukan dengan ciri khas warna-warna batik pesisir. Stilasi merupakan penggayaan bentuk atau penggambaran dari bentuk alami menjadi bentuk ornamen atau hiasan yang dilakukan dengan cara pengurangan atau penyederhanaan objek (Yunianto, 2018).Dalam perspektif lain masyarakat Pamekasan digambarkan sebagai masyarakat dengan tingkat religiusitas yang tinggi. Tingkat religius direpresentasikan dengan atribut kebudayaannya seperti pondok pesantren,masjid, langgar, dan berbagai peninggalan kerajaan-kerajaan beraliran Islami (Rahmad, 2017). Pengaruh masuknya Islam di Pulau Madura dianggap turut mempengaruhi penciptaan corak motif batik Pamekasan. Kabupaten Pamekasan memiliki entitas budaya dan kearifan lokal yang merepresentasikan budaya Madura. Salah satu entitas budayanya adalah keberadaan batik Pamekasan yang masih eksis hingga saat ini. Batik Pamekasan senantiasa mempertahankan corak motifnya secara turun-temurun selama ratusan tahun. Eksistensi corak motif batik klasik berdampingan dengan corak motif batik kontemporer. Tingginya minat akan batik modern/kontemporer bedampak pada semakin memudarnya pakem corak motif batik klasik.Pengaruh dinamika perubahan jaman dan kondisi sosial secara tidak langsung juga mempengaruhi pembuatan Batik Pamekasan, terutama dalam corak motifnya yang cenderung dinamis beradaptasi seiring perkembangan jaman. Dalam kondisi dinamika perkembangan corak motif saat ini idealnya terdapat tata aturan terkait corak motifyang tetap mencerminkan originalitas corak motif Batik Pamekasan Madura.Meskipun termasuk ke dalam jenis batik pesisir, Batik Pamekasan memiliki perbedaan dengan batik pesisir yang berasal dari daerah lain seperti Batik Lasem, Batik Pekalongan, bahkan batik Tanjungbumi yang bverasal dari bagian barat Pulau Madura.Batik Pamekasan tentunya memiliki sudut pandang berbeda dalam mengembangkan corak motifnya. Termasuk pengaruh figur selain tumbuhan dan binatang yang menjadi inspirasi pembuatan corak motif batik. Dalam perkembangannya, Batik Pamekasan dianggap menjadi medium representasi pasang surut kondisi sosial dan budaya masyarakat. Dalam beberapa kajian yang dimuat dalam berbagai jurnal ilmiah menyebut Batik Pamekasan sebagai batik dengan tingkat perminatnya. Namun, Meskipun telah banyak kajian tentang batik, namun masih sedikit kajian yang menelaah tentang corak motif dalam batik. Terlebih kajian tentang corak motif batik Pamekasan Madura dari perspektif komunikasi visualDinamika perkembangan jaman mengakibatkan pengrajin batik terus melakukan inovasi. Sayangnya hal tersebut berdampak pada eksistensis corak motif batik klasik Pamekasan yang semakin tergerus adanya corak motif kontemporer.Meskipun masih terdapat corak motif batik klasik Pamekasan yang masih diproduksi, namun diduga terdapat perbedaan dengan batik corak motif sama yang dibuat lebih lama.Berdasar alasan tersebut maka kajian ini dilakukan guna mencari jawaban bagaimana Perkembangan Corak Motif Batik Pamekasan Madura berdasarkan analisis corak motifnya.Apakah terdapat perubahan yang cukup signifikan terhadap corak motif batik klasik Pamekasan.
Method
Kajian ini dilakukan dalam sudut pandang komunikasi visual terhadap objek penelitian yakni corak motif batik Pamekasan. Kajian ini menggunakan paradigma kualitatif dengan pendekatan deskriptif dalam menggali makna dari proses komunikasi visual sebagai objek penelitian. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sangat detail melalui pengumpulan data-data. (Kriyantono, 2006).Pengambilan data dilakukan di rumah pengrajin Batik Pameakasan dan pengrajin Desa Klampar Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan dan di Butik Batik Peri Kecil Kabupaten Bangkalan Madura. Dalam penelitian ini data-data yang berkaitan dengan penelitian akan dikumpulkan untuk kemudian dianalisis. Dalam kajian ini sumber data berasal dari dokumentasi foto corak motif batik, berbagai jurnal yang relevan, serta hasil wawancara dengan narasumber. Tabel 1. Metode Pengumpulan DataNoMetode1Dokumentasi berupa foto-foto corak motif Batik Pamekasan2Kajian pustaka berupa jurnal & artikel ilmiah yang relevan, artikel di media massa, serta buku-buku yang berkaitan dengan penelitian.3wawancara mendalam (Indepth Interview) terhadap Narasumber yang dianggap relevan dengan penelitian.Narasumber dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Informan utama dalam kajian ini merupakan orang-orang yang berkecimpung dan memiliki perhatian terhadap Batik Pamekasan. Guna memudahkan analisis data maka disusun tahapan dalam pengumpulan data sebagai berikut:Tabel 2. Tahapan Pengumpulan DataNoTahapan1Mendokumentasikan berbagai data tentang dokumentasi corak motif bati Tanjung Bumi.2Melakukan analisis dengan pendekatan semiotika Charles Sanders Peirce, kemudian melakukan interpretasi terhadap data yang telah tersusun untuk menjawab rumusan masalah sebagai hasil kesimpulan.3Melakukan wawancara kepada narasumber untuk mendapatkan informasi pembanding dari hasil intrepetasi menggunakan metode analisis.4Menyelenggarakan Focus Group Discussion dengan guna menemukan jawaban yang tidak didapat dari wawancara dengan narasumber.Dalam kajian ini analisis data yang digunakan adalah analisis semiotika. Analisis semiotika merupakan salah satu metode dalam konteks studi Komunikasi visual. Komunikasi visual merupakan bagian dalam konsep ilmu komunikasi dimana telah dipraktekkan sejak lama karena urgensinya yang mudah diterima oleh berbagai golongan. Masyarakat sebagai komunikan atau audiens cenderung memilih informasi yang sederhana dan menarik sehingga media visual menjadi pilihan. Alasan tersebut yang menjadikan komunikasi visual begitu penting. Dalam komunikasi visual pesan disampaikan menggunakan media visual. Karena pada prinsipnya komunikasi visual adalah proses penyampaian pesan maka dalam prakteknya harus dilakukan secara efektif. Sehingga pesan yang akan disampaikan melalui media visual bisa diterima dengan baik oleh komunikan. Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan teori semiotika Charles Sanders Peirce. Teori ini dianggap mampu memaknai objek kajian yakni komunikasi visual. Pasalnya penafsiran tanda-tanda dalam konteks visual bisa beragam tergantung pemahaman, latar belakang budaya, pendidikan, dan paradigma si penafsir. Melalui teori Peirce ini keragaman penafsiran makna bisa direduksi sehingga mudah melakukan pemaknaan pesan. Dalam konsep semiotika Peirce, instrumen pemaknaan dibagi menjadi tiga unsur utama yang terdiri dari Tanda, Intrepetant, dan Objek, ketiganya kemudian disebut sebagai segitiga triadik (Pateda dalam Sobur, 2004).Tanda Intrepetant Objek Gambar 1. Segi tiga Semiotika C.S.Peirce
Result & Discussion
Batik Pamekasan This Secara administratif Pulau Madura dibagi menjadi empat wilayah kabupaten, yaitu Kabupaten Bangkalan, Kabupaten Sampang, Kabupaten Pamekasan dan Kabupaten Sumenep. Pamekasan merupakan salah satu Kabupaten yang berada di timur Pulau Madura, Berbatasan dengan Kabupaten Sumenep di sebelah timur dan Kabupaten Sampang di bagian barat. Popularitas Batik Madura tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Batik Pamekasan. Pada tanggal 24 Juni 2009 Kabupaten Pamekasan ditetapkan sebagai Kota Batik oleh Gubernur Jawa Timur saat itu H. Soekarwo. Kabupaten Pamekasan layak disebut sebagai Kota Batik karena jumlah pengrajin batik yang tersebar di 28 sentra yang berada di 7 Kecamatan di Kabupaten Pamekasan. Bahkan hasil produksi dari rumah-rumah batik di Pamekasan dipasarkan hingga keluar daerah. Berbagai pameran dan expo turut diikuti oleh pengrajin Batik Pamekasan. Kabupaten Pamekasan memiliki beberapa sentra penghasil batik tulis, salah satunya adalah sentra batik Banyumas yang berada di Desa Klampar, Kecamatan Proppo. Desa Klampar adalah desa dengan jumlah sentra batik terbanyak yakni sebanyak 5 sentra. Salah satu sentra batik yang tergolong produktif adalah sentra batik Banyumas yang berada di dusun Banyumas Desa Klampar. (Wulandary, 2015).Berdasar perspektif sejarahnya, Batik Desa Klampar tidak bisa dilepaskan dari sejarah batik yang berkait erat dengan penyebaran kerajaan pra Islam dan kerajaan Islam di Pulau Jawa. Dalam salah satu jurnal ilmiah yang membahas tentang Batik Pamekasan, menyebut terjadinya perang antara kiai penghulu Bagandan (Raden Azhar) dengan Ke’ Lesap pada abad ke-18 sebagai awal dikenalnya batik. Dalam pertempuran itu Kyai Penghulu menggunakan batik dengan motif parang khas batik mataraman. Kemudian diceritakan bahwa Kiai Penghulu Bagandan Pamekasan menikah dengan Nyai Qadhi yang masih berdarah Giri Kedaton. Dari pernikahan ini dikaruniai cicit Kyai Taman Toronan yang berdomisili di Desa Toronan Pamekasan. Kyai Taman berputra Kyai Mudhari yang berdomisili di Dusun Banyumas Desa Klampar Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan Madura. Cucu inilah yang melestarikan batik sebagai pakaian kebangsawanan Madura yang dikenal hingga saat ini sebagai batik asli buatan Dusun Banyumas Desa Klampar Kecamatan pamekasan Madura (Wulandary, 2015).Sayangnya tidak ada satupun catatan manuskrip yang menyebut pasti kapan munculnya batik di Pulau Madura khususnya Kabupaten Pamekasan. Selama ini berbagai penelitian hanya merujuk pada cerita rakyat atau menurut penuturan lisan masyarakat. Alasan tersebut diperkuat berdasar kemiripan beberapa corak motif batik Pamekasan dengan batik daerah lain seperti batik pesisir utara Pulau Jawa. Batik pesisir dengan batik mataraman jika dirujuk berdasar berbagai literatur sejarah memiliki garis waktu yang berbeda. Bahkan diduga makar Batik Madura yang sekarang didapatkan oleh berbagai sentra batik di Pulau Madura berasal Kerajaan Daha yang wilayahnya sekarang masuk dalam karesidenan Kediri (Rahayu, 2020).Alasan lain adalah keberagaman corak motif yang sangat berbeda karakter meskipun sama-sama Batik Pamekasan. Hal tersebut berbeda jika dibandingkan dengan batik mataraman yang memiliki tema senada yakni kesamaan komposisi warna, corak dan penamaan corak motif. Terlalu beragamnya corak motif Batik Pamekasan dipengaruhi beberapa faktor, seperti pengaruh inspirasi corak motif tidak hanya berasal dari satu daerah saja misal mataraman namun juga ada pengaruh batik pesisir.Sebagai daerah penghasil batik, kondisi sosial desa Klampar didominasi oleh rumah-rumah yang memproduksi batik. Setiap rumah pasti dijumpai adanya jemuran terbuat dari bambu yang terbentang kain batik yang tengah dijemur. Tahapan produksi batik di Desa Klampar tidak semuanya dilakukan dalam satu rumah, namun ada beberapa tahapan yang biasanya dilakukan estafet antar rumah. Misalnya pemotongan bahan dasar kain dilakukan di rumah A, kemudian dilanjutkan tahapan membatik corak motif dasar yang disebut sebagai “menta’an” di rumah B. Terakhir adalah tahapan pewarnaan dan pelorotan malam. Namun, terdapat beberapa rumah produksi batik yang melakukan semua tahapan tadi dalam satu rumah. Sebagai daerah agraris, selain membatik, masyarakatnya juga menjadi petani. Sejatinya alasan tersebut yang menjadi latar belakang Batik Madura dibuat, dimana dahulu kaum perempuan menghabiskan waktu dengan membatik sembari mengolah lahan pertaniannya. Kebiasaan serupa juga terjadi di daerah penghasil batik pesisir dimana kaum perempuan mengalihkan keresahan dengan aktivitas membatik karena menanti suami melaut (Sahertian, 2016).Batik tulis Pamekasan memiliki pembeda dengan daerah lainnya, seperti corak motifnya dan karakteristik warnanya. Seperti adanya figur hewan dan tumbuhan yang selalu ada di setiap motif Batik Pamekasan. Salah satu contohnya adalah motif burung yang pasti terdapat di Batik Pamekasan. Ciri khas lainnya adalah adanya corak bagian tumbuhan seperti daun atau akar. Meskipun sebenarnya terdapat beberapa kesamaan corak motif bahkan adaptasi motif yang berasal dari batik mataraman. Namun Batik Pamekasan memiliki ciri khas tersendiri seperti adanya isian khas yang membedakan dengan batik mataraman. Pengaruh dinamika perubahan zaman ternyata turut memberikan pengaruh dalam corak motif batik Pamekasan. Hal tersebut merupakan peristiwa yang lumrah terjadi di lingkungan pengrajin batik di Kabupaten Pamekasan. Mayoritas sentra baik di Pamekasan beradaptasi dengan permintaan konsumen terutama dalam hal pemilihan warna dan corak motif. Bahkan ketika Jembatan Suramadu dibuka terdapat konsumen yang meminta masukkan figur Jembatan Suramadu dalam kain batiknya.Secara umum Batik Pamekasan menganut konsep stratifikasi dalam produksi kain batiknya. Batik Pamekasan diproduksi berdasarkan jenis tingkatan tergantung tingkat kesulitan pembuatan, kualitas hasil produk, maupun aspek –aspek lainnya seperti corak motif. Kerumitan motif dan rumitnya komposisi warna yang terdapat dalam kain batik membuat harga jualnya akan semakin tinggi. Berdasarkan penuturan salah satu Pemerhati Batik Madura, Lestari Puji Rahayu, menyebut bahwa Batik Pamekasan cenderung berkembang sangat dinamis seiring dengan perkembangan zaman dan kebutuhan pasar. Salah satunya adalah munculnya ide motif batik yang beradaptasi dengan perkembangan lingkungan. Corak batik tersebut biasanya dikategorikan sebagai corak motif batik tulis kontemporer (Rahayu, 2020). Sebagai imbas dari perkembangan yang sangat dinamis mengakibatkan beberapa corak motif jarang diproduksi. Salah satunya adalah corak motif “serat batu” yang sebelumnya menjadi salah satu corak motif kebanggan Batik Pamekasan. Alasan pengrajin sudah jarang membuat corak tersebut karena dianggap motif tersebut sudah jarang peminat, munculnya berbagai corak motif baru atau kontemporer serta muncul batik buatan mesin otomatis.Meskipun motif batik kontemporer muncul, motif batik klasik masih diproduksi hingga saat ini. Pengrajin batik masih membuat batik dengan motif klasik karena merupakan warisan leluhur, serta motif-motif tersebut masih dicari oleh masyarakat. Namun permintaan terhadap beberapa motif khususnya corak motif klasik cenderung sedikit tidak sebanyak corak motif batik kontemporer.Istilah motif klasik merujuk pada jenis corak motif yang telah ada sejak batik tulis dikenal masyarakat. Motif klasik dianggap sebagai motif pakem karena digunakan sebagai dasar dari setiap pembuatan batik tulis hingga saat ini. Sehingga pakem motif tersebut yang akan selalu ada dalam setiap batik yang dibuat oleh pengrajin. Pengrajin batik biasanya menggunakan pakem motif tersebut secara utuh, namun bisa juga memadukannya dengan motif lainnya. Batik Pamekasan memiliki pakem motif sangat berbeda dengan pakem batik mataraman atau batik keraton yang cenderung kaku dan ketat. Pakem batik tulis Pamekasan lebih longgar atau luwes dan cenderung mudah dikembangkan atau dimodifikasi. Pakem Batik Pamekasan bisa berupa pakem motif, namun bisa juga lengkap ke pakem ke warnanya. Namun terdapat juga Pakem total yang didalam motif batiknya terdiri dari latar, motif utama dan kondimen atau pelengkap. Saat ini terdapat motif yang mengaplikasikan pakem total hingga sekarang, namun ada juga yang hanya motif utamanya saja yang dipakai berulang ulang tapi latarnya berbeda (Rahayu, 2020).Dalam jangka waktu dua dekade ini Popularitas batik Pamekasan cenderung semakin naik. Kemudahan akses transportasi, perkembangan teknologi komunikasi yang menghadirkan konsep belanja virtual semakin menaikkan popularitas Batik Pamekasan. Hal tersebut dibarengi dengan semakin tingginya wisatawan yang berkunjung ke Madura sebagai dampak adanya jembatan Suramadu. Madura memang terkenal akan kekuatan laju perekonomian yang dinamis di bidang batik tulis. Hampir sepanjang perjalanan baik melalui jembatan Suramadu maupun dermaga Ujung, dapat dijumpai toko dan kios yang menjual batik tulis. Hadirnya sentra batik di Pasar 17 Agustus adalah bukti konsistensi Pemerintah Kabupaten Pamekasan dalam mendukung perkembangan Batik Pamekasan.a)Analisis Semiotika Batik Pamekasan Motif Batik Pamekasan mayoritas tidak memiliki nama spesifik, yang menjadi acuan hanya motif dasar yang kemudian dikombinasikan bebas. Kombinasi bisa ditambah figure corak lain atau bahkan ada pengurangan corak dasar. Sehingga terdapat penomoran berbeda dalam sebuat corak motif yang sama. Corak motif dasar bisa diasumsikan sebagai corak motif yang telah menjadi pakem. Berdasarkan hasil wawancara dan observasi setidaknya terdapat 3 motif pakem Batik Pamekasan yang masih diproduksi hingga kini.Tabel 3. Motif Batik Pamekasan Nama Motif Batik Pamekasan 1 Lerres.2 tong-centong 3rawan Dari ketiga motif pakem yakni Lerres, Tong Centong dan Rawan, pembahasan kemudian akan berfokus pada motif Lerres. Latar belakang pemilihan motif Lerres didasarkan karena permintaan konsumen relatif lebih tinggi sehingga masih banyak diproduksi oleh banyak pengrajin Batik Pamekasan. Alasan lain adalah faktor keberadaan corak motif yang masih tersimpan dengan baik oleh informan penelitian. Motif Lerres merupakan salah satu motif klasik yang diproduksi hingga saat ini, namun juga paling sering mengalami pergeseran corak atau modifikasi motif akibat proses adaptasi dengan perubahan lingkungan (Rahayu, 2020)Dalam pembahasan ini akan dibandingkan Batik Pamekasan corak motif Lerres dengan tahun pembuatan yang berbeda. Kain batik pertama dan kedua dibuat dengan selisih tahun produksi cukup signifikan yakni lebih dari 10 tahun. Gambar 2. Batik Motif Lerres pertama(sumber: Koleksi Lestari Puji Rahayu)Gambar 3. Batik Motif Lerres kedua(sumber: Koleksi Lestari Puji Rahayu)Istilah Lerres sebenarnya merujuk pada penyebutan pola seperti garis lurus berjejer dari ujung kain ke ujung lainnya. Motif ini terdapat pada koleksi corak motif klasik Batik Pamekasan yang sampai saat ini masih diproduksi dan menjadi corak pakem. Berawal dari motif ini, kemudian menginspirasi diciptakannya berbagai motif dan varian warna lainnya.Berdasar literatur lain bahkan menyebut jika motif Lerres merupakan corak motif yang diadaptasi dari corak motif batik Parang yang berasal dari batik mataraman. Namun informasi tersebut sulit diyakini karena terdapat bias fakta sejarah munculnya batik di pulau Madura. Hal tersebut terjadi karena tidak ada catatan tertulis terkait sejarah Batik Madura. Selama ini rujukan informasi tentang Batik Madura khususnya Batik Pamekasan hanya berasal dari informasi lisan dan cerita rakyat. Berbeda dengan rujukan sejarah batik mataraman yang tersusun dalam berbagai literatur sejarah, budaya dan catatan kolonial.Kedua corak motif kemudian akan ditelaah ornamen motif maupun isian dan latarnya serta diuraikan dengan menggunakan tabel analisis semiotika C.S Peirce. Secara teknis tabel dibagi menjadi tiga baris, baris pertama akan berisi klasifikasi tanda dalam hal ini berupa penggalan foto batik tulis Pamekasan yang menjadi dasar pencarian makna. Baris kedua berisi klasifikasi objek yaitu sebuah perwujudan sebutan latar, motif maupun isian. Terakhir, baris ketiga berisi klasifikasi interpretant yakni penjabaran makna yang disertai dengan penjelasan dan pembuktian kebenaran dengan cara wawancara maupun hasil studi Pustaka untuk membantu menggali makna dalam motif.Analisis motif Liris pertama Tabel 4.Segitiga Semiotika Peirce Tanda Objek Latar / motif dasar batik Sekar Jagad Interpretan Latar batik berupa latar Sekar Jagat Dengan isian cenderung sederhana. Dalam batik tulis Madura istilah Sekar Jagad Berasal dari dua kata berbahasa daerah Madura. Sekar berasal atau berarti kata bunga, jagad yang memiliki arti dunia. Sehingga arti latar Sekar Jagad Yaitu menggambarkan bahwa batik sekar jagat bermakna keanekaragaman bunga di seluruh dunia. Sekar Jagad Merupakan motif klasik yang berasal dari batik mataraman. Namun pada batik Pamekasan, motif Sekar Jagad Cenderung dijadikan latar dengan dikombinasikan corak motif lain yang menjadi motif bunga atau kondimen. TandaObjekMotif utama LerresInterpretanMotif utama ini disebut motif Lerres.Menurut beberapa referensi tertulis, Kata Leres Dalam Bahasa Madura berarti garis atau pola melintang.Menurut hasil wawancara dengan pembatik, Lerres Juga memiliki makna sebuah pola dalam menata corak motif isian, misal corak motif latar Sekar Jagad.Lerres disebut juga mirip dengan corak motif batik Parang karena sama-sama memiliki struktur pola melintang.Komposisi warna sangat mencerminkan karakteristik Batik Madura dan batik pesisir yakni adanya warna-warna cerah seperti hijau, merah, kuning dan biru.Tanda Objek Motif BurungInterpretanDalam motif Leres, ditemukan karakter burung digambarkan terdapat ekor, sayap serta bulu, dan memiliki kepala lengkap dengan paruhnya.Berdasarkan hasil wawancara terhadap pengrajin batik, motif burung dalam batik Pamekasan merupakan representasi karakter burung hong atau phoenix atau phoenix yang ditandai dengan ekor yang menjuntai. Figur burung hong atau phoenix telah ada sejak lama dalam mayoritas corak motif batik klasik Pamekasan.Figur burung hong atau phoenix juga banyak terdapat dalam corak motif batik pesisir di luar Pulau Madura yang mendapat pengaruh budaya Tionghoa.Representasi figur burung hong atau phoenix terlihat jelas seperti wujud aslinya dan tidak terdapat proses stilasi di dalam corak batik. TandaObjekMotif utama LerresInterpretanMotif utama ini disebut motif Lerres.Menurut beberapa referensi tertulis, Kata Leres Dalam Bahasa Madura berarti garis atau pola melintang.Menurut hasil wawancara dengan pembatik, Lerres Juga memiliki makna sebuah pola dalam menata corak motif isian, misal corak motif latar Sekar Jagad.Lerres disebut juga mirip dengan corak motif batik Parang karena sama-sama memiliki struktur pola melintang.Komposisi warna sangat mencerminkan karakteristik Batik Madura dan batik pesisir yakni adanya warna-warna cerah seperti hijau, merah, kuning dan biru.Tanda Objek Motif BurungInterpretanDalam motif Leres, ditemukan karakter burung digambarkan terdapat ekor, sayap serta bulu, dan memiliki kepala lengkap dengan paruhnya.Berdasarkan hasil wawancara terhadap pengrajin batik, motif burung dalam batik Pamekasan merupakan representasi karakter burung hong atau phoenix atau phoenix yang ditandai dengan ekor yang menjuntai. Figur burung hong atau phoenix telah ada sejak lama dalam mayoritas corak motif batik klasik Pamekasan.Figur burung hong atau phoenix juga banyak terdapat dalam corak motif batik pesisir di luar Pulau Madura yang mendapat pengaruh budaya Tionghoa.Representasi figur burung hong atau phoenix terlihat jelas seperti wujud aslinya dan tidak terdapat proses stilasi di dalam corak batik. Tanda Objek Isian pelengkap bunga Interpretant Tiap motif batik Pamekasan terdapat isian motif tumbuhan seperti bunga, detail bunga pasti masih digambarkan meskipun sebagai pelengkap dan pengisi motif.Pemilihan figur bunga mayoritas memilih jenis bunga merambat.Analisis motif Lerres kedua Tabel.5 Segitiga Semiotika Peirce Tanda Objek Latar / motif dasar batik Sekar Jagad Interpretant Latar batik berupa latar Sekar Jagad cenderung lebih rumit dengan banyak isian.Pengamat batik dan membatik menyebutkan bahwa dalam corak Sekar Jagad Terdiri dari isian motif yang beragam, disusun berulang tak beraturan.Sekar Jagad Merupakan motif klasik yang berasal dari batik mataraman. Namun pada batik Pamekasan, motif sekar jagad mayoritas dijadikan latar dengan dikombinasikan corak motif lain yang menjadi motif bungkah. Tanda Objektif utama LerresInterpretanMotif utama ini disebut motif Leres.Dalam banyak referensi menyebut bahwa Leres Adalah salah satu motif Batik Madura yang menonjolkan garis melintang simetris mirip dengan unsur simetris batik mataraman.Menurut hasil wawancara dengan pembatik, Lerres Juga memiliki makna sebuah pola dalam menata corak motif isian, misal corak motif latar Sekar Jagad.Tanda Objek Motif BurungInterpretanDalam motif Leres, ditemukan karakter burung digambarkan terdapat ekor, sayap serta bulu, namun bentuk kepala cenderung tidak ditampilkan secara utuh atau implisit. Bentuk hewan distilasi sedemikian rupa sehingga membentuk menyerupai benda lain namun digambarkan mirip aslinya.Berdasarkan hasil wawancara, motif burung dalam batik Pamekasan merupakan representasi karakter burung hong atau phoenix. Burung tersebut merupakan burung imajiner yang berasal dari budaya Tionghoa yang melambangkan keberuntungan. Pengaruh budaya Tionghoa memiliki pengaruh kuat dalam jenis batik pesisir.Figur burung hong atau phoenix bisa dikatakan identic dengan ciri khas batik pesisir di utara Pulau Jawa. Terdapat beberapa kesamaan dan perbedaan dari batik motif Lerres pertama dan batik motif Lerres kedua. Kesamaan yang pertama adalah sama-sama memiliki nama corak motif Leres. Meskipun terdapat perbedaan dalam hal isian dalam latar dasar motifnya. Perbedaan Kedua adalah isian yang cenderung lebih komplek dan beragam pada batik Lerres yang kedua. Namun keduanya dikatakan memiliki motif latar yang sama yakni Sekar Jagad. Persamaan ketiga adalah memiliki corak motif utama berupa figur burung yang disebut sebagai burung hong atau phoenix, akan tetapi pada batik Lerres kedua telah ada proses stilasi. Burung hong atau phoenix pada batik kedua cenderung tidak ditampilkan utuh berwujud burung. Dalam proses stilasi figur burung hong atau phoenix direpresentasikan ke beberapa bagian yang menjadi khas yakni ekor dan bulu. Bagian tubuh yang tidak ditampilkan utuh adalah bagian kepala yang hanya direpresentasikan dengan bulu jambul saja. Perbedaan dalam merepresentasikan figur binatang dalam Batik Pamekasan merupakan pengaruh dari unsur-unsur Islam. Batik Pamekasan termasuk dalam tipikal batik pesisir yang mendapat pengaruh Islam. Banyak unsur keIslaman yang telah mengakar pada budaya Madura. Adi Kusrianto dalam bukunya yang berjudul Batik, Filosofi, Motif dan Kegunaan, menjelaskan bahwa Islam memberi pengaruh terhadap hasil motif batik tidak secara spesifik, namun tersirat dari aspek didalamnya (Kusrianto, 2013). Secara umum, tidak hanya Batik Pamekasan namun Batik Madura juga terpengaruh
Conclusion
Batik Pamekasan sebagai entitas budaya Pamekasan dan secara umum sebagai bagian dari budaya Madura terus melakukan adaptasi. Meskipun tidak ada catatan manuskrip yang membahas tentang masa awal pembuatan Batik Pamekasan. Berbagai perspektif historis keberadaan Batik Pamekasan hanya merujuk pada cerita rakyat atau menurut penuturan lisan masyarakat. Namun bukti akulturasi berbagai budaya direpresentasikan dalam berbagai corak motif Batik Pamekasan. Hal tersbut menjadi bukti bahwa Batik Pamekasan telah ada sejak lama dan menyerap berbagai unsur budaya dalam corak motif batiknya.Perkembangan jaman dan lingkungan sosial secara tidak langsung mempengaruhi proses membatik terutama dalam hal perkembangan corak motifnya. Banyak motif pakem yang telah diciptakan sejak lama perlahan bertransfigurasi mengikuti perkembangan jaman bahkan tepengaruh faktor komersial. Batik klasik dengan pakem kuno yang sepi peminat kemudian dirubah menyesuaikan kemauan masyarakat. Penambahan corak baru menjadi hal yang lumrah dalam proses pembuatan Batik Pamekasan saat ini. Karakter binatang dan tumbuhan yang selama ini menginspirasi corak Batik Pamekasan mulai dicampur unsur baru seperti landmark atau karakter tertentu. Kurangnya catatan tertulis tentang pakem-pakem corak motif klasik berdampak munculnya jenis batik kontemporer dengan unsur karakter corak motif modern. Bahkan beberapa pengrajin sengaja memadukan pakem klasik dengan unsur moder atau unsur lain seperti tata aturan agama.Berdasarkan analisis yang telah dilakukan pada dua motif batik tulis Pamekasan motif Lerres. Dapat ditarik kesimpulan bahwa motif tersebut sebagai motif batik Pamekasan terdapat tahapan transfigurasi dalam corak motifnya. Hal tersebut terlihat dalam representasi karakter burung hong atau phoenix. Burung hong atau phoenix sebagai binatang imajiner budaya Tionghoa direpresentasikan berbeda dalam kedua batik. Pembatik merepresentasikan bentuk tubuh burung hong atau phoenix tersebut dengan cara berbeda. Pada batik motif Lerres yang kedua bahkan burung hong atau phoenix direpresentasikan tanpa kepala hanya disimbolkan oleh bulu jambul saja. Salah satu buktinya adalah adanya proses stilasi dalam pembuatan corak motifnya. Proses penggambaran makhluk hidup atau hewan disimbolkan dalam bentuk lain namun tetap menyerupai wujud aslinya. Hal tersebut sesuai dengan ajaran dalam islam yang tidak menganjurkan penggambaran makhluk hidup dalam wujud asli. Proses stilasi sendiri ditemukan dalam mayoritas motif Batik Pamekasan, terutama dalam motif klasiknya. Batik Pamekasan menjadi salah satu jenis batik yang berasal dari Pulau Madura yang cenderung terus bertransfigurasi. Faktor utamanya adalah perkembangan kondisi lingkungan sosial dan budaya. Kedepannya perlu ada perhatian dalam proses perngarsipan berbagai corak motif klasik dan pakem. Sehingga karakteristik corak motif Batik Pamekasan bisa terus terjaga.