Kembali
16
1
2023 ABDI PUSTAKA: Jurnal Perpustakaan dan Kearsipan Vol 3 · 2 ISSN 2808-151X

Korelasi Keamanan dan Desain Gedung dalam Kegiatan Preservasi di Perpustakaan Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran

Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran

Abstrak

Artikel ini merupakan hasil penelitian tentang keamanan dan desain gedung dalam kegiatan preservasi. Pelestarian (preservation) mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, metode, dan teknik, serta penyimpanannya. Preservasi bertujuan untuk memperpanjang usia bahan pustaka dan informasi yang ada didalamnya. Tujuan penelitian untuk menginformasikan kegiatan preservasi di perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Metode penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi literatur dengan pendekatan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perpustakaan Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran, dari segi keamanan sudah memenuhi kriteria sebuah perpustakaan, yaitu: tersedianya alat pemadam api dan CCTV, hal ini belum dirasa cukup untuk perpustakaan perguruan tinggi. Pengelola perpustakaan bisa menambahkan beberapa aspek keamanan untuk perbaikan perpustakaan dimasa yang akan datang. Desain gedung yang dipilih oleh perpustakaan terbilang nyaman, namun sayangnya pencahayaan yang ada didalamnya kurang. Ruangan yang cukup sempit juga menjadi masalah bagi pemustaka. Rak koleksi bahan pustaka menjadi satu dengan ruang baca, jika banyak pemustaka yang datang secara bersamaan ruangan terasa semakin sempit. Pengelola perpustakaan harus memperbaiki pencahayaan, meningkatkan keamanan, dan memperluas ruangan yang ada agar pemustaka yang datang bisa lebih nyaman dan ingin terus berkunjung ke Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.

Abstract

Correlation of Security and Building Design in Preservation Activities at the Faculty of Animal Science Library, Padjadjaran University. This article results from research on building security and design in preservation activities. Preservation covers all aspects of preserving library materials, finances, methods, techniques, and storage. Protection aims to extend the life of library materials and the information contained therein. The purpose of the study was to inform preservation activities in the library of the Faculty of Animals, Padjadjaran University. The research methods used are Observation, interviews, and literature studies with a quantitative approach. The results showed that the Library of the Faculty of Animal Husbandry, Padjadjaran University, in terms of security, has met the library's criteria, namely the availability of fire extinguishers and CCTV, which is not enough for a university library. Library managers can add several security aspects for future library improvements. The design of the building chosen by the library is relatively comfortable, but unfortunately, its lighting is lacking. A reasonably narrow room is also a problem for users. The shelf of the library material collection becomes one with the reading room. If many users come simultaneously, the room feels narrower. Library managers must improve lighting, improve security, and expand existing spaces so that users who come can be more comfortable and want to continue visiting the Library of the Faculty of Animal Husbandry, Padjadjaran University.
Keywords: preservasi · konservasi · perpustakaan · pelestarian

Introduction

Preservasi adalah pelestarian koleksi bahan pustaka (arsip), yaitu sebuah proses kerja dalam rangka perlindungan fisik bahan pustaka terhadap kerusakan atau unsur perusak berupa restorasi atau reparasi bagian bahan pustaka rusak yang disebabkan oleh faktor dari dalam (intrinsik) maupun faktor dari luar fisik bahan pustaka itu sendiri (ekstrinsik). Tujuan utama dilakukannya preservasi untuk pencegahan kerusakan bahan pustaka (arsip). Konservasi merupakan kebijaksanaan dan cara tertentu yang dipakai untuk melindungi koleksi bahan pustaka dan arsip dari kerusakan dan kehancuran. Konservasi menggunakan metode dan teknik tertentu yang diterapkan oleh petugas teknis. Tujuan konservasi untuk memelihara dan melindungi koleksi bahan pustaka dan arsip yang dianggap berharga agar tidak hancur, berubah, atau punah. Selain itu juga untuk meningkatkan kesadaran dan rasa hormat terhadap koleksi bahan pustaka dan arsip yang dibangun untuk generasi di masa mendatang. Perpustakaan perlu mendefinisikan ulang cara menyajikan informasi yang dimiliki dengan modifikasi atau penyesuaian dengan karakter yang ada (Wahyuntini, 2022:65) Restorasi merupakan teknik atau pertimbangan yang digunakan oleh petugas teknis perpustakaan untuk memperbaiki koleksi perpustakaan dan arsip yang rusak. Kerusakan biasanya disebabkan oleh waktu, pemakaian, atau faktor lainnya. Tujuannya untuk mengembalikan atau memulihkan sesuatu hal sehingga kembali seperti semula dan dapat digunakan lagi dengan baik. Penelitian tentang preservasi, konservasi, dan restorasi ini dilakukan di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran untuk mengetahui bagaimana pelaksanaan preservasi, konservasi, dan restorasi yang dilakukan di Perpustakaan Fakultas Peternakan. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pihak Perpustakaan Fakultas Peternakan agar lebih baik lagi, dan sebagai bahan rujukan untuk penelitian berikutnya. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan gambaran tentang cara Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran melakukan preservasi dan restorasi keamanan serta desain gedung untuk meningkatkan keamanan serta kenyamanan pemustaka. Penelitian ini berlandaskan beberapa faktor pendukung yaitu lingkungan, tugas yang diberikan, dan pengetahuan.

Method

Metode penelitian yang digunakan adalah observasi, wawancara, dan studi literatur dengan pendekatan kuantitatif. Penulis mendatangi Perpustakaan Fakultas Peternakan dan menemui pengelola perpustakaan untuk melakukan wawancara serta mengambil beberapa dokumentasi keadaan perpustakaan. Observasi berupa wawancara dilakukan pada Senin, 26 September 2022 pukul 10.00 WIB di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Metode observasi atau pengamatan, menurut Morrison (2017:143), adalah kegiatan keseharian manusia dengan menggunakan pancaindra sebagai alat bantu utamanya. Dengan kata lain, observasi adalah kemampuan seseorang untuk menggunakan pengamatannya melalui hasil kerja pancaindra. Teknik pengumpulan data dengan proses wawancara dengan pengelola Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Metode deskriptif dilakukan dengan mencari informasi yang berhubungan dengan permasalahan dan menjelaskan beberapa data dan informasi yang telah didapat. Studi literatur dilakukan dengan mencari bahan informasi dari beberapa media dan tulisan orang lain yang terpercaya, atau dari jurnal-jurnal ilmiah.

Result & Discussion

Preservasi berasal dari kata preserve atau to preserve, adalah salah satu aspek dari manajemen perpustakaan, dimana dalam sebuah perpustakaan mengenal 4 (empat) aspek penting, yaitu: berkaitan dengan bagaimana pengumpulan bahan pustaka, pengolahan, penyebarluasan, dan pelestarian atau preservasi. Pelestarian (preservation) menurut International Federation of Library Association (IFLA) mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, metode dan teknik, serta penyimpanannya. Hille (2005), mendeskripsikan preservasi sebagai kegiatan yang mencakup kegiatan fisik penanganan dokumen dan informasi yang di dalamnya meliputi penyusunan kembali, penempatan ulang, dan penggunaan wadah atau tempat pelindung. Tujuannya untuk memperluas akses untuk informasi yang memungkinkan bisa hilang karena halaman yang hilang atau karena dokumen rusak. Tujuan dan fungsi preservasi menurut UNESCO adalah untuk memperpanjang usia bahan pustaka dan informasi yang ada di dalamnya. Sementara itu, berdasarkan The Internasional Review Team for Conservation and Preservationserta J.M. Dureau dan D. G. W Clements dalam “Principles for the presetvation and conservation of Library Materials” disebutkan bahwa pelestarian bahan pustaka bertujuan untuk melestarikan kandungan informasi dengan dialihkan ke media lain dan melestarikan bentuk fisik bahan pustaka sehingga dapat digunakan dalam bentuk yang seutuh mungkin. Preservasi bahan pustaka perlu dilakukan oleh perpustakaan untuk melestarikan kandungan informasi yang ada pada bahan pustaka tersebut. Preservasi meliputi pencegahan terhadap faktor-faktor perusak koleksi, perawatan fisik, seperti dengan menjilid ulang, melaminasi bahan pustaka, atau memproduksi bahan pustaka, seperti fotocopy atau alih bentuk. Dalam memberikan layanannya perpustakaan harus dapat memberikan layanan yang cepat, tepat dan benar (Bandono & Susilowati, 2021:16). Konservasi menurut Oktaningrum & Perdana (2017:23) adalah proses pengolahan suatu tempat atau ruangan maupun objek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Tujuan dari kegiatan konservasi menurut Dureau dan Clements (1990), yaitu untuk melestarikan bahan pustaka dan kandungan informasi ilmiah yang direkam untuk dialihmediakan dan melestarikan bentuk fisik asli bahan perpustakaan dan arsip sehingga dapat digunakan dalam bentuk seutuh mungkin. Kegiatan konservasi di perpustakaan ada bermacam-macam tetapi dalam kelompok besar dibagi menjadi tiga bagian yaitu konservasi preventif, kuratif, dan restorasi. Konservasi preventif yaitu tindakan pencegahan terhadap kerusakan bahan pustaka dari berbagai macam faktor kerusakan, maupun manusia, serangga, ataupun alam sekitar. Selain itu pengontrolan lingkungan sangat dibutuhkan secara berkala khususnya untuk koleksi yang tergolong langka dan koleksi khusus. Konservasi kuratif meliputi tindakan berbagai penanganan dan treatment dengan metode dan teknik penanganan yang sudah ditentukan. Restorasi adalah tindakan perbaikan bahan perpustakaan yang mengalami rusak parah agar kembali pada kondisi semula. Hal ini sesuai dengan draft naskah jabatan konservator di perpustakaan yang salah satu tugasnya adalah memperbaiki atau merestorasi bahan pustaka yang mengalami rusak parah. Perbaikan bahan perpustakaan tersebut harus dilakukan oleh seorang restorator dengan cara membongkar jilidan buku, kemudian melakukan treatment penanganan seperti menghilangkan noda kertas, menambal, menyambung, melakukan pemutihan kertas (bleaching), ataupun perlakuan tertentu yang berkaitan dengan masalah konservasi. Dalam kegiatan preservasi ada yang disebut sebagai kegiatan preservasi preventif, dimana program tersebut terdiri dari pendidikan, penyimpanan, kontrol lingkungan (suhu dan kelembapan udara, cahaya, polusi udara, dan manajemen biota), keamanan, dan desain gedung. Program ini sangat membantu berjalannya kegiatan preservasi dan konservasi di setiap perpustakaan dan mempermudah petugas dalam menjalankan tugasnya sesuai dengan kebutuhan dari bahan pustaka yang rusak. Menurut Mustofa, sistem keamanan perpustakaan adalah keadaan bebas dari bahaya. Istilah ini bisa dihubungkan dengan kejahatan, segala bentuk kecelakaan, dan lainlain. Sistem keamanan akan membandingkan kode-kode yang dimasukkan oleh pengguna dengan daftar atau basis data yang disimpan oleh sistem keamanan. Jika kode yang dibandingkan cocok maka sistem keamanan akan mengizinkan akses pengguna tersebut terhadap layanan dan sumber daya yang terdapat dalam jaringan atau sistem tersebut sesuai dengan level keamanan yang dimiliki oleh pengguna tersebut. Teguh Prayogo mengungkapkan bahwa ada beberapa sistem keamanan yang dapat digunakan atau dipasang di beberapa perpustakaan untuk mencegah kehilangan bahan pustaka, yaitu: 1) Sistem gerbang pengamanan, teknologi ini dapat mendeteksi pita pengaman yang diletakkan di buku perpustakaan. Gerbang ini biasanya terdapat di pintu keluar ruangan perpustakaan. 2) Aktivasi-deaktivasi pengaman, alat ini bisa digunakan untuk mengaktifkan dan menonaktifkan strip pengaman dalam waktu singkat. Alat ini juga dapat mendeteksi barcode yang ada disetiap buku sehingga bisa digunakan untuk menunjang manajemen sirkulasi koleksi perpustakaan. 3) Strip pengaman, merupakan pita pengaman tipis yang diletakkan disela-sela buku, yang bisa dideteksi oleh aktivasideaktivasi pengaman. 4) Kamera pengintai sistem CCTV, berfungsi untuk memantau dan merekam kejadian, yang berguna untuk mencegah kejahatan dan menjamin keamanan sekitar perpustakaan. Sistem keamanan merupakan hal yang sangat berperan penting dalam menjaga koleksi bahan perpustakaan. Beberapa contoh alat yang disebutkan diatas sangat disarankan untuk ada di setiap perpustakaan. Sayangnya, Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran hanya memiliki kamera pengintai atau CCTV untuk melakukan keamanan di sekitar perpustakaan, karena SDM yang belum memadai dan keterbatasan dana untuk membeli alat-alat keamanan tersebut. Upaya yang sudah dilakukan perpustakaan untuk keamanan dilakukan pada layanan sirkulasi. Layanan sirkulasi mencatat dan mendeteksi pemustaka yang dapat meminjam atau sekedar membaca buku saja. Jika pemustaka meminjam, akan diberikan waktu hanya 3 (tiga) hari, setelah lewat dari estimasi waktu dan buku belum dikembalikan maka ia akan dihubungi oleh pihak perpustakaan dan dikenakan denda. Disisi lain, desain gedung perpustakaan dan tata ruang perpustakaan perlu diperhatikan. Desain gedung dan tata ruang perpustakaan berfungsi untuk menampung dan menyimpan koleksi, juga sebagai tempat pelaksanaan kegiatan perpustakaan. Perpustakaan perlu membuat ruangan khusus untuk menunjang kegiatan preservasi, restorasi, dan konservasi agar kegiatan ini dapat berjalan dengan baik. Desain gedung perpustakaan yang dinilai sesuai dengan kriteria dalam melakukan kegiatan preservasi kuratif mencegah kerusakan bahan pustaka, yaitu: (1) Gedung dibuat dengan bahan tahan api, yaitu penggunaan jendela dan pintu tahan api. Posisi jendela berada di sisi utara dan selatan agar tidak terkena sinar matahari secara langsung. (2) Gedung penyimpanan terletak di daerah yang memiliki tanah tidak labil, tidak rawan bencana, dan tidak dekat dengan laut. Kondisi gedung tidak dekat dengan instansi militer, lapangan terbang, dan rel kereta api. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah memiliki saluran udara yang baik, melengkapi dengan alat pemadam kebakaran, menghidupkan AC 24 jam, serta rak bahan pustaka harus kuat untuk menahan banyaknya bahan pustaka yang disimpan agar tidak mudah rusak dan dibuat juga dengan kualitas tahan api. Desain gedung dan bangunan memerlukan pemeliharaan. Kontrol gedung minimal 2 (dua) kali setahun. Kontrol dalam bangunan untuk mengetahui keberadaan jamur, serangga, tikus, bagian yang bocor, retakan dinding atau atap, cat yang terkelupas, dan lain-lain. Diharapkan ruangan penyimpanan dapat terisolasi dengan baik dan keadaan selalu bersih, terbebas dari debu, kotoran, hama, atau serangga yang dapat merusak bahan pustaka. Perlu dicek juga bagian kusen jendela bagian bawah, lemari penyimpanan, rak, box, laci, tempat yang gelap dan terpencil, untuk melihat adanya tanda-tanda serangan hama. Perpustakaan merupakan art, terkait hal ini, perpustakaan bukan sekedar tempat membaca, melainkan sebagai tempat untuk menunjukkan budaya setempat. Semakin tinggi budaya yang ada, maka bangunan atau gedungnya pun memiliki nilai budaya yang tinggi. Gedung perpustakaan bisa dijadikan sebagai cerminan budaya masyarakat sekitar, bagaimana desain gedung sebuah perpustakaan dibuat bisa menunjukkan pentingnya kebudayaan di sekitarnya. Desain gedung perpustakaan harus memperhatikan pencahayaan (lighting), keluwesan (flexibility), keamanan (security), dan perluasan bangunan (epandability). Kapasitas fungsi ruangan yang memadai yaitu menyediakan 45% untuk area koleksi, area pengguna sebesar 25%, area staff 20%, area lain-lain 10%. Luas bangunan kurang lebih sekitar 1.000 m2 diisi dengan kurang lebih 300 rak koleksi dan 108 tempat duduk. Jenis-jenis kebutuhan tersebut termasuk area pengguna sekitar 1,6 m2 untuk ruangan pengguna, ruang staff perpustakaan, dan pimpinan. Area khusus digunakan sebagai tempat multimedia dan area lain biasa digunakan untuk selasar, mushola, gedung, dan lain-lain. Mengapa perlu mengikuti ketentuan perpustakaan yang memadai? Karena desain gedung akan berpengaruh pada kenyamanan pemustaka yang datang ke perpustakaan. Mulai dari pencahayaan, jika terlalu gelap akan membuat mata menjadi sakit dan jika terlalu terang juga bisa membuat penglihatan menjadi sakit. Pemilihan warna cat tembok pun dapat berpengaruh pada kenyamanan seseorang dalam membaca. Diharapkan pemilihan cat untuk desain gedung perpustakaan menggunakan warna-warna netral yang tidak terlalu mencolok dan tidak terlalu gelap. Desain gedung perpustakaan harus memperhatikan SOP yang dibuat, yaitu menggunakan unsur atau tema budaya, menggunakan bahan-bahan tahan api, desain yang tidak terlalu monoton namun juga tidak terlalu mencolok. Desain yang dipilih Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran belum sepenuhnya memenuhi kriteria yang berlaku. Ruangan baca dan area rak koleksi menjadi satu dan terlalu sempit jika digunakan oleh banyak orang. Pencahayaan di perpustakaan terbilang redup dan kurang terang jika untuk membaca. Namun, pemilihan warna cat dan fasilitas cukup memadai dengan kriteria yang sudah ditentukan sebelumnya.

Conclusion

Pelestarian (preservation) mencakup semua aspek usaha melestarikan bahan pustaka, keuangan, metode dan teknik, serta penyimpanannya. Konservasi merupakan proses pengolahan suatu tempat atau ruangan maupun objek agar makna kultural yang terkandung didalamnya terpelihara dengan baik. Kegiatan preservasi dan konservasi yang dilakukan perpustakaan semakin menarik perhatian masyarakat yang datang. Tujuan dan fungsi kegiatan preservasi untuk memperpanjang usia bahan pustaka dan informasi yang ada di dalamnya. Tujuan kegiatan konservasi untuk melestarikan bahan pustaka dan kandungan informasinya. Keamanan perpustakaan menjadi tanggungjawab perpustakaan dan pemustaka. Beberapa aspek yang harus ada di perpustakaan untuk menjaga koleksi bahan pustaka juga harus diperhatikan. Desain gedung juga menjadi perhatian dalam membuat konsep gedung. Mulai dari perencanaan sampai aspek didalamnya tercapai, seperti: pencahayaan, fasilitas, luas ruangan, luas gedung, dan lain-lain. Hal ini membuat pemustaka merasa nyaman berada di perpustakaan dan ingin terus mengunjungi perpustakaan tersebut. Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dari segi keamanan sudah memenuhi kriteria sebuah perpustakaan, yaitu tersedianya alat pemadam api dan CCTV. Namun, sebenarnya hal itu belum cukup untuk perpustakaan perguruan tinggi. Pengelola perpustakaan bisa menambahkan beberapa aspek keamanan untuk perbaikan perpustakaan dimasa yang akan datang. Desain gedung yang dipilih oleh perpustakaan terbilang nyaman, namun sayangnya pencahayaan yang ada didalamnya masih kurang. Ruangan yang cukup sempit juga menjadi masalah bagi pemustaka. Rak koleksi bahan pustaka menjadi satu dengan ruang baca, jika banyak pemustaka yang datang secara bersamaan ruangan terasa semakin sempit. Pengelola perpustakaan harus memperbaiki pencahayaan, meningkatkan keamanan, dan memperluas ruangan yang ada agar pemustaka yang datang bisa lebih nyaman dan ingin terus berkunjung ke Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.