Evaluasi Preservasi Koleksi di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran; Universitas Padjadjaran
Abstrak
Preservasi bahan pustaka merupakan kegiatan penting di perpustakaan.Tanpa preservasi, koleksi bahan pustaka menjadikurang terawat dan jika dibiarkan akan rusak. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui layanan preservasi yang dilakukan Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran.Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran belum menerapkan sistem preservasi secara menyeluruh, akan tetapi sudah melakukan perbaikan-perbaikan sederhana. Preservasi, konservasi, dan restorasi bahan pustaka sangat dibutuhkan perpustakaan. Perlu peran pustakawan dalam melaksanakan dan mengedukasi pemustaka. Tanpa adanya preservasi, konservasi, dan restorasi, koleksi bahan pustaka di perpustakaan lambat laun akan mengalami kerusakan dan menjadi tidak layak digunakan lagi.
Abstract
Evaluation of Collection Preservation in the Library of the Faculty of Animal Science, Padjadjaran University. Preservation of library materials is an important activity in libraries. Without preservation, the collection of library materials becomes poorly maintained, and if left unchecked, it will be damaged. This study aimed to determine the preservation services the Library of the Faculty of Animal Science, Padjadjaran University, carried out. This research is descriptive research with a qualitative approach. The data collection method uses interviews, observation, and literature study techniques. The results showed that the Library of the Faculty of Animal Science, Padjadjaran University, has not implemented a comprehensive preservation system but has made simple improvements. Libraries need preservation, conservation, and restoration of library materials. It requires the role of librarians in implementing and educating users. Without preservation, protection, and repair, the collection of library materials in the library will gradually suffer damage and become unfit for use again
Keywords:
preservasi
· koleksi
· perpustakaan
Introduction
Perpustakaan adalah lembaga informasi yang sangat dibutuhkan sebuah perguruan tinggi. Perpustakaan idealnya menyediakan bahan pustaka yang berkualitas sebagai sumber informasi yang aktual dalam proses belajar mengajar. Hal ini sejalan dengan pendapat bahwa perpustakaan memiliki peran penting di bidang pendidikan dan sumber informasi (Yusup & Saepudin, 2017). Jika mendengar kata perpustakaan, bayangan pertama yang muncul adalah sebuah ruangan atau gedung yang berisi buku-buku. Penggambaran tersebut tidak sepenuhnya salah karena perpustakaan adalah tempat penyimpanan buku. Tetapi apabila dikaji lebih dalam lagi, perpustakaan sebagai tempat untuk mengelola dan menyimpan buku-buku. Kata perpustakaan memiliki banyak pengertian, diantaranya, sebagai tempat untuk mengatur, mengelola, menyimpan dan mengumpulkan koleksi bahan pustaka secara sistematis untuk dijadikan sebagai sumber informasi dan sarana untuk belajar (Darmono, 2021:2). Mengacu pada definisi tersebut, dapat dikatakan bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan yang memiliki koleksi buku-buku yang sudah disusun rapi dan sesuai kategori masing-masing guna memudahkan pemustaka mencari sumber informasi yang akan dipelajari atau sekedar dibaca, tidak menjualbelikan, dan dikelola oleh pustakawan. Ada beberapa jenis perpustakaan, yaitu: perpustakaan umum, perpustakaan nasional, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus, dan perpustakaan sekolah. Perpustakaan perguruan tinggi merupakan unit terpenting di perguruan tinggi, karena tanpa perpustakaan, proses belajar mengajar akan terganggu. Perpustakaan perguruan tinggi juga memiliki fungsi edukasi, informasi, riset, rekreasi, dan deposit (Luki Wijayanti, 2004). Lazimnya suatu perpus-takaan menyediakan berbagai macam layanan seperti: layanan informasi, layanan sirkulasi, layanan referensi, dan layanan preservasi. Preservasi atau pelestarian merupakan program atau kegiatan untuk memelihara, mengawetkan, melindungi, dan menjaga koleksi-koleksi buku yang berada di perpustakaan (Haryanto, 2015). Secara istilah, preservasi adalah suatu proses untuk melindungi atau memelihara bentuk fisik koleksi pustaka dari kerusakan yang terjadi dari dalam (intrinsik) dan dari luar (ekstrinsik). Faktor kerusakan instrinsik, yaitu kerusakan yang berasal dari dalam, berasal dari faktor fisika, kimia, dan biota. Kerusakan fisika, misalnya disebabkan oleh cahaya yang masuk melalui jendela dan lampu. Cahaya ini dapat membuat kertas menguning. Faktor kimia dapat berasal dari bahan kertas yang digunakan buku tersebut, polusi udara dapat mengubah warna dan membuat kertas rapuh, tinta dapat merusak atau melubangi kertas karena kandungan asam dalam tinta. Faktor kerusakan yang berasal dari luar atau ekstrinsik terjadi karena kesalahan dalam menangani koleksi, seperti melipat kertas dan memfotokopi yang menyebabkan kertas akan menempel. Bencana alam juga menjadi salah satu sebab yang sulit dihindari, oleh karena ituperpustakaan perlu mengidentifikasi potensi bencana dengan pelatihan secara berkala dan melakukan proses penanggulangan bencana. Vandalisme, yaitu tindakan merusak koleksi buku juga menjadi penyebab kerusakan ekstrinsik, seperti merobek kertas, mencoret, melipat kertas dan sebagainya juga sering dilakukan pemustaka. Lembaga informasi seperti museum, pusat arsip, dan perpustakaan memerlukan tindakan preservasi secara berkala agar dapat menjaga kualitas koleksi-koleksi dan bahan pustaka yang dimiliki. Pentingnya preservasi dalam lembaga informasi berkaitan dengan mempertahankan bahan pustaka agar tetap terjaga isi maupun bentuknya. Penelitian ini mengenai preservasi di perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran. Adapun tujuan penelitian adalah untuk mengetahui layanan preservasi yang dilakukan di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, terutama yang berkaitan dengan pendidikan atau pemahaman pustakawan terhadap preservasi, dan bagaimana tindakan pustakawan dalam memberi edukasi kepada pengguna tentang cara menjaga bahan pustaka.
Method
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode pengumpulan data menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi literatur. Peneliti melakukan observasi secara langsung di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran untuk memperoleh hasil observasi berupa fakta yang sesungguhnya. Metode observasi merupakan sebuah proses penelitian dengan mengamati situasi dan kondisi suatu objek yang akan diteliti secara mendalam (Sugiyono, 2016). Metode deskriptif dilakukan dengan cara mencari informasi yang berhubungan dengan permasalahan dan menjelaskan beberapa data/ informasi yang telah diperoleh. Studi literatur merupakan kegiatan mengumpulkan data-data ataupun teori-teori yang relevan dan efisien untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan. Datadata atau teori-teori yang akan dikumpulkan bisa berupa jurnal, buku, artikel, dan lain-lain. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara langsung kepada pengelola perpustakaan. Selain melakukan wawancara, peneliti juga melakukan observasi secara tidak terstruktur, yaitu obervasi dengan mengamati perkembangan langsung di lapangan. Setelah melakukan pengumpulan data, maka data tersebut dianalisis dengan memilih bagian yang penting kemudian disimpulkan menjadi laporan penelitian.
Result & Discussion
Preservasi atau pelestarian mencakup unsurunsur pengelolaan dan keuangan, termasuk cara menyimpan dan alat bantu, tenaga kerja atau staf yang dibutuhkan, kebijakan, teknik dan metode yang dilakukan untuk melestarikan dan menjaga koleksi, arsip, serta informasi. Preservasi memiliki tujuan utama sebagai langkah pencegahan. Selain tindakan pelestarian, perlu juga dilakukan pengawetan atau konservasi. Konservasi, berasal dari bahasa Inggris “conservation”, artinya upaya untuk menjaga dan memelihara yang dimiliki, atau diistilahkan sebagai perlindungan. Konservasi dimaksudkan untuk melindungi bahan pustaka dan arsip dari kerusakan dan kehancuran dengan metode dan teknik tertentu yang dijalankan oleh petugas teknis. Konservasi bertujuan untuk memelihara dan melindungi bahan pustaka dan arsip berharga agar tidak hancur, berubah atau punah, serta untuk meningkatkan kesadaran dan menjaga koleksi bahan pustaka dan arsip untuk digunakan oleh generasi di masa yang akan datang. Selain melakukan tindakan pelestarian dan pemeliharaan, bahan pustaka yang sudah mulai rusak juga harus diperbaiki. Tindakan perbaikan ini sering disebut dengan istilah restorasi. Tindakan restorasi dilakukan sebagai upaya mengembalikan, memulihkan, dan memperbaiki sesuatu ke kondisi dan bentuk semula (Fatmawati, 2018). Tujuan utama restorasi yaitu untuk mengembalikan atau memulihkan sesuatu hal sehingga dapat kembali kekeadaan awal benda tersebut. Restorasi juga dapat diartikan sebagai teknik dan pertimbangan yang digunakan oleh petugas teknis untuk memperbaiki koleksi bahan pustaka dan arsip yang rusak akibat waktu, pemakaian, atau faktor lainnya. Setelah mengetahui pengertian kegiatan melestarikan (preservasi), memelihara (konservasi), dan pemulihan atau pengembalian (restorasi) koleksi bahan pustaka, seorang petugas atau staff perpustakaan harus memiliki dasar pengetahuan dalam menjaga kelestarian bahan pustaka. Dalam suatu lembaga informasi atau perpustakaan, setiap petugas harus mengerti dan memahami kegiatan preservasi yang akan dilakukan kedepannya (Dila, 2020). Setiap staf perpustakaan memiliki tugas masing-masing dalam melayani pemustaka. Seperti halnya pustakawan, ada yang bertugas melayani dibagian referensi, ada juga yang dibagian layanan sirkulasi, begitu pula untuk layanan preservasi. Dari hasil penelitian diketahui bahwa Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran belum menjalankan kegiatan preservasi bahan pustaka. Tindakan yang dilakukan oleh pustakawan sebatas memperbaiki sampulbukubuku yang rusak dengan cara mengelem dan menyampulbuku yang rusak. Kegiatan yang berhubungan dengan preservasi yang lainnya adalah tindakan preventif dengan memperhatikan lokasi penyimpanan koleksi bahan pustaka dan menaruhnya di tempat yang strategis, mengatur suhu ruangan yang sesuai agar buku-buku yang ada tidak mengalami kerusakan, menata letak rak buku jauh dari jendela dan lampu agar tidak merusak koleksi buku-buku yang ada. Kegiatan preservasi lain yang tidak berkaitan dengan bahan pustaka adalah memperbaiki sampul yang rusakagar dapat digunakan pemustaka saat membaca, dengan menjahit atau mengganti sampul tersebut. Peran pustakawan dalam memberikan informasi dan menularkan pengetahuannya tentang preservasi bahan pustaka sangatlah penting. Pustakawan dapat memberi edukasi pada pemustaka yang datang ke perpustakaan agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak bahan pustaka, seperti: melipat bagian atas kertas untuk menandai halaman yang terakhir dibaca, mencoret buku dengan pensil atau menandai dengan stabilo agar mudah diingat, dan tindakan merusak lainnya. Jika pustakawan tidak mempunyai bekal pengetahuan tentang reservasi maka dapat berakibat fatal dan merugikan pihak perpustakaan. Oleh karena itu, diperlukan edukasi tentang cara merawat dan menjaga bahan pustaka dengan baik dan benar. Kegiatan ini dapat dilakukan dengan mengadakan pelatihan tentang preservasi bahan pustaka yang dilaksanakan setiap minggu atau bulan, bisa juga dengan mengadakan seminar dan workshop yang berkaitan dengan reservasi bahan pustaka. Pendidikan dan pemahaman preservasi juga dapat dilakukan dengan membangun kesadaran dari diri sendiri dan orang lain, selain pengetahuan teknis penanganan preservasi dan konservasi. Perpustakaan juga bisaberperan aktif sebagai penyedia, jembatan, danpemberi motivasi bagi pemustaka yang ingin mencari, memanfaatkan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalamannya (Endarti, 2022:24). Pustakawan di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran berjumlah lima orang, tiga diantaranya merupakan pustakawan umum dan dua orang lainnya adalah guru fungsional. Kendala yang dirasakan oleh pustakawan berkaitan dengan kegiatan reservasi adalah masalah biaya yang tidak mencukupi, serta kurangnya sumber daya manusia yang tersedia untuk menangani kegiatan preservasi. Meskipun ada kendala, pustakawan di Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran tetap melakukan preservasi dengan baik dan dengan aturan yang sudah ditentukan. Pengetahuan pustakawan tentang preservasi juga sudah cukup memadai. Dengan sumber daya manusia yang cukup memadai, tugas pustakawan selanjutnya yaitu menyebarluaskan informasi atau pengetahuan tentang pencegahan kerusakan bahan pustaka yang dimilikinya ke pemustaka. Sanksi bagi pemustaka yang merusakkan koleksi juga perlu diberlakukan. Selain itu, dapat juga dipajang poster yang berisi himbauan maupun larangan untuk tidak merusak bahan pustaka milik perpustakaan beserta sanksinya.
Conclusion
Perpustakaan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran belum menerapkan layanan preservasi secara menyeluruh, tetapi sudah melakukan preservasi bahan pustaka secara sederhana. Preservasi, konservasi, dan restorasi bahan pustaka sangat dibutuhkan perpustakaan. Perlu peran pustakawan dalam melaksanakan dan mengedukasi pemustaka. Tanpa adanya preservasi, konservasi, dan restorasi koleksi bahan pustaka di perpustakaan lambat laun akan mengalami kerusakan dan menjadi tidak layak digunakan lagi. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan melestarikan, memelihara, merawat, dan menjaga koleksi bahan pustaka.