Kembali
16
1
2024 Media Sains Informasi dan Perpustakaan Vol 4 · 1 ISSN 2808-4659

MENGHILANGKAN MINESET MARGINALISME PROFESI ARSIPARIS

Universitas Pendidikan Ganesha

Abstrak

Para arsiparis yang melaksanakan tugasnya masih memandang pekerjaan sebagai sebuah profesi yang kurang populer, bukan merupakan profesi prioritas yang memiliki prospek cerah. Para Arsiparis Tidak merasa bangga dengan profesinya bahkan cenderung memiliki mineset marginal terhadap profesi arsiparis. Situasi ini dapat memperlambat usaha dalam perbaikan pengelolaan dan peningkatan pelayanan kearsipan. Berhubungan dengan hal tersebut, maka para arsiparis itu sendiri, maupun dari berbagai kalangan terdekat berusaha sebaik mungkin untuk menghilangkan mineset regionalisme sebagai arsiparis. Upaya tersebut antara lain membangun citra positif arsiparis dan penguatan keterampilan arsiparis. Berkat upaya tersebut, para arsiparis akhirnya tidak malu menjadi arsiparis. Mulai saat ini para arsiparisakanbangga dan percaya diri menyebut dirinya sebagai arsiparis.

Abstract

The archivists who carry out their duties still view their work as a profession that is less popular, not a priority profession that has bright prospects. Archivists do not feel proud of their profession and even tend to have a marginal mineset towards the archivist profession. This situation can slow down efforts to improve management and increase archival services. In connection with this, the archivists themselves, aswell as those from various circles close to them, are trying their best to eliminate the mineset of marginalist archivists. These efforts include building a positive image of archivists and strengthening archivist skills. Thanks to these efforts, archivists are finally not ashamed of being archivists. From now on, archivists will be proud and confident to call themselves archivists
Keywords: Mineset Marginalisme · arsiparis · citra diri · kualifikasi

Introduction

Profesi arsiparis menjadi salah satu profesi yang jarang diketahui oleh banyak orang. Meskipun dalam beberapa bidang sudah sering digunakan, tetapi banyak orang yang belum mengetahui tentang apa yang dimaksud dari arsiparis. Padahal, arsiparis bisa dikatakan sebagai salah satu profesi yang memiliki tugas cukup penting dalam beberapa instansi negara hingga lembaga swasta. Citra dan anggapan masyarakat luas pada karya kearsipan (kinerja arsiparis)masih belum bisa sepenuhnya dianggap penting. Masyarakat umum memandang profesi arsiparis tidak mempunyai prospek yang begitu bagus, yang bekerja hanya untuk memelihara buku, dokumen, dan manuskrip. Disaat yang sama, banyak arsiparis yang masih menganggap profesi arsiparis merupakan profesi yang tidak populer, bukan merupakan profesi prioritas yang memiliki prospek cerah. Para arsiparis tidak merasa bangga dengan profesinya bahkan cenderung memiliki mineset marginal terhadap profesi arsiparis. Untuk meningkatkan pengelolaan data khususnya layanan data, paradigma kearsipan ini tentunya harus dihilangkan secepatnya. Seorang arsiparis tidak dapat melaksanakan tugasnya secara profesional apabila arsiparis itu sendiri tidak bangga dan bahagia terhadap profesi yang mereka kerjakan. Berkaitan dengan hal ini, tentunya harus dilakukan usaha serius untuk menghapuskan budaya malu di kalangan arsiparis dan meningkatkan citra diri arsiparis dari berbagai sudut pandang. Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan tersebut timbul permasalahan yaitu (1) mengapa malu menjadi arsiparis ? (2) bagaimana cara membangun citra diri arsiparis ? dan (3) bagaimanamembangun kualifikasi arsiparis ?, Berdasarkan pada masalah tersebut, maka tujuan penulisan makalah ini yaitu(1) untuk mengetahui mengapa malu sebagai arsiparis, (2) untuk mengetahui bagaimana membanguncitradiri arsiparis, dan (3) untuk mengetahui bagaimana membangun kualifikasi arsiparis.

Method

Penulisan makalah ini menggunakan metode pustaka atau kajian pustaka. Metode Pustaka Ini adalah metode yang dilakukan dengan mempelajari, mengkaji, dan mengumpulkan data dari bahan pustaka yang berhubungan dengan alat, baik berupa buku maupun dari sumber informasi lainnya.

Discussion

2.1 Malu Menjadi Arsiparis Pemerintah mengakui profesi arsiparis sebagai tenaga arsiparis sesuai Surat Keputusan Permenpan No. 48 Tahun 2014 tentang Jabatan Fungsional Arsiparis yang telah diubah dengan Permenpan & RB No. 13 Tahun 2016. Pekerjaan seorang Arsiparis sebenarnya mempunyai banyak keuntungan, selain mendapat tambahan tunjangan fungsional, kenaikan pangkat dan jabatan sesuai gaji, kesempatan mengikuti kegiatan penelitian di bidang kearsipan dan kegiatan penunjang kearsipan dan tugas kearsipan lainnya. Namun banyak arsiparis yang masih mempunyai mineset marginalisme dengan profesinya. Mengapa harus malu mengakui diri Anda Menjadi arsiparis di depan umum? Jika dicermati kondisi di lapangan, ada dua alasan yang menyebabkan para arsiparis merasa malu atau rendah diri jika disebut arsiparis. Pertama, citra diri yang diciptakan oleh arsiparis. Para arsiparis menganggap tidak memiliki gengsi dalam profesinya, tidak percaya diri sebagai arsiparis, “buang-buang tenaga”, gelar arsiparis tidak populer, minder, dan yang lainnya. Kedua, menciptakan budaya stigma. Budaya yang memandang pekerjaan arsiparis tidakmenarik, monoton (rutin), membosankan dan melelahkan. Bahkan ada pula yang mengatakan bahwa pekerjaan kearsipan merupakan tempat dimana para pekerja (pegawai) memiliki kinerja yang buruk dan merupakan tempat kerja yang “kering” dalam hal kesejahteraan. Situasi ini tidak boleh berkelanjutan dan terkekang dengan citra “negatif” arsiparis. Dalam Hal ini, diperlukan inovasi baru dan usaha serius bagi para arsiparis yang berupa kemauan, tekad, dan motivasi yang kuat untuk menghapuskan budaya malu di kalangan arsiparis. Sudah Saatnya Para arsiparis membuka diri dan siap mengatakan “Saya seorang arsiparis”. Untuk memahami hal tersebut tentu saja citra diri para arsiparis harus ditingkatkan. Peningkatan citra diri arsiparis tidak dapat dilaksanakan secara spontan dalam waktu yang relatif singkat, namun bisa dilaksanakan dengan bermacam cara untuk mengembangkan citra diri yang berkualitas agar menjadi arsiparis unggul, profesional, dan berkompeten. 2.2 Pembentukan citra diri arsiparis Secara sederhana, citra diri merupakan gambaran umum kita terhadap diri sendiri dan pemikiran maupun penilaian orang lain terhadap diri kita. Dengan kata lain, cara orang lain memahami kita sebenarnya ditentukan oleh sikap, tindakan, dan ekspresi kita. Apapun Bentuk Yang kita lalui dalam proses waktu, kita bangkit di hadapan publik (masyarakat umum). Sedikit demi sedikit, kesan dan image tertentu terbentuk di masyarakat. Apa yang mereka lihat dan dengar tentang kita adalah menjadi faktor yang membentuk citra diri kita di benak mereka. Dengan Kata lain, citra adalah gambaran yang tercipta dari kesadaran masyarakat dalam waktu tertentu dari segala informasi tentang kita yang sampai ke masyarakat. Masalah kita adalah menciptakan citra diri positif yang diinginkan secara sistematis dan berkelanjutan. Dalam kaitan ini mesti ditegaskan bahwa arsiparis dideskripsikan sebagai profesi yang berhak mendampingi profesi lain, seperti dokter, jaksa, guru, dan lain-lain. Di era informasi saat ini, Citra tersebut sejatinya perlu dibangun guna menumbuhkan kepercayaan masyarakat bahwa profesi arsiparis memiliki peranan penting dan vital sebagai mitra profesi lain . Selain itu, arsiparis sendiri harus menyadari pentingnya profesinya dan mengoptimalkan segala potensi yang dimiliki serta mampu membentuk citra dirinya. Dengan demikian, pekerjaan kearsipan akan menjadi profesi yang mulia dan dijunjung tinggi di masa yang akan datang. Jadi, seseorang yang berprofesi sebagai arsiparis perlu memiliki sebuah karakter dengan pribadi yang kuat. Pasalnya, arsiparis merupakan pihak yang mengembang tanggung jawab terkait pengelolaan kearsipan. Tidak hanya itu, arsiparis sendiri juga harus mampu melaksanakan tugas dan perannya dengan semangat integritas yang tinggi dan penuh tanggung jawab. Hal ini dikarenakan arsiparis adalah pihak yang memiliki peran penting dalam melakukan pengelolaan informasi, penjaga, dan pemelihara warisan budaya nasional guna kepentingan generasi sekarang dan masa yang akan datang. Untuk menciptakan citra diri arsiparis yang positif, tentunya perlu menghadirkan secara sistematis seluruh unsur lembaga kearsipan kepada masyarakat, sehingga masyarakat dapat memperoleh gambaran utuh mengenai kemampuan batin seluruh arsiparis. Misalnya saja pada penampilan public figure kita. Kita perlu mempromosikan para arsiparis yang “layak dipamerkan” sebagai duta kearsipan. Masyarakat perlu mengetahui bahwa lembaga kearsipan juga mempunyai banyak pengelola sumber data dan pengelola objek data serta tenaga ahli (data expert) di berbagai bidang. Menciptakan citra diri positif sebagai arsiparis bisa dicapai melalui meningkatkan kualitas pelatihan,pengetahuan, keterampilan, kemampuan, kinerja (penampilan) dan tentunya hal terpenting meningkatkan harga diri. Para arsiparis tidak boleh dilihat hanya sebagai pelayan buku, dokumen, manuskrip, namun harus dilihat sebagai mitra kerja (yang diakui) yang saling membutuhkan dan menghargai. Oleh karena itu kedudukan pengguna dan arsiparis adalah setara danseimbang, bukan lagi hubungan antara pengguna dan pelayan, melainkan hubungan antar mitra yang dapat saling mendukung dalam memenuhi kebutuhan pengguna. 2.3 Membangun Kualifikasi Arsiparis Kualifikasi adalah seperangkat keterampilan dan keterampilan pendukung yang benar-benar kita miliki. Dengan cara ini kita bisa mewujudkan keinginan dan kemauan kita. Faktanya, orang akan menilai kita berdasarkan apa yang kita inginkan dan apa yang kita pikirkan. Mereka menilai kita berdasarkan apa yang bisa kita lakukan atau kemampuan kita bertindak (action power). Artinya, mereka tidak peduli dengan visi dan misi yang kami pikirkan. Namun, pertanyaannya adalah bagaimana kita bisa mencapai apa yang kita inginkan. Inilah logika masyarakat kita. Inilah Faktor Terpenting yang membangun kepercayaan masyarakat terhadap kami. Dalam Konteks ini, perlu dilakukan upaya untuk mengembangkan ilmunya. Pengetahuan kita terdiri dari dua hal, yaitu hard skill dan soft skill. Hard skill lebih merupakan pencapaian ilmiah yang mengacu pada kemampuan teknis dan ketelitian di bidang kearsipan, sedangkan soft skill adalah prestasi psikologis yang berkaitan dengan pemikiran strategis sebagai pembuat kebijakan, visi, perencanaan strategis, keterampilan kepemimpinan, komunikasi publik dan banyak lagi. Jika keahlian dikembangkan berdasarkan pengembangan keterampilan internal yang berkelanjutan maka efektivitas arsiparis akan meningkat. Melalui upaya ini, kita juga dapat memperoleh kepercayaan dan simpati dari masyarakat bahwa para arsiparis layak mendapat penghormatan dan pengakuan di masyarakat. Masyarakat mempunyai alasan kuat untuk“berharap banyak” kepada para arsiparis. Namun pembahasan mengenai kualifikasi ini tidak terlalu mengingkari integritas pribadi yang dilandasi oleh kekuatan moral. Itu sebabnya arsiparis mesti bisa melaksanakan beberapa hal terkait konstruksi. Pertama, dengan memperdalam pandangan makro terhadap permasalahan nasional. Hal ini dapat dilakukan dengan cara memperluas pengetahuan para arsiparis dalam berbagai disiplin ilmu, sumber sekunder seperti media, dan sumber sekunder seperti pemeran yang ada di lapangan. Hal ini menuntut para arsiparis untuk lebih banyak membaca bahan pustaka dan berinteraksi lebih luas. Kedua, peningkatan partisipasi arsiparis dalam bidang pendidikan, pengetahuan dan literasi sosial.Arsiparis harus berpartisipasi dalam pencapaian tujuan besar nasional, mulai dari pembahasan hingga operasional. Misalnya saja kemiskinan, buta huruf, minat membaca dan sebagainya. Partisipasi tersebut dapat berlangsung pada tataran debat publik, membantu negara dalam mengambil keputusan atau kebijakan publik, atau berpartisipasi sebagai partisipan secara langsung. Ketiga, tingkatkan keterampilan serta kemampuan Anda untuk mempengaruhi orang lain. Di zaman ini, terdapat dunia sistem online, dunia kolaborasi, dunia aliansi dan koalisi. Jangan Pernah Membayangkan arsiparis bisa berkembang dan bertahan hidup sendiri. Oleh karena itu, kemampuan dan pengetahuan para arsiparis harus dikembangkan guna mempengaruhi pihak lain, memperkuat jaringan dengan melobi berbagai kelompok, serta menciptakan akses yang kuat kepada para pengambil keputusan. Keempat, meningkatkan peran masyarakat arsiparis di bidang ekonomi, politik, atau teknologi informasi. Artinya, arsiparis mesti berspesialisasi. Para arsiparis yang memiliki keterampilan intelektual lebih banyak dapat dibentuk menjadi generalis yang secara ilmiah terlibat dalam banyak bidang ilmu. Namun, sebagian besar arsiparis tentunya harus memiliki satu departemen. Hal inilah yang membuat para arsiparis dikenal masyarakat.

Conclusion

Profesi arsiparis merupakan profesi yang diremehkan oleh sebagian besar masyarakat kita. Banyak arsiparis yang bingung dan malu untuk diterima menjadi arsiparis. Kondisi ini disebabkan oleh citra diri dan stigma budaya yang diciptakan oleh para arsiparis yang menganggap bahwa pekerjaan arsiparis tidak menarik, monoton, dan membosankan. Untuk menghilangkan mineset regionalisme di kalangan arsiparis, maka sangat penting bagi arsiparis untuk memiliki keinginan dan kemauan yang kuat untuk membentuk citra diri yang positif serta mengembangkan kompetensi berupa hard skill dan soft skill. Dengan upaya tersebut, citra arsiparis semakin bersinar dalam peradaban umat manusia dan sejajar dengan profesi lainnya, yang pada akhirnya kita melihat sebuah era di mana masyarakat saling bersaing untuk mendapatkan arsiparis. Akhirnya profesi arsiparis tidak lagi melihat atau mendengar bahwa arsiparis dipermalukan atau arsiparis direndahkan. Semoga! Dalam upaya meningkatkan kualitas diri arsiparis sebagai penyedia dan pelayanan informasi, maka disarankan agar para arsiparis agar menghilangkan mineset marginalisme menjadi arsiparis. Selain itu, disarankan agar para arsiparis selalu mengembangkan dan meningkatkan kemampuan, keahlian dan keterampilan bidang kearsiparisan serta disarankan kepada semua pihak yang terkait agar memotivasi dan mendukung kiprah arsiparis sebagai sebuah profesi yang memiliki masa depan yang cerah dan mulia.