Kembali
16
1
2022 Media Sains Informasi dan Perpustakaan Vol 2 · 1 ISSN 2808-4659

PERAN PERPUSTAKAAN DINAS KEARSIPAN DAN PERPUSTAKAAN PROVINSI JAWA TENGAH DALAM MENINGKATKAN MINAT BACA MASYARAKAT

Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah

Abstrak

Perpustakaan sebagai sarana belajar dan pembelajaran masyarakat serta sebagai institusi informasi dan ilmu pengetahuan memiliki peran dan tugas serta aktif dalam mengupayakan kecerdasan kehidupan bangsa. Dalam rangka meningkatkan kecerdasan bangsa perlu ditumbuhkan budaya gemar membaca melalui pengembangan dan pendayagunaan perpustakaan sebagai sumber informasi yang berkualitatif. Pembudayaan kegemaran membaca dilakukan melalui keluarga, satuan pendidikan dan masyarakat. Untuk peningkatan pembudayaan minat baca Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah untuk memotivasi dan mendorong peningkatan minat baca dengan menyelenggarakan kegiatan di bidang perpustakaan serta mempromosikan keberadaan perpustakaan dan kegiatannya untuk menarik masyarakat dalam mencari informasi serta dalam peningkatan kesejahteraan melalui perpustakaan.

Abstract

Libraries as a means of learning and community learning as well as information and science institutions have roles and duties and are active in seeking the intelligence of the nation's life. In order to increase the nation's intelligence, it is necessary to cultivate a culture of reading fondness through the development and utilization of libraries as a source of quality information. Cultivating a love of reading is done through families, educational units and the community. To increase the cultivation of interest in reading, the Office of Archives and Libraries of Central Java Province to motivate and encourage increased interest in reading by organizing activities in the library sector and promoting the existence of libraries and their activities to attract people to seek information and improve welfare through libraries.
Keywords: minat baca · perpustakaan · promosi

Introduction

Peradaban suatu negara atau daerah ini baik negara maju atau negara sedang berkembang, minat membaca sangat memegang peranan penting. Untuk meningkatkan kualitas diri suatu banyak bisa dilihat dari sebanyak apa mereka menggunakan waktu untuk membaca. Sayang Minat baca masyarakat Indonesia masih rendah dibanding dengan negara tetangga. Data terakhir Badan Pusat Statistik (BPS), 91.68 persen masyarakat Indonesia lebih menyukai menonton televisi. Sementara masyarakat yang memiliki minat membaca hanya 17 persen. Padahal di Amerika misalnya dalam satu tahun rata-rata warganya membaca 20 hingga 50 buku per tahun dan Jepang 20 hingga 30 buku per tahun. (Republika 13 Mei 2015). Salah satu cara meningkatkan minat baca, pemerintah harus mengembangkan pembelajaran dengan meningkatkan fasilitas perpustakaan. Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak dan /atau karya rekam secara professional dengan system yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka (pasal 1 ayat 1). Selanjutnya perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. (Pasal 4). Sebagai institusi pelayanan publik yang memiliki kewajiban untuk meningkatkan kecerdasan bangsa sesuaI dengan pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 serta sesuai visi Perpustakaan Nasional yaitu “Terwujudnya Indonesia Cerdas melalui Gemar Membaca dengan Memperdayakan Perpustakaan”. Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah berkomitmen dalam program-programnya dalam rangka peningkatan minat baca khususnya di bidang Pengembangan Perpustakaan. Program Pembangunan di Jawa Tengah sejalan dengan kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan yang selalu mendukung setiap kegiatan yang terkait literasi di Jawa Tengah dan gerakan gemar membaca baik yang diselenggarakan dari Perpustakaan Nasional RI dan dari berbagai kabupaten/kota Jawa Tengah. Berbagai kegiatan yang telah diselenggarakan di Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi dalm mendukung gerakan minat baca di Jawa Tengah, di antaranya Lomba Penulisan Artikel Populer SLTA Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Lomba Perpustakaan Umum se Jawa Tengah, Sosialisasi Perpustakaan Sekolah, Publikasi Media Pustaka berupa Dialog Interaktif, Penerbitan Buletin Perpustakaan, pameran perpustakaan, Lomba Bercerita Siswa SD/MI Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Lomba Perpustakaan Sekolah Tingkat SLTA (SMA, Madrasah Aliyah, SMK) Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Lomba Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Tengah, Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah, Kegiatan Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan, serta selalu mendukung Safari Gemar Membaca dari Perpustakaan Nasional RI ke berbagai Kabupaten/Kota di Jawa Tengah. Berdasarkan Uraian pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang yang menjadi fokus kajian pustaka ini adalah sejauh mana peranan perpustakaan Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan minat baca masyarakat di wilayah Provinsi Jawa Tengah. Menurut Hurlock (1999) minat adalah adalah sumber motivasi yang akan mengarahkan seseorang pada apa yang mereka lakukan bila diberi kebebasan untuk memilihnya. Bila mereka melihat sesuatu itu mempunyai arti bagi dirinya, mereka akan tertarik terhadap sesuatu itu yang pada akhirnya nanti menimbulkan kepuasan pada dirinya. Kepuasan tersebut menjadi salah satu sumber kebahagiaan seseorang. Apabila seseorang sudah merasa bahagia, biasanya mereka akan lebih bisa mengenal kualitas di dalam dirinya yang mendorongnya untuk menjadi individu yang lebih baik lagi. Aiken (dalam Abadi , 2006), minat merupakan kesukaan terhadap kegiatan melebihi kegiatan lainnya. Kegiatan tersebut dipilih sendiri dan menyenangkan sehingga terbentuk suatu kebiasaan. Adapun sifat dari minat itu tetap (persistent) karena minat bisa memuaskan kebutuhan penting seseorang. Kebutuhan penting tersebut apabila ditinggalkan akan terasa tidak nyaman atau tidak menyenangkan. Witherington (1983) mengatakan minat adalah kesadaran seseorang, bahwa suatu obyek, seseorang, sesuatu soal atau suatu situasi yang bersangkut paut dengan dirinya. Tanpa kesadaran individu tidak akan pernah mempunyai minat terhadap sesuatu hal. Berdasar definisi Minat dengan dikaitkan Minat Baca adalah tingkat kesenangan yang kuat karena adanya dorongan yang kuat dari seseorang dalam melakukan sesuatu dalam hal ini membaca untuk memperoleh informasi yang dibutuhkan serta menimbulkan kesenangan pada diri sehingga bermanfaat bagi dirinya. Informasi untuk pengetahuan atau untuk meningkatkan kesejahteraan serta pengembangaan bagi diri seseorang. Pada dasarnya minat baca tumbuh dari dorongan diri pribadi masing-masing, mempunyai motivasi dan semangat dalam diri sendiri. Namun demikian faktor lingkungan juga mempengaruhi dalam motivasi menimbulkan minat baca seseorang. Menurut Mansyur (2018) minat baca adalah tingkat kesenangan yang kuat karena adanya dorongan yang timbul pada diri seseorang dalam melakukan segala sesuatu yang berkatan dengan kegiatan membaca untuk memperoleh informasi, serta menimbulkan kesenangan dan manfaat bagi dirinya. Pada dasarnya minat baca tumbuh keingintahuan dari diri pribadi masing-masing. Namum demikian factor dari lingkungan juga menjadi faktor utama tumbuh minat baca seseorang. Sehingga untuk meningkatkan minat baca diperlukan kesadaran pribadi individu serta lingkungan yang mendukung. Lingkungan di sini bisa dari lingkungan keluarga dan masyarakat pada umumnya, dalam hal ini perpustakaan yang sebagai penyedia informasi. Dalam meningkatkan minat baca masyarakat tidak terlepas dengan budaya baca tulis atau istilah keren sekaran budaya literasi. Budaya literasi memiliki peran penting dalam peningkatan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan hasil dari aktivitas membaca dan menulis. Pada umumnya negara-negara maju memiliki budaya literasi yang tinggi. Literasi yang tinggi ditandai dengan budaya baca tidak di lingkungan pendidikan formal saja tapi juga di masyarakat pada umumnya. Budaya baca sudah menjadi tradisi budaya dalam masyarakat. Bisa di Negara Jepang di sudut-sudut keramaian memanfaatkan waktu dengan membaca. Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan kemajuan Teknologi bisa diraih dengan Literasi membaca, tidak dengan hanya menyimak atau mendengarkan. Menurut Mansyur (2019) Kemampuan berliterasi masyarakat, khususnya para peserta didik di lembaga pendidikan formal, tentunya berkaitan erat dengan tuntutan ketrerampilan membaca yang diharapkan berujung pada kemampuan masyarakat dalam memahami dan mengolah informasi secara analitis, kritis dan reflektif. Peningkatan minat baca masyarakat dengan bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dengan membaca masyarakat mampu menyerap informasi dan ilmu pengetahuan. Dengan pengetahuan itu masyarakat akan berusaha meningkatkan kualitas hidup mereka. Selain itu minat baca juga mampu mencerdaskan bangsa. Bangsa dengan budaya literasi yang tinggi memiliki kecerdasan yang tinggi sehingga mempunyai kemampuan bangsa dalam berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikatif, sehingga dapat memenangi persaingan global. (Mansyur, 2019). Prinsip ini sejalan dengan cita-cita dan tujuan para pendiri bangsa yang tertera dalam pembukaan Undang-Undang Dasar Tahun 1945 untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.Kecerdasan suatu bangsa adalah suatu keadaan yang akan dicapai dari proses pendidikan. Dalam pembangunan jangka panjang pada tahun 2025 telah dicanangkan visi pembangunan yang lebih yang spesifikasi, yakni insan Indonesia yang cerdas dan kompetitif. Yakni cerdas spiritual, emosional, social, intelektual dan cerdas kinetiks. Peningkatan minat baca masyarakat mampu mendorong terciptanya Literasi Informasi. Literasi informasi sering disebut melek informasi merupakan tuntutan masyarakat yang maju. Adanya kesadaran masyarakat akan kebutuhan informasi seseorang, mengidentifikasi, pengaksesan secara efisien, mengevaluasi dan menggabungkan informasi secara legal ke dalam pengetahuan dan mengkomunikasikan informasi itu. Dengan adanya informasi itu akan mendukung perkembangan proses pembelajaran sepanjang hayat (long life education). Berbicara kualitas Peningkatan minat baca mampu mendorong peningkatan kualitas pendidikan. Pendidikan di negara kita masih ada kecenderungan mengejar status, mementingkan kuantitas dan kurang mementingkan kualitas. Setiap sekolah menargetkan 100 % lulus dengan berbagai menempuh berbaga cara untuk mencapai target tersebut. Demikian juga di Perguruan Tinggi belum begitu memperhatikan sejauh mana produk keilmuan mereka dalam berbentuk buku, artikel ilmiah yang bisa memberikan manfaat masyarakat banyak. Dengan kondisi seperti itu, maka indeks pembangunan masyarakat kita masih rendah disbanding dengan negara lain. Dengan berdasar data World Bank tahun 2018 menyebutkan kualitas Sumber Daya Manusia Indonesia berada di peringkat 87 dari 157 negara. Pilihan strategi pembangunan yang berfokus pada pembangunan SDM sangatlah tepat,mengingat Indonesia saat ini berada dalam periode Masyarakat Ekonomi Asean yang menuntuk SDM terampil dan unggul agar memiliki daya saing tinggi dan mampu berkontribusi dalam pembangungan bangsa. Sesuai pencanangan visi Presiden tahun 2019-2024 yang menegaskan bahwa SDM unggul Indonesia Maju. Visi Pembangunan SDM. Semua pihak dan berbagai pemangku kebijakan berusaha bersinergi berkontribusi agar dapat menwujudkan misi tersebut. Menurut Sugiarto, 2019 salah satu pondasi dasar menciptakan SDM Indonesia yang unggul adalah menumbuhkan budaya literasi dan minat baca di tengah masyarakat. Sehingga minat baca dan literasi informasi menjadi tuntutan tersendiri meningkatkan kualitas pendidikan. Orang pintar itu karena dari belajar, bukan sekedar masuk sekolah formal dengan deretan gelar. Menurut Nanda (2015) bahawa beberapa faktor yang mempengaruhi minat baca masyarakat ada tiga hal, yaitu : 1. Rasa Ingin tahu yang tinggi atas fakta, teori, prinsip, pengetahuan, dan informasi 2. Tersedianya bahan bacaan yang menarik, berkualitas dan beragam 3. Adanya keinginan untuk memperbarui informasi secara actual. Menurut Periyeti (2017) menjelaskan factor-faktor yang dapat meningkatkan minat pada umumnya dan minat baca pada khusunya yaitu: 1. Pembawaan, bila pembawaan minat mahasiswa atau siswa itu tinggi, maka mahasiswa itu akan memiliki dorongan dan semangat tinggi dalam melaksanakan kegiatan membaca, begitu pula sebaliknya. 2. Latihan dan kebiasaan, menumbuhkan latihan dan kebiasaan membaca dalam diri merupakan hal paling utama yang harus dilakukan para pembaca dan para pendidk. 3. Kebutuhan, adanya kebutuhan tentang sesuatu memungkinkan timbulnya perhatian terhadap obyek tersebut. 4. Kewajiban, membaca adalah sebuah perintah dari langit. Pentingnya membaca dalam pandangan Islam tergambar dalam ayat yang pertama kali turun kepada Rosululloh yaitu Iqra (bacalah). 5. Keadaan Jasmani. Sehat jasmani juga merupakan faktor yang dapat mempengaruhi minat baca. Jika kondisi jasmani tergangga kesehatannya maka secara otomatis yang bersangkutan tidak dapat beraktivitas banyak dan minat pun akan berkurang. 6. Suasana jiwa. Jiwa adalah daya hidup rohaniah yang bersifat abstrak yang menjadi penggerak dan pengatur bagi sekalian perbuatan—erbuatan. 7. Suasana sekitar. Suasana sekitar yang kondusif secara absolut diakui sebagai stimulus dalam meningkatkan minat secara umum. 8. Kuat tidaknya rangsangan, adanya rangsangan yang membangkitkan gairah dan memotivasi peserta didik menumbuhkan semangat dan antusias sehingga akan berpengaruh pada peningkatan minat seseorang. Minat baca seseorang bisa ditumbuhkan dalam lingkungan keluarga. Bila ayah, ibu dan orang-orang yang berada di sekitar anak gemar membaca maka akan membawa dampak yang nyata terhadap minat baca anak tersebut (Periyeti, 2017). Dalam Keluarga anak-anak membutuhkan contoh atau suri tauladan dari orangtuanya dalam kebiasaan membaca, sehingga lingkungan keluarga mampu membentuk dari minat baca menjadi kebiasaan membaca di keluarga. Keluarga merupakan pondasi yang utama dalam membentuk kebiasaan membaca sudah menjadikan akhlaknya setiap harinya. Perpustakaan mempunyai peranan yang sangat penting dalam membina dan menumbuhkan kesadaran minat membaca para mahasiswa. Kegiatan membaca tidak bisa dilepaskan dari keberadaan dan tersediannya bahan bacaan yang memadai baik dalam jumlah maupun dalam kualitas bacaan. Sejalan dengan perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan /atau karya rekam secara professional dengan system baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi Para Pemustaka (Undang-Undang No.43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan Bab I Pasal 1). Peran yang dapat dilakukan oleh Perpustakaan dalam menciptakan tumbuhnya kondisi minat baca di lingkungan mahasiswa, hal ini sebagaimana yang diungkapkan oleh Lasa (2007) sebagai berikut : 1. Memilih bahan bacaan yang menarik bagi pengguna perpustakaan 2. Menganjurkan berbagai cara penyajian pelajaran yang dikaitkan dengan tugas-tugas di perpustakaan 3. Memberikan berbagai kemudahan dalam mendapatkan berbagai bacaan yang menarik untuk pengguna perpustakaan. 4. Memberikan kebebasan membaca secara leluasa kepada pengguna perpustakaan 5. Perpustakaan perlu dikelola dengan baik agar pengguna merasa betah dan senang berkunjung ke perpustakaan. 6. Perpustakaan perlu melakukan berbagai promosi kepada mahasiswa berkaitan dengan pemanfaatan perpustakaan dan berkaitan dengan peningkatan minat dan kegemaran membaca. 7. Menanamkan kesadaran dalam diri pemakai perpustakaan bahwa membaca sangat penting untuk mencapai keberhasilan. 8. Melakukan berbaga kegiatan seperti lomba minat dan kegemaran membaca untuk mahasiswa yang bekerjasama dengan Departemen Pendidikan Nasional atau Perpustakaan Umum. 9. Menjadikan bulan Mei setiap tahunnya sebagai bulan Buku Nasional. Pada Kesempatan ini perpustakaan biasa melakukan pameran buku atau kegiatan lain yang menunjang bulan buku nasional. 10. Memberikan penghargaan kepada mahasiswa yang paling banyak meminjam buku di perpustakaan dalam kurun waktu tertentu misalnya tiap semester atau sekali dalam setahun. Peranan perpustakaan juga memfasilitasi kegiatan-kegiatan yang menjadi kebutuhan masyarakat. Dalam pengembangan ekonomi , pertanian, pendidikan dan kesehatan. Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah yang menjadi fokus kajian pustaka ini adalah sejauh mana peranan perpustakaan Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan minat baca masyarakat di wilayah Provinsi Jawa Tengah.

Method

Pada penelitian ini penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut. 1. Metode kualitatif yang berfokus pada observasi kejadian-kejadian, fenomena yang diteliti kompeks, bersifat sosial yang tidak dapat dikuantifikasi dan mencoba mengerti individu yang diamati (Hartinah, Sri, p..10). 2. Wawancara langsung kepada responden. 3. Dengan kuesioner yaitu membuat daftar pertanyaan yang diberan kepada responden untuk memberikan jawaban sesuai persepsi mereka ke dalam pengumpulan data. Prosedur Pengumpulan Data Kuesioner Kuesioner bersiap tertutup berupa daftar pertanyaan atau pernyataan yang mempunyai nilai positif dan negatif. Terhadap jawaban responden dilakukan pembobotan nilai, dengan cara memberikan nilai yang lebih tinggi untuk pernyataan positif, dan nilai lebih rendah bagi negatif yang dipilih oleh responden. Berdasarkan tingkat pengukuran tersebut diperoleh data interval, yakni data yang berasal dari obyek atau kategori yang diurutkan berdasarkan suatu atribut tertentu, yang jarak antara tiap obyek atau kategori adalah sama. Pada data ini tidak terdapat angka nol mutlak dan sama dalam memberikan informasi tentang interval antara obyek/kategori. Wawancara Teknik ini merupakan proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian melalui tanya jawab sambil bertatap muka antara penanya/pewawancara dan penjawab/responden dengan menggunakan alat, yakni panduan wawancara (interview guide) (Moh.Nazir, 1999:234) Analisis Data Untuk menganalisis data, digunakan metode frekuensi distribusi relatif. Data yang terkumpul dibagi dalam beberapa kelompok untuk dianalisis dan dihitung skornya. Hasilnya kemudian dimasukkan dalam tabel frekuensi dan dihitung tingkat persentasenya. Jumlah persentase menunjukkan derajat variabel yang diteliti. Kelompok yang paling banyak jumlahnya, ditunjukkan oleh nilai persentase yang tertinggi, demikian sebaliknya (Suparmoko, 2007 : 87). Untuk memperjelas hubungan antar variabel penelitian dilakukan analisis tabulasi silang.

Result & Discussion

Dalam Undang-Undang Nomer 43 Tahun 2007 menyebutkan perpustakaan sebagai institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan /atau karya rekam secara professional dengan system baku guna memenuhi pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Hasil dari para penulis bisa ditemukan di perpustakaan atau toko buku dan bisa diakses melalui internet. Tanpa seseorang mendatangi perpustakaan, sudah bisa mendapatkan informasi yang dibutuhkan melalui internet. Dari sumber informasi ini masyarakat dapat meningkatkan kualitas diri untuk mengembangkan diri dalam peningkatan kesejahteraannya melalui layanan perpustakaan secara konvensional maupun melalui layanan yang berbasis teknologi informasi. Peranan perpustakaan dalam meningkatkan minat baca di masyarakat dalam hal ini di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan dapat melaksanakan berbagai kegiatan yang mendukung minat baca antara lain: 1. Menumbuhkan minat baca sejak dini Dengan melihat, mendengar dan membaca merupakan alat utama manusia untuk belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Ketiganya memiliki kelebihan dan kekurangan satu dari yang lain. Dalam kontek ini sekarang melek huruf dapat dikembangkan dengan melek informasi, melek teknologi, melek politik, berpikir kritis dan peka lingkungan sekitar (Mujiran), 2008:123 Di Bidang perpustakaan ada layanan berupa RBM (Rumah Belajar Modern). RBM merupakan pusat literasi berbasis transformasi perpustakaan, yang mana mengenal perpustakaan sejak dini dengan berbagai kegiatan. Berawal dari gagasan Yayasan Coca Cola Foundation Indonesia memberikan bantuan seperangkat buku bacaan anak-anak. Berlanjut Coca Cola Foundation Indonesia bekerjasama dengan Bill & Melinda Gates Foundation Indonesia sejak tahun 2011. Di Rumah belajar modern di desain sedemikian rupa untuk menarik anak-anak berkunjung ke perpustakaan. Ada Berbagai koleksi mainan anak-anak, buku-buku cerita yang kemasannya menarik dan tempat bermain anak. Pada Ruang Belajar Modern ada berbagai kegiatan diantaranya: kursus ketrampilan untuk ibu-ibu, kursus Bahasa Inggris, kursus menggambar, kursus menari. Pemustaka yang masuk dalam RBM diharapkan anak-anaknya mengenal perpustakaan sejak dini agar suka membaca, orangtua yang mengantar juga bisa mencari informasi di perpustakaan serta bisa belajar ketrampilan yang diadakan di Perpustakaan. Dari Kursus tersebut diharapkan para pemustaka bisa mentransformasikan ilmu pengetahuan dari buku bisa diaplikasikan atau dipraktekkan sehingga bisa menambah kesejahteraan dari segi ekonomi. Dari belajar di perpustakaan dalam mencari informasi bisa dikembangkan di rumah. 2. Meningkatkan Kualitas dan Kuantitas Layanan Perpustakaan Layanan Perpustakaan pada masa pandemi ini ditutup tetapi layanan berupa informasi kepada pemustaka tetap berjalan secara online melalui aplikasi i-Jateng, website perpustakaan dan beragam sosial media yang dimiliki oleh Perpustakaan Provinsi dalam hal ini Bidang Pengelolaan Perpustakaan. Perkembangan perpustakaan di Jawa Tengah ditunjukkan dengan beberapa indikator antara lain jumlah koleksi perpustakaan, jumlah pengunjung perpustakaan dan jumlah Konservasi bahan perpustakaan dan naskah kuno. Adapun jumlah koleksi perpustakaan mengalami kecenderungan meningkat dari 251.129 eksemplar di tahun 2015, menjadi 308.180 eksempalr pada tahun 2019 dengan koleksi per kapita sebanyak 138.372 judul. Kegiatan Pengembangan Layanan Perpustakaan Elektronik, pada kegiatan ini indikator kinerja berupa capaian jumlah pengunjung perpustakaan secara online baik melalui digital library dan website perpustakaan tahun 2020 yaitu sejumlah 2.068.660 (dua juta enam puluh delapan ribu enam ratus enam puluh enam) pengunjung. Di samping Layanan perpustakaan pada umumnya. Jangkauan layanan perpustakaan keliling diperluas. Faktor geografis, yang menyebakan mereka memiliki keterbatasan dalam mengakses informasi. Koleksi perpustakaan keliling sudah ada peningkatan kualitas dan kuantitas sesuai kebutuhan masyarakat yang dilayani. Perpustakaan di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi dengan jumlah titik lokasi yang dilayani secara keliling/mobile dengan sub kegiatan berupa layanan perpustakaan keliling, layanan terpadu perpustakaan sekolah dan layanan mobil pintar pada tahun 2020 yaitu sejumlah 84 (delapan puluh empat) lokasi layanan. 3. Menyelenggarakan berbagai lomba di Tingkat Provinsi a. Lomba Penulisan Artikel Populer SLTA Tingkat Provinsi Jawa Tengah. Sasaran: terpilihnya 6 (enam) orang pemenang lomba untuk siswa SLTA se Provinsi Jawa Tengah Tahun 2020 yang terdiri dari Juara I, II, III dan Juara Harapan I, II dan III. b. Lomba Perpustakaan Umum se Jawa Tengah Tahun 2019. Sasaran: 35 Perpustakaan Umum se Kabupaten / Kota se Jawa Tengah. c. Sosialisasi Perpustakaan Sekolah. Sasarannya: 50 Pengelola Perpustakaan Sekolah SLTA di wilayah Kota Semarang, Kabupaten Semarang, Kendal dan Demak. d. Publikasi Media Pustaka / Dialog Interaktif. Sasaran: kegiatan pemasyarakatan perpustakaan melalui media massa adalah Dialog Interaktif dengan siaran langsung di stasiun radio sebanyak 1 (satu) kali. e. Penerbitan Buletin Perpustakaan. Sasaran kegiatan penerbitan Buletin Perpustakaan adalah Lembaga Perpustakaan, Pengelola perpustakaan, Pustakawan, Masyarakat umum dan Pemerhati perpustakaan. Penerbitan Buletin Perpustakaan (Buletin Pustakawan dan Media Pustaka), akan terbit masing masing 2 (dua) kali terbit setiap tahun. 1. Media Pustaka - Januari – Juni 2020 (Vol. I) - Juli – Desember 2020 (Vol. II) 2. Buletin Pustakawan 2020 : - Januari – Juni 2020 (Vol. I): - Juli – Desember 2020 (Vol. II): f. Pameran. Sasaran kegiatan adalah seluruh masyarakat, terdiri dari Siswa sekolah, Mahasiswa, Pendidik, Pegawai, dan Masyarakat Umum Pameran Perpustakaan akan diselenggarakan sebanyak 6 (enam) kali, yaitu: 1. Pameran Perpustakaan se -Jawa Tengah; 2. Pameran Perpustakaan pada Jateng Fair 2019 di PRPP Semarang; 3. Pameran Perpustakaan di Kabupaten/Kota sebanyak 4 (empat) kali. Kegiatan Dengan Dana Dekonsentrasi 1. Lomba Bercerita Siswa SD/MI Tingkat Provinsi Jawa Tengah Sasaran : siswa-siswi kelas 5 Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidaiyah negeri maupun swasta di Provinsi Jawa Tengah, yang sekolahnya telah mempunyai perpustakaan yang dikelola dan dikembangkan secara baik oleh petugas yang kompeten. Terpilihnya Siswa/Siswi pemenang Lomba Bercerita terbaik Peringkat I, II, III dan Peringkat Harapan I, II, III. Untuk Juara I Tingkat Provinsi Jawa Tengah mengikuti Lomba Tingkat Nasional 2. Lomba Perpustakaan Sekolah Tingkat SLTA (SMA, Madrasah Aliyah, SMK) Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2020 Sasaran: Perpustakaan Sekolah Tingkat SLTA (SMA, Madrasah Aliyah, SMK) baik negeri maupun swasta se Jawa Tengah yang belum pernah menjuarai lomba serupa, atau yang pernah menjuarai minimal 2 tahun sebelumnya. Terpilihnya Perpustakaan Sekolah Tingkat SLTA (SMA, Madrasah Aliyah, SMK) terbaik Peringkat I, II, III dan Peringkat Harapan I, II, III. Untuk Juara I Tingkat Provinsi Jawa Tengah mengikuti Lomba Tingkat Nasional. 3. Lomba Pemilihan Pustakawan Berprestasi Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2019. Sasaran: Terpilihnya Pustakawan Berprestasi Terbaik Peringkat I, II, III dan Pustakawan Berprestasi Terbaik Peringkat Harapan I, II, III. Untuk Juara I Tingkat Provinsi Jawa Tengah mengikuti Lomba Tingkat Nasional. 4. Lomba Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik Tingkat Provinsi Jawa Tengah Tahun 2020 Sasaran: Perpustakaan Desa/Kelurahan se Jawa Tengah yang belum pernah menjuarai lomba serupa, atau yang pernah menjuarai minimal 2 tahun sebelumnya. Terpilihnya Perpustakaan Desa/Kelurahan Terbaik Peringkat I, II, III dan Peringkat Harapan I, II, III. Untuk Juara I Tingkat Provinsi Jawa Tengah mengikuti Lomba Tingkat Nasional. Kegiatan Pembinaan Perpustakaan 1. Kegiatan Pengembangan Jaringan Kemitraan Bidang Perpustakaan 2019 a) Rapat Koordinasi Teknis Bidang Perpustakaan dengan peserta 70 orang ( 1 kepala perpustakaan dan 1 staff). (4 Oktober 2019); b) - Pelatihan Jaringan Kemitraan 15 – 16 Agustus => aplikasi i-jateng; - Pengembangan Jaringan Kemitraan di 35 Kabupaten/ Kota; - Monitoring dan Evaluasi kegiatan pengembangan Jarmit Bidang Perpustakaan. 2. Pembinaan Organsasi Perpustakaan dan Kepustakawanan Tahun 2019 a) Rapat Koordinasi PD IPI Jateng tahun 2019 tema “Transformasi Perpustakaan untuk Kesejahteraan.” ( peserta 150 org) b) Pembinaan Perpustakaan  35 Kabupaten/ Kota Dengan pemberian perlengkapan pengelolaan perpustakaan. (form katalog, kantong buku, kartu buku, tanggal kembali, buku inventaris, buku pengunjung, buku peminjam, buku pengembalian, sekat peminjaman, statistik harian, statistik bulanan, kartu anggota, standar buku);  Pembinaan Perpustakaan di OPD Provinsi Jawa Tengah. (10 OPD) 3. Pemberdayaan Perpustakaan Sekolah Pembinaan Perpustakaan Sekolah terdiri dari 35 MAN, 35 SMA, 35 SMK di 35 Kabupaten/ Kota (105 perpustakaan) serta pemberian pedoman pengeloaan perpustakaan sekolah, dan pengantar DDC. 4. Kegiatan Bimbingan Teknis Pengelola Perpustakaan Tahun 2019 a) Pelaksanaan Bimbingan Teknis Pengelolaan Perpustakaan diikuti 140 orang terdiri dari 35 pengelola PU, 70 pengelola Perpustakaan Desa/Kelurahan, 35 pengelola Perpustakaan Sekolah. Pelaksanaan bertempat di Hotel Patrajasa tanggal 17 – 19 April 2019. b) In House Training Peserta 50 orang terdiri dari pustakawan, pejabat struktural dan staff umum di lingkungan Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah. Lokasi di aula lantai 4 Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah tanggal 26 Juli 2019. Hasil Kajian Minat Baca Masyarakat Jawa Tengah Tahun 2018 Pengukuran nilai Tingkat Gemar membaca terhadap 3500 responden dari 35 Kabupaten/Kota di Provinsi Jawa Tengah memberikan kesimpulan sebagai berikut: 1. Nilai Tingkat Gemar Membaca responden di Provinsi Jawa Tengah termasuk dalam kategori cukup dengan frekuensi membaca yang relatif cukup tinggi, lama membaca relative kurang dan jumlah buku tamat dibaca relatif kurang; 2. Perbandingan rata-rata nilai Tingkat Gemar Membaca responden antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan rangking tertinggi dicapai Kabupaten Karanganyar, diikuti 3 kabupaten lainnya yang mencapai kategori tinggi; 3. Perbandingan rata-rata nilai Tingkat Gemar Membaca responden antar kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah menunjukkan rangking terendah di capai Kabupaten Blora yang merupakan satu-satunya kabupaten dengan kategori rendah; 4. Tidak terdapat kabupaten kota dengan rata-rata nilai Tingkat Gemar Membaca mencapai kategori sangat tinggi maupun sangat rendah; 5. Membaca menempati urutan kedua setelah menggunakan HP/tablet sebagai kegiatan yang paling sering dilakukan pada waktu luang; 6. Tema bacaan yang paling disukai adalah sastra dengan bahan bacaan buku fiksi; 7. Kunjungan ke perpustakaan relative rendah, terutama perpustakaan desa dengan hambatan utama koleksi buku; 8. Lebih suka main HP merupakan penyebab utama tidak ada waktu untuk membaca, sementara HP lebih banyak dipergunakan untuk mengakses media sosial; 9. Membaca masih lebih banyak disukai untuk mengisi waktu luang dibanding menonton TV. demikian pula waktu yang dipergunakan relative lebih lama untuk membaca ketimbang menonton TV

Conclusion

Layanan Perpustakaan Dinas Kearsipan Dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengan pada masa pandemi Covid-19 tetap membuka layanan daring yaitu Perpustakaan Digital iJateng. Minat Baca masyarakat Jawa Tengah kategori cukup, tentu tidak semata-mata disebabkan saramna perpustakaan yang tidak memadai, melainkan karena minimnya kesadaran masyarakat mengenai peran dan fungsi perpustakaan. Dengan peningkatan kecenderungan Masyarakat Jawa Tengah penggunaan HP/tablet memberikan peluang untuk lebih mempromosikan perpustakaan dgital sebagai rujukan bahan referensi atau sumber pengetahuan dan peningkatan literasi masyarakat, khususnnya pada masa pandemic covid19 saat. Sehingga perpustakaan dapat menjadi pusat pengembangan minat baca dan kebiasaan membaca bagi masyarakat secara luas. Untuk memnuhi harapan, keinginan dan kebutuhan informasi bagi pemustaka, maka langkah-langkah yang disarankan Bahwa : 1. Selalu diadakan peningkatan jumlah dan pengembangan koleksi terbaru dalam berbaga ilmu pengetahuan yang dibutuhkan masyarakat sehingga mampu menunjang kebutuhan informasi 2. Tetap dapat melayani dengan baik kebutuhan informasi dan pengetahuan masyarakat pada masa pandemic Covid-19, melalui produk layanan perpustakaan yang berbasis digital, melalui IJateng dan Website 3. Memfasilitasi aktifitas pemustaka di dunia maya, hal ini sejalan dengan perubahan dalam bidang Teknologi Informasi Komunikasi (TIK ) menuntut layanan informasi yang aman, cepat, tepat, mudah dan murah. 4. Meningkatkan koordinasi, kolaborasi dan kerjasama dengan antar instansi terkait dan pelibatan semua pihak, untuk sosialisasi dan promosi gemar membaca masyarakat. 5. Membentuk sebuah jaringan digital dari beberapa sumber data perpustakaan Kabupaten/Kota sehingga menjadi sumber informasi yang besar untuk didokumentasikan dan didigitalkan, yang memiliki keunikan dan dapat menghimpun data-data literasi yang bersifat khas Jateng (local content) yang nantinya menjadi koleksi digital. 6. Peningkatan layanan perpustakaan, terutama penyesuaian koleksi buku dan penyesuaian jam buka layanan dengan kebutuhan pemustaka masih menjadi tantangan utama bagi upaya pemupukan tingkat gemar membaca di Jawa Tengah. 7. Peningkatan kecenderungan penggunaan HP/Tablet tidak perlu diperangi, akan tetapi perlu dimanfaatkan untuk mempromosikan bahwa "memegang buku lebih keren dari pada memegang HP. 8. Terdapat hubungan saling terkait antara koleksi perpustakaan, promosi perpustakaan dan kualitas pelayanan perpustakaan terhadap minat baca masyarakat dan masih ada faktor lain yang masih memerlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam, dilihat dari sarana dan prasarana, kerjasama antar perpustakaan, pustakawan dan sebagainya