Kembali
16
1
2022 Jurnal Ilmiah Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 2 · 2 ISSN 2827-9107

PENERAPAN RAMAH DIFABEL DALAM PELAYANAN PERPUSTAKAAN SASTRA MANGUTAMA

Universitas Udayana; Universitas Udayana; Universitas Udayana

Abstract

Librarians deserve good service from the library. However, not all libraries have disabled-friendly services. This study aims to evaluate the disabled services provided for persons with disabilities at the Mangutama Literature Library, the Archives and Library Office of Badung Regency. The method used is descriptive qualitative with data collection through interviews, field observations, documentation and literature study. Informants in this study were librarians and users of the Mangutama Literature Library, Badung Regency Archives and Library Office. The results showed that the service management for the disabled was not optimal, as seen from the unavailability of guiding blocks or special floor directions intended for the blind, the lack of special computers and special library materials for the disabled
Keywords: library service · disabled · sastra mangutama library

Introduction

Perpustakaan menjadi jembatan bagi seseorang untuk mendapatkan informasi dan pengetahuan baru. Informasi merupakan kebutuhan primer yang didapat dari perpustakaan dan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannya (Daryono, 2018). Layanan perpustakaan harus siap dalam memberikan yang terbaik bagi penggunanya. Layanan harus memiliki unsur keterbukaan, kesederhanaan, keadilan merata, keamanan, efisiensi, ekonomis, kepastian, serta ketepatan waktu (Rifauddin, 2017).Kemerataan perpustakaan berarti setiap orang harus bisa mengakses layanan tersebut termasuk difabel. Layanan difabel di perpustakaan merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap hak-hak dasar pengguna difabel untuk mendapatkan akses yang sama terhadap informasi dan sumber daya yang tersedia di perpustakaan. Layanan ini penting untuk membantu pengguna difabel dalam menemukan dan mengakses informasi yang dibutuhkan, serta menjadi salah satu cara untuk mewujudkan inklusi dan kesetaraan bagi pengguna difabel. Dalam konteks perpustakaan, komunikasi adalah suatu kebutuhan yang sudah pasti dan primer, karena perpustakaan berhubungan dengan informasi yang dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhannyaPerpustakaan merupakan salah satu lembaga yang memberikan fasilitas dan layanan informasi yang dapat diakses oleh masyarakat. Perpustakaan harus menyediakan fasilitas dan layanan yang dapat diakses oleh pengguna difabel, seperti rampa, toilet khusus, dan sumber daya digital yang dapat diakses secara online. Perpustakaan perlu memberikan layanan denganberbagai format, walaupuninformasi tersebut memerlukan perlakuan khusus(Prabowo, 2015).Selain itu, layanan difabel di perpustakaan juga penting untuk memberikan kesempatan yang sama bagi pengguna difabel untuk menikmati dan mendapatkan manfaat dari fasilitas perpustakaan. Dengan adanya layanan khusus untuk pengguna difabel, perpustakaan dapat menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi pengguna difabel untuk belajar, mencari informasi, atau hanya sekedar bersantai. Dengan demikian, layanan difabel di perpustakaan merupakan salah satu cara untuk meningkatkan aksesibilitas dan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan bagi semua pengguna, termasuk pengguna difabel.Perpustakaan Sastra Mangutama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung merupakan perpustakaan yang memiliki fasilitas untuk difabel. Penambahan layanan khusus difabel dilakukanagar difabel bisa menggunakan layanan perpustakaan. Beberapa fasilitas yang disediakan membantu para difabeluntuk mengakses informasi. Sehingga dari latarbelakang tersebut, penulis ingin mengetahui layanan ramah difabelapa saja yang diterapkan oleh Perpustakaan Sastra Mangutama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung

Method

Metode yang digunakan adalah kualitiatif deskriftif. Metode kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data deskriptif dan menganalisis fenomena secara mendalam. Metode ini biasanya digunakan untuk mengungkap sikap, persepsi, atau opini responden tentang suatu permasalahan. Dalam penelitian ini, metode kualitatif dapat digunakan untuk melakukan wawancara observasi lapangan, dokumentasi dan studi kepustakaan. Informan pada penelitian iniberjumlah 3 orangyaitu 2 pustakawan dan 1 pengguna Perpustakaan Sastra Mangutama Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung. Data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif untuk menemukan tema dan pola yang terkait dengan layanan difabel di perpustakaan

Discussion

PenerapanLayanan Difabel Perpustakaan Sastra MangutamaPenerapan layanan perpustakaan yang ramah difabelperlu diperhatikan, seperti cara pelayanan oleh pustakawan terhadappengguna perpustakaandankondisi ruang baca. Penyelenggaraan layanan difabelterutamaaksesibilitasmenjadi poin utama agar para difabelmendapat kemudahan untuk mendapatkan hak yang sama dengan penggunaperpustakaan yang lain.Berdasarkan standar IFLA terkait dengab standar format media, Perpustakaan Sastra Mangutamasudah menyediakan standar format materi antara lain yaitu format materiseperti buku brailleserta rekaman dalam bentuk digital yang bisa dimanfaatkan oleh pengguna difabel.Selainitu, perpustakaan juga menyediakan Komputer yang dapat dimanfaatkan sertabimbingan khusus dari pustakawan untuk membantu penyandang difabel dalam menggunakan komputer khusus tersebut.Teknologi berperan dalam membantu menyediakan layanan untuk para difabel. Namun, saat ini tidak banyak teknologi yang bisa diterapkan oleh Perpustakaan Sastra Mangutama. Hal ini dikuatkan oleh Khetarpal(2014), yang berpendapat bahwa teknologisangat terbatasdi negara-negara berkembang atau berpenghasilan rendah.Gambar 1. Komputer Khusus TunanetraKomputeruntuk penyandang difabeltunanetradilengkapisoftwareJAWS (Job AccesWith Speech)yang merupakan perangkat lunak khusus berbentuk screenreaderuntuk memudahkan penyandang difabel dalam mengetik suatu tulisan.Perpustakaan juga menyediakan bukubrailledan CD rekaman suara untuk memenuhi kebutuhan informasi. Namun koleksi buku braille masih belung lengkap. Belum tersedianya talking newpaper dantalking book.Menurut Evmenova (2017)ketidakpuasan terhadap layanan perpustakaan bagi para difabelkarena sangat sedikit bahan pustaka yang telah ditranskripsikan dapat diakses dan dalam format alternatif. Sehingga perlu adanya alternatif format agar bisa diakses semua kalangan termasuk difabel.Gambar 2. Koleksi buku BrellieStandar layanan akses fisik menjadi kebutuhan dari pengguna difabel. Tersedianya layananramahdifabel juga mewajibkan pihak perpustakaan untuk menyediakan akses fisik untuk pengguna perpustakaan penyandang difabel. Perpustakaan Sastra Mangutamasudah menyediakan beberapaakses fisik yaitu seperti jalan khusus yang dapat dilewati kursi roda serta jembatan khusus, selain itutoilet khusus difabeljuga telah disediakan.Gambar 3. Aksesbilitas Khusus Difabel Berkursi RodaKomunikasi menjadi hal yang penting dalam prosen melayani pemustaka. Layanan perpustakaan yang ramah mengharuskan komunikasi terhadap pengguna perpustakaan harus berjalan tanpa harus membedakanantar pengunjung. Staff perpustakaan harus mempunyai kemampuan khusus untuk berkomunikasi yang sesuai dengan kondisi difabel, ramah dan cekatan.Cara pustakawan di Perpustakaan Sastra Mangutamaberkomunikasi masih sewajarnya dengan pengunjung perpustakaan pada umumnya.Untuk penyandang difabelmenjadihal yang berbeda dan perluperlakuan khusus seperti menuntun arah jalan dari depan perpustakaan sampai ke ruangan baca, mengambilkan buku yang dibutuhkan pengunjung perpustakaan difabel dan membimbing cara pemakaian atau pemanfaatan fasilitas yang sudah disediakan.4.2Kendala dalam Penerapan Layanan DifabelKeberhasilan penerapan layanan difabel tidak terlepas dari kendala yang dihadapi oleh pustakawan. Tidak semua kegiatan layanandapatberjalan dengan lancar, seperti layanan difabel.Layanan difabel sudah beroperasi cukup lama, namunmasih ditemukankendala. Dari hasil wawancaraterdapatbeberapa kendala di dalam layanan difabel meliputi:1.Kurang tersedianya fasilitas yang akesbilitas difabel tunanetramisalnyalantai timbul (guidingblock)sebagaipetunjukyang bisa membantu mengarahkantunanetra. 2.Jumlah komputer khusus difabelmasingminimserta kurangnya jumlah bahan pustaka seperti koleksi buku brallie untuk memenuhi kebutuhan informasi pengunjung perpustakaan penyandang difabeltunanetra.Dari hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa terdapat kendala dalam melakukan kegiatan layanan difabel. Kendala tersebut disebabkan karena minimnya dukungan dana anggaran dari pemerintahan Kabupaten Badung yang diharapkan bisa melengkapi aksesbilitas fasilitas yang tesedia

Conclusion

Kesimpulan tentang layanan difabel di perpustakaanPerpustakaan Sastra Mangutama DinasKearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Badung yaitu bahwa perpustakaan memiliki peran penting dalam menyediakan fasilitas dan layanan yang memadai bagi difabel. Fasilitas aksesibilitas, komputerdanbraille, layanan bantuan membaca, dan layanan informasi melalui teknologi adalah beberapa layanan yang dapat diberikan oleh perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan difabel. Program bimbingan dan sosialisasi juga perlu disediakan untuk meningkatkan kepekaan dan kepedulian masyarakat terhadap difabel. Namun, ada keterbatasan yang dialami oleh difabel di perpustakaan, seperti keterbatasan fisik, mental, atau akses informasi. Perpustakaan Sastra Mangutamasudah menyediakan beberapa akses fisik yaitu seperti jalan khusus yang dapat dilewati kursi roda dantoilet khusus difabeljuga telah disediakan.Di perpustakaan ini baru memfokuskan koleksi bahan pustaka untuk melayanipengunjung difabeltunanetra.Beberapa kedala masih dialami perpustakaan untuk bisa meningkatkan layanan perpustakaan, kendala tersebut karena minimnya dukungan dana anggaran dari pemerintahan Kabupaten Badung