PEMANFAATAN MEDIA PUSTAKA DIGITAL DALAM MEMBANGUN PERPUSTAKAAN DESA BERBASIS INKLUSI SOSIAL DI MASA PANDEMI
Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung; Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung
Abstrak
Perpustakaan merupakan lembaga yang menyimpan informasi, selain itu perpustakaan desa berbasis inklusi sosial juga dapat dikatakan sebagai lembaga yang membantu dalam proses pembangunan berkelanjutan. Selain itu, perpustakaan juga memiliki peran mencerdaskan anak bangsa, membantu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat, dan berkontribusi dalam peningkatan sumber daya manusia yang berilmu, kreatif dan inovatif. Namun barubaru ini muncul virus yang sangat berbahaya yaitu covid 19 yang membatasi ruang gerak manusia. Untuk itu, perpustakaan desa berbasis inklusi sosial memanfaatkan media perpustakaan digital sebagai media untuk memelihara perpustakaan meski di tengah pandemi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan media perpustakaan berbasis digital seperti OPAC, Computer, dan SLIMS dapat membantu perpustakaan seperti mempermudah pengguna dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan, lebih menghemat waktu dalam proses temu kembali informasi dan lainlain. Dengan itu dapat disimpulkan bahwa dengan memanfaatkan media perpustakaan digital dapat membangun kembali perpustakaan setelah kemerosotan perpustakaan di awal pandemi
Abstract
The library is an institution that stores information, besides that, a village library based on social inclusion can also be said to be an institution that helps in the process of sustainable development. In addition, libraries also have a role in educating the nation's children, helping to improve the economy of the local community, and contributing to increasing knowledgeable, creative and innovative human resources. But recently, a very dangerous virus has come, namely covid 19, which limits the space for humans to move. For this reason, social inclusion-based village libraries utilize digital library media as a medium to maintain libraries even in the midst of a pandemic. The results of this study indicate that the use of digital-based library media such as OPAC, Computer, and SLIMS can help libraries such as making it easier for users to get the information they need, saving more time in the information retrieval process and others. with that it can be concluded that by utilizing digital library media can rebuild the library after the decline of the library at the beginning of the pandemic.
Keywords:
Covid 19
· Computer
· OPAC
· SLIMS
· Library
Introduction
Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang bisa dikatakan sebagai gudang nya ilmu, dengan adanya perpustakaan desa tentunya bertujuan untuk meningkatkan minat baca masyarakat sekitar serta membantu dalam mencerdaskan anak bangsa. Selain itu adanya perpustakaan bisa dijadikan rumah intelektual sekaligus tempat belajar sepanjang hayat atau jika dalam bahasa inggris dikatakan sebagai lifelong learning, tentunya semua itu bisa terjadi apabila perpustakaan tersebut di manfaatkan dengan baik, seperti dijadikan sebagai pusat pengembangan keilmuan, tempat bediskusi, serta tempat mengkaji ilmu. (Setiawan & Nuryana, 2020) selain itu dengan adanya perpustakaan desa dapat membantu pembangunan desa seperti yang dikatakan oleh kepala badan pengembangan dan informasi desa, daerah tertinggal, serta transmigrasi kemendes PDTT Suprapedi di dalam kegiatan rakornasi bidang perpustakaan tahun 2021 beliau mengatakan “ pembangunan desa bukan hanya masalah insfastruktur saja melainkan juga untuk meningkatkan sumber daya manusia, salah satunya yaitu melalui pembangunan perpustakaan desa”.(Mahrofi, 2021) Untuk memperkenalkan sekaligus memajukan eksistensinya perpustakaan desa mulai ber trannsformasi ke perpustakaan desa dengan berbasis inklusi sosial yang menjadikan literasi sebagai program unggulan dan mensejahterakan masyarakat serta menurunkan jumlah kemiskinan di masyarat sekitar.(Rachman et al., 2019). Adanya perpustakaan desa berbasis inklusi sosial ini tentunya bisa dijadikan suatu pondasi awal untuk kesejahteraan masyarakat salah satunya adalah membangun sebuah ekosistem masyarakat dengan berpengetahuan (knowledge society).(Putera & Zulhamdani, 2020) Namun, setelah datangnya virus covid 19 segala segiatan semakin dibatasi hal ini dilakukan untuk memutus rantai penyebaran covid 19. Keadaan ini tentunya tidak bisa di biarkan saja, maka dari itu seorang pustakawan tentunya harus kreatif dalam menangani pandemic ini salah satunya adalah dengan memanfaatkan media pustaka berbasis digital sehingga dapat membantu berkembangnya perpustakaan desa di masa pandemic saat ini. Perpustakaan menurut Sulistyo – Basuki adalah sebuah ruangan atau gedung yang digunakan untuk menyimpan buku-buku ataupun terbitan lainnya seperti majalah, Koran, jurnal dan lain sebagainya yang kemudian disimpan dan disusun dengan metode tertentu sehingga dapat mempermudahkan pengguna dalam mencari bahan pustaka yang mereka butuhkan. Dalam mendukung pembangunan desa perpustakan memiliki peran yang sangat penting khususnya adalah perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di tengah pandemic saat ini seperti yang dikatakan oleh maketplaces bahwa digambarkan bahwa perpustakaan merupakan sebuah ruangan yang melibatkan banyak pemustaka, serta menarik perhatian yang lainnya untuk mengunjungi perpustakaan juga dan mempelajari hal-hal yang baru. Pendapat tersebut bisa diartikan bahwa perpustakaan adalah sebuah ruangan yang di gunakan untuk kegiatan masyarakat setempat untuk mendapatkan pengetahuan baru dan dapat menghasilkan sebuah karya, tidak hanya mendapatkan ilmu saja namun mengimplementasikan ilmu tersebut kedalam sebuah kegiatan yang akan menghasilkan suatu karya, sehingga ada hasil dari kegiatan membaca tersebut. Selain itu perpustakaan desa berbasis inklusi sosial juga bisa ditakan sebagai instansi yang berperan dan mendukung program pembangunan berkelanjutan seperti yang dikatakan oleh sumekar bahwa IFLA meminta untuk menjadikan perpustakaan di setiap bagian dari dunia untuk menjadi mitra dalam program pembangunan berkelanjutan baik dalam pembangunan nasiaonal maupun pembangunan daerah dan perpustakaan juga ikut mendorong serta berpatisipasi dalam pembangunan nasional untuk SDGs. Perpustakaan juga dikatakan sebagai sumber informasi bagi masyarakat dengan begitu untuk mewujudkan pelayanan informasi yang baik untuk masyarakat maka akan dibutuhkan sebuah media seperti OPAC (Online Public Acces Catalog), komputer, dan SLIMS yang dapat membantu perpustakaan dalam mempertahankan eksistensinya ditengah pandemic. Menurut Robert H. Blissmer komputer merupakan alat elektronik yang digunakan untuk mengimput, menerima, serta mengolah dan menyimpan di dalam memorinya serta dapat menyediakan sebuah output dalam bentuk informasi digital. Biasanya komputer ini digunakan untuk pemograman yang mana jika dalam perpustakaan akan digunakan untuk mengolah data koleksi bahan pustaka atau digunakan untuk pemograman yang mana akan berkaitan dengan SLIMS dan OPAC. Sebelum adanya OPAC perpustakaan menggunakan katalog manual. Pengertian katalog itu sendiri adalah sebuah alat yang dapat membantu untuk menemukan koleksi yang dibutuhkan atau bisa juga disebut dengan wakil dokumen. Menurut taylor dalam hasugian katalog memiliki beberapa bentuk diantaranya ialah katalog buku, katalog berkas, katalog terpasang, katalog mikro, dan katalog kartu. Menurut corbin OPAC merupakan sebuah katalog yang sudah terkomputerisasikan dan berisi tentang daftar bibliografi koleksi bahan pustaka yang disimpan dalam sebuah media dan disajikan dalam bentuk online atau digital. SLIMS adalah sebuah perangkat lunak yang merupakan salah satu dari sebuah komponen yang memiliki peran penting dalam otomasi perpustakaan, SLIMS juga dibuat untuk membantu dalam managemen perpustakaan dan bersifat open source sehingga bisa digunakan oleh siapa saja. Beberapa media tersebut sangat membantu perpustakaan desa dalam mempertahankan eksisitensinya yang mulai terancam, khususnya pada saat pandemic yang mengharuskan masyarakat untuk membatasi ruang geraknya seperti bekerja, pembelajaran yang harus dilakukan secara online dan lain sebagainya. Dalam situasi ini membuat masyarakat lebih memilih untuk menggunakan waktu luang nya dengan bermain gadjet.
Method
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah metode dengan pendekatan deskriptif serta literatur review. Dalam penelitian ini penulis memilih topik serta menyeleksi bacaan yang ia dapatkan baik dari jurnal- jurnal online, ataupun artikel dan buku- buku yang tentunya berkaitan dengan pembahasan dalam penelitian ini. Stelah itu penulis juga menganalisis bacaan sebelum akhirnya disusun dalam penelitian. Dalam penelitian ini focus pada pembahasan mengenai pemanfaatan media pustaka dalam membantu berjalannya pengembangan perpustakaan desa di tengah pandemic saat ini.
Result & Discussion
Sudah dua tahun belakangan ini Negara kita bahkan sebagian di dunia digemparkan oleh sebuah virus yang berbahaya yaitu virus covid 19. Virus covid ini muncul pada bulan desember 2019 di kota wuhan china yang kemudian menyebar sampai ke beberapa Negara salah satunya adalah Indonesia. Sehingga hadirnya memiliki dampak besar pada kesehatan masyarakat, tidak hanya sampai disitu ekonomi masyarakat juga ikut terkena dampaknya, bahkan adanya virus covid ini mampu mengubah kebiasaan umum dan gaya hidup manusia. Menurut hasil data yang diperoleh dari weare Social dan Hootsuite pada bulan januari tahun2020 lalu bahwa jumlah pengguna internet di Indonesia ini semakin banyak yaitu 175.4 milyar dari total 272.1 milyar populasi pendudukya, selain itu terdapat penelitian yang lebih menarik lagi bahwa jumlah pengguna handphone lebih banyak dari jumlah penduduk.(Rizzal Rosiyan & Ningsih Maha, 2020) Perpustakaan juga merupakan salah satu lembaga yang terkena dampak dari pandemic ini, salah satunya adalah pengunjung yang semakin berkurang serta jam buka semakin di batasi, namun perpustakaan harus terus ber operasi, karena sebagai sarana informasi perpustakaan sangatlah dibutuhkan oleh masyarakat sekitar. Maka dengan demikian pustakawan terus bergerak dan terus berusaha untuk melayani masyarakat. Dengan ini pustakawan memanfaatkan media pustaka yang berbasis digital untuk mengembangkan perpustakaan desa berbasis inklusi sosial di tengah pandemic seperti saat ini. Dengan cara menyediakan layanan online informasi bisa diakses oleh masyarakat kapan saja dan dimana saja, mereka tetap bisa mematuhi peraturan yang dibuat untuk tetap stay at home namun tetap bisa mengakses informasi yang mereka butuhkan. Perpustakaan Desa Berbasis Inklusi Sosial Menurut penulis Perpustakaan merupakan suatu lembaga yang menyediakan informasi baik cetak maupun non cetak. Sedangkan berdasarkan undang- undang RI. No. 43 tahun 2007 tentang perpustakaan “perpustakaan adalah suatu instusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.”(Nugraha, 2014) Dari pengertian tersebut kita bisa ketahui bahwa di dalam perpustakaan tidak hanya buku saja namun ada juga koleksi bahan pustaka yang lainnya seperti rekaman audio, dan lain sebagainya. Namun ada pendapat lain yang mengatakan bahwa perpustakaan adalah semua yang mencakup ruangan, bangunan, yang berisi buku – buku koleksi bahan pustaka, yang kemudian diatur dan disusun sehingga mudah untuk dicari saat akan digunakan oleh pemustaka.(N.S, 2006) Perpustakaan desa merupakan sebuah wadah yang dibuat untuk menyediakan informasi kepada masyarakat sekitar, menurut keputusan menteri dalam negeri dan otonomi daerah nomor 3 tahun 2001 bahwa perpustakaan desa adalah sebuah wadah atau lembaga yang menyediakan bahan bacaan sebagai salah satu sumber belajar bagi masyarakat sekitar dalam rangka mencerdaskan serta memberdayakan masyarakat, bahkan tidak hanya sampai disitu saja perpustakaan desa ini dibuat untuk menunjang pendidikan nasional.(Prasetyawan & Suharso, 2015) Mengingat dari beberapa definisi perpustakaan desa dapat kita ketahui dibangunnya perpustakaan desa adalah untuk melayanani masyarakat, atau bisa dikatakan juga dibuat untuk masyarakat dan ditunjukkan untuk masyarakat juga. Namun, saat ini masih banyak masyarakat yang belum menyadari sepenuhnya betapa pentingnya perpustakaan desa untuk masyarakat itu sendiri, mereka menjadikan ekonomi, pekerjaan, kelas sosial, gender dan lain sebagainya untuk menjadi alasan mereka tidak sempat mengunjungi perpustakaan desa. Perpustakaan desa dengan masyarakat memiliki keterkaitan yang sangat dekat, dengan demikian untuk membangun kesadaran serta kesinambungan antara perpustakaan desa dengan masyarakat sekitar maka pustakawan mulai bergerak, berinovasi, menuangkan kretivitasnya dengan membuat suatu layanan yang melibatkan peran masyarakat dalam membangun perpustakaan desa tersebut, seperti menyediakan koleksi bahan pustaka sesuai kebutuhan masyarakat(mulai dari anak-anak sampai dewasa), membuka pelatihan atau praktek membuat kerajinan tangan yang mana ilmu tersebut didapatkan setelah mereka membaca bersama. Menengok usaha tersebut dapat menumbuhkan minat masyarakat untuk mengunjungi perpustakaan maka, pustakawan mulai terdorong untuk melakukan sebuah transformasi perpustakaan desa menjadi perpustakaan desa berbasis inklusi sosial, yang mana dalam layanan ini diadakan untuk membangkitkan perekonomian masyarakat, membangkitkan minat baca masyarakat terutama anak- anak, serta membantu dalam mencerdaskan anak bangsa. Media Pustaka Berbasis Digital Saat ini perkembangan zaman semakin pesat, teknolgi semakin canggih begitu pula dengan tantangan zaman yang semakin harinya semakin kompleks. Hal ini tentunya sangat mempengaruni pendidikan, dalam menyikapi hal ini perpustakaan mau tidak mau harus terus mengikuti perkembangan zaman diamana teknologi semakin maju. Melihat hal tersebut maka dibutuhkan seorang pustakawan yang kreatif, terampil, berwawasan luas, cakap dan tanggap terhadap intelektual serta memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan dan informasi, karena jika tidak perpustakaan hanya akan menjadi gudang tumpukan buku saja. Sesuai dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 bahwa perpustakaan merupakan sebuah wahana belajar sepanjang hanyat. Selain itu pekerjaan yang dilakukan pustakawan mulai dari proses pengadaan bahan bustaka, penyeleksian, pengorganisasian, penyimpanan, sampai proses perawatannya akan lebih mudah jika dibantu oleh teknologi. Untuk mendukung berlangsungnya programprogram perpustakaan serta membantu meningkatkan kinerja pustakawan maka dibutuhkannya sebuah media pustaka yang berbasis digital. Kata media berasal dari sebuah kata medium atau yang berarti perantara, namun secara bahasa kata media memiliki arti pengantar pesan dari seorang pengirim pesan kepada penerima pesan yang dituju.(Yantiningsih & Santoso, 2015) Media pustaka dapat diartikan juga sebagai media pembelajaran atau bisa dikatakan sebagai alat yang digunakan untuk menyampaikan suatu pesan pembelajaran, media yang memuat tentang informasi serta ilmu yang dibuat untuk membantu proses belajar mengajar agar lebih efektif dan efesien.(A. pribadi, n.d.) Saat ini masyarakat mulai meninggalkan media pustaka hal ini bermula dengan berkembangnya teknologi sehingga membuat mereka lebih memilih menggunakan media visual, dalam situasi pandemic seperti saat ini menjadikan masyarakat meninggalkan media pustaka seperti buku yang ada diperpustakaan. Mengingat kondisi saat ini yang mana jumlah pengunjung perpustakaan semakin menurun, dan sulitnya pemustaka dalam mendapatkan informasi maka perpustakaan mulai mengoptimalkan layanan jarak jauh yaitu dengan memanfaatkan media pustaka digital seperti OPAC, SLIMS, serta bahan pustaka digital yang dapat diakses oleh masyarakat, pemanfaatan media pustaka digital dalam membangun perpustakaan desa berbasis inklusi sosial ini sangat membantu untuk perpustakaan terus ber operasi dan melayani masyarakat. Upaya ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar perpustakaan, karena layanan menjadi tolak ukur bagi sebuah keberhasilan kinerja sebuah lembaga.(Bisnis & Mulawarman, 2020) Namun dalam memberikan layanan yang memuaskan kepada pemustaka pustakawan harus memperhatikan beberapa hal seperti 1) Memberikan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka, 2) Memberikan layanan dengan baik, sopan, dan ramah, 3) Memberikan layanan dengan jujur (transparan) dan 4) memberikan layanan dengan prosedur yang sederhana (tidak menyulitkan pemustaka). Setiap pemustaka yang datang ke perpustakaan dan mendapatkan layanan dengan baik maka akan terciptanya sebuah kesan yang baik, sehingga pemustaka tersebut mau kembali ke perpustakaan, selain itu dengan memberikan layanan yang baik kepada pemustaka akan merubah sebuah persepsi buruk terhadap perpustakaan sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa perpustakaan adalah sebuah tempat yang penuh dengan tumpukan buku, dengan pustakawan yang galak dan lain sebagainya. Pemanfaatan Media Pustaka Digital Pada dasarnya pembelajaran adalah sebuah proses interaksi atau penyampaian pesan antara pendidik dengan peserta didik, namun saat ini semuanya sudah berkembang teknologi menawarkan beberapa multimedia yang canggih dan tentunya dapat membantu dalam keberlangsungan proses belajar mengajar. Menurut Vaughan multimedia merupakan suatu penggabungan yang dihasilkan dari beberapa media seperti teks tertulis, grafik, audio, gambar, dan media lainnya yang digabungkan menjadi satu dengan bentuk digital. (Priyanto, 2009) dengan adanya multimedia seperti video, audio visual, film, dan lain sebagainya akan membantu pemustaka dalam menemukan informasi yang mereka cari. Dalam membangun kembali perpustakaan desa berbasis inklusi sosial maka ada beberapa media pustaka digital yang dapat dimanfaatkan diantaranya ialah: 1. Komputer Komputer adalah sebuah media yang digunakan untuk mengolah data, menyimpan data, serta mengambil suatu data. pada saat ini komputer sudah banyak digunakan oleh masyarakat luas mulai dari kalangan anak-anak, remaja, sampai dewasa. Selain itu pada saat ini teknologi sudah semakin canggih, kita bisa melakukan apa saja hanya dengan komputer yang tuntunya memiliki sebuah jaringan internet yang dapat menghubungkan beberapa komputer. Hanya dengan satu alat saja kita bisa melakukan beberapa kegiatan yang bahkan tidak pernah bisa kita bayangkan pada saat dahulu namun terjadi pada saat ini, diantaranya ialah seperti bermain game, bersua dengan kerabat yang jauh jaraknya namun dapat berjumpa via online, berkirim email , dengan begitu kita tidak perlu lagi susah payah untuk berkirim pesan, saat ini untuk meningkatkan perekonomian juga bisa melalui komputer yaitu dengan jual-beli online, bahkan ada beberapa atau sebagian dari masyarakat yang sudah mengerti tentang teknologi mereka memanfaatkan media komputer untuk berbisnis yaitu membuat aplikasi ecommerce. Pada tahun 1947 komputer mulai muncul sebagai sebuah komponen utama, yang mana munculnya komputer ini beriringan dengan lahirnya teknologi informasi. dengan adanya komputer dan teknologi informasi tentunya sangat membantu atau men support berjalannya suatu perpustakaan terutama saat pandemic seperti ini. Dalam perpustakaan, komputer merupakan salah satu media yang sangat dibutuhkan, diantaranya seperti: a. Untuk mengolah data yang ada di perpustakaan, dengan begitu pemustaka bisa dengan mudah mendapatkan sebuah data yang ia butuhkan. b. Untuk mengakses katalog online yaitu OPAC (online public acces catalog). c. Untuk mengakses koleksi digital sehingga dapat mempermudah pemustaka dalam mendapatkan informasi. d. Untuk membantu pustakawan dalam melakukan pekerjaannya seperti dalam pengolahan bahan pustaka, atau dalam layanan sirkulasi (meminjam dan pengembalian bahan pustaka). 2. OPAC (Online Publik Acces Catalog) Perpustakaan dibangun untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat sekitarnya, perpustakaan juga sebuah unit yang sangat berperan dalam proses mencerdaskan anak bangsa. Sebagai unit yang menyediakan informasi perpustakaan membutuhkan suatu sarana dalam proses temu temu kembali informasi seperti katalog. Katalog adalah sebuah daftar koleksi bahan pustaka atau bisa disebut juga sebagai wakil dari sebuah dokumen, adapun informasi yang ada di dalam katalog ialah seperti judul, nama pengarang, penerbit, tahun terbit, tempat terbit, dan informasi lainnya yang terdapat dalam fisik bahan pustaka tersebut.(Suhendar, 2016) namun pada saat ini teknologi dapatmenjadikan segala sesuatu dengan mudah, hanya dengan memanfaatkan perkembangan teknologi segala kegiatan akan menjadi lebih mudah untuk dikerjakan, termasuk seperti katalog yang mana pada saat ini sebagian dari perpustakaan ada yang sudah beralih untuk menggunakan sebuah sistem yang sudah terkomputerisasi katalog online yaitu OPAC (Online Public Acces Catalog).(Made et al., n.d.) OPAC adalah sebuah sebuah katalog yang berbasis digital yang berisikan bibliografi bahan pustaka mulai dari judul sampai dengan nomor ISBN bahan pustaka yang disimpan dalam sebuah komputer dan berbentuk online.(Ahmadi, 2019) Dengan adanya OPAC pada perpustakaan tentunya dapat mempermudah proses temu kembali informasi yang ada di perpustakaan terutama di saat pandemic seperti sekarang ini. Adapun beberapa hal yangdapat dimanfaatkan dari opac ialah: a. Saat ini opac sangat membantu pemustaka dalam mendapatkan informasi yang ia butuhkan terlebih saat pandemic perpustakaan ber operasi hanya beberapa jam saja sehingga waktu pemustaka untuk berkunjung juga sangat minim jika harus mencari satu - persatu, dari rak ke- rak, dengan demikian OPAC hadir untuk mempermudah dan mempercepat proses pencarian pengguna perpustakaan. b. Fitur yang dimiliki oleh OPAC merupakan user friendly, lengkap, serta informasi yang disajikan selalu up-to-date yaitu informasi yang terbaru, dengan begitu pemustaka menjadi lebih terbantu dalam mencari informasi. c. Selain itu dengan adanya OPAC yang tentunya bisa di akses dengan mudah oleh pemustaka kapan saja dan dimana saja dapat mempermudah pengguna dalam mencari informasi walaupun hanya di rimah saja. 3. SLIMS (senayan Library Management System) Perpustakaan dijadikan sebagai sumber informasi bagi masyarakat serta pusat pembelajaran, mengingat kondisi saat ini tidak ada salahnya jika kita memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di perpustakaan. Seperti yang dikatakan oleh kepala biro kerja sama dan hubungan masyarakat (BKHM) Kemendikbud, yaitu ibu Evy Mulyani beliau mengatakan bahwa “untuk menciptakan layanan prima perpustakaan di abad 21 kita harus memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi di dalam perpustakaan” adapun isi dari paradigma perpustakaan modern abad 21 ialah “menjadikan perpustakaan tanpa adanya batas ruang dan waktu, yaitu menyediakan sebuah layanan yang dapat diakses darimana saja dan kapan saja”.(Kemdikbud, 2020) Untuk memenuhi paradigma perpustakaan modern abad 21 ini maka terciptalah sebuah layanan yang menggunakan sebuah sistem automasi perpustakaan terbuka atau biasa dikenal dengan open source sistem ini mulai diluncurkan pada tahun 2007 yang mana dibangun oleh perpustakaan kemendikbud serta digunakan oleh perpustakaan kemendikbud juga. Saat ini SLIMS sudah banyak dikembangkan oleh para komunitas SLIMS sistem yang digunakan oleh SLIMS juga sangat memenuhi kebutuhan perpustakaan mulai dari aksesnya yang menggunakan lisensi open source atau dikenal dengan GPL 3 yang mana dengan ini dapat digunakan oleh banyak orang akses yang sangat luas serta bisa digunakan oleh public. Adapun beberapa hal yang dimanfaatkan oleh pengguna saat pandemic seperti diantaranya seperti: a. Dapat digunakan oleh pengguna walaupun tetap menerapkan protocol kesehatan atau saat sedang stay at home. b. Pengguna dapat mencari bahan pustaka tanpa harus datang ke perpustakaan. SLIMS ini dapat dimanfaatkan sebagai sumber informasi oleh pemustaka disaat pandemic. c. Terlebih pada perpustakaan desa berbasis inklusi sosial yang mana tentunya penduduk sekitar sangat membutuhkan peran perpustakaan untuk membangkitkan perekonomian di masa pandemic ini, maka dengan adanya sebuah layanan SLIMS masyarakat tetap bisa mengakses informasi dengan mudah, membuka wawasan mereka untuk tetap berkarya, ber inovasi, dan terus berusaha walau berada di dalam kondisi ini. SLIMS merupakan salah satu media pustaka yang sangat berperan dalam perpustakaan, yang mana sampai saat ini sudah ada SLIMS dengan model terbaru yaitu SLIMS 9 Bulian selain itu SLIMS juga sudah digunakan oleh banyak perpustakaan di Indonesia bahkan sudah menjadi sistem automasi yang resmi serta direkomendasikan oleh perpustakaan beberapa Negara lain.
Conclusion
Dari hasil penelitian ini dapat kita simpulkan bahwa perpustakaan memiliki peranan penting dalam pembangunan berkelanjutan khususnya perpustakaan desa berbasis inklusi sosial. Selain itu perpustakaan juga berperan dalam rangka mencerdaskan anak bangsa melalui gerakan literasi, serta menumbuhkan minat baca. Dalam kondisi saat ini yaitu pandemic covid 19 perpustakaan desa berbasis inklusi sosial mengalami penurunan secara signifikan. Namun pustakawan mulai bergerak yaitu dengan memanfaatkan media pustaka digital dalam membangun perpustakaan desa berbasis inklusi sosial seperti media pustaka komputer, opac, dan slims. Yang mana semuanya memiliki peran penting dan memudahkan pengguna dalam mengakses, mencari, dan mendapatkan informasi yang mereka butuhkan dimanapun dan kapanpun.