Kembali
16
1
2022 Journal Papyrus : Sosial, Humaniora, Perpustakaan dan Informasi Vol 1 · 2 ISSN 2829-0690

PRESERVASI BAHAN PUSTAKA

Universitas Islam Makassar

Abstrak

Pokok masalah yang diangkat dalam penelitian ini yaitu bagaimana bagaimana kegiatan preservasi bahan pusatak, factor penyebab kerusakan bahan pustaka, dan pencegahan kerusakan bahan pustaka. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif. Instrumen penelitian yaitu Catatan Observasi yaitu suatu metode atau teknik penulisan yang digunakan oleh penulis untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara sistematis dan mencatat melalui pengamatan dan pencatatan terhadap tanda-tanda atau gejala-gejala yang akan diselidiki. Literatur pendukung kajian, Pedoman Wawancara yaitu proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara si penanya atau pewancara dengan si penjawab atau informan, Chek List Dokumentasi yaitu mengumpulkan data dari sumber-sumber non-insani (bukan manusia). Teknik Pengolahan Data yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Proses analisis data dilakukan secara terus-menerus di dalam proses pengumpulan data selama penelitian berlangsung. Penelitian ini menunjukan bahwa dalam kegiatan preservasi bahan pustaka antara lain penjilidan, laminasi, enkapsulasi, dan penyiangan atau weeding. Manusia merupakan faktor utama penyebab kerusakan bahan pustaka, pemustaka kadang merobek bagian-bagian tertentu sebuah buku, adapula pemustaka sengaja membuat lipatan tanda batas bacaan atau melipat buku belakang akibatnya perekat buku akan terpisah dari jilidnnya. Faktor lainnya yaitu buku dipegang dengan tangan kotor atau berminyak, buku akan kotor dan ternoda. Selain itu petugas perpustakaan menempatkan bahan pustaka terlalu padat di dalam rak sehingga menyebabkan bahan pustaka pada punggung dan kulitnya rusak. Tindakan pencegahan kerusakan bahan pustaka yaitu tidak meninggalkan sisa makanan dalam perpustakaan, senantiasa memelihara kebersihan ruangan, lemari dan rak buku serta ruang-ruang sekitarnya.
Keywords: Presevasi · Pelestarian dan Perawatan Bahan Pustaka

Introduction

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menyebutkan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai wahana Pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa, dengan tujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, serta memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dalam konteks ini, maka masyarakat mempunyai hak yang sama untuk memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan dalam peningkatan kualitas hidupnya. Pasal (5) UU 43/2007 tentang Perpustakaan mengatur hak, kewajiban masyarakat terhadap perpustakaan, bahwa: (i) masyarakat mempunyai hak yang sama untuk memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan; (ii) masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus (iii) masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan fisik, emosional, mental, intelektual, dan/atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Perpustakaan merupakan unit kerja yang berupa tempat mengumpulkan, menyimpan dan memelihara koleksi bahan pustaka yang dikelola dan diatur secara sistematis dengan cara tertentu untuk digunakan secara kontinu oleh pemakainya sebagai sumber informasi. Selain mengumpulkan dan menyimpan, perpustakaan itu juga memelihara koleksi bahan pustaka yang di lakukan secara praktis dan sistematis. Keberadaan sebuah perpustakaan sangat tergantung pada kondisi bahan pustaka karena bahan pustaka merupakan salah satu unsur penting dalam sebuah sistem, selain ruangan atau gedung peralatan dan perabot, tenaga dan anggaran. Unsur-unsur tersebut satu sama lain saling terkait dan saling mendukung untuk terselenggaranya layanan perpustakaan yang baik. Bahan pustaka tersebut antara lain berupa buku, terbitan berkala, surat kabar dan majallah, serta bahan audio visual seperti kaset, video, slide, mikri film dan sebagainya harus dipelihara dengan baik dan dilestarikan isi informasi yang dikandungnya. Pemeliharaan bahan pustaka perlu dibina sedemikian rupa dan dapat lebih ditingkatkan mutunya. Setiap perpustakaan selalu mengiginkan koleksi bahan pustaka itu tetap dalam keadaan utuh. Agar bahan pustaka dalam keadaan utuh, maka diperlukan penanganan yang serius terhadap pemliharaan koleksi bahan pustaka yang menjadi tanggung jawab para pustakawan. Keberhasilan suatu perpustakaan tidak saja ditunjang oleh pelayanan informasi yang diberikan oleh pustakawan, tetapi juga ditunjang oleh keutuhan koleksi perpustakaan yang dimiliki. Keutuhan koleksi yang berbahan kertas maupun bahan-bahan lain mudah rusak karena faktor manusia, binatang, dan alam. Manusia cukup potensial sebagai perusak bahan pustaka apabila kurang mengetahui bagaimana cara penggunaan bahan pustaka dengan baik. Banyak pembaca di ruang perpustakaan membaca buku dengan cara melipat yang dapat merusak punggung buku. Belum lagi mereka membaca sambil mengunyah makanan yang mana sisa-sisa dari makanan tersebut dapat mengundang hama tikus, kecoa, atau serangga yang lebih berbahaya lagi. Faktor binatang seperti kecoa, tikus, rayap, kutu buku dan serangga lainnya merupakan perusak sekaligus musuh bagi pustakwan. Sementara faktor alam yang berupa panas matahari, kelembapan, air, hujan sangat berbahaya bagi kelestarian bahan pustaka. Pelestarian bahan pustaka sudah merupakan suatu kebutuhan bagi bangsa kita, mengingat kesadaran akan keberadaan perpustakaan semakin luas, perhatian pemerintah akan pelestarian makin meningkat, pengadaan, pengelolaan, preservasi dan konservasi bahan pustaka harus diadakan. KAJIAN PUSTAKA Kegiatan preservasi bahan pustaka merupakan langkah menyelamatan bahan pustaka dari kerusakan dan kemusnahan akibat faktor hama dan manusia dan faktor alam. A. Pengertian Preservasi Bahan Pustaka Menurut Lasa (2009: 233-234) Pelestarian (preservation) adalah sistem pengolahan dan perlindungan pada bahan pustaka, atau tugas maupun pekerjaan untuk memperbaiki, memugar, melindungi, dan merawat bahan pustaka, dokumentasi, arsip maupun bahan informasi serta bangunan perpustakaan. Hal ini sangat penting dilaksanakan, karena keutuhan dan kerapian suatu buku akan besar manfaatnya ataupun pengaruhnya terhadap pemakainya. Buku-buku yang sebahagian telah rusak serta kurang teratur atau terurus susunannya pasti akan menimbulkan rasa kurang senang, bahkan sangat mengurangi gairah atau selera (minat) untuk membacanya. Dalam berbagai literatur ditemukan makna “conservation” dan “restoration”. Conservation atau pengawetan terbatas pada kebijakan serta cara khusus dalam melindungi bahan pustaka dan arsip untuk melestarikan koleksi tersebut. Restoration atau pemugaran mengacu pada pertimbangan serta cara yang digunakan untuk memperbaiki bahan pustaka dan arsip (Sulistiyo Basuki, 1991: 271). Dari berbagai penjelasan di atas maka dapat dipahami bahawa preservasi adalah aktivitas-aktivitas yang mencakup pemberian suatu lingkungan yang stabil bagi semua jenis media arsip, menggunakan metode-metode penanganan dan penyimpanan yang aman, menduplikasi bahan-bahan yang tidak stabil (misalnya nitrate film, thermofax) ke suatu media yang stabil, mengkopi bahan-bahan yang potensial mengalami kerentanan ke suatu format yang stabil (dimikrofilmkan atau didigitalisasi), menyimpan arsip-arsip dalam tempat-tempat penyimpanan yang terbuat dari bahan yang stabil (misalnya, boks dokumen yang terbuat dari kertas karton "bebas asam"), memperbaiki dokumen-dokumen untuk melestarikan format asli mereka, membuat program kontrol terhadap hama perusak dan menyiapkan rencana pemulihan bencana yang memasukkan rencana-rencana untuk kesiapan dan respon terhadap terjadinya bencana. Tujuan preservasi bahan pustaka menurut Pambudi Bayu S (2007:30) yaitu : 1. Menyelamatkan nilai informasi dokumen 2. Menyelamatkan fisik dokumen 3. Mengatasi kendala kekurangan ruang 4. Mempercepat perolehan informasi Adapun fungsi preservasi bahan pustaka menurut Razak Mohammadin (1992:27) sebagai berikut : 1. Fungsi perlindungan Upaya melindungi bahan pustaka dari beberapa faktor yang mengakibatkan kerusakan 2. Fungsi pengawetan Upaya pengawetan terhadap bahan pustaka agar tidak cepat rusak dan dapat dimanfaatkan lebih lama lagi. 3. Fungsi kesehatan Upaya menjaga bahan pustaka tetap dalam kondisi bersih sehingga tidak berbau pengap dan tidak mengganggu kesehatan pembaca maupun pustakawan. 4. Fungsi pendidikan Upaya memberikan pendidikan kepada pembaca, bagaimana memanfaatkan bahan pustaka yang baik dan benar 5. Fungsi kesabaran Upaya pemeliharaan bahan pustaka membutuhkan kesabaran dan ketelitian. 6. Fungsi sosial Pemeliharaan bahan pustaka sangat membutuhkan keterlibatan dari orang lain 7. Fungsi ekonomi Pemeliharaan yang baik akan berdampak pada keawetan bahan pustaka, yang akhirnya dapat meminimalisasi biaya pengadaan bahan pustaka 8. Fungsi keindahan dengan pemeliharaan yang baik, bahan pustaka di perpustakaan akan tersusun rapi, indah dan tidak berserakan, sehingga perpustakaan kelihatan indah dan nyaman. B. Perpustakaan Sebagai Unit Pelaksanaan Teknis Pendidikan Sekolah Banyak sekali kerusakan yang terjadi pada bahan pustaka.Dan hal ini terjadi karena berbagai faktor. Faktor-faktor penyebab kerusakan bahan pustaka tersebut antara lain : 1. Kerusakan oleh alam Kerusakan bahan pustaka salah satunya disebabkan oleh alam. Faktor alam yang dapat merusak bahan pustaka adalah cahaya, udara, air, dan api. Cahaya adalah suatu bentuk energi elektromagnetik yang berasal dari radiasi cahaya matahari dan lampu listrik. Cahaya sangat penting untuk menerangi ruang perpustakaan. Tapi di dalam cahaya terdapat sinar ultra violet yang mampu merusak kertas dan merubah warna. Sebenarnya kekuatan kertas tidak akan berkurang oleh perubahan suhu yang tidak begitu ekstrim, asalkan kandungan air dalam kertas rendah. Masalah timbul karena kita negara beriklim tropis, pada musim hujan kelembapan udara tinggi, kandungan air relatif tinggi maka kandungan air bertambah, ini menyebabkan bahan pustaka yang terbuat dari kertas akan ditumbuhi jamur. Sedangkan pada musim kemarau kelembapan udara akan turun hal ini akan menyebabkan bahan pustaka akan menjadi rapuh. Didalam udara terdapat juga berbagai faktor penyebab kerusakan bahan pustaka seperti debu. Debu yang telah bercampur asap industri dan kendaraan yang bercampur asam dan senyawa kimia, dimana dapat menimbulkan noda lengket dan bahan pustaka menjadi lengket. Selain itu bahan pustaka dapat rusak dari bencana alam, misalnya banjir dan kebakaran.Kedua bencana itu dapat mengakibatkan bahan pustaka menjadi rusak cukup berat, dalam waktu yang singkat dan bahan pustaka yang relative banyak 2. Kerusakan oleh manusia Manusia sebagai pengguna perpustakaan adalah sahabat dari bahan pustaka yang setia, namun adakalanya manusia dapat menjadi musuh yang setia bagi bahan pustaka. Kerusakan yang dilakukan oleh manusia terhadap bahan pustaka yaitu kerusakan yang disengaja maupun tidak disengaja. Kerusakan yang disengaja yang dilakukan yaitu pengguna dengan sengaja mencoret-coret bahan pustaka, merobek lembaran-lembaran yang mereka perlukan, bahkan manusia dapat menghilangkan bahan pustaka yang berada di perpustakaan. Sedangkan kerusakan yang tidak disengaja yang dilakukan manusia yaitu makan dan minum pada saat membaca, hal ini dapat menimbulkan dan mengundang hama untuk memakan sisa makanan dan minuman dalam bahan pustaka, akhirnya merusak bahan pustaka tersebut. 3. Kerusakan oleh Binatang Hal yang sangat perlu diperhatikan oleh pustakawan dalam memeliharabahan pustaka adalah binatang pengerat dan serangga, karena bahan pustakaterdiri dari kertas dan perekat yang merupakan sumber makanan bagi mahluk tersebut. Jamur juga dapat merusak bahan pustaka oleh sebab itu bahan pustaka harus dipelihara agar tidak habis. Jamur merupakan tumbuhan parasit yang menumpang hidup pada sembarang tempat dan bisa hidup pada kertas yang memiliki kelembapan udara. Keadaan seperti ini akan mengakibatkan berkembang biaknya di atas permukaan kertas. Hal ini akan menyebabkan kertas asam dan lembut. Bukan hanya binatang pengerat saja yang menjadi musuh bahan pustaka, tapi juga serangga yang menjadi musuh bahan pustaka seperti : a. Rayap Menyukai bahan yang terbuat dari kayu, di perpustakaan terdapat rak kayu yang akan di jadikan sarangnya dan rak tersebut akan dilobanginya, dan kadang-kadang rayap memasuki kertas juga. b. Kecoa Serangga ini memakan kanji yang merupakan sampul perekat buku dan tak jarang pula membuat noda yang sulit untuk dihilangkan. c. Kutu buku Makanan utamanya adalah kertas perekat yang ditumbuhi oleh jamur. d. Ngengat Serangga ini memakan sampul buku yang terbuat dari kain. Cepat atau lambat. C. Usaha Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka Usaha melakukan pencegahan kerusakan bahan pustaka yang dilakukan sejak dini merupakan tindakan yang lebih baik dan tepat daripada melakukan perbaikan bahan pustaka yang telah parah keadaannya. Usaha melakukan pencegahan kerusakan koleksi dapat dilakukan denga cara berikut ini : 1. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh manusia: a. Dalam jangka waktu tertentu hendaknya bahan pustaka atau dokumen di periksa keutuhannya. b. Didalam sebuah perpustakaan hendaknya dipasang papan pengumuman yang ditempeli lembar peraturan mengenai tata cara perbaikan buku. c. Memberikan sanksi berupa denda kepada peminjam yang menyebabkan buku menjadi rusak. d. Memperhatikan cara penempatan buku di dalam rak buku. Dan buku jangan disusun terlalu padat, buku akan sulit dikeluarkan. 2. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh tikus Tikus adalah jenis hewan yang susah dibasmi. Usaha pembasmian yang biasa dilakukan manusia adalah dengan cara memasang perangkap tikus. Cara ini sekarang tidak terlau dipakai karena hadirya beberapa jenis racun tikus. Pencegahan dan pembasmian tikus dapat dilkukan dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut : a. Melakukan pemeriksaan secara teratur terhadap gedung, ruang atau tempat peyimpanan buku. b. Kotoran atau sisa makanan yang terdapat di saluran air disekitar tempat peyimpanan buku hendakanya dibuang. c. Menggunakan berbagai jenis perangkap. d. Menggunakan perekat tikus. 3. kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh serangga. Dewasa ini bahan-bahan kimia pembunuh serangga telah banyak beredar di toko-toko. Namun pengguna bahan kimia pemberantas serangga itu harus hati-hati. Karena semua bahan kimia megandung racun yang kadang-kadang membahayakan keselamatan jiwa manusia. Pemberantasan serangga dapat ditempuh dengan cara seperti berikut ini: a. Peyemprotan dengan menggunakan baygon b. Tempat yang disemprot adalah tempat tertentu seperti tembok, lantai, langit-langit dan rak buku. Peyemprotan ini dilakukan untuk peracunan buku adalah : 1) Lem atau perekat yang dipergunakan untuk menjilid buku dicampur dengan eldrin. 2) Sebelum dijilid kulit buku dipernis dengan menggunakan inteksida tertentu. 4. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh jamur Jamur tumbuh atau timbul ditempat-tempat yang mempunyai kelembaban yang terlampau tinggi. Pembasmian jamur dapat dilakukan dengan seperti berikut ini: a. Menjaga ruagan buku dari genangan air. Oleh karena itu, saluran-saluran air harus diatur sebaik-baiknya. b. Menempatkan kapur sirih yang dimasukkan ke dalam baskom pada setiap buku. Kapur sirih itu akan menyerap udara yang berlebihan di dalam ruangan. c. Menempatkan arang pada setiap rak buku. 5. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh banjir Bahan pustaka yang rusak karena banjir biasanya memerlukan perawatan khusus. Bahan pustaka yang keadaannya parah harus diperbaiki di tempat perbaikan dan penjilidan. Tindakan yang dapat diambil sebagai pencegahan: a. Ikatan bahan pustaka jangan dilepaskan. Dengan demekian, lumpur yang ada pada bagian luar mudah dibersihkan dengan menggunakan kapas yang sudah dilembabakan . b. Air yang terdapat dalam ikatan buku harus dikeluarkan dengan cara menekan perlahan-lahan. c. Bahan pustaka yang masih basah dikeringkan. d. Bahan pustaka jangan dikeringkan dibawah pancaran sinar matahari. 6. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh debu, faktor kimia, dan logam dari udara. Bahan-bahan pencemar udara seperti gas-gas pencemar, debu dan artikel logam dalam udara yang dapat merusak dapat dikurangi dengan langkah-langkah sebagai berikut : a. Ruangan menggunakan AC, karena dalam AC terdapt filter untuk menyaring udara, dan biasanya yang berAC selalu tertutup rapat. b. Di dalam ruangan dipasang alat pembersih udara (air cleaner) di dalam alat ini terdapat bahan karbon aktif unutk menyerap gas-gas pencemar udara, dan juga terdapat filter unutk membersihkan udara dari partikel debu. c. Membersihkan kertas dari debu dengan menggunkan facum cleaner secara berkala dan teratur. 7. Kerusakan bahan pustaka yang disebabkan oleh cahaya. a. Memperbaiki intensitas cahaya yang digunakan dalam gedung dan ruang kaca. b. Memperpendek waktu pencahayaan. c. Menghilangkan radiasi ultra violet yang dapat menimbulkan reaksi foto kimia pada kertas dari sumber cahaya. Ada dua macam cahaya yang digunakan untuk menerangi ruangan, yaitu : a. Cahaya alam ( cahaya matahari) yang masuk lewat jendela atau atap Cahaya matahari yang masuk lewat jendela baik yang langsung atau dipantulkan oleh benda lain, megandung radiasi ultra violet. Oleh sebab itu cahaya yang masuk lewat jendela ini harus disaring atau dipantulkan lebih dahulu kepada bahan yang bias menyerap ultra violet, agar koleksi kertas terhindar dari kerusakan. b. Cahaya buatan (lampu listrik). Cahaya ini dapat digunakan langsung dipantulkan atau disaring. Cahaya yang berasal dari lampu akan sangat baik menerangi ruangan, karena cahaya merata, tapi di bawa lampu ini harus dipasang filter untuk menyerap sinar ultra violet

Method

Dalam penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk memahami kegiatan preservasi bahan pustaka, faktor-faktor apa yang menyebabkan kerusakan bahan pustaka, dan bagaimana usaha mencegah kerusakan bahan pustaka, hal demikian ditelaah secara komprehensif, intens, rinci dan mendalam, dengan demikian maka usaha perawatan bahan pustaka dapat teratasi dan ditemukan solusi pemecahannya. Sumber data yang digunakan yaitu data kepustakaan dan data lapangan dengan informan pengelola perpustakaan. Data sekunder merupakan data referensi pendukung yang ada kaitannya dengan apa yang diteliti melalui kepustakaan (library research), seperti buku, majalah, jurnal, dan lain-lain. Metode pengumpulan data yaitu melalui penelusuran literatur dan proses wawancara atau dialog dengan pengelola perpustakaan. Dokumentasi, yaitu penulis langsung melihat dan membaca dokumen atau arsip-arsip yang berhubungan dan diperlukan dalam pembahasan artikel tersebut. Teknik pengolahan data yaitu mengumpulkan literature pendukung sesuai kajian dan menyusun suatu daftar permasalahan dalam bentuk pertanyaan dan disusun secara sistematis berdasarkan kerangka konseptual. Model analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yang dimulai dengan pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi. Proses analisis data dilakukan secara terus-menerus di dalam proses pengumpulan data selama penelitian berlangsung.

Discussion

A. Kegiatan Preservasi Bahan Pustaka Metode yang diterapkan dalam kegiatan preservasi bahan pustaka yaitu: 1. Preservasi pada Bahan Pustaka a. Penjilidan Penjilidan dilakukan terhadap bahan pustaka yang sampulnya rusak, benang jahitannya lepas ataupun halaman yang tidak berurut lagi sehingga perlu dibongkar dan dijild kembali. Penjilidan dilakukan juga pada majalah yang sudah lengkap satu volume dalam satu tahun agar tidak berserakan atau hilang. Apabila jilidan majalah satu volume terlalu tebal dapat dijadikan dua atau tiga jilidan. Perlu dipikirkan bahan-bahan penjilidan, biaya penjilidan, jika biaya penjilidan sama dengan biaya pembelian baru, dengan judul yang sama maka lebih baik membeli bahan pustaka. Ada dua model kegiatan penjilidan pada bahan pustaka yaitu: 1. Penjilidan buku Penjilidan buku merupakan hal yang paling penting dari pemeliharaan. Buku yang baru masuk kadang-kadang memerlukan penjilidan. Kegiatan penjilidan bahan pustaka yang dilakukan seperti berikut : a. Kumpulkan buku-buku yang akan dijilid. b. Cabutlah kartu shelflsit buku yang akan dijilid. c. Susunlah buku itu menurut subyek masing-masing. d. Selipkan formulir perintah penjilid bagi pesan menjilid. e. Setelah menerima buku terjilid, periksalah buku tersebut sesuaikan dengan formulir penjilidan. 2. Penjilidan majalah Proses penjilidan majalah sesuai dengan mekanisme yang ada yaitu: a. Judul b. Judul penjilid, kadang-kadang disebut judul punggung. c. Tahun d. Volume dan nomor, misalnya vol. 7 no. 1-12 e. Instruksi mengenai iklan, apakah perlu diambil atau tidak f. Materi penjilidan terutama untuk karton g. Instruksi khusus segera dijilid b. Menambal dan menyambung Yakni mengisi lubang-lubang pada kertas dan menyatukan kertas yang sobek akibat kerusakan oleh faktor biota. Hanya saja teknik pekerjaan berbeda. Menambal caranya menyediakan bubur kertas itu diisikan padalubang kertas, diratakan dengan menekan-nekan agar kertas pertamasama tebal dengan kertas yang baru ditambal. Sedangkan penyambung meletakkan kertas yang sobek di atas kertas tisu yangsama tebal dengan kertas yang rusak dan berperekat. c. Laminasi dan enkapsulasi Laminasi dilakukan bagi bahan pustaka yang tidak dapat diperbaiki dengan menjilid, menambal dan menyambung. Biasanya bahan pustaka yang dilaminasi karena sudah berwarna kuning, coklat, kotor dan berbau apek. Laminasi maksudnya adalah menutupi satu lembar kertas diantara dua lembar bahan penguat. Laminasi ini dapat dilaksanakan secara manual yakni laminasi dengan tangan dan laminasi modern dengan menggunakan mesin dimana bahan laminasi sudah didesain dalam bentuk siap pakai. Cara lain selain laminasi adalah enkapsulasi. Enkapsulasi adalah salah satu cara melindungi kertas dari kerusakan fisik misalnya rapuh karena umur. Yang harus diperhatikan dalam pelaksanaan enkapsulasi adalah kertas harus bersih, kering dan bebas asam. d. Penyiangan/weeding Pemelihan pustaka yang dinilai tidak bermanfaat lagi bagi perpustakaan. Dan untuk lebih jelasnya dapat diuraikan lebih lanjut mengenai proses penyiangan yang dilakukan seperti berikut : 1. Kriteria penyiangan Koleksi bahan pustaka yang perlu disiangi antara lain : a) Umurnya sudah terlalu tua, isinya sudah kadaluwarsa dan tidak cocok lagi utuk dibaca. b) Jumlah copynya/duplikat terlalu banyak c) Rusak tidak mungkin lagi diperbaiki. d) Dilarang beredar oleh pemerintah e) Subyeknya tidak sesuai dengan program lembaga yang bersangkutan. f) Bahan pustaka yang isinya tidak lengkap dan tidak mungkin untuk dilengkapi atau diganti lagi. 2. Prosedur Penyiangan Dilakukan dengan langkah sebagai berikut: a) Menentukan bahan pustaka yang perlu disiangi b) Menyisihkan bahan pustaka dari tempatnya ketempat peyimpanan khusus untuk diperbaiki c) Menyisihkan bahan pustaka yang masih bermanfaat utuk perpustakaan lain d) Menghadiahkan bahan pustaka kepada perpustakaan lain e) Membubuhkan stempel ditarik/dikeluarkan dari perpustakaan f) Mencabut dan menyisihkan kartu katalog yang akan disiangi g) Menghapus bahan pustaka dari inventaris dan buku induk 2. Preservasi pada Peta dan Slide a. Koleksi Peta Peta merupakan salah satu sumber informasi untuk menunjang penelitian, pendidikan, maupun untuk keperluan bisnis. Karena itu ada bermacam-macam jenis peta, misalnya peta geografis, peta perdagangan, peta bahasa, peta navigasi, peta hasil bumi dan sebagainya. b. Slide Tempat penyimpanan harus bebas dari cahaya langsung dari luar, debu serta kelembaban. Slide yang berserakan akan mudah rusak karena kena debu serta goresan. Slide tidak dapat dibaca dengan mata telanjang. Untuk membaca slide, harus menggunakan alat yang disebut proyektor.Karena itu proyektor harus selalu dirawat agar slidenya dapat dimanfaatkan setiap saat. B. Faktor Kerusakan Bahan Pustaka Banyak sekali kerusakan yang terjadi pada bahan pustaka. Dan hal ini terjadi karena berbagai faktor antara lain: 1. Manusia Merupakan faktor utama penyebab kerusakan bahan pustaka yaitu manusia sebagai pengguna jasa perpustakaan yang sengaja merobek bagian-bagian tertentu sebuah buku atau sengaja membuat lipatan tanda batas bacaan atau melipat buku belakang. Sebagai akibatnya, perekat buku akan terpisah dari jilidannya. Kecerobohan lainnya apabila buku dipegang dengan tangan kotor atau berminyak, buku akan kotor dan ternoda. Selain itu petugas perpustakaan menempatkan bahan pustaka terlalu padat di dalam rak sehingga menyebabkan bahan pustaka pada punggung dan kulitnya rusak. 2. Jamur Jamur dapat merusak kertas dan berkembang biak dengan leluasa. Noda jamur yang menempel mula-mula berwarna putih, kemudian warna itu berubah menjadi biru dan akhirnya warna biru itu menjadi hitam. 3. Serangga Serangga termasuk anai-anai, rayap, kumbang buku, kutu buku, merupakan serangga yang mampu memasuki ruangan perpustakaan melalui celah-celah pintu, jendela atau ventilisasi ruangan yang cenderung hidup di ruang gelap. 4. Hewan pengerat Kadang pemustaka lalai saat membawa makanan dan minuman kedalam perpustakaan yang dapat mengundang kecoak dan semut, begitupula tumpukan buku yang berserakan didalam rak atau lemari yang mana dapat memancing tikus-tikus untuk masuk ke perpustakaan utuk mencari makan sekaligus membuat sarang untuk berkembang biak. 5. Debu Dan Kotoran Debu dan kotoran pada kertas bahan pustaka dapat menyebabkan terjadinya reaksi kimia yang mengakibatkan tingkat keasaman pada kertas sangat tinggi sehingga kertas menjadi rapuh dan cepat rusak. 6. Cahaya Cahaya adalah suatu bentuk energi elektromagnetik yang berasal dari radiasi cahaya matahari dan lampu listrik. Cahaya sangat penting untuk menerangi ruang perpustakaan. Tapi di dalam cahaya terdapat sinar ultra violet yang mampu merusak kertas dan merubah warna. 7. Suhu Sebenarnya kekuatan kertas tidak akan berkurang oleh perubahan suhuyang tidak begitu ekstrim, asalkan kandungan air dalam kertas rendah. Masalah timbul karena kita negara beriklim tropis, pada musim hujan kelembapan udaratinggi, kandungan air relatif tinggi maka kandungan air bertambah, ini menyebabkan bahan pustaka yang terbuat dari kertas akan ditumbuhi jamur. Sedangkan pada musim kemarau kelembapan udara akan turun hal ini akan menyebabkan bahan pustaka akan menjadi rapuh. C. Usaha Mencegah Kerusakan Bahan Pustaka Usaha melakukan pencegahan kerusakan bahan pustaka yang dilakukan sejak dini merupakan tindakan yang lebih baik dan tepat daripada melakukan perbaikan bahan pustaka yang telah parah keadaannya. Cara pencegahan yang dilakukan dari faktor yang ditimbulkannya kerusakan yaitu: 1. Faktor manusia Dari beberapa faktor penyebab kerusakan koleksi, pemustaka merupakan penyebab utama faktor kerusakan. Manusia dalam hal ini pemustaka perpustakaan menjadi kawan atau juga lawan. Pemakai perpustakaan menjadi lawan bila mana dia membantu pengaman buku dengan cara menggunakan bahan pustaka dengan kasar sehingga sobek atau rusak berat, dapat pula merobek bagian-bagian isi buku atau mengguntingya, membuat coretan-coretan, menjatuhkan buku, kena keringat, minyak, air dan lain-lain. 2. Jamur a. Menjaga ruangan perpustakaan dari genangan air dan rembesan air. Oleh karena itu, saluran-saluran air harus diatur dan dijaga sebaik-baiknya. b. Menempatkan kapur sirih yang dimasukkan ke dalam baskom, kapur sirih akan menyerap uap air yang berlebihan di dalaam ruangan. c. Menempatkan arang pada setiap rak bahan pustaka. d. Penuangan larutan racun ke dalam lubang. Cara ini dilakukan khusus untuk membunuh rayap. Larutan racun yang digunakan sebagai pembasmi rayap ialah aldrin, sodium arsenite, dieldrex, trichlorobenzene dan dieldrin. Bahan-bahan kimia itu di tuangkan ke dalam lubang-lubang yang dihuni oleh rayap. e. Di samping itu, bahan kimia lainnya yang dapat digunakan untuk membasmi rayap ialah DDT yang hanya digunakan di luar gedung perpustakaan. f. Campuran kresot dan minyak kerosin 1 banding 2 yang dioleskan pada kaki atau lemari dan cara lain yang dapat dilakukan ialah dengan memasukkan kaki rak atau lemari bahan pustaka ke dalam mangkok yang berisi cairan kreosot. 3. Serangga Serangga termasuk anai-anai, rayap, kumbang buku, kutu buku, merupakan serangga yang mampu memasuki ruangan perpustakaan melalui celah-celah pintu jendela atau ventilasi ruangan yang cenderung hidup di ruang gelap. Upaya yang dilakukan pustakawan dalam mengatasi binatang yang dapat merusak bahan pustaka adalah dengan cara mencegah datangya kecoa dan serangga lainnya. Caranya adalah membersihkan rak buku dan ruangan perpustakaan dari kotoran dan sisa makanan. 4. Hewan pengerat Karena seringnya pengunjung membawa makanan dan minuman masuk ke ruang perpustakaan, begitu pula tumpukan buku yang bersesakan di dalam rak atau lemari yang mana dapat memancing tikus-tikus untuk masuk ke perpustakaan untuk makan sekaligus membuat sarang untuk berkembang biak. Beberapa cara dilakukan petugas perpustakaan unutuk mencegah hal ini adalah tidak meninggalkan sisa makanan dalam perpustakaan, senantiasa memelihara kebersihan ruangan, lemari dan rak buku serta ruang-ruang sekitarnya. Untuk membasmi tikus yang terlanjur hadir di ruang perpustakaan dapat digunakan lem tikus. Bila hendak menggunakan racun tikus haruslah cermat dan perlu di hati-hati mengingat bahan racun tersebut sangat berbahaya bagi manusia. 5. Debu dan kotoran Debu dan kotoran melekat pada kertas bahan pustaka dapat menyebabkan terjadinya reaksi kimia yang mengakibatkan tingkat keasaman pada kertas sangat tinggi sehingga kertas menjadi rapuh dan cepat rusak. Debu dan kotoran yang melekat di permukaan kertas dapat menimbulkan beberapa masalah antara lain : a. Debu dan kotoran dapat menimbulkan noda, mengaburkan tulisan, merusak pemandangan dan merusak kesehatan. b. Gumpalan partikel debu yang telah mongering diantara kertas dapat menyebabkan permukaan kertas tergores. c. Kotoran dan debu yang melekat di permukaan kertas, menimbulkan noda apabila kertasnya basah, karena udara lembab atau kebanjiran, disamping itu juga dapat merusak dan memperpendek umur kertas. b. Adanya debu dan kotoran di permukaan kertas, dan berkembang biak apabila kondisi memungkinkan. c. Debu dan kotoran dapat berupa partikel-partikel logam, karbon, gas dan sulfur dioksida dan bahan-bahan yang berminyak seperti oli, minyak dan teh yang sangat berbahaya bagi kertas d. Debu dan kotoran yang tidak meresap masuk ke dalam kertas dapat dihilangkan dengan metode kering. Cara ini dilakukan dengan menggunakan alat-alat seperti sikat halus, kuas, spoon, vacuum cleaner. Sedangkan untuk kotoran yang sukar dibersihkan dengan alat-alat tersebut dapat dihilangkan dengan menggunakan penghapus karet. Adapun alat yang digunakan utuk menghilangkan debu dan kotoran yang melekat pada bahan kertas bahan pustaka sebagai berikut: a. Sikat dan kuas b. Alat ini digunakan untuk menghilangkan kotoran dan debu yang mudah lepas.Unutk menghilangkan kotoran yang berupa kerak lumpur yang sudah mongering, digunakan sikat gigi yang lebih besar atau sikat gigi. c. Vacuum cleaner d. Digunakan untuk membersihkan debu pada rak-rak buku, laci peyimpanan dan bagian atas dari buku yang ditata berdiri di perpustakaan. Keuntungan menggunakan vacuum cleaner dibandingkan dengan cara lain yaitu dapat megumpulkan debu yang diisapnya. e. Plastisien f. Untuk menghilangkan debu yang terdapat pada bagian buku yang ditata berdiri dengan mengangkat debu dari kertas. Cara ini tidak menimbulkan goresan atau lecet. g. Karet busa (spon) h. Debu dapat juga dihapus dengan karet busa.Cara menghapus dengan alat ini yaitu mulai dari tengah-tengah lembaran dihapuskan ke arah pinggir. i. Penghapus karet j. Permukaan kertas yang kotor oleh tanah, coretan pensil dan bekas jari dapat dihapus dengan karet penghapus lain yang tidak menyebabkan goresan pada kertas. 6. Cahaya a. Matahari Koleksi dihindarkan dari sinar matahari langsung, denga memasang filter flexy glass atau polyester film b. Listrik/Lampu Koleksi harus dihindarkan dari sinar ultra violet yang berasal dari lampu neon dengan cara memberikan filter (UV fluorescent light) atau seng oksida dan titanium oksida.

Conclusion

Berdasarkan pembahasan di atas, maka kesimpulan yang dapat ditarik yaitu dalam kegiatan preservasi bahan pustaka antara lain penjilidan, laminasi, enkapsulasi, dan penyiangan atau weeding. Manusia merupakan faktor utama penyebab kerusakan bahan pustaka, pemustaka kadang merobek bagian-bagian tertentu sebuah buku, adapula pemustaka sengaja membuat lipatan tanda batas bacaan atau melipat buku belakang akibatnya perikat buku akan terpisah dari jilidnnya. Faktor lainnya yaitu buku dipegang dengan tangan kotor atau berminyak, buku akan kotor dan ternoda. Selain itu petugas perpustakaan menempatkan bahan pustaka terlalu padat di dalam rak sehingga menyebabkan bahan pustaka pada punggung dan kulitnya rusak. Tindakan pencegahan kerusakan bahan pustaka yaitu tidak meninggalkan sisa makanan dalam perpustakaan, senantiasa memelihara kebersihan ruangan, lemari dan rak buku serta ruang-ruang sekitarnya.