ANALISIS KETERPAKAIAN BAHAN PUSTAKA DI PERPUSTAKAAN SMA NEGERI 1 SALATIGA
Universitas Kristen Satya Wacana; Universitas Kristen Satya Wacana; Universitas Kristen Satya Wacana
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penggunaan koleksi perpustakaan di SMAN 1 Salatiga. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Data dikumpulkan melalui metode dokumentasi, di mana peneliti secara langsung memeriksa bagaimana penggunaan koleksi perpustakaan tercermin dalam data sirkulasi Perpustakaan SMAN 1 Salatiga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penggunaan bahan pustaka di SMAN 1 Salatiga cenderung rendah. Ini dapat dilihat dari kurangnya intensitas penggunaan, frekuensi penggunaan, dan jumlah koleksi yang digunakan. Beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya tingkat penggunaan tersebut adalah kurangnya minat terhadap sebagian besar koleksi dan pengaruh pandemi COVID-19. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa perpustakaan perlu meninjau kembali koleksi yang paling diminati oleh pengguna dan melakukan promosi yang lebih efektif kepada pemustaka mengenai koleksi yang tersedia di perpustakaan. Hal ini bertujuan agar pemustaka lebih tertarik untuk mengunjungi perpustakaan dan memanfaatkan koleksi yang telah disediakan.
Keywords:
Bahan Pustaka
· Pemustaka
· Perpustakaan
Introduction
Perpustakaan berperan penting sebagai penyedia informasi dan bahan pustaka untuk memenuhi kebutuhan penggunanya. Ini melibatkan tidak hanya penyimpanan koleksi, tetapi juga pengelolaan dan penyusunan yang sistematis agar pengguna dapat mengaksesnya dengan efektif. Keberhasilan perpustakaan terukur dari sejauh mana koleksinya digunakan oleh pengguna. Salah satu faktor utama untuk memastikan perpustakaan bermanfaat adalah ketersediaan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, tugas utama perpustakaan adalah berusaha menyediakan koleksi yang relevan dengan kebutuhan pengguna. Untuk menilai sejauh mana perpustakaan mencapai tujuan ini dan apakah koleksinya memenuhi standar yang ditetapkan, diperlukan analisis dan evaluasi koleksi. Pengembangan koleksi juga harus sejalan dengan visi lembaga yang menjadi rumah bagi perpustakaan, sehingga perpustakaan harus mampu menyediakan koleksi yang beragam dan lengkap sesuai dengan sumber informasi yang dibutuhkan. Seperti yang diungkapkan oleh Lasa Hs (2009), koleksi adalah elemen kunci dalam kesuksesan perpustakaan, dan tanpa koleksi yang baik, perpustakaan tidak dapat berkembang. Ini adalah faktor penentu dalam memberikan informasi yang terkini dan relevan kepada pemustaka. Basuki (1991) menekankan bahwa kualitas dan kepuasan pengguna perpustakaan sangat bergantung pada ketersediaan koleksi yang mendukung kebutuhan mereka. Dalam konteks penggunaan koleksi, penting untuk memantau sejauh mana bahan pustaka digunakan oleh pemustaka. Ini bukan hanya untuk menilai seberapa sering koleksi dipinjam, tetapi juga untuk memahami kebutuhan pengguna. Hasil penelitian oleh Urrahmah & Nelisa (2019) di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang menunjukkan bahwa tingkat keterpakaian koleksi masih rendah secara keseluruhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan tingkat penggunaan bahan pustaka di SMAN 1 Salatiga. TINJAUAN PUSTAKA A.Penelitian Terdahulu Penelitian sebelumnya dilakukan untuk tujuan perbandingan dan sebagai referensi dalam upaya menghindari pengulangan dalam penelitian ini. Oleh karena itu, hasil dari penelitian sebelumnya dicantumkan sebagai berikut: Penelitian pertama, yang dilakukan oleh Eliyonika (2017) dengan judul "Keterpakaian Koleksi di Perpustakaan C2O Surabaya," menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi sejauh mana koleksi di Perpustakaan C2O Surabaya digunakan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa dalam satu bulan, intensitas kunjungan hanya sekitar 46%, yang dikategorikan sebagai "jarang" karena kunjungan kurang dari tiga kali dalam sebulan. Namun, pengamatan langsung oleh peneliti menunjukkan bahwa kunjungan sebenarnya lebih sering, masuk dalam kategori "sedang." Penelitian kedua, yang dilakukan oleh Rohiyatun & Aryani (2020) dengan judul "Evaluasi Tingkat Keterpakaian Koleksi Pustaka di Perpustakaan SMAN 1 Labuapi," menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan dokumentasi. Tujuannya adalah untuk mengevaluasi penggunaan koleksi pustaka di Perpustakaan SMAN 1 Labuapi. Hasil penelitian ini menyebutkan bahwa perpustakaan ini memiliki 447 judul buku dengan 4.140 eksemplar buku dari Januari hingga Desember 2018. Mereka menerapkan sistem terbuka dalam layanan sirkulasi untuk memungkinkan pemustaka memilih dan mengambil bahan pustaka sendiri. Namun, aturan peminjaman berlaku untuk semua sivitas akademika di sekolah tersebut. Penelitian ketiga, yang dilakukan oleh Urrahmah & Nelisa (2019) dengan judul "Evaluasi Tingkat Keterpakaian Koleksi Perpustakaan di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang," menggunakan metode deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi dan wawancara. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat penggunaan koleksi di Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Padang Panjang. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 27,38% dari total 19.197 koleksi yang tersedia digunakan, sebanyak 5.257 eksemplar. Semua penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif untuk mengumpulkan data. Perbedaan utama terletak pada lokasi penelitian dan jumlah data yang dikumpulkan terkait dengan penggunaan bahan pustaka di perpustakaan. B. Landasan Teori 1.Perpustakaan Sekolah Ibrahim (2001) mengungkapkan bahwa perpustakaan sekolah adalah sebuah fasilitas yang disediakan di lingkungan sekolah dengan tujuan untuk mendukung proses pembelajaran di lembaga pendidikan formal seperti sekolah dasar, menengah pertama, dan sekolah menengah atas. Perpustakaan sekolah ini sepenuhnya dikelola oleh sekolah itu sendiri dan tujuan utamanya adalah untuk mendukung pelaksanaan serta mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Sekolah merupakan tempat di mana proses pembelajaran berlangsung, dan di sana siswa diberikan pengetahuan, nilai-nilai, teknologi, keterampilan, seni, dan wawasan yang diperlukan untuk mencapai target pendidikan nasional. Oleh karena itu, perpustakaan sekolah tidak hanya berfungsi sebagai tempat penyimpanan berbagai jenis materi pustaka, baik berupa buku maupun bahan non-buku, melainkan juga berusaha untuk memanfaatkannya sebaik mungkin agar para pengguna, terutama siswa, dapat mengakses dan memanfaatkan koleksi tersebut dengan maksimal (Widiasa, 2007). 2.Koleksi Perpustakaan Menurut Prastowo (2013), koleksi perpustakaan merujuk kepada beragam materi pustaka dan non-pustaka yang dimiliki oleh suatu perpustakaan, yang berasal dari berbagai sumber hingga tahap penyelesaian. Definisi koleksi perpustakaan ini mencakup berbagai format, seperti bahan tercetak, non-tercetak, dan elektronik, yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Setiap perpustakaan atau pusat informasi memiliki koleksi yang unik, yang tergantung pada jenis perpustakaannya, visi dan misi institusi yang mengelolanya, prioritas dalam pengadaan koleksi, serta ketersediaan anggaran, dan faktor-faktor lainnya. Dengan kata lain, koleksi perpustakaan dapat disimpulkan sebagai kumpulan informasi dalam berbagai format, yang dapat diakses oleh pengguna untuk memenuhi kebutuhan informasi mereka. Model ThompsonMenurut Thompson (1991), tiga indikator yaitu intensitas penggunaan, frekuensi penggunaan, dan jumlah koleksi yang digunakan dapat digunakan untuk mengukur gagasan penggunaan perpustakaan. Keterpakaian koleksiEmawati (2008) telah mengemukakan bahwa keterpakaian koleksi merujuk pada penggunaan sumber daya yang ada di perpustakaan, baik berupa buku maupun materi non-buku, untuk memenuhi kebutuhan informasi. Hal ini erat kaitannya dengan keputusan pemustaka dalam mengakses koleksi perpustakaan, hubungan antara koleksi tersebut dengan preferensi pemustaka, serta sejauh mana koleksi tersebut dimanfaatkan oleh pemustaka. Keterpakaian koleksi menggambarkan proses pemanfaatan sumber daya koleksi dan layanan informasi yang tersedia di perpustakaan sebagai alat pembelajaran bagi pengguna. Pentingnya mengetahui ketersediaan koleksi ini dapat membantu dalam mengidentifikasi penggunaan koleksi perpustakaan oleh pemustaka. Dengan kata lain, keterpakaian koleksi adalah tentang bagaimana suatu koleksi perpustakaan dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh pemustaka untuk mendapatkan informasi yang diperlukan sebagai alat pembelajaran. Hal ini membantu dalam menentukan nilai dan manfaat dari koleksi tersebut, serta mengukur sejauh mana pemustaka aktif memanfaatkannya.
Method
Dalam penelitian ini, metode yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif dengan pendekatan deskriptif. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang penggunaan koleksi pustaka di Perpustakaan SMAN 1. Dengan menggunakan metode kuantitatif, penulis berusaha untuk mengumpulkan data yang akurat yang terkait dengan permasalahan yang sedang diteliti. Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis dan diolah dengan mengacu pada teori-teori yang telah dipelajari. Hal ini bertujuan untuk menghasilkan gambaran yang komprehensif dan kesimpulan yang relevan terkait dengan masalah yang sedang diselidiki.
Discussion
1.Intensitas Penggunaan SMA Negeri 1 Salatiga memiliki perpustakaan yang kaya dengan koleksi bahan pustaka sebanyak 3.748 judul, dengan total 7.590 eksemplar. Koleksi ini dibagi menjadi 10 kelas utama, termasuk kategori fiksi dan non-fiksi. Perpustakaan ini mengadopsi sistem layanan terbuka, yang memungkinkan pengguna untuk dengan bebas menggunakan dan mengakses koleksi yang tersedia secara langsung. NoKlasifikasiJudulPersentaseEksemplarPersentase 1000 Karya Umum2225,92%4195,03% 2100 Psikologi1473,92%3384,05% 3200 Agama1122,99%6828,18% 4300 Ilmu Sosial78120,84%1.56818,81% 5400 Bahasa42811,42%97311,67% 6500 Ilmu-Ilmu Murni1.06528,42%1.68520,21% 7600 Ilmu Terapan2677,12%5346,41% 8700 Olahraga, kesenian, hiburan1534,08%2162,59% 9800 Kesusasteraan2115,63%3824,58% 10900 Sejarah dan Geografi3629,66%1.53918,46% 11Jumlah3748100,00%7.590100,00% Tabel 4.1 Jumlah Koleksi Berdasarkan data yang telah disajikan, dapat ditarik kesimpulan bahwa koleksi dengan kelas 500 (ilmu-ilmu murni) memiliki jumlah judul terbanyak, yaitu sebanyak 1.065 judul atau sekitar 28,42% dari total koleksi. Selain itu, jumlah eksemplar dari kelas 500 juga cukup tinggi, mencapai 1.685 eksemplar atau sekitar 18,81% dari total eksemplar perpustakaan. Di sisi lain, kelas 700 memiliki jumlah koleksi yang paling sedikit, dengan hanya 153 judul atau sekitar 4,08% dari total koleksi. Jumlah eksemplar dari kelas 700 juga rendah, hanya 216 eksemplar atau sekitar 2,59% dari total eksemplar perpustakaan. Penelitian Partanto et al. (1994) menggambarkan bahwa intensitas dapat diartikan sebagai kemampuan, kekuatan, atau kehebatan. Dalam konteks psikologi, intensitas merujuk pada tingkat kuatnya tingkah laku, pengalaman, atau sikap yang dipertahankan. Selain itu, kamus besar bahasa Indonesia juga menggambarkan intensitas sebagai keadaan tingkat atau ukuran intens.Dengan demikian, kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa intensitas penggunaan koleksi perpustakaan dapat diukur berdasarkan data peminjaman bahan pustaka, dan data ini mencerminkan sejauh mana pengguna menggunakan koleksi tersebut. No.KelasJumlah KoleksiTerpakai%Tidak Terpakai% 0004191694,41%2505,55% 100338641,67%2746,08% 2006821102,87%51811,50% 3001.56878020,37%78817,49% 4009733689,61%60513,43% 5001.68566817,44%1.01722,57% 6005341002,61%4349,63% 700216531,38%1633,62% 8003823027,89%801,78% 9001.5931.21631,75%3778,37% Jumlah8.3903.830100,00%4.506100,00% Tabel 4.2 Intensitas Penggunaan Koleksi Dari informasi di atas, dapat disimpulkan bahwa koleksi dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu koleksi yang terpakai dan yang tidak terpakai. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa kelas 900 (sejarah dan geografi) memiliki jumlah peminjaman tertinggi, dengan 1.216 koleksi yang terpakai, atau sekitar 31,75% dari total koleksi yang tidak terpakai. Di sisi lain, kelas 700 (olahraga, kesenian, hiburan) memiliki jumlah peminjaman terendah, hanya sebanyak 53 koleksi, atau sekitar 1,38%. Sementara itu, untuk koleksi yang tidak terpakai, kelas 500 (ilmu-ilmu murni) memiliki jumlah terbanyak, yaitu sebanyak 1.017 koleksi, atau sekitar 22,57% dari total koleksi yang tidak terpakai. Sedangkan kelas 800 (kesusasteraan) memiliki jumlah koleksi yang tidak terpakai paling rendah yaitu hanya sekitar 80 koleksi, atau sekitar 8,37% dari keseluruhan koleksi yang tidak terpakai. 2.Frekuensi Penggunaan Koleksi Frekuensi merujuk pada seberapa sering suatu perubahan terjadi dalam suatu periode waktu tertentu. Dalam konteks penelitian ini, frekuensi digunakan sebagai alat ukur untuk menilai sejauh mana bahan pustaka di perpustakaan SMA Negeri 1 Salatiga digunakan oleh pengguna. Frekuensi penggunaan koleksi ini dijelaskan melalui tabel berdasarkan klasifikasi dan frekuensi penggunaan. Tabel berikut ini menggambarkan seberapa sering pengguna memanfaatkan koleksi perpustakaan. NoKlasifikasiFrekuensi Penggunaan 1000 Karya Umum150 2100 Psikologi130 3200 Agama110 4300 Ilmu Sosial1.345 5400 Bahasa450 6500 Ilmu-Ilmu Murni100 7600 Ilmu Terapan90 8700 Olahraga, kesenian, hiburan120 9800 Kesusasteraan87 10900 Sejarah dan Geografi180 Jumlah2.763 Tabel 4.3 Frekuensi Penggunaan Koleksi berdasarkan Klasifikasi Tabel di atas menyajikan data mengenai tingkat keterpakaian bahan pustaka di perpustakaan, dengan kolom-kolom yang mengidentifikasi kategori bahan pustaka dan frekuensi penggunaan. Dari tabel tersebut, dapat ditarik beberapa kesimpulan tentang sejauh mana bahan pustaka di perpustakaan digunakan oleh pengguna. Dengan menggunakan data ini, perpustakaan dapat mengambil tindakan yang sesuai untuk meningkatkan keterpakaian bahan pustaka yang kurang digunakan atau mengkategorikan bahan pustaka yang paling sering digunakan untuk memastikan bahwa koleksi sesuai dengan kebutuhan pengguna. Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa koleksi yang paling sering digunakan oleh siswa SMA Negeri 1 Salatiga adalah koleksi kelas 300, yaitu buku-buku sosiologi, dengan total sebanyak 1.345 buku yang dipinjam. Di sisi lain, koleksi kedua yang sering digunakan adalah kelas 400, yang berisi buku-buku tentang Bahasa, dengan jumlah peminjaman sebanyak 450 buku. Sementara itu, koleksi dengan tingkat peminjaman terendah terletak pada kelas 800, yang berfokus pada kesusastraan, dengan hanya 87 buku yang dipinjam. Hal ini dipengaruhi oleh kebutuhan dan minat pengguna perpustakaan. 3.Jumlah koleksi yang digunakan Berdasarkan riwayat peminjaman buku di Perpustakaan SMA Negeri 1 Salatiga, dapat dikategorikankan penggunaan koleksi berdasarkan beberapa kriteria, dengan fokus pada tahun terbit buku tersebut. Kriteria yang digunakan adalah tahun terbit buku yang ada dalam rentang tahun 2018-2020, untuk mengetahui seberapa sering buku-buku dengan tahun terbit tersebut dipinjamkan dari perpustakaan. Untuk mengidentifikasi seberapa sering buku-buku tersesbut digunakan, kita dapat menggunakan data sebagai berikut: NoTahun TerbitJumlah Peminjaman 120181103 22019783 32020417 4Jumlah2.303 Tabel 4.4 Data Peminjaman Bahan Pustaka perpustakaan SMAN 1 Berdasarkan informasi di atas, terdapat perbedaan signifikan dalam penggunaan koleksi berdasarkan tahun terbit. Pada tahun 2018, terdapat 1103 peminjaman, sementara pada tahun 2019 hanya 783, dan jumlahnya kemudian menurun drastis menjadi 417 pada tahun 2020. Hal ini mengindikasikan bahwa koleksi yang diterbitkan pada tahun 2018 memiliki tingkat keterpakaian yang tertinggi, sementara keterpakaian paling rendah terjadi pada tahun 2020. Penurunan drastis ini mungkin disebabkan oleh dampak pandemi COVID-19 yang membatasi akses ke perpustakaan dan aktivitas peminjaman pada tahun tersebut.
Conclusion
Berdasarkan hasil penelitian mengenai Tingkat Keterpakaian Bahan Pustaka di Perpustakaan SMA Negeri 1 Salatiga, dismpulkan bahwa perpustakaan ini memiliki total koleksi sebanyak 3.748 dengan jumlah eksemplar mencapai 7.590. intensitas penggunaan yang terpakai sebanyak 3.830 dan intensitas penggunaan yang tidak terpakai sebanyak 4.506. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat penggunaan bahan pustaka di perpustakaan ini masih rendah. Pada Frekunesi penggunaan dianalisis berdasarkan klasifikasi dalam 10 kategori. Kategori dengan jumlah penggunaan tertinggi adalah kelas 300 dengan total 1.345 peminjaman, sedangkan kategori dengan penggunaan terendah adalah kelas 800 dengan hanya 87 peminjaman berdasarkan tahun 2018-2020. Selain itu, ketika mengamati penggunaan berdasarkan tahun terbit, ditemukan bahwa tahun 2018 memiliki penggunaan tertinggi dengan 1.103 peminjaman, sedangkan tahun 2020 memiliki penggunaan terendah dengan hanya 417 peminjaman. Tingkat keterpakaian koleksi yang rendah dapat disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk kurangnya variasi koleksi yang menarik minat, jumlah koleksi yang terbatas, dan juga dampak pandemi COVID-19 yang mungkin mempengaruhi aktivitas perpustakaan.