Peran Pustakawan di Perguruan Tinggi Sebagai Partner Riset dalam Pemenuhan Kebutuhan Informasi Pengguna
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Peran pustakawan di perguruan tinggi sebagai partner kolaborasi riset merupakan aspek penting dalam menjalankan fungsi perpustakaan sebagai pusat informasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mengidentifikasi peran pustakawan di perguruan tinggi sebagai partner riset dalam pemenuhan kebutuhan informasi pengguna. Dengan adopsi pendekatan kualitatif melalui metode studi literatur, penelitian ini menyelidiki bagaimana pustakawan tidak hanya berfungsi sebagai penyedia sumber informasi tetapi juga sebagai kolaborator aktif dalam proses penelitian. Dalam konteks ini, pustakawan membantu dalam pelatihan literasi informasi, pemetaan tema penelitian, serta penyediaan dan pengelolaan sumber daya digital yang sesuai dengan kebutuhan akademik dan penelitian terkini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolaborasi antara pustakawan dan peneliti memperkuat infrastruktur pengetahuan dan memperkaya sumber daya penelitian, namun juga menghadapi tantangan seperti keterbatasan keahlian riset pustakawan, kebutuhan akan pengembangan profesional, dan isu pendanaan. Studi ini menekankan pentingnya pengembangan keahlian pustakawan dalam riset dan teknologi informasi untuk mendukung kegiatan akademik dan riset yang efektif, serta menyoroti peran strategis perpustakaan dalam meningkatkan kualitas dan efektivitas penelitian di perguruan tinggi.
Abstract
The role of librarians in higher education as research collaboration partners is a crucial aspect in fulfilling the function of libraries as information centers. This study aims to analyze and identify the role of librarians in higher education as research partners in meeting user information needs. Adopting a qualitative approach through literature study methods, this research investigates how librarians function not only as providers of information resources but also as active collaborators in the research process. In this context, librarians assist in information literacy training, mapping research themes, and providing and managing digital resources that meet current academic and research needs. The findings indicate that collaboration between librarians and researchers strengthens the knowledge infrastructure and enriches research resources, but also faces challenges such as limitations in librarians' research skills, the need for professional development, and funding issues. This study emphasizes the importance of developing librarians' skills in research and information technology to support effective academic and research activities, and highlights the strategic role of libraries in enhancing the quality and effectiveness of research in higher education.
Keywords:
University library
· Librarian
· Collaboration research
· Information needs
Introduction
Perkembangan teknologi yang pesat mendukung sebuah perpustakaan untuk terus berkembang. Suatu perpustakaan juga harus mampu untuk beradaptasi dan memberikan inovasi dalam proses perkembangan pencarian informasi yang dibutuhkan oleh penggunanya dalam menunjang penulisan ilmiah dan riset. Perkembangan teknologi di perpustakaan telah menggeser metode tradisional ke penggunaan teknologi yang memungkinkan akses informasi lebih cepat bagi pengguna (Ritonga, 2022). Perubahan teknologi informasi secara cepat melanda semua organisasi termasuk perpustakaan perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi berperan sebagai jantungnya universitas dalam mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi (Haryono & Cahyono, 2020). Peran tersebut termasuk dalam peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian. Dalam pendidikan, khususnya perguruan tinggi peran perpustakaan masih menjadi kebutuhan pokok bagi para mahasiswa, dosen atau pendidik dan peneliti. Perpustakaan di era ini memiliki tuntutan cukup kompleks dimana harus mampu mendistribusikan serta memberikan informasi sesuai. Berbagi informasi perpustakaan secara online telah ditingkatkan melalui desain interaktif berbasis teknologi yang berfungsi sebagai media penyebaran informasi secara visual (Zhen, 2022). Setiap pustakawan selalu menginginkan sebuah inovasi dalam proses pemanfaatan bahan pustaka, layanan koleksi, serta ruang terbuka atau workspace yang dengan bebas di akses. Komponen utama yang berperan dalam pengembangan perpustakaan adalah pustakawan. Pustakawan membantu pelatihan literasi referensi ilmiah bagi siswa dan memastikan pemahaman mereka terhadap sumber rujukan ilmiah dalam penulisan artikel (Saputra, 2020). Sementara beberapa perpustakaan masih menyediakan layanan informasi secara tradisional, disisi lain tuntutan untuk mengikuti kemajuan teknologi informasi harus juga terpenuhi. Kemudian peran lain yang dapat dilakukan pustakawan adalah dengan melakukan pemetaan tema dan subjek penelitian sehingga dapat membantu permasalahan peneliti dalam penentuan judul penelitian, terutama penelitian mahasiswa (Mustar, 2017). Pustakawan di lembaga riset dituntut untuk mengikuti isu-isu atau topik penelitian yang sedang beredar di masyarakat. Kolaborasi pustakawan pada proses riset penelitian dapat mengembangkan secara teknis kompetensi atau kemampuan riset pustakawan. Kolaborasi juga dapat berfungsi jika setiap anggota memahami tujuan satu sama lain dan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Kolaborasi riset pustakawan berperan penting dalam menyediakan pelayanan penelitian, mendukung penuh pengembangan keterampilan penelitian di fakultas, dan mencarikan pendanaan penelitian universitas (Veretennik & Shakina, 2024). Pustakawan bertugas menyediakan data dan mengalisis data. Di sisi lain, pustakawan harus mempertimbangkan kebutuhan pemustaka dalam ruang lingkup faktor-faktor individu, sosial, dan lingkungan seperti psikologis, afektif, kebutuhan kognitif, peran kerja, dan lingkungan dalam pengambilan keputusan (Lauseng et al., 2022). Kebutuhan kognitif pemustaka dapat terpenuhi melalui publikasi ilmiah, publikasi populer, dan pertemuan teknis (da Silva & Correia, 2018). Hal senada juga diungkapkan Rutledge (2018) yang menyatakan bahwa adanya kesulitan pustakawan untuk menentukan kapan dan bagaimana kebutuhan informasi direalisasikan serta diungkapkan. Berkaitan dengan penelitian, perpustakaan diharapkan dapat menunjang pemenuhan kebutuhan informasi dalam penulisan ilmiah yang tentunya dapat dipertanggung jawabkan. Berdasarkan penjelasan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis peran pustakawan sebagai partner riset di perpustakaan perguruan tinggi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi kepada perguruan tinggi dalam mengembangkan layanan bantuan penelitian bagi pemustaka. Sejalan dengan hal tersebut, penelitian ini juga diharapkan berkontribusi pada desain dan implementasi riset, kolaborasi yang lebih erat antara pustakawan dan peneliti. Pertanyaan penelitian ini adalah: RQ1. Bagaimana peran pustakawan sebagai partner riset di perpustakaan perguruan tinggi?
Method
Penelitian ini dilaksanakan dengan mengadopsi pendekatan kualitatif melalui metode studi literatur, yang secara khusus mengeksplorasi peran pustakawan di perguruan tinggi sebagai partner riset dalam memenuhi kebutuhan informasi pengguna. Metode studi literatur yang digunakan melibatkan proses sistematik analisis dan sintesis dari literatur yang tersedia, termasuk jurnal, buku, dan dokumen lainnya yang relevan dengan topik penelitian (Lewis, 2015). Dalam konteks ini, literatur yang dipilih akan menggambarkan berbagai teori dan praktik saat ini serta historis terkait dengan peran pustakawan dalam mendukung kegiatan riset akademis. Proses pengumpulan data dalam penelitian ini tidak melibatkan kerja lapangan, namun fokus pada ekstraksi data yang relevan dari sumber-sumber yang telah diterbitkan. Penelitian ini mengelompokkan informasi yang ditemukan ke dalam kategori-kategori yang sistematis, memudahkan analisis tematik terhadap materi yang diperoleh (Moleong, 2019). Analisis data dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengurangi, dan menyajikan data secara sistematis, sehingga memungkinkan untuk menarik kesimpulan berdasarkan evaluasi terperinci dari literatur yang ada.
Discussion
Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi menjadi sebuah wadah untuk berbagi pengetahuan, sumber daya, dan layanan yang mendukung pembelajaran, penelitian, dan perkembangan emosional mahasiswa (Yang, 2022). Sejalan dengan hal tersebut, perpustakaan perguruan tinggi mendukung Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penyediaan sumber daya dan layanan informasi untuk pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat (Junaeti & Arwani, 2016). Sedangkan Darmono (2001) mendefinisikan perpustakaan sebagai tempat kumpulan buku-buku atau tempat buku-buku dihimpun dan diorganisasikan sebagai media belajar. Dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi berfungsi untuk menyediakan, memberikan, menyebarluaskan serta bertugas membantu perguruan tinggi yang bersangkutan melaksanakan Tri Dharmanya untuk mencapai tujuannya. Perpustakaan perguruan tinggi mendukung tri dharma perguruan tinggi dan menyediakan akses serta mengorganisir informasi untuk pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, serta untuk memenuhi kebutuhan akademik dan layanan komunitas, termasuk menyelenggarakan dan melestarikan materi perpustakaan guna mendukung pengembangan akademik dan kegiatan profesional di kampus. Berdasarkan berbagai peneltian terbaru, secara umum tujuan perpustakaan Perguruan Tinggi (Abbas, 2023; Fitzgerald & Eustis, 2022; Ilyasa, 2022; Mamahit, 2017; Singh, 2023) yaitu: a) Mendukung tri dharma perguruan tinggi melalui penyediaan dan organisasi informasi yang mendukung pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat; b) Menyediakan akses ke sumber daya informasi untuk mendukung studi akademik dan riset, serta memenuhi kebutuhan pengajaran, penelitian, dan layanan komunitas; c) Mendukung keunggulan akademik melalui sumber daya yang mendukung keunggulan dalam penelitian, pendidikan, dan pengembangan pribadi; d) Menyelenggarakan dan melestarikan materi perpustakaan untuk pengembangan akademik dan memastikan ketersediaan materi yang terorganisir dengan baik; e) Meningkatkan pendidikan dengan menyediakan akses ke berbagai informasi dan materi yang membantu proses belajar mengajar; f) Mendukung pembelajaran mahasiswa melalui akses ke teks-teks keagamaan dan sumber belajar lainnya; g) Menyediakan sumber daya bagi dosen, mahasiswa, dan staf untuk mendukung kegiatan akademik dan profesional mereka di kampus. Sumber daya elektronik di perpustakaan, seperti jurnal elektronik (e-journals), buku elektronik (e-books), basis data naskah lengkap (aggregated databases), dan basis data indeks dan abstrak, menawarkan akses luas terhadap informasi akademik dari berbagai bidang studi. Sebagaimana dimuat dalam pedoman IFLA (2012) menyatakan bahwa sumber daya elektronik di perpustakaan terdiri dari: a) Jurnal elektronik, biasa dikenal dengan sebutan ejournals, jurnal disini merupakan jurnal yang diterbitkan khusus dalam bentuk elektronik maupun jurnal tercetak yang kemudian diterbitkan juga versi elektroniknya; b) Buku elektonik, biasa dikenal dengan sebutan e-books, buku elektronik seperti halnya jurnal elektronik ada yang terbit hanya berupa versi elektronik maupun versi tercetak yang diterbitkan juga dalam versi elektronik. Buku elektronik biasanya ditawarkan baik dalam bentuk satuan maupun paket atau basis data dari penerbit. Saat ini banyak penerbit yang sudah memfokuskan pada penerbitan buku dalam versi elektronik. Akses terhadap buku elektronik ini bisa berupa mengunduh file secara utuh (biasanya berbentuk PDF) maupun ‘membaca’ bagian per bagian. Contoh dari sumber daya elektronik ini adalah ebraryebscohost books, wiley e-book, dan springer e-book; c) Basis data naskah lengkap, secara umum dikenal sebagai aggregated databases. Sumber daya elektronik berbentuk basis data lengkap agregasi ini biasanya menyediakan sumber daya elektronik berbagai jenis (e-journal e-book, e-proceeding, e-paper, dan lain-lain) dalam satu wadah, yang diperoleh dari satu atau lebih penerbit atau penyedia konten elektronik. proquest & ebsco adalah salah satu contoh bentuk database agregasi; d) Basis data indeks dan abstrak, selain berbentuk naskah lengkap, beberapa sumber daya elektronik juga ditampilkan hanya dalam bentuk indeks atau abstrak saja. Beberapa penyedia basis data menyediakan informasi atau sumber daya informasi hanya berupa abstrak atau indeks. Peran Pustakawan Pustakawan merupakan motor penggerak kegiatan perpustakaan, sehingga ada istilah library is librarian. Pustakawan berperan sebagai pemandu informasi di perpustakaan, mendukung pembelajaran dan karier, serta memastikan akses informasi yang efektif, termasuk membimbing pemustaka dalam pemahaman informasi kompleks (Varona et al., 2021). Sejalan dengan hal tersebut, pustakawan akademik adalah pustakawan yang bekerja di perpustakaan akademik, yang dilatih untuk membantu orang menemukan informasi yang mereka butuhkan untuk mengajar, belajar dan riset (Kwanya, 2017). Pustakawan khususnya di lembaga akademik (universitas) dan di lembaga riset dituntut aktif dalam berbagai kegiatan riset, baik mencarikan informasi sumber dana penelitian, penyediaan data dan informasi ilmiah, membangun komunikasi ilmiah, kolaborasi penelitian, promosi dan diseminasi hasil penelitian, maupun preservasi data dan publikasi hasil penelitian untuk akses jangka panjang. Pustakawan era sekarang bukan hanya "penjaga" buku, tetapi penyedia informasi, serta pustakawan sebagai mitra intelektual dapat berfungsi sebagai informasi pusat layanan dalam menyediakan data bagi perusahaan swasta di berbagai sektor industri, lembaga pemerintah, dan lembaga penelitian. Salah satu peran penting pustakawan akademik adalah sebagai mitra atau partner dalam kegiatan riset di perguruan tinggi (Andayani, 2017). Kompetensi pustakawan mengacu pada kompetensi yang dirumuskan oleh The Special Library Association (SLA) (2003), antara lain: a) Kompetensi profesional, yaitu yang terkait dengan pengetahuan pustakawan di bidang sumber-sumber informasi, teknologi, manajemen dan penelitian, dan kemampuan menggunakan pengetahuan tersebut sebagai dasar untuk menyediakan layanan perpustakaan dan informasi; b) Kompetensi personal atau individu yang menggambarkan satu kesatuan keterampilan, perilaku dan nilai yang dimiliki pustakawan agar dapat bekerja secara efektif, menjadi komunikator yang baik, selalu meningkatkan pengetahuan, dapat memperlihatkan nilai lebihnya, serta dapat bertahan terhadap perubahan dan perkembangan dalam dunia kerjanya. Pustakawan juga dapat memberikan berbagai alternatif informasi penelitian yang lain, impact factor, parallel publishing, akses terbuka, mengkatalog, dan menyediakan dokumen tercetak untuk dipinjam di perpustakaan. Dengan kata lain, Pustakawan harus mahir dalam menelusuri informasi menggunakan mesin pencari baik melalui Google, repository perpustakaan, database e-book, e-journal, DOAJ, SINTA database index sitasi seperti scopus, scival, scimago, web of science, dan sebagainya (Wiratningsih, 2020). Maryati & Nashihuddin (2017) menyatakan bahwa sebagai tenaga pendukung penelitian, pustakawan dapat melakukan hal-hal: a) Menginformasikan cara mendapatkan pembiayaan (grants) dan kontrak penelitian; b) Mempromosikan dan mengeksploitasi teknologi baru dan model baru komunikasi ilmiah; c) Menyediakan repositori (penyimpan publikasi hasil riset) sehingga dapat meningkatkan visibilitas institusi dan menaikan profil penelitiannya; d) Memberikan pandangan tentang kontribusi hasil penelitiannya bagi lembaga peneliti; e) Menjadi staf ahli yang mampu bekerjasama dengan pihak akademik, berkomunikasi dengan peneliti, dan memiliki dedikasi tinggi untuk meningkatkan hasil riset lembaga; dan f) Menyediakan tempat bekerja yang baik bagi peneliti sehingga mereka dapat mengakses konten informasi yang berkualitas, termasuk dalam mencari informasi beasiswa yang melalui jalur penelitian. Penelitian yang dilakukan Hansson dan Johannesson (2013) menemukan bawah pandangan pustakawan akademik di perpustakaan perguruan tinggi di Swedia terhadap pekerjaan mereka dan kemungkinannya dalam mendukung peneliti. Hansson dan Johannesson juga menyatakan pustakawan dapat membantu strategi publikasi peneliti harus menentukan dimana dan bagaimana mempublikasikan karyanya. Peran perpustakaan adalah menyebarkan dan menyediakan dokumen. Pustakawan memberdayakan penelitian dengan melestarikan, dan membimbing para peneliti (Mavodza, 2022), termasuk dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (Aliwijaya & Suyono, 2023), dan big data (Aliwijaya, 2023). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa pustakawan memiliki peran sebagai mitra untuk mengembangkan riset dan informasi masyarakat. Kolaborasi Riset Pustakawan Pustakawan di lembaga riset dituntut untuk mengikuti isu-isu atau topik penelitian yang sedang beredar di masyarakat. Menurut Pham & Tanner (Pham & Tanner, 2014), kolaborasi merupakan aktivitas manusia untuk berbagi ide dan pengetahuan, membangun kekuatan dan sumber daya anggota dan organisasi untuk menyelesaikan masalah yang tidak mungkin diatasi secara individu. Kolaborasi pustakawan pada proses riset penelitian dapat mengembangkan secara teknis kompetensi atau kemampuan riset pustakawan. Kolaborasi juga dapat berfungsi jika setiap anggota memahami tujuan satu sama lain dan tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Melalui kolaborasi, pustakawan dapat bekerjasama dengan peneliti dan mendapatkan kredit publikasi. Kolaborasi penelitian dapat meningkatkan status profesi pustakawan melalui kontribusinya pada ilmu pengetahuan, dengan keterlibatan pustakawan dalam penelitian yang memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di perpustakaan (Rios & Blake, 2023). Kolaborasi juga dapat diartikan sebagai aktivitas dari berbagai ketrampilan, pengetahuan, dan pengalaman seseorang kepada orang lain yang bertujuan untuk membangun komunikasi dan kerjasama. Dalam kegiatan riset, kolaborasi dilakukan untuk menyamakan persepsi dan mencapai suatu tujuan penelitian. Kolaborasi ini menekankan dua aspek, yaitu interaksi dan komunikasi ilmiah personal dalam suatu tim riset untuk membahas suatu topik penelitian. Pemberdayaan perpustakaan sebagai pusat informasi penelitian dan pengetahuan masyarakat untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat (Nashihuddin, 2020) . Menurut Bubsy (2013) di The Canadian Association of Research Libraries' (CARL) ada beberapa kegiatan pustakawan sebagai mitra riset pemustaka, diantaranya: a) Melakukan penelitian dan menghasilkan publikasi ilmiah; b) Berkompetisi dalam hibah penelitian; c) Mengikuti kegiatan seminar atau konferensi sebagai presenter; d) Pengembangan diri melalui asosiasi profesi bidang kepustakawanan; e) Berpartisipasi aktif dalam kegiatan pengajaran atau pelatihan bidang kepustakawanan dan bidang lainnya untuk pengembangan profesi; f) Minat studi lanjut ke jenjang pendidikan formal yang lebih tinggi, baik program magister maupun doktoral; g) Aktif mengikuti kegiatan kemasyarakatan yang terkait program perpustakaan dan literasi informasi di masyarakat. Di sisi lain, kolaborasi riset juga berperan penting dalam menyediakan pelayanan penelitian, mendukung penuh pengembangan keterampilan penelitian di fakultas, dan mencarikan pendanaan penelitian universitas. Kolaborasi riset pustakawan membutuhkan komitmen jangka panjang dan koordinasi yang efektif dalam menemukan kesamaan minat, berkomunikasi, serta mengelola proyek untuk mencapai hasil yang sukses (Rios & Blake, 2023). Kolaborasi pustakawan dalam menciptakan produk pengetahuan seperti alat literasi informasi juga menghasilkan alat penelitian yang mendukung penulisan ilmiah dan presentasi yang efektif (Wiggil, 2022). Oleh karena itu, Pustakawan tentunya dapat berkontribusi dalam pengembangan keilmuan dalam bidang perpustakaan dan informasi di masa depan jika ia mampu sebagai partner penelitian yang profesional. Tantangan Kolaborasi Riset Pustakawan Kolaborasi antara pustakawan dan peneliti merupakan elemen kunci dalam memajukan dunia penelitian dan pembelajaran. Namun, dalam praktiknya, terdapat sejumlah hambatan yang dapat menghambat proses kolaborasi ini. Berdasarkan penelitian terbaru, terdapat banyak termuan hambatan yang terjadi dalam kolaborasi riset pustakan dengan peneliti (Ibegwam et al., 2019; Mabry et al., 2020; Nicholson et al., 2017; Rios & Blake, 2023; Stewart & Oniel Deans, 2021), yaitu: a) Tantangan dalam menemukan individu dengan minat yang serupa, yang menjadi kunci keberhasilan kolaborasi; b) Pentingnya komunikasi melalui berbagai saluran dan keterampilan manajemen proyek untuk mengatasi hambatan; c) Masalah pendanaan dan keuangan sebagai kendala besar dalam kolaborasi; d) Terbatasnya keahlian pustakawan yang menghambat kolaborasi riset; e) Diperlukannya infrastruktur teknologi bersifat terbuka untuk memfasilitasi kolaborasi; f) Tantangan metode dan cara manajemen tim penelitian yang masih terbatas dalam mendukung produktifitas penelitian. Kolaborasi riset antara pustakawan dan peneliti tidak hanya berpotensi mengembangkan kapasitas intelektual dan profesional pustakawan tetapi juga memperkuat infrastruktur pengetahuan dan inovasi di perguruan tinggi. Kolaborasi efektif bergantung pada komunikasi yang baik, pemahaman yang mendalam tentang tujuan bersama, dan penggunaan ketrampilan manajemen proyek yang efisien. Tantangan seperti keterbatasan pendanaan, kebutuhan akan infrastruktur teknologi yang memadai, dan hambatan dalam manajemen tim penelitian seringkali menjadi penghalang utama. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pustakawan dalam penelitian dan penyajian ilmiah, serta komitmen jangka panjang terhadap kolaborasi riset, adalah krusial untuk memastikan bahwa pustakawan dapat berkontribusi secara signifikan dalam lingkungan akademik dan masyarakat luas. Upaya ini tidak hanya meningkatkan status profesi pustakawan tetapi juga mendukung pemberdayaan ekonomi dan intelektual masyarakat secara keseluruhan.
Conclusion
Peran pustakawan di perguruan tinggi sebagai mitra riset dalam pemenuhan kebutuhan informasi pengguna telah terus berkembang seiring dengan kemajuan teknologi informasi dan perubahan dalam kegiatan akademik. Pustakawan tidak hanya bertindak sebagai penyedia sumber informasi tetapi juga sebagai pendamping dan pendidik yang membantu pengguna dalam literasi informasi dan manajemen data penelitian. Melalui kolaborasi yang efektif dengan peneliti, pustakawan berkontribusi pada peningkatan kualitas penelitian dengan menyediakan akses ke sumber daya yang relevan dan terkini serta memfasilitasi pemahaman dan pemanfaatan sumber daya tersebut secara efektif. Di sisi lain, dengan mengikuti perkembangan topik penelitian yang sedang tren, pustakawan dapat menyesuaikan layanan dan koleksi untuk memenuhi kebutuhan spesifik komunitas akademiknya. Pustakawan juga menghadapi tantangan seperti keterbatasan dalam keahlian riset dan manajemen proyek yang memerlukan pengembangan kompetensi dan kerja sama tim yang solid untuk mengatasi hambatan ini. Kolaborasi antara pustakawan dan peneliti tidak hanya memperkuat kapasitas penelitian tetapi juga menaikkan status dan nilai strategis perpustakaan dalam lingkungan akademik dan riset.