Pengelolaan Keuangan Perpustakaan dalam Mendukung Era Digitalisasi
Universitas Airlangga
Abstrak
Manajemen keuangan di perpustakaan dapat menghadapi berbagai tantangan. Tugas pustakawan selain untuk melayani juga mengatur keuangan perpustakaan. Studi ini bertujuan untuk mengobservasi tren penelitian tentang manajemen keuangan di perpustakaan. Studi ini menggunakan data sekunder dari website Scopus berbentuk metadata. Data sampel terkumpul sekitar 132, disimpan dalam bentuk file CSV. Data yang telah tersimpan dalam CSV dianalisis dengan menggunakan metode bibliometric. Software bibliometrik yang digunakan yakni Vosviewer dan Biblioshiny. Vosviewer digunakan untuk menganalisis kata yang sering digunakan pada kata kunci serta afiliasi para penulis dengan sitasi tertinggi. Sedangkan biblio shiny digunakan untuk menganalisis total sitasi para penulis serta jumlah artikel dengan topik pengelolaan keuangan pada perpustakaan pada jurnal-jurnal terindeks Scopus. Hasil menunjukkan bahwa kata yang sering digunakan pada kata kunci studi studi terdahulu yang membahas tentang manajemen keuangan di perpustakaan adalah manajemen arsip serta materi perpustakaan. Kedua hal tersebut harus diperhitungkan berdasarkan anggaran perpustakaan yang tersedia. Hasil diatas juga memperlihatkan bahwa afiliasi penulis yang paling banyak mendapatkan sitasi yakni Amerika Serikat/USA. Implikasi penelitian ini yakni diharapkan dapat menjadi rujukan bagi para pemustaka untuk merujuk penelitian-penelitian yang dipublikasikan oleh para akademisi Amerika Serikat karena banyak para ahli yang kompeten dalam bidang pengelolaan keuangan pada perpustakaan.
Abstract
Financial management in libraries can face various challenges. A librarian's job, apart from serving, is also to manage library finances. This study aims to observe research trends on financial management in libraries. This study uses secondary data from the Scopus website in the form of metadata. The sample data collected is around 132, saved in the form of a CSV file. Data that has been stored in CSV is analyzed using bibliometric methods. The bibliometric software used is Vosviewer and Biblioshiny. Vosviewer is used to analyze words frequently used in keywords as well as the affiliation of authors with the highest citations. Meanwhile, biblioshiny is used to analyze the total citations of authors as well as the number of articles on the topic of financial management in libraries in Scopus indexed journals. The results show that the keywords frequently used in previous studies discussing financial management in libraries are archive management and library materials. These two things must be taken into account based on the available library budget. The results above also show that the author's affiliation with the most citations is the United States/USA. The implication of this research is that it is hoped that it can become a reference for readers to refer to research published by United States academics because there are many experts who are competent in the field of financial management in libraries.
Keywords:
Cost
· Finance
· Management
· Library
Introduction
Manajemen keuangan sangat penting bagi perpustakaan mana pun, terlepas dari ukuran atau jenisnya. Ini memastikan alokasi dan pemanfaatan sumber daya yang efisien untuk mencapai tujuan dan sasaran perpustakaan (Fauziana et al., 2022). Pengelolaan keuangan di perpustakaan merupakan aspek penting dari administrasi perpustakaan (Ryandono et al., 2022), yang melibatkan perencanaan, penganggaran, akuntansi, dan pelaporan keuangan untuk memastikan bahwa sumber daya perpustakaan dialokasikan dengan tepat dan tujuan keuangan tercapai (Wardhana & Ratnasari, 2022). Pengelolaan keuangan yang efektif dapat mengarah pada peningkatan pengembangan koleksi, menjaga koleksi perpustakaan tetap relevan dan terkini (Rahman et al., 2022). Selain itu, sumber daya keuangan mendukung pengembangan dan implementasi program dan layanan baru, yang memenuhi berbagai kebutuhan masyarakat (Antonelli, 2020). Manajemen keuangan di perpustakaan dapat menghadapi berbagai tantangan, menghambat kemampuan mereka untuk mengalokasikan sumber daya secara efektif dan mencapai tujuan mereka. Perpustakaan sangat bergantung pada pendanaan pemerintah, dan alokasi yang tidak memadai dapat membatasi anggaran mereka dan membatasi kemampuan mereka untuk memperoleh sumber daya dan menyediakan layanan (Singh, 2023). Akibatnya, ketika terjadi kemerosotan ekonomi atau perubahan prioritas pemerintah, hal ini dapat mengakibatkan berkurangnya pendanaan perpustakaan, sehingga memaksa mereka untuk membuat pilihan sulit mengenai alokasi sumber daya. Penganggaran yang optimis tanpa mempertimbangkan potensi pembengkakan biaya karena percaya pada dukungan pendanaan yang terus menerus dari pemerintah dapat menyebabkan defisit anggaran dan tekanan keuangan di kemudian hari (Zhang et al., n.d.). Tugas pustakawan selain untuk melayani juga mengatur keuangan perpustakaan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa perpustakaan dapat beroperasi secara efektif dan efisien, serta memenuhi kebutuhan penggunanya (Datig & Whiting, 2018). Pustakawan perlu melacak semua perpustakaan pengeluaran secara cermat agar dapat memastikan bahwa anggaran digunakan secara efisien. Pustakawan perlu membuat anggaran tahunan yang mencakup seluruh pendapatan dan pengeluaran perpustakaan (Antonelli, 2020). Anggaran ini harus disusun dengan cermat agar dapat memenuhi kebutuhan perpustakaan dan menghindari defisit anggaran. Selain itu, pustakawan perlu menyusun laporan keuangan secara berkala untuk memberikan pertanggungjawaban atas penggunaan dana perpustakaan. Terdapat banyak penelitian sebelumnya mengenai pengelolaan dana perpustakaan, mengeksplorasi berbagai aspek dan menawarkan wawasan berharga bagi pustakawan. Misalnya penelitian berjudul “Budgeting for Excellence: Best Practices in Library Budgeting” yang dilakukan oleh Public Library Association (PLA) (2015): Buku putih PLA ini menguraikan praktik terbaik penganggaran perpustakaan, termasuk perencanaan skenario, penganggaran partisipatif, dan pengukuran kinerja. Penganggaran perpustakaan yang efektif lebih dari sekedar menetapkan nomor ke dalam kategori. Hal ini melibatkan perencanaan strategis, keterlibatan pemangku kepentingan, dan pengambilan keputusan berdasarkan data. Pustakawan perlu membuat skenario optimis, realistis, dan pesimistis berdasarkan perkiraan ekonomi, potensi perubahan pendanaan, dan tren penggunaan perpustakaan. Hal ini membantu mempersiapkan diri menghadapi berbagai situasi dan memastikan fleksibilitas dalam alokasi sumber daya. Masih banyak pustakawan di Indonesia yang belum paham akan pentingnya pengelolaan budget untuk perpustakaan. Perpustakaan beroperasi dengan anggaran yang memerlukan pengelolaan yang cermat untuk memastikan mereka dapat memenuhi kebutuhan penggunanya. Terutama pada perpustakaan negeri, anggaran yang ada berasal dari pajak rakyat, sehingga pengelolaan keuangan harus cermat. Hal ini menjadi penting untuk diteliti dimana pustakawan perlu untuk mempunyai literasi tentang pengelolaan keuangan instansi. TINJAUAN PUSTAKA Peran Pustakawan Dalam Manajemen Keuangan Peran pustakawan dalam mengelola dana perpustakaan sangat penting agar perpustakaan dapat berfungsi secara efektif. Pustakawan harus menganalisis data penggunaan perpustakaan, demografi komunitas, dan tren saat ini untuk mengidentifikasi kebutuhan sumber daya dan memprioritaskan perolehan (Park, 2018). Hal ini memastikan dana dialokasikan secara efisien terhadap sumber daya dengan dampak tertinggi. Setelah anggaran disetujui, pustakawan mengalokasikan dana ke berbagai bidang berdasarkan prioritas dan kebutuhan (Aristyanto et al., 2021). Mereka memastikan bahwa dana yang cukup dialokasikan untuk memperoleh buku-buku baru, jurnal, sumber daya elektronik, dan bahanbahan lain yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan (Jenkins, 2012). Dalam menilai dana yang dialokasikan dan pembelian koleksi yang akan datang, pustakawan memilih dan memperoleh buku, terbitan berkala, sumber daya digital, dan materi lainnya berdasarkan kebutuhan masyarakat dan batasan anggaran (Suhaili & Mohd, 2017). Mereka mungkin menegosiasikan kesepakatan dengan vendor, menerapkan kebijakan pengembangan pengumpulan, dan memantau pemanfaatan sumber daya untuk mengoptimalkan pengeluaran (Nashihuddin & Trianggoro, 2017). Untuk menghemat dana, pustakawan terlibat dalam negosiasi kontrak dengan vendor dan pemasok untuk mendapatkan harga terbaik untuk bahan dan layanan perpustakaan (Antonelli, 2020). Mereka memastikan bahwa perpustakaan mendapatkan nilai uang dengan tetap menjaga standar kualitas. Selain itu, untuk memutuskan pustakawan mana yang harus membeli, pustakawan menganalisis data demografi pengguna, pola peminjaman, dan kepentingan komunitas untuk mengidentifikasi kesenjangan dalam koleksi yang ada dan memprioritaskan perolehannya (Maesaroh & Genoni, 2009). Pustakawan secara teratur mengevaluasi koleksi, membuang bahan-bahan usang atau tidak terpakai untuk mengosongkan ruang dan anggaran untuk perolehan baru. Pustakawan membuat keputusan yang tepat dalam memilih antara buku fisik, e-book, buku audio, atau database, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti preferensi pengguna, batasan anggaran, dan biaya lisensi jangka panjang. Sebelum memutuskan untuk membeli, mereka meneliti dan membandingkan harga dari vendor yang berbeda, menegosiasikan kesepakatan, dan mencari alternatif harga koleksi yang hemat biaya (HarrisKeith, 2016).
Method
Teknik Pengumpulan Data Studi ini menggunakan metode kuantitatif dengan mengumpulkan data sekunder sebagai sampel penelitian. Dikarenakan data sekunder, maka studi ini tidak terjun ke lapangan untuk mengumpulkan data yang langsung berkomunikasi dengan personal maupun institusi, melainkan hanya mengambil data sekunder yang telah disediakan pada penyedia data. Menurut studi oleh (Nightingale, 2020), pengumpulan data sekunder berbeda dengan data primer karena data tersebut telah dikumpulkan sebelumnya oleh instansi penyedia data dan data sekunder diperuntukkan pada para peneliti yang tidak mempunyai waktu untuk terjun pada studi lapangan. Data yang dikumpulkan merupakan metadata dokumen-dokumen karya ilmiah yang tercantum pada website Scopus seperti nama penulis, jumlah sitasi, perkembangan sitasi, jumlah dokumen dalam suatu jurnal, jumlah jurnal yang menerbitkan dokumen dengan topik tertentu, afiliasi penulis, topik yang paling banyak digunakan, serta Bahasa yang paling banyak digunakan (Mafruchati et al., 2022). Penelitian ini menggunakan data yang berasal dari Scopus karena Scopus merupakan lembaga indeksasi jurnal internasional yang kredibel (Mafruchati, Othman, et al., 2023). Selain itu, jumlah publikasi di Scopus juga digunakan sebagai salah satu tolak ukur perangkingan universitas-universitas di dunia oleh lembaga QS World University Ranking (Mafruchati, Ismail, et al., 2023). Sampel dikumpulkan dengan memasukkan beberapa kata pada fitur pencarian di website Scopus. Kata-kata tersebut yakni (TITLE-ABS-KEY ("finance") AND TITLE-ABSKEY ("librarians")). Ada sekitar 153 dokumen yang ditemukan sebelum disortir terlebih dahulu berdasarkan kriteria inklusif penelitian ini. Kriteria inklusif yakni dokumen bukan merupakan jenis review, mempunyai abstrak, serta berbahasa Inggris. Tersisa sekitar 132 dokumen. Dokumen-dokumen tersebut kemudian diekspor ke dalam bentuk CSV untuk dapat dianalisis lebih lanjut. Sebelum diekspor, ada beberapa kriteria yang perlu dimasukkan pada metadata dokumen-dokumen berbentuk CSV, yakni informasi sitasi, informasi bibliografi, dan kata yang sering digunakan pada kata kunci (Ryandono et al., 2022). Teknik Analisis Data Data dianalisis dengan menggunakan metode bibliometrik. Penelitian ini menggunakan metode bibliometrik karena berbagai alasan, karena metode ini menawarkan beberapa keuntungan. Beberapa alasan utama dan keuntungan menggunakan metode bibliometrik dalam penelitian termasuk memungkinkan analisis konten khusus dalam literatur (Iman et al., 2022). Selain itu, metode bibliometrik memberikan indikator kuantitatif mengenai kolaborasi, penelitian interdisipliner, dan dampak penelitian (Mafruchati et al., 2022). Data yang dianalisis dalam penelitian ini menggunakan dua software bibliometric, yakni Vosviewer untuk menganalisis kata yang sering digunakan pada kata kunci penelitian terdahulu, serta biblioshiny untuk kata yang sering digunakan pada abstrak. Vosviewer digunakan untuk menganalisis afiliasi penulis dengan jumlah sitasi terbanyak. Sedangkan biblioshiny digunakan untuk menganalisis pertumbuhan sitasi tiap tahun (Van Eck & Waltman, 2014).
Discussion
Teknik manajemen arsip yang efektif sangat penting bagi organisasi mana pun, termasuk perpustakaan, untuk menghindari masalah kehilangan dan kepatuhan serta untuk memastikan akses tepat waktu terhadap arsip untuk perencanaan, pengambilan keputusan, dan pengendalian yang efektif (Wu & Yang, 2022). Sistem penyimpanan dokumen yang dikelola dengan baik dapat membantu melindungi data sensitif, mengurangi risiko, dan menunjukkan nilai uang dari layanan informasi dan perpustakaan (Wardhana et al., n.d.). Manajemen arsip dapat memberikan manfaat bagi manajemen keuangan di perpustakaan dalam beberapa cara. Pertama, hal ini dapat membantu menunjukkan nilai uang dari informasi dan layanan perpustakaan, yang penting untuk membenarkan pendanaan berkelanjutan bagi staf dan sumber daya perpustakaan (Ulum, 2022). Selain itu, menyimpan catatan keuangan di perpustakaan dapat mendorong transparansi, akuntabilitas, dan pengelolaan keuangan yang efektif (Salsabilla et al., 2021). Sumber: Data dianalisis dengan Vosviewer Gambar 1: kata yang sering digunakan pada kata kunci studi pendahulu Gambar 1 memperlihatkan dimana kata-kata yang paling dekat dengan kata mayor, finance dan library, yaitu higher education, records management, library materials, dan strategy. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan arsip merupakan aspek penting dalam pengelolaan perpustakaan, karena perpustakaan merupakan penghasil arsip yang hebat, termasuk arsip keuangan (Lacey & Lomness, 2020). Praktik terbaik untuk pengelolaan arsip dan arsip untuk perpustakaan mencakup pembuatan sistem pengarsipan yang terperinci, mengurangi redundansi, dan beralih ke digital. Lembaga keuangan, termasuk perpustakaan, harus bekerja sama dengan penyedia yang siap mengadaptasi sistem untuk memenuhi kebutuhan masing-masing, memberikan privasi dan keamanan menyeluruh untuk semua catatan elektronik, dan memastikan sistem pelacakan anggaran berjalan (Park, 2018). Perpustakaan terampil dalam mengatur dan mengkategorikan sejumlah besar informasi, memungkinkan pengambilan dan analisis catatan keuangan secara efisien (Aristyanto et al., 2021). Selain itu, program pengelolaan arsip yang efektif dapat membantu mengendalikan pembuatan dan pertumbuhan arsip, meminimalkan risiko litigasi, dan menjaga informasi keuangan penting, sehingga berkontribusi terhadap peningkatan praktik keuangan di perpustakaan. Selain itu, memahami dan mengelola anggaran, melakukan audit, dan menggunakan metrik merupakan aspek penting dari manajemen keuangan di perpustakaan, dan manajemen arsip dapat mendukung kegiatan ini dengan menyediakan catatan keuangan yang akurat dan dapat diakses (Antonelli, 2020). Kemudian, gambar 1 menunjukkan kata keuangan perpustakaan dan materi perpustakaan terhubung. Pengelolaan keuangan perpustakaan dan bahan perpustakaan mempunyai keterkaitan yang erat. Perpustakaan harus hati-hati memilih materi yang selaras dengan kebutuhan dan permintaan penggunanya, yang berpotensi mengakibatkan ketersediaan materi fisik yang lebih sedikit. Keterbatasan anggaran dapat berimplikasi pada perolehan dan pemeliharaan bahan fisik, sehingga mengakibatkan berkurangnya perolehan bahan cetak baru dan berpotensi membatasi keragaman dan luasnya koleksi perpustakaan (Ahmed et al., 2020). Terlebih lagi, terbatasnya anggaran perpustakaan dapat berdampak signifikan terhadap ketersediaan bahan-bahan terkini. Dengan lebih sedikit dana yang tersedia, perpustakaan terpaksa secara hati-hati memilih bahan-bahan yang selaras dengan kebutuhan dan permintaan penggunanya, yang berpotensi mengakibatkan semakin sempitnya bahan fisik yang tersedia dan membatasi keragaman dan luasnya koleksi perpustakaan (Duffield et al., 2018). Pihak perpustakaan memprioritaskan pengadaan koleksi baru berdasarkan prioritas kebutuhan mereka, yang menguraikan area spesifik di mana pengunjung perpustakaan paling butuh. Kebijakan pengadaan koleksi perpustakaan dikembangkan oleh staf profesional perpustakaan, yang bertanggung jawab untuk membaca ulasan dan tetap mendapat informasi tentang tren terkini di lapangan. Rekomendasi patron untuk akuisisi sering kali dianjurkan di semua jenis perpustakaan (Black & Muddiman, 2017). Kebijakan pemilihan pembelian koleksi baru perpustakaan dirancang untuk memastikan bahwa koleksi perpustakaan selaras dengan kebutuhan dan permintaan penggunanya (Maceli, 2018). Anggaran perpustakaan juga memainkan peran penting dalam menentukan bahan yang diperoleh. Perpustakaan harus hatihati memilih bahan-bahan yang selaras dengan kebutuhan dan permintaan penggunanya, yang berpotensi mengakibatkan semakin sempitnya bahan fisik yang tersedia dan membatasi keragaman dan luasnya koleksi perpustakaan. Oleh karena itu, perpustakaan memprioritaskan perolehan materi berdasarkan kebijakan pemilihan, kebutuhan dan permintaan pengguna, dan batasan anggaran (Park, 2018). Keterbatasan anggaran juga dapat berdampak pada kemampuan untuk mengganti bahan-bahan yang sudah ketinggalan zaman atau rusak, sehingga semakin menghambat kualitas koleksi fisik dan pengalaman pengguna secara keseluruhan (Ghifara et al., 2022). Perpustakaan mungkin harus meminjam buku melalui pinjaman antar perpustakaan atau membeli akses jangka pendek ke sumber daya elektronik. Selain itu, keterbatasan anggaran mempunyai implikasi terhadap perolehan dan pemeliharaan bahan fisik, berpotensi mengurangi perolehan bahan cetak baru dan membatasi keragaman dan luasnya koleksi perpustakaan (Pratiwi et al., 2022). Tabel 1 menunjukkan bahwa negara Amerika Serikat merupakan afiliasi penulis studistudi terdahulu yang menganalisis tentang manajemen keuangan pada perpustakaan dengan sitasi terbanyak. Universitas Rochester merupakan afiliasi penulis dengan sitasi terbanyak. Hal ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat berniat dalam mengembangkan penelitian mengenai hubungan antara manajemen keuangan dengan perkembangan perpustakaan. Menurut studi oleh (Bailey, 2020), Pengelolaan dana perpustakaan di perpustakaan Amerika Serikat berbeda-beda tergantung pada jenis perpustakaan dan sumber pendanaannya. Namun, saya dapat memberikan gambaran umum tentang bagaimana dana perpustakaan biasanya dikelola di Amerika Serikat. Perpustakaan di Amerika Serikat menerima pendanaan dari berbagai sumber, seperti alokasi pemerintah federal, serta hibah, sumbangan, dan upaya penggalangan dana. Alokasi dana dari sumber-sumber ini dapat bervariasi tergantung pada lokasi dan ukuran perpustakaan (Knapp et al., 2023). Tabel 1. Daftar afiliasi penulis studi-studi pendahulu dengan sitasi terbanyak Organization Documents Citations University Of Rochester, Rochester, 14627, United States 1 32154 Department Of Health Care Management, Technical University Berlin, Berlin, Germany 1 120 Department Of Health Systems Financing, World Health Organization, Geneva, 27, 20 Avenue Appia, 1211, Switzerland 1 120 Department Of Business Management, Heriot-Watt University, Edinburgh, United Kingdom 1 44 Missouri University of Science and Technology, Rolla, United States 1 44 Department Of Library Science, Purdue University Library, United States 1 40 Medical University of Vienna, Austria 1 31 Pfizer Inc., Collegeville, United States 1 31 Pfizer Inc., Groton, United States 1 31 Pfizer Inc., New York, United States 1 31 University Of Toronto, Toronto, On, Canada 1 31 Uth McGovern Medical School at Houston, Houston, Tx, United States 1 31 Wesley Enterprise, Inc, Yorba Linda, Ca, United States 1 31 Xcenda, Palm Harbor, Fl, United States 1 31 Obesity Program, Children's National Medical Center, 111 Michigan Avenue, Washington, 20010, Dc, United States 1 27 School For Public Health and Primary Care, University of Maastricht, Maastricht, Netherlands 1 27 The George Washington University School of Medicine and Health Sciences, Washington, Dc, United States 1 27 Sumber: Data dianalisis dengan Vosviewer Pemerintah AS mengalokasikan dana pemerintah untuk gaji pustakawan dan pelatihan menunjukkan komitmen untuk mendukung pengembangan dan profesionalisme staf perpustakaan. Investasi ini sangat penting untuk menjaga kualitas dan efektivitas layanan perpustakaan. hal ini juga penting untuk mendorong pustakawan agar terlibat dalam pembelajaran berkelanjutan. Pemerintah dapat memberikan dukungan finansial bagi pustakawan untuk menghadiri konferensi, lokakarya, dan seminar (Miller & Steams, 2019). Pemaparan ini memungkinkan pustakawan untuk berjejaring, belajar dari pakar industri, dan membawa ide-ide baru kembali ke perpustakaan mereka. Dengan berinvestasi dalam pengembangan profesional ini, pustakawan dapat menjadi yang terdepan dan menawarkan layanan inovatif (Febriyanti et al., 2022). Tabel 2. Jurnal Dengan Sitasi Terbanyak Paper Total Citations Total Citation/Year JENSEN MC, 1976, J FINANC ECON 32154 669.88 MATHAUER I, 2013, BULL WHO 120 10.91 WOOLHANDLER S, 1993, NEW ENGL J MED 84 2.71 ANTONY J, 2018, INT J QUAL RELIAB MANAGE 44 7.33 KINKUS J, 2007, COLL RES LIBR 40 2.35 HEBERT AA, 2018, CURR MED RES OPIN 31 5.17 DESILVA S, 2021, TELEMEDICINE E-HEALTH 27 9.00 ANDERSON P, 2009, DRUG ALCOHOL REV 27 1.80 SLOAN B, 1998, REF USER SERV Q 24 0.92 EITEL F, 2000, MED TEACH 22 0.92 MORGAN S, 1996, LIBR REV 21 0.75 JALALUDDIN HAIDER S, 2003, BOTTOM LINE 20 0.95 KOSTAGIOLAS P, 2011, LIBR REV 19 1.46 Sumber: Data dianalisis dengan biblioshiny Tabel 2 menunjukkan bahwa Journal of Financial Economics dibawah naungan penerbit Elsevier memiliki total sitasi yang melebihi jurnal-jurnal lainnya. Journal of Financial Economics merupakan jurnal terindeks Scopus dengan skor SJR diatas 10. Selain itu, jurnal ini terindeks Q1, dimana jurnal ini termasuk jurnal elit untuk penelitian-penelitian terbaru dengan dampak yang luas bagi masyarakat. Korelasi antara faktor dampak sebuah jurnal dengan jumlah sitasi terdapat hubungan positif antara keduanya, tidak selalu berarti hubungan sebab akibat (Lyons et al., 2018). Beberapa faktor dapat mempengaruhi jumlah kutipan, termasuk kualitas dan kebaruan penelitian, visibilitas dan aksesibilitas jurnal, dan relevansi artikel dengan komunitas ilmiah. Selain itu, pola kutipan dapat bervariasi antar disiplin ilmu, dengan beberapa bidang biasanya memiliki tingkat kutipan yang lebih tinggi dibandingkan bidang lainnya (Martín-Martín et al., 2021). Namun, tentu saja faktor dampak jurnal yang tinggi tidak serta merta menjamin tingginya jumlah kutipan untuk setiap artikel dalam jurnal. Beberapa peneliti mengemukakan bahwa faktor dampak jurnal tidak dapat menjadi penentu tunggal secara akurat dalam mencerminkan kualitas atau dampak masing-masing artikel dalam jurnal (Zaorsky et al., 2019). Oleh karena itu, para peneliti disarankan untuk mempertimbangkan metrik dan indikator lain, seperti metrik tingkat artikel dan Altmetrik, untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif tentang pengaruh dan visibilitas artikel penelitian (Martín-Martín et al., 2021). Tabel 3 menunjukkan bahwa Emerald Emerging Markets Case Studies mempunyai jumlah karya tulis terbanyak. Emerald Insight sebagai penerbit menawarkan berbagai manfaat bagi sivitas akademika yang memilih untuk mempublikasikan karyanya bersama mereka. Emerald Insight memiliki portofolio beragam yang mencakup lebih dari 300 jurnal peer-review yang mencakup spektrum disiplin akademis yang luas, termasuk bisnis, manajemen, ilmu sosial, pendidikan, dan banyak lagi. Artinya, penelitian yang dipublikasikan oleh seorang akademisi pada jurnal dibawah naungan Emerald Insight mempunyai peluang lebih tinggi untuk menjangkau khalayak yang lebih luas, yaitu para akademisi dan profesional yang relevan. (Kholidah et al., 2022). Tabel 3. Jurnal Dengan Jumlah Karya Tulis Terbanyak Sources Articles EMERALD EMERGING MARKETS CASE STUDIES 53 LIBRARY MANAGEMENT 7 THE BOTTOM LINE 7 JOURNAL OF BUSINESS AND FINANCE LIBRARIANSHIP 6 BOTTOM LINE 5 LIBRARY PHILOSOPHY AND PRACTICE 5 LIBRARY REVIEW 4 BULLETIN OF THE MEDICAL LIBRARY ASSOCIATION 3 BUSINESS INFORMATION REVIEW 3 JOURNAL OF LIBRARIANSHIP AND INFORMATION SCIENCE 3 ADVANCES IN LIBRARIANSHIP 2 COLLECTION BUILDING 2 COLLEGE AND RESEARCH LIBRARIES 2 Sumber: Data dianalisis dengan biblioshiny Selain itu, Emerald Insight mengikuti proses peer review yang menyeluruh untuk memastikan kualitas dan validitas penelitian yang mereka publikasikan. Proses ini melibatkan penyerahan naskah yang diserahkan kepada para ahli independen di bidangnya, yang akan mengevaluasi karya tersebut berdasarkan ketelitian ilmiah dan kontribusinya terhadap pengetahuan. Selain jurnal berbasis langganan tradisional, Emerald Insight juga menawarkan opsi akses terbuka. Hal ini memungkinkan para peneliti membuat karya mereka dapat diakses secara bebas oleh khalayak yang lebih luas, sehingga meningkatkan dampak dan visibilitasnya (Özdemir & Selçuk, 2021). Emerald Insight menawarkan berbagai layanan penulis, termasuk pengeditan bahasa, bantuan pemformatan, dan dukungan pemasaran. Layanan ini dapat membantu Anda meningkatkan kualitas dan visibilitas penelitian Anda. Emerald Insight menawarkan layanan terjemahan bagi penulis yang perlu menerjemahkan naskahnya ke bahasa lain (Qosim et al., 2023). Hal ini dapat bermanfaat bagi penulis yang ingin menjangkau khalayak yang lebih luas atau yang mengirimkan karya ke jurnal yang diterbitkan dalam bahasa berbeda. Emerald Insight dapat membantu akademisi untuk mempromosikan penelitian seorang akademisi setelah dipublikasikan (Zaorsky et al., 2019). Hal ini dapat mencakup mengembangkan rencana pemasaran, membuat konten media sosial, dan menjangkau pembaca potensial (Radha & Arumugam, 2021).
Conclusion
Berdasarkan hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa kata yang sering digunakan pada kata kunci studi studi terdahulu yang membahas tentang manajemen keuangan di perpustakaan adalah manajemen arsip serta materi perpustakaan. Kedua hal tersebut harus diperhitungkan berdasarkan anggaran perpustakaan yang tersedia. Hasil diatas juga memperlihatkan bahwa afiliasi penulis yang paling banyak mendapatkan sitasi yakni Amerika Serikat/USA. Negara ini memiliki jumlah perpustakaan yang sangat banyak dan memiliki anggaran yang besar yang disponsori oleh pemerintah pada perpustakaan-perpustakaan publik mereka. Selain itu, hasil diatas juga menunjukkan bahwa jurnal dengan faktor dampak yang tinggi turut serta dalam mempengaruhi perolehan sitasi yang didapat. Berdasarkan hasil diatas, dapat disimpulkan pula nama besar penerbit ikut mendokrak jumlah karya ilmiah yang dipublikasikan berdasarkan jurusan tertentu. Berdasarkan penelitian dengan topik manajemen keuangan oleh pustakawan, jurnal Emerald Emerging Markets Case Studies mempunyai jumlah karya tulis terbanyak dibandingkan jurnal-jurnal yang lain. Selain itu, jurnal dibawah naungan penerbit terkenal juga cenderung mendapatkan banyak sitasi. Hal ini terlihat pada hasil studi diatas, dimana Journal of Financial Economics dibawah penerbit Elsevier mendapatkan banyak sitasi tiap tahunnya. Studi ini terbatas pada penggunaan metadata dokumen-dokumen yang tersimpan pada website Scopus, sehingga isu terbaru yang belum pernah dipublikasikan pada karya ilmiah tidak dapat dianalisis. Oleh karena itu, studi ini menyarankan penelitian selanjutnya untuk mengobservasi pengaruh biaya operasional terhadap kepuasan pengunjung perpustakaan atau banyaknya program perpustakaan yang diadakan. Studi pendahulu diharapkan dapat menjawab tantangan pustakawan ke depan dalam mengelola dana operasional perpustakaan.