PERPUSTAKAAN DAN PUSTAKAWAN PERGURUAN TINGGI DI MASA PANDEMI GLOBAL
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Pandemi global yang dihadapi oleh dunia membawa dampak pada berbagai aspek kehidupan termasuk proses pembelajaran di perguruan tinggi. Perguruan tinggi dipaksa untuk menghentikan aktifitasnya secara fisik di kampus dan digantikan dengan aktifitas secara daring. Pegawai dan kantor harus melayani sivitas akademika dari rumah atau yang dikenal sebagai “work from home”. Mahasiswa dan dosen juga melakukan aktifitas perkuliahan melalui “study from home”. Hal ini juga berlaku untuk perpustakaan dan pustakawan di perguruan tinggi. Mereka harus dapat melayani sivitas akademika secara 'remote' atau daring. Perubahan pola kerja ini menuntut perpustakaan dan pustakawan melakukan berbagai upaya dan inovasi terkait layanan kepada sivitas akademika di masa pandemi global. Perpustakaan dituntut untuk menyesuaikan layanan dengan situasi baru agar tetap dapat melayani sivitas akademika yakni penyesuaian kebijakan, penyediaan infrastruktur pendukung layanan daring, dan penyesuaian manajemen operasional perpustakaan. Pustakawan pada masa pandemi global setidaknya dituntut untuk memiliki berbagai kompetensi yakni kemampuan literasi, kemampuan komunikasi, kemampuan adaptasi terhadap lingkungan baru, kemampuan menciptakan inovasi dan model layanan baru, dan kemampuan manajemen waktu. Keberhasilan perpustakaan dan pustakawan dalam melakukan penyesuaian akan perubahan yang terjadi pada masa pandemi global, menjadi kunci utama dalam menghadapi situasi di tengah pandemi. Perpustakaan yang tidak siap melakukan penyesuaian tata kelolanya, tidak akan dapat memberikan jalan keluar yang baik bagi kebutuhan informasi dan pengetahuan bagi sivitas akademika selama “study from home”. Pustakawan yang tidak siap dengan perubahan dan kebutuhan kompetensi akan tergerus dan terancam tidak dapat berkontribusi banyak dalam layanan kepada sivitas akademika. Tantangan dan perubahan terhadap perpustakaan dan pustakawan merupakan keniscayaan dalam masa pandemi global yang datang secara tiba-tiba ini.
Keywords:
kompetensi pustakawan
· perpustakaan perguruan tinggi
· pandemi global
· layanan daring
· work from home
Introduction
Pada saat ini dunia sedang menghadapi pandemi global akibat merebaknya virus corona yang terkenal sebagai Covid 19. Virus yang awalnya menjangkiti warga di Wuhan China, sekarang telah menjadi wabah di seluruh dunia. Laporan organisasi kesehatan dunia (World Health Organization - WHO) dalam “Situation Report 113 – Corona Virus Disease (Covid-19)” tanggal 12 Mei 2020 menunjukkan lebih dari dari 4 juta warga dunia terkonfirmasi positif terkena virus dan lebih dari 283 ribu tewas akibat pandemi global ini. Baga imana dengan Indone si a ? Indonesia sejak ditemukannya kasus pertama pada bulan Februari 2020 berdasarkan laporan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid 19, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia tanggal 12 Mei 2020, terdapat 14,749 kasus positif dan angka kematian sejumlah 1,007 orang. Situasi yang dihadapi oleh dunia dan Indonesia saat ini menjadi p e r h a ti a n p e n u h b a g i s e l u r u h pemerintah dan institusi untuk melakukan berbagai upaya pencegahan penyebaran dan penanganan yang masif dan berkelanjutan. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang kemudian diikuti oleh berbagai institusi dan lembaga, termasuk di dalamnya institusi perguruan tinggi melakukan penyesuaian dengan melakukan pembatasan aktifitas bagi masyarakat. Kampus-kampus di s e l u r u h I n d o n e s i a m u l a i memperlakukan masa darurat Covid 19 dengan mengeluarkan aturan work from home bagi tenaga kependidikan dan study from home bagi sivitas akademikanya . Aktifit a s yang sebelumnya dilakukan secara fisik, diganti dengan aktifitas berbasis da ring. Maha siswa dan dos en melakukan kegiatan belajar mengajar dari rumah dengan menggunakan berbagai fasilitas teknologi daring yang tersedia. Sementara itu, tenaga kependidikan juga melakukan layanan kepada sivitas akademika dari rumah masing-masing dengan berbagai model layanan yang dikelola sendiri oleh masing-masing unit. Perpustakaan merupakan salah satu unit di perguruan tinggi yang me r a s akan dampak t e rj adinya perubahan pola kerja dan kebijakan work from home. Perpustakaan dan pustakawannya harus tetap dapat m e m b e ri k a n l a y a n a n k e p a d a pemustaka yakni sivitas akademika. Hal ini penting agar proses penyediaan s u m b e r d a y a i n f o r m a si d a n pengetahuan yang dibutuhkan selama proses study from home bagi sivitas akademika tetap dapat tercukupi dengan baik. Situasi seperti inilah yang menyebabkan pust akawan dan perpustakaan perguruan tinggi perlu melakukan penyesuaian diri dalam berbagai aspek layanan kepada sivitas a k a d emi k a . Tu l is a n i n i a k a n memberikan gambaran berbagai kebutuhan penyesuaian yang harus dilakukan oleh perpustakaan dan pustakawan perguruan tinggi selama masa pandemi global, sehingga tetap dapat memberikan layanan daring secara baik kepada sivitas akademika.
Discussion
1. Pandemi Global dan Perpustakaan Pandemi atau pandemik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia atau disingkat KBBI (2020) diartikan sebagai wabah yang berjangkit serempak di mana-mana, meliputi daerah geografi yang luas. Sedangkan World Health Organization - WHO (2010) mendefinisikan pandemi sebagai sebuah sebaran penyakit baru yang secara luas di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa sebuah pandemi terjadi apabila sebuah penyakit sudah sedemikian rupa menyebar ke berbagai belahan dunia secara luas dan membawa dampak yang sangat signifikan pada situasi sosial dan ekonomi masyarakat. Saat ini dunia sedang menghadapi sebuah pandemi yakni penyebaran virus corona yang disebut sebagai covid-19. Keberadaan covid-19 telah memberikan dampak sangat signifikan bagi perkembangan dunia. Perpustakaan merupakan salah satu institusi di dunia yang mengalami dampak dari keberadaan covid-19 ini. International Federation of Library Associations and Institutions atau disingkat IFLA yang merupakan satu organisasi lembaga perpustakaan dunia menyatakan bahwa perpustakaan di seluruh dunia sedang menghadapi p ili h a n y a n g s u lit b a g a ima n a memberikan layanan pada situasi pembatasan, mulai dari pembatasan minimal hingga penutupan total (IFLA, 2020). Keputusan untuk tetap melayani atau menutup perpustakaan merupakan satu hal yang sulit dan harus diambil, dengan mengambil berbagai resiko y a n g a d a . S e i r i n g d e n g a n perkembangan pandemi di berbagai negara yang tingkatannya berbedabeda, maka penerapan terhadap keputusan untuk layanan perpustakaan pun berbeda. Namun yang terpenting bahwa perpustakaan harus siap dengan kondisi dan situasi apapun yang terjadi. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai institusi penting di sebuah perguruan tinggi tentunya menghadapi dilema yang sama dalam layanan kepada sivitas akademika. Pada situasi di mana kegiatan kampus ditutup dan diganti dengan kegiatan jarak jauh, tentu sivitas akademika tetap harus memp u n y a i k e b u t u h a n u n t u k mengakses sumber daya perpustakaan. Situasi ini menyebabkan pengelola perpustakaan harus dapat berpikir strategis dan memikirkan segala risiko agar perpustakaan tetap dapat memberikan layanan kepada sivitas akademika di tengah pandemi. Penyesuaian terhadap kondisi dan situasi di suatu wilayah mempengaruhi bagaimana sikap yang harus dilakukan oleh perpustakaan dan pustakawannya d a l a m m e m b e r i k a n l a y a n a n pe rpust aka an. Untuk itu pada pembahasan kali ini setidaknya terdapat dua sisi penting yang perlu dilakukan penyesuaian yakni dari tata kelola perpustakaan itu sendiri dan dari sisi kesiapan pustakawan. 2. Penyesuaian Tata Kelola Perpustakaan Perpustakaan di mana pun berada termasuk di dalamnya perpustakaan perguruan tinggi merupakan bagian yang t e rdampak dan memiliki kepentingan untuk me l akukan penyesuaian tata kelola organisasinya. Pada situasi pandemik, maka tidak ada pilihan lain dari perpustakaan selain mencoba menata kembali kebijakan dan operasional perpustakaan agar sedikit 'bersahabat' dengan kondisi pandemi. Bahkan pada saat ini, orang sudah ramai membicarakan adanya suatu era normal baru, di mana masyarakat harus dapat berdampingan bersama dengan virus covid-19. Penulis setidaknya melihat ada 3 (tiga) elemen besar yang harus dilakukan oleh perpustakaan sebagai respon terhadap situasi pandemi dan normal baru, yakni penyesuaian kebijakan, penyedi a an infr a struktur yang memadai, dan penyesuaian manajemen operasional perpustakaan. 1. Penyesuaian kebijakan Hal pertama yang harus disiapkan oleh perpustakaan terkait perubahan situasi yang dikarenakan adanya kondisi pandemi adalah melakukan penyesuaian berbagai kebijakan yang mungkin sebelumnya hanya berlaku pada situasi normal. Penyesuaian kebijakan perlu dilakukan agar perpustakaan dapat tetap menjalankan fungsinya dan dapat memberikan layanan terbaik bagi pemustaka. Beberapa kebijakan yang perlu disesuaikan diantaranya seperti: a. Kebijakan penyesuaian jam buka perpustakaan dari yang semula berbasis pada pertemuan secara fisik menjadi menggunakan daring yang lebih fleksibel. b. Kebijakan penggunaan sumber daya perpustakaan terutama koleksi perpustakaan yang semula mengandalkan pada koleksi fisik menjadi bertumpu pada koleksi digital atau elektronik. Termasuk di dalamnya kebijakan untuk m e n g a k s e s s u m b e r d a y a elektronik secara 'remote' atau dari luar kampus. Akses koleksi atau sumber daya yang mungkin sebelumnya diakses secara terbatas, namun demi pemenuhan kebutuhan kepada pemustaka harus sedikit dibuka 'kran'nya agar tetap dapat digunakan dan terjangkau oleh pemustakanya. c. Kebijakan terkait pembatasan kontak fisik dalam layanan kepada pemustaka yang meminimalisir resiko penularan dan penyebaran p e n y a k it a k i b a t p a n d emi. Pe r p u st a k a a n mu l a i h a r u s memikirkan bagaimana agar tetap dapat melayani berbagai sumber daya fisik, akan tetapi tetap mengurangi resiko kontak fisik yang berlebihan baik antara staf dengan pemustaka, maupun antar pemustaka itu sendiri. d. Kebijakan yang menyangkut penyesuaian standar operasional prosedur layanan perpustakaan seperti kebijakan pengenaan denda, kebijakan peminjaman dan pengembalian koleksi, dan kebijakan sejenis. 2. Penyediaan infrastruktur Kebutuhan sarana prasarana dan infrastruktur perpustakaan dalam masa normal dengan masa pandemi tentu berbeda. Pandemi global menyebabkan perpustakaan perlu memberikan perhatian lebih kepada sarana p r a s a r a n a d a n i n f r a t r u k t u r p e r p u st a k a a n t e r u t ama u n t u k menjamin jalannya layanan dalam berbagai situasi pembatasan yang mungkin terjadi. Penyediaan sarana prasarana dan infrastruktur selama masa pandemi setidaknya memenuhi beberapa hal di bawah ini: a. Perpustakaan harus memastikan bahwa sarana dan prasarana yang tersedia memberikan rasa aman d a n n y a m a n b a g i s t a f perpustakaan (pustakawan dan non pustakawan) dan pemustaka dalam memanfaatkan layanan perpustakaan; b. Infrastruktur yang disediakan perpustakaan harus menjamin kelancaran dan kenyamanan staf dan pemustaka dalam mengakses sumber daya perpustakaan selama masa pandemi; c. Pe r p u st a k a a n h a r u s d a p a t menyediakan sarana bagi staf perpustakaan untuk melakukan pekerjaan dalam kondisi dan situasi apapun terutama ketika work from home seperti akses int e rne t, komput e r, s a r ana komunikasi dan sarana lainnya. d. I n fr a str u k t u r h a r u s d a p a t memberikan jaminan mampu menjangkau seluruh sivitas akademika dan staf perpustakaan dimanapun berada. Penyediaan sarana prasarana dan infrastruktur seperti kriteria di atas s e t i d a k n y a a k a n memb e ri k a n p e r p u st a k a a n k e t a h a n a n d a n kepercayaan dalam melayani sivitas akademika. Perpustakaan akan dapat bergerak dan menggerakan staf perpustakaan untuk melakukan yang terbaik di tengah keterbatasan dan situasi pandemi. Sarana prasarana dan infrastruktur yang baik ini akan menjadikan staf perpustakaan dan sivit a s akademika t e t ap dapa t menjalankan perannya masing-masing dalam situasi pandemi. 3. P e n y e s u i a n m a n a j e m e n organisasi perpustakaan a. P e m b a t a s a n A k t i f i t a s Perpustakaan IFLA (2020) merekomendasikan beberapa pendekatan yang berbeda d a l a m p e m b a t a s a n a k t i f i t a s perpustakaan sebagai respon terhadap kondisi pademik. Pendekatan antar perpustakaan dapat berbeda tergantung pada situasi yang dihadapi oleh masing-masing wilayah atau negara. I F L A ( 2 0 2 0 ) m e n y a m p a i k a n setidaknya ada beberapa pendekatan dalam berbagai situasi yakni: n Business (more or less) as usual. Pada situasi di mana suatu daerah penyebaran virus terbatas atau tidak terlalu signifikan, dan pemerintah tidak menyatakan a d a n y a l a r a n g a n -l a r a n g a n tertentu, maka perpustakaan dapat d i r e k o m e n d a si k a n u n t u k melakukan aktifitas normal atau seperti biasa dengan penerapan prosedur kebersihan yang baik y a k n i : ( 1 ) m e m a s t i k a n ketersediaan air hangat dan sabun; (2) memastikan ketersediaan hand sanitizer; (3) menjaga kebersihan berbagai perabot dan tempat yang menjadi tempat resiko kontak fisik p e n g g u n a a t a u st a f ; ( 4 ) memastikan mendorong staf atau pemustaka yang sakit untuk tidak datang di perpustakaan; (5) dan menyediakan halaman web yang mempunyai berbagai informasi untuk memenuhi kebutuhan literasi pemustaka. n Some restrictions. Apabila di suatu wilayah, pemerintah sudah m e l a k u k a n p e m b a t a s a n pembatasan aktifitas yang nyata, seperti pembatasan berkumpul dalam jumlah banyak, dan himbauan lebih ketat untuk hidup bersih, maka perpustakaan harus melakukan berbagai pembatasan seperti: (1) memperhatikan program yang mengumpulkan banyak orang seperti workshop, diklat, bimbingan pemakai berkelompok; (2) pembersihan dan melakukan disinfektan pada media-media yang menjadi pusat kont ak fisik s epe rti me j a , komputer, dan sejenisnya. Selain itu perpustakaan juga harus mulai memikirkan untuk menutup ruang st u d i a t a u b e l a j a r y a n g memungkinkan pemust aka melakukan aktifitas bersama atau diskusi dalam waktu yang lama. Perpustakaan juga harus mulai m e n g a n t i s i p a s i k o n d i s i pembatasan yang lebih dengan m e m a s t i k a n s e m u a s t a f mempunyai kemampuan dan alat atau fasilitas memadai untuk bekerja dan melakukan layanan secara daring atau jarak jauh. n Minimal service. Pada situasi di w i l a y a h y a n g m e l a k u k a n pembatasan secara sangat ketat bahkan melakukan beberapa penutupan di berbagai daerah atau wilayah akibat adanya pandemik, ma k a p e r p u st a k a a n d a p a t memikirkan untuk melakukan layanan secara minimal yakni: (1) menutup secara penuh area perpustakaan namun tetap dapat memberikan layanan terbatas s e p e r t i p e m i n j a m a n d a n pengembalian buku melalui ruang khusus, drop book atau layanan dri v e thru; (2) dan hanya mengijinkan pengunjung dengan perjanjian terlebih dahulu; (3) menerapkan kebijakan karantina bagi koleksi atau buku yang dikembalikan; (4) membuat perencanaan pelaksanaan layanan secara jarak jauh (peminjaman secara elektronik, pembelajaran secara elektronik atau dukungan l a i n u n t u k m e l a k u k a n pembelajaran jarak jauh); (5) dan memastikan bahwa semua staf siap untuk melakukan layanan j a r a k j a u h d a n d a p a t melakukannya. n Full closure. Pada situasi di mana wilayah menerapkan pembatasan penuh yang mengharuskan pusatpusat perkantoran tutup termasuk perpustakaan, maka perpustakaan harus: (1) memastikan semua staf bekerja dari rumah kecuali benarbenar ada keperluan yang tidak dapat ditinggalkan dengan tetap memperhatikan aturan seperti s o c i a l d i s t a n c i n g ; ( 2 ) memberikan kesempatan kepada pustakawan untuk membantu ma sya r aka t s e sua i dengan k emamp u a n n y a d i b i d a n g informasi; (3) menyediakan media komunikasi yang memberikan kesempatan kepada pemustaka untuk tetap dapat memanfaatkan sumber daya perpustakaan; (4) dan lebih banyak mempromosikan p ema n f a a t a n s umb e r d a y a elektronik atau digital yang dimiliki oleh perpustakaan kepada pemustaka. n Preparing re-opening. Pada situasi tertentu di mana pandemik mulai menurun atau untuk kondisi tertentu pemerintah memutuskan untuk kembali membuka berbagai aktifitas masyarakat termasuk perpustakaan, maka beberapa hal perlu disiapkan yakni: (1) m e m b u a t r e n c a n a u n t u k pembukaan kembali secara bertahap dengan melihat aturan dan memastikan situasi (izin, sumber daya, gedung) telah aman; (2) menentukan batasan jumlah o r a n g y a n g me n g g u n a k a n perpustakaan pada satu waktu dan m e l a k u k a n p e m b a t a s a n pembatasan waktu penggunaan perpustakaan; (3) mencegah situasi orang atau pemustaka untuk berkumpul dalam satu area pada satu waktu dengan mulai melakukan pengaturan furniture, tata letak ruang, akses lalu lintas orang, hingga penutupan beberapa ruang yang beresiko seperti ruang baca atau toilet; (4) melakukan pembersihan secara teratur baik t emp a t ma u p r a s a r a n a d i p e r p u s t a k a a n ; ( 5 ) mengembangkan layanan praktis d a n d r i v e t h r u u n t u k meminima lisir kont ak; (6) m e m a s t i k a n b a h w a s t a f memp u n y a i p e r a l a t a n d a n pelatihan yang memadai untuk tetap menjaga jarak aman dengan pemustaka; (7) memastikan secara pasti dan benar setiap ruangan dan layanan yang dibuka aman untuk pustakawan dan pemustaka; (8) terus melakukan promosi dan kampanye pemanfaatan sumber daya daring kepada pemustaka; (9) dan melakukan komunikasi yang baik dan jelas dengan pemustaka terkait aturan-aturan baru dalam pelayanan kepada pemustaka. a. Ma n a j eme n S umb e r Da y a Manusia Hal lain yang penting dalam penyesuaian manajemen operasional perpustakaan yakni pengelolaan sumber daya manusia. Pengelola perpustakaan harus dapat melakukan pemetaan kembali tugas pokok dan fungsi staf perpustakaan, serta memastikan bahwa staf perpustakaan siap menghadapi situasi baru atau cara kerja baru di saat pandemik. Di tengah ketidakpastian waktu berakhirnya masa pandemik, maka perpustakaan harus dapat benar-benar menyiapkan secara pasti bahwa para stafnya mempunyai kemampuan dan fasilitas yang memadai untuk tetap dapat bekerja dalam kondisi apapun. Rencana pelatihan yang tepat akan memberikan kepastian kompetensi staf p e r p u st a k a a n d a l am me l a y a n i pemustaka di masa pandemi. P e n g e l o l a a t a u p imp i n a n perpustakaan juga harus mampu mulai memetakan kemampuan dan tugas baru bagi staf perpustakaan sehingga tetap dapat berkontribusi dalam membantu perpustakaan memberikan layanan terbaiknya. Restrukturisasi tugas dan jabatan mungkin harus dilakukan untuk penyesuaian dengan kondisi terkini. Tugas dan kewenangan baru dapat dibangun kepada beberapa staf p e r p u st a k a a n y a n g m u n g k i n sebelumnya belum pernah dilakukan. b. Ma n a j eme n S umb e r Da y a Perpustakaan Perpustakaan perguruan tinggi pada masa pandemi global dituntut untuk tetap dapat memberikan kontribusi terbaiknya bagi pelaksanaan tri dharma perguruan tinggi. Dukungan perpustakaan terhadap penyediaan s u m b e r d a y a i n f o r m a si d a n pengetahuan bagi sivitas akademika harus tetap dapat berjalan ditengah kondisi study from home dan work from home. Situasi yang mengharuskan sivitas akademika melakukan berbagai kegiatan berbasis daring akan b e r d a m p a k k e p a d a o ri e n t a si pengelolaan sumber daya perpustakaan yang juga berbasis daring. Pada situasi seperti di atas, perpustakaan perlu mulai melakukan penyesuaian pada manajemen sumber daya perpustakaan seperti: (1) perubahan fokus bentuk sumber daya dari fisik ke digital atau elektronik seperti jurnal elektronik, buku elektronik, basis data elektronik, prosiding elektronik, hingga berbagai media pembelajaran berbasis daring atau elektronik; (2) penyediaan sistem dan aplika si yang mendukung kemudahan akses ke dalam sumber daya perpustakaan selama masa pandemi; (3) penyediaan lebih banyak informasi sumber daya perpustakaan elektronik, terutama berbasis open access yang memudahkan akses bagi sivitas akademika; (4) memastikan bahwa pemustaka mendapatkan sumber daya perpustakaan secara legal dan sah; (5) melakukan berbagai k a m p a n y e d a n p r o m o si b a g i penggunaan dan pemanfaatan sumber daya perpustakaan berbasis elektronik kepada sivitas akademika di berbagai kesempatan; (6) dan memastikan kesiapan berbagai sumber media di perpustakaan dalam mensosialisasikan tata kelola dan kebijakan baru terkait akses ke sumber daya perpustakaan. c. Manajemen Anggaran Situasi pandemik yang tidak menentu menyebabkan perpustakaan harus melakukan berbagai penyesuaian kebijakan, kegiatan, sumber daya hingga hal-hal kecil lain terkait layanan di masa pandemi. Hal ini menyebabkan perpustakaan juga perlu melakukan penyesuaian pada rencana anggaran perpustakaan. Penyesuaian terhadap manajemen anggaran perlu dilakukan seperti: (1) pengalihan anggaran untuk menjamin keselamatan pemustaka dan petugas dalam berinteraksi seperti pengadaan alat-alat kebersihan, pelaksanaan kegiatan pembersihan ruang dan alat untuk membunuh kuman dan virus melalui penyemprotan cairan disinfektan, perubahan tata letak dan furniture perpustakaan, dan sejenisnya; (2) perhatian lebih pada anggaran untuk peningkatan keahlian dan peralatan yang diperlukan oleh staf dalam melakukan layanan kepada pemustaka terutama layanan secara daring dan jarak jauh; (3) peningkatan anggaran untuk kebersihan dan jaminan lingkungan yang bersih dan higienis di perpustakaan; (4) perhatian pada penyesuaian anggaran khusus untuk fasilitas internet atau daring bagi staf perpustakaan; (5) dan penyesuaian anggaran untuk peningkatan sistem dan aplikasi serta infrastuktur lain guna mendukung layanan berbasis daring dan jarak jauh. Pada situasi ini, perpustakaan harus dapat meyakinkan kepada manajemen puncak dalam hal ini pimpinan pe rpust aka an bahwa penyesuaian manajemen anggaran menjadi mutlak diperlukan. Tingkat urgensi dalam menghadapi situasi pandemi dan pemenuhan kebutuhan dan layanan perpustakaan untuk sivitas a k a d e m i k a d a l a m a k t i f i t a s pembelajaran menjadi kunci penting dalam penyesuaian ini. 4. Kesiapan Pustakawan Ba g a ima n a d e n g a n p o sisi pustakawan dalam masa pandemi seperti sekarang ini? Bagian penting lain yang terdampak dan harus me l akukan penye sua i an yakni pustakawan. Sejauh mana kesiapan pustakawan dalam menghadapi 'ujian' situasi pandemi akan terlihat nyata pada saat ini. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan terkait bagaimana kesiapan pustakawan dalam penyesuaian situasi pandemi yakni kemampuan dan keahlian dalam literasi, kemampuan berkomunikasi, k emamp u a n a d a p t a si d e n g a n lin g k u n g an a t au situ a si b a r u , kemampuan untuk menciptakan inovasi dan model layanan baru, dan kemampuan da l am me l akukan manajemen diri terutama manajemen waktu. 1. Kemampuan Literasi Literasi merupakan salah satu keunggulan pustakawan ketika berbicara masalah informasi dan sumber daya pengetahuan. Sudah semestinya bahwa kemampuan literasi pustakawan menjadi kompetensi utama yang harus dikedepankan. Pada situasi dan kondisi seperti ini, kesiapan pustakawan dalam menunjukkan kemampuan literasinya benar-benar diuji. Pustakawan harus benar-benar si ap membe rikan l ayanan dan meningkatkan kemampuan literasinya secara signifikan dan cepat pada situasi pandemi. Bebeberapa literasi yang harus dikuasai oleh pustakawan adalah: a. Literasi Digital. Literasi digital merupakan bentuk kemampuan dan keterampilan seseorang dalam memanfaatkan dan memahami a l a t d a n s u m b e r d i g i t a l berbasiskan komputer (SulistyoBasuki, 2012). Pada masa layanan berbasis daring dan situasi work from home di perpustakaan di mana sumber daya informasi digital menjadi sumber utama, maka praktis bahwa pustakawan harus mempunyai keahlian dalam literasi digital. Kemampuan pustakawan dalam memberikan s u m b e r d a y a d i g i t a l d a n memanfaatkan berbagai alat akses ke sumber daya digital menjadi kunci bagi suksesnya layanan perpustakaan berbasis daring di masa pandemi. b. Literasi Informasi. American Library Association yang dikutip oleh Hisle & Webb (2017) mendefinisikan literasi informasi sebagai satu kesatuan kemampuan atau keahlian yang diperlukan s e o r a n g i n d i v i d u d a l a m mengetahui kapan suatu informasi dibutuhkan dan kemampuan untuk menemukan, mengevaluasi dan menggunakan informasi yang dibutuhkan s e c a r a e f ektif. Pustakawan yang mempunyai kemampuan literasi yang baik a k a n d a p a t m e n e m u k a n , mengakses, dan menggunakan informasi secara efisien dan e f e k t if. P u st a k a w a n j u g a mempunyai kemampuan yang b a i k d a l am me n g e v a l u a si informasi secara kritis, dan mampu menggunakan informasi tersebut secara tepat, akurat dan apat dipertanggungjawabkan. Pustakawan adalah orang yang sangat berkepentingan dalam literasi informasi, karena sangat membantu sivitas akademika atau pemustaka dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan secara cepat, tepat dan akurat. Situasi serba terbatas dalam masa pandemi menyebabkan efektifitas dalam mencari dan menemukan informasi sangat diperlukan. c. Literasi Media. Literasi media merupakan bentuk kemampuan seseorang untuk menggunakan berbagai media untuk mengakses, m e n g a n a l isis, m e n g o l a h m e n g h a s i l k a n , d a n mendistribusikan informasi untuk berbagai keperluan. Kemampuan memanfaatkan berbagai media dan sumber informasi yang dihasilkan media seperti televisi, film, radio, musik terekam, surat kabar, majalah, hingga sumber media internet menjadi hal penting bagi pustakawan. Apalagi dengan banyaknya informasi palsu dan sesat di masyarakat, menjadikan kemampuan literasi i n i p e n t i n g d imi l i k i o l e h pustakawan di masa pandemi. d. Literasi Teknologi Informasi dan K omu n i k a si . L i t e r a si i n i m e r u p a k a n k e m a m p u a n seseorang dalam memanfaatkan dan menggunakan berbagai t e k n o l o g i i n f o r m a si d a n komunikasi untuk keperluan tujuan tertentu, terutama untuk mencari, menemukan, mengolah dan menyajikan informasi. K e m a m p u a n u n t u k me n g o p e r a si k a n b e r b a g a i perangkat TIK baik lunak maupun keras menjadi penting untuk ditingkatkan. Layanan berbasis daring pada masa pandemi sangat memerlukan kemampuan ini. Tak sedikit pustakawan yang terhalang dan ti d a k mamp u memb e ri k a n kontribusi dalam layanan pada masa pandemi dikarenakan ketidakmampuannya dalam menguasai literasi TIK. e. Literasi Visual. Literasi ini m e r u p a k a n k e m a m p u a n seseorang dalam melihat situasi secara visual kemudian mengolah dan menyajikan kembali berbagai informasi yang dilihat dan dirasakannya. Pustakawan perlu memiliki kesiapan dalam literasi v i s u a l , t e r u t a m a u n t u k menciptakan dan memberikan berbagai macam informasi dalam format visual sehingga lebih mudah dit e rima ol eh pa r a pemustaka. Termasuk dalam k e m a m p u a n i n i a d a l a h kemampuan membuat poster, leaflet, data grafis dan sejenisnya.2. Kemampuan Komunikasi Komunikasi menurut KBBI adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami. Sebuah komunikasi melibatkan pengirim pesan dan penerima pesan. Kesalahan pengirim pesan dalam menyampaikan pesannya kepada penerima pesan dapat berakibat fatal. Pustakawan harus mampu melakukan komunikasi yang efektif dan menggunakan berbagai alat dan sarana komunikasi yang ada. Pada masa pandemi dan layanan jarak jauh, kemampuan komunikasi pustakawan sangat diperlukan, baik tulis maupun lisan. Penggunaan tata bahasa dan kalimat yang tepat juga menjadi hal penting selain penguasaan alat. Seringkali terjadi kesalahpahaman antara pengirim dan penerima pesan dikarenakan kesalahan pemilihan kosa kata atau tata bahasa. Peningkatan kemampuan komunikasi menjadi tantangan sendiri bagi pustakawan dalam masa pandemi, termasuk penguasaan bahasa asing. 3. K e m a m p u a n A d a p t a s i Lingkungan Perubahan situasi dan kondisi pekerjaan dalam masa pandemi be rdampak kepada pentingnya kemampuan pustakawan dalam beradaptasi. Situasi yang tidak sama dan perubahan-perubahan aturan yang mempengaruhi cara kerja pustakawan harus diantisipasi. Protokol dan prosedur yang mungkin sebelumnya diperlakukan secara longgar dan kemudian menjadi sangat ketat mungkin akan menjadi masalah bagi sebagian pustakawan. Pustakawan mungkin akan menghadapi berbagai aturan dan prosedur baru yang pada awal kegiatan akan sangat menganggu k en y aman an . Pe rt emu an y an g sebelumnya dapat dilakukan secara langsung dan kemudian berubah harus dilakukan secara daring atau jarak jauh akan menyebabkan pustakawan perlu untuk melakukan penyesuaian atau adaptasi terhadap pola hidup baru. Kemampuan adaptasi lingkungan oleh pustakawan akan dapat secara positif membantu program-program yang sudah ditetapkan oleh perpustakaan dalam masa pandemi. 4. Kemampuan Inovasi dan Inisiasi Model Layanan Baru Pustakawan pada masa pandemi juga dituntut untuk dapat berinovasi dan melakukan banyak inisiasi model layanan baru. Layanan yang mungkin s e l a m a i n i d i a n g g a p t e rl a l u 'memberatkan' menjadi sesuatu yang sangat mungkin untuk dilakukan. Pustakawan perlu menciptakan mediamedia baru, sistem baru, model layanan baru, dan cara-cara baru agar tetap dapat melayani sivitas akademika atau pemustakanya. Misalnya peminjaman koleksi perpustakaan menggunakan media penyedia transportasi online, melakukan alih media beberapa koleksi yang diangap penting, pembuatan aplikasi baru pendukung akses daring s u m b e r d a y a p e r p u st a k a a n , peminjaman secara drive-thru, dan lain sebagainya. 5. Kemampuan Mana j emen Waktu Perubahan operasional kerja perpustakaan dari yang sebelumnya berbasis fisik ke daring tentu akan diikuti dengan perubahan pola kerja dan waktu layanan. Tidak sedikit dari pemustaka atau sivitas akademika yang akhirnya meminta layanan 24 jam bagi perpustakaan. Hal ini tentu akan memberatkan pustakawan apabila t i d a k d a p a t memb a g i w a k t u . Pemustaka dan sivitas akademika tidak jarang meminta layanan di kala seharusnya waktu istirahat bagi orangorang umum seperti siang hari di saat waktu tidur, sore hari menjelang malam, atau bahkan tengah malam. Hal yang umum terjadi dikarenakan adanya kemudahan dan keleluasaan bagi p emu st a k a u n t u k me n j a n g k a u pustakawan dan perpustakaan tanpa kenal waktu melalui berbagai media daring. Situasi ini menjadikan penting b ag i p u st ak awan u n tu k mu l a i melakukan pembagian kerja dan manajemen waktu bersama dengan tim dan staf lain. Manajemen waktu menjadi kunci agar kualitas pelayanan tetap terjaga di tengah keterbatasan akibat pandemi.
Conclusion
Pandemi global yang dihadapi dunia dan berdampak bagi berbagai s ektor kehidupan t e rma suk di dalamnya institusi pendidikan, mendorong semua pihak untuk mau tidak mau menghadapi dengan berbagai strategi. Pada lingkungan perguruan tinggi, di mana aktifitas perkuliahan dan penelitian dilakukan secara daring, kebutuhan sivitas a k a d emi k a a k a n s umb e r d a y a informasi dan pengetahuan tetaplah t i n g g i . Ha l i n i me n y e b a b k a n perpustakaan sebagai lembaga atau unit yang bertanggungjawab terhadap penyediaan dan layanan sumber daya informasi dan pengetahuan harus m e l a k u k a n l a n g k a h - l a n g k a h penyesuaian. Penyesuaian dalam masa pandemi harus dilakukan baik oleh perpustakaan sendiri melalui penyesuaian kebijakan, pe rba ikan pros edur, pedoman, penyediaan infrastruktur hingga p e n y e s u a i a n t a t a k e l o l a , d a n pustakawan sebagai pelaku atau pelaksana melalui peningkatan kemampuan literasi, peningkatan kemampuan komunikasi, peningkatan k emamp u a n a d a p t a si d e n g a n lingkungan baru, kemampuan inovasi dan inisiasi model layanan baru, dan peningkatan kemampuan manajemen waktu. Situasi yang tidak menentu dalam masa pandemi menyebabkan perpustakaan dan pustakawan harus siap dalam berbagai skenario layanan yang akan diberikan kepada para p emu st a k a . Pe r p u st a k a a n d a n pust akawan ha rus t e t ap dapa t memb e ri k a n j ami n a n k e p a d a pemustaka dalam hal ini sivitas a k a d emi k a u n t u k t e t a p d a p a t mendapatkan layanan terbaik dari perpustakaan. A k h i r n y a , k e b e r h a s i l a n perpustakaan dan pustakawan dalam menghadapi masa-masa pandemi sangat ditentukan oleh kerjasama yang baik dan kerja cerdas dari semua pemangku kebijakan dan pihak-pihak berkepentingan. Perpustakaan dan pustakawan perguruan tinggi akan dapat melakukan pekerjaan dengan baik apabila ada dukungan optimal dari p imp i n a n u n i v e rsit a s, si v it a s akademika, para mitra pustakawan dan masyarakat. Semoga pandemi global yang terjadi akan menjadi era baru bagi layanan perpustakaan yang lebih baik, berbasis kekinian dan memaksimalkan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi.