MENGAPA LITERASI INFORMASI DI PERGURUAN TINGGI PENTING?
Universitas Gadjah Mada
Abstrak
Peran perpustakaan perguruan tinggi semakin meluas. Hal ini seiring dengan perkembangan kebutuhan masyarakat akademis yang dilayani. Tri Dharma Perguruan Tinggi merupakan tiga pilar kegiatan di perguruan tinggi membutuhkan referensi serta keterampilan akses informasi dari berbagai aplikasi. Guna memenuhi kebutuhan tersebut, literasi informasi menjadi satu keterampilan akses informasi yang mendasar di perguruan tinggi. Keterampilan akses informasi dari berbagai sumber referensi serta berbagai aplikasi yang mendukung kegiatan pengajaran, penelitian, penulisan dan publikasi merupakan hal penting. Makalah ini membahas alasan mengapa literasi informasi penting diselenggarakan oleh perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia. Alasan tersebut meliputi alasan sosialisasi sumber-sumber informasi, limpahan informasi, beragamnya aplikasi teknologi informasi yang mendukung pembelajaran serta peningkatan kualitas riset dan publikasi karya ilmiah.
Keywords:
literasi informasi
· sumber informasi
· aplikasi teknologi informasi
· riset dan publikasi
Introduction
Institusi perguruan tinggi merupakan salah satu institusi yang menyelenggarakan proses pendidikan. Dibandingkan dengan tingkat pendidikan dasar dan menengah, di level perguruan tinggi peserta didik dipandang lebih memiliki kesiapan mental dan keterampilan dalam menyelesaikan permasalahan dalam proses belajar. Peserta didik pada level perguruan tinggi dianggap memiliki kemandirian dan kemampuan dalam mengikuti proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan kemampuan yang signifikan antara mahasiswa yang telah mengikuti program literasi informasi dan mereka yang belum atau tidak mengikuti. Perbedaan signifikan yaitu dalam mengidentifikasi kebutuhan informasi, m e n g a k s e s , m e n e m u k a n , mengevaluasi dan menggunakan informasi. Penelitian lain dilakukan di Pe rpust aka an IAIN Wa lisongo Semarang menunjukkan bahwa literasi informasi mahasiswa IAIN Walisongo Semarang belum baik. Hal ini ditunjukkan dengan kemampuan yang belum baik dalam mengakses, dan mengevaluasi informasi. Sementara di sisi lain kemampuan dalam memahami i s u s e p u t a r i n f o r m a s i d a n menggunakan informasi secara efektif sudah baik. Pada tahun yang sama Albar (2012) melakukan kajian literasi informasi pada mahasiswa program pendidikan Spesialis Universitas G a d j a h M a d a . H a si l k a j i a n m e n u n j u k k a n b a h w a s e c a r a ke s e luruhan lit e r a si informa si mahasiswa adalah baik. Diketahui bahwa Fakultas Kedokteran UGM telah menerapkan program literasi informasi bagi mahasiswanya. Hal ini sejalan dengan hasil kajian yang dilakukan oleh Wahyudi (2013) bahwa ada perbedaan kemampuan literasi bagi mahasiswa yang telah mengikuti pelatihan literasi dan yang belum pernah mengikuti. Berdasarkan hasil penelitian tentang evaluasi literasi informasi mahasiswa di tiga tempat yang berbeda tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa peserta didik atau mahasiswa di suatu perguruan tinggi memiliki pemahaman dan keterampilan yang beragam terkait literasi informasi. Penelitian tersebut juga membuktikan bahwa literasi informasi diperlukan oleh mahasiswa untuk membekali kemampuan dasar dalam mengakses, mengevaluasi dan menggunakan informasi secara etis. Perpustakaan perguruan tinggi melalui layanan referensi dapat menyelenggarakan program literasi informasi bagi mahasiswa dan dosen. P a d a umumn y a p e r p u st a k a a n menyelenggarakan kegiatan berupa pengena l an pe rpust aka an bagi mahasiswa baru. Namun menurut penulis kegiatan pengenalan saja tidak cukup untuk membekali mahasiswa. Program literasi informasi dalam kelaskelas yang lebih kecil dan intensif d i l a k u k a n s a n g a t m e m b a n t u mahasiswa. Tulisan ini memaparkan mengapa literasi informasi merupakan hal penting dilaksanakan di perguruan tinggi. Tujuan makalah ini untuk memberikan gambaran pentingnya literasi informasi dilakukan oleh pe rpust aka an dan pust akawan perguruan tinggi.
Discussion
Definisi literasi informa si (information literacy) mudah kita jumpai di berbagai literatur. Library Association, A mendefinisikan sebagai satu set kemampuan seseorang dalam m e n d e f i n i s i k a n k e b u t u h a n informasinya, kapan membutuhkan informasi tersebut, bagaimana menemukan, mengevaluasi dan menggunakannya secara efektif. S e d a n g k a n T h e L i b r a r y a n d I n f o r m a t i o n A s s o c i a t i o n mendefinisikan literasi informasi tidak hanya terkait kebutuhan informasi, m e n e m u k a n , m e n g e v a l u a si , menggunakan secara efektif, namun juga kemampuan berpikir kritis dan menilai secara seimbang informasi yang ditemukan dan digunakan. Memahami definisi literasi informasi dan mengaitkannya dengan tugas dosen dan mahasiswa, jelas bagi kita bahwa kemampuan literasi informasi merupakan keterampilan penting bagi dosen dan mahasiswa. Nurohman (2014) menyebutkan bahwa jiwa kritis, inovatif dan kreatif dapat ditumbuhkan dengan penguasaan literasi informasi. Keterampilan literasi informasi akan memberikan daya dukung bagi pembelajaran sepanjang hayat bagi dosen dan mahasiswa. Perguruan tinggi merupakan wahana bagi mahasiswa untuk belajar dan memperoleh ilmu pengetahuan sesuai minat dalam bidangnya. Perguruan tinggi memiliki berbagai program studi. Ada perguruan tinggi yang fokus pada satu bidang ilmu, namun ada pula perguruan tinggi yang mencakup berbagai bidang ilmu. Variasi program studi yang dimiliki akan berpengaruh pada variasi koleksi perpustakaan. Tentu saja hal ini juga membutuhkan pengetahuan yang lebih luas bagi pustakawan terkait bidang cakupan koleksi perpustakaan yang dimiliki. Koleksi tercetak yang dimiliki tentu saja perlu diinformasikan kepada mahasiswa dan dosen di lingkungan perguruan tinggi. Tidak hanya koleksi d a n c a k u p a n n y a y a n g p e r l u diinformasikan kepada mahasiswa, namun mahasiswa perlu mengetahui juga jenis layanan perpustakaan dan perkembangannya. Oleh karena itu alasan pertama mengapa literasi informasi penting diselenggarakan di perguruan tinggi agar mahasiswa mengetahui keberadaan perpustakaan dan sumber daya yang tersedia di perpustakaan. Mahasiswa lebih memungkinkan memanf a a tkan p e r p u st a k a a n , k e t i k a me r e k a mengetahui keberadaan perpustakaan dan sumber daya yang disediakan. Koleksi dan sumber daya yang ada di perpustakaan akan menjadi sia-sia jika tidak dimanfaatkan. Sumber daya perpustakaan meliputi koleksi baik cetak maupun elektronik, ruang-ruang yang disediakan, sarana dan prasarana, dan juga sumber daya pustakawannya. Kajian Putra & Irawati (2018) menunjukkan bahwa literasi informasi telah dilakukan di Perpustakaan Universitas Indonesia, dengan mengenalkan jenis layanan dan koleksi yang disediakan perpustakaan. Banyaknya sumber informasi baik cetak maupun elektronik, ada di dalam ma u p u n d i l u a r p e r p u st a k a a n merupakan alasan pentingnya literasi informasi bagi mahasiswa maupun dosen. Limpahan informasi yang tersedia merupakan alasan kedua pe rlunya lit e r a si informa si di perguruan tinggi. Sumber informasi tersedia cukup melimpah. Mahasiswa terkadang belum mengetahui berbagai sumber informasi yang tersedia dan yang sesungguhnya mereka butuhkan. Hal ini merupakan sebuah kenyataan. Ada sumber informasi yang mereka ketahui namun sesungguhnya kurang tepat jika mereka gunakan dalam tugastugas kuliah ataupun penulisan ilmiah. Ada pula sumber informasi yang dilanggan perpustakaan yang cukup b a n y a k , n amu n me r e k a t i d a k mengetahui. Peserta dalam kegiatan literasi informasi, akan diajak melihat dan mengakses sumber-sumber yang r e l e v a n d e n g a n k e b u t u h a n i n f o r m a si n y a . P e s e r t a a k a n me n d a p a t k a n p e n g a r a h a n d a n bimbingan sumber-sumber informasi yang tepat untuk diakses sesuai topik yang diperlukan. Kemampuan dan p e n g u a s a a n a k s e s i n f o r m a si menggunakan strategi penelusuran informasi yang tepat, diajarkan dalam kegiatan literasi informasi. Hal ini merupakan bekal seumur hidup bagi peserta, agar mampu melakukan penelusuran secara efektif dan efisien. Maha siswa yang mendapa tkan pemahaman tentang berbagai sumber informasi diharapkan akan memiliki lebih banyak peluang mengembangkan pengetahuan yang dimiliki, melalui sumber informasi dari beragam jenis dan media. Kajian Alfida (2015) menunjukkan bahwa ditengah ledakan informasi, mahasiswa belum banyak memanfaatkan berbagai sumber informasi yang tersedia, karena minimnya pengetahuan tentang d a t a b a s e y a n g d a p a t d i a k s e s. Pengetahuan terkait sumber-sumber informasi pembelajaran, berbagai database merupakan salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki mahasiswa agar menjadi seorang pembelajar yang sukses. Alasan ketiga mengapa literasi informasi penting di perguruan tinggi yakni semakin berkembangnya aplikasi teknologi informasi yang mendukung pembelajaran di perguruan tinggi. Aplikasi yang digunakan secara tepat akan sangat efektif membantu d o s e n d a n ma h a sis w a d a l am menyelesaikan tugas-tugas mereka. Kegiatan literasi informasi tidak hanya ditunjukkan dan diajarkan bagaimana melakukan penelusuran informasi dan strateginya, namun juga ditunjukkan bagaimana menggunakan berbagai tool yang relevan untuk digunakan. Aplikasi atau tool tersebut antara lain Summon, Mendeley, Zotero, VosViewer, Grammarly, Turnitin, Ithenticate, dan lain sebagainya. Summon merupakan salah satu tool yang digunakan dalam melakukan penelusuran informasi. Strategi pemanfaatan Summon dalam penelusuran informasi menghemat waktu. Sedangkan Mendeley dan Zotero merupakan aplikasi untuk pengelolaan sitasi. Terkait aplikasi ini mahasiswa belum secara keseluruhan memahami cara menggunakannya.Hal ini dapat diketahui dari hasil penulisan karya akhir mahasiswa yang tidak secara konsisten menuliskan daftar pustaka dengan gaya tertentu. Grammarly merupakan aplikasi yang akan membantu dalam memperbaiki tata bahasa. Penulisan sebuah karya ilmiah, penggunaan tool ini bermanfaat untuk mengecek secara tata bahasa. Sedangkan Turnitin dan Ithenticate merupakan contoh aplikasi untuk melakukan pengecekan kemiripan suatu karya ilmiah dengan karya ilmiah yang lain. Tidak semua mahasiswa telah mengenal aplikasi-aplikasi tersebut. Oleh karena itu, melalui program literasi informasi pustakawan mengenalkan dan mengajarkan penggunaan aplikasi tersebut kepada ma h a sis w a d a n d o s e n . P e r a n pustakawan cukup signifikan dalam kegiatan literasi ini. Melalui program literasi informasi mahasiswa akan dikenalkan dan diajarkan berbagai hal yang penting untuk mendukung pembelajarannya. Hal ini berarti pula literasi informasi juga mengajarkan tentang literasi teknologi. Peserta literasi juga diberikan bimbingan penggunaan aplikasi teknologi informasi yang mendukung proses pembelajaran, riset dan publikasi. A l a s a n k e e m p a t u n t u k peningkatan kualitas riset dan publikasi yang dihasilkan. Sebagaimana kita ketahui menjadi salah satu misi institusi perguruan tinggi untuk meningkatkan jumlah publikasi yang dihasilkan oleh dosen dan mahasiswa. Tentu saja hal ini tidak terlepas dari proses riset yang sebelumnya telah dilakukan. Riset yang berkualitas akan me n g h a sil k a n p u b li k a si y a n g berkualitas pula. Tentu saja hal ini perlu didukung oleh pengetahuan dan kemampuan yang baik terkait referensi yang digunakan, proses riset, dan penulisan karya risetnya. Literasi informasi yang diselenggarakan p e r p u s t a k a a n d i h a r a p k a n akanmeningkatkan kualitas riset yang dihasilkan. Materi literasi informasi yang disampaikan terkait dengan s u m b e r r u j u k a n y a n g direkomendasikan untuk digunakan. Selain itu disampaikan pula berbagai aplikasi olah data dan penulisan hasil riset. Suarny & Jumino (2017) dalam kajiannya di Universitas Diponegoro bahwa literasi informasi berperan dalam penulisan karya ilmiah. Materi literasi informasi termasuk pula mengajarkan serta memberikan instruksi bagaimana cara melakukan publikasi diberbagai media dan pemilihan media publikasi. Tentu saja hal ini akan mendorong mahasiswa dan dosen melakukan publikasi pada media yang tepat. Melihat hasil kajian yang dilakukan oleh Kusumaningtiyas, J umi n o , & Ro hmi y a ti ( 2 0 1 4 ) m e n u n j u k k a n b a h w a s e c a r a keseluruhan kemampuan literasi informasi mahasiswa kurang baik. Tentu hal tersebut merupakan kendala bagi mahasiswa untuk menghasilkan riset dan naskah publikasi yang berkualitas. Mencermati keempat alasan penting di atas, jelaslah bagi kita bahwa literasi informasi merupakan hal penting di perguruan tinggi. Kajian telah menunjukkan kepada kita bahwa literasi informasi merupakan kegiatan penting di perguruan tinggi dan bermanfaat bagi mahasiswa. Mereka yang belum mengikuti program literasi informasi, mempunyai perbedaan kemampuan jika dibandingkan dengan mereka yang telah mengikuti program ini. Bahkan disebutkan oleh Naik (2014) literasi informasi yang paralel dengan kurikulum perguruan tinggi akan menjadi fondasi yang kuat bagi p e n d i d i k a n p e rg u r u a n ti n g g i. Tantangan bagi perpustakaan dan p u st a k awa n u n t u k me l a k u k a n kolaborasi bersama dosen, pengelola program studi maupun departemen, agar kegiatan literasi informasi dapat dilaksanakan secara terprogram dan konsisten. P e m a n f a a t a n w e b s i t e perpustakaan, aplikasi dan media online untuk menyampaikan materi literasi informasi merupakan satu tantangan bagi pustakawan. Mardina (2011) menyebutkan bahwa dengan memanfaatkan multimedia akan s ema k i n memp e rl u a s l a y a n a n perpustakaan. Literasi informasi dapat menggunakan berbagai media. Kemampuan pustakawan untuk berinovasi menjadi satu tantangan tersendiri.Website perpustakaan perlu terus dikembangkan dan diupdate dengan informasi terbaru, sehingga pemustaka merasakan manfaatnya.
Conclusion
Paparan di atas memberikan pencerahan bagi kita semua pentingnya literasi informasi di perguruan tinggi. Literasi informasi penting diselenggarakan karena sebagai wahana bagi perpustakaan untuk mempromosikan s umber daya perpustakaan. Beberapa alasan pentingnya literasi informasi adalah pengenalan koleksi dan layanan perpustakaan, limpahan informasi, beragamnya aplikasi pembelajaran serta mendukung dalam peningkatan k u a l i t a s ris e t d a n p u b l i k a si . Perpustakaan, termasuk di dalamnya pustakawan perlu memikirkan, dan melakukan inovasi program literasi informasi. Dengan inovasi program literasi informasi dari sisi materi dan penyampaiannya, maka mahasiswa dan dosen memiliki bekal yang cukup untuk melakukan pembelajaran sepanjang hayat.