Kembali
16
1
2023 Media Informasi Vol 32 · 2 ISSN 2829-2707

Implementasi Kolaborasi Internasional di Bidang Informasi dan Perpustakaan

Universitas Islam Negeri Sumatera Utara; Universitas Islam Negeri Sumatera Utara

Abstrak

Perpustakaan sebagai salah satu instansi yang mengelola dan menyebarluaskan informasi, dituntut untuk menghadirkan informasi yang mudah diakses kapan saja dan di mana saja yang dibutuhkan oleh pengguna. Berdasarkan hal tersebut maka perpustakaan perlu untuk melakukan kolaborasi agar dapat memaksimalkan upaya dalam pemenuhan kebutuhan informasi kepada pengguna. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui bagaimana implementasi kolaborasi internasional yang diterapkan di perpustakaan. Kolaborasi dapat meningkatkan kualitas pengelolaan dan pelayanan pada perpustakaan sehingga segala aktivitas di perpustakaan menjadi lebih efektif dan efisien. Kolaborasi dapat dilakukan secara nasional maupun internasional. Secara internasional ada beberapa organisasi yang mewadahi dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi diantaranya yaitu IFLA, COCI, dan CONSAL. Realisasi kolaborasi perpustakaan secara internasional terdapat pada perpustakaan akademik yaitu American Corner, French Corner, Indian Corner, Japan Corner, Australian Corner, dan sebagainya. Selain itu contoh perpustakaan perguruan tinggi yang melakukan kolaborasi secara global yaitu Libraries of Leiden University. Libraries of Leiden University merupakan perpustakaan akademik yag berpusat di kota Leiden, Belanda. Libraries of Leiden University memiliki banyak cabang perpustakaan di negara lain termasuk salah satunya di Indonesia tepatnya di Jakarta yaitu KITLV-Jakarta.

Abstract

Libraries as one of the institutions that manage and disseminate information, are required to present information that is easily accessible anytime and anywhere needed by users. Based on this, the library needs to collaborate in order to maximize efforts in fulfilling information needs to users. The purpose of this paper is to find out how international collaboration is implemented in libraries. Collaboration can improve the quality of management and services in the library so that all activities in the library become more effective and efficient. Collaboration can be done nationally or internationally. Internationally there are several organizations that accommodate in the field of library and information science including IFLA, COCI, and CONSAL. The realization of international library collaboration is found in academic libraries, namely American Corner, French Corner, Indian Corner, Japan Corner, Australian Corner, and so on. In addition, an example of a university library that collaborates globally is the Libraries of Leiden University. Libraries of Leiden University is an academic library based in the city of Leiden, the Netherlands. Libraries of Leiden University has many branch libraries in other countries including one of them in Indonesia, precisely in Jakarta, namely KITLVJakarta.
Keywords: Library Cooperation · International Collaboration · Effectiveness of Service

Introduction

Di era teknologi informasi saat ini, informasi menjadi sangat penting dalam berbagai kalangan pada masyarakat. Informasi yang dibutuhkan akan berguna sebagai pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat. Informasi dibutuhkan untuk menambah wawasan dan memperluas pengetahuan serta dapat menjadi solusi dalam pemecahan suatu masalah. Salah satu institusi yang mengelola informasi yaitu perpustakaan. Perpustakaan tidak hanya dituntut untuk menyebarluaskan informasi kepada masyarakat, tapi juga dituntut untuk mengelola dan mengemas informasi sebaik mungkin agar dapat disajikan kepada pengguna yang membutuhkan informasi tersebut. Selain itu, perpustakaan juga dituntut untuk memberikan pelayanan yang efektif dan efisien agar dapat memudahkan segala aktivitas pada perpustakaan. Dengan berbagai macam tugas tersebut, maka perpustakaan sebagai institusi yang tidak dapat berdiri sendiri. Perpustakaan perlu melakukan kerjasama atau kolaborasi dengan institusi sejenis atau lainnya demi perkembangan dan peningkatan perpustakaan itu sendiri. Dengan dilakukannya kolaborasi, perpustakaan dapat meningkatkan pengelolaan dan pelayanan serta pemenuhan kebutuhan informasi yang kompleks untuk penggunanya. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kolaborasi adalah kerja sama. Kolaborasi adalah teknik kerja sama di mana individu atau organisasi bekerja sama untuk mencapai efisiensi dan efektivitas (Istiana, 2016). Kerja sama atau kolaborasi adalah sebuah proses yang harus memenuhi kriteria tertentu agar dapat berfungsi dengan baik. Pada akhirnya, setiap organisasi dan individu yang berpartisipasi dalam hubungan tersebut akan memperoleh imbalan baik berupa uang maupun barang. Bab XI Pasal 42 Undang-Undang Perpustakaan No. 43 Tahun 2007 menyatakan bahwa (Wibowo, 2017): (1) Perpustakaan melakukan kerja sama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan layanan kepada pemustaka; (2) Peningkatan layanan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat 1 bertujuan untuk meningkatkan jumlah pemustaka yang dapat dilayani dan meningkatkan kualitas layanan perpustakaan; dan (3) Kerja sama dan peningkatan layanan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dilakukan dengan memanfaatkan sistem jaringan perpustakaan berbasis teknologi informasi dan komunikasi. Berdasarkan penelitian oleh Mattson dan Hickok, kolaborasi atau kemitraan perpustakaan internasional, terlepas dari skalanya, sangat bermanfaat. Kolaborasi memungkinkan perpustakaan dan mereka yang bekerja di perpustakaan untuk mempelajari praktik inovatif dan keterampilan baru, untuk melihat profesi kepustakawanan melalui lensa baru, dan untuk menyediakan pengguna dengan kesempatan yang kaya untuk keterlibatan global dalam konteks lokal. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan dibahas dalam meluncurkan kemitraan internasional, termasuk perbedaan budaya, hambatan bahasa, dan keterbatasan dana. Namun, tantangan ini pada akhirnya berfungsi sebagai mekanisme untuk pembelajaran lintas budaya dan berbagi keahlian (Mattson & Hickok, 2018). The International Federation of Association and Institutions (IFLA), sebuah jaringan perpustakaan dan profesional perpustakaan dan informasi di seluruh dunia, menawarkan program pelatihan, lokakarya, konferensi dan platform publikasi untuk para profesional LIS di seluruh dunia (IFLA, 2023). Asosiasi lain seperti American Library Association (ALA), the Association for Information Science and Technology (ASIS&T), the Association for Library and Information Science Education (ALISE) iConference dan lainnya, menyediakan platform untuk membantu membentuk komunitas informasi dan perpustakaan yang lebih besar yang dapat saling belajar dan tumbuh bersama (Agarwal & Islam, 2014). Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya di atas, bahwa kolaborasi secara internasional di bidang informasi dan perpustakaan berfokus dalam mengingkatkan dan mengembangkan SDM pustakawan sehingga dapat memajukan perpustakaan tersebut. Kolaborasi yang dilakukan memiliki banyak manfaat pada pengguna serta perpustakaan itu sendiri. Berkembangnya teknologi dan informasi memungkinkan perpustakaan untuk melakukan kolaborasi secara nasional maupun internasional. Pada dasarnya tujuan kolaborasi antar perpustakaan secara internasional sama dengan kolaborasi antar perpustakaan yang dilakukan dalam lingkup nasional. Hanya saja, skala kolaborasi tersebut lebih luas dan tentunya menghadirkan lebih banyak pengetahuan serta teknologi informasi yang lebih baik dan up to date. Kolaborasi perpustakaan secara internasional diharapkan dapat meningkatkan kinerja pelayanan dan pengelolaan pada perpustakaan serta memberikan kebutuhan informasi untuk pengguna secara luas dengan berbagai pengetahuan dari seluruh dunia. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui bagaimana implementasi kolaborasi internasional yang diterapkan di bidang informasi dan perpustakaan. Kajian tentang kolaborasi internasional di bidang informasi dan perpustakaan banyak dibahas dalam bidang organisasinya. Tulisan ini juga membahas mengenai organisasi tersebut, akan tetapi lebih banyak membahas mengenai implementasi dari kolaborasi secara internasional baik dilakuakan oleh organisasi atau lembaga di bidang informasi dan perpustakaan. Secara internasional ada beberapa organisasi yang mewadahi dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi diantaranya yaitu adanya American Corner, French Corner, Indian Corner, Japan Corner, Australian Corner, dan sebagainya di tiap-tiap perpustakaan di Indonesia. Selain itu contoh perpustakaan perguruan tinggi yang melakukan kolaborasi secara global yaitu Libraries of Leiden University. Libraries of Leiden University merupakan perpustakaan akademik yang berpusat di kota Leiden, Belanda. Libraries of Leiden University memiliki banyak cabang perpustakaan di negara lain termasuk salah satunya di Indonesia tepatnya di Jakarta yaitu KITLV-Jakarta. Libraries of Leiden University menerapkan kolaborasi secara internasional agar dapat menghimpun dan menyebarluaskan informasi dari berbagai negara dalam bentuk manual juga digital.

Method

Penelitian ini menggunakan teknik kualitatif dengan strategi studi literatur. Prosedur studi literatur meliputi pengumpulan data di perpustakaan, membaca, mencatat, dan menganalisis bahan penelitian (Moleong, 2016). Tanpa adanya keharusan untuk melakukan penelitian lapangan, penelitian ini berfokus pada analisis data yang dikumpulkan dari literatur yang relevan. Buku, jurnal, laporan kegiatan, dan situs web yang terkait dengan topik yang disajikan dipilih sebagai sumber data (Rumetna, 2018). Analisis data dilakukan dengan merangkum sumber-sumber yang dikumpulkan. Kesimpulan diambil berdasarkan pengamatan, studi literatur, dan fakta lapangan yang melengkapi data yang ada. Temuan studi dijelaskan secara deskriptif mengenai implementasi kolaborasi internasional yang diterapkan di bidang informasi dan perpustakaan

Discussion

Pengertian Kerjasama Perpustakaan Kerja sama yaitu suatu tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang, seperti lembaga, perusahaan, pemerintah, dan lainnya, untuk mencapai tujuan tertentu (Istiqomah, 2019). Kerjasama dilakukan oleh beberapa pihak yang terdiri dari individu dan kelompok tertentu agar memudahkan aktivitas yang menjadi tujuan bersama serta memudahkan dalam terwujudnya cita-cita kelompok tersebut. Mitra kerja atau kolaborasi perpustakaan mengacu pada semua pihak yang berpartisipasi dalam penyelenggaraan perpustakaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hubungan kolaborasi ini dapat diformalkan melalui pembuatan perjanjian atau jenis pengaturan lainnya. Mitra kerja yang baik dengan kegiatan yang saling melengkapi harus dibentuk agar dapat menjadi aset penting bagi perpustakaan (Mutia, 2017). Kesepakatan yang dibuat antar pihak harus secara tertulis dan jelas mengenai konten kerjasamanya, agar dalam pelaksanaannya tidak ada kekurangan dan saling menguntungkan antara pihak-pihak tersebut. Kolaborasi antar perpustakaan dapat dilakukan dengan menggabungkan banyak perpustakaan dengan bidang topik yang sebanding, yang dapat dibantu dengan perkembangan teknologi komputer dan informasi yang memungkinkan pertukaran informasi dan komunikasi. Beberapa keuntungan dari kolaborasi jaringan antara lain akses yang lebih cepat dan mudah, informasi yang lebih mutakhir, dan kemampuan untuk menggabungkan data dari beberapa sumber. Selain keuntungan tersebut, kolaborasi juga dapat memberikan akses yang lebih besar, meningkatkan layanan teknis, mempromosikan kegiatan di perpustakaan yang beragam, menghilangkan duplikasi bahan pustaka, dan mengembangkan layanan serta pengelolaan perpustakaan yang lebih efisien dan efisien (Syarif, 2020). Kerjasama perpustakaan memiliki tujuan agar mengefektifkan dan mengefisiensikan layanan serta penyebaran informasi untuk pengguna. Keterbatasan yang mulanya dimiliki oleh tiap perpustakaan,dapat ditiadakan dengan adanya kerjasama yang memungkinkan terwujudnya pelayanan dan pengelolaan perpustakaan yang prima. Ada dua jenis kegiatan dalam jaringan kerjasama perpustakaan. Kegiatan pertama yaitu layanan teknologi perpustakaan. Hal ini dapat dilakukan dalam kaitannya dengan kebutuhan untuk memecahkan masalah yang dihadapi oleh perpustakaan dalam prosedur teknologi seperti pembelian, pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan penggunaan bahan pustaka. Kegiatan kedua adalah layanan pengguna, seperti penggunaan bahan pustaka, distribusi informasi, dan lainnya (Suwarno, 2014). Kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam kerjasama antar perpustakaan memiliki dampak positif yang dapat mengembangkan kompetensi dan keahlian pustakawan serta dapat membangun perpustakaan menjadi lebih unggul. Selain itu, pengadaan informasi yang dihadirkan semakin beragam sehingga kebutuhan pengguna yang sangat kompleks dapat terpenuhi Fungsi Kerjasama Perpustakaan Kerjasama perpustakaan dapat mendukung visi dan misi dari perpustakaan tersebut. Adapun fungsi kerjasama perpustakaan, diantaranya (Fatimah, 2021): 1) menjalin komunikasi antar perpustakaan; 2) saling tukar-menukar informasi; 3) peningkatan pemberdayaan koleksi perpustakaan; dan 4) peningkatan pemberdayaan sarana dan prasarana perpustakaan. Perpustakaan menjalin komunikasi dengan perpustakaan lainnya melalui saling bertukar informasi kegiatan pengelolaan perpustakaan dan melayani kebutuhan pengguna. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan dalam mengembangkan perpustakaan. Adanya kerjasama antar perpustakaan memungkinkan untuk melakukan tukar-menukar informasi yang dibutuhkan oleh pengguna. Kegiatan ini akan menguntungkan masing-masing pihak karena informasi yang diberikan sangat dibutuhkan dan pada umumnya tidak perlu mengeluarkan biaya. Pustakawan juga dapat meningkatkan keahliannya melalui kerjasama tersebut, seperti mengadakan seminar atau pelatihan pemberdayaan tenaga perpustakaan. Perpustakaan meningkatan pemberdayaan koleksi perpustakaan melalui perluasan pengadaan koleksi melalui kerjasama pengadaan koleksi antar perpustakaan. Koleksi-koleksi yang diberdayakan juga beragam mulai dari koleksi manual maupun digital disesuaikan dengan kesepakatan kerjasama. Koleksi-koleksi tersebut dapat dihadirkan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Fasilitas-fasilitas yang ada pada perpustakaan penting untuk diberdayakan mengingat sebagai kebutuhan daripada pengguna. Fasilitas yang baik akan membuat pengguna menjadi lebih nyaman saat mencari informasi di perpustakaan. Akan tetapi, dengan adanya beberapa keterbatasan perpustakaan tidak dapat memenuhi semua yang dibutuhkan pengguna. Hal tersebut dapat menjadikan kerjasama perpustakaan sebagai solusi agar dapat memberdayakan sarana dan prasarana perpustakaan yang dibutuhkan. Kerjasama sangat penting untuk mengembangkan perpustakaan di era teknologi informasi yang memungkinkan pertukaran informasi dengan cepat dan mudah. Pelaksanaan kerjasama perlu memperhatikan berbagai prinsip yang telah disepakati karena pencapaian keberhasilan bergantung pada komitmen anggota untuk mencapai tujuan bersama. Bentuk-bentuk Kerjasama Perpustakaan Tugas rumah tangga perpustakaan dapat dikolaborasikan, termasuk perencanaan pengadaan, akuisisi, pertukaran publikasi, pengolahan dokumen, penyimpanan, penelusuran, layanan pengguna, pinjaman antar perpustakaan, pengembangan kapasitas profesional pustakawan, dan sebagainya. Intensitas kerja sama berbeda-beda sesuai dengan apa yang disepakati, namun keuntungan yang diperoleh dari kerja sama tersebut harus diukur secara akurat. Beberapa jenis kerjasama yang paling populer adalah sebagai berikut: (Pangaribuan, 2008): 1) kerjasama pengadaan; 2) pertukaran publikasi; 3) penyusunan dan pengembangan katalog induk; 4) kerjasama pelayanan teknis; 5) kerjasama penyimpanan; 6) kerjasama antar pustakawan; 7) kerjasama pendidikan dan pelatihan; 8) kerjasama pinjam antar perpustakaan; dan 9) kerjasama penyediaan fasilitas. Kerja sama dalam pengadaan banyak dilakukan oleh perpustakaan karena banyak manfaat yang diperoleh, seperti efisiensi anggaran, memudahkan pemilihan dan pemesanan, terutama buku-buku asing, menghindari duplikasi koleksi, dan sebagainya. Kerja sama dapat berupa pemanfaatan dana satu sama lain dengan mengkhususkan diri pada tema-tema yang telah disepakati. Pendekatan lain yaitu dengan mengumpulkan dana dan melakukan pembelian bersama, yang biasanya ditangani sampai kepemilikan dan layanan bersama tercapai. Jenis Kerjasama berupa pertukaran publikasi penting untuk karya-karya di bidang topik yang tidak dibutuhkan di satu perpustakaan namun berharga di perpustakaan lain, sehingga pemanfaatan koleksi dapat dimaksimalkan. UNESCO telah menganjurkan pertukaran ini melalui Konvensi Internasional yang diterbitkan dalam UNESCO Journal of Information Science, Librarianship, and Archives Studies sejak tahun 1958. Jenis Kerjasama penyusunan dan pengembangan katalog induk dibuat sebagai bagian dari kemitraan. Katalog perpustakaan yang berpartisipasi diintegrasikan dalam katalog induk. Tujuannya adalah untuk mengetahui koleksi apa saja yang dimiliki oleh perpustakaan yang berkolaborasi dan di mana koleksi tersebut disimpan atau dapat diakses. Katalog induk ini harus selalu diperbaharui setiap saat karena merupakan alat yang penting bagi perpustakaan yang berpartisipasi dalam memberikan layanan kepada pemustaka. Kerjasama pelayanan teknis meliputi pengatalogan, kategorisasi, dan tajuk subjek. Manfaat dari kolaborasi ini adalah universalitas bentuk katalog, yang akan memungkinkan pembagian data, efisiensi penggunaan sumber daya manusia (pustakawan), dan peningkatan kapasitas kerja pustakawan masing-masing perpustakaan. Kita mengenal pengatalogan terpusat dalam kolaborasi semacam ini, yang hanya diwakili oleh tim kerja tertentu yang ditentukan oleh jaringan. Kita sekarang mengenal adanya Katalog Dalam Terbitan atau Catalogue in Publication sebagai hasil dari kerjasama. Pertimbangan kerjasama penyimpanan adalah dengan bertambahnya koleksi, ruang perpustakaan akan menjadi terbatas, sehingga mendorong beberapa perpustakaan untuk menyewa fasilitas penyimpanan bersama. Salah satu yang paling umum adalah koleksi standar. Cara ini lebih efisien dan lebih murah daripada membangun struktur baru. Kerja sama antar sumber daya manusia dalam profesi yang sama (pustakawan) sangat penting, terutama untuk berbagi informasi yang bermanfaat bagi pustakawan. Kerja sama tim umumnya dilakukan melalui berbagai kegiatan akademis, studi banding, dan cara-cara lainnya. Kolaborasi ini berlangsung baik di tingkat nasional (Ikatan Pustakawan Indonesia), regional (The Congress of Southeast Asian Librarians), serta internasional (The International Federation of Library Associations and Institutions). Jenis kerjasama pendidikan dan pelatihan sangat bermanfaat untuk menyeimbangkan pengetahuan dan keterampilan kinerja pustakawan peserta. Koordinator jaringan atau komite yang dipilih secara khusus biasanya bertanggung jawab untuk menyelenggarakan pelatihan ini. Selain pertemuan formal, jaringan ini juga menerbitkan jurnal atau buletin yang dikirimkan kepada anggota jaringan. Kerjasama pinjam antar perpustakaan merupakan bentuk kolaborasi antar perpustakaan yang selama bertahun-tahun telah diimplementasikan di masyarakat. Jenis kolaborasi ini dapat diklasifikasikan sebagai kolaborasi lokal, regional, nasional atau internasional. Sesuai dengan perjanjian perpustakaan yang ada, Kerjasama pinjam antar perpustakaan dapat berupa bahan pustaka, sarana dan prasarana, serta informasi lain baik dalam bentuk manual maupun digital. Implementasi kerjasama penyediaan fasilitas berupa pembentukan komite kolaboirator. Ketika kita pergi mengunjungi perpustakaan yang berbeda, kita tidak lagi hanya sebagai pengunjung. Mungkin petugas akan memberikan identitas seperti kartu tanda anggota perpustakaan atau jenis identitas lainnya. Untuk mengatasi masalah ini, sejumlah proyek kolaboratif sedang dilakukan, dengan tujuan untuk memberikan layanan kepada semua peserta dalam semua fase pekerjaan mereka. Bentuk-bentuk kerjasama di atas berlaku sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat oleh masing-masing perpustakaan yang telah bekerjasama. Bentuk-bentuk kerjasama yang dilakukan dianggap penting dan dapat menguntungkan bagi pihak-pihak yang melakukan kerjasama. Hal ini dikarenakan perpustakaan sebagai lembaga tidak bisa berdiri sendiri dan harus saling berkolaborasi dengan lembaga perpustakaan lainnya agar dapat mewujudkan visi dan misi perpustakaan itu sendiri. Faktor Pendorong Kerjasama Perpustakaan Kerjasama perpustakaan memiliki banyak manfaat yang dapat memberikan kemudahan dalam pengelolaan dan pelayanan pada perpustakaan tersebut. Berdasarkan hal tersebut kerjasama perpustakaan dianggap penting untuk dilakukan dan berikut ini alasan-alasan yang mendorong kerjasama perpustakaan antara lain (Puspitasari et al., 2015): (1) Peningkatan jumlah buku yang diterbitkan setiap tahun; (2) Peningkatan variasi media; (3) Tuntutan pengguna yang semakin canggih. (4) Kebutuhan pengguna yang sangat kompleks; (5) Keinginan masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan setiap saat dan di semua tempat; dan (6) Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi (TIK), serta (7) Pelestarian sumber daya perpustakaan. Selanjutnya ada beberapa faktor yang mendorong perpustakaan untuk saling bekerjasama yaitu (Puspitasari et al., 2015): (1) Adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan, dan sebagai akibatnya, semakin banyak buku-buku tentang pengetahuan tersebut yang dibuat; (2) Perkembangan kegiatan pendidikan, mendorong permintaan pengguna yang semakin beragam yang membutuhkan lebih banyak informasi setiap hari; (3) Kemajuan teknologi dan pengaruhnya yang berbeda terhadap bisnis dan perdagangan, serta kebutuhan para eksekutif dan personil untuk mempelajari keterampilan dan prosedur baru; (4) Meluasnya prospek kolaborasi secara internasional; (5) Kemajuan teknologi informasi, khususnya di bidang komputer dan telekomunikasi; (6) Adanya kebutuhan publik akan layanan informasi yang sama; dan (7) Kolaborasi memungkinkan adanya penghematan biaya, fasilitas, sumber daya manusia, dan waktu. Faktor-faktor pendorong dilakukannya kerjasama antar perpustakaan di atas menjadi alasan bagi banyak perpustakaan untuk bekerjasama dalam mewujudkan perpustakaan yang unggul dan dapat memenuhi kebutuhan informasi bagi pengguna. Selain itu, perpustakaan tidak akan berkembang jika berdiri sendiri tanpa adanya kolaborasi dengan perpustakaan lain. Kolaborasi perpustakaan menjadi penting agar pengelolaan dan pelayanan yang dihadirkan perpustakaan menjadi lebih efektif dan efisien. Hambatan-hambatan dalam Kerjasama Perpustakaan Dalam pelaksanaannya kerjasama perpustakaan juga memiliki hambatan-hambatan yang sering terjadi, diantaranya (Winoto, 2018): 1) faktor kelembagaan; 2) faktor hukum, politik dan administratif; 3) faktor teknologi; 4) faktor fisik; 5) faktor manusia; dan 6) faktor pengetahuan. Masalah yang muncul dalam hambatan faktor kelembagaan adalah operasi kolaboratif meliputi ukuran dan kedudukan lembaga, serta sejarahnya. Persaingan kelembagaan, peraturan akses, masalah keuangan, metode pengolahan perpustakaan, dan ketidakmampuan untuk memenuhi persyaratan lokal merupakan beberapa di antaranya. Masalah kelembagaan lainnya adalah kemungkinan hilangnya otonomi lembaga. Perbedaan kebijakan dan kepentingan tiap perpustakaan merupakan masalah yang timbul terkait dengan faktor hukum, politik dan administratif. Kesulitan politik dan hukum umumnya dapat diminimalisir pada tingkat kerjasama lokal dan nasional. Namun demikian, jika kerjasama perpustakaan internasional melintasi batas-batas yurisdiksi dan administratif, masalah politik dan hukum dapat muncul. Kerjasama internasional mungkin memerlukan pengembangan kekuatan kerjasama yang mengizinkan penggunaan keuangan dari dua negara atau lebih untuk tujuan bersama. Hambatan teknologi meliputi keterbatasan kapasitas fisik untuk menyimpan koleksi memberikan tekanan pada pembangunan koleksi kolaboratif. Kemajuan teknologi memberikan kemungkinan untuk menyimpan konten teks lengkap dalam jumlah yang sangat besar dalam ruang yang kecil. Namun demikian, biaya jangka panjang dari teknologi merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan, karena banyak teknologi baru yang mahal, dan banyak pula yang membutuhkan biaya tambahan jika ingin mengaksesnya. Kerugian lain dari penggunaan teknologi adalah tidak semua tugas memerlukan teknologi yang sama untuk diselesaikan. Hambatan dalam faktor fisik meliputi kurangnya fasilitas dan ruang penyimpanan juga sulit untuk diatasi. Selain masalah fisik ini, hambatan fisik lainnya adalah kekurangan personil. Jika perpustakaan kekurangan staf, waktu tunggu atau waktu layanan akan lebih lama dalam kolaborasi antar perpustakaan, yang pada akhirnya mendorong orang luar untuk memanfaatkan perpustakaan. Hambatan terkait faktor manusia adalah faktor terpenting dalam pengembangan koleksi kolaboratif. Dengan mengatasi faktor ego atau memenuhi kebutuhan, upaya kolaboratif harus mengatasi berbagai masalah psikologis. Penolakan pasif, keengganan dan sikap tak acuh, dapat menjadi masalah serius dalam kerjasama; Faktor pengetahuan merupakan hambatan yang sering terjadi dalam Kerjasama perpustakaan. Peningkatan pemahaman pengguna dapat menyebabkan peningkatan gesekan dalam kolektifisasi kolaboratif. Jika seorang pustakawan memiliki pemahaman yang kurang tentang produk, organisasi tidak memiliki wewenang untuk menjelaskan bagaimana kolaborasi dapat meningkatkan produk. Hambatan-hambatan di atas bisa saja terjadi mengingat kerjasama yang dilakukan terdiri dari banyak orang dengan berbagai latar belakang serta dengan permasalahan dan kepentingan yang kompleks, yang keseluruhan tersebut harus disatukan dalam kesepakatan kerjasama demi mencapai tujuan bersama pula. Hambatan yang terjadi dalam kerjasama juga dapat membuat perpustakaan menjadi lebih selektif dalam melakukan tindakan serta menjadi lebih evaluatif dalam perencanaan kedepannya. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Kerjasama Perpustakaan Prinsip kolaborasi adalah salah satu hal yang paling penting untuk diingat ketika mengerjakan sebuah proyek. Prinsip adalah kebenaran atau ukuran yang digunakan untuk berpikir dan bertindak dalam melakukan kerjasama. Prinsip-prinsip yang harus diikuti ketika bekerja sama antara lain (Chahya, 2018): (1) Kolaborasi yang baik antar anggota diperlukan berdasarkan rasa saling membutuhkan dan saling membantu; (2) Umumnya, kerja sama didasarkan pada kesamaan, seperti kesamaan lokasi, subjek informasi, sifat pengguna, dan sebagainya; (3) Kerjasama berfokus pada peningkatan kualitas daripada jumlah sumber daya akses informasi; dan (4) Kerja sama tidak hanya mencakup sumber informasi tetapi juga orang, fasilitas, teknologi, dan sebagainya. Selanjutnya, dalam melakukan kolaborasi, masing-masing pihak yang berkolaborasi harus mempertimbangkan berbagai faktor agar kerja sama yang dilakukan dapat berjalan dengan baik dan bermanfaat bagi semua pihak yang terlibat, antara lain (Winoto, 2018): (1) Kesadaran, kesediaan, dan kewajiban untuk membuat dan menerima permintaan, serta mengikuti peraturan, cara, dan biaya yang telah disepakati bersama, yang dituangkan dalam bentuk perjanjian tertulis maupun lisan; (2) Memiliki koleksi perpustakaan yang tertata dengan baik dan siap pakai; (3) Memiliki katalog perpustakaan; (4) Memiliki penanggung jawab dan petugas yang dapat membimbing pengguna dalam menggunakan perpustakaan secara bersama-sama; (5) Memiliki tata tertib/tata tertib perpustakaan, dan (6) Memiliki mesin fotokopi dan alat reproduksi serta telekomunikasi lainnya. Masih pada persiapan dalam melakukan kerjasama, sangat penting untuk memperhatikan berbagai aspek saat menuangkan perjanjian, baik tertulis maupun lisan, seperti (Winoto, 2018): (1) Alasan dan tujuan kerja sama; (2) Ruang lingkup kerja sama; (3) Siapa saja yang terlibat; (4) Kapan kerja sama dimulai dan berakhir; (5) Hubungan antar anggota yang ikut serta dalam kerja sama; (6) Pembagian pekerjaan agar tidak terjadi duplikasi; (7) Prosedur kerja dan peralatan apa saja yang diperlukan; (8) Pembiayaan, dan (9) Penggunaan teknologi yang canggih. Hal-hal di atas penting untuk diperhatikan dalam melakukan kolaborasi antar perpustakaan agar tujuan dan cita-cita bersama dapat terwujud. Prinsip-prinsip dilakukannya kolaborasi juga penting untuk diperhatikan karena merupakan landasan utama dalam melakukan kolaborasi. Kolaborasi diharapkan dapat mengefektifkan dan mengefisiensikan seluruh kegiatan dalam perpustakaan serta dapat memenuhi kebutuhan informasi pengguna yang sangat kompleks. Perpustakaan dan Kolaborasi Internasional Pada dasarnya tujuan kolaborasi atau kerjasama antar perpustakaan secara internasional sama dengan kolaborasi antar perpustakaan yang dilakukan dalam lingkup nasional. Hanya saja, skala kolaborasi tersebut lebih luas dan tentunya menghadirkan lebih banyak pengetahuan serta teknologi informasi yang lebih baik dan up to date. Kolaborasi perpustakaan secara internasional diharapkan dapat meningkatkan kinerja pelayanan dan pengelolaan pada perpustakaan serta memberikan kebutuhan informasi untuk pengguna secara luas dengan berbagai pengetahuan dari seluruh dunia. “International library collaborations of any size are gratifying and helpful. They enable libraries and library workers to acquire new practices and abilities, to see our profession through fresh eyes, and to present their users with a rich chance for global participation in a local setting. Many challenges must be addressed in launching an international partnership, including cultural differences, language barriers, and limited funding. However, these challenges may, in fact, ulti-mately serve as mechanisms for crosscultural learning and expertise sharing. Therefore, whether your library is small or large, we encourage you to seek productive exchanges across national borders (Mattson & Hickok, 2018).” Berdasarkan penjelasan di atas kolaborasi atau kemitraan perpustakaan internasional, terlepas dari skalanya, sangat bermanfaat. Kolaborasi memungkinkan perpustakaan dan mereka yang bekerja di perpustakaan untuk mempelajari praktik inovatif dan keterampilan baru, untuk melihat profesi kepustakawanan melalui lensa baru, dan untuk menyediakan pengguna dengan kesempatan yang kaya untuk keterlibatan global dalam konteks lokal. Banyak tantangan yang harus dihadapi dan dibahas dalam meluncurkan kemitraan internasional, termasuk perbedaan budaya, hambatan bahasa, dan keterbatasan dana. Namun, tantangan ini pada akhirnya berfungsi sebagai mekanisme untuk pembelajaran lintas budaya dan berbagi keahlian. Seiring berjalannya waktu berkembang pula organisasi internasional yang menaungi anggotanya dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi diantaranya yaitu: 1). IFLA (The International Federation of Library Associations and Institutions). Federasi Asosiasi Perpustakaan Internasional yang merupakan organisasi konsumen terkemuka di dunia untuk layanan perpustakaan dan informasi. Federasi ini didirikan pada tahun 1927 dalam sebuah pertemuan internasional di Edinburgh, Skotlandia. Saat ini, IFLA memiliki lebih dari 1600 anggota dari lebih dari 150 negara, termasuk Indonesia. Federasi ini rutin menyelenggarakan konferensi di tempat yang baru setiap tahunnya pada bulan Agustus atau September. Ribuan delegasi telah berkumpul untuk mendapatkan pendidikan, melihat barang-barang baru dari bisnis informasi, bertukar informasi, dan belajar tentang budaya mereka sendiri. (Puspitasari et al., 2015); 2). COCI (Cooperation in Culture and Information). COCI merupakan wadah kerja sama dalam bidang kebudayaan dan informasi (Cooperation in Culture and Information) adalah jenis kerja sama di ASEAN, dan salah satu prakarsanya adalah Pertukaran Pustakawan ASEAN, yang diluncurkan pada tahun 1988 di Malaysia dengan tujuan untuk mengedukasi para anggota ASEAN tentang pentingnya kerja sama penelitian dan pengembangan. Tujuan Program Pertukaran Pustakawan ASEAN adalah untuk meningkatkan kerja sama di antara negara-negara anggota ASEAN. Seminar, diskusi panel, pendaftaran di sekolah, dan acara sosial adalah beberapa kegiatan yang direncanakan (Puspitasari et al., 2015); 3). CONSAL (The Congress of Southeast Asian Librarians) CONSAL didirikan pada tahun 1970 di Singapura sebagai bentuk identitas Asia Tenggara, dan dibantu oleh berdirinya Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN). Anggota CONSAL meliputi perpustakaan, organisasi perpustakaan, dan asosiasi pustakawan dari Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam. CONSAL menyelenggarakan konferensi di setiap negara anggota setiap tiga tahun sekali. Kerja sama dilakukan dalam bidang kepustakawanan, perpustakaan, dokumentasi, dan kegiatan terkait lainnya (Puspitasari et al., 2015). Dengan adanya organisasi-organisasi yang mewadahi bidang ilmu perpustakaan dan informasi secara internasional, maka kolaborasi antar perpustakaan dianggap penting agar peningkatan pelayanan dan pengelolaan perpustakaan dapat menyesuaikan dengan perkembangan zaman secara global. Salah satu kolaborasi antar perpustakaan secara internasional yang penting untuk dilakukan yaitu antara perpustakaan akademik di seluruh dunia. Kolaborasi secara internasional yang dilakukan oleh perpustakaan akademik diharapkan dapat memberikan seluruh sivitas akademik informasi yang dibutuhkan dalam berbagai bidang pengetahuan secara luas dengan kemudahan akses yang efektif dan efisien. “The academic library is being internationalized primarily through collaborative efforts to create an open symposium for facilitating exploration and exchange within an academic community, a meta-library ecosystem for powerful collaborative capacity, and a knowledge trust for providing long-term, barrier-free access to all research inquiry (Smith, 2015).” Internasionalisasi perpustakaan akademik berlangsung sebagian besar melalui upaya kolaboratif dilakukan untuk membuat simposium terbuka untuk memfasilitasi eksplorasi dan pertukaran informasi dalam akademisi' komunitas, kolaborasi internasional diibaratkan sebagai suatu ekosistem yang memiliki kapasistas, pengetahuan dan manfaat dalam memenuhi kebutuhan informasi. “The acceleration of collaborative digitization efforts such as the Digital Library of the Caribbean (dLOC) demonstrates the globalization of academic libraries. This co-op gives users access to Caribbean cultural, historical, and scholarly materials housed in archives, libraries, and private collections. dLOC brings together 38 partners from educational, academic, governmental, and non-governmental organizations to facilitate efficient access to electronic resources on the Caribbean (Smith, 2015).” Internasionalisasi perpustakaan akademik juga terlihat pada percepatan proyek digitalisasi kerjasama seperti Digital Library of the Caribbean (dLOC). Lembaga ini memberi pengguna akses ke materi budaya, sejarah, dan penelitian Karibia yang disimpan di arsip, perpustakaan, dan koleksi pribadi. Melalui dLOC 38 mitra dari 'lembaga pendidikan, penelitian, pemerintah dan non-pemerintah yang selaras untuk tujuan memfasilitasi akses yang efisien ke koleksi elektronik tentang Karibia. Dalam pelaksanaannya, kolaborasi perpustakaan secara internasional pada perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia telah diterapkan diantaranya yaitu American Corner, French Corner, Indian Corner, Japan Corner, Australian Corner, dan sebagainya. Selain itu contoh perpustakaan perguruan tinggi yang melakukan kolaborasi secara global yaitu Libraries of Leiden University. Libraries of Leiden University merupakan perpustakaan akademik yang berpusat di kota Leiden, Belanda. Libraries of Leiden University memiliki banyak cabang perpustakaan di negara lain termasuk salah satunya adalah Indonesia tepatnya di Jakarta yaitu KITLV-Jakarta. Libraries of Leiden University menerapkan kolaborasi secara internasional agar dapat menghimpun dan menyebarluaskan informasi dari berbagai negara dalam bentuk manual juga digital. Hal tersebut memberikan kesempatan bagi seluruh masyarakat secara global untuk dapat mengakses dan menggunakan informasi dari Libraries of Leiden University sesuai dengan kebutuhan. Hal tersebut mengefektifkan dan mengefisienkan aktivitas dalam pencarian informasi sehingga informasi dapat diakses kapan saja dan di mana saja.

Conclusion

Dengan adanya perkembangan teknologi dan informasi, perpustakaan dapat melakukan kolaborasi baik dalam lingkup nasional maupun internasional. Pada dasarnya tujuan kolaborasi antar perpustakaan secara internasional sama dengan kolaborasi antar perpustakaan yang dilakukan dalam lingkup nasional. Hanya saja, skala kolaborasi tersebut lebih luas dan tentunya menghadirkan lebih banyak pengetahuan serta teknologi informasi yang lebih baik dan up to date. Kolaborasi perpustakaan secara internasional diharapkan dapat meningkatkan kinerja pelayanan dan pengelolaan pada perpustakaan serta memberikan kebutuhan informasi untuk pengguna secara luas dengan berbagai pengetahuan dari seluruh dunia. Organisasi yang mewadahi perpustakaan secara internasional diantaranya yaitu IFLA, COCI dan CONSAL. Contoh realisasi kolaborasi perpustakaan akademik secara internasional yaitu adanya American Corner, French Corner, Indian Corner, Japan Corner, Australian Corner dan sebagainya. Selain itu contoh perpustakaan perguruan tinggi yang melakukan kolaborasi secara global yaitu Libraries of Leiden University. Libraries of Leiden University merupakan perpustakaan akademik yang berpusat di kota Leiden, Belanda. Libraries of Leiden University memiliki banyak cabang perpustakaan di negara lain termasuk salah satunya di Indonesia tepatnya di Jakarta yaitu KITLV-Jakarta. Libraries of Leiden University menerapkan kolaborasi secara internasional agar dapat menghimpun dan menyebarluaskan informasi dari berbagai negara dalam bentuk manual juga digital. Hal tersebut memberikan kesempatan bagi seluruh masyarakat secara global untuk dapat mengakses dan menggunakan informasi dari Libraries of Leiden University sesuai dengan kebutuhan. Hal tersebut mengefektifkan dan mengefisienkan aktivitas dalam pencarian informasi sehingga informasi dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Diharapkan untuk penelitian selanjutnya dapat meneliti mengenai kolaborasi internasional di perpustakaan dengan meneliti dalam bidang yang melibatkan teknologi informasi di era revolusi industri 4.0 seperti adanya perkembangan AI (Artificial Intelligent) dan IoT (Internet of Things). Dengan adanya riset selanjutnya mengenai implementasi kolaborasi internasional di perpustakaan dengan memanfaatkan AI dan IoT, maka dapat memberikan gambaran akan kemudahan dan ketepatan dalam akses informasi kapan saja dan di mana saja dengan efektif dan efisien yang diimplementasikan secara global di seluruh dunia. Saran untuk bidang keilmuan ini, terutama di negara Indonesia, agar dapat mengikuti perkembangan teknologi informasi agar pada penerapannya dapat memudahkan dan relevan dengan kebutuhan pengguna. Teknologi juga dihadirkan agar siapa saja dan di mana saja di seluruh dunia, dapat mengakses informasi tanpa hambatan serta seluruh kegiatan di dalam perpustakaan dan informasi menjadi lebih efektif dan efisien.