Kembali
16
1
2023 Jurnal Gema Pustakawan Vol 11 · 2 ISSN 2829-4920

Ketersediaan Koleksi Perpustakaan dalam Mendukung Kurikulum Merdeka Belajar Pada Bidang Penjaskesrek di Universitas Riau

Universitas Riau; Universitas Riau; Universitas Riau; Universitas Riau

Abstrak

Perpustakaan perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam mendukung proses pembelajaran mahasiswa melalui penyediaan bahan bacaan berkualitas tinggi yang sesuai dengan kurikulum. Intinya, tugas utama perpustakaan adalah mengembangkan koleksi yang kuat demi kepentingan para pemustaka. Evaluasi merupakan salah satu cara untuk mengetahui kesesuaian koleksi dengan kurikulum. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi ketersediaan koleksi dalam memenuhi kebutuhan bahan rujukan yang sesuai dengan Rencana Pembelajaran Semester (RPS) matakuliah utama di Prodi Penjaskesrek FKIP Universitas Riau, semester 1 hingga semester 6. Penelitian ini, menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menghitung persentase ketersediaan koleksi yang sesuai dengan metode cheklist untuk mengukur dan menganalisis ketersediaan koleksi bahan ajar, dengan melakukan pengecekan dan pencocokan pada database koleksi perpustakaan serta bahan ajar utama yang terdapat didalam RPS mata kuliah Prodi Penjaskesrek. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 25 matakuliah terdapat 121 judul koleksi yang tercantum di dalam RPS, dan hasil checklist yang dilakukan pada database Perpustakaan Universitas Riau hanya tersedia 15 judul buku atau sebesar 12%. Simpulan penelitian ini dapat dinyatakan, ketersediaan koleksi perpustakaan Prodi Penjaskesrek FKIP Universitas Riau belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan bahan rujukan sesuai dengan RPS, dengan hanya 12% judul buku yang sesuai dari total 121 judul yang tercantum. Perlu perhatian lebih lanjut dan peningkatan koleksi untuk mendukung keberhasilan pembelajaran mahasiswa dalam mencapai tujuan kurikulum.

Abstract

College libraries have a crucial role in supporting the student learning process by providing high-quality reading materials that are in accordance with the curriculum. In essence, the library's main task is to develop a strong collection for the benefit of its users. Evaluation is one way to determine the suitability of a collection with the curriculum. The aim of this research is to evaluate the availability of collections to meet the need for reference materials in accordance with the Semester Program Plan (RPS) for the main courses in the Penjaskesrek Study Program FKIP Riau University, semester 1 to semester 6. This research uses a quantitative approach to calculate the percentage of availability of appropriate collections using the checklist method to measure and analyze the availability of teaching material collections, by checking and matching the library collection database as well as the main teaching materials contained in the RPS for Physical Education Study Program courses. The research results showed that of the 25 courses there were 121 collection titles listed in the RPS, and the results of the checklist carried out on the Riau University Library database were only available for 15 book titles or 12%. The conclusion of this research can be stated, the availability of the library collection of the Penjaskesrek Study Program FKIP Riau University does not fully meet the need for reference materials in accordance with the RPS, with only 12% of the appropriate book titles out of a total of 121 titles listed. Further attention and increased collections are needed to support the success of student learning in achieving curriculum goals.
Keywords: ketersediaan koleksi · perpustakaan · RPS · kurikulum · penjaskesrek

Introduction

Perpustakaan perguruan tinggi saat ini sangat penting untuk membantu siswa belajar membaca. Oleh karena itu, bahan bacaan yang diberikan harus berkualitas tinggi dan sesuai dengan kurikulum. Perpustakaan pada dasarnya bertanggung jawab untuk menyediakan koleksi yang kuat bagi penggunanya (Yulia, dalam Ulyah, 2017). Salah satu komponen perpustakaan yang paling penting adalah ketersediaan koleksinya. Ini sesuai dengan gagasan bahwa perpustakaan berfungsi sebagai pusat informasi, pendidikan, pembelajaran, penelitian, dan pengembangan ilmu pengetahuan untuk mendukung pencapaian tujuan lembaga induknya, yaitu melaksanakan kegiatan pembelajaran yang berdasarkan rencana pembelajaran semester (RPS). Perpustakaan perguruan tinggi bertanggung jawab untuk menyediakan koleksi yang mendukung untuk memenuhi kebutuhan informasi untuk mendukung RPS. Perpustakaan Universitas Riau sebagai unit penunjang akademis memiliki tupoksi untuk menunjang kelancaran kegiatan akademis dari bidang ketersediaan informasi. Perpustakaan Universitas Riau berupaya untuk meningkatkan kinerjanya, melakukan inovasi yang sesuai kebutuhan, seperti menerapkan layanan konvensional dan dilengkapi dengan layanan digital, melakukan kegiatan berdasarkan standar operasional (SOP) dan lain-lain . Bukti dari pelaksanaan kinerja ini ditandai dengan pengakuan dari badan standardisasi baik nasional berupa Akreditasi A dari Perpusnas maupun internasional melalui sertifikat ISO 9001:2015 bidang library services. Salah satu konsekuensi menjalankan manajemen yang terstandar adalah adanya audit ( penilaian pelaksanaan proses bisnis perpustakaan) baik oleh auditor internal maupun eksternal dari badan penerbit standar yang rutin dilakukan setiap tahun. Hasil temuan audit ekternal ISO 9001:2015 pada tahun 2023 menyatakan bahwa Perpustakaan Universitas Riau perlu melakukan penilaian terhadap ketersediaan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan program studi, hal ini merupakan masukan yang sejalan dengan Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi yang menyatakan bahwa perpustakaan perguruan tinggi harus menyediakan kebutuhan informasi pemustakanya dan lebih rincinya terdapat dalam peraturan Kepala Perpustakaan Nasional (Perka) pasal 2 bagian a tentang standar koleksi perpustakaan yang ketentuannya dijelaskan lebih rinci pada bagian lampiran Perka nomor 3, bagian b yang menjelaskan tentang ketersediaan koleksi yaitu 3 judul buku wajib / mata kuliah dan 6 judul buku pengayaan/mata kuliah. ketersediaan koleksi ini merupakan salah satu komponen penilaian akreditasi. Perpustakaan Universitas Riau selama ini belum pernah melakukan analisis atau evaluasi tentang ketersediaan koleksi yang disesuaikan dengan kebutuhan mata kuliah pemustaka. Sehingga penentuan standar pelayanan minimum (SPM) bidang koleksi perpustakaan belum bisa ditetapkan secara pasti. Di samping itu pada saat kunjungan asesor akreditasi prodi Fakultas, ketersediaan koleksi selalu ditanyakan dan itu menjadi permasalahan yang harus diatasi. Meskipun pada pelaksanaannya Perpustakaan Universitas Riau melakukan kegiatan pengadaan koleksi setiap tahunnya dengan menetapkan alokasi dana khusus yang tujuannya untuk meningkatkan jumlah dan mutu koleksi sehingga dapat memenuhi kebutuhan pemustaka. Agar koleksi yang diadakan sesuai dengan kebutuhan pemustaka perpustakaan Universitas Riau sudah meminta usulan pengadaan koleksi dari seluruh Fakultas dan juga sudah difasilitasi usulan dari pemustaka yang dapat disampaikan melalui aplikasi eform pengusulan koleksi yang ada di web perpustakaan, namun sejauh ini pemanfaatannya belum optimal, masih sangat sedikit pemustaka yang menggunakan form tersebut untuk menyampaikan usulan koleksi untuk diadakan. Berdasarkan standar, ketersediaan koleksi, idealnya perpustakaan perguruan tinggi menyediakan 80 % bahan bacaan wajib mata kuliah yang ditawarkan perguruan tinggi (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2004). Namun apakah koleksi perpustakaan Universitas Riau yang ada sekarang sudah memenuhi standar tersebut?. Menjawab pertanyaan tersebut di rancanglah penelitian dengan cara studi kasus yang bertujuan untuk membuat row model untuk pelaksanaan kegiatan evaluasi menyeluruh dan Program studi terpilih adalah Program studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi (Penjaskesrek) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan Universitas Riau. Pada survei awal penelitian ini ditemukan beberapa indikasi yang terkait pemanfaatan perpustakaan, berdasarkan laporan statistik kunjungan perpustakaan pada tahun 2022, tingkat kunjungan dan peminjaman koleksi dari mahasiswa prodi penjaskesrek adalah yang terendah dari seluruh prodi yang ada di FKIP. Dari hasis wawancara dengan mahasiswa diperoleh pembenaran bahwa dari 7 mahasiswa yang diwawancarai 5 orang menyatakan belum pernah keperpustakaan, 2 orang sudah pernah berkunjung namun belum pernah meminjam koleksi, dan mereka juga mengatakan kalau koleksi penjaskesrek sangat kurang tersedia. Sedangkan disisi lain terkait program studi, Penjaskesrek merupakan salah satu prodi yang memiliki minat yang besar dari calon mahasiswanya, berdasarkan keterangan dari Kepala program studi diperoleh informasi bahwa peminat prodi ini selalu mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, disamping itu prodi ini merupakan salah satu prodi yang dapat menghasilkan profit yaitu dari penyewaan fasilitas olahraga dan juga tim ahli seperti wasit yang sering jasanya dipergunakan pihak luar untuk kegiatan event olahraga yang tentunya ini menjadi lahan pemasukan bagi Universitas Riau umumnya yang nantinya dapat menopang anggaran pemasukan jika suatu saat Universitas Riau sudah menjadi Perguruan Tinggi Berbadan Hukum (PTN BH) yang sekarang sedang dalam tahap mempersiapkan diri untuk mencapainya. Untuk mendukung program tersebut dari unit pepustakaan berkewajiban untuk menyediakan bahan bacaan yang sesuai dengan kebutuhan pemustaka agar nantinya dapat meningkatkan mutu lulusannya, maka perpustakaan melakukan upaya yang salah satunya dengan meningkatkan mutu standar koleksi perpustakaannya. Untuk menilai mutu koleksi perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan prodi Penjaskesrek maka dilakukanlah penelitian ini bertajuk “Ketersediaan Koleksi Perpustakaan dalam Mendukung Kurikulum Merdeka Belajar Pada Bidang Penjaskesrek di Universitas Riau”. Tinjauan Pustaka Perpustakaan Perguruan Tinggi Perpustakaan perguruan tinggi sering disebut sebagai jantung perguruan tinggi (the heart of university). Karena itu, harus ada untuk menyediakan akses dan materi perpustakaan serta memenuhi kebutuhan siswa (Perpustakaan Nasional, 2015). Selain itu, perpustakaan perguruan tinggi sering disebut sebagai "perpustakaan penelitian" atau "perpustakaan penelitian" karena tujuan utamanya adalah menyediakan sarana penelitian. Penelitian adalah salah satu kegiatan utama di perguruan tinggi. Koleksinya, sebagai perpustakaan penelitian, harus sesuai dengan fakultas, jurusan, program, dan mata kuliah yang ada. Ini harus mencakup buku, majalah, jurnal ilmiah, dan bahan pustaka lainnya. Perpustakaan di universitas atau perguruan tinggi ada di masing-masing fakultas atau jurusan. Namun, ada juga yang terpusat, yang disebut Unit Pelaksana Teknis Perpustakaan (Sutarno, 2006). Di perpustakaan mahasiswa dapat belajar secara mandiri. Ketersediaan perpustakaan dan berbagai sumber informasi yang ada di dalamnya membuat mutu pendidikan dapat diupayakan ke arah yang lebih baik (Hasan, T., 2021). Berdasarkan keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 0103/O/1981, Perpustakaan Perguruan Tinggi ditugaskan untuk melaksanakan tiga dharma perguruan tinggi: (1) Melakukan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan pendidikan yang ditetapkan dalam kurikulum perguruan tinggi; (2) Melakukan penelitian untuk siswa dan guru perguruan tinggi; dan 3. Mengabdikan diri kepada Masyarakat (Lasa, 2017). Menurut Sutarno (2006), tugas utama perpustakaan adalah menghimpun, menyediakan, mengolah, memelihara, mendayagunakan, dan melayani masyarakat yang membutuhkan informasi dan bahan bacaan. Selain itu, menurut Buku Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi, tanggung jawab perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk mengembangkan koleksi, mengolah, dan merawat bahan perpustakaan, menyediakan layanan, dan menjalankan administrasi perpustakaan (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2004). Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Perpustakaan Perguruan Tinggi memainkan peran penting dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran di perguruan tinggi. Oleh karena itu, kualitas dan standar perpustakaan sangat penting untuk memastikan bahwa tugas dan fungsi tersebut dilakukan dengan paling efektif, terutama dalam hal penyediaan koleksi. Ketersediaan Koleksi Perpustakaan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), istilah "ketersediaan" berasal dari kata "sedia", yang berarti "siap untuk". Kesiapan suatu sarana (tenaga, barang, modal, atau anggaran) untuk digunakan dan digunakan dalam jangka waktu tertentu disebut ketersediaan koleksi. Karena koleksi memiliki informasi yang dibutuhkan pemustaka, perpustakaan harus memastikan bahwa koleksinya tersedia untuk memenuhi kebutuhan pemustaka. Perpustakaan memiliki banyak koleksi, tetapi jika mereka tidak digunakan, manfaatnya akan sia-sia (Basuki dalam (Fitriana, 2016)). Namun, ketersediaan koleksi perpustakaan, menurut Sutarno (2006), didefinisikan sebagai adanya koleksi atau bahan pustaka yang dimiliki oleh suatu perpustakaan, jumlah koleksi tersebut cukup, dan koleksi tersebut tersedia untuk diakses oleh pengguna (Sutarno, dalam (Ulyah, 2017)). Ketersediaan koleksi sering dikaitkan dengan bahan ajar dimana bahan ajar menurut Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi (2004), bahan ajar berfungsi untuk memenuhi tujuan kurikulum. Bahan ajar untuk setiap mata kuliah dapat mencakup lebih dari satu judul karena cakupan materinya yang berbeda, sehingga materi yang diwajibkan untuk mata kuliah tertentu dapat melengkapi materi yang dianjurkan untuk mata kuliah lain. Dosen menentukan jumlah judul bahan ajar untuk tiap mata kuliah, sedangkan contohnya bergantung pada tujuan dan program pengembangan perpustakaan setiap perguruan tinggi. Selain itu, menurut Departemen Pendidikan Nasional RI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (2004), perpustakaan bertanggung jawab untuk menyediakan 80% dari bahan ajar mata kuliah di perguruan tinggi untuk membantu proses pembelajaran dan pemenuhan kurikulum. Sementara itu, Peraturan Kepala Perpustakaan Nasional menetapkan persyaratan ketersediaan koleksi perpustakaan untuk setiap mata kuliah, yaitu tiga buku wajib dan enam buku pengayaan (Perpustakaan Nasional, 2015). Berdasarkan uraian di atas, ketersediaan koleksi berarti bahwa koleksi pustaka perpustakaan tersedia dan dapat diakses oleh pengguna kapan pun mereka membutuhkannya. Oleh karena itu, perpustakaan harus menyediakan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna sehingga mereka dapat menemukan informasi yang mereka butuhkan. Kegiatan pengadaan dan pengembangan koleksi perpustakaan dapat dilakukan untuk memastikan bahwa koleksinya tersedia. Pengembangan dan Pengadaan Koleksi Perpustakaan Koleksi sebagai sumber informasi harus menjadi program utama untuk dikembangkan. Dengan demikian, pengembangan koleksi merupakan tugas yang sangat penting bagi sebuah perpustakaan (Enitia, Winoto, dan Kusnandar dalam Uliyah, 2017) Proses penambahan koleksi perpustakaan untuk membantu pendidikan, penelitian, rekreasi, dan kebutuhan pembaca disebut pengembangan koleksi. Proses ini mencakup pemilihan dan penyiangan bahan pustaka, baik yang terbaru maupun yang lama. Selain itu, prosesnya harus menggunakan strategi logis untuk pengadaan dan evaluasi koleksi yang berkelanjutan untuk menentukan seberapa baik mereka memenuhi kebutuhan pemustaka (Purnomo, 2010). Namun, Ulyah (2017) mengatakan bahwa koleksi adalah proses memastikan bahwa perpustakaan dapat memenuhi kebutuhan informasi kliennya dengan cepat dan hemat biaya dengan menggunakan sumber daya informasi yang dibuat di dalam dan di luar organisasi. Menurut Sulistiyo-Basuki (1993), pengadaan koleksi perpustakaan dapat dilakukan melalui setidaknya empat cara: pembelian; pertukaran (tukar-menukar); hadiah; dan keanggotaan organisasi. Untuk perpustakaan yang sudah berjalan, pengadaan bertujuan untuk menambah dan melengkapi koleksi yang sudah ada, tetapi untuk perpustakaan yang baru dibentuk atau didirikan, pekerjaan yang perlu dilakukan adalah menentukan standar koleksi perpustakaan dan membuat koleksi awal. Selama pengadaan, pustakawan harus meminta saran dari siswa atau guru baik secara langsung maupun melalui kotak saran. Selain itu, pustakawan harus mempertimbangkan kurikulum saat ini, kemampuan bahasa, bakat, dan kebutuhan yang berubah seiring perkembangan zaman saat membeli koleksi (Ulyah, 2017). Kesesuaian Koleksi Menurut Purnomo (2006), kesesuaian koleksi adalah ketika dokumen yang dikumpulkan dapat memenuhi kebutuhan informasi. Namun, menurut Fitriana (2016), kesesuaian koleksi adalah suatu transaksi temu balik yang berhasil jika dokumen yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan pengguna yang memintanya. Kesuksesan temuan informasi dari koleksi perpustakaan dapat dinilai berdasarkan kesesuaian. Berdasarkan penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa kesesuaian koleksi adalah koleksi yang ada di perpustakaan yang sesuai dengan mata kuliah yang tercantum dalam RPS perkuliahan pemustaka dan sesuai dengan kebutuhan informasi pemustaka, sehingga meningkatkan kualitas pendidikan. Untuk memastikan bahwa koleksi perpustakaan memenuhi kebutuhan, diperlukan kegiatan evaluasi koleksi. Evaluasi Koleksi Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, evaluasi dimaksudkan untuk mengevaluasi efektivitas dan manfaat koleksi untuk memenuhi kebutuhan akademik pemustaka dan program perguruan tinggi. Evaluasi harus dilakukan secara rutin untuk memastikan bahwa koleksi sesuai dengan perubahan dan perkembangan program perguruan tinggi (Wahyuni & Rahmah, 2012). Kegiatan evaluasi koleksi mengumpulkan informasi tentang berbagai elemen, seperti jumlah kopian yang tersedia untuk setiap judul dalam topik tertentu, format bahan pustaka yang tersedia, usia dan kondisi bahan pustaka, luas dan kedalaman koleksi, bahasa yang digunakan untuk sumber informasi yang tersedia, dan informasi tentang bahan yang digunakan dan yang tidak digunakan. Literatur Amerika menggunakan istilah "evaluasi" lebih sering daripada literatur Inggris. Tidak diragukan lagi bahwa semua layanan perpustakaan harus dievaluasi; namun, koleksi memerlukan evaluasi yang lebih menyeluruh karena membutuhkan sumber daya finansial yang besar (Amin, dalam Maryam, 2015. Agar evaluasi dapat dilakukan dengan baik, kegiatan harus dilakukan dengan cara yang baku dan sesuai standar. Checklist/list checking sebagai metode evaluasi koleksi Evaluasi koleksi terdiri dari dua kategori: yang berorientasi pada koleksi (collection-based) dan yang berorientasi pada pengguna (use-and-use-based). Metode yang berorientasi pada koleksi menggunakan lima metode, termasuk standar koleksi, penilaian pakar, perbandingan dengan perpustakaan lain, dan analisis sitasi. Winato, dikutip oleh (Yusuf, 2021). Selanjutnya Menurut Magril and corbin, menjelaskan tentang teknik-teknik pengukuran atau evaluasi koleksi yang dibagi menjadi: Evaluasi berfokus pada koleksi Teknik ini memanfaatkan berbagai daftar (checklist), katalog, bibliografi, dan mencakup juga kegiatan lain seperti pemeriksaan bahan di rak, pengumpulan statistik. Evaluasi bergantung pada daftar (checklist), katalog, dan bibliografi. Prosedurnya adalah sebagai berikut: 1. memilih daftar yang memuat judul-judul yang sesuai dengan bidang subjek yang dikoleksi oleh perpustakaan, sesuai dengan program atau tujuan perpustakaan, dan 2. memeriksa apakah beberapa judul yang ada pada daftar atau katalog tersebut termasuk dalam koleksi perpustakaan. 3. Pertimbangkan koleksi. Karena hingga saat ini belum ada standar untuk perpustakaan tertentu atau semua jenis perpustakaan, presentasi yang tinggi dianggap sebagai tanda bahwa pengembangan koleksi perpustakaan yang sedang diteliti cukup berhasil. Pustakawan dan anggota staf pengajar atau pustakawan dengan konsultan memeriksa bahan pustaka yang ada di rak oleh seorang atau beberapa orang yang menguasai bidang yang akan dievaluasi secara langsung dan mempelajari literatur terkait. Evaluasi menggunakan standar: Proses ini dapat digunakan jika ada standar yang ditetapkan untuk jenis perpustakaan tersebut oleh asosiasi profesional, badan akreditasi, badan pemberi dana, atau badan resmi yang ditunjuk sebagai badan yang bertanggung jawab untuk membangun perpustakaan atau kelompok perpustakaan tertentu. Dalam penelitian ini, checklist/list checking adalah salah satu metode yang dapat digunakan untuk melakukan evaluasi koleksi dengan pendekatan yang berpusat pada koleksi. Checklist adalah metode yang sudah dikenal dan umum digunakan. Untuk melakukan checklist, ketersediaan koleksi perpustakaan dibandingkan dengan kebutuhan koleksi buku pengguna. Untuk melakukan penilaian, daftar standar atau bibliografi digunakan (Nisonger dalam (Ulyah, 2017)). Untuk memastikan pengecekan data koleksi ini sesuai dengan kebutuhan pemustaka maka data koleksi dicocokkan dengan kurikulum perkuliahan yang berlaku. Kurikulum Yunani Kuno adalah tempat istilah "kurikulum" pertama kali digunakan untuk olahraga. Kursus pendidikan berasal dari kata Yunani "curir", yang berarti pelari, dan "curere", yang berarti ditempuh atau berpacu. Curriculum menjelaskan jarak yang harus ditempuh pelari. Kurikulum dalam pendidikan didefinisikan sebagai sejumlah mata pelajaran yang harus dipelajari atau diselesaikan siswa sebelum mereka dapat memperoleh gelar. Program pendidikan harus mencakup empat elemen: (1) organisasi pengetahuan atau mata pelajaran; (2) kegiatan atau pengalaman belajar; (3) program belajar; dan (4) hasil yang diharapkan dari belajar (Kartika, M dalam (Ulyah, 2017)). Sebagaimana dijelaskan dalam Pasal 35 Ayat 1 Panduan Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi, setiap institusi pendidikan menciptakan kurikulum mereka sendiri. Kurikulum tersebut didasarkan pada Standar Nasional Pendidikan Tinggi, yang mencakup pengembangan keterampilan, akhlak mulia, dan kecerdasan intelektual (Direktorat Jendral Pembelajaran dan Kemahasiswaan, 2016). Kurikulum perkuliahan di Universitas Riau saat ini terangkum dalam RPS (Rencana Pembelajaran Semester). Rencana Pembelajaran Semester Menurut Permendikbud No. 49 Tahun 2014, Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dibuat dan dikembangkan oleh dosen secara mandiri atau bersama dalam kelompok keahlian suatu bidang ilmu pengetahuan dan/atau teknologi dalam program studi, dan berfungsi sebagai panduan bagi mahasiswa tentang apa yang akan mereka pelajari selama satu semester. RPS berfungsi sebagai panduan bagi siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran mereka. Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dibuat oleh Ristekdikti sebagai pengganti Satuan Acara Perkuliahan (SAP) yang digunakan pada semester sebelumnya. Hal ini disebabkan fakta bahwa Rencana Pembelajaran Semester (RPS) terdiri dari berbagai dokumen, termasuk Satuan Acara Pengajaran (SAP), Silabus, Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK), dan Rencana Program Pembelajaran (RPP mingguan) (Deepublish, 2022). Standar Pelayanan Minimum Perpustakaan Standar Pelayanan Minimal (SPM) adalah standar yang menetapkan jenis dan kualitas pelayanan dasar minimal yang harus diterima setiap warga oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari pelaksanaan urusan wajibnya. Hal ini juga sudah diatur dalam Permendagri 59 tahun 2021. Atas dasar peraturan tersebut, pendidikan juga wajib memiliki Standar Pelayanan Minimal yang disahkan melalui Permendikbudristek RI nomor 32 tahun 2022 tentang Standar Pelayanan Minimal (SPM) Pendidikan yang mengatur tentang Jenis dan penerima Pelayanan Dasar, Mutu Pelayanan Dasar, pencapaian SPM. Pendidikan dan pelaporan serta evaluasi (Standar Pelayanan Minimum (SPM), 2022). Terkait dengan aturan diatas perpustakaan Universitas Riau juga memiliki Standar Pelayanan Minimum yang disusun oleh TIM manajemen perpustakaan dan merupakan salah satu elemen manajemen yang signifikan sebagai panduan pelaksanaan layanan.

Method

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Jenis penelitian yang memberikan gambaran tentang apa yang diteliti (Creswell, 2009). Metode dokumentasi digunakan dalam mengumpulkan data. Langkah-langkah yang diambil dalam pengumpulan data adalah 1) Melakukan penelusuran database pada laman web https://penjaskes.fkip.unri.ac.id, 2) Mengidentifikasi RPS Prodi Penjakesrek, 3) : Membuat tabel daftar mata kuliah wajib yang diajarkan dengan menggunakan bantuan excel, 4) Daftar bahan ajar yang terdapat pada RPS diperiksa dan dicocokkan dengan pangkalan data perpustakaan (OPAC), 5) Menceklis dengan tanda (√ ) jika bahan ajar tersedia di Perpustakaan, 6) Menceklis dengan tanda (X) jika bahan ajar tidak tersedia di perpustakaan, 7) Menghitung hasil jumlah ketersediaan bahan ajar dalam bentuk persentase. Formula berikut berikut digunakan untuk menganalisis ketersediaan koleksi bahan ajar wajib dalam koleksi perpustakaan yaitu: P=F/N x 100 Keterangan: P= adalah Persentase ketersediaan yang ingin diketahui F= adalah jumlah bahan ajar wajib tersedia N= adalah jumlah bahan ajar wajib yang dibutuhkan Selanjutnya Hasil Presentase yang terdapat dalam tabel penelitian ini akan ditafsirkan menjadi: 0% = tidak ada satupun 1% - 25% = sebagian Kecil 26% - 49% = hampir setengahnya 50% = setengahnya 51% - 75% = sebagian besar 76% - 99% = hampir seluruhnya 100% = seluruhnya (Wasito, 1992). Setelah diketahui persentase ketersediaannya, data akan diinterpretasikan ke dalam Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi yang menyatakan bahwa perpustakaan berkewajiban menyediakan 80% dari bahan ajar mata kuliah yang ditawarkan di perguruan tinggi

Result & Discussion

Penilaian ketersediaan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan perkuliahan pada prodi penjaskesrek dilakukan pada semester 1 (satu ) sampai 6 (enam) sesuai dengan data yang tertera di dalam Rencana Pembelajaran Semester (RPS) prodi penjaskesrek. Temuan koleksi yang benar-benar sama antara judul koleksi yang tertera di RPS dan yang terdapat di databese Perpustakataan Universitas Riau adalah sebagai berikut: Tabel 1 Data Koleksi Bahan Perpustakaan Mata Kuliah Penjaskesrek No Mata Kuliah SMT Nama Buku/ bahan ajar Jumlah Daftar Bahan Ajar OPAC Ada Tidak 1 ANATOMI/ ILMUURAI 1 Indika, Pudia M dan Anggun Permata Sari. 2018. Anatomi Untuk Olahraga.Jakarta :Rajawali Press 10 √ Anderson, Paul D. 1996. Human Anatomy and Physiology. Alih Bahasa yasmin Asih. Jakarta:EGC √ Cambridge Communication Limited.1998. Human Body and Reproductive System. AlihBahasaYasminAsih. Edisi 2. Jakarta :EGC √ Effendi,Dr. Prof.Husjim.1983. Fisiologi Kerjadan Olahraga serta peranantes kerja untuk Diagnosis,Bandung, Alumni √ Pearce, Evelyn C.2007.Anatomi danFisiologi Untuk Paramedis.Jakarta : Gramedia √ Faz, Moffat. 2002. At a Glance Anatomy. Alih Bahasa Rahmelia Annisa. Jakarta : Erlangga √ Gibson, John,2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Perawat. Alih Bahasa Syaifuddin. Jakarta: EGC √ Wilmore JH and Costil DL. 1994. Physiology of Sport and Exercise. USA. Human Kinetics √ Sobotta. 2006. Atlas Anatomi jilid II. Alih bahasa Rahmelia Annisa. Jakarta: EGC √ Saputra L, Dwisang EL. Editor. Anatomi & Fisiologi untuk Perawat dan Paramedis. Jakarta : Bina rupa Aksara Publisher √ 2 T.P Atletik dasar 1 Jarver, Jess , Athletics for Young Beginer, Ed. 1, Basford Academic and Educational Ltd. London, 1982. UK. 5 √ Hopf H, Hillebrecht. M , Muller. H, Thompson, P. ,Technique of Athletics. IAAF Development Dept., Publish. Gotingen,1990. √ Yonath,. Urlich & Muller, Harald, The IAAF Didactic/Methodic Curriculum of Athletics, 1989, Cologne, W.Germany. √ Lange,Gunter, Bermain Atletik, Terjemahan, Laufen und Werfen Neumunster, Hans Katzenbogner, DLV, IAAF RDC Jakarta, 1995. Indonesia. √ Lechmann, Cs, Grundlagen der Leichtathletik, Sprotverlag Berlin, 1977,DLV , Germany. √ 3 Belajar Perkembangan Motorik 3 Cech, D & Martin, S. 2004. Functional Movement Development Across the Life Span. Philadelpia. W.B. Saunders Company 11 √ Hurlock, E. 1995. Perkembangan Anak jilid 1. Jakarta: Erlangga. √ Kiram Y.1992. Belajar Motorik. Jakarta: Dirjen Dikti, Depdikbud. √ Magill, Richard A, 2001. Motor Learning Concepts and Applications. Mc Graw-Hill Int. √ Mutohir, T.C & Gusril. 2004. Perkembangan Motorik pada masa anak-anak. Jakarta: Dirjen Olahraga, Depdiknas. √ Papalia, D, Olds, S.W, & Feldman, R.D. 2001. Human Development.Mc Graw-Hill Int √ Payne, V.G & Isaacs, L.D. 1999. Human Motor Development.A lifespan Approach. California. Mayfield Publishing Company. √ Santrock J.W.2007.Child Development. (Perkembangan Anak. Alih bahasa : Mila dan Anna). Jakarta: Erlangga. √ Sugiyanto.dkk 2005. Dasar-Dasar Belajar Gerak. Dirjen dasar dan Menengah direktorat Tenaga kependidikan. Depdiknas √ Phil Yanuar Kiram. 1991. Belajar Gerak. Dirjen Dikti. Proyek Pembinaan Tenaga Kependidikan . Depdikbud. √ Amung Ma’mum dkk. 1999/2000. Perkembangan Gerak dan Belajar Gerak. Dirjen Dasar dan Menengah . Depdikbud √ 4 Biomekanika Olahraga 5 Carr, Gerry. 1997. Mechanics of Sport, A Practioner’s Guide. Australia. America: Human Kinetics. 6 √ Hall, Susan, J. 1995. Basic Biomechanic. Second Edition, New York. America: The McGraw-Hill Companes, Inc. √ Hay, James G. 1993. The Biomechanics of Sports Techniques. Fourth Edition, New Jersey; Prectice-Hall Inc., A. Simon & Schuster Company. Englewood Cliffs √ Albernety, Bruce, et.al. 1997. The Biophysical Foundations of Human Movement, Australia: Human Kinetics. √ Bartlett, Roger. 1997. Introduction to Sports Biomechanics, London: E & FN: Spon, An Imprint of Chapman & Hall. √ Hidayat, Imam. 1997. Biomekanika, Diktat, FPOK-IKIP Bandung. √ 5 T.P Bola Voli Dasar 1 Griffin, Linda L., Mitchell, Stephen A., Oslin, Judith L. 1997. Teaching Sport Concepts and Skills: A Tactical Games Approach. USA: Human Kinetics. 4 √ FIVB. Coaches Manual. Lausanne: Federation Internationale De Volley-Ball, 1989. √ Frohner, Berthold. Spiele Fur Das Volleyballtraining. Berlin: Sportverlag, 1988. √ Metzler, Michael W., Instructional Models For Physical Education. Massachusetts: Allyn & Bacon, 2000. √ 6 T.P Bola Voli Lanjutan 3 Griffin, Linda L., Mitchell, Stephen A., Oslin, Judith L., Teaching Sport Concepts and Skills: A Tactical Games Approach. USA: Human Kinetics, 1997. 4 √ FIVB. Coaches Manual. Lausanne: Federation Internationale De Volley-Ball, 1989. √ Frohner, Berthold. Spiele Fur Das Volleyballtraining. Berlin: Sportverlag, 1988. √ Metzler, Michael W., Instructional Models For Physical Education. Massachusetts: Allyn & Bacon, 2000. √ 7 Belajar Perkembangan Motorik 4 Plowman SA, Smith DL. Exercise Physiology for Health, Fitness and Performance 3rd ed. 2011. Baltimore : Lippincott William & Wilkins 14 √ Anderson, Paul D. 1996. Human Anatomy and Physiology. AlihBahasayasminAsih. Jakarta:EGC √ Cambridge Communication Limited.1998. Human Body and Reproductive System. AlihBahasaYasminAsih. Edisi 2. Jakarta :EGC √ Effendi,Dr. Prof.Husjim.1983. Fisiologi Kerja dan Olahraga serta peranan tes kerja untuk Diagnosis,Bandung, Alumni √ Wilmore JH and Costil DL. 1994. Physiology of Sport and Exercise. USA. Human Kinetics √ Santosa G, Ilmu Faal Olahraga, FPOK UPI Bandung, 2005 √ Karpovich Peter V & Sining, Physiology of Muscular Activity, W.B. Saunders Company Philadelphia, London, Toronto, 1971. √ Astrand Perolof & Rodahl Kaare, Textbook of Physiology, McGrawhill Koga, Tokyo, 1970 √ Brooks George A & Pahey Thomas, Exercise Physiology, John Willey & Sons New York 1984 √ Penuntun Praktikum Ilmu Faal, FPOK UPI Bandung, 1992 √ Cooper Kenneth H, Aerobics Program for Total Well Being, Bantam Books, New York, 1982 √ Guyton Arthur C, Function of the human body, W.B Saunders Co, Philadelphia, London, 1964 √ Crouch James E & McClintic.J.Robert, Human Anatomy and Physiology, John Willey & Sons, Inc New York, London, Toronto, 1971 √ Pansky Ben, Dinamic anatomy & Physiology, McMillan Publishing Co, Inc, New York, 1975 √ 8 Ilmu Kepelatihan Olahraga 5 Mylsidayu & Kurniawan. 2019. Ilmu Kepelatihan Dasar. Bandung : Alfabeta 2 √ Harsono. 2015. Teori & Metodologi Kepelatihan Olahraga. Bandung : PT Remaja Rosdakarya √ 9 Ilmu Kesehatan Olahraga 5 Giriwijoyo & Sidik. 2017. Ilmu Kesehatan Olahraga (Cetakan Ketiga). Bandung : PT Remaja Rosdakarya 1 √ 10 Literasi Digital 1 E-learning methodologies A guide for designing and developing e-learning courses. Food and Agriculture Organization of the United Nations Rome, 2011 1 √ 11 Manajemen Olahraga 6 Irfandi & Zikrur Rahmat. 2017. Manajemen Penjas dan Olahraga 2 √ Bambang Hermawan. 2017. Buku Ajar Pengelolaan Kelas √ 12 Metodologi Penelitian Pendidikan 5 Fraenkel, Jack R., dan Wallen, Norman E., 1993. 1 √ 13 PENCAK SILAT DASAR 2 Hariyadi, Slamet, S.Koto. 2003. Teknik Dasar Pencak Silat Tanding. Jakarta: Dian Rakyat 9 √ Haryono & Siswantoyo. 2008. Pencak Silat Untuk Usia Dini. FIK UNY √ Iskandar, Atok, dkk. 1986. Pencak Silat. Dirjen Pendidikan Tinggi. P dan K, Jakarta √ Lubis, Johansyah. 2004. Pencak Silat Panduan Praktis. Jakarta : PT.Raja Grafindo Persada √ PB IPSI. 1993. Beladiri Pencak Silat. Jakarta. Bahan Penataran Nasional Tingkat Muda. √ PB. IPSI. 1999. Penjelasan Peraturan Pertandingan Pencak Silat Antar Bangsa. Hasil Keputusan Munas X 1999. Jakarta. √ PERSILAT. 1996. Bahan Penataran Pencak Silat untuk Wasit dan Juri Internasional. PB. IPSI. Jakarta √ Sucipto, 2003. Pembelajaran Pencak Silat (Konsep, Strategi, dan Implementasinya), Depdiknas, Jakarta. √ Tamat, Trisnowati. 1982. Pengajaran Pencak Silat. Miswar, Jakarta. √ 14 Pendidikan Lingkungan & Mitigasi Bencana 1 Achmad, G. & Anisyah. 2004. Pedoman Pembinaan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup di Sekolah. Depdiknas. Jakarta 9 √ Agus Maryono. 2003. Restorasi Sungai. Gajah Mada University Press. Yogyakarta √ Aras Mulyadi. 2005. Hidup Bersama Sungai Kasus Provinsi Riau. UNRI Press. Pekanbaru √ Jatna Supriatna. 2008. Melestarikan Alam Indonesia. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta √ Odum, E.P. 1996. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. Terjemahan Tjahjo Samingan dan Srigandono. Universitas Gajah Mada. Yogyakarta √ Reece Campbell, Mitchel and Taylor. 2003. Biology: Concepts and Connections. Benjamin Cummings √ Setiawan, B.B., Pahmi, D.H. 1980. Pengelolaan Sumberdaya Lingkungan. Gajah Mada University Press. Yogyakarta √ Sumardjo. 2009. Peranan IPTEKS dalam Pengelolaan Pangan, Energi, SDM, dan Lingkungan yang Berkelanjutan. IPB Press. Bogor √ Suwondo, Darmadi Ahmad, dan Mohd. Yunus. 2014. Bioetnomelayu Pendekatan Pengelolaan Sumberdaya Alam Berbasis Pengetahuan Lokal. UNRI Press. Pekanbaru √ 15 Pendidikan Kesehatan Sekolah 5 Kriswanto, E.S. 2012. Konsep, Proses, & Aplikasi Dalam Pendidikan Kesehatan. Yogyakarta : FIK UNY 1 √ 16 Penilaian Pembelajaran Penjasorkes 6 Komarudin. 2016. Penilaian Hasil Belajar. Bandung: PT REMAJA ROSDA KARYA 2 √ Arikunto, Suharsimi. 2007. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. Bumi Aksara √ 17 PRAKTIK PENGAJARAN PENJASORKES 4 Metzler, Michael W. 2005. Instructional Models For Physical Edycation (Second Edition). Scottsdale,Arizona: Holcomb Hathaway 2 √ Sani, Ridwan Abdullah. 2016. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara √ 18 Teori dan Praktek Senam Dasar 2 Keith, Russel. 2010. Coaching Certification Manual, Ontario 5 √ Canadian Gymnastics Federation - Schembri √ Gene. 2012. Introductory Gymnastics, Sydney : Australian Gymnastics Federation √ Young, Jenny. 2015. Gymanastics What’s In It : Paragon Printers Federation √ Men’s Technical Committee. 2006. Code of Points, Moutier : Federation Internationale de Gymnastique √ 19 T.P Sepakbola Dasar 1 Docherty, Tommy, Better Soccer For Boys, COX & Wiman LTD. London. 1973, 94 hlm. FIFA. 1993. Futuro. The FIFA/Coca cola World Football Development Programe. Atlanta 11 √ Ford, Stephen. Woffinden, Collin. 1991. Skill full Soccer. Guinness Publishing Ltd. London √ Glavin, Ronnie. 1988. How To Play Soccer. Guinness Superlatives Ltd. London. √ Gibbon, Allan, Teaching Soccer To Boys, G. Bell & Sond LTD. London, 1973. 121 hlm. Kacani, Ladislav. Horsky, Ladislav. 1986. Football Training. Eurha Sport Amsterdam. Amsterdam. √ Nasution, M. A., Didaktik dan Azas-azas Mengajar, √ Nelson, Exploring sports Series Soccer, IOWA, 1983, 82 hlm. √ PSSI. 1993. Kumpulan Peraturan-peraturan PSSI. PSSI. Jakarta. Spindler, Trevor. Ward, Andrew. 1990. Know About Soccer. AA Publishing London. √ Tindall, Ron. 1983. Soccer Fundamentals. A.H Raw. Rud Pty Ltd. Australia and New Zealand. √ Wade, Allen. 1972. Goal Keepers, Back Defenders, Midfield Players, Strikers. E. P. Publishing Ltd. London √ Widdows, Richard. 1993. Football Techniques and Tactics. Chancellor Press √ Woods, Paula. 1987. Improve Your Soccer Skills. Usbarne Publishing Ltd. London √ 20 SEPAKBOLA II 4 LAW OF THE GAMES. 2020. FIFA. 1 √ 21 Sepak Takraw 1 Soni Nopembri Saryono. 2012. Model Pembelajaran Pendidikan Jasmani (Fokus Pada Pendekatan Taktik) 1 √ 22 Statistik Pendidikan 5 Sudjana. 2005. Metoda Statistik. Bandung. Tarsito. 9 √ Sugiyono, 2008, Statistik Untuk Penelitian, Bandung Alfabeta √ Usman Usaini dkk. 2011. Pengantar Statistik, Jakarta. Bumi Angkasa √ Supardi. 2013. Aplikasi Statistik Dalam Peneltian Konsep Statistik Yang Lebih Komprehensif Jakarta, Change Publication √ Sutrisno Hadi. 2011. pengantar statistic, Yogyakarta: UGM Press √ Anas Sudijono. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada √ Nar Herihyanto . 2007. Statistika Dasar. Jakarta : Universitas Terbuka √ Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif dan R & D √ Abdul Rosak. 2012. Pengantar Statistik, Malang Intimedia √ 23 STRATEGI PEMBELAJARAN PENJASORKES 4 Metzler, Michael W. 2005. Instructional Models For Physical Edycation (Second Edition). Scottsdale,Arizona: Holcomb Hathaway 2 √ Sani, Ridwan Abdullah. 2016. Inovasi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara √ 24 T.P Bola Basket Lanjutan 3 Griffin, Linda L., Mitchell, Stephen A., Oslin, Judith L., 1997. Teaching Sport Concepts and Skills: A Tactical Games Approach. USA: Human Kinetics, 4 √ Haris. 1998. Teknik Dasar Permainan Bola Basket, FPOK-UPI. √ Adolf, Rupp. 1985. Championship Basket Ball, Printed in the United States of Amerika. √ PERBASI, Peraturan Permainan Bola Basket, Direktorat Keolahragaan, Jakarta, 2000 √ 25 TES DAN KONSTRUKSI PENGAJARAN PENJAS 6 Mardapi, Djemari. 2017. Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi Pendidikan (Edisi ke 2). Yogyakarta: Parama Publishing 4 √ Azwar, Saifuddin. 2017. Reliabilitas dan Validitas (Edisi ke 4). Yogyakarta: Pustaka Pelajar √ Widiastuti. 2015. Tes dan Pengukuran Olahraga. Jakarta: Rajawali Press √ Komarudin. (2016). Penilaian Hasil Belajar Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Olahraga. Bandung: Remaja Rosdakarya √ Jumlah 121 15 106 Sumber: Data Olahan, 2023. Tabel 1 merupakan rincian koleksi yang benar-benar sama antara koleksi yang terdapat di RPS dengan koleksi yang tersedia di database perpustakaan. Untuk penilaian ketersediaan koleksi yang benar-benar sama antara koleksi yang tertera di RPS dan koleksi yang ada didatabase maka persentase ketersediaan koleksinya adalah sebesar 12%. Jumlah persentase ini diperoleh dari P = F/N x 100%. Artinya ketersediaan koleksi di database perpustakaan Universitas Riau nilainya sangat kurang masih jauh dari nilai standar yang ditetapkan didalam buku pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi yaitu “Perpustakaan Perguruan Tinggi harus menyediakan 80% koleksi yang sesuai dengan bahan ajar. Begitu juga dengan Standar Pelayan Minimum Universitas Riau pada bidang pengembangan koleksi perpustakaan ditetapkan ketersediaan koleksi perpustakaan dengan nilai perbandingan 3:1, yang artinya pada setiap 1 mata kuliah perpustakaan harus menyediakan 3 judul buku utama untuk mendukung matakuliah tersebut. Jadi idealnya pada 25 matakuliah yang ada di Prodi Penjaskes Perpustakaan Universitas Riau harus menyediakan 75 koleksi utama untuk mendukung mata kuliah yang ada. Berdasarkan paparan tabel 1 terkait dengan ketersediaan koleksi yang benar-benar sama antara yang terdapat di RPS dengan yang tersedia di database terlihat bahwa pada semester satu terdapat 4 koleksi di database perpustakaan yang benar-benar sama dengan koleksi yang ditetapkan di RPS yang totalnya 41 koleksi dengan persentase ketersediaan 10% untuk koleksi semester 1(satu). Semester 2 (dua), judul koleksi yang terdapat di RPS sebanyak 14 dan ternyata tidak ada satu pun koleksi tersedia di database perpustakaan, persentase ketersediaan 0%. Pada semester 3 (tiga), terdapat 1 (satu) koleksi yang benar-benar sama dari 19 koleksi yang terdapat di RPS, dengan persentase ketersediaan 5%. Semester 4 (empat) terdapat 3 koleksi yang benar-benar sama dari 19 total koleksi yang terdapat di RPS, dengan persentase ketersediaan 16%. Semester 5 (lima) terdapat 2 koleksi yang benar-benar sama dari 20 total koleksi yang terdapat di RPS, dengan persentase ketersediaan 10%. Semester 6 terdapat 5 koleksi yang benar-benar sama dari 8 total koleksi yang terdapat di RPS, dengan persentase ketersediaan 63%.

Conclusion

Simpulan Berdasarkan hasil analisis data penelitian tentang ketersediaan koleksi yang sesuai dengan matakuliah utama Prodi Penjaskesrek di database Perpustakaan Universitas Riau dapat disimpulkan bahwa: Koleksi yang tersedia pada bahan ajar mata kuliah utama Prodi Penjaskesrek belum memenuhi standar koleksi Perpustakaan Perguruan Tinggi dan juga belum memenuhi Standar Pelayanan Minimum bidang pengembangan koleksi. Dari hasil penelitian Tingkat ketersediaan koleksi yang sesuai dengan matakuliah prodi Penjaskesrek hanya tersedia 15 judul (12%) dengan kategori ketersediaan “sebagian kecil”. Saran Untuk meningkatkan capaian standar ketersediaan koleksi yang sesuai dengan kebutuhan prodi maka perpustakaan Universitas Riau dan seluruh Perpustakaan Cabang Fakultas harus melakukan evaluasi ketersediaan koleksi / prodi terlebih dahulu, hasil dari evaluasi tersebut baru baru diusulkan koleksi apa yang dibutuhkan yang sesuai dengan RPS perkuliahan. Agar koleksi yang diusulkan untuk diadakan benar-benar sesuai dengan kebutuhan pemustakanya.