Kembali
16
1
2023 Pustakaloka : Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 15 · 1 ISSN 2502-4108

Keterampilan Interpersonal sebagai Modal Kultural dalam Menghadapi Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial

Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Keterampilan interpersonal merupakan salah satu modal wajib yang harus dimiliki pustakawan untuk dapat melaksanakan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, karena dalam konsepnya, inklusi sosial sangat eratkaitannya dengan hubungan perpustakaan terhadap masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mengapa keterampilan interpersonal menjadi modal kultural di dalam program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Penelitian ini menggunakan desain kajian literatur (literature review)yang dilakukan dengan cara mengulas, merangkum, dan menuangkan pemikiran peneliti yang berasal dari beberapa bahan pustaka seperti buku dan jurnal. Hasil dari penelitian ini adalah selama ini perpustakaan mempunyai program dengan ide brilian akan tetapi tidak tercapai dengan baik karena ketidakcakapan pustakawandi dalam mengkomunikasikannya.Maka, keterampilan interpersonal menjadi sangat penting agar Program TPBIS terlaksana sesuai rencana. Berdasarkan praktik modal Pierre Bourdieu terdapat empat modal untuk mencapai tujuan yakni modal ekonomi, modal kultural, modal sosial, dan modal kultural. Keterampilan interpersonal merupakan modal kultural. Dengan satu modal kultural,maka ia secara otomatis dapat menarik tiga modal lainnya karena praktik modal Bourdieu mempunyai butterfly effectyang mampu mengikat tiga modal lainnya.</p>

Abstract

Interpersonal skills are one of the mandatory assets that librarians must have to be able to carry out the Social Inclusion-Based Library Transformation program, because in its concept, social inclusion is closely related to library relations with the community. This study aims to find out why interpersonal skills become cultural capital in the Social Inclusion-Based Library Transformation program. This research uses a literature review design which is carried out by reviewing, summarizing, and pouring the thoughts of researchers from several library materials such as books and journals. The result of this research is that so far the library has a program with a brilliant idea but it is not achieved well because of the librarian's inability to communicate it. Thus, interpersonal skills are very important The TPBIS program is carried out as planned. Based on Pierre Bourdieu's capital practice, there are four capitals to achieve goals, namely economic capital, cultural capital, social capital, and cultural capital. Interpersonal skills are cultural capital. With one cultural capital, he can automatically attract three other capitals because Bourdieu's capital practice has a butterfly effect that can bind the other three capitals.
Keywords: Interpersonal skills · Librarian · Social Inclusion-Based Library Transformation · Cultural Capital

Introduction

Pada awal tahun 2020, masyarakat di Indonesia disibukkan dengan istilah “disrupsi”. Masyarakat mengetahui bahwa mereka akan tertinggal dan tergilas jika tidak mengikuti arus perkembangan zaman. Disrupsi memaksa masyarakat untuk terus berinovasi dan bergerak cepat, menyesuaikan dengan berbagai kebutuhan-kebutuhan manusia yang semakin hari, semakin tidak terbendung. Rhenald Kasali pernah mengatakan bahwa untuk dapat melawan disrupsi, masyarakat harus membekali dirinya dengan “disruptive mindset”, yaitu pola berpikir dengan kedewasaan, untuk terus berkembang dan bergerak dengan cepat, tanpa takut dibatasi oleh ruang dan waktu, serta berusaha untuk dapat melompati segala batasan dengan potensi yang dimiliki1. Perpustakaan sebagai lembaga yang dikenal humanis terhadap masyarakat, harus mempunyai “disruptive mindset” agar dapat terus berkembang, tanpa takut dengan berbagai keterbatasan. Sebenarnya, memang tidak dapat dipungkiri bahwa, jika berbicara tentang perpustakaan, pasti akan berbicara tentang keterbatasan. Keterbatasan sumber daya manusia, ruangan, dan juga anggaran. Namun, keterbatasan-keterbatasan tersebut, tidak harus dijadikan penghalang di dalam mencapai tugas mulia perpustakaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang sesuai dengan bunyi alinea keempat UUD 1945. Perpustakaan mempunyai sumber daya manusia, yaitu pustakawan yang merupakan seseorang yang mempunyai kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan pelatihan kepustakawanan, serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk mengelola perpustakaan2. Pustakawan, dapat membawa perpustakaan ke arah yang lebih terencana. Pustakawan yang dibekali dengan berbagai keterampilan, akan dapat menghasilkan perpustakaan yang lebih menyesuaikan dengan perkembangan zaman. Perpustakaan dihadapkan dengan kebutuhan dan keperluan masyarakat yang semakin hari semakin kompleks sehingga masyarakat memerlukan perpustakaan yang bukan hanya sekedar tempat menyimpan buku. Akan tetapi lebih dari itu, masyarakat membutuhkan perpustakaan sebagai ruang untuk mengembangkan potensi dan dapat menjadi pusat berkegiatan. Oleh karena itu, perpustakaan wajib mengubah sampulnya, dari hanya sebatas gedung yang berfungsi untuk menyimpan buku, menjadi sebuah ruang di mana terciptanya kreativitas dan inovasi yang diejawantahkan ke dalam bentuk nyata, yakni produk yang siap pakai dan bersaing di kancah global sehingga dampaknya akan langsung terasa. Sejalan dengan permasalahan tersebut, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (PNRI) mempunyai program serupa, yang disebut dengan program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial (TPBIS). Adanya fenomena mengenai program TPBIS tersebut, kemudian mempunyai sasaran utama di lingkup perpustakaan umum. Menurut Griffis dan Johnson, perpustakaan umum merupakan ruang komunitas yang berperan vital karena memungkinkan pengguna untuk mengakses informasi beragam. Perpustakaan umum juga dinilai memiliki keragaman dari segi pemustaka jika dibandingkan jenis perpustakaan lainnya3. Inklusi sosial berarti membangun masyarakat agar terbuka terhadap orang lain, meningkatkan partisipasi dalam masyarakat, terutama bagi mereka yang berpotensi terpinggirkan, melalui peningkatan peluang, akses terhadap sumber daya, dan penghormatan terhadap mereka4. Program TPBIS bertujuan untuk mengajak seluruh lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang sosial, ekonomi, agama, dan suku untuk dapat terlibat di dalam proses pembelajaran sepanjang hayat yang mana tujuan akhirnya ialah terciptanya peningkatan kualitas hidup masyarakat pengguna perpustakaan5 Program TPBIS ditujukan agar masyarakat kembali berbudaya. Kembali berbudaya yang dimaksud adalah di mana seluruh masyarakat kembali beraktivitas secara bersama-sama tanpa takut terhalangi oleh jarak, status sosial, ekonomi, politik, dan budaya yang sebelumnya kerap terjadi gesekan-gesekan di antara kelompok masyarakat. Program TPBIS merupakan bentuk perhatian perpustakaan terhadap pembangunan Indonesia di masa yang akan datang, dan salah satu bentuknya adalah memberikan layanan inklusif agar melahirkan masyarakat yang disebut sebagai “literacy society” atau masyarakat literat. Pemahaman tentang masyarakat literat di kehidupan dewasa ini tidak lagi hanya sebatas pengentasan terhadap buta huruf, akan tetapi lebih dari itu, kemampuan mengidentifikasi, menginterpretasi, dan memahami perangkat perangkat yang di dalamnya mencakup kemampuan berpikir logis dan analitis, sehingga dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan wawasan. Diharapkan, dengan kemampuan tersebut, masyarakat yang literat mampu mentransformasikan informasi-informasi yang diperolehnya ke dalam bentuk kegiatan-kegiatan yang produktif, sehingga dapat memberikan manfaat yang tidak hanya secara pengetahuan, tetapi juga ekonomi dan kesejahteraan6. Inklusi sosial yang berkualitas perlu dibangun melalui interaksi sosial tatap muka yang bermakna, serta hubungan interpersonal yang lebih personal antar anggota masyarakat. Kepercayaan, dukungan dan keterlibatan masyarakat merupakan elemen kunci dalam membangun masyarakat yang sehat dan berkelanjutan7. Program TPBIS harus didukung dengan peng-upgrade-an skill oleh pustakawan, agar dapat terlaksana dengan baik dan terencana. Salah satu yang harus di-upgrade adalah keterampilan interpersonal. Keterampilan interpersonal sendiri dapat diartikan sebagai keterampilan yang dimiliki oleh seseorang untuk mengenal dan merespon aspek perasaan, sikap, serta perilaku secara layak dengan tujuan utamanya adalah menjalin hubungan dengan orang lain. Salah satu bentuk dari keterampilan interpersonal adalah komunikasi. Seseorang yang mempunyai keterampilan interpersonal yang baik biasanya mempunyai seperangkat kemampuan untuk mengkomunikasikan segala sesuatu dengan jelas dan efektif8. Project Management Body of Knowledge (PMBOK) juga menyebutkan bahwa keterampilan interpersonal merupakan soft skill, yang mana mencakupi keahlian seperti keterampilan berkomunikasi, kecerdasan emosional, resolusi konflik, negosiasi, kemampuan mempengaruhi, kemampuan membangun tim, dan memfasilitasi kelompok. Lebih lanjut, keterampilan interpersonal merujuk kepada kemampuan untuk membangun dan memelihara hubungan dengan orang lain9. Keterampilan interpersonal merupakan salah satu modal wajib yang harus dimiliki pustakawan agar dapat melaksanakan program TPBIS dengan baik, karena dalam konsepnya program ini sangat erat kaitannya dengan hubungan masyarakat. Untuk itu pustakawan selaku pelaksana dari kegiatan perpustakaan harus mempunyai keterampilan interpersonal. Kemampuan berkomunikasi pustakawan sangat diperlukan dalam hal promosi dan persuasi program TPBIS ini supaya masyarakat dapat memahaminya dengan jelas. Sesuai dengan pemikiran Pierre Bourdieu tentang praktik modal yang mencakup modal ekonomi, modal kultural, modal sosial, dan modal simbolik10, keterampilan interpersonal merupakan modal kultural yang harus dimiliki oleh seorang pustakawan jika ingin bersaing di suatu arena/ranah. Modal kultural meliputi berbagai keterampilan dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan dan kebutuhan di dalam suatu arena. Dalam kaitannya dengan lingkup masyarakat, modal kultural seperti keterampilan interpersonal sangat amatlah penting, karena dengan keterampilan tersebut pustakawan dapat menggunakannya untuk mempengaruhi masyarakat agar dapat memahami program TPBIS, dengan menjadikan perpustakaan sebagai pusat berkegiatan, yang dapat mengembangkan potensi. Pustakawan memiliki peran penting dalam meningkatkan fungsi perpustakaan sebagai alat pemberdayaan masyarakat. Salah satu kegiatan tersebut dapat melalui pembentukan hubungan kolaboratif dan kemitraan dengan masyarakat untuk mengembangkan program-program akademik yang bermanfaat11. Untuk mendukung pencapaian hal tersebut, perpustakaan umum dapat dimanfaatkan masyarakat sebagai ruang kegiatan untuk menciptakan sesuatu yang baik atau sebagai ruang pembuat12. Hal ini juga dapat dilakukan dengan mengadakan acara perpustakaan umum yang bekerjasama dengan komunitas lain atau dengan melibatkan partisipasi masyarakat untuk melakukan kegiatan di perpustakaan. Pemberdayaan berbasis literasi ini juga dilakukan dengan konsep inklusi sosial, mengingat perpustakaan umum terbuka untuk seluruh lapisan masyarakat. Tidak ada perbedaan dalam mengakses perpustakaan umum ditinjau dari ras, agama, suku, kondisi fisik, serta status sosial dan ekonomi13. Pustakawan harus membangun keterampilan interpersonal yang bagus agar dapat membuat masyarakat merasa mempunyai hubungan yang lebih dekat dengan perpustakaan, sehingga program TPBIS dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai peran penting yang akan diberikan perpustakaan. Berkaitan dengan hal tersebut, Prasetyawan dan Suharso menyatakan bahwa untuk dapat menjadikan perpustakaan sebagai ruang inklusif, pustakawan mempunyai peran penting sebagai rekan fasilitator, bukan pengajar14. Dengan demikian, di kemudian hari masyarakat akan beranggapan bahwa perpustakaan adalah tempat yang baik untuk menampung siapa pun karena mereka percaya bahwa keberadaan perpustakaan memiliki manfaat, sehingga akan timbul keyakinan masyarakat bahwa perpustakaan adalah tempat bagi semua orang, tidak ada seorang pun yang dikecualikan15. Keterampilan interpersonal merupakan kekuatan sosial, yang mengeratkan sekaligus dapat membangun warna baru bagi perpustakaan di mata masyarakat, sehingga pandangan masyarakat terhadap perpustakaan akan lebih tampak berbeda dari yang sebelumnya. Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan peneliti di dalam melakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui mengapa keterampilan interpersonal menjadi modal kultural di dalam program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi sebuah pengayaan dan referensi sebagai sumber informasi yang berkelanjutan.

Method

Metode yang dipakai pada penelitian ini adalah kajian pustaka (literature review) yang dilakukan dengan cara mengulas, merangkum, dan menuangkan pemikiran peneliti yang berasal dari beberapa bahan pustaka seperti buku dan jurnal. Dengan demikian, peneliti akan secara kritis menganalisis bahan-bahan pustaka yang berkaitan dengan topik yang diteliti sebelumnya 16 . Peneliti melakukan analisis terhadap literatur pada topik yang dikaji ini, dengan menggunakan sepuluh jurnal dan tiga buku yang sudah dipilih sesuai dengan tingkat kerelevanannya. Peneliti mengambil sepuluh jurnal dan tiga buku mengenai keterampilan interpersonal dan transformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial dari database jurnal. Sepuluh jurnal dan tiga buku yang dianalisis oleh peneliti merupakan jurnal dan buku terbaru dengan minimal sepuluh tahun terakhir yang artinya peneliti sangat mengedepankan kebaruan/novelty dalam penelitian

Result & Discussion

Dalam artikel ini, peneliti memberikan analisis bahwa keterampilan interpersonal merupakan modal kultural yang sebagaimana disebutkan oleh Pierre Bourdieu di dalam teori praktik modalnya. Teori praktik modal Bourdieu berusaha mengungkap latar belakang, dari tercapainya suatu tujuan, dan dalam hal ini, peneliti memberikan penjelasan mengapa program TPBIS akan tercapai jika praktik modal berupa keterampilan interpersonal dapat dikuasai oleh pustakawan. Keterampilan Interpersonal sebagai Modal Kultural Berdasarkan analisis yang telah dilakukan terhadap sepuluh artikel yang telah dikumpulkan. peneliti mendapati bahwa sepuluh artikel tersebut menyebutkan bahwa keterampilan interpersonal merupakan soft skill yang meliputi kemampuan untuk berkomunikasi, mendengarkan, memahami, berempati, bernegosiasi, dan resolusi konflik17. Pada teori praktik modal Pierre Bourdieu, ia mengelompokkan beberapa modal yang dapat digunakan untuk dapat bertarung di suatu arena18. Dalam hal ini, arena yang dimaksud adalah perpustakaan. Perpustakaan harus menjadi suatu arena yang dimenangkan oleh pustakawan agar ia dapat mengelola dan mengatur perpustakaan dengan baik dan sesuai dengan rencana yang diinginkan. Pierre Bourdieu membagi modal tersebut menjadi empat: 1) modal ekonomi, 2) modal kultural, 3) modal sosial, 4) modal simbolik. Gambar 2. Praktik Modal Pierre Bourdieu19 Pada empat modal yang dikemukakan Bourdieu, terdapat sebuah cakupan yang menjadi pokok dari modal-modal tersebut, di antaranya: 1. modal ekonomi yang meliputi penghasilan/pendapatan, tabungan, kekayaan intelektual, dan aset bisnis yang nyata 2. modal kultural yang meliputi watak pribadi, produk kultural, skill, dan pendidikan 3. modal sosial meliputi keanggotaan dalam masyarakat, jaringan, hubungan, dan aliansi 4. modal simbolik meliputi penghargaan, trofi, ijazah, publikasi, reputasi, dan martabat Berdasarkan uraian di atas, keterampilan interpersonal berada dalam cakupan modal kultural. Artinya, dalam teori praktik modal Bourdieu, keterampilan interpersonal dapat menjadi modal pertama yang nanti akan disusul dengan modal-modal lainnya untuk mempengaruhi masyarakat agar datang ke perpustakaan. Masyarakat yang awalnya tidak tertarik datang ke perpustakaan akan menjadi terpengaruh oleh pustakawan yang mempunyai keterampilan interpersonal karena ia mampu mengkomunikasikan dan mengajak masyarakat ke perpustakaan dan akan dilibatkan untuk memanfaatkan seluruh fasilitas perpustakaan untuk berkegiatan. Selain itu, keterampilan interpersonal yang dimiliki oleh pustakawan juga dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi kepala perpustakaan dan pemangku kebijakan lainnya untuk dapat mengeluarkan modal ekonomi. Modal ekonomi disebutkan sebagai modal terpenting karena modal ekonomi mampu menggerakkan dan melaksanakan beragam kegiatan dengan anggaran yang cukup. Selanjutnya dengan modal kultural berupa keterampilan interpersonal, maka pustakawan juga dapat memperoleh modal-modal lain, seperti modal sosial yang didapatkan karena pustakawan mampu berkomunikasi dengan baik. Komunikasi adalah kekuatan sosial yang dapat mengeratkan antar orang. Selain itu, dengan modal kultural, pustakawan juga dapat menyampaikan bahwa perpustakaan sudah mempunyai peraturan khusus, yakni Peraturan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Nomor 3 Tahun 2023 Tentang Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial, yang mana dengan peraturan tersebut akan membuat semua struktur yang terlibat akan menjalankan program dengan baik. Peraturan tersebut disebut sebagai modal simbolik. Jadi, dengan satu modal keterampilan interpersonal, maka pustakawan dapat melakukan semacam butterfly effect, yaitu menarik modal modal lain untuk dapat menjadikan program TPBIS ini berjalan sesuai rencana. Keterampilan Interpersonal dan Program Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Keterampilan interpersonal merupakan sebuah keterampilan yang mengedepankan aspek komunikasi di dalam penerapannya. Komunikasi dan interaksi selalu dilakukan setiap hari, karena hubungan dengan orang-orang tidak dapat terhindarkan. Di samping itu, keterampilan interpersonal juga terdapat sebuah pos yang disebut dengan kesadaran diri, yang di dalamnya juga meliputi rasa peka terhadap orang lain20. Peka yang dimaksud adalah peka bahwa setiap orang tumbuh dalam kondisi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut meliputi latar belakang sosial-ekonomi, ras, dan agama. Oleh karena itu, keterampilan interpersonal sangat dibutuhkan di dalam melihat berbagai perbedaan yang ada, dikarenakan pesan-pesan yang ada di masyarakat terkadang tidak tersampaikan, hanya karena mereka tidak mempunyai sebuah ikatan, yang memungkinkan mereka merasa nyaman untuk sekedar berterus terang, berbicara mengenai permasalahan hidup, takut karena telah terkena stigmatisasi, dan akhirnya mereka merasa malu dan tidak percaya diri. Melihat itu, pustakawan yang merupakan bagian dari perpustakaan harus peka terhadap situasi yang semakin hari, kondisinya serba tidak memungkinkan. Pustakawan yang setiap harinya selalu berhubungan dengan masyarakat harus mengembangkan keterampilan interpersonalnya karena dengan itu kemampuan berkomunikasi, menafsirkan emosi orang lain, sensitivitas, dan kemampuan di dalam mengelola konflik akan meningkat21 sehingga dari sana tujuan utama dari perpustakaan, yakni mengajak masyarakat untuk melaksanakan pembelajaran sepanjang hayat dapat tercapai dengan baik. Perpustakaan sebagai ruang ketiga (ruang menyetarakan), harus sadar bahwa masyarakat memerlukan sebuah ruang yang tidak hanya menjadi sebuah wadah untuk belajar dan meneliti, tetapi juga harus menjadi wahana yang ramah untuk segala kegiatan masyarakat. Lebih lanjut, Silver mengungkapkan pendapatnya, bahwa pemberdayaan terhadap masyarakat dapat mendorong interaksi sosial antar masyarakat dalam membuka akses partisipasi dalam segala bidang kehidupan sosial22. Perpustakaan Membuat Sebuah Transformasi Transformasi berupa inovasi dapat mengubah layar depan perpustakaan. Perpustakaan yang semula hanya sebatas ruangan yang difungsikan untuk menyimpan buku dan hanya diperuntukkan untuk kegiatan yang erat dengan pembelajaran, akhirnya menjadi wadah yang ramah masyarakat. Transformasi tersebut bernama perpustakaan berbasis inklusi sosial. Sebuah program yang sebenarnya sudah lama melekat dengan PerpuSeru, namun kini ide-ide itu dilanjutkan oleh program Inklusi sosial. PerpuSeru merupakan sebuah program yang didukung oleh Bill dan Melinda Gates, melalui Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI), yang menjadikan perpustakaan sebagai objeknya. Tujuannya adalah untuk membuat perpustakaan sebagai pusat pembelajaran, sekaligus pusat berkegiatan masyarakat, yang akhirnya akan berdampak pada peningkatan kualitas hidup masyarakat23. Empowerment towards them can later encourage social interaction between communities in opening access to participation in all areas of social life (Silver, 2015). Program tersebut akhirnya menjadi titik awal dari terbentuknya program TPBIS. TPBIS adalah sebuah wacana kebijakan, yang berupa upaya dalam mendorong inklusi sosial untuk melawan eksklusi sosial. Eksklusi sosial dapat dipahami sebagai bentuk pengecualian terhadap suatu individu, di mana individu tersebut tidak dapat berpartisipasi secara penuh dalam hidup yang berkenaan dengan ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Partisipasi dapat terhambat ketika seseorang kekurangan sumber daya material, energi, pendapatan, pekerjaan, tanah, dan perumahan, atau layanan seperti pendidikan24. Akhirnya dari eksklusi tersebut, program inklusi sosial berharap agar semua individu di masyarakat dapat mengerti bahwa perpustakaan hadir untuk mengajak mereka sama-sama berpartisipasi dan menggunakan perpustakaan sebagai ruang untuk berkegiatan, sekaligus mengembangkan potensi, yang nantinya akan berpengaruh dan memberikan dampak yang positif bagi keberlangsungan hidup. Keterampilan Interpersonal Memastikan Masyarakat Terhubung Dengan Transformasi Perpustakaan Berbasis Inklusi Sosial Keterampilan interpersonal erat kaitannya dengan masyarakat. Masyarakat sendiri dapat didefinisikan sebagai suatu kumpulan individu-individu/orang orang yang hidup berdampingan dan bersama di suatu wilayah. Masyarakat dalam bahasa inggris disebut dengan “society”, yang artinya lebih dekat kepada rasa kebersamaan, perubahan sosial, dan interaksi sosial25. Interaksi sosial dapat dilakukan dengan cara berkomunikasi yang baik dan dilakukan secara terus menerus. Keterampilan interpersonal yang dimiliki oleh pustakawan dapat memastikan masyarakat tertarik untuk datang ke perpustakaan. Sesuai dengan tujuannya, keterampilan interpersonal mempunyai tujuan untuk membuat lawan bicaranya mengikuti keinginanya, dan tentu saja dilakukan dengan cara persuasi dan negosiasi. Persuasi tentunya dilakukan dengan cara yang terbaik agar masyarakat dapat tertarik untuk mengunjungi perpustakaan berbasis inklusi sosial seperti menghargai setiap individu karena dengan dihargai, maka setiap individu yang diajak akan merasa nyaman dan tidak terganggu. Setelah itu, berikan perhatian yang cukup dengan menunjukkan ekspresi dan simpati yang sesuai dengan situasi. Lalu, menjadi pendengar yang baik, karena di dalam persuasi pasti akan mendapatkan banyak pertanyaan yang tidak bisa ditebak sehingga harus didengarkan dan ditanggapi dengan baik dan bijak. Selanjutnya, jangan sungkan untuk melemparkan senyum dan humor, karena dengan melakukan hal tersebut akan membuat keadaan lebih cair26. Masyarakat tidak membutuhkan pustakawan yang hanya duduk diam dan pasif seperti yang tergambar jelas dalam representasinya di televisi. Masyarakat membutuhkan pustakawan yang proaktif dan ber-distruptive mindset dengan memainkan perannya sebagai pelaksana tugas perpustakaan dengan baik. Pustakawan harus melampaui batas ekspektasi masyarakat mengenai perpustakaan. Maka dari itu, keterampilan pustakawan di dalam berkomunikasi diperlukan. Selama ini, ada banyak sekali program-program dengan ide-ide brilian yang sebenarnya mampu mengubah ekspektasi masyarakat terhadap perpustakaan, akan tetapi karena ketidakcakapan komunikasi akhirnya membuat perpustakaan seakan-akan tidak menarik. Hal yang seperti itulah seharusnya menjadi sebuah pembenahan bagi pustakawan. Pustakawan sudah seharusnya mempunyai kemampuan berkomunikasi yang baik karena puluhan bahkan ratusan masyarakat siap berkomunikasi setiap harinya. Maka dari itu, pustakawan sudah semestinya mempunyai rumusnya sendiri di dalam berkomunikasi. Rumus paling terkenal dalam berkomunikasi adalah: C= Q X P X R Communication= Question x Praise x Reaction 1. Question (pertanyaan), merupakan bentuk ketertarikan pustakawan terhadap lawan bicaranya yang dalam hal ini adalah pemustaka. pustakawan menanyakan kesukaan dan minatnya agar dapat menyesuaikan dengan kegiatan yang direncanakan, sehingga kegiatan yang diadakan pun akan cocok dengan pemustaka 2. Praise (Pujian), memuji dan mendukung merupakan tindakan yang luar biasa yang dapat dilakukan oleh pustakawan kepada pemustaka agar bersemangat dan termotivasi. 3. Reaction (reaksi), dengarkan dan tanggapi dengan rasa penuh antusias saat pemustaka yang bertanya mengenai program TPBIS27. Menerapkan rumus komunikasi dapat membuat keterampilan interpersonal terasah dengan baik dan lancar. Komunikasi tidak akan terwujud jika tidak ada ketertarikan dari lawan bicara. Dengan keterampilan interpersonal akan dapat memberikan dampak yang signifikan terhadap program TPBIS, termasuk juga dalam hal ini memberikan motivasi yang mana akan menghasilkan kinerja yang utuh dan kerja sama yang apik sehingga menciptakan efektivitas yang lebih baik dari sebelumnya28. Pustakawan dapat berkomunikasi langsung dengan masyarakat, mendengarkan keluh kesah bereka, dan berempati atas segala problem-problem yang dialami. Selanjutnya, pustakawan dapat langsung menawarkan program, dengan cara memberikan sebuah gambaran-gambaran yang tentunya menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan dekat dengan masyarakat. Di samping itu, yang terpenting adalah bagaimana agar pesan yang ingin disampaikan mampu dicerna dengan baik oleh masyarakat dan terhindar dari kesalahpahaman. Pustakawan juga dapat melihat kondisi dengan memperhatikan komunikasi non-verbal mereka, yang meliputi bagaimana masyarakat berantusias yang ditunjukkan dengan rasa keingintahuan dan bersemangat, serta ditunjukkan dengan bahasa tubuh yang membuat diri merasa yakin bahwa mereka mempunyai tekad kuat untuk tetap bertahan dengan potensi-potensi yang mereka miliki. Lalu, jika masyarakat sudah tertarik, pustakawan dapat menyelenggarakan sebuah kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan potensinya, seperti seminar wirausaha, demo masak, membuat kerajinan kerajinan, dan tentu saja menjadikan perpustakaan sebagai tempat atau menjadi fasilitas dari berbagai kegiatan tersebut

Conclusion

Selama ini sebenarnya perpustakaan sudah mempunyai program-program dengan ide-ide brilian, akan tetapi karena ketidakcakapan pustakawan di dalam mengkomunikasikannya dengan masyarakat akhirnya membuat program tersebut tidak menarik dan tidak tercapai sebagaimana mestinya. TPBIS merupakan program terbaru dari perpustakaan yang harusnya menjadi luar biasa dan terencana dengan baik. Oleh karena itu berdasarkan teori praktik modal Pierre Bourdieu terdapat empat modal di dalam mencapai suatu tujuan di dalam arena yaitu modal ekonomi, modal kultural, modal sosial, dan modal simbolik. Kemampuan berkomunikasi atau keterampilan interpersonal sendiri masuk ke dalam modal kultural yang artinya keterampilan interpersonal pustakawan akan dapat menentukan keberhasilan program TPBIS. Praktik modal Bourdieu mempunyai butterfly effect yang artinya satu modal dapat menarik dan mengikat modal lainnya. Keterampilan interpersonal pustakawan dapat dimanfaatkan untuk mempengaruhi kepala perpustakaan atau pemangku kebijakan untuk mengeluarkan modal ekonomi. Selain itu, dengan keterampilan interpersonal juga secara spontan akan menarik modal sosial karena selalu berhubungan dengan setiap orang yang terlibat, tidak terkecuali modal simbolik yang akan turut ada karena program TPBIS sudah mempunyai peraturannya sendiri, sehingga pustakawan tinggal menyampaikannya dengan masyarakat, sehingga masyarakat menjadi yakin dan paham akan program TPBIS