Kembali
16
1
2023 Tik Ilmeu: Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Vol 7 · 2 ISSN 2580-3662

Modal Intelektual Pustakawan dalam Penyebaran Informasi di Perpustakaan Sekolah Dasar

Universitas Indonesia; Universitas Indonesia

Abstrak

Modal intelektual memiliki peran dalam penyebaran informasi di perpustakaan, hal ini dikarenakan proses penyebaran informasi tidak dapat hanya mengandalkan bahan pustaka. Semakin luas modal intelektual yang dimiliki maka akan semakin banyak informasi yang dapat disebarkan. Modal intelektual terdiri dari modal manusia, modal struktural, dan modal relasional. Pustakawan merupakan pelaku penyebar informasi di Perpustakaan Sekolah Dasar, informasi yang disebarkan sudah semestinya benar dan dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi peran modal intelektual bagi pustakawan dalam penyebaran informasi di perpustakaan Sekolah Dasar. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pemilihan informan menggunakan teknik purposive sampling. Metode pengumpulan data pada penelitian ini adalah wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan modal intelektual pustakawan yang terdiri dari modal manusia, modal struktural, dan modal relasional berperan dalam penyebaran informasi di perpustakaan SDIA 61. Modal manusia berperan dalam proses penyampaian informasi, modal struktural berperan dalam proses penyediaan informasi, dan modal relasional berperan dalam teknik penyebaran informasi serta jenis informasi yang disebarkan.

Abstract

Intellectual capital has a role in disseminating information in libraries, this is because the process of disseminating information cannot only rely on library materials. The wider the intellectual capital owned, the more information that can be disseminated. Intellectual capital consists of human capital, structural capital, and relational capital. The librarian is the actor who disseminates information in the Elementary School Library, the information that is disseminated should be correct and can be accounted for. This study aims to identify the role of intellectual capital for librarians in disclosing information in elementary school libraries. This study uses a qualitative method with a case study approach. Selection of informants using purposive sampling technique. Data collection methods in this study were interviews and observation. The results showed that librarians' intellectual capital consisting of human capital, structural capital, and relational capital played a role in disseminating information in the SDIA 61 library. Human capital played a role in the information assistance process, structural capital played a role in the process of preparing information, and relational capital played a role in therapeutic techniques information and the type of information disseminated
Keywords: Intellectual Capital · Knowledge Sharing · School's Library · Librarian

Introduction

A. Pendahuluan Modal intelektual merupakan aset tak berwujud yang dimiliki oleh suatu organisasi atau individu, yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan, pengalaman, reputasi, hak cipta, paten, dan inovasi. Dalam era digital dan pengetahuan saat ini, penting bagi organisasi untuk memahami nilai dari modal intelektual mereka untuk meningkatkan keunggulan kompetitif dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Saat ini kita mengenal istilah ekonomi pengetahuan atau knowledge economy yang digunakan untuk menggambarkan suatu sistem ekonomi yang lebih berfokus pada produksi, distribusi, dan penggunaan pengetahuan dan informasi, bukan hanya pada produksi barang dan jasa fisik. Dalam era digital dan globalisasi saat ini, pengetahuan dan informasi telah menjadi aset yang sangat berharga dan dapat meningkatkan kemampuan suatu negara untuk bersaing dalam pasar global. Oleh karena itu, pemahaman tentang konsep knowledge economy dan cara mengembangkan ekonomi berbasis pengetahuan dapat membantu suatu organisasi untuk meningkatkan kinerja ekonominya dan menciptakan peluang baru untuk pertumbuhan yang berkelanjutan. Modal intelektual dianggap sebagai faktor utama dalam hal produksi dan pembentukan kekayaan suatu organisasi (Bedford et al., 2015). Dalam era knowledge economy yang didorong oleh informasi dan teknologi, perpustakaan sekolah memiliki peran yang semakin penting dalam menyebarluaskan informasi dan meningkatkan literasi siswa. Untuk mencapai tujuan ini, penting bagi perpustakaan untuk memahami nilai dari modal intelektual mereka dan cara-cara untuk memanfaatkannya secara efektif. Konsep modal intelektual dapat membantu perpustakaan untuk memahami bahwa selain dari koleksi fisik, sumber daya seperti keterampilan dan pengetahuan pustakawan, teknologi informasi, dan reputasi perpustakaan juga merupakan aset yang berharga untuk membantu meningkatkan akses dan pemanfaatan informasi. Pemahaman tentang pengelolaan modal intelektual yang baik dapat membantu perpustakaan untuk menjadi pusat informasi yang lebih efektif dan relevan dalam mendukung penyebaran informasi dan literasi siswa. Selain itu, pemanfaatan modal intelektual dapat memaksimalkan penggunaan sumber daya mereka dan memastikan bahwa informasi yang disajikan kepada siswa selalu up-to- date. Pendidikan dan pengembangan profesi pustakawan harus menjadi prioritas utama agar perpustakaan dapat menjadi pusat informasi yang lebih efektif dan relevan. Dalam konteks ini, penting untuk mempertimbangkan dan menginvestasikan modal intelektual dalam pengelolaan perpustakaan. Hal ini perlu dilakukan agar perpustakaan dapat beradaptasi dengan ekonomi pengetahuan yang semakin berkembang dan mengikuti tren dan tuntutan informasi yang lebih dinamis. Modal intelektual sendiri adalah pengetahuan yang menghasilkan atau menciptakan nilai atau value (Bedford et al., 2015). Modal intelektual adalah sebuah tindakan intelektual yang lebih daripada pengetahuan atau kecerdasan murni (Johan et al., 1998). Komponen modal intelektual terdiri dari tiga yaitu modal manusia, modal struktural dan modal relasional (Kostagiolas, 2012). Berikut adalah tabel klasifikasi dari tiga modal intelektual menurut Kostagiolas (2012): Kategori Modal Intelektual Definisi Modal manusia Berupa pengetahuan, pengalaman, kompetensi, dan kreativitas karyawan yang dibawa karyawan ketika mereka meninggalkan perusahaan. Pengetahuan karyawan memiliki alat produksi, yaitu pengetahuan dari telinga mereka, dan itu adalah aset modal yang benar-benar portabel dan sangat besar. Konstitusi dari karyawan berbakat terkait dengan seberapa efektif suatu organisasi menggunakan sumber daya manusianya, diukur melalui kreativitas dan inovasi. Pengetahuan manusia untuk menyelesaikan masalah bisnis. Mengartikan individu yang tidak dapat digantikan oleh mesin. Modal struktural Infrastruktur, proses, dan database dari sebuah perpustakaan yang memungkinkan mendukung pekerjaan sumber daya manusia (misalnya koleksi dan stok perpustakaan, filosofi dan struktur organisasi, sistem manajemen, otomasi dan sistem informasi lainnya, paten, hak cipta, dan lain-lain.) Pengetahuan yang ada di dalam organisasi meskipun karyawan meninggalkan organisasi. Gudang informasi yang bukan manusia. Modal relasional Nilai yang tercipta melalui hubungan dengan lingkungan eksternal dan lebih khusus lagi dengan investor dan kreditor. Sumber daya terkait dengan hubungan eksternal perusahaan. Nilai tertanam dalam jaringan bisnis. Tabel 1. Klasifikasi Modal Intelektual Perpustakaan sekolah memiliki peran penting dalam mendukung kegiatan belajar-mengajar. Salah satu kunci keberhasilan perpustakaan sekolah adalah kualitas modal intelektual yang dimiliki oleh pustakawan. Pustakawan merupakan seorang professional pengetahuan yang bekerja dengan basis pengetahuan dan bertugas mengelola pengetahuan yang ada, melakukan inovasi cara akses pengetahuan, diseminasi pengetahuan, dan melakukan analisis agar pengetahuan dapat dimanfaatkan secara maksimal baik pengetahuan explisit dan tacit (Kim, 2000). Sehingga pustakawan tidak hanya memiliki kewajiban untuk mengelola informasi explisit seperti buku, tetapi juga informasi tacit berupa ingatan, pengetahuan, pengalaman, yang juga sebagai modal intelektual pustakawan itu sendiri. Modal intelektual tidak hanya bergantung pada pustakawan melainkan pada seluruh isi dari perpustakaan itu sendiri yang didukung dari sekolah. Namun sebagaimana yang dikatakan oleh A. Malik Fajar “Al-Thariqah ahammu min al-madddah walkinna al- muddaris ahammu min al-thariqah" dengan arti metode lebih penting daripada materi, tetapi guru lebih penting dari pada metode (Fadjar, 2005). Meskipun modal struktural dan modal relasional sudah memadai, tetapi jika modal manusia yaitu pustakawan memiliki pengetahuan dan kemampuan yang tidak memenuhi kebutuhan siswa, maka pemberian informasi di perpustakaan tidak dapat berjalan dengan baik. Penyebaran informasi yang efektif di perpustakaan sekolah memerlukan pustakawan yang mampu memahami kebutuhan pengguna, mengelola sumber daya informasi dengan efisien dan memanfaatkan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas layanan. Knowledge sharing didefinisikan sebagai transfer kebijaksanaan, keterampilan, dan teknologi, mengacu pada keyakinan kolektif atau rutinitas perilaku yang terkait dengan pertukaran pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan (Farooq, 2018). Berbagi pengetahuan atau knowledge sharing dapat dilakukan oleh siapapun yang memiliki pengetahuan tacit, salah satunya adalah pustakawan. Menurut Nazim dan Bhaskar (2016), berbagi pengetahuan atau knowledge sharing memungkinkan pustakawan membagi informasi yang mereka miliki kemudian informasi tersebut dapat diterapkan, dimanfaatkan dan digunakan untuk kepentingan individu yang menerima seperti mengembangkan kegiatan penelitian, menciptakan pengetahuan baru, dan lain-lain. Knowledge sharing memberikan dampak dalam meningkatkan performa individu, kreativitas dan cara berpikir, dan mempengaruhi psikologis individu (Ahmad & Karim, 2019). Penelitian mengenai modal intelektual sebelumnya telah dilakukan oleh Wahyuni dan Jumimo (2019) dengan judul "Peran Intellectual Capital dalam Pengembangan Jaringan Kerja Sama Taman Bacaan Masyarakat: Studi Kasus Taman Bacaan Cakruk Pintar Yogyakarta". Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa modal manusia merupakan faktor utama dalam proses tercapainya kerja sama di Taman Bacaan Masyarakat Cakruk Pintar Yogyakarta. Kemudian dengan intellectual capital berupa sarana dan prasarana, sarana publikasi berupa media sosial, dan branding yang baik yang dimiliki Taman Bacaan Masyarakat Cakruk Pintar Yogyakarta dapat digunakan untuk mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki pengelola guna memperluas jaringan kerja sama. Selanjutnya modal relasional berperan untuk menjaga hubungan baik antara Taman Bacaan Masyarakat Cakruk Pintar Yogyakarta dengan mitra kerja, dengan modal relasional yang baik dapat diciptakan nilai tambah bagi Taman Bacaan Masyarakat Cakruk Pintar Yogyakarta. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada tempat penelitian, sedangkan persamaan penelitian terletak pada objek penelitian yaitu mengenai peran intellectual capital. Penelitian kedua, dilakukan oleh Soeprijadi (2019) dengan judul "Pendidikan Karakter dan Literasi Informasi dalam Pembentukan Modal Intelektual pada Revolusi Industri 4.0". Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tenaga pendidik memiliki tanggung jawab dalam meningkatkan modal intelektual dirinya, agar dapat mendidik siswa tidak hanya mata pelajaran tetapi juga karakter siswa tersebut. Pendidikan karakter bisa membantu siswa untuk menjadi lebih cakap dalam menerima, memilah, dan menyebarkan informasi dengan bijak. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan terletak pada tujuan penelitian. Tujuan penelitian sebelumnya adalah memahami pendidikan karakter sedangan penelitian yang akan dilakukan bertujuan memahami peran modal intelektual. Persamaan penelitian terletak pada peran tenaga pendidik lingkungan sekolah. Berdasarkan kedua penelitian tersebut diketahui bahwa modal intelektual memberikan dampak terhadap proses penyebaran informasi. Hal ini disebabkan dalam penyebaran informasi, manusia memanfaatkan ingatan dan pikirannya, sehingga perlu diperhatikan bagaimana manusia menumbuhkan modal intelektual mereka. Maka dari itu peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana dampak modal intelektual dalam penyebaran informasi di Sekolah Dasar (SD), karena siswa SD masih didominasi oleh anak-anak sehingga mereka mempercayai perkataan dan perilaku orang-orang di sekitarnya terutama orang yang mereka percayai. Modal intelektual pustakawan berpengaruh dalam proses penyebaran informasi yang dilakukan oleh pustakawan, karena pustakawan tidak hanya memanfaatkan bahan pustaka dalam menyebarkan informasi, tetapi juga modal intelektual yang dimilikinya. Penelitian ini bertujuan untuk memahami peran yang diberikan pustakawan dalam penyebaran informasi berdasarkan modal intelektual yang dimilikinya.

Method

B. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pendekatan kualitatif menekankan bahwa tugas peneliti adalah menggali atau menemukan bagaimana realitas sosial dalam objek yang ingin diselidiki. Creswell (dalam Fitrah & Luthfiyah, 2017) merumuskan pendekatan studi kasus sebagai pendekatan kualitatif yang penelitiannya mengeksplorasi kehidupan nyata (realitas) melalui pengumpulan data yang detail dan mendalam. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi partisipasi dan wawancara. Peneliti melakukan observasi terlebih dahulu terhadap kegiatan pustakawan bersama pemustaka yaitu para siswa SDIA 61 yang mengikuti kegiatan kunjungan perpustakaan. Kemudian peneliti melakukan wawancara untuk menggali dan mendukung hasil dari observasi yang telah dilakukan. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Penentuan sumber informasi secara purposive sampling dilandasi pada tujuan atau pertimbangan tertentu terlebih dahulu (Yusuf, 2016). Informan dalam penelitian ini merupakan pustakawan yang telah bekerja di Perpustakaan SDIA 61 selama 1 tahun, memiliki komunikasi baik dengan siswa, dan memiliki latar belakang pendidikan Sarjana Ilmu Perpustakaan. Validasi data dilakukan dengan triangulasi data. Triangulasi data yaitu pengumpulan data dengan menggabungkan berbagai data dan sumber yang telah ada. Selanjutnya dilakukan analisis data terhadap data yang telah terkumpul. Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dengan melakukan tiga tahapan analisis coding: (1) pengkodean terbuka (open coding), (2) pengkodean aksial (axial coding), (3) dan pengkodean selektif (selective coding) (Nuriman, 2021). Pada tahap open coding data yang telah dikumpulkan pada tahap wawancara akan ditranskrip dan dikategorikan menjadi beberapa bagian dengan membuat kode tertentu yang diberi label terhadap narasi teks wawancara yang telah dibuat. Selanjutnya, akan dilakukan pengkodean aksial dimana peneliti akan mendeskripsikan relasi antar kode yang telah dibuat sebelumnya. Pada tahapan terakhir, peneliti akan menghubungkan semua kategori untuk mengidentifikasi kategori inti (utama) yang akan digunakan untuk analisis keseluruhan

Discussion

C. Pembahasan 1. Gambaran Umum Perpustakaan Sekolah Dasar Islam Al Azhar 61 (SDIA 61) Sekolah Dasar Islam Al Azhar 61 (SDIA 61) berdiri sejak tahun 2017, saat ini terdiri dari siswa kelas 1 hingga kelas 5. SDIA 61 merupakan sekolah yang mementingkan program literasi, dengan tujuan mewujudkan siswa dan siswi yang gemar membaca. Siswa dilatih untuk membaca dan mencari informasi dari buku yang disediakan di perpustakaan. Kunjungan ke perpustakaan merupakan kegiatan yang wajib dilakukan, dan tertulis di jadwal pelajaran setiap kelas. Pelaksanaan literasi informasi terdiri dari beberapa tahap yaitu pembiasaan, pengembangan, dan pembelajaran (Silvana & Setiani, 2018). Siswa kelas 1-3 berada pada tahap pembiasaan dan pengembangan yaitu dengan menyimak, membaca, berbicara, menulis, dan memilah informasi. Sedangkan siswa kelas 4-6 berapa pada tahap pembelajaran yang terdiri dari kemampuan fonetik, pemahaman kosakata, pemahaman tata bahasa, kemampuan menggunakan konteks untuk memahami bacaan, kemampuan menginterpretasikan dan merespons bacaan, serta tercipta perilaku membaca. Siswa kelas 1-3 akan dibimbing oleh pustakawan ketika mengunjungi perpustakaan, sehingga penting bagi pustakawan untuk memiliki modal intelektual yang baik dan luas agar dapat memberikan berbagai informasi kepada siswa dan memberikan contoh rajin membaca kepada siswa. Sedangkan siswa kelas 4-6 akan dibimbing oleh guru Bahasa Indonesia ketika mengunjungi perpustakaan. Hal ini dikarenakan siswa diharuskan mengikuti materi pelajaran Bahasa Indonesia, dan perpustakaan mendung dalam proses pencarian informasi. Perpustakaan SDIA 61 menyediakan berbagai koleksi buku tercetak dan digital. Perpustakaan SDIA 61 merupakan sebuah ruangan tanpa sekat dan tanpa bangku membaca, hanya tersedia lima meja membaca untuk siswa (1 meja berisikan maksimal 6 siswa) dan siswa akan duduk beralaskan karpet. Hal ini bertujuan agar siswa dapat saling berdiskusi ketika membaca buku dan lebih mudah dalam mendengarkan pustakawan atau guru ketika menjelaskan. Selain itu ruangan memiliki kesan luas dan nyaman untuk membaca atau berdiskusi. Dengan ruangan perpustakaan seperti itu, pustakawan merasa nyaman ketika melakukan penyebaran informasi, karena seluruh siswa dapat terlihat jelas dan diskusi dua arah lebih mudah dilakukan. Perpustakaan SDIA 61 menjadi tempat yang nyaman bagi siswa ketika merasa penat belajar di kelas. Hal ini menjadi salah satu pendukung siswa SDIA 61 gemar mengunjungi perpustakaan, tidak hanya ketika jadwal kunjungan perpustakaan tetapi juga ketika waktu belajar telah usai. Pustakawan SDIA 61 memiliki latar belakang pendidikan sarjana Ilmu Perpustakaan dan sudah bekerja selama dua tahun sebagai pustakawan. Komunikasi antar pustakawan dan pemustaka berjalan baik, hal ini dikarenakan pustakawan memiliki ketertarikan khusus terhadap anak-anak sehingga mampu mendekatkan diri dengan pemustaka. Setelah memiliki pengalaman menyebarkan informasi kepada pemustaka SDIA 61, pustakawan mengetahi hal- hal yang perlu disiapkan sebelum melakukan penyebaran informasi. Hal ini dilakukan agar pustakawan mampu menjawab pertanyaan dan memenuhi kebutuhan informasi pemustaka selama proses penyebaran informasi. 2. Peran Modal Intelektual dalam Penyebaran Informasi di Perpustakaan SDIA 61 Modal intelektual terdiri dari tiga yaitu modal manusia, modal struktural, dan modal relasional. Peran dari masing-masing kategori modal intelektual dalam penyebaran informasi di Perpustakaan SDIA 61 adalah sebagai berikut: a. Peran modal manusia dalam penyebaran informasi di Perpustakaan SDIA 61 Modal manusia pustakawan SDIA 61 merupakan modal yang terdapat dalam diri pustakawan. Saat ini SDIA 61 memiliki satu orang pustakawan dengan latar belakang pendidikan sarjana Ilmu Perpustakaan. Pustakawan memiliki kemampuan dalam mengelola perpustakaan dan memahami proses penyebaran informasi. Sehingga proses penyebaran informasi dapat dilakukan berdasarkan ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh pustakawan. Pustakawan menganalisis kebutuhan informasi pemustaka dan berusaha memenuhi kebutuhan informasi tersebut melalui bahan bacaan yang tersedia di perpustakaan ataupun sumber informasi lainnya. “Pengadaan bahan pustaka dilakukan berdasarkan hasil analisis pustakawan terhadap subjek bahan pustaka yang paling sering dibaca. Selain itu pustakawan juga menerima saran bahan pustaka dari guru dan siswa" (Wawancara Pustakawan, personal communication, 2023). Proses penyebaran informasi di perpustakaan SDIA 61 tidak hanya melalui bahan pustaka tetapi juga melalui komunikasi antar pemustaka dan pustakawan. Pustakawan memiliki keterampilan dalam bercerita dan mendongeng, sehingga dalam kunjungan perpustakaan siswa akan menerima informasi tidak hanya dari membaca tetapi juga mendengar dan diskusi. Modal manusia pustakawan memberikan peran dalam penyebaran informasi melalui diskusi dan bercerita. Sebelum memulai kegiatan kunjungan perpustakaan, pustakawan mempelajari materi yang akan disampaikan, tidak hanya melalui buku yang tersedia di perpustakaan, tetapi juga melalui internet. Pustakawan melakukan hal tersebut dengan harapan dapat menjawab segala pertanyaan ketika berdiskusi dengan pemustaka. Ketika pustakawan mampu menjawab segala pertanyaan, minat membaca pemustaka terhadap materi tersebut meningkat serta timbul rasa ingin tahu yang mendalam, sehingga pemustaka mencari informasi lebih luas, baik melalui buku di perpustakaan atau secara mandiri di luar sekolah. Selain itu, interaksi sosial di perpustakaan menjadi penting bagi perkembangan siswa. Hasil studi menunjukkan bahwa metode pembelajaran kooperatif dan kolaboratif dapat lebih efektif dalam meningkatkan prestasi belajar siswa jika dibandingkan dengan metode pembelajaran berbasis ceramah di dalam kelas. Pembelajaran anak-anak bukan semata-mata produk pemrosesan informasi secara individual; sebaliknya, pembelajaran tidak dapat dipisahkan dari aktivitas dan praktik sosial. Anak-anak belajar pengetahuan kausal dengan apa yang disebut explaining dan exploring serta berinteraksi dengan orang lain. Explaining cara-cara di mana anak-anak memperoleh dan menghasilkan informasi verbal tentang serangkaian hubungan sebab akibat dan exploring adalah cara-cara di mana anak-anak bertindak di dunia yang menghasilkan informasi dari orang lain atau lingkungan (Legare et al., 2017). Dalam hal ini, kita harus memahami bahwa anak-anak secara aktif mencari informasi dari orang lain. Perpustakaan sebagai lingkungan belajar informal memberikan kesempatan yang unik bagi anak untuk mempelajari konteks sosial dari explaining dan exploring. Pustakawan SDIA 61 memiliki ketertarikan khusus terhadap anak- anak sehingga pustakawan memiliki komunikasi yang baik dengan pemustaka. Ketika kunjungan perpustakaan, tidak seluruh pemustaka dapat mengikuti kelas sesuai dengan arahan. Beberapa pemustaka memilih untuk bermain atau bercanda di perpustakaan. Pustakawan akan berusaha mengingatkan pemustaka tersebut mengenai peraturan dan tata tertib selama di perpustakaan, agar tidak mengganggu pemustaka lainnya yang sedang membaca buku atau mendengarkan materi dari pustakawan. Pustakawan akan berusaha menuntun pemustaka untuk mengikuti peraturan hingga memberikan sanksi kepada pemustaka yang tidak dapat mengikuti peraturan di perpustakaan. Komunikasi kepada anak-anak dapat berbeda-beda disesuaikan dengan sifat anak tersebut. Kemampuan komunikasi yang baik antar pustakawan dengan pemustaka menjadikan pemustaka dapat mengikuti kembali peraturan dan tata tertib di perpustakaan Saat ini merupakan tahun kedua pustakawan bekerja di perpustakaan SDIA 61. Saat ini perpustakaan SDIA 61 memiliki kegiatan rutin membaca bahan pustaka, menonton film dan storytelling. Pustakawan memanfaatkan modal manusia untuk menentukan buku, film, atau kisah apa yang akan disampaikan ketika kunjungan perpustakaan. Pemilihan buku, film, dan kisah harus sesuai dengan visi SDIA 61 yaitu mewujudkan peserta didik yang beraqidah, berakhlak mulia, dan unggul dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (2023). Pemilihan materi yang sesuai dan tepat maka akan membantu sekolah mewujudkan visi yang dituju dan pemustaka akan mendapatkan informasi yang bermanfaat baik berdasarkan agama atau intelektual b. Peran modal structural dalam penyebaran informasi di Perpustakaan SDIA 61 Perpustakaan tidak hanya sebagai tempat untuk meminjam buku atau sumber daya, tetapi juga sebagai pusat interaksi sosial dan pembelajaran bagi siswa. Oleh karena itu, penting bagi perpustakaan untuk membangun hubungan baik dengan para siswa, guru, dan orang tua siswa, agar dapat memfasilitasi kegiatan belajar dan meningkatkan minat baca siswa. Dalam mengadakan kegiatan di perpustakaan, pustakawan bekerja sama dengan guru. Kerja sama yang dilakukan berupa pembagian jadwal kunjungan kelas ke perpustakaan, materi yang akan diberikan kepada siswa, dan bahan pustaka yang akan dibeli. Diskusi antara pustakawan dan guru akan dilaksanakan ketika Rapat Kerja (Raker) tahunan, hal ini guna mempersiapkan kurikulum untuk tahun ajaran berikutnya. “Sebelum memulai tahun ajaran baru kami akan mengadakan Rapat Kerja dan membahas mengenai rencana metode pembelajaran di semester depan. Hal ini terdiri dari materi yang berikan, cara pengajaran, dan jadwal kunjungan ke perpustakaan" (Wawancara Pustakawan, personal communication, 2023). Pustakawan tidak dapat menentukan jam kunjungan karena terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti jam kunjungan perpustakaan lebih baik sebelum pelaksanaan sholat Dzuhur, agar siswa belum merasa terlalu lelah dan membaca buku menjadi lebih efektif. Namun terdapat pelajaran lain yang juga lebih baik dilaksanakan sebelum pelaksanaan sholat Dzuhur. Untuk menghindari jadwal bentrok, maka pustakawan membutuhkan guru kurikulum dalam pembuatan jadwal kunjungan perpustakaan. Diskusi antara guru dan pustakawan dalam menentukan materi kunjungan perpustakaan juga perlu dilakukan agar sesuai dengan tema pembelajaran. Saat ini perpustakaan memiliki koleksi berupa buku digital dan buku tercetak, namun jumlah buku digital hanya 35 eksemplar, sedangkan buku tercetak berjumlah 1.871 eksemplar (Perpustakaan SDIA 61 Summarecon Serping, 2022). Perbedaan jumlah ini dikarenakan minat baca siswa terhadap buku digital rendah, salah satu penyebabnya adalah perpustakaan SDIA 61 tidak menyediakan perangkat untuk siswa membaca e-book di perpustakaan. Dalam proses mengadakan buku tercetak, pustakawan bekerja sama dengan guru dan divisi purchasing. Pustakawan akan bertanya kepada guru mengenai buku yang dibutuhkan, hal ini diperlukan agar dalam pemilihan buku pustakawan tidak hanya mengandalkan hasil pengamatan pustakawan terhadap kebutuhan informasi pemustaka. Setelah menentukan buku tercetak yang akan dibeli, maka pustakawan akan menyerahkan data pembelian buku kepada divisi purchasing untuk dilakukan proses pembelian. Dengan begitu pustakawan dapat fokus terhadap proses pengajaran saat kunjungan perpustakaan tanpa perlu mengurus proses pembelian buku. Selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) terhitung sejak tahun 2020-2022 seluruh siswa tidak dapat mengunjungi perpustakaan secara offline. Seluruh siswa tetap mendapatkan fasilitas perpustakaan melalui kelas online yang diadakan, terdiri dari dongeng, bedah buku, dan bedah film melalui google meet. Hal ini merupakan kesepakatan antar guru dan pustakawan, dengan tujuan agar perpustakaan tetap memberikan kontribusi dalam proses belajar mengajar di sekolah selama dilakukan PJJ. Proses digitalisasi perpustakaan sudah dilakukan namun masih dalam proses pengembangan. Tujuan digitalisasi adalah memudahkan pemustaka dalam proses pencarian informasi. Pustakawan akan menyerahkan laporan kegiatan perpustakaan setiap bulan kepada kepala sekolah. Berdasarkan hasil laporan maka pustakawan akan berdiskusi dengan kepala sekolah mengenai kegiatan yang perlu dikembangkan atau dihilangkan, serta perkembangan literasi siswa. Melalui laporan yang diserahkan, kepala sekolah dapat mengetahui buku yang sedang diminati hingga kegiatan apa yang dilakukan dalam satu bulan. Evaluasi yang disampaikan oleh pustakawan menjadi bahan diskusi antar pustakawan dan kepala sekolah demi memberikan kegiatan yang lebih baik kepada pemustaka. c. Peran modal relasional dalam penyebaran informasi di Perpustakaan SDIA 61 Kerja sama perpustakaan sekolah dengan pihak eksternal dapat dianggap sebagai salah satu upaya perpustakaan dalam menyediakan dan menyebarkan informasi di lingkungan perpustakaan sekolah. Dalam proses pemenuhan kebutuhan informasi pemustaka, pustakawan tidak bekerja sendiri seutuhnya. Salah satu pihak yang terlibat adalah vendor penyedia buku. Pustakawan akan berdiskusi dengan vendor buku mengenai bahan pustaka yang perlu disediakan. Vendor buku memiliki relasi dengan pustakawan sekolah lainnya sehingga mengetahui buku-buku terbaru yang biasa dipesan oleh sekolah. Komunikasi antara pustakawan dan vendor buku memberikan manfaat berupa informasi mengenai buku yang relevan dan terbaru sesuai dengan kebutuhan pemustaka saat ini atau saat yang akan mendatang. "Pengadaan bahan pustaka dilakukan memalui vendor buku, yaitu sekolah akan diberikan list rekomendasi buku setiap tahunnya. Selain itu sekolah juga dapat memesan buku diluar list yang disediakan” (Wawancara Pustakawan, personal communication, 2023) Saat ini pustakawan hanya melakukan pembelian buku melalui vendor dan belum bekerja sama dengan penerbit. Meskipun tidak melakukan kerja sama secara langsung dengan penerbit, perpustakaan sekolah masih dapat terbantu dalam hal pengembangan koleksi melalui kerja sama dengan vendor. Kerja sama antara perpustakaan dengan pihak vendor ini sudah cukup memberikan kontribusi signifikan bagi perpustakaan dalam memperoleh akses ke berbagai sumber daya informasi yang lebih beragam dan bervariasi, serta meningkatkan kemampuan perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan informasi dari berbagai kalangan pengguna perpustakaan. Dengan demikian, perpustakaan dapat memperluas jangkauan layanan dan memperkaya pengalaman pengguna dalam memanfaatkan sumber daya informasi di perpustakaan. Pada tahun 2021 hingga 2022, pustakawan mengikuti komunitas dongeng, pustakawan mengikuti komunitas tersebut guna mempelajari bagaimana cara mendongeng yang baik dan menyenangkan. Melalui komunitas tersebut, pustakawan mempelajari beberapa jenis mendongeng yang dapat diterapkan di SDIA 61. Pustakawan yang memiliki latar belakang pendidikan ilmu perpustakaan memiliki kolega yaitu sesama pustakawan sekolah, sehingga tidak jarang pustakawan SDIA 61 melakukan komunikasi dengan rekan pustakawan sekolah mengenai bahan pustaka atau program kerja pustakawan dalam membangun literasi siswa di sekolah. Modal relasi antara pustakawan dan pemustaka ini sangat penting dalam menyebarkan informasi di perpustakaan sekolah. Dalam situasi ini, pustakawan dapat memberikan bantuan dan dukungan kepada pemustaka melalui hubungan dan kerja samanya dengan berbagai pihak agar dapat memberikan informasi yang sesuai dan menarik kepada pemustaka, serta menciptakan perpustakaan sebagai tempat yang nyaman dan menyenangkan untuk mencari informasi.

Conclusion

D. Kesimpulan Modal intelektual pustakawan memiliki peran dalam penyebaran informasi di Perpustakaan SDIA 61. Modal manusia memberi peran ketika pustakawan dan pemustaka berdiskusi mengenai materi yang disampaikan melalui kegiatan mendongeng atau bedah buku. Selama berdiskusi dengan pemustaka, pustakawan menggunakan pengetahuan, pengalaman, serta keterampilannya sehingga informasi yang disampaikan jelas dan benar. Sebelum melakukan penyebaran informasi, pustakawan melakukan observasi dan pembelajaran mengenai materi yang akan disampaikan, sehingga pemustaka menerima informasi yang benar dan disampaikan secara menarik. Modal struktural memiliki peran berupa penentuan terhadap buku yang disediakan, materi yang disampaikan, dan jadwal kunjungan perpustakaan. Pustakawan dan guru mendiskusikan mengenai hal tersebut, sehingga dengan modal struktural tersebut pustakawan dapat memberikan dan menyebarkan informasi sesuai dengan kebutuhan pemustaka dan juga sesuai dengan visi sekolah. Modal relasional memiliki peran berupa variasi buku yang akan disediakan di Perpustakaan SDIA 61. Melalui diskusi dengan vendor maka pustakawan dapat mengetahui buku apa yang sedang diminati oleh sekolah lain dan dapat menjadi referensi dalam pengadaan buku di SDIA 61, sehingga pemustaka mendapatkan informasi terbaru dan selaras dengan kurikulum pendidikan terbaru. Selain itu pustakawan juga mengikuti komunitas dongeng agar dapat mempelajari bagaimana mendongeng yang baik dan menarik khususnya bagi siswa sekolah dasar. Penerapan pengetahuan yang didapatkan di komunitas dongeng memberikan dampak positif di Perpustakaan SDIA 61, berupa kegiatan dongeng menjadi lebih menarik dan menyenangkan bersama dengan siswa-siswa.