Kembali
16
1
2023 Jurnal Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia Vol 2 · 2 ISSN 2962-5599

Preservasi Pengetahuan Budaya dan Kearifan Lokal sebagai Program Berkelanjutan di Perpustakaan Kampung Budaya Polowijen

Universitas Widyagama Malang; Universitas Merdeka Malang; Universitas Merdeka Malang

Abstrak

Kelurahan Polowijen merupakan salah satu kelurahan yang memiliki situs peninggalan sejarah di Kota Malang. Kearifan lokal dan budaya tradisional yang masih terjaga hingga saat ini membuat kelurahan Polowijen ditetapkan sebagai kampung tematik oleh Walikota Malang pada tahun 2017 dengan nama Kampung Budaya Polowijen. Guna turut melestarikan dan mempromosikan kampung budaya polowijen agar tidak tergerus oleh pengaruh global dan budaya asing, maka perlu kiranya budaya yang ada ini di promosikan dalam berbagai media, melakukan pembinaan kepada penduduk setempat, melakukan dokumentasi secara audio visual yang nantinya bisa dimanfaatkan bagi generasi selanjutnya. Metode dalam penulisan ini menggunakan metode deskriptif yang menyajikan uraian tentang implementasi konsep best practice yang telah dilakukan untuk menyelamatkan dan melestarikan pengetahuan dan kearifan lokal pada Kampung Budaya Polowijen. Hasil dari kegiatan penulisan ini berupa dokumentasi yang berkaitan dengan kegiatan budaya dan kearifan lokal di Kampung Budaya Polowijen. Output dari kegiatan preservasi yang dilakukan cukup beragam: pertama, direktori pengetahuan online; kedua, aplikasi koleksi benda budaya berbasis android; ketiga, kemas ulang video dokumentasi berupa CD Drive dan buku saku.

Abstract

Polowijen Village is one of the villages that has historical heritage in Malang City. The local wisdom and traditional culture maintained today have made the Polowijen sub-district designated as the thematic village by the Mayor of Malang in 2017 with the name Kampung Budaya Polowijen. Its research helps preserve and promote the Polowijen cultural village so that global influences and foreign culture do not erode it. It is necessary to encourage this existing culture in various media, guide residents, and conduct audio-visual documentation, which can later be utilized for the next generation. This writing uses a descriptive method that describes the implementation of the best practice concept that has been carried out to save and preserve the cultural and indigenous knowledge in the Kampung Budaya Polowijen. The results of this writing activity are in the form of documentation relating to cultural activities and local wisdom in the Kampung Budaya Polowijen. The preservation activities' output was quite diverse: first, an online knowledge directory; second, a collection of cultural objects on Android application-based; third, repackaging the video documentation in a CD Drive and a pocketbook.
Keywords: Kampung Budaya Polowijen · indigenous knowledge · knowledge preservation · traditional culture · budaya tradisional · kearifan lokal · preservasi pengetahuan

Introduction

Kelurahan Polowijen merupakan salah satu kelurahan dari 57 kelurahan yang ada di wilayah kota Malang tepatnya di kecamatan Blimbing. Lokasi Kelurahan Polowijen berjarak 8,1 km dari alun-alun Kota Malang dan termasuk dalam pinggiran sisi utara Kota Malang. Kelurahan Polowijen merupakan salah satu kelurahan yang memiliki situs peninggalan sejarah di Kota Malang dengan nuansa pedesaan yang masih terjaga karena sebagian besar wilayahnya masih berupa lahan agraris sekaligus merupakan sumber mata pencaharian utama dari penduduk setempat. Nama Polowijen berasal dari nama sebuah desa kuno sekitar abad 10 Masehi yaitu Panawijen, yang merupakan daerah asal Ken Dedes sebelum menjadi seorang permaisuri di kerajaan Singosari. Sejarah mengenai riwayat hidup Ken Dedes diketahui melalui kitab Jawa pertengahan yaitu kitab Pararaton yang ditulis pada tahun 1535 Saka atau 1614 Masehi. Kitab tersebut menceritakan bahwa Ken Dedes adalah seorang putri tunggal seorang pendeta agama Budha bernama Mpu Purwa (Suwardono, 2007). Selain tertulis pada kitab kuno dan prasasti, kisah sejarah mengenai Ken Dedes juga dapat digali pada masyarakat kelurahan Polowijen melalui cerita tutur yang dipercaya, dipelihara dan diwariskan turun temurun secara lisan hingga kini. Masyarakat Polowijen mempercayai legenda nenek moyang mereka tentang Putri Ken Dedes yang menolak perjodohan dengan Joko Lulo. Menurut cerita, Ken Dedes meminta pembuatan Sumur Windu dalam satu malam sebagai syarat pernikahan, namun pada hari pernikahan, ia melarikan diri dengan mencebur ke dalam sumur tersebut. Hingga kini, Sumur Windu diakui sebagai situs cagar budaya yang memiliki keterkaitan dengan situs sejarah lain di Polowijen, termasuk Sanggrahan Joko Lulo, Mandala Mpu Purwa, makam Mbah Reni, dan makam Mbok Gundari. Keberadaan kelima situs ini memperkuat identitas Polowijen sebagai kampung sejarah dan kantong budaya di Kota Malang. Kearifan lokal dan tradisi yang terjaga di Polowijen membuatnya ditetapkan sebagai Kampung Budaya pada tahun 2017. Daya tarik kampung ini meliputi seni tari topeng, seni kriya seperti pembuatan topeng dan batik tulis, serta lukisan. Walikota Malang meresmikan kampung ini sebagai destinasi wisata budaya dengan pendirian pasar topeng pada tahun 2018. Meskipun dokumentasinya telah merambah ke media sosial, seperti YouTube dan Instagram, pengelolaannya masih perlu ditingkatkan, terutama setelah mengalami gangguan keamanan. Oleh karena itu, upaya bersama dari pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat diperlukan untuk melestarikan dan menyelamatkan pengetahuan dan kearifan lokal di Kampung Budaya Polowijen.

Method

Metode dalam penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Metode kualitatif deskriptif dapat menggambarkan prosedur yang digunakan untuk mengatasi masalah dengan menyelidiki dan menggambarkan keadaan subjek atau objek penelitian (Andriani, 2022). Metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi literatur dimana peneliti mengumpulkan data dan informasi secara independen dengan sumber-sumber tertulis seperti buku, artikel, dan dokumen terkait yang dapat memberikan wawasan mendalam (Prayogi, 2021). Serta observasi dengan melibatkan pengamatan langsung terhadap koleksi yang terdokumentasi di Kampung Budaya Polowijen untuk mendapatkan pemahaman yang lebih kontekstual dengan menerapkan information transformation dan preservation of knowledge untuk merancang suatu model yang mencakup tahapan seleksi, penyimpanan, masukan, dan luaran.

Result & Discussion

Pelestarian pengetahuan baik itu pengetahuan ilmiah maupun pengetahuan tradisional sangat diperlukan demi keberlangsungan dan perkembangan pengetahuan di masa yang akan datang. Namun demikian, pengetahuan dan kumpulan data tidaklah identik; akan tetapi, mereka terhubung secara integral karena mungkin saja hanya dibutuhkan beberapa untuk menghasilkan pengetahuan yang lain. Merekonstruksi sebuah peristiwa atau membangun sejarah bisa saja terjadi dengan menghimpun data yang ada, namun akan butuh tenaga dan waktu yang lama. Di dunia digital, kita bisa menggunakan mesin pencari untuk mempercepat proses; akan tetapi keabsahan data dari hasil pencarian di internet kadang masih dipertanyakan. Data yang ''disimpan'' di situs web Internet mungkin saja bisa bersifat permanen, akan tetapi hal itu bisa juga dimungkinkan data hilang atau diperbarui, sehingga akan sulit untuk menemukan rekam jejaknya. Sumber informasi di internet akan aman bila situs web tersebut terus dipelihara dan dilestarikan. Kekal, bukan persoalan tentang waktu tapi bagaimana aksesibilitas pemeliharaan dan pelestarian suatu sumber informasi dapat terus dijaga dari masa ke masa, hal ini tentu menjadi tanggung jawab bersama baik individu maupun kelompok, baik swasta maupun pemerintah. Perlu usaha nyata untuk dapat menyelamatkan pengetahuan dan kearifan lokal yang merupakan salah satu aset peradaban bangsa, hal ini pula yang coba di lakukan pada Kampung Budaya Polowijen. [Direktori Pengetahuan Kampung Budaya Polowijen] Kampung Budaya Polowijen, yang merupakan keturunan Ken Dedes, menjadi perwujudan keberagaman koleksi local content yang memuat pengetahuan mendalam tentang budaya dan kearifan lokal. Tujuan pendirian kampung tematik ini, sebagaimana diungkapkan oleh laman Kelurahan Polowijen, adalah untuk mengembangkan dan melestarikan budaya asli Polowijen sebagai warisan leluhur. Berbagai kegiatan, seperti tarian topeng, pembuatan topeng, membatik, dan pelestarian situs-situs asli seperti Sumur Windu dan Situs Makam Mbah Reni, menjadi fokus dalam mewujudkan misi ini. Selain menjaga warisan budaya, Kampung Budaya Polowijen juga bertujuan untuk menggerakkan ekonomi kreatif melalui sentra-sentra industri seperti kerajinan topeng, seni pahat, dan pertunjukan seni budaya. Dengan menghasilkan berbagai benda seni dan budaya, kampung ini tidak hanya berfungsi secara praktis tetapi juga menciptakan nilai yang dapat diartikan sebagai informasi berharga. Pemahaman terhadap nilai nilai sejarah dan kebudayaan di Kampung Budaya Polowijen menjadi suatu kontribusi penting dalam pengembangan pengetahuan, baik di tingkat lokal maupun bagi masyarakat umum secara luas. Ragam kebudayaan di Kampung Budaya Polowijen ini juga berupa kegiatan kesenian yang sudah terjadwal rutin diselenggarakan baik setiap minggu, setiap bulan, dan setiap peringatan-peringatan tertentu. Dalam menyikapi pentingnya melestarikan dan membagikan pengetahuan serta kekayaan budaya Kampung Budaya Polowijen, sebuah direktori online telah dibuat. Direktori ini dirancang untuk memudahkan akses masyarakat terhadap beragam koleksi, informasi, dan kegiatan yang dihasilkan di kampung tematik ini. Keunikan budaya asli Malang dan narasi sejarah yang terkandung dalam Kampung Budaya Polowijen menjadikannya sangat menarik bagi masyarakat luar, tercermin dari banyaknya liputan media dan publikasi yang mengangkatnya. Tak hanya itu, kalangan akademisi juga tertarik untuk menjalin kerjasama dengan kampung tematik ini karena memiliki nilai yang berbeda, terutama dalam konteks kota Malang. Dalam menghadapi perubahan zaman dan dampak globalisasi, penting bagi kita untuk bersama-sama menjaga dan merawat nilai-nilai yang tumbuh di Kampung Budaya Polowijen. Langkah nyata dalam pelestarian budaya dan pengetahuan terus dilakukan, salah satunya melalui pembuatan direktori ini sebagai wujud komitmen dalam melestarikan serta memperkaya informasi lokal di Kampung Budaya Polowijen. [Implementasi Aplikasi Berbasis Android pada Local Content di Kampung Budaya Polowijen “Koleksi Benda Budaya KBP”] Dengan kecanggihan teknologi saat ini pelestarian peninggalan budaya yang memiliki nilai sejarah juga bisa diterapkan melalui pemanfaatan teknologi berbasis android. Selain sarana yang tergolong baru, dengan adanya aplikasi berbasis android pada kampung budaya polowijen akan membantu melayani kebutuhan pengguna dalam mengakses berbagai koleksi benda budaya. Hal ini lah yang mendasari adanya aplikasi android dengan nama “Koleksi Benda Budaya KBP” seperti terlihat pada gambar 4. Aplikasi ini menghadirkan user experience yang simpel sehingga pengguna dapat belajar dan bermain dengan mudah dan menyenangkan. Terdapat dua menu utama di dalam aplikasi tersebut yaitu menu materi dan kuis. Pada menu materi memuat informasi terkait koleksi benda-benda budaya yang ada di Kampung Budaya Polowijen, salah satunya adalah topeng malangan, setiap topeng akan memuat informasi yang berbeda-beda, dan tidak hanya itu ke depannya akan ditambah lagi dengan koleksi benda budaya lainnya, yang ada di Kampung Budaya Polowijen, seperti permainan tradisional, batik, dan seterusnya. Menu kedua adalah kuis, kuis ini merupakan pembelajaran interaktif bagi mereka untuk mengetahui informasi sejauh apa mereka memahami tentang informasi yang sudah disampaikan di menu materi. [Kemas Ulang Informasi dan Pengetahuan di Kampung Budaya Polowijen] kemas ulang informasi merujuk pada kegiatan menghimpun informasi dari berbagai sumber, melakukan pengolahan data, dan menghasilkan informasi yang lebih efektif dan menarik (Dongardive, 2013). Skema kemas ulang informasi ini dipilih agar pengetahuan-pengetahuan lokal yang dihasilkan tidak hanya dapat diakses pada satu titik akses atau satu media saja. Penggunaan beberapa media sebagai multi akses dilakukan agar pengetahuan ini tetap dapat bertahan dan diakses selama mungkin, serta tidak terbatas oleh waktu dan infrastruktur. restrukturisasi informasi dapat dilakukan melalui tiga metode, yaitu: layanan pemahaman terkini (current awareness service), penyebaran informasi selektif (selective dissemination of information), serta konsolidasi informasi (Ogugua et al., 2019). Namun demikian Saat ini pengetahuan pengetahuan lokal yang dihasilkan di Kampung Budaya Polowijen masih terbatas pada satu media penyimpanan saja, yakni dalam bentuk video yang terupload pada akun Youtube Kampung Budaya Polowijen. Penyimpanan konten budaya seperti ini masih memiliki kekhawatiran terkait keberlangsungan akses dalam jangka panjang. Setiap orang tidak akan pernah tahu dan yakin bahwa penyimpanan berbasis web (seperti Youtube) akan dapat berlangsung lama ataukah tidak. Selain itu video yang terupload dalam akun Youtube tersebut belum dilengkapi dengan teks subtitle sehingga hanya akan dapat dipahami oleh sedikit kelompok masyarakat pemirsanya saja (suku Jawa). Hal ini yang membuat pengetahuan-pengetahuan lokal dan budaya yang terkandung di dalamnya tidak memiliki user access yang luas, meskipun telah diunggah pada channel Youtube sekalipun. Memandang kondisi tersebut, perlu dilakukan upaya untuk kemas ulang informasi agar kandungan pengetahuan yang ada di dalamnya dapat diakses dan dipahami oleh user yang lebih luas.

Conclusion

Kampung Budaya Polowijen di Kota Malang, Jawa Timur, telah menjadi destinasi wisata edukatif yang ramah lingkungan, menawarkan keberagaman seni budaya dan nilai-nilai sejarah. Dengan adanya situs cagar budaya seperti Sumur Windu, yang diasosiasikan dengan Ken Dedes, permaisuri Kerajaan Tumapel, dan makam Ki Tjondro Suwono atau Mbah Reni, seorang empu topeng Malang, kampung ini memiliki kekayaan sejarah yang signifikan. Nilai nilai seni, budaya, dan sejarah ini menjadi fokus pelestarian untuk dapat diwariskan dan dimaknai oleh generasi muda, mengingat Polowijen dianggap sebagai cikal bakal peradaban yang besar bagi Indonesia. Oleh karena itu, tanggung jawab untuk melestarikan dan menyelamatkan pengetahuan dan kearifan lokal di Kampung Budaya Polowijen merupakan tugas bersama, melibatkan pemerintah, swasta, akademisi, dan masyarakat secara individu. Upaya pelestarian pengetahuan dan kearifan lokal di Kampung Budaya Polowijen mencakup berbagai konsep best practice yang menggabungkan pendekatan manual (paper archiving), analog (analog archiving), dan digital (digital archiving). Pendokumentasian tidak hanya terbatas pada format digital yang mudah diakses, tetapi juga memperhatikan durability informasi agar tetap terjaga dan relevan dengan perkembangan zaman. Output dari upaya preservasi ini melibatkan pembuatan direktori pengetahuan online, aplikasi Android berisi informasi koleksi budaya, serta kemas ulang video dokumentasi dalam bentuk CD Drive dan buku saku. Perpustakaan Universitas Widyagama Malang dan Perpustakaan UNMER Malang turut mendukung penyebarluasan informasi mengenai kearifan lokal dan budaya Kampung Budaya Polowijen. Meskipun implementasinya belum sempurna, komitmen dan penyempurnaan secara berkelanjutan diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pengetahuan dan kearifan lokal di Kampung Budaya Polowijen untuk generasi yang akan datang.