Kembali
16
1
2022 Jurnal Ilmu Perpustakaan dan Informasi Islam Vol 1 · 1 ISSN 2962-9780

Pengaruh Transformasi Digital terhadap Library Anxiety di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh

Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh; Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh

Abstrak

Penelitian ini berjudul Pengaruh Transformasi Digital terhadap Library Anxiety di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Rumusan masalah pada penelitian ini adalah apakah transformasi digital berpengaruh terhadap library anxiety di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh transformasi digital terhadap library anxiety di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Ranir Banda Aceh. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilakukan di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh dengan teknik purposive sampling dan sampel sebanyak 100 orang pemustaka. Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan penyebaran angket dan dokumentasi. Teknik pengolahan data menggunakan rumus regresi linear sederhana dengan bantuan SPSS. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh nilai signifikan pada regresi adalah 0.971 > 0.05 atau 5% taraf kesalahan yang telah ditentukan yang berarti bahwa tidak ada pengaruh atau keterkaitan yang signifikan antara transformasi digital dengan library anxiety.

Abstract

This research is entitled The Effect of Digital Transformation on Library Anxiety at UPT. UIN Ar-Raniry Library Banda Aceh. The formulation of the problem in this study is whether digital transformation has an effect on library anxiety at UPT. UIN ArRaniry Library Banda Aceh. The purpose of this study was to determine the effect of digital transformation on library anxiety at UPT. UIN Ar-Ranir Library Banda Aceh. This research is a descriptive research with a quantitative approach. This research was conducted at UPT. UIN Ar-Raniry Banda Aceh library with purposive sampling technique and a sample of 100 users. The data collection technique used in this research is the distribution of questionnaires and documentation. The data processing technique uses a simple linear regression formula with the help of SPSS. Based on the results of the study, the significant value in the regression was 0.971 > 0.05 or 5% of the predetermined error level, which means that there is no significant influence or relationship between digital transformation and library anxiety
Keywords: Transformasi Digital · Library Anxiety

Introduction

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi menjadikan pengalihan akses informasi dari bentuk manual menjadi digital yang menjadikan akses informasi menjadi semakin luas dan tidak terbatas. Akses informasi yang dulunya dilakukan melalui format tercetak telah beralih menjadi akses digital yang dapat diakses secara online melalui jaringan internet. Peralihan dari penerapan teknologi yang semakin berkembang menjadi digitalisasi ini dinamakan transformasi digital. Dengan adanya transformasi ini, perpustakaan tentunya harus mampu beradaptasi dan melakukan evolusi sehingga tidak tertinggal akibat perubahan zaman. Straubhaar didalam Fiska Ilyasir mendefinisikan masyarakat informasi merupakan masyarakat yang memiliki aktivitas ekonomi sosialpolitik melalui proses produksi, konsumsi dan distribusi informasi. Masyarakat ini ditandai dengan penggunaan dan pertukaran teknologi komunikasi dengan intensitas yang tinggi [1] Adanya transformasi digital di perpustakaan memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan perpustakaan yang bergerak secara konvensional. Kelebihan penerapan teknologi digital pada perpustakaan diantaranya adanya akses informasi yang mutakhir dan kemudahan serta kecepatan dalam pengaksesan. Namun, disisi lain juga memiliki beberapa kelemahan yaitu diantaranya ketidaknyamanan saat menggunakan layanan yang memanfaatkan komputer dalam pengaksesan informasinya. Dalam hal ini, dibutuhkan keterampilan dalam menggunakan layanan dan sumber informasi digital berbentuk elektronik yang tersedia karena banyak pemustaka yang belum bisa memanfaatkan secara efektif fasilitas tersebut karena kurangnya keterampilan mereka dalam menggunakan teknologi informasi berbasis digital. Di samping kemudahan yang tersedia, adanya transformasi digital pada perpustakaan saat ini juga memiliki kekurangan, karena sebagian pemustaka tidak nyaman dalam menggunakan komputer sehingga muncul keadaan kecemasan pada pemustaka atau disebut library anxiety. Library anxiety yang terjadi menghambat pemustaka dalam menggunakan perpustakaan sebagai tempat untuk memenuhi kebutuhan informasi. Hambatan tersebut dikarenakan adanya rasa gelisah atau kecemasan dalam diri pemustaka yang datang dan menggunakan perpustakaan sehingga pemustaka tidak dapat memanfaatkan fasilitas yang disediakan perpustakaan secara maksimal. Selain itu, kelemahan tersebut juga dapat mempengaruhi akan tinggi-rendahnya tingkat pemanfaatan sumber informasi yang telah disediakan oleh perpustakaan. Rasa tidak nyaman serta kebingungan yang disebabkan oleh kurangnya keterampilan dalam menggunakan sumber informasi dan fasilitas digital berbentuk elektronik yang dialami oleh pemustaka mengindikasikan bahwa mereka mengalami gejala library anxiety. Jiao didalam Wildemuth menyatakan bahwa library anxiety adalah kecemasan perpustakaan sebagai perasaan tidak nyaman atau disposisi emosional yang dialami saat berada diperpustakaan yang memiliki konsekuensi kognitif, afektif, fisiologis, dan perilaku. Ini ditandai dengan perenungan, ketegangan, ketakutan, perasaan ketidakpastian dan ketidakberdayaan, pikiran negatif yang merugikan diri sendiri, dan disorganisasi mental [2].Gangguan kecemasan dicirikan oleh kecenderungan tidak langsung terhadap rangsangan ancaman yang berkaitan secara pribadi, dan cenderung menafsirkan kebingungan dengan sebuah ancaman. Selain itu, kecemasan juga dicirikan dengan kecenderungan yang lebih lambat terhadap ancaman ketika memikirkan kondisi negatif maka seseorang akan berpikiran relatif terhadap kecemasan Transformasi digital yang terjadi pada UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry merupakan bentuk pengalihan layanan yang awalnya dilakukan secara manual atau konvensional, kemudian dengan adanya transformasi digital tersebut, layanan pada UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry telah beralih dengan menerapkan teknologi informasi berbasis digital. Transformasi digital tersebut antara lain adanya layanan pencarian koleksi berbasis komputer yang disebut sebagai Online Public Access Catalog (OPAC), layanan peminjaman mandiri melalui mesin Multi Purpose Station (MPS), kemudian layanan Audio Visual, layanan komputer, dan sebagainya. Pemustaka pada UPT. Perpustakaan UIN ArRaniry mengalami kebingungan saat menggunakan layanan berbasis digital yang disediakan oleh perpustakaan. seperti saat melakukan peminjaman secara mandiri dengan menggunakan bantuan mesin Multi Purpose Station (MPS), dan saat melakukan penelusuran koleksi melalui Online Public Access Catalog (OPAC). Selain itu, peneliti juga mendapati pemustaka yang mengalami kecemasan bahkan enggan menggunakan fasilitas di layanan Audio Visual. Hal tersebut juga terjadi karena kurangnya pemahaman akan fasilitas berbasis digital yang disediakan pada layanan tersebut. Berdasarkan hasil wawancara yang peneliti lakukan dengan beberapa pemustaka mereka menyatakan bahwa munculnya kecemasan atau library anxiety yang timbul saat berada di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry ketika menggunakan layanan berbasis digital, kecemasan tersebut disebabkan oleh kurangnya pengetahuan dan pemahaman dalam mengoperasikan layanan berbasis digital yang disediakan oleh UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry sehingga menimbulkan rasa gelisah dan khawatir ketika menggunakan layanan digital yang tersedia akan rusak jika digunakan sehingga pemustaka memilih untuk tidak menggunakan layanan berbasis digital tersebut. Kurangnya kecakapan dalam hal literasi informasi dan literasi digital, yang pada banyak kesempatan merupakan satu kesatuan, ibarat dua sisi mata uang baik secara personal maupun kelompok di dalam organisasi atau lembaga publik menuntut adanya intervensi berupa pembinaan dan pembekalan literasi, khususnya literasi digital yang sejalan dengan penelitian ini untuk melihat pengaruh transformasi digital terhadap library anxiety di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh Hasil penelitian terkait library anxiety berasal dari Elvida Purwaningsih pada tahun 2018 dengan judul “Library Anxiety Pemustaka di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh”. Tujuan penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui gambaran library anxiety yang dirasakan oleh pemustaka di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Metode yang dipakai pada penelitian tersebut yaitu metode deskriptif kualitatif dengan observasi dan wawancara sebagai teknik pengumpulan data. Objek penelitian dari penelitian tersebut adalah pemustaka yang merasa cemas saat berada di perpustakaan dengan informan yang berjumlah 20 orang pemustaka yang diwawancara dan diobservasi selama penelitian dilakukan kurang lebih kurang dua minggu di UPT. Perpustakaan UIN ArRaniry Banda Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemustaka yang jarang mengunjungi perpustakaan dan pemustaka yang pertama kali mengujungi perpustakaan cenderung mengalami kecemasan dikarenakan minimnya pengetahuan mereka tentang pemanfaatan sarana dan prasarana yang disediakan Di samping itu minimnya pengetahuan pemustaka tentang teknik pencarian informasi secara efisien dan efektif juga menyebabkan mereka merasa cemas saat mereka berada di perpustakaan [3] Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Nabilah Azzahra Hanifah pada tahun 2020 dengan judul “Library Anxiety pada Mahasiswa Tingkat Pertama di Perpustakaan Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya”. Tujuan dari penelitiannya adalah untuk mengetahui tingkat kecemasan mahasiswa baru yang berkenaan dengan perpustakaan, misalnya tidak mengenal dengan staf yang ada perpustakaan, fasilitas yang disediakan, hingga koleksi disediakan perpustakaan menurut metode Polish Library Anxiety (P-LAS) oleh Marzena Swigon. Penelitian ini di lakukan pada empat Perguruan Tinggi Swasta di Surabaya, yaitu Universitas Surabaya, Universitas Kristen Petra Surabaya, Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya, dan STIE Perbanas Surabaya dengan responden sebanyak 120 orang, dan memakai metode purposive sampling. Hasil dari penelitian menyimpulkan bahwa pada mahasiswa baru Universitas Surabaya dan Universitas Kristen Petra Surabaya lebih merasakan kecemasan yang berhubungan dengan teknologi yang ada di perpustakaan. Sedangkan mahasiswa baru Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya dan STIE Perbanas Surabaya lebih merasakan kecemasan yang berhubungan dengan koleksi yang disediakan perpustakaan [4] Menurut hasil penelitian di atas, terdapat perbedaan antara penelitian yang penulis lakukan dengan penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Penelitian sebelumnya yang pernah dilakukan oleh Elvida Purwaningsih terdapat perbedaan dan persamaan. Perbedaannya yaitu dalam penelitian yang penulis lakukan ini akan mengukur pengaruh antara dua variabel yaitu transformasi digital dan library anxiety sedangkan penelitian yang dilakukan Elvida Purwaningsih tersebut hanya mengukur sebuah variabel saja yaitu kecemasan yang dirasakan oleh pemustaka di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry. Perbedaan lainnya yaitu penelitian yang dilakukan oleh Elvida Purwaningsih memakai indikator LAS (Library Anxiety Scale) dari Bostick dengan mengukur tingkat kecemasan pada yang terjadi pada pemustaka sedangkan penelitian yang penulis lakukan menggunakan indikator Multidimensional Library Anxiety Scale (M-LAS) yaitu pengembangan indikator LAS (Library Anxiety Scale) yang dikembangkan oleh Van Kampen yang memberi gambaran lebih baik mengenai keadaan perpustakaan di masa sekarang. Adapun persamaan yang terdapat antara dua penelitian ini yaitu dalam penggunaan teknik pengumpulan data sama-sama dengan menggunakan teknik purposive sampling. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh Nabilah Azzahra Hanifah memiliki persamaan pada metode pengumpulan data yaitu sama-sama menggunakan teknik purposive sampling, sedangkan perbedaannya dengan penulis yaitu pada variabel penelitian, penulis menggunakan variabel kecemasan untuk mengukur pengaruhnya dengan transformasi digital sedangkan Nabilah Azzahra Hanifah menggunakan variabel perbandingan kecemasan antar pemustaka suatu perpustakaan dan perpustakaan lainnya. Perbedaan lainnya yaitu pada indikator untuk mengukur kecemasan yang dipilih yaitu dengan indikator Polish Library Anxiety (P-LAS) sedangkan penulis menggunakan Multidimensional Library Anxiety Scale (M-LAS).

Method

Jenis penelitian dalam penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif [5] yaitu penelitian yang dilakukan dengan menggunakan penyebaran kuesioner untuk mendapatkan data yang peneliti dapatkan dari informan akan dideskripsikan melalui angka dan statistik, untuk mendapatkan gambaran secara jelas dan rinci mengenai bagaimana Pengaruh Transformasi Digital terhadap Library Anxiety di Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Alasan pemilihan lokasi dikarenakan pada UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry telah mengalami transformasi digital dalam hal pelayanan. Adapun yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa yang terdaftar sebagai anggota UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry yang berjumlah 20.617 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling [6], dengan jumlah sampel sebanyak 100 orang. Untuk pengujian validitas, penulis menggunakan rumus korelasi product moment: 𝑟𝑥𝑦 = 𝑁. ∑ 𝑋𝑌 − (∑ 𝑋) (∑ 𝑌) √[𝑁. ∑ 𝑋2 − (∑ 𝑋) 2] [𝑁. ∑ 𝑌2 − (∑ 𝑌) 2 ] Uji reliabilitas dilakukan dengan cara memperhatikan setiap skor item dan skor totalnya yang dihitung berdasarkan rumus Alpha Cronbach: 𝑟11 = 𝑘 𝑘 − 1 (1− ∑𝑎𝑏² 𝑎𝑡² ) Teknik pengumpulan data menggunakan angket dan dokumentasi. Adapun Jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket tertutup. Angket ini dibuat atas lima pilihan jawaban yaitu dengan mengikuti pedoman Skala Likert, Data yang dicari dalam penelitian ini yaitu data berupa jumlah pemustaka perpustakaan dan hal-hal lainnya yang berkaitan dengan penelitian ini.

Result & Discussion

Tabel 1: Hasil Uji Reliabilitas Variabel Jumlah Item Pertanyaa n Cronbach’ s Alpha Nilai Kritis Cronbach’ s Alpha Ket Variabel Independe n (X) 10 0,735 0,60 Reliabe l Variabel Dependen (Y) 10 0,857 0,60 Reliabe l Tabel 2: Pengujian Regresi Linear Sederhana Coefficientsa Model Unstandardized Coefficients Standar dized Coeffici ents T Sig. B Std. Error Beta 1 (Const ant) 28.273 8.714 3.245 .002 var_X -.008 .220 -.004 -.036 .971 a. Dependent Variable: var_Y Tabel 3: Pembuktian Hipotesis ANOVAa Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig. 1 Regression .082 1 .082 .001 .971b Residual 6165.758 98 62.916 Total 6165.840 99 a. Dependent Variable: var_Y b. Predictors: (Constant), var_X Library Anxiety merupakan perasaan cemas yang dialami seseorang ketika berada diperpustakaan yang diakibatkan oleh beberapa faktor yang diantaranya yaitu cemas yang dikarenakan oleh besarnya bangunan, kurangnya pengetahuan mengenai letak koleksi yang akan dicari, bagaimana cara menggunakan fasilitas yang telah disediakan perpustakaan, takut terhadap petugas perpustakaan, serta bagaimana proses peminjaman buku [7] Perasaan cemas dialami oleh seorang pemustaka ketika datang dan menggunakan perpustakaan yang berasal dari kurangnya pemahaman pemustaka tersebut akan cara menggunakan perpustakaan sebagai sumber untuk imemenuhi kebutuhan informasinya dan kecemasan tersebut juga berdampak negatif dalam kesuksesan pendidikan siswa karena mengurangi keberhasilan dalam memenuhi kebutuhan informasi akademis mereka. Perpustakaan memainkan peran yang sangat penting dalam memenuhi kebutuhan informasi pemustaka. Namun demikian, terdapat pemustaka yang mungkin kurang antusias dalam menggunakan fasilitas perpustakaan karena pengetahuan dan keterampilannya yang kurang dalam menggunakan sumber idaya yang tersedia di perpustakaan, perasaan tidak cukup kompeten untuk menggunakan sumber daya perpustakaan tersebut tentunya merusak rasa percaya diri dan menciptakan perasaan cemas bagi pemustaka ketika mereka pergi ke perpustakaan. Menurut Endang Fatmawati, dampak dan gejala kecemasan dapat dikenali melalui berbagai aspek, yaitu: gejala fisik, gejala mental, gejala perilaku, dan gejala kognitif [8] Transformasi digital merupakan suatu hasil migrasi dari bentuk tercetak ke digital, sehingga tercipta ruang fisik baru dan virtual untuk mendukung perubahan kebutuhan pemustaka [9]. Dengan menerapkan transformasi digital dapat membantu suatu organisasi agar tidak kalah dalam persaingan atau mengalami kebangkrutan. Penerapan transformasi digital juga membantu efisiensi dan efektifitas suatu organisasi. Substansi dari terciptanya transformasi adalah perubahan dari imigrasi bentuk itu sendiri, konsep ini perlu dipahami karena perubahan tersebut disebabkan oleh implementasi teknologi informasi pada perpustakaan, Ada beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya transformasi [10] yaitu sebagai berikut: 1) Kebutuhan identitas diri (identification) bermakna bahwa pada dasarnya orang ingin dikenal dan ingin memperkenalkan diri terhadap lingkungan. 2) Perubahan gaya hidup (life style) bermakna bahwa perubahan struktur dalam masyarakat, pengaruh budaya lain dan munculnya penemuan-penemuan baru mengenai manusia dan lingkungannya. 3) Pengaruh teknologi baru timbulnya perasaan ikut mode, dimana bagian yang masih dapat dipakai secara teknis (belum mencapai umur teknis dipaksa untuk diganti demi mengikuti mode) Hasil penelitian mengenai "Pengaruh Transformasi Digital terhadap Library Anxiety di UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry" yang dilakukan dengan menggunakan sampel sebanyak 100 orang pemustaka diperoleh nilai signifikan pada regresi adalah 0.971 > 0.05, sehingga H0 diterima dan dapat disimpulkan tidak ada pengaruh yang signifikan antara transformasi digital dengan library anxiety. Berdasarkan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa transformasi digital tidak berpengaruh terhadap library anxiety sebaliknya berdasarkan hasil penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa library anxiety disebabkan oleh faktor lainnya seperti penggunaan teknologi digital dan kenyamanan pemustaka dan tidak berpengaruh terhadap transformasi perpustakaan dari waktu ke waktu yang menerapkan teknologi informasi digital saat ini. Ada beberapa faktor yang menyebabkan Para pemustaka UPT. Perpustakaan UIN Ar-Raniry yang mengalami library anxiety merupakan pemustaka yang jarang mengunjungi perpustakaan dan pemustaka yang pertama kali mengunjungi perpustakaan karena minimnya pengetahuan mereka tentang sarana dan prasarana yang disediakan di perpustakaan. Penyebab selanjutnya adalah perilaku cemas cenderung dirasakan oleh mahasiswa baru yang mengalami perubahan antara masa SMA dengan perguruan tinggi yang kebingungan ketika pertama berada pada kondisi baru seperti perpustakaan karena tidak memiliki pengetahuan dan pengalaman yang cukup mengenai perpustakaan sehingga mengakibatkan timbulnya kecemasan atau library anxiety. Selain itu, Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa kecemasan yang dialami oleh pemustaka UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry akan berakibat terhadap timbulnya kesulitan dalam proses pencarian informasi dimana permasalahan tersebut sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Van Kampen mengenai indikator Multidimensional Library Anxiety (M-LAS) yang mengaitkan faktor-faktor kecemasan dengan pemanfaatan perpustakaan menggunakan teknologi informasi digital. Bostick di dalam Dora [11] membagi variabel kecemasan di perpustakaan dalam lima dimensi yaitu: 1) Hambatan terhadap Petugas Hambatan terhadap petugas pengelola perpustakaan merujuk kepada sudut pandang seorang pemustaka terhadap pustakawan dan petugas perpustakaan lainnya yang berkenaan dengan perilaku yang menunjukkan intimidasi, dan kelihatan sibuk mengerjakan sesuatu sehingga para petugas terlihat tidak sempat untuk dimintai bantuan. 2) Hambatan Afektif Hambatan ini berupa perasaan yang cemas berkenaan pada kemampuan afektif seorang pemustaka saat di perpustakaan. Afektif tersebut berarti berkenaan mengenai sikap dan nilai. Afektif mencakup watak seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai yang mengacu pada perasaan seorang pemustaka yang merasa kurang mahir dalam memakai perpustakaan. 3) Hambatan Kenyamanan Hambatan ini berkenaan pada kenyamanan berkunjung ke perpustakaan yang mengarah kepada perasaan seorang pemustaka akan keamanan dan kenyamanan mereka berada di perpustakaan. Pemustaka yang memiliki perasaan yang tidak nyaman terhadap perpustakaan akan memiliki kecenderungan merasakan cemas yang berlebihan saat mereka di perpustakaan. 4) Hambatan Pemahaman Hambatan ini berkenaan dengan pemahaman pemustaka terhadap perpustakaan dan cara memakai fasilitas yang ada di dalamnya yang mengacu kepada pengetahuan dan pemahaman seorang pemustaka terhadap pemanfaatan informasi, fasilitas, dan layanan yang ada di perpustakaan. Rendahnya pemahaman terhadap perpustakaan akan menyebabkan kecenderungan pemustaka untuk merasa cemas, frustasi, hingga akhirnya mereka akan melakukan penghindaran pada perpustakaan. 5) Hambatan Teknologi Perpustakaan Hambatan ini berkenaan dengan pemanfaatan sarana dan prasarana berupa teknologi di perpustakaan yang mengacu pada rasa cemas yang muncul akibat rasa kurang percaya diri dalam memakai teknologi digital yang ada, seperti komputer, OPAC, peminjaman secara mandiri dengan mesin RFID yang ada di perpustakaan. Solusi dari permasalahan yang dihadapi oleh para pemustaka di Perpustakaan UPT UIN AR-Raniry terhadap Library Anxiety adalah dengan memaksimalkan metode User Education. Menurut Malley di dalam Narjito bahwa User education merupakan proses untuk pertama kali yang diberikan kepada pemustaka dalam memahami manfaat perpustakaan dan juga cara memanfaatkan perpustakaan dalam mencari informasi yang dibutuhkan secara tepat, cepat dan efisien [12] Semakin berkembangnya metode penddikan perguruan tinggi, kebutuhan akan perpustakaan semakin dirasakan. Tetapi dengan semakin cepatnya perkembangan ilmu pengetahuan, jumlah dan macam koleksi juga semakin bertambah, sehingga pemakai perpustakaan terutama mahasiswa, makin bingung dalam usaha menemukan informasi. Dengan demikian mereka tidak dapat memanfaatkan perpustakaan semaksimal mugkin. Namun dilain pihak, keberadaan suatu perpustakaan sebagai pusat pendidikan dan bahkan tempat pendidikan seumur hidup (Lifelong Learning) sudah tepatri di hati pengguna. Dalam Hal inilah perpustakaan diharapkan untuk meningkatkan jasa informasinya secara aktif. Salah satu langkah yang tepat untuk menanggulangi hal tersebut adalah menyelenggarakan suatu program pendidikan pemakai pada perpustakaan. Secara umum istilah pendidikan pemakai dalam konteks ilmu pemakai, pendidikan pengguna atau User Education [13] Dengan adanya pendidikan pemakai ini diharapkan agar para pengguna perpustakaan dapat mengetahui lebih dalam tentang perpustakaan. Di dalam pendidikan pemakai ini juga akan membantu para pemakai untuk menggunakan alat – alat penelusur informasi sehingga akan mempermudah dalam menemukan bahan pustaka atau informasi yang di perlukan. Abdurrahman Saleh di dalam Amelia Wardani mengatakan untuk pengetahuan tentang perpustakaan diukur melalui konsep yang dikemukakan oleh Wolf yang terdiri dari 6 aspek, yakni pengetahuan tentang layout, fasilitas, kebijakan, layanan, sumber daya manusia, dan koleksi perpustakaan. Untuk pemanfaatan layanan perpustakaan diukur melalui tingkat keterpakaian dari fasilitas atau layanan perpustakaan berdasarkan indikator kerja perpustakaan menurut ISO 11620:2008 [14] Walaupun hasil penelitian menunjukkan tidak ada hubungan antara pengaruh Transformasi Digital terhada Library Anxiety pada pemustaka UPT Perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh akan tetapi tidak ada salahnya pada saat program User Education dilaksanakan oleh perpustakaan menyisipkan atau memasukkan program Multimedia di dalam kegiatan tersebut hal ini didasari pentingnya keterlibatan teknologi informasi dan komunikasi dalam memberikan layanan prima kepada pemustaka. Dengan tujuan pengembangan bahan ajar multimedia user education yang dapat diakses oleh pemustaka melalui gadget ataupun smartphone kapanpun dan dimanapun dibutuhkan. Secara operasional multimedia user education dapat didefinisikan sebagai sebuah bahan ajar interaktif untuk melakukan pendidikan pemakai (user education) yang merupakan hasil pemanfaatan teknologi komputer yang menggabungkan beberapa elemen seperti gambar, teks, grafik, animasi, audio dan video yang memungkinkan pemustaka untuk bernavigasi, berinteraksi dan berkomunikasi secara online [15]. Materi ajar yang dimuat dalam multimedia user education secara umum adalah tata letak gedung perpustakaan, fasilitas, sistem layanan (layanan referensi, terbian berseri, audio visual, sirkulasi, keanggotaan, bebas pustaka, karya ilmiah dosen/mahasiswa, peminjaman locker, akses internet dan e-jurnal), tata tertib dan prosedur perpustakaan pengorganisasian koleksi, pemanfaatan Corner. Semua materi tersebut akan terangkum dalam bentuk multimedia yang dapat diakses secara mandiri oleh pemustaka perpustakaan dengan fasilitas komputer, gadget, maupun smartphone, sehingga pemahaman pemustaka terhadap perpustakaan secara menyeluruh dapat terwujud. Perubahan yang terjadi pada era transformasi digital terjadi karena berbagai faktor dan meliputi dimensi yang berbeda. Beberapa faktor langsung dan tidak langsung yang merupakan penyebab perubahan akan berdampak pada tujuan dan sasaran perusahaan, begitu juga yang terjadi pada perpustakaan UIN Ar-Raniry Banda Aceh yang harus mengikuti perkembangan zaman untuk bertransformasi ke era digital agar tidak tertinggal zaman dan ditinggalkan oleh pemustakanya.

Conclusion

Kecemasan merupakan perasaan yang sering dialami oleh pemustaka ketika berada di perpustakaan. Kecemasan tersebut bisa terjadi karena berbagai faktor, baik karena faktor baik kenyamanan dan kepercayaan diri dalam menggunakan perpustakaan; proses pencarian informasi; kesulitan yang dirasakan mengenai staf; pentingnya pemahaman tentang tata cara menggunakan perpustakaan; kenyamanan menggunakan teknologi; dan tingkat kenyamanan saat berada di dalam gedung perpustakaan.