Studi Komparasi Pengembangan Koleksi pada Perpustakaan Digital
Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta; Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Abstract
This article discusses the problems and challenges of developing digital collections in libraries, especially in college libraries, by using a comparison of two journal articles entitled Collection Development in Digital Environment: A Case Study and Collection Development in Digital Libraries: Trends and Problems. The two journal articles contain various factors for the development of library collections in the digital library environment in India, both in the form of finding problems and solutions to the role of librarians and readers in the development of library digital technology. The method used is using qualitative methods comparatively. The results obtained are that in the development of digital collections in libraries there are challenges that often occur, namely the problem of qualified labor or librarians and budgetary or financial constraints in developing digital collections
Keywords:
Digital Collection development
· Challenges
· College
Introduction
Perpustakaan digital pertama kali muncul atas dasar ide atau pikiran dari Vannervar Bush pada tahun 1945 dalam tulisanya yang berjudul “As We May Think”, dalam tulisan tersebut menjelaskan impianya tentang sebuah meja kerja yang diberi nama MEMEX untuk para ilmuan yang memiliki layar kaca dan dapat menampung banyak memori dari semua berkas baik itu berupa artikel dan buku bacaan dan lainya. Pemilik mesin ini bekerja mengetik, membaca dan menganaliasa berkas yang tersedia dan dapat diakses secara otomatis (Sayekti & Mardianto, 2019). Konsep ide yang dimunculkan Bush memberikan sebuah pemikiran bagaimana caranya agar sebuah informasi atau ilmu pengetahuan yang tersedia dalam berbagai macam format penyediaan tersebut dapat dikelompokan dalam bentuk yang mudah untuk disimpan dan ditemukan ketika diperlukan lagi. Perpustakaan digital merupakan perpustakaan yang telah menerapkan teknologi informasi dalam kegiatan perpustakaanya. Pelaksanaan perpustakaan digital pada dasarnya sama saja dengan pelaksanaan perpustakaan konvensional, yang membedakanya yaitu dalam prosedur kerja berbasis komputer dan pemakaian sumber daya digital (Hartono, 2017). Kehadiran perpustakaan digital menawarkan kemudahan bagi pemustaka dalam mengakses sumber informasi eletronik perpustakaan pada waktu dan kesempatan yang terbatas, dengan adanya perpustakaan digital, pemustaka tidak lagi harus mendatangi perpustakaan secara fisik pada jam layanan perpustakaan, namun juga bisa dalam layar kaca secara elektronik menggunakan komputer atau layar hanphone untuk mengakses perpustakaan melalui kanal yang disediakan. Perpustakaan digital, juga dikenal sebagai repositori digital yaitu repositori yang mendigitalkan keseluruhan koleksi atau hanya sebagian darinya dan membuatnya tersedia dalam bentuk komputerisasi sebagai alternatif, pelengkap, atau bentuk komprehensif untuk buku fisik yang saat ini membentuk repositori koleksi. Pertumbuhan perpustakaan digital dimulai dengan otomasi perpustakaan yaitu pengerjaan seperti fungsi-fungsi perpustakaan telah dilakukan dengan bantuan komputer. Perpustakaan Digital telah muncul sebagai solusi teknologi terdepan untuk menyelesaikan masalah peningkatan pengunjung perpustakaan dan memperluas penyebaran informasi. Dengan adanya perpustakaan digital menjadikan perubahan cepat selera pemustaka yang sering menggunakan koleksi-koleksi dokumen digital tanpa mengunjungi langsung perpustakaan dan hal ini memaksa perpustakaan agar terus berkembang lagi memenuhi hasrat pemustaka dalam perpustakaan digital. Pengembangan koleksi merupakan tulang punggung bagi setiap perpustakaan dan pusat informasi, baik perpustakaan umum akademik maupun khusus. Pengembangan koleksi didefinisikan sebagai pembangunan sistematis sumber daya informasi di Perpustakaan dan pusat informasi. Pengembangan koleksi dalam lingkungan digital adalah pembangunan koleksi secara bertahap dalam bentuk digital, diantaranya yaitu dengan dengan menyediaakan, berlangganan dan memfasilitasi akses ke e-journal, e-resauces, dan database lainya berdasarkan permintaan pengunjung perpustakaan. Dengan demikian sebuah perpustakaan digital dituntut untuk terus berkembang dalam penyediaan bahan Pustaka digital dari berbagai macam bacaan dan taun terbitan agar koleksi digital terasa lengkap di perpustakaan digital(Masriastri, 2018).Berdasarkan penjelasan di atas, terdapat banyak pertanyaan mengenai faktor-faktor perkembangan dan masalah apa saja yang dihadapi dalam pengembangan koleksi di lingkungan perpustakaan digital, khususnya diperguruan tinggi. Dengan demikian dalam tulisan ini penulis akan memberikan sebuah keterangan apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi dan masalah apa saja dalam pengembangan koleksi perpustakaan. Adapun dalam penjelasanya yaitu dengan mengkomparasikan dua artikel jurnal yang berjudul Collection Development in Digital Environment: A Case Study dan Collection Development in Digital Libraries: Trends and Problems. Dua artikel jurnal tersebutmemberikan informasi bagaimana pengembangan koleksi di lingkungan digital, khususnya di perpustakaan perguruan tinggi. Kedua ejournal tersebut membahas mengenai pengembangan koleksi pada masing-masing perpustakaan. Pada dua ejournal tersebut sama-sama menjelaskan pengembangan koleksi khusunya dilingkungan digital di perguruan tinggi.
Result & Discussion
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang berada pada perguruan tinggi (Universitas) yang memiliki fungsi untuk penyedia dan penyebarluas informasi dalam membantu perguruan tinggi mencapaitujuanya yang disebut Tri Dharma Perguruan tinggi (pendidikan, penelitian dan pengabdi masyarakat). Penyelenggaraan perpustakaan perguruan tinggi bertujuan untuk peningkatan kualitas serta alat pendukung dalam program kegiatan perguruan tinggi yang meliputi pengolahan, pemanfaatan, pengumpulan dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat intelektual, civitas akademika dan lembaga induknya (Maizuar Effendi, 2014). Secara umum pelaksanaan perpustakaan perguruan tinggi memiliki tujuan untuk menjalankan dan meningkatkan kualitas visi misi perguruan tinggi dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, Adapun dalam tulisan fadilla tujuan perpustakaan perguruan tinggi yaitu sebagai berikut (Fadilla, 2020): a.Memenuhi keperluan informasi pelajar dan mahasiswab.Menyediakan bahan pustaka rujukan pada semua tingkat akademisc.Menyediakan ruangan penggunad.Menyediakan jasa informasi aktif bagi pengguna Dengan demikian, tujuan perpustakaan perguruan tinggi adalah untuk menunjang dan menunjang proses pendidikan yang berlangsung di perguruan tinggi, memajukan dan mensukseskan Tri Dharma Perguruan Tinggi, serta meningkatkan mutu pendidikan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkemajuan. 2.Pengembangan Koleksi Elektronik Pengembangan koleksi adalah salah satu kegiatan penting yang dilakukan dalam perpustakaan. Dalam kegiatan tersebut dilakukan pemilihan koleksi dan dilanjutkan pengadaan-pengadaan bahan pustaka sesuai dengan kebijakan yang diterapkan oleh staff perpustakaan dan civitas akademika perguruan tingginya Pengembangan koleksi merupakan proses kegiatan yang dilakukan perpustakaan untuk mengembangkan koleksi yang lebih baik dan akurat sesuai dengan kebutuhan pengguna(Yulinar, 2019).Perkembangan koleksi perpustakaan tidak lepas dari perkembangan teknologi yang semakin pesat. Perpustakaan harus senantiasa berubah dengan cepat seiring dengan kemajuan teknologi yang pesat. Sebagaimana diatur dalam tiga undang-undang pendidikan tinggi, perpustakaan harus mampu menjadi tempat pendidikan bagi manusia yang berfungsi sebagai pencerdasan bangsa, dan perpustakaan berperan besar dalam pengembangan sumber daya manusia. Tidak selalu hanya di mana buku ditempatkan dalam bentuk fisik. Perpustakaan modern sudah mulai melakukan kegiatan digitalisasi koleksi yang membutuhkan informasi yang cepat, mudah, akurat dan mudah diakses oleh masyarakat(Permana et al., n.d.). 3.Studi Komparasi Pengembangan Koleksi ElektronikPada bagian ini, penulis ingin menguraikan perbandingan pengembangan koleksi perpustakaan perguruan tinggi dari kedua ejournal tersebut. Berikut urainya:a.Collection Development in Digital Environment: A Case Study Pengembangan koleksi pada ejournal yang ditulis oleh Samir Kumal Jalal dan Dr. Viswa Mohan pada perpustakaan Digital Di Universitas Osmania. Pengembangan koleksi ditunjukan dari pengembangan koleksi elektronik seperti pengadaan digitalisasi yang dikategorikan sebagai dokumen langka, buku tua, buku rusak dan buku yang mempunyai hak cipta. Dalam proses digitalisasi tersebut antara tahun 2005-2006 telah terjadi pemindaian buku dalam bahasa inggris sebanyak 13887 dan 215 pemindaian buku dalam bahasa urdu. Selain itu dalam ejournal ini, perpustakaan Osmania juga menyediakan E-Resources yang dapat diakses dan dinikmasi secara gratis untuk pengguna perpustakaanya. Dalampengembangan koleksi digital yang dilakukan perpustakaan Osmania tersebut memiliki beberapa masalah dan tantangan penting yang dihadapi selama proses digitalisasi terkait dengan pembangunan koleksi di perpustakaan Osmania, yaitu prroses teknis, tenaga kerja, keuangan, hak cipta, metadata, dan pengolahan gambar(Jalal & Vishwamohan, 2009) Proses TeknisDalam lingkungan perpustakaan digital, membuat katalog dan mengklasifikasikan dokumen digital adalah masalah nyata. Oleh karena itu, merupakan tantangan besar bagi para profesional perpustakaan untuk mengatur dokumen digital dan membuatnya dapat diakses oleh pengguna. Kendala teknis dalam proses digitalisasi seperti dalam pemindaian, suhu ruangan dan komputer merupakan beberapa kendala teknis yang harus dihadapi oleh para staf perpustakaan Tenaga KerjaTantangan serius lainya dalam pengembangan koleksi digital adalah kurangnya tenaga kerja yang memadai dan berkualitas. Tanpa adanya tenaga kerja yang terlatih dalam pengembangan koleksi, maka tidak akan tercapai juga pengembangan koleksi ke digital suatu perpustakaan. KeuanganMasalah keuangan adalah masalah utama perpustakaan di negara berkembang. anggaran yang dialokasikan untuk perpustakaan secara bertahap menurun atau konstan akan gagal dalam proyek perpustakaan digital.Hak CiptaHakcipta asset intelektual adalah masalah penting lainnya dalam membangun perpustakaan digital. Sebelum memindai dokumen, diperlukan izin dari penulis untuk membuatnya tersedia secara luas. Ini benar-benar tugas yang menantang karena apabila terjadi kesalahan dalam pemeriksaan hak cipta, penulis atau penerbit dapat melayangkan permintaan tertulis untuk penarikan dan penghapusan dokumen digital tersebut. MetadataMetadata secara sederhana adalah data tentang data. Oleh karena itu, penting untuk menetapkan metadata untuk setiap dokumen digital. Namun, penting untuk menetapkan metadata ke setiap dokumen yang dipindai untuk memudahkan pencarian dan pengambilan. Umumnya, kumpulan elemen metadata digunakan untuk standarisasi. Setelah pemeriksaan kontrol kualitas akhir, metadata digunakan untuk menetapkan terhadap setiap dokumen. Oleh karena itu, merupakan tugas yang menantang bagi staf perpustakaan untuk memelihara metadata untuk semua dokumen. Pengolahan Gambar Secara umum buku terdiri dari teks, gambar dan grafik. Selama pemindaian, terkadang gambar tidak tampak menonjol. Dalam kasus seperti itu, banyak pekerjaan pengeditan yang perlu dilakukan. Tingkat grafis dari setiap gambar diperiksa dengan aslinya dan jika ada perbedaan maka diperlukan untuk memindai secara terpisah. Terkadang juga diperlukan untuk mengedit gambar menggunakan Adobe Photoshop atau perangkat lunak pengedit foto lainnya. Gambar diperiksa dalam hal kejelasan, keterbacaan, warna. Tingkat grafik setiap gambar diperiksa dengan aslinya. Gambar, yang menjadi lebih cerah, diperkecil agar sesuai dengan aslinya. Bekas cacing bekas noda yang tidak diinginkan telah dihilangkan.b.Collection Development in Digital Libraries: Trends and ProblemsPengembangan koleksi digital pada ejournal yang kedua ini ditulis oleh Kavitha Nivedha pada perpustakaan Maulana Azad di Universitas Aligarh. Pengembangan koleksi ditunjukan dari tantangan dan masalah yang dihadapi oleh pemustaka dan pustakawanya dalam pengembangan koleksi-koleksi digital di perpustakaan perguruan tinggi. Masalah dan tantangan tersebut berupa keusangan teknologi, kendala keuangan, desentralisasi layanan perpustakaan, keamanan di lingkungan perpustakaan, tidak adanya Gudang nasional dokumen digital dalam ketentuan legislatif dan masalah yang berkaitan dengan pemeriksaan keaslian informasi digital. (Kavitha, 2009) Keusangan teknologiPemindahan materi digital secara berkala dari satu konfigurasi perangkat kerasatau perangkat lunak ke yang lain ataudari satu generasi teknologi komputer ke generasi berikutnya merupakan tren yang cukup umum dan merupakan tantangan besar bagi pengembangankoleksi digital. Tujuan dari migrasi ini adalah untuk menjaga integritas objek digital. Keusangan peralatan yang dibutuhkan untuk mengakses informasi digital secara langsung mempengaruhi umur panjang informasi dan untuk memastikan umur informasi digital yang lebih lama, maka pengembangan dan peningkatan berkelanjutan dari sebuah perangkat digital adalah suatu keharusan. Kendala keuangan biaya yang terlibat dalam pembuatan dan pemeliharaan lingkungan perpustakaan digital cukup tinggi. Dalam konteks ini, hambatan keuangan jauh lebih parah di negara berkembang seperti India daripada di negara maju. Tidak ada tempat di dunia ini yang anggaran perpustakaan mengimbangi pertumbuhan informasi, dokumen, dan permintaan yang terus meningkat. Desentralisasi layanan perpustakaan Dengan digitalisasi dan otomatisasi layanan di perpustakaan membuat berkurang pentingnya peran seorangprofesional perpustakaan atau pustakawan, hal ini akhirnya menjadi sebuah kesenjangan dalam fasilitas layanan perpustakaan. Keamanan di lingkungan perpustakaanMengingat meningkatnya jumlah serangan terhadap komputer dengan virus, trojan horse, spy wares, hacker dll, keamanan di lingkungan komputer perpustakaan telah menjadi tugas besar bagi pustakawan. Dengan demikian pustakawan harus Instalasi perangkat lunak antivirus dan pembaruan rutin dalam perawatan lingkungan digital perpustakaan. Tidak adanya gudang nasional dokumen digital dalam ketentuan legislativeTidak adanya ketentuan mewajibkan penerbit untuk menyetor publikasi elektronik ke pusat nasional merupakan sebuah masalah rumit pustakawan dalam proses digitalisasi. Ketentuan seperti ini seharusnya diwajibkan karena untuk memudahkan pustakwan dalam proses digitalisasi sebuah dokumen agar bisa dipastikan dalam proses tersebut dokumen yang didigitalisasi merupakan dokumen yang asli dari penerbit.
Conclusion
Perpustakaan perguruan tinggi merupakan perpustakaan yang berada di perguruan tinggi. Perpustakaan perguruan tinggi mempunyai peran yang sangat penting bagi proses belajar civitas akademikanya. Setiap perpustakaan diharuskan untuk melakukan kegiatan pengadaan pengembangan koleksi, hal ini dilakukan guna meningkatkan minat dan kualitas perpustakaan tersebut dalam menghadapi kemajuan zaman. Dalam pengembangan koleksi digital di perpustakaan tantangan yang sering terjadi yaitu dalam masalah tenaga kerja atau pustakwan yang berkualitas dan kendala anggaran atau keuangan dalam pengembangan koleksi digita